:untuk Cok Sawitri

(meski puisi tak menyelesaikan masalah bangsa, tapi aku tetap menulis saja sebab mau menjadi tukang setrika yang bercerita, aku tak serapi dirimu). 

HALTE
Kita dipertemukan begitu saja 
Disebuah halte

Ketika kita menunggu jemputan
Atau mungkin menunggu kaki hujan berhenti berderap seperti sepatu lars*
Hujan, itu alasan yang lebih kusuka

Lampu merkuri keemasan
Mengiringi tarian anak-anak langit itu
Aku mulai menggigil

Engkau tak membawa scarf
Kautawarkan telapak tanganmu

Hanya ini yang kupunya, katamu
Kutawarkan kopi terakhir dari tumblerku
Begitu cara kita saling menyapa

Hujan masih menari
Anak-anak langit masih berlari
Kita berbagi keheningan
Ketika kata-kata tak dibutuhkan lagi
Jemari kita berkawan karib
Saling mengait

Tanganku mulai menghangat
Tapi kautemukan beku yang asing itu
Ruang kosong yang tak asing
Ingatan patah

Anak-anak langit itu berhenti sejenak
Engkau melepas genggaman
Seharusnya begitu
Lalu jemputanmu datang
Engkau melambaikan tangan
Atau mungkin tak perlu
Toh kita hanya sesama penunggu
Halte itu menjadi lembar usang 
Selekasnya...

Sayang sekali,  tak demikian
Anak-anak langit duduk di samping kita
Mereka berbagi gula-gula
Engkau berbagi tawa
Dari deretan gigimu yang rapi dan kuat untuk melukai bibir yang kausinggahi
Aku berbagi kisah
Tentang caraku mencintai hidup
Ketika hidup tak mencintaiku
Entah engkau yang mengingatku
Atau aku yang tak bisa lupa dengan tatap mata amber menjelang senja berhujan itu

Harusnya,
Kita hanyalah sekumpulan moment
Yang terserak di setiap halte sepanjang Buncit Raya
Pertemuan,
Yang selalu mengisyaratkan perpisahan
Bahkan sebelum sempat bertanya
Berapa jumlah baliho yang menutupi langit
Atau
Engkau suka pangsit basah kuah atau kering saja

Anak-anak langit itu pamit
Hujan sudah selesai
Termyata memang,
Jemputanmu datang
Ia mengenakam dress bergambar bunga camelia
Yang kautanami dari pelarian satu ke pelarian yang lain

Engkau beranjak
Tak menoleh lagi

Aku masih duduk di halte
Memasukkan kenangan ke dalam tumbler
Sesekali mungkin aku ingin mencecap
Hangat yang pernah itu...
Desember, rain lalu... 

SAYA TULIS INI WALAUPUN TAK BERGUNA

Sabtu siang kemarin sebelum hujan, anak-anak angkatan baru TEATER SOLAGRACIA - SMA N1 NEGARA, latihan (workshop) penulisan naskah drama di Rumah Kertas Budaya Indonesia.

Teater Solagracia ini terbentuk atas inisiatif empat orang siswa yaitu Wiwik Made Dwijayanti, Anggi, .... dan ..... (saya lupa namanya) tahun 2010 yang saya fasilitasi bersama seorang guru setempat bernama Ibu Ami. Ibu Ami sendiri sudah pindah tugas ke SMA N2 Negara kalau tidak salah tahun 2012.

Di tahun pertama terbentuk, Teater Solagracia berhasil lolos seleksi bidang teater tingkat provinsi untuk mewakili Bali dalam festival seni pelajar (sekarang bernama FLS2N) di Makassar dengan dua naskah karya saya, yaitu "MIN" dan "Ringsek".

Berkat bimbingan keras Cok Sawitri saat mereka dikarantina selama dua minggu di Denpasar, ditambah rasa "jengah" karena dianggap tak penting oleh banyak guru, Teater Solagracia yang didampingi seorang gurunya, Pak Sudirtha Van Genta, berhasil membawa pulang medali emas.

Teater Solagracia yang di tahun-tahun selanjutnya sempat menjadi Juara 2 pada lomba drama modern tingkat provinsi yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Juara 1 Lomba Teater Balai Bahasa Provinsi Bali, terus berkembang di bawah pembinanya Ibu Guru Eva. Mereka juga sempat berpentas di Jogja dan Bandung dalam event teater tingkat nasional.

Dan kemarin, Teater Solagracia berhasil masuk dalam kategori LIMA TERBAIK NASIONAL pada Festival Digital Musikalisasi Puisi Tingkat Nasional 2023 yang diselenggarakan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek di Jakarta.

Tidak terasa ternyata sekarang sudah tahun 2024, wkwkwkwk... maksud saya ternyata sudah 13 tahun lebih saya menjadi "om"-nya atau menjadi pamannya Teater Solagracia. Dan dari setiap angkatan Teater Solagracia bersama "adiknya" yaitu TEATER TANPA NAMA - SMA N2 NEGARA yang dibentuk dan difasilitasi Wendra Wijaya tahun 2015 (?), selalu pula saya ajak bekerja atau menjadi eksekutor dalam berbagai kegiatan kesenian di lokal Jembrana dan Bali.

Demikian cerita ini saya tulis walaupun mungkin tidak berguna.

Catatan akhir tahun 2023(I) : SEJARAH TARI DAN DEFENISI TARI BELUMLAH FINAL.

Kepada wong kampus seni : "tari adalah suatu pengertian yang luas dan masih terlalu abstrak untuk dapat diperbandingkan " - dikutip dari penelitian Tari dalam Sejarah kesenian- jawa bali. (Makudang kudang prasasti akan hal mengenai tari).

Kita mulai dengan kata tari. Igel adalah menyatakaan tari, tak hanya Bali menggunakan kata ini juga jawa. Cobalah baca beberapa prasasti mengenai penetapan Sima. Lalu dari khasanah sastra: panretta ( cek kakawin smarandhana) atau manrretaa (negarakertagama) sedang di ramayana disebut " nartaki ya mangigel" lalu masolah, imen imen, dan bahkan abhinaya (karmawibhangga borobudur) sebagai sikap tari : lebih menyangkut paham gesture, gerak yang memiliki makna tertentu. Juga sebutan di berbagai wilayah nusantara soal menyebutkan apa itu tari dan menari!

Jadi sejarah tari dan defenisi tari itu belum final. Dan kaum cendikiawan kampus seni hendaknya tak bergerak sebagai ruang latihan menari macam kursus profesional. Alangkah indahnya. Tari itu menjadi ' subyek' penelitian yang tak akan habis. Juga akan menguatkan proses kreatif bahkan penciptaan yang tak henti tentu dengan fundamen yang berakal sehat dan memahami akar akar kecendikiaan estetika. Jangan berhenti pada gelar akademik. Lalu hanya asyik mengira telah melahirkan teori. Dan itu mengira ilmiah dan genap. Masih banyak yang dapat dicari. Masih banyak kawan. (Video dari panggung maestreo II)

Dayu Arya Dayu Ani Wayan Westa @sorotan Luciana Ferrero Sudarta Gusti Sudirana Yuganada Analisa Kerenz Dewa Ayu Eka Putri Ni Ketut Putri Minangsari Mahijasena Gunarta Made Adi Gunarta Suliati Boentaran Gung Ama Agung Arini Cok Pring

DRAFT MIMPI (3)

Apakah sampai atau selesai ketika menyadari : keresahan hidup itu adalah biaya biaya makan, minum dan lain lain. Atau itulah kemalangan ketika bertaruh hanya untuk itukah hidup? Mengagungkan kemuliaan lahir itu?'

Gelora itu hilang dari dadaku. Menipis seperti asap rokok yang terhembus angin. Aku tak lagi bangun pagi dan mengisi siang menuju malam untuk pikiran pikiran dan ingatan-ingatan apa saja itu. Tidak juga kutempatkan sebagai remeh temeh. Aku mulai memahami sekaligus tak mau paham. Aku melihat diriku diantara banyak orang. Aku bercakap ringan kadang berdiam. Aku tak banyak lagi memperhatikan orang orang dengan perasaan menilai. Juga aku melihat diriku untuk ada sesekali pada keriuhan kelelahan, keinginaan keinginan kabur, yang belum terdefenisikan. Aku memasukan hpku ke ransel. Hanya sesekali melihat apakah ada pesan masuk. Lalu tanpa beban membiarkannya dalam ransel seharian. 

Aku mulai terbiasa. Membiasakan diri pada keadaanku. Bukan. Tapi aku merasa terlalu ringan. Aku melihat saat berjalan menuju jalan bebatuan itu. Ya. Sebentar lagi ada yang menyapa. Aku juga tahu saat melangkah akan muncul perasaan. Apakah benar jalan ini akan membawaku ke tempat pertemuan. Aku melihat diriku bertanya. Aku tersenyum. Aku dapat dengan ringan bertanya: benarkah jalan ini menuju arah tempat pertemuan? 

Apa sebutannya? Prediksi? Bukan. Aku melihat beberapa menit ataukah peristiwa ke depan dari waktuku saat itu (?) Aku tersenyum pada orang orang yang menerka nerka akan kehadiranku. Aku berusaha menenangkannya. Bahkan mencegah agar dia merasa telah memancing kekesalanku. Ini lucu. Kadang sangat lucu. Kusebut itu mimpi. Ya. Bagaimana dirimu: merasakan sekelilingmu dengan tanpa melihat (?) Ya. Dirimu di situ. Ada yang misalnya yang tiba hanya dengan tujuan bekerja. Ada karena merasa ini bagian dari kesempatan untuk melapiskan ingatan baik. Tapi rata rata mereka datang sebagai seseorang yang menjalani hidup dengan menuju sampai atau selesai (?) Usia bukan perkara. Beberapa tengah hendak mencari. Ada yang tak tahu kenapa ada di sini. Di sini. Aku hampir tertawa. Mimpi. Mimpi itu. Aku tahu. Aku tak tengah lelap. 

Ya. Aku tahu. Banyak mungkin yang merasa. Kenapa dia berbeda dari cerita cerita orang tentang dia (?) Aku juga tak merasa berubah. Aku hanya merasa kini mau menerima : apa melihat diriku itu sesuatu. Bukan dicermin. Aku merasakan desau orang orang berkeliaran di sekelilingku. Aku merasakan juga beberapa menanti reaksi fatalku. Aku tersenyum. Kerikuhan dan kekikukan. Kelelahan tubuh itu jauh lebih ringan. Dibandingkan. Kau mengira tengah memuliakan hidup dengan mengerjakan sesuatu pun menjaga kesantunan. Aku menghindari menjenguk kelebat kerisauan kerisauan orang orang. Waktu kadang membuat orang melupakan dirinya. Ketika mereka mengira tengah mengerjakan sesuatu.

Mimpi itu. Tak lagi membuatku risau. Atau bertanya. Aku hanya tahu. Ini telah lama terjadi. Sering kuhindari untuk memahami. Sering kuasingkan. Sebab aku tahu. Tak mungkin akan berkata: aku akan disana. Juga aku tahu seperti apa. Hah! Itu mimpi. Bunga bunga tidurku.

 (Draft Mimpi 3- by cok.sawitri).

DRAFT 2024 : MIMPI (2)

derita itu harus diselesaikan. Bukan dihentikan.Tapi derita itu jenisnya banyak. Tak akan sanggup menyelesaikannya dengan serentak'

Kapan mulainya itu ? Bahkan terjadi disaat tak tidur. Mulanya rasa asing. Mungkin semacam terpukau. Terpaku : aku melihat diriku berjalan memeluk bola basket di bawah pohon mangga besar. Aku lihat langkahku juga desau daun daun kering yang terinjak. Tapi aku saat itu memang berjalan dengan memeluk bola basket. Di bawah pohon mangga besar. Aku tidak lagi tidur. Juga bukan mimpi berjalan. Aku melihat diriku berjalan disaat aku berjalan. Mimpi. Itu awalnya. Rasa asing. Membuatku menyimpan mimpi itu dalam diam. Juga aku tidak mau mempertanyakan. Itu benar teralami. Atau hanya khayalanku. Lalu di sebuah mall saat aku ke luar dari lift. Kembali aku melihat diriku. Menekan tombol buka. Lalu masuk ke dalam. Memperhatikan nomor lantai. Lalu pintu lift terbuka. Warna bajuku. Ransel. Sepatu. Begitu aku melangkahkan kaki. Aku kembali. Kembali asing. Kembali terpukau.

