Showing posts with label Novel. Show all posts
Showing posts with label Novel. Show all posts

Matinya Penguasa : bagian 2

KALAPA (MATINYA PENGUASA BAGIAN 2)
sebuah novel

      Riuh buruh pelabuhan terdengar seperti nyanyian, semua tangan semangat menarik tali-tali yang terjurai dari Jung yang tengah merapat.Pelabuhan Kalapa hari itu bermandikan cahaya matahari, panas demikian menyengat.Jung dari Cina telah tiba! Sorak sorai para buruh dan pedagang silih berganti terdengar. Sejak semalam pasar pelabuhan telah ramai. Para pedagang telah menjejerkan gerobak dan keranjang di tempat-tempat yang dipajaki, yang dijaga centeng dan buruh-buruh angkut yang siap mengekori kemanapun juragannya melangkah.
     Di bawah pohon ketapang yang rindang, agak jauh dari Balai tempat Syahbandar duduk mengawasi melabuhnya Jung dari Cina; Wari, istri Mungmang membuka dagangannya, tuak manis milik  Aki Burun, gula aren buatannya sendiri serta daging babi yang diasapi dengan bara unggun yang diratakan segi empat, terus menerus mengepulkanasap karena diumpan daun-daun waru kering. Mungmang tampak sibuk menyalakan api di tungkunya sendiri, bersiap membakar ikan dengan bumbu garam, terasi dan cabe rawit yang akan membuat lidah pembeli melengkung karena pedasnya.
     Riuh rendah suara buruh mulai menghilang, kini para awak Jung yang rindu daratan melompat satu per satu; nampak wajah-wajah itulegam berminyak, mata kuyup menahan lapar perut dan birahi.
     Pembeli pertama telah tiba dihadapan dagangan Wari. Langsung memesan sebungkus daging babi yang diasapi dan satu cekel tuak manis. Matanya menusuk menatap Wari yang tersenyum manis melirik ke arah Mungmang. Sebagai isyarat agar si pembeli jangan macam-macam. Para pelaut yang pulang ke daratan,kadang kehilangan akal bila melihat perempuan.
     Ki Juluk bertugas menerima bayaran dari setiap pembeli. Menghitung cermat kepeng demi kepeng. Berbeda dengan para awak laut yang tidak perhitungan saat berbelanja, para buruh sebaliknya, walau telah menerima upah menggotong barang-barang ke balai syahbandar, mereka penuh gerutuan saat berbelanja, meminta harga murah setiap bumbung tuak yang ditegak.
     Ikan bakar buatan Mungmang laris manis bahkan banyak yang membeli untuk di bawa pulang. Matahari makin terik. Masih ada dua paha kaki babi, tuak sudah hampir habis, Wari memeriksa dagangannya saat Mungmang memberi isyarat agar Wari merapikan diri.
      Ki Juluk mendongak, tercengang melihat rombongan kecil dengan seorang lelaki yangdipayungi, tengah berjalan dengan sorot mata begitu tajam. Lalu seperti mimpir ombongan itu berhenti di depan tempat Wari jualan.
      Wajah Mungmang memucat demikian pula Wari, Ki Julukdengan lugu menyapa, "adakah yang hendak di beli tuan-tuan?"
      Mungmang tercekat mendengar suara Ki Juluk dan dengan gelisah mendongak hati-hati, lalu  cepat Mungmang kembali menunduk saat melihat tatapan bayangkara yang seakan hendak menangkapnya, "hhe he…Juru bahasa, coba jelaskan apa yang dikatakan si penjual tuak…"
     Ki Juluk terpana. Seorang lelaki muda dengan bahasa yang aneh, bercakap dengan seorang lelaki bermata sipit, yang pakaiannya demikian aneh, diapit oleh beberapa lelaki dengan pedang di punggung.
      Oh,inikah saudagar cina itu? Belum selesai pikiran Ki Juluk menerka-nerka, "baiklah,ambil tikar. Kita mencoba tuak manis dan daging babi asap….Ikan bakar….."
      Mungmang dan Wari, bagai dua orang bodoh kehilangan akalnya. Berbedadengan Ki Juluk yang dengan ramah bertanya, apa mau minum tuak dalam cekel atau bambu? Mau daging asap atau ikan bakar? Akhirnya, Wari dengan tangan gemetar mulai menata daun-daun di atas piring tanah liat yang dibakar hitam.Yang minumtuak dan makan daging asap hanya dua lelaki, yang satu pastilah saudagar cinaitu, yang satunya mungkin seorang bangsawan! Namun tubuhnya terlalu kekar untuk disamakan dengan bangsawan, mungkin seorang pimpinan prajurit? 
     Para bayangkara yang tadinya berdiri, setelah tuannyaduduk segera menjauh, duduk dengan mata tetap awas. Hanya juru bahasa yangterus menerus sibuk bicara. Ki Juluk sungguh kagum kepada juru bahasa yang menyambungkan percakapan dua orang, yang sama-sama tidak mengerti bahasa satusama lain.
     "Tambah lagi…" Juru bahasa meminta kepada Ki Juluk untuk tambahan secekel tuak, ternyata juragan cina itu menyukai tuak manis. Kembali percakapan dilanjutkan, pelahan Ki Juluk paham, jadi inikah penguasa Kalapa? Syahbandar itu? Yang duduk dikelilingi bayangkara, yang biasanya ditandu itu?
     Tiba-tiba bulu kuduk Ki Juluk meriang, terasa mendingin wajahnya. Pantas Mungmang dan Wari ketakutan dan seperti orang bodoh saat rombongan ini mendekat.
      Ki Juluk meladeni dengan dada berdebar-debar. Setiap juru bahasa itu meminta tambahan ikan ataukah daging, jantung  berdetak kuat.    Ah, betapa lamanya mereka bercakap-cakap. Berbagai persoalan yang tidak dipahami Ki Juluk, dibicarakan dalam dua bahasa. Kedua bahasa itu tidak terlalu dipahaminya, bahasa sunda dan bahasa cina. Sampai akhirnya, keduanya berdiri dan para bayangkara segera mendekat, memapah agar keduanya tidak sempoyongan. Lalu seperti mimpi, satu bungkus, sebesar sekepalan tangan lelaki dewasa,  dilemparkepangkuan Ki Juluk sebagai bayaran tuak dan makanan.
      Ketiganya masih menunduk, walau rombongan  telah jauh dari jangkauan pandangan. Sampai pembeli  lain datang, barulah ketiganya berani saling menoleh, "sudah, sudah, mereka sudah menjauh…Masihtuakmu…?" Tegur si pembeli, memahami keadaan sambil tertawa kecil.
      Mungmang menyeringai jengah menatap Ki Juluk denganpenuh terima kasih. Wari segera kembali celotehnya meladeni pembeli dengan suara nyaring dan kadang-kadang genit galak. Telah lenyap rasa kecut di hati. Hinggasore barulah mereka menutup dagangan.
Setibanya di rumah, barulah Wari membuka bungkusan yang dilempar oleh Syahbandar ke pangkuan Ki Juluk. Mungmang melongok penuh ingin tahu, dan terpana matanya, di dalam bungkusan sekepalan tangan ituberisi  keping emas dan perak! 
Wari menatap setengah tak percaya sampai Mungmangmencubitnya pelahan,"Ini anugrah, Wari. Kita bisa membeli anak babi….Jugamembeli beberapa potong kain…"
     "Ini cukup membeli sepetak sawah Mungmang bahkan lebih…"Sahut Wari dengan suara gemetar,"Ah, sudahlah, besok kita bikin selamatan. Sekarangaku mau memasak untuk kalian, memanggang ayam dan sambel terasi pedas…"
      Mungmang tertawa mendengar suara Wari yang kembali riang lalu  menepuk pundak Ki Juluk, "apa yang kaupikirkan?"
      "Betapa kayanya Syahbandar…" Ki Juluk bergumam kagum.
      "Bukan kaya saja, berkuasa atas seluruh Kalapa ini.Memimpin kota pelabuhan tidak mudah, setiap hari harus cermat mengamati jung,perahu dan jukung yang merapat, kalau lalai, bisa-bisa musuh menyusup. Dulu,katanya pasukaan Sriwijaya tiba-tiba menyerbu pelabuhan ini…" Mungmang memangpemanting yang cermat. Pengamat yang tak akan melalaikan sepatah katapundisekitar telinganya.
      "Di musim seperti sekarang, saat angin tenang danhujan jarang, ombak tak terlalu besar, jung yang merapat tidak dari Malaka saja.Jung yang tadi itu sebenarnya dari Malaka, milik saudagar cina; biasanya jugadatang jung dari Sumatera, Palembang, Lawe, juga dari Jawa dan Madura…"
       Ki Juluk hampir melompat,"Kapan jung dari Jawamerapat?" tanyanya dengan suara tercekat.
       Mungmang tertawa,"Juluk, engkau harus belajar menahandiri. Tenanglah, bila tiba saatnya engkau akan menumpang Jung yang besar untukkembali ke Jawa…"
        Ki Juluk menunduk kelu.
       Mungmang mengerti perasaan Ki Juluk,"bersabarlah…Akansegera tiba kau kembali ke Jawa.Dulu, aku pun sama sepertimu, merasa terbuangdan dilupakan. Namun kini aku justru tidak betah di Jawa. Sesekali pulang,balik kembali ke sini…"
       "Aku tidak mungkin menetap di sini seperti engkau!" KeluhKi Juluk dengan suara parau. Mungmang menghela nafas,"Karena itu lakukantugasmu dengan semangat…"
       "Aku masih menunggu enam purnama  lagi, baru bisa memulai tugasku. Lontar-lontaritu masih belum kering…Belum direbus,…." Suara Ki Juluk seperti merajuk,membuat Mungmang tertawa, menertawai sikap kekanakan Ki Juluk,"Hayolah, enam purnama waktu yang pendek…Sibukkan dirimu dengan berbagai cara. Banyak yang bisa kaukerjakan atau engkau ingin…" setengah berbisik Mungmang menawari Ki Juluk untuk mengencani para perempuan, yang biasanya disaat musim seperti sekarang, mereka banyak berdatangan dari berbagai pelosok. Mereka banyak ada di sekitar tempat para pelaut menginap, mereka menyewa pondok-pondok milik nelayan, dekat sandaran jukung.."
       Ki Juluk menggeleng,"sudahlah Mungmang, aku belum tertarik dengan hal-hal semacam itu…"
Mungmang tertawa hebat, membuat Wari tertarik ingin tahu,"Kenapa kau tertawa seperti setan gila?"
       "ini, si Juluk…Kalau bosan di rumah kuperbolehkan jalan-jalan ke pondok-pondok dekat sandaran jukung…"
        "Aih, Mungmang, tak pantas engkau mengajari Juluk tabiat yang demikian, jangan ikuti ajaran buruknya.." Wari dengan gemas memukul pundak Mungmang,mengerti benar seperti apa pondok-pondok dekat sandaran jukungyang dimaksudkan Mungmang," hayo, sana, bantu aku memanggang ayam, nasi telah kutanak…" Wari mengusir Mungmang lalu menatap Ki Juluk,"jangan kau mencoba-cobake tempat semacam itu, sudah banyak yang kena masalah akibat ikut-ikutan bergaya seperti para pelaut itu…"
        Ki Juluk menyeringai, menganggukan kepalanya, laluberanjak menuju dapur, suara Wari kembali terdengar,"Setelah manggang ayam jangan lupa memilih kelapa, besok aku mau membuat minyak…"
        Malam itui Mungmang menyalakan beberapa obor,menancapkan di tengah halaman dan menyalakan pelita di depan dapur  dan pondok yang ditempati Ki Juluk.
         Setelah selesai makan, barulah Mungmang mengajak Ki Juluk memilih kelapa di bawah penerangan obor, sedangkan Wari merebus keladi dan air jahe sambil terus menerus mengingatkan Mungmang agar besok pergi melaut,"sudah musimnya menjemur ikan…"
        Di tengah kesibukan memilih kelapa, tiba-tiba Mungmang memberi isyarat dengan suara berdesis penuh tekanan,"Masuk ke dapur…"