Aku tak memikirkan. Melupakan. Tidak memberi kesempatan untuk berpikir. Itu barangkali mimpi. itu tak selalu tiba. Atau kerap tiba. Aku asingkan dalam ketidakpedulian. Sampai kemudian mimpi itu tak hanya untuk melihatku. Tetapi aku dibawanya melihat. Hadir. Kemana dan mengapa. Alasan apa. Tetapi tak pernah dalam waktu lama. Tetapi cukup untuk tahu. Awalnya tanpa suara. 

Mimpi itu kuasingkan. Aku hanya tertawa kepada diriku. Konyol. Jadinya konyol. Beberapa kali aku berusaha untuk tak tahu apa apa akan khianat bahkan penghinaan yang dengan riang gembira dilakukan oleh orang kupercayai. Saat bertemu atau bercakap. Aku kadang terdiam. Betapa deritanya. Berpura-pura. Kebohongannya membuatku ingin tertawa.

Ya. Mimpi itu. Harus disebut sebagai mimpi. Tiba tak terduga. Entah untuk tujuan apa. Kadang tiba di tempat- tempat yang menurutku tak ada urusanku dengan apapun itu. Tapi itu membuatku menandai polanya. Mengapa dibawa dan tiba pada keasingan-keasingan. Mengapa tak tiba hanya pada yang kurasakan, yang berikat emosional. Apa alasannya. Atau usah dipikirkan. Cukup selesaikan. Bukan hentikan. 

'Aku melihat diriku sedang menulis. Ada satu mug kopi juga rokok dijemari. Aku melihat diriku. Bahkan saat aku dengan akal sehat menuliskan mimpi itu'

(Draft 2024 : By Cok. SAWITRI)

DRAFT 2024 : MIMPI (1)


'aku sedang naif. Deritaku ini sebab tuhan tengah mengalihkan kasihnya pada yang lebih khusuk memujaNYA.'

Mimpi itu tiba. Bukan datang. Berkali mungkin aku abaikan. Berkali sudah kadang kubiarkan. Tapi mimpi itu tak hendak disebut mimpi. 

Jam nol nol. Tahun baru yang usai. Juga masai. Aku hanya berdiri. Tahu persis. Tak ada yang melihat. Menengok bahkan menyadari kehadiranku. Juga aku tidak suka. Aku hanya berdiri. Menatapi. Betapa lucu. Bukan menyakitkan. Bila tubuhmu, hidupmu berpindah sesuka hati. Tak sekali. Buatku itu mimpi. Harus distempel sebagai mimpi. 

Aku berjalan dengan sadar. Juga tahu semua yang berpapasan dengan aku, tak menyapaku. Sebab mereka tidak kenal aku. Juga tak melihatku. Dulu aku mengira diriku hantu. Atau itu ingatan dalam mimpi. 

Ya. Lucu. Juga menyakitkan. Kadang mimpi itu membawaku pada kenyataan kenyataan yang membuatku nyeri dan pedih. Aku pernah begitu tiba tiba menerobos tembok tebal. Lalu tiba pada sebuah cafe kopi. Berdiri di depan meja. Dimana cangkir kopinya itu bergambar wajah pacarku. Aku kagumi kemampuan Baristanya. Sambil menatap ke arah pemesan kopi itu. Yang lagi duduk dengan senyum bahagia dan diseberangnya pacarnya juga. Tetapi bukan aku. Aku merasa lucu. Bagaimana mungkin aku di cafe itu. Jaraknya dua setengah jam penerbangan plus dari bandara ke tempat ini: aku merasa lucu. Sebab aku sedang dalam mimpi. Prasangka berlebihan. Itu bisa jadi fakta. Bukan. Bukan fakta. Dugaan. 

Lucunya lagi. Setelah aku terjaga. Di kamarku. Aku membalas chat. Seolah olah betapa pentingnya aku. Seolah olah betapa indah atas nama cinta itu. Biasanya, aku menahan diri. Bersikap itu hanya mimpi. Seolah bisa dibohongi itu damai dan tentram. Karena aku ingin itu sebagai mimpi. Ya. Setiap kali aku tiba tiba harus tiba: aku memutuskan itu hanya mimpi. Saat terjaga. Aku tersenyum pada kewajaran dusta itu. 

'Aku naif. Itu derita...bahkan saat tiba tiba aku keluar dari permukaan meja makan. Dan tahu, aku tak akan dilihat mereka. Tapi aku melihat segalanya dengan keyakinan. Aku sakit. Sebab tiba mimpi itu menemui yang mimpi. Itu menyakitkan."

(Bag.1. By cok.sawitri)

NGEBAT, WALTZ DAN AYAHKU

Jika saya suka memasak, itu jelas pengaruh almarhum ayah saya. Saat penyajaan (dua hari menjelang galungan dan sehari sebelum penampahan) mau tak mau ayah akan meminta saya menyiapkan 'base-base' tapi itu rasanya semua keluarga di Bali mengalihkan keterampilan memasak dan juga keterampilan lain untuk kelengkapan upacara : terjadi alamiah. Mau tak mau harus bisa. Kalau mahir itu bonus. Atau memang menyukai memasak atau mejejaitan dll. Entahlah. Kemarin melintas ingatan saya pada almarhum : aneh, ternyata ayah pernah mengajari saya berdansa : waltz. Entah untuk acara apa itu. Saya ingat : di ruang tamu yang luang itu : ayah mengajar ketukan 3/4 lalu berputar arah. Kalau tak salah ada tiga tahap langkah. Aiih. Saat itu saya tak bertanya : mengapa ayah bisa dansa? Sebab kemampuan ayah saya lumayan. Saya masih ingat : ada bedanya kalau di ruangan tutup atau di luar ruangan. Aneh. Saya merasa sesuatu menggetarkan hati. Kenapa ya saya ingat justru saat itu: saat di ruang tamu: ayah mengajarkan saya dansa waltz!. (Jagi rawuh ring galungan kantos kuningan dewata dewati titiange) - penyajaan 2024

The King : " Saya belajar akan The New Dramaturgy kepadanya"

 

Pengetahuan akan dramaturgy itu relatif 'tak populer' walau beberapa keilmuan sosial sangat bertimbang kepada pencapaian pemahaman akan kedramaturgian. Sebagai teori jika dikaitkan dengan teater : maka selalu henti pada sebuah risalah dari era Aristoteles ( buku Poetics) jadi acuan kapan dimana pun kamu terbuntukan saat mencari apa itu dramaturgy. Lalu abad 18- bermunculan dalam tradisi teater eropa akan dramaturgy ini. Nama nama agung itu pasti disebutkan : G.E Lesing : ini kutipan paling populer akan seni peran dari Lesing : seorang penulis lakon ternama dari Jerman pada masa itu, tulisan-tulisannya tentang seni panggung (stagecraft), sastra dan peran teater dalam pembangunan budaya, sangat berpengaruh dalam membentuk bidang dan praktik dramaturgi. Kaitan dramaturgi dengan bidang sastra tetap tersisa; sampai sekarang istilah “dramaturg” secara umum digunakan untuk merujuk pada penasehat sastra yang bekerja di sebuah gedung/institusi teater, yang berpartisipasi dalam proses latihan, dan mengembangkan dan/atau memastikan bahwa “integritas” atau ruh dari naskah lakon tidak hilang di ruang latihan dan penciptaan yang bergerak cepat". Kemudian Patrice Pavis, dll. Tapi terbentang jelas gaya dramaturgy eropa itu. Berpengaruh karena dituliskan. Dunia akademisi selalu minder jika tak mengutip ajaran ajaran dari mereka. Tetapi wilayah Asia walau minimal sekali jumlah orang yang menekuni dramaturgy ini. Telah sejak lampau menginginkan 'dramaturgy yang berbeda dengan eropa' sejauh mungkin mengikis habis cara analisa struktur estetika terhadap pemanggungan oleh seorang dramaturg. Sampai kini belum lahir lahir juga sebuah buku agar dapat menandingi pengaruh buku buku seni pemanggungan ini khususnya untuk the new dramaturgy.


Di bali juga di Indonesia: menyukai ilmu ilmu ini sepertinya akan tersisihkan. Seolah dunia proses kreatif estetika telah usai pada kampus seni. Pada kepangkatan dan jabatan birokrasi seni. Sukurnya sejak 2005 dengan hati hati saya berguru kepada proses pengasuhan perguruan Maha bajra sandhi. Dan mungkin alamiah saya mengikuti tahap demi tahap : ledakan pemikiran Granoka Gong. Disamping temuan pasca filsafatnya yang bermuara pada Kakawin Sutasoma. Hal yang mencengangkan dia itu sejatinya menyusun The New Dramaturgy itu. Jika lebih luas pengetahuan dan wawasan mengenai segala syarat kedramaturgian: pasti tahu, walau dia tak tertarik untuk menuliskannya. Tetapi jika menyandingkannya dengan kesyaratkan keilmuan dramaturgy se eropa dari era klasik sampai dramaturgy network. Maka sepatutnya Dayu Arya Dayu Ani tahu akan hal ini. Ayahnyalah yang membimbingnya memasuki the new dramaturgy itu: analisa struktur estetika dan berjaringan. Sekalipun dibandingkan dalam bedah fenomena sosial dan estetika. Jika gambuh panji masutasoma ini dibedah hanya dengan teori populer dramaturgy yang lazim digunakan dunia akademisi tanpa pernah up date itu. Betapa kesepiannya dia😊. Maka saya memberanikan diri memenuhi kode etik sebagai sisia dalam Maha Bajra Sandhi. Akan menuliskan dengan Pisau The New Dramaturgy Granoka Gong. (Suksma). colek Sudarta Gusti Luciana Ferrero Suliati Boentaran Aryani Willems Analisa Kerenz Kadek Sonia Piscayanti Arint Az Pranita Dewi Dewi Noviami Ayu Weda Wayan Westa Made Gunarta Bob Teguh Jenny March Dewa Gde Purwita Sukahet Dewa Ayu Eka Putri

MA-SUTASOMA : DIA YANG BERANI KELUAR DARI 'COMFORT ZONE'

Dia muda, nyaman dan mapan. Masa depannya telah jelas : dia bakal jadi penguasa. Sutasoma memilih pergi dari semua kenyamanan itu. Masih muda, kategori remaja, belum menikah. Tapi entah kenapa dia galau dalam kenyamanan itu. Entah mengapa dia merasa tak tumbuh juga tak kembang. Tentu kegalauannya itu membuat semua orang jadi ikutan galau. Sekaligus tak berdaya. Keputusannya itu : pergi menjauh dari kenyamanan. Berpaling dari kemegahan kekuasaan. Gila itu! Keputusan absurd. Dia menyusuri hutan, mendaki gunung, menerabas gurun. Melapar dan menghauskan diri. Penyiksaan kepada tubuhnya itu menyerikan hati. Mengapa Mpu Tantular mengangkat tokoh Sutasoma ini (?) Karena dia penganut Budha (?) Mari memasuki kegalauan zaman itu. Saat Mpu Tantular menuliskan ini adalah saat Majapahit menyambut penguasa baru, yang usianya berkisar 16 tahunan. Dan walau mendebarkan : ada seorang ibu yang memangkunya juga Mahapatih Gajahmada. Lalu apa yang direnungkan oleh Mpu Tantular itu (?) Mengapa menghadirkan Sutasoma yang muda dan memilih pergi dari zona nyaman (?) Penguasa kala itu sangat kuat dan tangguh setelah melewati berbagai gejolak dan huru hara. Era itu penguasa pada tahap tak terkoreksi. Hampir tanpa pesaing bahkan oposan. Nyamannya kekuasaan pastilah melahirkan kebebalan. Menggoda kecongkakan. Juga pelemahan mental. Kenyamanan sering melahirkan kaum rebahan bahkan sampai otaknya rebahan. Dan pasti tak akan ada yang berani memberi bisikan : semua kenyamanan dalam kekuasaan itu memiliki akhir. Tragis bahkan. Maka Sutasoma, anak muda, sudah pasti akan berkuasa alami kegalauan atau ambivalensi perasaan : seperti hendak menyatakan : zona nyaman ini melelahkan karena tak ada lagi yang menantang. Bahkan tak ada lagi hasrat pencapaian. Segalanya jadi permainan. Keriangan yang garing. Kemegahan yang mengeringkan hati. Sutasoma menemui kenyataan. Ya! Diajak menemui kenyataan. Anak muda itu dengan kulit tubuh lembut halus menerabas semak belukar yang tajam, menggiris kulitnya. Dipertemukan dengan ambivalensi perasaannya yang selama ini tak dipahami. Kegalauan itu ditemuinya pada berbagai duka cita hidup. Maka mulailah kisah sutasoma itu  yang tentu saja tak akan jadi bacaan menarik bagi penguasa kala itu. Demikian! (Sambil menonton latihan Gambuh Masutasomanya Dayu Arya Dayu Ani potonya dari Luciana Ferrero ) Ayu Weda Gunarta Made Suliati Boentaran

PANJI MASUTASOMA : ZONA TAK NYAMAN ITU BERNAMA 'KELAPARAN'

Keberingasan semua mahluk itu dari perut kosong. Lapar. Kelaparan. Akal itu dalam posisi tenang. Sakit tidak. Sehat pun tidak. Tergantung situasi perut. Sebab itu mungkin. Para pelatih spiritual mengajak berlatih lapar. Tetapi tidak untuk kelaparan. Sutasoma yang belum akrab dengan rasa lapar. Masih tahap berlatih mengenal lapar dan haus. Bertemu dengan seekor macan betina dengan beberapa ekor anaknya. Saat itu hutan tempat tinggal si macan dan keluarganya tengah paceklik. Tubuh si macan kurus kering. Anak-anaknya pun dekil sebab dari puting ibunya tak keluar susu. Kering. Hutan itu meranggas. Hujan hilang dan cerukan penampung air telah berdebu. Itulah gambaran bagaimana suasana emosi menuju 'Menahan rasa lapar itu untuk menuju beringas'. 


Tidaklah cukup sehari. Daya tahan akal itu serius menakjubkan. Binatang juga semua mahluk memiliki naluri bertahan. Hingga batas mana dan apa akal itu goyah. Lalu menggelap nurani. Sutasoma disodorkan itu. Kejadian induk macan yang kelaparan, yang daya tahannya telah rubuh. Untuk hidup harus makan. Yang membebani itu harus disingkirkan. Tidak hanya pada hukum rimba itu berlaku. Keberingasan sebab kelaparan disodorkan pada seorang ibu. Induk. Tak terbayangkan bagaimana ketat dunia binatang menjaga anak-anaknya. Mengalahkan manusia dalam hal menjaga anak-anaknya. Apalagi bila itu binatang buas. Selalu ironi bila menyaksikan naluri melindungi anak anaknya. Kelaparan adalah kebuntuan hidup. Segala akan diretas. Segala kebaikan, kasih sayang juga harapan: omong kosong itu!


Kisah sutasoma ini menarik justru mengenalkan lelaki muda yang latar belakangnya tak kenal apa itu lapar, apa itu haus. Dia mahluk zona nyaman. Yang justru mencari ketidaknyamanan. Maka dikenalkan keberingasan sebab kelaparan. Bagaimana caranya menasehati, membujuk bahkan memberi dalil religius pada keberingasan yang hanya bisa dihentikan dengan obat lapar itu : makanan. 


Melankolik bila berkata: betapa dosa dan jahatnya engkau bila memakan anakmu sendiri (?) Kaum agamawan sering ceramah kata kata bijak untuk kasus keberingasan dengan dalil itu : janganlah berbuat kejahatan itu nanti masuk neraka. Lha, macan itu makan anaknya buat bertahan hidup. Itu jauh lebih tinggi nilainya daripada dia bunuh diri ! Iya kan (?) Karena itu : Tawaran sutasoma itu adalah : makanlah aku! Sebab dibunuh pun induk itu memang sudah sekarat karena lapar. Dilarang makan anak-anaknya pun anak anak itu akan mati. Kelaparan itu menjadi tak sederhana. Menjadi tanpa solusi. Ketika dibawa dalam kehidupan manusia : kelaparan itu tak hanya urusan tidak makan dan tak ada bahan makanan semata. Sebab kelaparan itu berjaringan, dampaknya juga berjejaring. Itu derita! Itu dhuka cita! Banyak kata agung dan tulus untuk menghibur persoalan dasar dari hidup itu. Apalagi jika itu menyangkut keberingasan yang membelakangi akal sehat. Tapi seringkali tidak dilihat sebabnya. Juga solusinya pun tak tepat. Maka makanlah aku! Jika itu mengakhiri keberingasan dunia. (Sutasoma dimangsa kala😊 sambil memeriksa dokumentasinya Luciana Ferrero untuk Gambuh Panji Masutasoma Dayu Arya Dayu Ani dan Ayu Weda Putu Ana Anandi Suliati Boentaran Made Gunarta

PANJI MASUTASOMA : MAKANAN KEKUASAAN ITU : KEPALA PARA RAJA

Bukan hanya yang punya perut, yang merasakan lapar haus. Maha lapar itu yang tak pernah dicukupkan oleh segala hidangan adalah lapar hausnya kekuasaan. Sutasoma tidak serta merta memahami bahwa dia akhirnya harus berbalik pulang: bukan karena tuntutan kewajiban sebagai pewaris kekuasaan. Dia putra mahkota. Pasti akan dinobatkan. Tapi apa alasannya dia mau kembali memasuki zona nyaman (?) Kembali hidup galau (?) Apa! Kenapa! Kaum pencari ketenangan pasti kesal. Kenapa kembali keurusan duniawi sih! Iya! Jalan hening itu tidak linier. Sutasoma dengan tenang menjawab : Karena aku ingin menjadi hidangan bagi maha rasa lapar itu. 


Semua negeri, semua raja kapan saja : yang dijadikan kegundahan adalah kehilangan kekuasaan. Tak pernah ada penguasa yang gundah akan keadaan rakyat, tanah dan airnya. Sekalipun mereka nampak bersemangat mengurus ini itu : itu semua bagian dari alat menjaga kekuasaan. Makanan, tentara, kesejahteraan, kesetiaan, apa saja itu semua untuk menjaga kekuasaan. Jayantaka, pantas bergelar porusadha : dirumorkan sebagai pelahap kepala para raja. Sutasoma memahami kegalauan Jayantaka. Sebab para raja itu hanya meraih kekuasaan dan sibuk menjaga kekuasaannya. Manusia memakan kemanusiaannya, naramangsa, itulah penguasa. Memakan kemanusiaannya dengan segala cara dan gaya: ideologi, strategi bahkan ayat suci pun jika perlu digunakan buat menjaga kekuasaan. Jayantaka tidak memilih cara seperti sutasoma: kegalauannya di zona nyaman diobati dengan meretas seluruh isi kepala para raja.Harus dicuci otak seluruh kekotoran kepala penguasa itu. Tak ada cara lain : kekerasan, keserakahan, keangkuhan segala asupan penguasa itu harus diretas. Dicucihamakan bila perlu. Itu sebabnya ketika sutasoma kembali dari perjalanannya: bersedia menjadi penguasa. Dia dengan sigap menemui Jayantaka dan bersedia menjadi hidangan kepada mahakala. Dunia selalu rusuh urusan peradaban. Terlalu banyak yang turut campur. Mpu Tantular menjadi saksi sekaligus tak tahu lagi cara menyampaikan kepada zaman : bahwa dunia ini punya dua jalan, jalan seperti porusadha atau jalan sutasoma. Jika keduanya bersanding : bermufakat barangkali hanya akan mengurangi derita dunia. Tetapi bukan berarti tak ada korban. Hukum semesta tetap tak imbang bila hanya ada kelahiran dan kematian. Tetapi derita itu justru harus berputar sebagai wasana penciptaan. ( nonton kevin sebagai jayantaka di latihan gambuh panji masutasomanya Dayu Arya Dayu Ani dan potonya Luciana Ferrero plus tercenung karena ini pas waktunya bagi nusantara. Ayu Weda Made Gunarta Suliati Boentaran

PANJI MASUTASOMA : PADA KEMATIAN JAYAWIKRAMA, FLEXING PENGUASA DIAKHIRKAN

Mengapa kaul itu hanya 100 kepala raja(?) Bukan seluruh kepala raja di muka bumi (?) Jawaban sopannya karena ada 100 mentalillnes yang mudah sekali memasuki isi kepala para penguasa. Salah satunya adalah flexing! Pamer! Pencitraan! Awalnya ini bermula dari keinginan menjadikan negerinya makmur! Artinya kaya raya : uang, emas dan permata. Merk kekayaan lainnya adalah busana juga gertak melalui pamer! 


Jayawikrama salah satu yang ditarget oleh Jayantaka. Iya! Karena Jayawikrama memimpin negerinya dengan flexing! Senang sekali bersikap seolah dermawan, royal itu beda dengan murah hati. Dermawan itu beda dengan bagi bagi hadiah. Jayawikrama mendandani seluruh isi negerinya dengan seolah-olah semuanya baik-baik saja. Jika dia mengunjungi rakyatnya : dia itu tak segan segan membagikan tak hanya bahan makanan juga melempar hamburkan keping emas. Semua pasukannya didandani : bukan dilatih. Dibusanai agar nampak anggun berwibawa. Seluruh elite kabinetnya diizinkan untuk meraih sebanyak mungkin kekayaan dan aman bila mau memamerkannya sehingga mata manusia silau akan gemerlap kekayaan itu. Jerih kepada si kaya. Menjadi kaya itu bikin ciut nyali orang lain. 


Percakapan di negeri itu dalam mood saling memuji! Sekaligus saling meniadakan. Antara fakta khayalan tak mungkin lagi dibedakan. Jayantaka menargetnya. Tak bisa hanya dengan mencucihamakan otak semata. Brainwash itu tidak mempan bagi penguasa yang membangun negerinya dengan flexing.


Kadang, jalan pralina diambil sekalipun itu perih. Semesta pun memutuskannya untuk pembersihan. Sebab pamer. Pencitraan. Kepura-pura ini adalah berakar dari rasa enscure, ada dalam bangunan karakternya : minder akut. Mendekati psikotik belum lagi kompleks terdesak yang dialami figur penguasa model Jayawikrama ini. Kaget. Tak tahu bagaimana menjadi pemimpin! Karena itu dia flexing. 


Maka tak bisa tak. Jalan pekat itu diambil. Bukankah dalam kegelapan, cahaya kunang kunang akan indah (?) Mengerikan benar bila mendengar langsung apa yang diucapkan Jayantaka saat memetik satu per satu nyawa itu! Tujuannya segera membasmi habis satu penyakit yang mudah menjangkiti penguasa : flexing! Pamer. Pencitraan. Enscure. Kepura-puraan. Sebab dunia tak akan pernah selesai urusannya hanya berbekal suatu hari dia akan tobat dan sadar. Menjadi baik itu mustahil bagi mental yang hidup antara fakta dan imaji. ( memperhatikan pertumbuhan Kesa sebagai Jayawikrama. Poto Luciana Ferrero dalam proses Panji Masutasomanya Dayu Arya Dayu Ani dan tantangan pemeranan ini dalam pakem gerak gambuh sungguh mendebarkan. Colek Ayu Weda Suliati Boentaran Made Gunarta Putu Ana Anandi

GAMBUH PANJI MASUTASOMA : DEMANG TUMENGGUNG ITULAH FAKTA 'BADUT'JUGA KEKUASAAN

Rakyat bukan negeri! Dimana sistemnya monarki. Maka dia tak akan bisa berharap kepada penguasanya. Bahkan berdoa sambil menyogok pun sudah pasti urusan calon penguasa baru itu adalah keturunan si penguasa. Mau berontak pun tanggung. Sebab struktur penguasa buat menyangga kekuasaannya : tak diputuskan oleh kemampuan dan keterampilan. Tetapi oleh nepotisme, intrik dan juga manipulatif. Ngeri! Iya. Sutasoma pun tahu hal itu. Jayantaka pun tahu itu. Mencari kesetiaan, loyalitas dengan dalil budi baik itu absurd dalam nalar kekuasaan.