        Ki Juluk masuk ke dapur dan segera memberi isyarat Wari agar diam.Angin malam mendesau aneh. Mendatangkan aroma yang menekan. Warimengangguk paham. Mungmang telah memadamkan obor dan membiarkan hanya pelitayang menyala. Lalu ia berindap merapat di balik dinding dapur. Wari menarik KiJuluk ke bawah balai dapur. Mereka tiarap di sana,"Diamlah...Peganglah alu disebelahmu.."
         Ki Juluk meraba dan ada kayu sebesar lengannya, iatarik hati-hati. Tak lama terdengar seperti suara siulan burung yangbersahut-sahutan,"papanjingan…" DesisWari dengan gemetar.  Ki Julukmemasang telinganya baik-baik. Lamat-lamat memang seperti ada yangberindap-indap. Berapa orangkah? Ki Juluk merapatkan gerahamnya, ia percayakemampuan Mungmang, pelahan hatinya menjadi tenang.
          "Ssiuh…" Suara Mungmang tiba-tiba terdengar mengandunggeram. Lalu senyap yang asing. Mencekam perasaan. Dan langkah-langkah beratseolah terhenti di tengah halaman,"Aku Mungmang! Dari langkah kalian, kukenaliasal kalian…Pergilah sebelum darah jatuh…"
         Tak ada sahutan, yang terdengar keresaklangkah-langkah seperti berlari menjauh, dilanjutkan dengan suara desau-desauyang tidak dikenali oleh  Ki Juluk.Membuatnya tak tahan untuk diam, dengan tergopoh ia menarik diri dari bawahbalai, menarik alu kayu dan melangkah ke pintu dapur," Diam di situ Juluk…"Suara mungmang terdengar pelahan, namun penuh tekanan. Lalu obor-obor itumenyala.     Wari ternyata telah berdiri pula di belakang Ki Juluk, melihat kehalaman. Seorang lelaki tengah berjongkok di hadapan Mungmang, telah terikat keduatangannya.
         Wari segera memukul kentongan dengan ketukan tertentu,tangannya jelasnya gemetar. Tak lama terdengar sahutan. Makin lama dimana-mana suara kentongan terdengar. Mungmang menyuruh Ki Juluk menyalakan beberapa oborl agi dan memancangnya di depan pintu halaman. Tak beberapa lama Aki Burunbersama Si Bangu disusul oleh beberapa orang lainnya, yang tidak dikenali oleh Ki Juluk, segera mendekati lelaki yang tengah duduk terikat tali di halaman.
      "Papanjingan…"desis Si Bangu dengan wajah sedikit ciut.
Ki Juluk tak mengerti apa artinya papanjingan,"Mereka mau merampok?" Tanyanya setengah berbisikkepada Si Bangu.
       "Tidak hanya merampok, mereka bertabiat  tak senonoh kepada para perempuan…"jelas Si Bangu dengan suara berdesis.
       "Hm…Asal Jung mulai datang, mulai pula penyakit ini muncul kembali…" Aki Burun mengulurkan tangan, menjambak rambut lelaki yangmerunduk lunglai,"Perlihatkan wajahmu…"
        "Aiiih…." Tiba-tiba Wari menjerit,"Dia yang belanja kepadaku tadi siang…"
       Mungmang menarik obor mendekatkan cahayanya,"Iya…Kamu rupanya, dimana kalian bersarang? Siang menyaru jadi buruh…Malam nyantroni rumah?"
        Lelaki itu cuma diam. Membeku dengan wajah bagaitembaga. Ki Juluk baru memperhatikan dahi lelaki itu benjol, memar mengandung darah. Mungmang tak membawa senjata tajam. Dari mana memar itu berasal? Pelahan Ki Juluk memperhatikan pinggang Mungmang.      Ternyata sabetan katapel Mungmang telah melumpuhkan lelaki ini.
       "Dimana sarang kalian…?"
       "Pastilah dekat sandaran jukung…"
       "Bukan orang Kalapa…?"
        Lelaki itu tetap diam. Pastilah memilih mati daripada membuka mulut. Aki Burun memberi isyarat pada Mungmang,"Berapa orang tadi…"
       "Kira-kira enam orang…Menuju arah pantai.."
       "Pastilah di pondok-pondok itu…Menyaru dengan para pelacur…"
       "Kita serahkan ke bhayangkara?"
Aki Burun mengangguk,"Besok kita serahkan, sebaiknyamalam ini kita kumpulkan anak dan istri-istri kita di sini saja…Agar mudahmengawasi…"
       Tak disangka malam itu pondok Wari dan Mungmang jadiramai dan penuh sesak. Anak-anak ditidurkan di dapur ditemani ibunya, yanglainnya di pondok yang ditempati Ki Juluk, di halaman pun digelar tikar dandaun-daun kelapa, agar dapat menjadi tempat merebahkan diri. Wari menyalakanperapian membuat jahe aren, merebus kembali semua keladi dan ubi yang masih adadi keranjang.
       Malam itu Ki Juluk mendengarkan para lelaki dewasamembicarakan keadaan di Kalapa,"Kalau satu Jung tiba, para begal, maling,copet, perogoh…Mulai pula berdatangan. Ini mengherankan, baru satu Jung sudahada papanjingan…"
       "Masih untung kita belum pergi melaut…"
       "Iya..agaknya ini sudah mulai berbeda…"
        Si Bangu dan beberapa lelaki lain kembali memukul kentongan dan tak lama kentongan dikejauhan pun menyahuti,"Sepertinya, pondok ini yang pertama disasar, sudah kepergok…"
       "Kami baru memilah kelapa, jadi menyalakan obor…" Jelas Mungmang kenapa dalam keadaan siaga ketika para penyusup ini mendekati rumahnya," Teringat sayasiulan itu, Aki…"
       Aki Burun terlonjak,"Oh, jadi kamu bawaan si Bopeng…?"
       Lelaki itu kini merunduk dalam.
       Siulan itu! Mungmang teringat beberapa tahun yang laluketika baru mengawini Wari. Malam itu, beberapa tahun yang lalu, Ayah Warisampai tertebas perutnya saat disantroni oleh para penyusup. Untungnya, malamitu Mungmang dan Aki Burun tak jadi melaut dan berniat singgah untuk minumjahe. Selamatlah keluarga Wari. Mungmang teringat saat mendekati rumah, iamendengar siulan, yang saat itu Aki    Burun mengatakan,"Itu mungkin burungkesasar…"
        "Bukannya Si Bopeng sudah di hukum buang?" Aki Burunmendekati kembali lelaki malang yang duduk dengan tubuh terikat tali-talipenjaring ikan,"Kamu jika menjawab akan kami lepas…Apakah kamu bawaan si Bopengatau kamu diajak oleh anak buahnya si Bopeng?"
        "Nyalakan sabut kelapa, buat dia mengaku…"
        "….Ampun Aki…" lelaki itu kini bersuara," Ampun…"
        "Iya, katakan…Siapa saja kawan-kawanmu…"
         "…Ampun…"
         Akhirnya, lelaki itu mengatakan siapa-siapa kawannya dan siapa pimpinannya. Semua terdiam saat lelaki itu menyebut nama pimpinannya,"Hm…Jadi, kamu mau melibatkan seorang bhayangkara?…" Aki Buruntidak mudah percaya,"Sumpah demi lingga…Demi leluhur…" Lelaki itu mulaimeratap,"Kami berada di rumah jaga…"
        "Baiklah, besok kita hadapkan dia ke junjungan…"
        "Ampuuun…."
        Mungmang dengan cepat memberi isyarat pada Aki Burun,agar menjauh dari lelaki itu. Tak lama suara siulan terdengar. Semua wajah segera menegang dan serentak mematikan obor. Bangu memukul kentongan tanda bahaya. Siulan itu terdengar kembali walau masih jauh, mungkin diantara pohon-pohon kelapa. Mungmang membisikan sesuatu kepada Aki Burun.
        Dengan cepat Aki Burun menarik lelaki itu ke dekatdinding dapur dan Bangu menggelindingkan kelapa sebanyak mungkin ke tengahhalaman. Siulan itu tak terdengar lagi, semua kini terdiam beku. Keheninganmenyergap, membuat desah nafas terdengar jelas.
        Siulan itu terdengar lagi. Gelap gulita tak ada yang bisa melihatsiapapun. Ki Juluk tiarap sambil memegang alu kayu. Kini mereka datang untukmelepas kawan mereka atau membunuh kawan mereka agar tidak membuka rahasia. Hm,jadi benar ada petinggi bhayangkara yang terlibat?
        Belum selesai pikiran Ki Juluk bergerak menduga,lesatan angin menancap di tengah halaman. Kebentur kelapa tentunya sehingga menimbulkan suara melesak. Lalu desau lain terdengar, itu pasti lepasan batudari katapel Mungmang. Ki Juluk merayap hati-hati mendekati pintu halaman.Dalam gelap ia melihat samar-samar sosok yang berdiri. Belum rayapan Ki Juluk setengah dari tempatnya semula tiba-tiba terdengar jerit di dekat pintu halaman. Suara siulan terdengar menjauh dan kaki-kaki berlarian menjauh kini jelas terdengar.
        "Nyalakan obor…" Suara Aki Barun memecah keheningan. Segera obor-obor menyala, di depan ambang pintu halaman rumah sesosok tubuh nampak rebah terjengkang dan segera Aki Barun bersama para lelaki mendekati,menyeretnya membawa ke tengah halaman.
       "Mungmang mana.."
       Kegentingan tiba-tiba terasa, Mungmang tak tampak. Si Bangu membunyikan kentongan tak lama terdengar suara Mungmang di  kejauhan,"Cepat kesini…."
       Aki Barun ditemani beberapa orang melesak berlari ke arahsuara Mungmang. Tak lama mereka datang kembali menyeret seorang lelaki dengan kepala yang bocor terkena katapel. Ketiganya disiram air lalu diikat tali.Ketiganya kini di bawah obor, nampak meringis menahan perih akibat memar dikepala masing-masing.
Kentongan kini dipukul seriuh mungkin. Malam jadi ramaioleh suara kentongan sahut menyahut. Tak lama kemudian berduyun-duyunorang-orang berdatangan. Aki Barun segera menjelaskan kejadian demi kejadian.Ketiga lelaki itu kini diseret beramai-ramai menuju rumah Syahbandar.
          Malam kini terasa mencekam.
          Senyap yang aneh.
           Ki Juluk dan Si Bangu dan beberapa lelaki lain ditugaskanmenjaga anak-anak dan para perempuan. Sampai kokok ayam terdengar, barulah rombongan Aki Barun dan Mungmang kembali ke pondok.
          Ki Juluk bernafas lega dan Wari segera menyambut suami dan saudara-saudara yang lain. Ternyata hampir semua penghuni pondok-pondok disekitaran adalah keluarga Wari. Hanya dalam semalam Ki Juluk mengenali keluarga Wari. Keluarga yang sebagian besar menguasai ladang-ladang kelapa didekat pelabuhan kalapa. Keluarga yang turun temurun menjadi peladang sekaligus nelayan, yang menyaksikan dari satu kekuasaan berpindah ke penguasa yang lainnya.
           Kini, Ki Juluk memahami mengapa penting Mungmang mengawini Wari, andai tak mau mengawini Wari tidak mungkin Mungmang mendapatkanl adang kelapa sekalipun bersedia membeli dengan mahal.
          "Jadi, benar ada bhayangkara yang terlibat?"
          Ki Juluk menatap Mungmang dan Aki Barun silih berganti.
         "Dua yang tadi ditangkap Mungmang memang bhayangkaramuda…Sekarang sudah ditangani junjungan. Agaknya ada sesuatu yang dimainkanpimpinan bhayangkara di pelabuhan…"
Ki Juluk tak utuh mendengar penjelasan Mungmang. Ia mulai merasakan kantuk yang dahsyat menyerang matanya,  segera ia menuju pondok, merebahkan diri diantara para lelakilainnya yang telah mendahului lelap. Suara tangis anak-anak terdengar dari dapur. Ki Juluk segera jatuh lelap saat mendengar kokok ayam turun ke halaman.