Drama tari gambuh ini sejak era Udayana menjadi jembatan otokritik sekaligus keputusasaan. Tingkatan dari satu orang warga (rakyat adalah jamak): menuju puncak kuasa. Itu seperti memasuki labirin. Lebih ribet dari birokrasi modern. Manipulasi pertama yang ditawarkan kekuasaan adalah seolah-olah dalam mengurus rakyat ada dharma negara. Taat hukum, moral dan etika. Sekaligus glorifikasi. Intimidasi akan muncul untuk sesekali muncul figur baru yang dipromosi di strata wilayah kademangan (setara wilayah kabupaten) itu berkakak adik baik secara biologis maupun tata negara: di situ : istilah mereka kaki tangan penguasa yang berurusan langsung dengan masalah rakyat. Diatasnya pada labirin penguasa : Para arya itu tidaklah semata urusan administrasi tetapi juga wakil wakil keluarga besar : golongan-golongan yang dibangun dengan tak hanya ikatan perkawinan juga keyakinan. Semua juga dalam kekompakannya menyimpan manipulasi : atas segala kelemahan dan ketakutan. 


Drama tari gambuh ini menarik sekali sebagai wajah perlawanan, tandingan sekaligus kearifan yang daya ungkapnya dilabuhkan pada pemeran Demang Tumenggung. Keduanya dalam real time adalah pejabat tinggi. Tetapi ditampilkan dengan kegaduhan, gerak yang nyeleneh : pilihan kata yang simbolik. Tertawa tanpa sebab. Menertawai entah apa yang ditertawai. Kadang begitu riuh dalam kesibukan yang seakan betapa berat pengabdian menjadi pejabat tinggi. Dan entah apa itu pengabdian. Segala celaka juga dipahami akan tiba. Tetaplah tertawa dan hiruk pikuk. Sebab kehirukpikukan akan membuat atasan merasa dicintai. Dan didukung. 


Pemeranan Demang Tumenggung ini tidak sama dengan pemeranan punakawan. Tapi gambuh mendesainnya dalam teks yang methapor buat berkata : kekuasaan itu sejatinya badut : lebih lawak dari gaya punakawan. Bayangkan : penguasa mengira dirinya berkuasa tetapi selalu takut kehilangan kekuasaan. Karena itu selalu memelihara intrik. Bila musuh nyata datang untuk merebut kekuasaannya. Maka penguasa akan berkata : membela tanah air atau membela kebenaran. Maka Demang Tumenggung akan melepas tawanya. Menghirukpikukan dirinya seolah tengah kompak setia. Perhatikan dan dengarkan pilihan teks (dialog) demang tumenggung : linguistik corpus ini, yang diucapkan berulang dengan selang seling pilihan kata yang berlawanan dengan tata krama berbahasa : puitika nyeleneh dalam tradisi puitika sahdu. 


Maka : jika interpretasi atas pemeranan ini mengira ini peran penghiburan. Itu pasti sedang kurang gahol. Tapi jika berani mendekati para cendikia yang menyusun drama tari gambuh ini : maka akan fungsional sampai detik ini. Menghadapi kekuasaan dan penguasa yang sejati selalu rikuh dan kikuk. Sebab tak ada penguasa yang bebas dari perasaan kesepian akan kesetiaan sekitarnya. Sebab yang ada adalah kepentingan. Kesalahan adalah sandera bagi keberadaan mereka. Dalam hal itu entah mengapa posisi Demang Tumenggung ini justru yang dipilih. Sebagai permakluman : peradaban ini pun diwariskan dengan lucu. Bahkan kadang dengan lawakan. Jadi bagi mereka yang mengira kekuasaan dan penguasa itu keketatan tanpa tawa. Itu artinya dia hanya penjilat yang siap menjadi pengkhianat bagi siapa saja yang kelak menghalangi hasrat kuasanya. Maka : pada demang tumenggunglah Sutasoma juga Jayantaka menyaksikan kepala kepala raja itu dipenjara oleh hiruk pikuk canda tawa para demang tumenggungnya. (Nonton latihan Masutasomnya Dayu Arya Dayu Ani dan potonya Made Gunarta sambil senyum pada Luciana Ferrero Suliati Boentaran Ayu Weda Putu Ana Anandi Venus Asri Putu : kita semua harus bisa tetap tertawa)

SUBLIMASI DALAM KOREO Dayu Arya Dayu Ani

 


Dalam seni pertunjukan di Bali. Menarikan Rangda itu telah distigma : menuju tampil angker, menyeramkan, pencapaiannya : bikin takut! Hingga lupa karakteristik yang ditarikan. Sehingga yang dicari adalah bagaimana mendapatkan gerak plus tambahan vokal : pokoknya agar serem! Rangda itu apakah dalam status 'arca' artinya disucikan ataukah sebagai topeng untuk ditarikan dalam seni pertunjukan. Tetap berasal dari kepradnyanan memahami durga tattwa. Dari sisi estetika itu serius surealis menggambarkan ekstraordinary kecantikan Sang Rahim Agung. Mahahrdaya. Apa saja melampui dari yang biasa biasa saja. Pasti menggetarkan. Menciutkan. Dayu Ani dan adiknya Dayu Gek Han : menterjemahkan kejelitaan tiada tara dari Widyutkarali. Durga gangga gori itu! Yang dalam kisah Sutasoma berkepala sejuta cahaya. Dan pemberi anugrah mantra Mahahrdaya Dharani. Menjauhi godaan: menjadikan adegan peanugrahan itu : menyeramkan dengan gerak gerak gertakan. Sebaliknya : dayu ani mendorong koreonya kepada keharusan membawa nafas halus saat menarikan. Karena ekstraordinari Durga itu pada kemahalembutannya. Perhatikan gradasi potret yang dipoto oleh Made Gunarta saya edit sedikit. Untuk memperlihatkan : sisi sublimasinya untuk menampilkan jenial koreo ini. Dan uji cobanya ditarikan di siang hari tanpa dekorasi, tanpa make up. Ah, jadi pingin bertanya: apakah adegan koreo itu masih bikin merinding (?) 

IDE TIMANG-TIMANG ITU : BUKAN DARI SAYA!

 

Ini penting mengklarifikasi. Juga buat pengetahuan bagi adik adik di Bhumi Bajra. Menghormati dan mengakui ide siapa dalam proses kreatif bahkan saat kolaborasi. Menimang nimang, ngempu tapel rangda itu sebenarnya ide yang mengetarkan. Menyerikan bahkan. Apalagi yang ada dalam koridor percaya akan mistik plus magic. Bukan nyaluk. Tetapi ngempuang. Iyung-iyungang. Itu ide dari Dayu Arya Dayu Ani sendiri. Tugasnya saya adalah ngabetang. Memahami bagaimana memecah stigma soal menarikan rangda dalam seni pertunjukan di Bali. Belum lagi stigma akan berbagai tulisan dan karya saya yang memang bermuara pada riset calon arang. Wajah rangda itu begitu lekat. Jika hanya semata melihat tarian itu sebagai alur gerak berkisah. Formalisasi dalam ekspresi dalam seni pertunjukan Bali kini lebih percaya pada atribut, busana bahkan akrobatik jika hendak memunculkan kejutan dalam seni pertunjukan. Berkali saya menonton, bahkan tangkil saat ada upacara napak pertiwi misalnya. Saya sudah tidak bisa membedakan lagi mana ida sesuhunan sane tedun, apa itu penghayatan terhadap satu peran (?) Semua membangun intimidasi pemanggungan. Bahkan saat nedunang sesuhunan. Sejak lama saya memang mengajak dayu ani merenung : rangda itu mestinya selembut legong, ayu dan dikembalikan kepada jnana wisesanya : yang paling kuat itu adalah kelembutan, yang paling mengharukan dan membuat hati terenyuh adalah urusan ibu dan anak. Tapi ide menimang nimang itu serius membuat saya tersenyum. Saya sudah berjanji dalam hati. Akan mentaati siapapun yang mensutradarai saya. Maka tugas saya walau kadang daya rekam gerak (pileh) saya itu buruk sekali, harus dipandu oleh Mang Yun, Dayu Gek Han. Itupun dengan cara berbisik, kendala lain untuk memberi arahan itu kadang harus dihadapi dengan gelak tawa. Tapi ide menimang nimang rangda itu : serius menyerikan hati. Itu tidak mudah. Lebih mudah menarikan rangda. Dibandingkan menimangnya. serius. Jadi ini saya maksudkan bahwa Dayu Ani itu mumpuni sekali dalam menetapkan apa yang akan dia tetapkan sebagai elemen dalam karyanya. Jadi ini pesan untuk adik adik di bhumi bajra : selalu hati menyimpan kekaguman agar taksu itu tiba dalam semua hayat hidupmu.

NGEBAT, WALTZ DAN AYAHKU

 


Jika saya suka memasak, itu jelas pengaruh almarhum ayah saya. Saat penyajaan (dua hari menjelang galungan dan sehari sebelum penampahan) mau tak mau ayah akan meminta saya menyiapkan 'base-base' tapi itu rasanya semua keluarga di Bali mengalihkan keterampilan memasak dan juga keterampilan lain untuk kelengkapan upacara : terjadi alamiah. Mau tak mau harus bisa. Kalau mahir itu bonus. Atau memang menyukai memasak atau mejejaitan dll. Entahlah. Kemarin melintas ingatan saya pada almarhum : aneh, ternyata ayah pernah mengajari saya berdansa : waltz. Entah untuk acara apa itu. Saya ingat : di ruang tamu yang luang itu : ayah mengajar ketukan 3/4 lalu berputar arah. Kalau tak salah ada tiga tahap langkah. Aiih. Saat itu saya tak bertanya : mengapa ayah bisa dansa? Sebab kemampuan ayah saya lumayan. Saya masih ingat : ada bedanya kalau di ruangan tutup atau di luar ruangan. Aneh. Saya merasa sesuatu menggetarkan hati. Kenapa ya saya ingat justru saat itu: saat di ruang tamu: ayah mengajarkan saya dansa waltz!. (Jagi rawuh ring galungan kantos kuningan dewata dewati titiange) - penyajaan 2024

CATATAN THE TIMPALs : MEREKA DENGAN SUARA KANAK BERTANYA : APA SIH CERITANYA INI (?)




Di bawah pohon sawo di jabaan Merajan Ageng Griya Budakeling : kami berempat sedang menunggu proses adegan Panji Masutasoma bagian openingnya. Dayu Gek Anis, pemeran Galuh    bersama tiga condong (kinar, gung gek, dayu geg) saat itu kembali dari arah utara, arah pintu dari purian merajan ke jabaan : dan Gek Anis mendapati saya tengah menimang Rangda (btari widyutkarali): dengan suara kanaknya menyapa saya : sudah dikasi minum susu (?) Ketiga anak lainnya melepas senyum nakal kanak mereka kepada saya. Saya pun memperagakan dengan sungguh menimang 'btari'. Ketiganya mendekati melihat ke arah rangda, seakan itu adik kecil, "cantik cucunya loh!" Ini dicelotehkan anak anak itu dengan maksud menggoda saya. Yang ga mau dipanggil nenek. Harus memanggil saya kakak atau sista! 😄 jadi Kinar lalu bertanya: apa sih ceritanya ini. Yang lainnya bertanya apa ceritanya? Kenapa ada panji? Kenapa ada masutasoma(?) Saya dengan serius juga akhir jatuh kocak. Mulai menceritakan : itu cerita tentang the prince (pake bahasa inggrislah): yang galau lalu meninggalkan istana. Dia itu kabur sebenarnya sebab semuanya  ga mau dong dia pergi gabut gitu. Bisa bahaya kan. Tapi the prince tetap pergi. Nah si panji itu karena dahulu kala : di griya budakeling ini ada gelungan panji yang misterius: yang bisa muncul dan hilang tiba tiba. Nah, adegan awalnya itu tuh bu guru dayu ani mau berkisahkan itu : oh....lalu terjeda. Sebab persiapan akan dimulai. Kembali anak anak itu menggoda saya : ga nangis cucunya (?) Hahahhahaah...dan ternyata diam diam kami diamati oleh Ayu Suma Lestari ibunya gung gek. Lalu saya tertawa berucap : ga boleh loh nyandain rangda. Anak anak itu mengangguk dengan senyum seolah menatap serius ke arah depan. Saya bersukur : pertanyaan jujur dari mereka. Sebab jarang yang mau bertanya soal adegan opening itu. Seakan akan semua mengerti. Lewat anak anak itu saya jadi merasa betapa ketulusan anak anak itu justru menjadi jembatan komunikasi. Tentu dengan komentar : duh gitu loh ajarannya mbok cok...maklum saya memang mengajak anak anak itu agar mengakrabi hal yang selalu ini secara halu ditakuti. Kapan takut, kapan berani, kapan bertanya bahkan mempertanyakan..dst. welcome di pasraman bhumi bajra😄

SARASWATI ITU, OH IBUKU!...

Para keponakan saya, tentu tak akan alami apa yang saya alami saat kecil. Ingatan hari raya Saraswati. Bila Nyaraswaten tiba. Sehari sebelumnya, Ibu saya akan mendapat kiriman Banten Nyaraswasti dari kakak sepupunya; seorang pendeta. Begitu pula dari tetangga, juga seorang pendeta; mengirimkan banten nyaraswati. Pada masa kanak saya, belum ada jual-beli banten di pasar. Kalau mengupah membuat canang dan jejahitan; saat itu sudah ada. Ibu saya bukanlah tipe religius, kakak sepupunya yang pendeta tahu akan hal itu, begitu pula ipar jauhnya; semua paham akan hal itu. Maka dari balik tembok, suara Ninik Sari, seorang tapini, yang selalu meladeni pendeta tetangga rumah, mengingatkan: bantennya dihaturkan dari pagi, nanti sore baru dilayub; jajannya nanti disuapkan ke putra putrimu! Sejak pagi kalau bisa anak-anak jangan makan alias puasa; mebrata. Disamping banten nyaraswaten juga ada beberapa payuk yang dikirim: kumkuman, untuk banyu pinaruh. Sehari setelah saraswasti adalah banyu pinaruh. Kembali suara itu akan terdengar. Bangunkan anak-anak sebelum matahari terbit, cari pancuran terdekat, mandikan di sana atau pergi ke tepi laut. Mebanyu pinaruh. Jadi menjelang nyaraswanten; dua hal itu yang saya dengar dari balik tembok. Atau dari utusan pendeta; seorang pelayan perempuan dengan senyum yang mahal, mungkin jemu harus menyampaikan pesan yang sama setiap tahun. Dan itu disebabkan ibu saya dengan santai menyahut: inggih.

Lalu yang saya ingat, betapa gemetarnya menunggu malam tiba. Karena sudah diikuti bayangan; besok seharian tak boleh membaca, tak boleh makan, saat senja barulah makan jajan. Jaje Saraswati yang warnanya putih, dasarnya budar diatasnya ada lambang cecak! Juga samar aksara: Ong Kara.

Dari semua upacara untuk diri, mungkin Nyaraswaten yang paling ibu taati. Saat itu sekolah-sekolah belum semarak seperti sekarang merayakan. Justru di rumah-rumah terasa kesibukan menghadapi hari nyaraswati; walau sesungguhnya banten saraswati itu sederhana. Bandingkan dengan banten sugihan atau tumpek ngatag; ada bubur dan ada beberapa jenis jajanan; yang enak sekali dimakan. Banten Saraswati hanya akan menyisakan; jaje saraswati yang kering, tanpa rasa, kadang terasa pahit di lidah. Namun harus dimakan dengan cara ditelan, itu saat sore hari tiba. Sebagai tanda buka puasa. Hal lain, betapa mengantuknya saat pagi dibangunkan, harus segera mandi dan suara ninik sari akan terdengar: pendeta di seberang rumah sudah selesai Nyurwa Sewana, tanda boleh nunas tirta: Majaya-jaya.

Ingatan itu, tradisi nyaraswanten, yang paling berkesan adalah saat menanti Ibu menurunkan banten, di sore hari, ngelayub jaje saraswati: Lihat cecaknya...saya, adik dan kakak saya akan menelan rasa hambar itu; ditelan begitu saja. Dan mengapa cecak? Setiap kali bicara dan jika berbohong, cecak itu tak akan berbunyi. Jika berbunyi setiap kali kita menyampaikan sesuatu: ibu mengingatkan untuk mengatakan: Tu suci.....(sampai kini saya tidak tahu apa kalimat utuhnya): hanya meniru: Tu suci, artinya benar dan jujur apa yang saya ucapkan. Kejujuran berucap itu terkait dengan wacika. Betapa melekat dalam kepala dan hati saya, bila berbohong: cecak itu akan cuek. Karena itu selalu berusaha tidak bohong, tidak bicara kasar, walau sesungguhnya, saya temperemental.

Ketika saya mulai merantau, para keponakan pun mulai bermunculan. Suatu hari, salah satu keponakan yang sekolah di kota denpasar; pulang kampung dengan membawa satu flyer: berisi mantram saraswati. Itu tahun-tahun mulainya demam mengutip mantra india. Sekolah-sekolah dibali mulai ‘religius” dan kantor-kantor pemerintah dan swasta mulai merayakan ‘odalan’nya sendiri. Dengan bangga keponakan saya berkata: ini loh mantram saraswati. Dan kemudian beberapa bulan kemudian bahkan ada plakat dari kayu; ditulisi mantram itu, bak merchandise dapat dibeli di beberapa toko dan warung, juga pedagang kaki lima di pasar-pasar. Lalu betapa kemudian penjelasan mengenai saraswati itu: patung dengan empat tangan; bla....bla...bla...bla...tapi seingat saya, tak ada satu pun sekolah menawarkan: brata nyaraswasten begitu pula lembaga agama Hindu di Bali.

Ibu saya, masa kanak itu, memberi saya satu pemahaman kini: budaya itu adalah tradisi ingatan, yang diasuhkan kepada saya. Itu kemudian menjadi titik pijak untuk terjadi evolusi spiritual dalam diri saya. Simbol cecak itu menjadi makna bertingkat-tingkat dalam pertumbuhan ingatan saya. Itu yang membuat saya tersenyum bila hari saraswati tiba. Dan ketika kini, betapa semaraknya kawan, sahabat, keluarga; menjadi penuh ritual dan spiritual. Saya justru mencari-cari jaje saraswati dalam banten saraswati itu. Dan saya teringat ketika keluarga saya mewintenkan saya, beda dengan anak-anak sekarang; masuk sekolah langsung diwinten, sedang saya karena dicemaskan senang membaca yang aneh-aneh diwintenkan. Ini hal yang berkaitan dengan Sang Hyang Aksara. Itu sesungguhnya jnana agung, salah satu tujuan tertinggi dari ajaran siwa sidhanta; juga dalam bhuana kosa disebutkan; hanya pengetahuanlah yang dapat membersihkan dirimu! Maksudnya sang hyang jnana; itulah yang jadi penyebab adanya pijakan awal; yakni mengajarkan akan dewi saraswati, pijakan awal ketika engkau masih kanak untuk kelak memasuki evolusi spiritual dalam diri.

Tahun-tahun berlalu, ketika memasuki tahun 90-an sampai 2000-an, demam spiritual itu menjangkiti seluruh dunia, semua agama, dengan berbagai keciriannya. Termasuk lingkungan saya tumbuh dan mulai menua. Para keponakan mulai dewasa dan sesekali akan bertanya: karena saya kritis terhadap mantram saraswati dalam plakat itu. Juga kepada patung dewi itu! Tapi tak ada yang bertanya, apa lalu yang harus dilakukan sesungguhnya bila saraswati tiba, selain sembahyang bersama di sekolah? Rasanya kok seperti odalan biasa-biasa saja?--- yang serius bertanya justru teman-teman dari kalangan intelek modern. Atau yang cemas, kenapa kita makin lama makin rigid yah? Tetapi yang nendang ke hati kok makin menipis? Lalu seperti biasa, karena yang diinginkan itu agar cepat dan terasa: instan, mereka mulai mengeluhkan, kenapa harus diwinten? Kenapa harus ini itu hanya untuk mendekat ke kaki Sang Hyang Aksara. Apalagi teman-teman dari perantauan, identitas menjadi orang Bali salah satunya adalah mebanten; saraswati jatuhnya selalu hari Sabtu, itu salah satu alasan terkuat untuk dapat berkumpul sesama orang bali. Demam menjadi pemangku, mencari cara praktis membuat upacara; semarak sekali perkembangan dalam berbagai potret. Dan tetap saya masih terkenang; jaje saraswati itu. Lalu para keponakan hanya melihat: saya justru paling enggan terlihat khusuk sembahyang saat saraswati tiba. Tumpukan buku saya, dan semua yang saya memiliki secara fisik; seharusnya saya membuat odalan besar. Nyatanya, saya hanya menghaturkan dua buah banten saraswati; satu kepada Sang Hyang Taksu, kedua pada Sang Hyang Jnana. Berdoanya dalam hati. Contoh yang tidak baik bagi semua keponakan, yang tentu akan memprotes bila kesempatan tiba. Kecuali saat saya ke rumah kakek, saya sesekali menengok sisa-sisa lontar yang ada di beberapa bale; hanya menengok. Memastikan apakah sudah remuk ataukah belum. Dan hingga kemudian di rumah kakek; tradisi ngodalin aksara kembali dilakukan dengan meriah. Tiba-tiba saya tercenung saat akan mencakupkan tangan. Sepulangnya, itu terjadi tiga atau lima tahun lalu, saya mencari catatan itu. Bukan plakat itu. Betapa sesungguhnya banyak ragam pemujaan kepada Sang Hyang Aksara, yang saya suka adalah dari tradisi tua; yang populer di kalangan pemangku yang ketat sifatnya, itu pun tidak semua pemangku serius utuh menyanyikannya saat pemujaan kepada Sang Hyang Aksara, saya buka catatan:

Mantra ring Sanghyang Saraswati

Om Saraswati namostu bahyam/ Parade kama rupinii/ Sidi rastu karaksami

Siddhi bawantu mesaddham

Pranamya sarwwa dewasca" Paramatma namawanca" Rupa siddhi karoksabet

Saraswati nama myaham

Padma patrewima laksmi" Padma kesari warnni" Nityam padma laye dewi

Tubyam namah saraswati

Kaywam wyakaranam" Weddha sastra puranakam" Kalpa siddhi tantrani

Tatprasadat karosabet

Dalam pemujaan yang serius kepada Sang Hyang Aksara, ini penjelasan nya kepada saya, oleh seorang pendeta yang menjadikan Sang Hyang Aji Saraswati sebagai salah satu pegangannya dalam memimpin kawikuannya. Menjelaskan kepada saya mengenai : Panca Saraswati Astawa. Itu disampaikan ketika saya mulai kuliah dan saya itu senang belajar apa saja, termasuk membaca kitab-kitab suci berbagai agama. Ibu saya walau cuek, selalu mencemaskan; jika anaknya nanti berganti agama dan kamu kelak menjadi tamu pada hari kematianmu. Panca Saraswati ini masih saya temukan catatannya dengan mata berkaca-kaca, tidak juga bisa saya hapal-hapal, dan tentu saja bagi yang belum diwinten: ini kata pendeta yang sudah lebar itu: ucapkan ini: Ong Byaksayam Ludra Maheswarasyayam namah ya namah swaha//0//---beberapa kawan karena begitu taatnya, kadang menyampaikan kepada saya; kan dia belum diwinten agung, kok boleh membaca yang ‘maha suci?” padahal, siwa sidhhanta itu jelas tak pernah membatasi, siapapun yang hendak membasuh dirinya dengan pengetahuan tinggi, caranya ya itu; mencari pijakan awal;

Om sweta mara narandiwi/Sweta puspa prihandiwi

Sri sri tameng sasraswati//0//

Om rakta mara narandiwi/ Rakta malya panam/Rakta puspa prihandiwi/Sri sri tameng saraswati/Om pita mara narandiniwi/Pita mara malyapanam/Pita puspa prihandiwi/Sri sri tameng sasraswati//0//

Om pita mara narandiwi/Pita mara nalya panam/Pita puspa prihandiwi/Sri sri tameng saraswati//0//

Om kresna mara narandiwi/Kresna mara malya panam/Kresna puspa prihandiwi/Sri sri tameng sasrswati//0//

Om wiswa mara narandiwi/Wiswa mara malyapanam/Wiswa puspa prihandiwi/Sri sri tameng saraswati//0//

Dan selalu persoalan ini bagi yang diperantauan akan ditanyakan. Soal air suci, sesungguhnya kalau titik pijaknya sesantai ibu saya, akan mengenal hal ini: Panuhur tirta Ida Sanghyang Saraswati

PukulunSanghyang Siwa raditya/Sanghyang sasangka/Sanghyang :Lintang Tranggana/Manusa nira analuk tirttha/Mahning Sanghyang pustaka jati/Om Sarayu Saraswati Narmmaddha.....dstnya.