(KALAPA (MATINYA PENGUASA/ COK SAWITRI, BAGIAN II)

Matinya Penguasa

KALAPA (Matinya Penguasa)
sebuah novel

 BAGIAN I
     Disambut tamparan ombak yang tak henti, Jukung yang membawa Ki Juluk merayap mendekati batas teluk, makin dangkal lautan, tamparan ombak menjadi tempias yang mengalir, seperti barisan riuh yang tak henti-henti  menyoraki badan jukung; seperti suara geraman angin yang kehilangan akal sebab Jukung jadi berayun-ayun seakan tak beranjak, diam tergantung di air, tak juga maju-maju bergerak; ah, jarak daratan seakan tetap demikian jauh; kadang Ki Juluk merasa jukung digeser kesamping ditarik tempiasan ombak atau terasa mundur seperti ada tali yang diseret seribu tanganyang kuat.
     Ki Juluk merapatkan kain yang bergerak mau lepas, kembali dirapatkan agar menutupi kepala sampai pusar, kain tenun berwarna hitam yang tidak kering lagi, telah lembab oleh percikan air laut. Di langit, masih penuh bintang. Sungguhlah menakjubkan kegelapan malam di laut, sebab dimata justru benderang; sebaliknya, yang membuat gigir hati adalah kesenyapan, yang sesekali  menyelinap, seperti sekat menahan kecipak air, lalu anginakan menjerit halus mengundang kembali gemuruh angin memekakan telinga; saat seperti itu, rasa asing menyergap pikiran; rasa sunyi mencekam hati mengundangrasa takut, membuat tubuh menciut, menjadi kecil dihamparan laut luas yanggagah melepas gemuruhnya.
     Ki Juluk melepas pandangannya, berusaha menembus kegelapan, mencari kerlip-kerlipcahaya  untuk menenangkan hati:itukah Kalapa? Dadanya berdebar penuh harap, mulutnya terasa demikian kering,kulitnya terasa kebas karena didera rasa dingin. Ki Juluk meluruskan kakinya, berusaha duduk tegak di selang kayu, lalu, dengan mata setengah memincing karena angindingin terus menerus menampar wajahnya. Ki Juluk berusaha menatapi  tukang jukung di ujung seberang yang damai tertidur ; hampir tidak perduli pada jukung ini, apakah  masih bergerak ataukah sudah terseretarus.
     Ki Juluk menghembuskan nafasnya kuat-kuat lalu mengedarkan pandangannya.  Dibuangnya gundah dengan memperhatikan airlaut yang mulai meriak meninggi seakan hendak berlomba melompat ke dalam jukung.Ini tanda-tanda pagi mendekat, pikir Ki Juluk  sedikit lega, makin lega saat mendengar kecipak air yang kianlama kian jelas terdengar, jukung mulai dihempas-hempas sehingga bergerak oleng,membuat air laut dengan tak henti menepias masuk ke dalam membasahi kaki.  Ki Juluk segera menguras air sambil mencari dari mana arah datangnya matahari; yang didapatinya angin kian rajin mendera wajahnya hingga berderit daun telinga; tak juga ada tanda-tanda dimanakah arah terbitnya matahari. Rasa dingin tak lagi membuat gigi gemeletuk tetapi membuat jemari kemas menahan gemetar. Ki Juluk mencari-cari pematik api di bawah selangkayu. Kini, ia mahir menyalakan api dalam hempas angin laut; dekatkan pematik ke permukaan air, maka hempas angin tak akan menepias percik api. Tak berapalama batang jagung kering itu terbakar, segera ia masukan ke dalam tungku,menimbuni dengan arang kayu.
     Isi jukung ini hanya gentong air ukuran sedang, yang dibebat tali rotan dan diikat erat secara terpentang kekiri dan ke kanan kemudian cekel-cekel dari buah wila kering  yang diisi penuh air, digantungkan berenteng disisi badan jukung lalu bekal yang lain adalah garam, gula aren dan arang kayubeserta tungku kecil yang dibebat sedemikian rupa agar tidak melompatkemana-mana; kini air di semua cekel telah habis;  isi gentong tinggal sedikit, masih ada gula aren dan garam.
Pastilah pagi kian mendekat.
     KiJuluk merasakan rasa dingin menusuki tulang, giginya mulai gemeletuk saat tungku mulai menghembuskan asap,"Mungmang…." Ki juluk menggoyangkan tubuh si tukang jukung dengan ujungkakinya,"banyak jukung di depan…."
Mungmang dengan malas menggeliatkan tubuhnya. Masih terpejam, ia sudah tersenyum lebar lalu membuka mata dan  menatap Ki Juluk dengan mesra.
     KiJuluk menghela nafas,menahan gejolak dalam hatinya. Tiga hari belakangan inisaat jukung  tak lagi merapat dipantai manapun, mulai mengarungi laut dalam, entah apa sebaabnya,  Mungmang merayu-rayu Ki Juluk sepertikemasukan setan,"apakah kita sudah dekat dengan Kalapa?" tanya Ki Juluk dengankaku.
     Mungmang tidak menyahut, ia malah melongokkan kepala ke luar, menarik satu utas tali lalu menghentakkannya ke atas menarik beberapa ekor ikan, yang tak sempat melepaskan diri telah menggelepar di dekat tungku,selalu mendatangkan rasa kagum di hati Ki Juluk, bagaimanakah caranya ikan-ikan itu tergoda mengikuti tarikan seutas tali milik Mungmang?
     "Sebaiknya kita makan dulu,nantilah kita akan tahu, di pelabuhan mana kita akan merapat…"suara Mungmang sayup terdengar karena ditindih angin. Kecipak air makin menderas meninggalkan percik di kulit. Ki Juluk mendengus menggetok kepala ikan dengan potongan arang kayu, kemudian meletakkan ikan-ikan di atas tungku. Mungmang mengeluarkan dayungnya,"bersikaplah sebagai nelayan…" memberi isyarat  saat beberapa jukung lain mulai mendekat.Dengan cepat Mungmang memunggungi Ki Juluk, menghadap  ke depan dengan dayung di kedua tangan, Ki Juluk menariknafas lega untuk sesaat bebas dari serbuan mata Mungmang, yang tiga haribelakangan ini menciutkan hatinya.
     Mungmangmelepaskan jaring dan tali-tali, menyalakan pelita yang minyaknya seakan takpernah habis. Sikapnya benar-benar sebagai  nelayan. Menarik jaring berulangkali, memenuhi badan jukung dengan berbagai macam ikan.
     "Untuk apa semua ikan ini?" Ki Juluk bertanya heran namun Mungmang menyahut dengankedikan kepala memberi isyarat untuk tak banyak bertanya. Tugas Ki Juluk terusmengayunkan dayung, menyisir diantara arus yang hendak menarik jauh Jukung untukkembali ke tengah laut. Pelahan rasa dingin berganti, desau panas mulai menyapakulit. Matahari ternyata terbit dari arah punggung. Mungmang mematikan pelitadan dengan satu tangan mencokot seekor ikan yang baru masak setengah matang,ikan segar memang terasa manis, jauh berbeda bila ikan-ikan ini sudah sempat disinggah di darat, tak ada lag icecap manisnya di lidah. Ki Juluk pun mulai menggigiti seekor ikan.
     Cahaya matahari mulai mendatangkan kemilau yang gemerlap, seolah memantul dari bawah laut.  Punggung Ki Juluk terasapanas walau dari kepala sampai setengah tubuhnya masih diselimuti kain.Mungmang mengayunkan dayungnya mengikuti arus yang menuju pantai. Lalu melompatdengan tangkas, mencebur ke air.
     Ki Juluk terpana saat melihat Mungmang dengan begitu kuat mendorong jukung mendekati tepi pantai. Tak lama sebelum Ki Juluk sempat berpikir apa yang mesti dilakukan, para pembeli ikan telah mendekat, melongok-longok ke dalam jukung.
Mungmang dengan cekatan menarik jukung hingga menjauh dari tempiasan air. Ki Juluk menangkap isyarat dari Mungmang agar bersikap sebagai nelayan, ia pun melompat dan segera menarik cekel-cekel memasukan ke dalam jukung.
     Para pembeli ikan mulai berlomba membujuk Mungmang untuk menjual ikan secara borongan. Mungmang awalnya pura-pura tidak setuju, membiarkan para pembelimendesaknya dulu dengan berbagai bujukan. Akhirnya, keranjang-keranjang ikan itu datang, dua lelaki muda dengan cekatan melompat ke dalam jukung,memindahkan ikan ke dalam dua keranjang dalam sekejap mata. Entah berapa kepeng Mungmang dapat jualan; di semua pelabuhan menggunakan mata uang kepeng, mata uang cina; seribu kepeng sama dengan satu kepeng perak, seribu kepeng perakmenjadi dua kepeng emas; bisa dipakai beli sepetak sawah.
     Mungmang mendekati Ki Juluk,"bawalah buntalanmu, masukan dalam keranjang…" Rasa gerah yang aneh mulai dirasakan Ki Juluk, matahari pagi lebih terasa menyengat sebab tubuh lekat oleh garam. Mata Mungmang tak lagi membuatnya ciut, kini datar dan beku seperti wajah nelayanyang baru pulang melaut.
    Dengan terseok Ki Juluk mengikuti langkah Mungmang, tak bisa memandangi barisan perahuyang  berjejer, bersandar rapidengan bayangan-bayangan di air ; indah sekali nampak dimata saat matahari menyeruak diantara pancang-pancang  tiangnya; dengan tangga-tangga tali yang dijulangkan kelangit. Ki Juluk tak sempat ternganga mengagumi, sebab harus bersikap sebagai nelayan, yang terbiasa melihat keadaan pelabuhan. Masih ada lain hari untuk melihat-lihat isi Pelabuhan Kalapa,"hati-hati membawa keranjangmu, di sini banyak perogoh dan  pencopet!" Mungmang  sigap menjejeri langkah Ki Juluk saat memasuki pasar pelabuhan, yang  keriuhannya disertai desir bau amis  menyengat.
     Mungmang memang bukan sembarang tukang jukung, ia seorang pemating laut yang telah teruji, prajurit penyerbu yang telah bersumpah mati, tanpa  ragu memasuki lorong diantara sesaknya para pedagang dan para pembeli.
     Akhirnya  langkah kaki ke luar dari keriuhan pasar, memasuki jalan sepi, menjauhi keriuhan dan sengatan bau amis.  Kini,Ki Juluk tertegun, betapa luasnya Pelabuhan Kalapa.
     "Kitamemutar…Kalau lewat gerbang, banyak Bayangkara …" Jelas Mungmang sambil terusmelangkah ke depan mendahului Ki Juluk yang masih tertegun.  Entah kapan Mungmang mengetahui selukbeluk jalan jalan pintas di Pelabuhan Kalapa; Ki Juluk di bawa melewati ladang-ladangkelapa, melompati parit-parit yang airnya rembesan air payau. Tanpa sempat banyak bertanya, saat Ki Juluk merasa sudah teramat lelah, Mungmang berkatapendek,"itu pondok istriku…"