Saya tersenyum, entah mengapa hari ini, ibu saya dan masa kanak itu, justru menghadirkan dewi pengetahuan itu bukan sebagai patung cantik; tetapi inilah hari mengenai pengetahuan tertinggi beserta penjelasannya, gunakanlah bagi orang bijakasana, pengawi, yang ingin belajar segalanya, mengetahui aksara di bhuwana alit, dan bhuwana agung, mengetahui dalam wariga, usada, tutur, agama dan seluruh intisari dan seterusnya itu, dengan mempercayai hidup itu tak pernah keliru, dan selalu dunia ada surga yang dapat engkau patut ciptakan dibumi asalkan engkau tahu mengenai keagungan pengetahuan. Maka semuanya adalah bibit kebaikan dan bernafaslah dengan kedamaian. Usah mengingatkan orang lain, semua memiliki kadarnya, cukup yakinkan hatimu; udara hari ini lembut dan menenangkan hati. Santai ya bu? Ibu saya tersenyum: nak mebrata, pasti silib. Amun masolah wau tinggar!

BAGIAN KETIGA, KAJIAN CHANDRA BHERAWA



CHANDRA BHERAWA : SEBUAH KARYA SASTRA PEMIKIRAN, KECERDASAN SUKMA MULIA HINDU BALI, AWALAN KABHINEKAAN SIWA BUDHA. (BAG.3- seri belajar kajian sastra klasik)

Pada bagian ketiga tulisan ini, makin menguatkan pentingnya ketika memahami teks Chandra Bherawa sebagai rangkaian wacana. Juga tidak terburu-buru. Di Bali dan Jawa memang ada dikenal yang disebut dengan Ajian Chandra Bherawa, kesaktian dari Salya dalam perang Mahabrata. Sehingga teks Chandra Bherawa ini mengalami dua kali kesalahpahaman. Pertama, dikira inilah kitab sakti yang dimiliki oleh Salya dengan ajian Chandra Bherawanya, kedua, ini juga dikira teks tutur kawisesan dari pemargin Budha. Banyak pencari kebatinan mengejar teks ini, bahkan membangun rumors akan tingkat kesulitannya untuk ‘hanya’ mendapatkan teks ini! Dalam dua tulisan sebelumnya, telah dijelaskan bahwa ini adalah bagian dari Kuntiyajna Nilachandra, yang dengan alasan yang "aje wera’ memang dipisahkan dan dibaca dengan terbatas disebabkan isinya adalah dalam bentuk wacana, yang memerlukan kedalaman penafsiran. Namun kisah yang dituturkannya sesungguhnya ringkas, jelas dan indah.

Walau tuturan kisahnya nampak runut, pemaknaannya jelas, sebagai bentuk gaya penulisan ide, wacana memang tak dapat diartikan melalui kalimat per kalimat. Setelah Arjuna dikalahkan. Maka Bhima yang datang dengan strategi menyerang yang berbeda. Sebab dari laporan Nakula, Sahadewa dan Arjuna, musuh kebal akan senjata tajam. Maka Bhima mencabut sebatang pohon bodi yang tinggi dan batangnya sebesar pelukan lelaki dewasa. Dengan pohon bodi itu Bhima menyerang, hingga pohon bodi itu remuk menjadi serpihan, Chandra Bherawa tak terluka, tak bergeser dari tempatnya. Bhima karena panik, meraih tubuh Chandra Bherawa, menekuk dan membantingnya lalu membawa ke sebuah sumur paling dalam. Melemparnya sekuat tenaga. Namun Tubuh Chandra Bherawa mengambang. Tetap tersenyum. Bhima kehabisan akal, mencabut sebatang pohon lontar. Dengan batang pohon lontar itu, ditumbukkannya ke dalam sumur, hingga pohon lontar itu tercabik sendiri. Bhima menggeram, mencari batu besar, menggotongnya dan melemparkannya ke dalam sumur. Batu itu pecah seribu. Chandra Bherawa dengan gerak sabar ke luar dari sumur, berdiri tegak kemudian, menatap Bhima, " Apa lagi maumu, Bhima? Tiadalah tahu engkau akan hakekat hidupku,"

Bhima tertegun, lalu menjawab," Kalah aku. Kresnalah yang membuat aku marah padamu. Aku akan sampaikan kepadanya,"

Kedatangan Kresna menemui Chandra Bherawa menjadi bentuk dialog yang mengesankan, Kresna kini diposisikan sebagai yang tak paham akan ajaran kasunyatan. Bagian yang mengundang senyum. Bukankah Kresna raja debat? Serba tahu akan berbagai hal. Dia awatara. Mengapa dalam kisah ini dihadirkan menjadi si ‘awam’. Menjadi wakil pertanyaan umum, apa sesungguhnya agama yang dianut oleh Chandra Bherawa?

"Indah ta kita Sri Candrabherawa, kapuhan swacitta mami den ta, apa swajatine pwa ajin ta, don ta tan harep magawe Sanggar Kabuyutan, tan ahyun manembah Sad Kahyangan, amangan tan pabanten, ndah warahakena ri kami,"

Chandra Bherawa dengan suara tenang menjawab, tidak menyebut agamanya, tetapi ajaran yang dijadikannya sebagai sikapnya sekarang sebagai sumber isyarat. Chandra Bherawa menjelaskan nama ilmunya Bajradhara, memuja Sang Hyang Adi Buddha. Yang dipujanya berada si sela keningnya, itu sama dengan puncak Sucikabajra. Dengan gamblang ia menjelaskan kepada Kresna. Alasan dirinya, mengapa tidak lagi di negerinya, kepada semua rakyatnya diperlukan rumah suci, segala macam kecirian beragama; ritus, ritual, liturgi, bagi Chandra Bherawa, "semua itu ada dalam diri. Persembahan terindah adalah dirimu! Jika hendak ingin membuat upacara besar, dirimulah upacara besar itu!"

Kresna pada dasarnya tidak hendak sekedar berdebat, namun menguji dengan pertanyaan untuk menemukan alasan membunuh Chandra Bherawa,"Dimanakah engkau menyatukan ilmumu itu? Katakan Padaku?"

Jawaban Chandra Bherawa ini memerlukan pemahaman perbandingan referensi tatwa budha yang ada di Bali atau nusantara umumnya. Agar terang benderang pemahaman akan teks ini," ketahui raja Kresna. Penyatuan ilmuku itu dalam Rasa Nirbhana!"—sebagai puncaknya adalah Sila Gamana. Dalam diri tidak ada yang lebih mulia daripada atma. Pertanyaan Chandra Bherawa,"yan muwah gawenan Sanggar, ring sanggar tunggunen tang atma, atma salah para ngarannya yan mangkanana, tan hurung amanggih lara meh katekan pati,"

Kresna yang biasanya cerdas dan cerdik, tampil dalam kisah ini dengan kebingungan yang tidak ditutupi. Ia tergelincir dengan bertanya engkau tahu dengan ilmu Sri Mahamanggala? Kresna tidak ingin menyelesaikan dengan dialog, sebaliknya melanjutkan perbedaan itu dalam peperangan," kali ini aku bertaruh...tebak ajianku ini!"

Dalam teks ini, soal isi dari ajaran Wisnu Murti dijabarkan oleh Chandra Bherawa," Aku tahu wahai Kresna tentang kesaktianmu itu."

Wisnu Murti yang mencengangkan dalam berbagai kisah Itiasa, kini dikuliti oleh Chandra Bherawa,"Adrsya namanya berasalkan angin. Anjalatundha namanya beralaskan mega. Amadapa namanya beralaskan tunas. Angganacara namanya beralaskan angin. Selain itu, anima, laghima, mahima, prapti, Prakamya, Wasitwa, Masiyitwa, Yatrakamawasayitwa,Yatrakamawasayitwa, bagimu itu kekuatan super natural untuk berjalan kemana engkau sukai. itu juga asta Iswarya. Aku memberi nama apa yang engkau lakukan ajian Sarwa Krura. Aku tahu hakekatnya itu semua, segala wujudmu. Silahkan selesaikan semadhimu!"

Jelaslah apa yang hendak disampaikan oleh teks ini adalah bagaimana memaknai perbedaan tattwa bahkan yang terjadi dalam satu ajaran yang asal muasalnya sama. Kresna menjadi figur suci yang jelas ditempatkan sebagai awatara, namun tidak semua menempatkannya sebagai dewa pujaan. Lalu ilmu tertinggi dari Kresna bernama Wisnu Murti dengan mendalam, dikenali dan ditandai oleh Chandra Bherawa, bahwa dari sikap itu menjelaskan bahwa dalam menuju mencapai ajaran Bajradhara, seharusnya memahami ajaran-ajaran lain dengan kemahiran yang tak sekedar teknis namun sampai pada tingkat ahli. Jika berani menyatakan diri, sebagai penganut ‘agama/keyakinan’ tertentu dan merasa lebih patut diikuti, maka seharusnya wajib mengetahui ilmu-ilmu agama yang lainnya. Jadi, bukan kebutaan terhadap ketidaktahuan, seolah-olah tahu akan ajaran agama, seolah-olah kenal Hyang Widhi, karena pandai mengucapkan ayat suci, taat sembahyang, dan berbagai kewajiban lahiriah, yang kasat mata dapat dinilai oleh mata dunia digunakan ukuran sebagai keunggulan kesucian. Apalagi kemudian tersesat memahami makna surga dan neraka. Sesungguhnya, itu awal menjauhi jalan suci.

Kresna karena tersentak oleh ajakannya sendiri, mengajak bertaruh, maka terpaksa menagih kepada Chandra Bherawa untuk mengeluarkan kesaktiannya. Kresna sungguh ingin mendapatkan menunda kekalahannya,"Keluarkanlah kesaktianmu, aku akan menebakmu!"

Sejak lama, di kalangan pecinta sastra klasik di Bali, rumor yang dikembangkan akan isi teks Chandra Bherawa ini adalah soal ajaran kesaktian. Sehingga ditempatkan sebagai tutur kadiatmikan. Bahkan pernah saya mendengar bahwa ada yang menjadikannya penuntun dalam melakukan tapa brata. Dalam teks ini tidak ditemukan; penuntun, arahan apapun untuk melakukan hal-hal yang biasanya ada dalam tutur kawisesan. Yang ada adalah perdebatan menebak isi dari kesaktian-kesaktian yang dikagumi dalam dunia spiritual timur itu.

Chandra Bherawa sebelum mendemonstrasikan pencapaian ilmunya, meminta Bhima, Arjuna dan Nakula serta Sahadewa agar sudi datang untuk melihat, setelah semua datang barulah ia memulai,".....Mangatonanan rupang ku mangke, sangke harep, sangke pungkur, sangke iringan, yan hana cedangga, warahakena ri kami, irikang aji Brahmana Arddhanarewari ngarannya, delengan caksun ta den ta abener,"

Dimulai mengenalkan nama dari kesaktiannya, Aji Brahmana Arddhanarewari, syarat yang melihat adalah lihat dengan jelas dan jernihkan penglihatan. Berbeda dengan tampilan Wisnu Murti yang semuanya serba dahsyat, maka, Chandra Bherawa setelah memusatkan batinnya mengubah dirinya menjadi Manik sphatika, besarnya hanya sebesar lengan. Setelah ditatap dengan benar, bila mengerjapkan mata maka berubah menjadi Manik Sutrawat, besarnya sekepal, bersinar ke segala penjuru. Bila mata yang memandang berkerjap akan berubah wujud menjadi Manindra, besarnya seruas jari, nampak bening berkilauan, kembali jika mata berkerjap akan berubah sebagai Maninten seperti merica besarnya, cahayanya seperti sinar bulan. Bila mata berkerjap maka akan berubah sebesar biji jawa yang di bagi tujuh. Hilang tanpa bekas.

Kresna termangu, begitu pula semua yang menyaksikan. Memperhatikan teks ini, bagaimana menjelaskan akan adanya perbedaan kebijakan dalam melaksanakan agama dalam kehidupan; yang satu Karma Sanyasa, yang lain Yoga Sanyasa. Perbedaan ini melahirkan tata krama kehidupan yang berbeda dalam keseharian penganutnya. Namun akibat keyakinan akan tanggungjawab menjaga kehidupan, pihak Hastina, dalam hal ini Kresna menginginkan semua yang masih awam dalam beragama sebaiknya melaksanakan agama secara Karma Sanyasa, agama dilakukan dengan ritual, ritus, liturgi; berbagai kecirian agama sampai rumah suci, hari besar, hari kecil, jam sembahyang, dll. Agama distrukturkan pelaksanaannya. Menjadi kewajiban yang bertujuan menjaga hubungan antar manusia, untuk menjadi dasar saling menghormati satu sama lain dan menjauhi kesalahan dan dosa. Perbedaan cara ini sejak lampau menjadi alat kekuasaan untuk menundukan kebutuhan manusia yang berbeda-beda. Penyerbuan dengan kekerasan oleh Nakula dan Sadewa, lalu Arjuna dan Bhima, memberi gambaran, betapa banyak banyak riwayat bumi perang akibat salah satu keyakinan yang diyakini sekelompok orang sebagai jalan terbaik mencapai kesadaran cahaya tertinggi, dengan sebutan apapun, mewariskan kekerasan. Dalam tahap selanjutnya, wacana yang disampaikan oleh teks ini adalah pertaruhan dengan pencapaian keilmuan dalam konteks spiritual agung.

Kresna menyatakan dirinya kalah. Dengan murung mengatakan, akan menemui Yudhistira. Chandra Bherawa tersenyum, memahami hasrat kekuasaan, kehendak ingin menguasai melalui ajaran itu sungguh membuat Kresna lalai akan tujuan keawataraannya. Maka ia berpesan,"Aku hendak pulang ke alam Abhirati, sampaikan kepada Yudhistira, jika aku kalah olehnya, putriku menjadi taruhannya."

(bagian.3. Kajian Chandra Bherawa, belajar mengkaji sastra klasik, maafkan jika banyak kekurangan!)

PENGANTAR : RIWAYAT "AGAMA" PEREMPUAN






PENGANTAR  "KAPAK TUJENG RISET"
DRAFT BUKU : RIWAYAT MA-GAMA 'LUH'  (AGAMA PEREMPUAN)
By. Cok. Sawitri
(draft catatan  1)

Desa-Kala-Patra, tidaklah sekedar  'Ruang- Waktu' walau agak bimbang mengakui, pemahaman fisika modern pun sesungguhnya menguatkan pemahaman mistik ini. Bahwa sejauh apapun kita mendeskripsikan Desa-Kala-Patra, sejauh pengalaman dan kekayaan diksi akan bertemu keterbatasan-keterbatasan pikiran rasional Bali Modern. Bisa jadi kebutuhan mendefinisikan menjelaskan mengenai kearifan Bali ini disusun oleh modifikasi pemahaman, bisa juga tanpa sengaja kita menelantarkannya pada "narasi logis' merujuk arti leksikalnya. Desa-Kala-Patra adalah sebuah konsep. Begitu juga Rwa Bhineda. Kini kita memahami dua konsep itu dengan konsep 'Ruang-Waktu' mengarah pada fakta realitas, pada kebendaan, pada keseharian, sekaligus ketika memahami hidup dan alam melalui sains dan filsafat. Paling dekat tentu perdebatan ini pada hukum fisika yang sangat bergantung pada 'rumus'nya. Sebelum Ilmu Fisika mendapatkan kata modern, atau setelah Teori Relativitas ditemukan; konsep Desa-Kala-Patra dan Rwa Bhineda ; pada 'Ruang -Waktu" itu bukanlah absolut. Ini mirip dengan pendekatan relativitas kemodernan.

Saya mengawali catatan "kapak tujeng riset" ini di akhir tahun 2019. Sangatlah penting saya menyampaikan terima kasih tak terhingga kepada Ibu Suliati Boentaran yang tanpa banyak debat mendukung sepenuh hati, proses riset yang sesungguhnya jauh dari ilmiah, jauh dari kedisplinan. Mengikuti intuisi dari riwayat panjang penuh tanda tanya akan 'pengetahuan keagamaan'. Kekaguman sekaligus ketakjuban, juga harus jujur disampaikan betapa kebingungan dan kementokan memahami ajaran agama Hindu Bali ini. Sekalipun sejak kecil ada Mata Pelajaran Agama, berbagai buku mengenai Bali bertaburan, memahami dengan posisi 'ordinat' tertentu dengan keheranan mengapa begitu banyak yang tertarik pada Bali. Bukan karena tujuan pariwisata. Pendekatan historis, pendekatan ritus bahkan teks liturginya yang membawa pada kebertanyaan secara terus menerus. Menjangkau kebaikan bagi kenusantaraan, hasrat cinta damai, baik-baik hidup ; secara relativ menyadarkan tidak mungkin meraih ke luar diri. Kembali menoleh kepada Bali; pada struktur 'ka luhur' (keilahiannya) yang pada masa kini karena dipelajari dengan konsep ruang-waktu absolut; menjadi  "sebelum", "kini" dan "sesudah" menyibukan pada penanda angka dan tahun : absolut. Sejak sistem Pendidikan, peralihan huruf dan bahasa di Bali mengajak lahirnya : deret waktu tunggal. Dengan cara itu, kini kadang kegamangan antara percaya dan tidak: mengenai 'membaca kalender' ala modern dengan "tika" dengan mengabaikan bahwa yang satu 'deret waktu tunggal' yang lain bukan abslout bahkan sering temporal. Masa kini menetapkan keunggulan pada kepastian ukuran, jumlah dan walau masih percaya pada 'kemungkinan' namun itu selalu diletakan pada 'keakurasian' yang sebenarnya tidak juga absolut.

Sejauh mungkin dalam proses ini; saya berusaha tidak mengeluhkan akan :definisi agama, rasionalisasi agama dan berbagai efek dari keinginan dalam : kemodernan, berada dalam : deret waktu tunggal. Segala fenomena kemanusiaan modern dengan kehendak universal sekaligus diversity; hasrat religius tanpa ritus bahkan liturgi namun mem'puzzle' apa saja yang seolah akan membawa pada: keseimbangan yang bijak menghadapi perubahan zaman. Saya berusaha menghindari hadap-hadapan 'kepengaruhan' bahkan pada mana yang sahih dalam penyalinan manuksrip: tua ataukah muda dalam manuskripnya. Pada batas intuisi ini; dukungan dari sahabat saya, Suliati Boentaran membuat saya dalam rentang setahun ini ; bergulat dengan berbagai kajian, memutuskan 'batasan prioritas' dalam riset. Riwayat Agama di Bali dapat dibahas dari 'kata' juga keputusan politik. Tak hanya di negeri ini, tetapi kehendak politik dan kekuasaan besar mempengaruhi : kemayoritas keyakinan mendorong 'absolut' dalam berbagai kehendak dan inspirasi untuk kemanusiaan. Pencapaian dan kegagalan adalah isi dari langkah-langkah kemajuan hidup. Peradaban tak ada satu pun yang bebas dari : duka cita dan korban. Samar sangatlah samar Bali masa kini mendengar akan 'Gama Tiga' kadang berganti-ganti dengan 'Gama Tirtha' yang lebih sering disebutkan karena fenomena 'krisis air'. Persoalan dan masalah lingkungan kerap membawa sebutan-sebutan ini: 'Gama Tirtha', Tri Hita Karana, Tumpek, atau bila masalah Pendidikan akan berhamburan penyebutan Hari Raya Saraswati, Banyu Pinaruh, lalu secara latah akan mengkaitkan Tumpek Landep, Pagerwesi, Galungan & Kuningan, seluruh kalender upacara di Bali akan didefenisikan dengan narasi : absolut. Lalu kritik pada banten versus biaya; entah bagaimana akan juga dicari argumen mengenai : defenisi absolutnya lalu kadang akan dihadapkan pada 'cara agama' asal muasalnya. Tanpa harus anti "india" pergeseran pada ordinat yang berbeda telah terjadi. Namun sekaligus kegamangan. Fenomena diseluruh dunia akan sikap religius, pada semua keyakinan telah terjadi tarik menarik dalam berbagai kepentingan.

Pertanyaan dalam hati : adakah yang akan sabar membaca hasil kapak tujeng riset ini (?) Dari mana saya mulai menulis pengantarnya (?) sebab saya bukan agamawan, juga bukan ahli agama, bukan cendikiawan. Kemahiran saya hanya menulis dalam fiksi dan 'kalangoan' untuk berkarya dalam pemanggungan. Banyak keterbatasan saya dan akan menghakimi saya bila tidak saya tetapkan tekad.

Saya beralih pada manuskrip walau pastilah 'kesahihan' penyalinannya, inang bahan salinannya akan dipertanyakan; baik dari segi gaya huruf, ketepatan penulisan apakah dalam bahasa bali, kawi Bali sampai Kawi Jawa bahkan mungkin 'kesankritannya' akan dipertanyakan oleh para ahli fonetik, semantik, kebahasaan. Kini Bali bergembira dengan banyaknya komunitas yang bersemangat : menggali-gali lontar (cakepan), kemajuan teknologi menolong percepatan untuk tiba-tiba huruf Bali dapat ditulis di media kumpuiter. Berbagai Salinan lontar dapat dicari melalui google, blog, web, juga ke perpustakaan. Segala mantra mungkin kini tinggal memanggil 'siri' untuk membentangkannya di hadapan mata.

Fenomena kehendak religius; awalnya saya sebut sebagai fashion religius. 'trend' religius ini tak hanya terjadi di Bali, namun serempak di seluruh permukaan bumi. Tahun 2002 ketika saya piknik ke India, bertemu dengan komunitas gypsi dan 'rombongan' sisa generasi bunga; meditasi, yoga, segala cara mencari 'ketenangan batin' nampaknya memang beranjak sejak lama dari Barat ke Timur. Namun di 'timur' sebagai ruang yang menginspirasi, juga mengalami; gelombang fashion religius itu. Bali yang 'timur' juga sejak 1980-an mulai didatangi 'gaya' baru akan ekspresi keinginan untuk : lebih dekat dengan tuhan. Kesenjangan generasi terjadi dalam urusan ini. Bukan karena masalah 'buta huruf' atau tidak keserentakan memasuki sistem Pendidikan baru. Memukau sebenarnya ketika memasuki era milineum: barisan generasi terdidik Bali tiba-tiba dikejutkan oleh fenomena; berbaju putih, me-"winten" dan walau seolah tengah mendobrak kefeodalan dalam struktur keilahian; kehendak me-'dwijati' menjadi pernyataan yang menurut saya memukau. Tak cukup hapal Tri Sandya, Panca Sembah; bagian 'pengagamaan' yang berbasis 'kelembagaan' modern dan monotheis ikut serta mendorong semangat baru untuk mengekspresikan kecirian dan kekhasan agama Bali sekaligus menyerah pada ' definisi agama' modern itu sendiri.