     Ki Juluk menegakkan tubuh dengan nafas terengah, memandangi pondok yang ditunjuk Mungmang, yang satu pastilah dapur sebab atapnya hitam kelam, pondok yang lainbarulah pondok istri Mungmang.
     "Wari…..Wariii…"Sambil memanggil-manggil Mungmang mengajak Ki Juluk memasuki halaman pondok. Bautai babi menghembus sedikit menyengat dan kokok ayam yang terkejut sejenak mendatangkan suara riuh, tidak ada yang menyahut.
      Mungmang dengan cekatan menarik pintu bamboo dapur, melongok-longok ke dalam," Warimungkin ke pasar…" gumamnya menjelaskan mengapa tidak ada orang di dapur.Mungmang tak menemukan istrinya, pondok yang lain pintunya terikat tali.
KiJuluk hanya mengangguk, kakinya lemas dan mulutnya terasa kering. Dilepasnya keranjang dari punggungnya dengan gontai.
     "Masuklah…Aku nyalakan perapian, kita mesti makan yang benar…." Ajak Mungmang kepada Ki Juluk memasuki dapur, melihat balai tikar serta bantal yang menghitam, lalu satu balai yang lain dipenuhi berbagai barang; dari kuali, keranjang sampaitali-tali utas; bahan pembuat jaring,  bertumpukan hampir berantakan. Saat Mungmang menyalakanperapian, Ki Juluk ke luar dari dapur, kepalanya berdenyut, ia membutuhkan udara segar dan berusaha meredakan rasa penat di sekujur tubuhnya. Ki Juluk melangkah tak tentu arah di halaman pondok, mengamati pondok yang setengah bangunannya dibuat dari tanah lalu dinding atasnya disambung dengan anyaman daun rumbia. Lalu mengamati babi yang mendengus-dengus mencungkil tanah dengan ujung mulutnya. Ki Juluk tersentak, bagaimana caranya      Mungmang mendapatkan pondok dan ini?  Sambil terus melangkah, Ki Julukmenerka-nerka kehidupan Mungmang. Ah, upah pemating memang tinggi; walau nasib hidupnya tidak jelas; sumpah yang mengikat para pemating sampai tujuh turunan…Mungmang,entah berapa lama sudah dikirim ke daerat Barat, entah sebagai telik sandi,entah sebagai paku pendam, dan setiap enam bulan sekali harus melaporkan dirinya ke junjungannya. Seorang pemating keterampilannya berbeda-beda. Mungmang mungkin keturunan nelayan, pastilah bagian prajurit laut yang terpilih dan barangkali pernah melakukan kesalahan sehingga dijadikan pemating, prajurityang sesungguhnya sudah dianggap mati.
     "Mungmaaang…"
     Ki Juluk tersentak, suara nyaring itu, suara perempuan, pastilah istri Mungmang,segera ia membalikkan tubuh, melihat perempuan dengan tinggi tubuh sedang,berambut tebal, berkulit langsat yang setengah berlari dengan keranjang dipunggung menuju dapur.
Taklama kemudian wajah Mungmang telah nampak dari pintu bambu dapur, menyambut kedatangan istrinya,"kemana kamu…?" Suara  Mungmang begitu keras, menyentak  di telinga Ki Juluk, entah kenapaa membuat dadanya sedikit sengal, dihelanya nafas panjang; teringat sepanjang lima haridi jukung bersama Mungmang, teringat pula saat-saat Mungmang merayu-rayu bagai orang gila. Birahi  hampir membuat Mungmang hilang pikiran.
     Ki Juluk melangkah pelahan mendekati dapur,"nah itu, si  Juluk, dia masih keluargaku…dia seorang pelukis…akan kukirim ke Dayoeh…" Kata Mungmang mengenalkan Ki Juluk kepada istrinya.
     Wari menatap Ki Juluk dengan lama, tersenyum lebar dengan mata berkedip menggoda,"pasti belum disuguhkan apapun. Hayolah, masuk ke dapur…Ada oleh-oleh makanan pasar…"
     Mungmang tertawa melihat kerikuhan Ki Juluk,"Wari…jangan kau goda dia, dia masihperjaka…anak baik-baik dia…"
"Sudahketahuan dari baunya…" Wari mencubit perut Mungmang, yang tergelak-gelak sambil menjulurkan tangan meremas payudara Wari.
Ki Juluk membuang pandangannya. Duhai, kerikuhan sungguh-sungguh membekukan tubuh KI Juluk. Namun mata Mungmang memberi isyarat agar ia menguasai diri, segera ia mendudukkan tubuhnya di lantai dapur, terasa empuk dipantat.
      Ah,lantai tanah yang dipadatkan puluhan kali, pelapis dalamnya pastilah tai sapi,makanya padat empuk dan sejuk di pantat, Ki Juluk mulai merasa agak nyamanmemandangi Wari dan Mungmang silih berganti.
     "Akulelaki beruntung, Juluk. Aku ketemu Wari saat mau beli ladang kepada Aki-nya… Ehtidak tahunya, Akinya bilang, beli ladang tapi kawini cucuku!...Wah, aku waktuitu kebingungan tapi setelah melihat dia, aku mau saja…kubayar ladang ke Akinya,aku dikawinkan dengan cucunya!" Mungmang mulai menuturkan kisah perkawinannya dengan Wari. Ditimpali Wari dengan senyum dengan senyum lebar sambil sesekali tangannya mencubit paha Mungmang.
      Ki Juluk berusaha tetap nyaman, mengarahkan pandangan ke perapian dengan kayu yang menyala, membakar pantat kuali membuat air didalamnya bergolak melepas gelembung-gelembung tipis. Dengan cekatan Wari memotong-motong jahe dan gula aren lalu memasukan ke dalam kuali, mengaduknya dengan sendok kayu sampai gulanya hancur.
Membuat air jahe tidaklah lama, tak berapa lama Wari mengaduk, bumbung bambu mulai diraihtangan kirinya, lalu dengan hati-hati Wari menyendok isi kuali dengan batokkelapa yang telah diparas halus,"minumlah. Biar tubuhmu menghangat, sebentarl agi aku masakan nasi ubi dan ikan teri…"
      "Jangan lupa sambal pedas, Wari…" Mungmang menyeruput isi bumbung bambunya. Wari terkekeh sambil melepas kerlip birahi di ujung matanya, Ki Juluk sungguh rikuh melihatsikap Mungmang dan Wari, pelahan ia bangun,"aku mau mencari angin…" Pamitnya dengan suara lemah.
     "Aduuh,pakailah pondokku untuk rebahan…" Tiba-tiba Wari melesat lincah, menarik tanganKi Juluk hingga hampir oleng. Mungmang tertawa melihat kerepotan istrinyamengajak Ki Juluk ke luar dapur dan menarik-narik menuju pondok,"masuklah danrebahan…Nanti kalau sudah selesai makanan, aku bangunkan…"
      Akhirnya,Ki Juluk dapat sendirian, terbebas dari Mungmang, terbebas dari kerikuhan. Rasalelah itu merayap ke seluruh tubuhnya, sebelum sempat ia meluruskan tubuhdengan benar, ia telah jatuh lelap. Lelap tidur membawa ingatan melayang jauh,meresahkan hati di tubuh yang lelah. Ki Juluk terjaga dengan tubuh lengket dantak nyaman. Dibukanya mata, seluruh badannya terasa seperti habis dicambuki.Pelahan ia berusaha menggeliat. Sayup-sayup ia mendengar suara Mungmang, sudahsorekah? Ki Juluk berusaha bangkit, kini ia merasakan tubuhnya tak mengikutiperintah pikirannya. Dengan terhuyung ia melangkah menuju pintu.
     "Haa,sudah bangun rupanya…" Mungmang hanya dengan kain menutupi kemaluannya tengahmemotong-motong kayu untuk dikeringkan sebagai kayu bakar.
     KiJuluk masih oleng dan bingung. Ini rupanya mabuk laut itu, akhirnya ia terdudukdi ambang pintu pondok, Wari kemudian datang,"minumlah jahe hangat ini,sebentar lagi makanlah bubur ubi…Kamu mabuk laut…"
     KiJuluk hanya mengangguk, tanpa pikir meminum isi bumbung bambu, kemudian menyuapkan isi batok kelapa, rasa manis membuatnya berkerut di dahi, lalu tak lama Wari muncul kembali,"sini punggungmu, dibalur dengan boreh kencur, biarcepat keluar angin tubuhmu…" Mungmang menertawai keadaan Ki Juluk yang olengantara sadar dan tak sadar. Setelah menghabiskan sebatok bubur dan air jahe sebumbung, Ki Juluk dipapah ke balai oleh Wari, begitu rebah, mata Ki Juluk langsung terpejam, jatuh tertidur dan tak tahu berapa lama Wari membaluri seluruh tubuhnya dengan boreh kencur.
     Ada empat hari Ki Juluk seperti masih berada di atas jukung, kepalanya berputar-putar dengan denyut yang menyakitkan di pelipis.  Wari dengan cermat merawatnya dan Mungmang setiap saat mendampinginya memijat bahu dan betisnya. Mabuk laut memang penyakit aneh, begitu tiba-tiba menyerang kemudian lenyap seketika, Ki Juluk saat terjaga  pagi itu terpana sendiri, hanya merasa lemas,pusing yang berputar-putar itu entaha pergi kemana,nyeri di bahu dan betisnya pun lenyap tanpa sisa, sungguh ajaib.
     Begitu melihat Ki Juluk telah terbebas dari mabuk laut, Mungmang segera mengajak KiJuluk ke pancuran,"kamu harus berendam, mengguyur kepalamu, keramas dan bersihkan mulutmu; nanti siang kita mesti membuat upacara selamatan, Wari sudah menyiapkan perlengkapannya, biar nanti kamu tidak lagi diiikuti sama parapenghuni laut.."
      Mandi di pancuran dengan kucurannya sebesar pohon kelapa, berendam dan menggosoktubuh, melepas lekat air garam dan daki, kemudian keramas dengan santan kelapa berulangkali, hingga kulit Ki Juluk menjadi keriput barulah kaki terasa kembali menjejak tanah, pikiran bekerja dan menyadari dimana kini diri berada. Rasa asing kini mulai menyergapnya, tetapi ada Mungmang juga ada Wari. Lalu ia ingat buntalan bekalnya. Ki Juluk menenangkan dirinya, semoga isi bekalnya tidak hilang…
      Dengan gontai, ia mengikuti Mungmang kembali ke pondok disambut Wari yang telah menyiapkan sajen untuk doa keselamatan. Wari dengan cekatan memberi petunjuk apa yang mesti dilakukan oleh Ki Juluk kemudian doa pendek dipimpin oleh Mungmang. Setelah itu mereka bertiga makan dengan lahap sajen yang tadi telah dipersembahkan kepada hyang dan leluhur berupa tumpeng kuning dan ayam panggang, sambel pedas dan ketimun muda.
      "Nah sekarang, barulah kamu kembali ke darat, pulang ke bumi…" kata Wari setelahmelihat Ki juluk kekenyangan dan matanya mulai bercahaya, tidak kuyup lagi.