Dengan pendekatan "Ruang-Waktu" tidak dalam pemahaman absolut tetapi dikembalikan pada Desa-Kala-Patra dan  Rwa Bhineda. Saya tidak akan mempertanyakan mana lebih dahulu dan mana belakangan. Mana lebih tua, mana lebih muda. Mana purba, Mana modern. Juga dari segi bahasa bahkan 'ketepatan' menuliskannya. Manusia Bali memulai tradisi keilahiannya dalam peradaban yang tak bisa disahihkan oleh konsep ruang waktu : deret tunggal. Sang Kul Putih ataukah Kusuma Dewa (?)  Rentang usia lontar dan gebang, batu, tembaga bahkan perunggu, kebendaan yang ada dalam barisan yang dapat luntur, mengapur, berkarat, merepuh, merepih, memudar, berbagai kemungkinan sebab ketidakutuhan dapat terjadi; tetapi bukan berarti tidak utuh dalam pewarisan; tetapi berhamburan dan berserakan walau nampak 'utuh' dalam 'ruang' ordinat tertentu; Salinan-salinan manuskrip kepemangkuan sebagai awal menggunakan konsep Desa-Kala-Patra dan Rwa Bhineda: hingga kini digunakan sekaligus tak digunakan secara utuh dalam kepemangkuan. Apakah pemangku dari tradisi 'nyanjan', 'ketakson' hingga keputusan pribadi menjadi pemangku. Apa lalu gunanya mengungkap ini (?) Fenomena 'hoax', kecemasan akan diri dihadapan konsep 'ruang-waktu' yang absolut secara matematik berhadapan dengan 'relativitas'. Keambiguan akan mencari kesadaran bahwa keseharian segala peristiwa adalah relativitas berhadapan dengan fakta realitas keseharian yang terhitung dan terukur dalam jumlah:  itulah membayangi.

Kini di Bali (walau belum disensus) mungkin ribuan orang telah menjadi 'Pemangku". Jika slogan pariwisata digunakan: pulau seribu pura, maka Bali kini mungkin pulau "sejuta lebih Pemangku". Modal saya membahas sebutan Pemangku adalah rasa bahasa. Kata "mangku" itu diucapkan dalam bahasa bali 'halus' mengenai peristiwa memangku 'beban' dengan kedua paha. Ini sering akan rancu kini dengan bahasa Indonesia: pangkuan, dipangku, memangku, dll seolah kata "pangku" dan " mangku' ini bukan bahasa Bali. Belum lagi gaya pengucapan: idiolek dan dialek. Orang Bali mengucapkan: Ngemangkuin, tak sekedar bermakna menerima tugas keilahian, namun juga memimpin. Serentak dalam rasa bahasa bila dipahami: perubahan dari bukan pemangku ke pemangku: adalah 'lompatan' pergantian 'diri' disebabkan oleh tugas kerohanian yang disandang. Bukan dibebankan. Bandingkan dengan kata 'emban' otomatis diartikan dengan kata 'pengasuh': dalam peristiwa 'ngemban' akan ada peristiwa memangku seorang anak (menimang). Bandingkan kemudian dengan kata 'ngemong' dalam relasi kata kepemangkuan akan kerap terdengar; pengemong pura: ngemongin!

Konsep Desa-Kala-Patra secara elegan membuat tak terjadi 'ketegangan' kesahihan memaknai kepemangkuan. Bahkan kini siapa saja di Bali dapat melalui upacara mewinten dalam 'tingkatan tertentu' akan menjadi pemangku: bagi merajan pribadi, bagi diri sendirinya sendiri. Berbeda dahulu alasan terjadinya 'kepemangkuan' adalah berkaitan dengan 'ngemong' diantara para pengemong. Ini merujuk pada 'ruang' yang tidak absolut, pada kala yang tidak absolut juga patra yang tidak absolut. Bandingkan dengan dengan pemahaman relativitas. Mengapa saya membawa pad acara berpikir ilmu fisika. Sebab ini jembatan sekaligus pisau untuk diharapkan melihat kembali 'strukur ka luhuran'. Sebab pola masa kini itu dalam cara tanggapan, 'nalar' kita sudah beralih pada : rasionalitas dan berstrukur. Izinkan saya meminjam 'cara ini' walau kelak harus dikoreksi secara seksama.

Berapa model manuskrip (agar agak modern terbaca) : cakepan yang berisikan kepemangkuan (?) saya kecualikan diktat panduan kepemangkuan masa kini. Sang Kul Putih, Kusuma Dewa; dua manuskrip ini sering bercampur dalam penyalinannya. Lalu ada variannya: Sangkul Putih ada variannya Sangkul Putih Mantra, Kusuma Dewa ada Kusuma Dewa Mpu Tutur, Kusuma Dewa Purana, lalu transisi dari kepengaruhan era kedatangan Dang Hyang Nirarta: Agem-Ageman Pemangkuan Sad Kahyangan. Bila mencari ke seluruh 'desa' dengan sistem parahyangannya, riwayat 'arkeo' dan 'antro'-nya; akan bertemu 'gaya' kepemangkaun berbeda-beda. Hampir pasti berbeda dengan 'gaya kepemangkuan' masa kini: yakni munculnya 'pola' mantra Panca Sembah, Puja Tri Sandya:dll dalam proses berjalannya Upacara.  Belum lagi dari 'archetype' dalam tradisi 'nyanjan' dan ' ketakson' membentang khasanah Puja Saha (seÄ“), Sesontengan, atur pepojolan, yang kini dikira: tidak memakai 'aturan' seolah boleh bebas dari 'bahasa hati' yang diucapkan dengan 'kata-kata' dalam peristiwa 'persembahan'; Tradisi Puja Saha tidaklah sekedar permakluman bagi yang tak bisa hapal mantra. Ada tata krama dalam 'diksi' dan 'rima' yang dijaga ketat dalam tata krama tradisi puja saha. Tradisi Kepemangkuan diakui sebagai 'awal mula' : liturgi pemujaan di Bali. Selalu dikenang Sang Kul Putih. Walau akan dapat didedah apakah ini figur ataukah sebenarnya: 'gelar' nama tradisi pemujaan keilahian. Sebab hampir selalu bersisian dengan 'kusuma dewa' dalam prakteknya pada tradisi kepemangkuan 'nyanjan' dan 'ketakson' pasti akan menggunakan : dua manuskrip ini. Lalu kemana arah intuisi ini memulai untuk memahami; dengan pendekatan Desa-Kala-Patra mungkin (saya pakai mungkin, sebelum nantinya dikoreksi lagi). Ketika keyakinan Bali ini di-"KTP" kan menjadi Hindu. Dan walau memang ada pengaruh Hindu sejak lampau (bahkan bila menyusuri dari semantic, diksi, yang dalam bahasa ilmiah; penyusuran kepustakaan; melalui berbagai manuskrip kepemangkuan. Jadi sebelum ada tradisi : kependetaan ala sekarang. Walau penyalinannya ke masa kini bercampur baur dengan kepengaruhan Hindu era abad 10 ( Hempu Kuturan) belum lagi (era Dang Hyang Nirarta). Kesadaran ini muncul ketika secara internal ketika era rasionalisasi agama melanda Bali disebabkan mata pelajaran agama dan tak lagi membedakan pengetahuan keagamaan dengan 'sistem nilai' mata pelajaran (pengetahuan modern); ketika era 'fashion religius' tiba. Dimana jeritan seolah prihatin berkata: back to weda. Tak sanggup digawangi dengan cara mendasar, hanya dalam menjaga tradisi upacara saja yang nampak gagah perwira. Jejak itu makin kuat ketika 'rasa bahasa' memudar dalam pola asuh keluarga-keluarga Bali. Secara serampangan adakah argumentasi yang kuat dan mendasar untuk menjawab: Apa pembeda pengucapan dan penulisan OM, UNG, UM, ONG? Ketika kebutuhan ' symbol dalam aksara" tiba-tiba segala diucapkan mengawali 'mantra' dengan OM yang dituliskan dengan 'ongkara' merujuk pada angka tiga dalam huruf Bali. Jangan dikaitkan dengan kelatahan serba 'tiga'. Jangan terburu dahulu.

Kata pengantar dalam pencatatan kapak tujeng riset ini memang mewakili keterbatasan dalam secara komplit. Saya tidak akan menyebut sebagai pendahuluan. Tetapi memulainya dengan kepemangkuan, itu disebabkan intuisinya meyakini; inilah lapisan dasar 'keagamaan' Hindu Bali itu. Walau kini seolah berada dalam 'lapis kedua' setelah pendeta. Sehingga sekarang betapa mudahnya sebenarnya melompat menjadi 'pemangku'.

Saya memulai dengan pertanyaan menggetarkan pada 'Ulu Ricem' yang menyebabkan terbacanya : AM, UM, MAM, TAM, AYM, KEM, JEM, SAM, SIM, IM, JEM, HREM, NGYAM, NGYOM, atau cobalah baca: WEH,IH, IM, EH, HE, HRE, HRYU, WYOT, AH, JENG, HRANG, HRIH, SAH: dst:  yang menyelip, diawal, ditengah, dibelakang pada tradisi Puja Saha pada dua tradisi manuskrip kepemangkuan baik Sangkul Putih maupun Kusuma Dewa bahkan nanti boleh dibandingkan dengan Agem-Ageman Pemangku pada era yang lebih muda. Beberapa 'kata' itu sebab berdasar system silabik dalam cara membaca hurufnya diberlakukan sebagai 'kata'. Jika secara prematur kemungkinan pola ' mantra' pada barisan tutur di Bali berinang pada tradisi 'Kitab' Kepemangkuan ini. Berbeda kemudian ketika system kelembagaan kependetaan itu muncul; kesyaratan akan 'ngalukun aksara' berkaitan dengan sasana kawikuan juga akan bercampur baur dangan konsep memahami kawisesaan, kadiatmikan, kebatinan, mistik bahkan era kini; sedang demam membahas tantra dan pasti merujuk pada beberapa 'tutur' yang isinya tentulah mengenai : mistik dan mistis dalam ajaran keagamaan Bali.

Pada Sang Kul Putih pada Puja Pange'raris' Toya misalnya; dapat disandingkan pemujaan 'air' di Bali mengarah pada 'Dewi' bukan pada "Dewa Wisnu' Atau pada yang dimaksud dengan Puja Pemungkah Weda dalam Kusuma Dewa : Pukulun Sang Hyang GURUREKA…(dst) perhatikan kemudian pada sebutan Puja Panugrahan Tri Liga: AM UM MAM AH pada akhirnya. Bandingkan lalu selipan kepengaruhan (masih premature dugaan ini): pada Panugrahan Siwa Lingga: UM (Bukan OM) MAM ONG MAM…(dst) juga perhatikan pada mantram Pasepan: ONG MAM…(dst) lalu AM Brahma pati…UM AM dan diakhir dengan ONG MAM.

Hanya dengan 'keynote' itu akan terbentang; bagaimana riwayat asal manusa menurut beberapa manuskrip Bali bandingkan dengan 'Weda'. Bagaimana kisah "asal manusia Bali' dalam mitologi Trunyan atau mana 'kisah Kamareka' bandingkan dengan kisah dalam Tantu Pagelaran, Canting Kuning, Atau dari Siwa Gama tebaran kisah suci. Karena itu ternyata sejauh ini dibela sungguh oleh : 'Desa-Kala-Patra' dan teori relativitas untuk memulai catatan Kapak Tujeng Riset ini; yang awalnya saya sebut 'mencari' desain agama perempuan dalam tradisi pemujaan di Bali. Ordinat, posisi saya kini sungguh jauh dengan  "deret tunggal itu' : hanya dengan instuisi dan berusaha tanpa beban, tanpa harapan apapun; untuk menuliskan akan GAMA BALI entah akan berguna bagi siapa? Ruang dan waktu itu memang tidak absolut. Membebaskan diri 'mental block' salah satu tantangan internal belum lagi menghadapi berbagai pertanyaan; mau mendokumenkan apakah? Jujurnya saya tak berani mengutip satu kalimat pun kalimat bijak. Menjelang akhir tahun saya hanya berucap; ya, saya mungkin mulat sarira. Itu saja kelak mungkin akan saya jadikan pengantar dalam Draft laporan Kapak Tujeng Riset ini. Lalu mungkin potret, mungkin film pendek. Baiklah. 'Kelanguan' lan 'kalangoan' dalam diri saya semoga tidak membuat semua sahabat dan guru 'jenuh' dan 'bosan' membina saya.

(selamat than baru 2020)