      Mungmang tertawa dan menepuk pundak Ki Juluk berulang-ulang,"sekarang kamu bisa mulai menyiapkan bahan-bahan melukismu…" Ki Juluk seperti tersengat hatinya. Pulihkini kesadarannya secara utuh, tugasnya ke sini adalah melukis. Duhai, iatersipu dan membiarkan tubuhnya digoyang-goyang oleh tangan Mungmang yangkekar.
      "Mungmang sebelum Kadasa berakhir, baik sekali mulai mencari daun lontar…"
      "Hanya di sekitar Kalapa adanya lontar, di tempat lain, hujan turun tak mengenal musim. Sudah kutahu dimana tempatnya, ladang-ladang itu milik Aki Burun, dia pembuat tuak yang terkenal… memiliki puluhan pohon lontar!"
      Mungmang memang pemating yang terlatih,kegilaannya di tengah laut tak berbekas, walau nampak kasar, Mungmang cerdikdan taat, juga kewaspadaannya tinggi, saat Wari pergi ke pancuran, Mungmang mengingatkan Ki Juluk,"tetaplah hati-hati kepada Wari sekalipun, tetangga terdekat itu kakak si Wari, semua orang di sekitar ini adalah kerabat Wari, kadang kemari singgah juga ada beberapa orang lain  datang membantu Wari membuat gula dan minyak, jika ditanya,buatlah cerita mengenai hubungan keluarga kita…Kamu mengerti yang kumaksudkan?"
      Ki Juluk mengangguk, sebelum berangkat ia memang sudah mendapatkan bekal mengenai gambaran daerah yang akan dituju: Negeri Sunda.
      Pelahan dadanya berdebar. Betapa jauh kini terasa kampung halamannya, jauh di sana di Jawa Timur, tepatnya di ibu kota Majapahit.      Oh, betapa malang kelahiran bila kegemarannya menggambar menjadi  hukuman bagi seluruhkeluarganya. Mata Ki Juluk berkaca-kaca, rasa pedih menusuk hatinya.
      Mungmang menepuk pundak Ki Juluk,"sudahlah, tenangkan hati, kamu tak sendiri mengalaminasib seperti ini, banyak yang lain…Serahkan kepada hidup, jalani…" Mungmang menenangkan Ki Juluk yang tiba-tiba terisak, kini nampak benar betapa masih belia Ki Juluk, yang bernasib malang justru karena bakatnya menggambar…
      "Sudah…Sudah,hapus airmatamu!..."
Jauh dari keluarga, jauh dari keriangan. Mungmang mengajak Ki Juluk memasuki ladang-ladang menjauhi wilayah pelabuhan Kalapa. Udara panas laut masih terasa namun tempat kian meninggi. Ki Juluk tersenyum saat mulai melihat barisan pohon lontar. Mungmang hanya menjadi penunjuk jalan mencari pondok Aki Burun, pembuattuak yang terkenal di Kalapa.
        "Itu Lontar betina…"
        Mungmang mendongak hampir tertawa,"Lontar betina?"
       Ki Juluk mengangguk,"Lontar itu ada yang betina dan yang jantan, yang ada buahnyaitu betina.."
Mungmang kini tersenyum lebar,"Ah, semua pohon lontar berbuah.."
       " Perhatikan Mungmang, buah yang jantan kecil-kecil, tidak bisa dimakan, kalau buah yangbetina bisa dimakan…"
Tiba-tiba suara Aki Burun terdengar,"Mungmaaang, kaukah itu….?"
      "Iya…..Aki, iyaaa…"
      Setengah berlari Mungmang melangkahi jalan tanah yang dibuat mirip undakan ditahan kirikanan dengan batu-batu.
Aki Burun masih tegap dan gesit, Ki Juluk diperkenalkan oleh Mungmang sebagai sepupunya,"Jadi kau pulang ke Jawa untuk jemput adik sepupumu ini?...Bagaimanakeadaan di Jawa?"
     Mungmang hanya tersenyum-senyum,"Juluk ini tukang gambar, jadi kalau di pelabuhan masihbisa gambar mendatangkan kepeng. Kalau di dusun, jadi bahan tertawaan, Ki…"
      Aki Burun tertawa mendengar penjelasan Mungmang,"Iya, kalau di pelabuhan, inimengadu peruntungan. Kalau Jung orang kocindatang, orang dari negeri-negeri jauh, biasanya mereka juga beli apa saja…Siapa tahu mereka juga nanti menyukai hasil gambarmu…"
KiJuluk hanya tersenyum tipis, mengalihkan pandangan, menatapi deretan cekel wiladi dinding pondok Aki Burun, dihirupnya bau nira yang tengah disadap di pohon.
      "Hayolah, cicipi tuak manis bikinan Aki Burun…"
Mungmang dengan senang hati menerima satu bumbung tuak manis, lalu menyampaikan niat untuk membeli daun lontar kepada Aki Burun.
      "Ah,tak usah dibeli…Nanti kalau gambar si Juluk ada yang beli, barulah membeli daun lontar. Tapi kau akan pakai yang pucuk atau yang batang?"
"Kalau bisa yang batang, lontar bulan, Aki…"
     Mungmang tersentak,"Lontar bulan?"
Aki Burun terkekeh,"kau mungmang, mana mengerti jenis lontar….Ada beberapa pohon lontar bulan, kau bisa manjat sendiri?"
      Ki Juluk mengangguk. Mungmang mengeryitkan alisnya,"biar aku saja yang manjat…"
     "Jangan,nanti kamu salah memotong…" Aki Burun dengan cepat mencegah niat baik Mungmang,"Biar kau tahu Juluk, si Mungmang ini tidak ada peruntungannya denganpohon, tak bisa bikin tuak, bisanya hanya minum. Jadi pohon jakamu siapa yangmengurus? Masih si Bangu?"
      Mungmangmengangguk, tersipu malu. Ki Juluk hanya tertawa, memang tidak mudah membuattuak, tidak sekedar memotong batang buah lalu menyadap. Harus rajin mengetuksetiap pagi batang buah pohon jaka yang terpilih untuk disadap tuaknya.
Hampir setengah hari Ki Juluk diawasi oleh Aki Burun memetik daun lontar. Mungmang mengumpulkannya dan merasakan bulu-bulu daun lontar menimbulkn gatal ditangan.Ki Juluk nampak cekatan memetik daun lontar dan tak nampak risau dengan bulu batangan lontar.
      "Ah,sekarang ada orang yang bisa kusuruh bersihkan pohon lontar…." Aki Burun terkekeh,"Aku sudah tua, banyak pohon kubiarkan tak dipotongi, sudah lama akutak menjual daun lontar untuk dianyam…"
      Ada dua pelukan Ki Juluk banyaknya daun lontar yang terkumpul. Mungmang dengan gesit segera memanggul satu peluk dan peluk yang lain dipanggul Ki Juluk,keduanya meninggalkan pondok Aki Burun yang lega memandangi pohon-pohon lontarnya yang kini nampak lebih ringan dan bersih; kelak batang bunganya akangemuk bisa disadap untuk menjadi tuak yang manis rasanya.
      Sambil bersisian memanggul daun lontar, Ki Juluk menerangkan cara membuat daun lontaryang akan digambari,"Dijemur dulu sampai kering Mungmang, kalau sudah kering benar baru diasapi di perapian…setelah itu baru direbus…"
Setibanya di pondok, Mungmang mencari galah bambu mulai memancangkan untuk tempat menjemur daun lontar. Wari yang sudah kembali dari pancuran melongok sejenakdari pintu dapur, melihat suaminya dan Ki Juluk sibuk menyiapkan tempat menjemur lontar,"Biar tidak diberaki ayam…belum lagi kalau babi lepas.."Mungmang memang cekatan, akhirnya ada pancang penyangga untuk menjemur daunlontar,"kalau malam, lontar ini dipindahkan ke dapur?"
      KiJuluk menggelengkan,"Biarkan saja, kena embun, kena hujan….itu membuat kuat lembarannya…"
"kapanmulai mengasapi?"
        "Setelah benar-benar kering, kita mesti membuat penyekat di atas perapian, jaraknya dengan tungku perapian dua lengan…pengasapannya lama Mungmang, enam purnama.."
Mungmang nampak terkejut, lalu tertawa,"Lama benar membuat lontar…."
      "Memang lama…" Ki Juluk tersenyum,"Kita juga harus mencari daun pudak.."
      "Pudak harum? Banyak di tepi pantai, di sebelah utara banyak betul…" Wari menyahut dari dalam dapur.
      Bagi Mungmang apapun perintah Ki Juluk, ia akan mematuhi dengan caranya sendiri,yang ia jaga adalah agar istrinya tidak curiga kalau Ki Juluk bukanlah keluarganya. Karena itu dengan suaranya yang meledak-ledak kadang ia terdengar seakan memarahi Ki Juluk, biasanya Wari akan mengingatkan,"Sabarlah Mungmang,Juluk masih muda…"
      Ki Juluk mengerti sikap Mungmang, sebab bila salah bersikap akan ketahuan siapa Mungmang sebenarnya dan akan menyulitkan dirinya menyelesaikan tugas.
     Akhirnya  daun-daun lontar itu berderet, mulai dijemur. Mungmang terkekeh puas dan mengajak Ki Juluk memasuki dapur. Wari mengingatkan Mungmang agar membersihkan kulit kelapa,"besok aku mau membuat minyak, sudah habis daganganku…"
Disamping membuat minyak, Wari juga kadang membuat gula aren, tetapi mendapatkan tuak untuk dijadikan gula tidaklah mudah, belum lagi Wari hanya mengandalkan sepupunya si Bangu untuk menyadap tuak, Mungmang tidak bisa diharapkan untuk belajar menyadap tuak, Mungmang lebih suka melaut, kini Wari berharap Ki Juluk bisa membantunya menyadap tuak,"Juluk kami bisa menyadap nira?"
     "Iya bisa sedikit, tapi mencampur lau saya kurang mahir…"
       "nanti tanyakan pada Aki Burun.." Mungmang tersenyum kecil, Aki Burun pasti senang adatenaga baru yang bisa membantunya membuat tuak. Musim panas akan segera tiba,tiga bulan ke depan pelabuhan akan ramai didatangi Jung-Jung dari berbagainegeri. Tuak akan laris manis. Pelepas dahaga dan pelupa beban hidup.
       Ki  Juluk merebahkan badannya, masih tersisa lemas dari mabuk laut itu. Sambil menerang memandang langit-langitkamar, airmatanya membuncah. Sayup ia mendengar suara Mungmang memanggil Wari,samar ia mendengar suara ayam-ayam yang berebut makanan juga dengus babi….kapan aku pulang? Ki Juluk tersengal menahan isaknya. Mengapa nasibnya harus merantau sejauh ini?   Mengapa bapanya tega menyerahkannya ke karang kepatihan? Ki Juluk tidak habis mengerti, mengapa dirinya yang terpilih di kirim ke negeri yang tak pernah ia bayangkan hanya karena ia  menggambar seorang puteri yang tak sengaja ia lihat?
Airmata Ki Juluk mengalir deras hingga dadanya tersengal menahan isak, lalu lelah pedih membawanya jatuh dalam tidur yang sedih, dengan bibir meracau memanggil ibunya.

(BAGIAN I, (MATINYA PENGUASA, sebuah novel, by cop sawitri/ 2007)

Chandra Bherawa Bagian 1


NOVEL CHANDRA BHERAWA
BY. COK SAWITRI

PROLOG:
Perang kurusetra merengut korban hampir 4 juta orang, ribuan kuda, gajah, dan derita perempuan-anak mengawali kemenangan Pandawa kembali ke Hastina. Perubahan tak terelakan, generasi baru menjadi pimpinan di berbagai negara yang semula memiliki jaringan hubungan yang kuat oleh ikatan perkawinan maupun keyakinan. Kemenangan perang itu sekaligus kekalahan wangsa kuru juga dimulainya  ideologi agama dalam menata negara. Ketegangan antar negara akibat lahirnya peradaban baru menjadikan kaki zaman begitu pilu memasuki peradaban baru.

BAGIAN 1

     Perang Kuru sudah usai.

     Tinggal puing.

     Remah.

     Anyir darah mengering, hamburkan aroma yang menyesak. Angin seolah menikmati permainannya, setiap saat seolah sengaja menggembur debu agar bau darah yangmengering itu tercium.

     Masih dengan bekas luka di lengan serta bahu, goresan di kulit yang masih rekah walautelah mengering. Bima, putra kedua Kunti, siang itu nampak berjalan, berjalan diantara serakan tumpukan sampah perang. Di langit, itu burung-burung pemakanbangkai sesekali  memutar diri,terbang serendah mungkin, singgah sebentar ke tanah lalu melesat naik dengankibasan sayap keras, melesak kasar, terbang menjauh ke langit dengan jeritan kecewa. Tak ada lagi sisa mayat buat dicabik-cabik, pesta pora telah usai. Semuamayat, entah itu prajurit Korawa  ataukah prajurit Pandawa, sudah dibakar dalam upacara yang menggempar langit dan bumi.

     Upacara pembakaran jutaan mayat pahlawan perang itu telah membuat penghuni surga terbatuk-batuk. Menyebabkan para dewa melongok ke bumi. Menyaksikan asappembakaran mayat membumbung, menjadi mendung tebal, selimuti hampir seluruh langitdipenjuru wilayah Negara Hastina, ditutup kabut, meniru awan hitam disaatpuncak musim penghujan.  Asappembakaran mayat itu berbulan-bulan menyelimuti seluruh negeri. Seakan berusaha sembunyikan semua wajah sedih dari sinar matahari, menutupi rasa kehilangandari angin yang ingin tahu. Membatasi pertukaran pandangan mata. Kabut itu hanya menyelimuti!  Hanya menyelimuti. Tak akan menghilangkan rasa hampa yang seperti gerowong disemua hati, menggerogoti isi dada, menyedot seluruh semangat hidup, mendiamkan kepedihan dalam satuliang kehilangan, lebih mirip kesuburan semak yang semakin merimbun setiap kaliada tarikan nafas, kepedihan dari rasa kehilangan akan kematian-kematian,sekalipun atas nama perang suci, tetaplah kepedihan yang tiada tara.

     Bima,Sang Perkasa, setelah dipulihkan di rumah sakit istana. Sesungguhnya masihseperti yang lainnya, hatinya tergoncang. Anak, keponakan, sepupu, kenalan,teman, paman, kakek, guru, betapa setiap tarikan nafas yang memasuki dadanyaterasa menjadi himpitan. Namun hidup tak usah dikeluhkan. Ia memiliki tugasdemi hidup, mengembalikan Hastina menjadi negeri yang seperti yang diimpikan.

     Namun Bima harus segera  memimpin sebuah tim khusus, tim yang dibentuk oleh Dewan Kerajaan Hastina, untuk mendata kerusakan akibat perang.

    Ya,Perang telah usai. Kemenangan telah diraih. Tapi Hastina tidak merayakankemenangan itu. Jalanan sunyi, airmata mengalir tanpa suara isakan, tak ada jerit histeria. . Inilah kemenangan yang mengasingkan seluruh hati.

     Perkabungan tak akan terhapus oleh upacara-upacara, penghiburan apapun, tak akan memulihkan hati yang hampa. Hampir semua negara yang terlibat perang kini dibawah kondisi darurat. Bumi ini kehilangan kemudaannya, kehilangan pimpinannya.Perempuan-perempuan kini menjadi ayah sekaligus ibu bagi persiapan masa depan,yang entah bentuknya seperti apa yang akan datang.

     Bima nampak tercenung di atas sebuah batu. Melepas pandangannya sejauh mungkin. Medan tempur Kuru, kini seperti kapal karam, tak berdaya dengan beban kepedihan;rongsokan-rongsokan itu sungguh mencekam hati.

     Lapangan Kuru menghampar luas dan sesak oleh sampah perang  menenggelamkan kehadiran Bima dan para pengawalnya.  Dari langit, memancar panas matahari, tetap menyengat walau kabut tebal masih membatasi pandangan. Angin berhembus kencang setiap Bima mengingat sesuatu dari kejadian perang, angin itu seolah menyahuti pikiran, menerpa tubuh Bima yangtinggi besar. Matanya kerap menyipit menahan desau debu. Kilatan ingatanmemasuki keterdiamannya berkali-kali.

     Saatdelapan belas hari perang besar itu, ingatannya mulai bicara, angin seperti iniadalah tanda jatuhnya banyak kematian.  Sebab dengan angin seperti ini, mata anak panah sering meleset; hantaman gada, tusukan tombak, semua tidak terarah, nyawa disaat seperti itu seperti daun-daun kering di dahan lampuk, sekali hempas bahkan hanya dengan tepukan tangan; maut merengut, menjatuhkannya ke bumi, melapuk seluruh hati. Berdebam-debam tubuh-tubuh itu berjatuhan. Bima seperti mendengarkembali riuh kematian itu. Bibirnya mengatup, pelipisnya memperlihatkan ototketegangan, matanya memerah. Dialihkannya pandangan, diusirnya ingatan-ingatanitu.

     Bima melangkah dengan pijakan yang menekan, menahan kegoyahan. Ah, kereta-keretayang hangus, remuk oleh hantaman senjata bercokol disetiap ujung kakinya.Senjata-senjata patah mengkarat, lalu busur patah berjejalan meniru dempetanrumput dimusim hujan.

     Bima menelan ludahnya berkali-kali, jakunnya turun naik saat memperhatikan rongsokansebuah kereta yang amat dikenalinya. Dengan jemari gemetar ia menjangkau,hendak menyentuh, lambang kebesaran gurunya terukir di cangkang depan, benderayang robek-robek miring menjuntai ke tanah, Bima menahan gemuruh isi dadanya,seperti kembali dilihatnya kepedihan sorot mata Guru Drona. Lalu di sebelahrongsokan kereta itu  teronggok pulalambang Negara Gandara, lambang kecerdikan Sang Sangkuni. Bima melangkahmendekati, matanya makin menyipit. Di sinikah dirinya beberapa bulan lalumenghantam kepala Sangkuni dengan gada?

Bimamenghela nafas.
     Sungguhsusah isi kepalanya mengingat, bagaimanakah dirinya saat itu. Amarah dan dendamtak miliki jejak. Hanya dadanya kini terasa demikian kosong, teramat kosong. Kemanaamarah dan dendam itu pergi? Tak ada lagi bayangan wajah Drupadi beruraiairmata, wajah yang membuat seluruh tidurnya sebagai pecundang. Kemanakegeraman menyambut pagi itu?

     Hamparanonggokan sampah perang, angin yang menderas seperti miliki ujung tajam, kerapmenusuk lobang pori, dingin itu menyusup ke kulit. Kabut asap yang belum pupus dan burung-burung bangkai yang kerap putus asa terbang kosong, jeritan kehilangan kemanjaan bermangsa setelah berhari-hari selama perang berlangsung, pesta pora telah usai. Kini jeritan itu adalah pekik kecaman.

     Pihak Pandawa telah kehilangan dua puluhsatu ribu delapan ratus tujuh puluh kereta kuda, dalam jumlah yang sama pasukangajah,  pasukan penunggang kuda ,prajurit penyerbu : telah gugur seratus sembilan ribu tiga ratus lima puluhorang.

     "Berapa jumlah yang gugur itu?" Bima bergumam seperti menanyai dirinya sendiri, parapengawalnya hanya terdiam, terkagum-kagum dengan pemandangan yang terhampardisekeliling mereka.

     Sebagai prajurit muda, para pengawal yang direkrut sebulan lalu itu nampak pucat dalam keremajaan. Betapa menakutkan kisah-kisah peperangan yang mereka dengarbeberapa bulan lalu dan setiap saat jerit tangis terdengar dari semua rumahdimana mereka tumbuh, begitu cepat mereka harus meninggalkan masa remaja. Kini sepertimimpi mereka mengawal salah satu pahlawan besar perang kuru, yang nampak berdiridengan wajah lelah dengan kerut kepedihan di dahi. Wajah kemenangan yang jauhdari bayangan mereka. Wajah sedih, tak seperti yang pernaha mereka bayangkan.Kemenangan perang itu bukankah seharusnya memberi wajah menyala-nyala dalamkemegahan rasa gagah?

     Bima melangkah lagi, pikirannya melesat jauh. Kembali seperti gumam ia berkata, "Ketika upacara pembakaran jenasah itu, tak lagi kita sempat menghitung. Yang dapatkuingat jumlah pasukan kita hanya tujuh divisi, hampir satu juta lima ribu enamratus orang, sedangkan dari pihak Kurawa, mereka memiliki dua kali lipat besarpasukan, ada sebelas divisi, itu yang tercatat, tentu saja ada yang lupadicatatkan, mereka para relawan perang, mereka yang datang dipertengahanpeperangan…mereka yang lari dari perang pun kemungkinan berjumlah ribuan.."

     "Tuanku, ada yang mendekat…"
   
     Bima seolah tidak mendengar bisikan salah satu pengawalnya. Ia tetap berusaha mengingat, " mungkin sekitar empat juta yanggugur…"

"Tuanku…"
      Bima tersenyum dingin, "Maut telah kenyang, walau memang kerakusannyatak akan pernah dicukupkan oleh jutaan nyawa. Usah dipikirkan, siapapun yangdatang…"

     Dalam kabut apapun kerap  menipu pemandangan.  Selama persiapan perang yang begitumenekan, ketegangan yang luarbiasa seperti meledak di medan pertempuran, laluusai itu, rasa kehilangan membuat semua hati dibaluti was-was, seluruh negerimasih merasakan rasa mengambang antara percaya dan tidak, jalanan begitukosong, hati lebih kosong lagi.

"Tuanku…"
     Bima mendongak dan menatap ke arah datangnyasuara langkah, yang berjalan pelahan di atas berbagai sampah perang itu. Dalamkabut yang tak memberi jarak pandang yang jelas, ia memastikan yang datang ituseorang perempuan dan di belakangnya nampak puluhan sosok yang juga belum jelasterpandang mata.

"Salam damai, Bima…"

     Bima melengak sejenak, tersirat keterkejutan diwajahnya. Suara perempuan itu menyebut namanya dengan begitu karib, "siapakahyang datang ke medan pertempuran yang tengah tidur ini?"

     Dalam sekali langkah Bima dan semua pengawalnyatak mampu menutupi ketercengangan mata mereka, perempuan jelita dengan wajahyang sempurna begitu pula perempuan-perempuan lain yang mengiringi dibelakangnya, berdiri berjejer dalam hembusan angin dan kabut yang menipis pelahan, memberi kesempatan mata melihat lebih jelas.

     "Siapakah kalian?" Bima yang tak pernahberbasa-basi dengan sorot mata penuh selidik menatap tajam.

     "aku buyutmu, aku ibu dari kakekmu, Bismapewaris Kuru…"

     Bima tertegun, perang mendidiknya untuk tidaksegera percaya apapun. Ia hanya menatap dengan otot-otot yang seketikamenandakan kewaspadaan dirinya .

     Perempuan yang mengaku ibu dari Bisma tersenyumdatar, begitu pula perempuan-perempuan yang mengiringinya seolah serentak ikut tersenyum.Senyum itu seolah memaklumi sikap Bima yang nampak kaku dan waspada. Perangmemang sudah usai, namun ribuan prajurit yang lari dari medan perang masihmemiliki alasan untuk sesekali muncul melampiaskan amarah. Bahkan berkali-kalibanyak perempuan dengan kenekadan yang sempurna melakukan serangan kepadakeluarga Pandawa.

     "Marilah mencari tempat untuk duduk sejenak,aku hendak mengajakmu mengenal seluruh ibu dalam keluarga kuru…"

     Bima nampak mengerutkan dahinya, bibirnyabergerak sedikit. Sorotan matanya begitu menghujam,"apakah engkau tidakmendengar, bahwa seusai perang, banyak perempuan menjadi gila oleh perasaankehilangan? Apakah telingamu tuli bahwa mereka tak segan-segan menyerang siapasaja yang dpikir oleh mereka telah menewaskan lelaki kesayangan hati mereka?"

     Para pengawal pelahan bergerak membentukformasi siaga. Telah banyak kematian sia-sia seusai perang bahkan disaat upacara pembakaran jenazah begitu banyak perempuan mengamuk, menyerang bahkanmembunuh siapa saja. Duka cita telah menggelapkan banyak mata seusai perang.Rasa kehilangan telah banyak membuat perempuan begitu menakutkan ketikaterjebak rasa kepedihan.

     "Jika kau memang ibu dari kakek bisma, menjauhlah…Bukansaatnya untuk duduk bercerita. Aku bertugas saat ini membersihkan lapangan ini,buat meringankan mata dan hati yang memandanginya…"
Perempuan yang mengaku sebagai Dewi Gangga,tersenyum hampir berkedip cahaya dimatanya, lalu entah mengapa kabut menepi seketika, "Hai, putra bayu, ini hari terakhirku dapat berjumpa dan menolongtugasmu, sebab putaran semesta akan mematahkan jarak kita. Ingatlah, kau masih dalam jangkauan waktuku…kubersihkan lapangan ini, seperti yang engkaupikirkan.."

     Mata Bima makin jelas melihat, kabut disapuangin, santun menghindar. Semua pengawal hampir terbuka mulutnya saat jelasmelihat betapa wajah perempuan-perempuan itu seperti pualam bermata cahaya, ah,kecantikan seperti ini sungguhlah bukan kecantikan duniawi, ini pastilahtipuan. Sontak makin siagalah sikap mereka.

     Bimamengedik bahunya, tersenyum pahit, "tipuan apa lagi yang dimainkan oleh maut?Tidakkah Indra puas dengan kepedihan hati dunia, bukankah kalian perempuan yangseharusnya merasakan pedihnya rahim saat berjuta-juta anak, suami, kekasihgugur di sini?"

     "Aku bukan utusan Indra, dia memang tuan diistana langit, aku datang sebagai ibu bagi kalian, aku memang pemilikkelahiran, tetapi perang adalah keputusan kalian…"

     "Oh begitu? Lakukanlah…menyapulah, berbenahlah,apa kalian dengan jemari yang ringkih itu akan mengeser ribuan rongsokankereta, tulang belulang berbagai senjata?" Bima menyahut dengan suara pelan,menyimpan keketusannya di ujung lidah. Kelat rasanya mulut.

     Bima melangkah setindak demi setindak, tidakmenutupi kegusaran hatinya yang entah mengapa seperti mengusik, matanyamenyiratkan kejengkelan, "aku bukan Arjuna, yang akan sangat suka berbincangdengan perempuan. Aku juga bukan Yudistira yang akan selalu merasa bersalah padaperempuan, juga aku bukan Nakula dan Sadewa. Jika kau dan teman-temanmu takmenyingkir, aku yang akan menyingkirkan kalian dari tempat ini, dan janganmengusik tugasku…"

    "ah, putra bayu….baiklah, yang tak percayakata-kata, aku gangga yang akan membasuh lapangan perang ini, aku tidakamenawarkan, tapi sikap semua ibu adalah seperti yang akan kulakukan…"

     Bima mengerutkan dahinya, hatinya bergetarmenahan kejengkelan, makin waspada dirinya, makin terasa dirinya disudutkan.Sepintas ia melihat tangan perempuan itu, yang mengaku Dewi Gangga merogohsesuatu di balik lipatan selendang yang melilit di pinggang lalu sebuah tongkatberujung tajam bergerak memutar. Bima begitu cepat melompat jauh ke belakangmeraih patahan tombak yang berserakan, begitu pula para pengawal segera mengeluarkansenjata. Kesiagaan begitu rupa tumbuh dalam diri Bima. Namun perempuan ituseperti mencari ruang bergerak untuk menari, tak menggubris sikap Bima dan parapengawal. Ujung tombaknya digerakan ke tanah, seolah menuliskan sesuatu. Taklama kemudian gemuruh terdengar, "menyingkirlah Putra Kunti, carilah tepiantinggi tunggulah di situ, nanti kami menghampiri setelah pembersihan inikuselesaikan."

     Bima membekukan dirinya dengan senjata siapmenepis. Begitu pula para pengawal siaga menanti serangan. Namun muncratan airdan suara gemerincing yang memekak terdengar begitu tiba-tiba,"Menyingkirlah, Putrakunti. Atau tanganku yang akan membawamu ke tepi lapangan…"

     Seperti mimpi begitulah bila bertemu keajaiban.Bima tergugu menatap lapangan yang tadi penuh rongsokan perang kini berubahmenjadi danau luas dengan puluhan perempuan melayang di atas permukaan air.Angin kembali menderu dipinang air yang terus menerus seperti dimuntahkan dariretakan tanah. Lalu gemerincing itu henti. Suara angin mendesis entah dari manadatang arahnya, suara itu mirip tenggorokan yang sekarat, suara gemeretak,besi-besi yang berpadu meniru pertemuan ratusan pedang. Bima terpana danmengingatkan akan dirinya untuk tetap waspada.

     "Kau sama sekali tak terkesan…" teguran itumembuat Bima menoleh, perempuan yang mengaku Gangga entah kapan telah berdiridi sebelahnya. Bima tersenyum,"apa lagi yang dapat mengesankan bagiku juga bagiwaktu yang teralami? Justru menyakitkan jika keajaibanmu itu hanya untukmembersihkan rongsokan peperangan…"

    "Engkau seolah menanyakan, mengapa aku takmenolong wangsamu? Mencegah peperangan atau bahkan menyelamatkan putraku?"

     Bima kini tersenyum pahit, kepalanyamenggeleng,"kalian penghuni istana langit senang sekali membuat keajaiban,menduga-duga waktu dan kami di bumi masih saja diselimuti kabut asap daribakaran tubuh kami. Apa kabar Dewa Indra, apakah ia telah terpuaskan oleh mabukkebahagiaan perang?"

     "aku tidak mencampuri putaran karma, tapi akukemari seperti kataku, di akhir zaman aku harus menemuimu, untuk terakhirkaliaku ingin mengatakan tentang masa yang akan berganti. Bisma adalah tanjakanterakhir dari wangsa kuru. Walau garis lahir dapat meneruskan wangsa kuru,namun sesungguhnya wangsa kalian telah berakhir, sebab Bisma bukanlah bersetia kepadasumpah di dunia, dia itu sesungguhnya wasu…"

     "Wasu?" Bima bergumam, menatap gelombang airyang mulai bergerak, membuncah seperti mengaduk isi di bawahnya,"aku memangtidak pernah berpikir. Menggunakan pikiranku untuk hal-hal yang rumit. Tapi takmungkin aku menceritakan apa yang kurasakan saat perang usai, sebab engkau dankalian di langit sana hanyalah penonton…"

     "semoga tidak mencari kambing hitam untuksebab-sebab perang ini…" perempuan itu menyahut dengan suara lembut. Mendengarucapan itu, Bima memutar tubuhnya, memandang air yang mulai bergerak lambat, "akanengkau biarkan tempatnya ini menjadi danau?" tanyanya dengan datar, seperti takada lagi rasa dalam nada suaranya.

    "Lewati purnama sekali saja, tempat ini akan kembali menjadi lapangan kering, kembalimenjadi semak belukar…"

     "Semak duka cita…" Bima tersenyum dingin.Kembali memandang kejauhan. Dahinya berkerut seolah tak peduli dengan kehadiranorang-orang disekelilingnya.

     "Putra Kunti…aku tahu, engkau tak sudimendengar kisah, aku hanya hendak mengenalkan, beberapa perempuan yang menjadileluhur wangsa kuru. Kumohon pandanglah mereka…"

     Bima memutar pandangannya pelahan,  dengan tatapan datar menatapperempuan-perempuan yang berdiri berjejer di belakang perempuan yang mengakudewi gangga itu. Wajah-wajah yang sama, mirip dalam sorot mata datar. Lalukabut mendekat seperti diperintah, bergerak menyelimuti para perempuan itu.Bima hanya berdiri tegak saat gemeretak dari langit menjatuhkan sebatang pohon,pohon yang begitu rindang, hanya saja pohon itu tak menyentuh tanah, mengambangdengan akar-akarnya di atas, membuat Bima mendongak sejenak, lalu perempuan ituberucap," kelak sampaikan…engkau telah bertemu dengan Asokandari, akar keluargaYayati. Engkau harus memahami hal itu, ketika  engkau paham kaum Yadawa dan Kaum Puru, kalian mengenangBharata, dari Shakuntala, lalu barulah engkau akan memahami dimana Santanudengan aku…"

     Hening. Bima mengerutkan dahinya, hanya menatapke arah pohon mengambang itu dengan desis,"lalu apa yang harus kupahami, akubukan pemikir. Juga apa gunanya aku menghapalkan silsilah, ibuku masihhidup…dia sebab aku ada"

     Tak ada sahutan. Hanya suara gemeretak, hinggakabut makin tebal, hingga udara makin mendingin, Bima masih tegak berdiridikitari para pengawalnya. Hingga pohon itu lenyap dan lapangan itu masihbagaikan danau yang dangkal. Bima tak tahu, apa benar ia tadi bertemu denganGangga, ibu Bisma, yang membantunya membersihkan lapangan tempur itu.

    "Kita pulang…" Bima berucap dengansuara datar, memerintah para pengawalnya. Mereka beranjak pergi, sedikit puntergugah dengan kejadian yang baru teralami. Perang mungkin telah mencuriperasaan mereka dan menyembungikan pada rasa hampa di hati.

    Dalam kegelapan mereka berjalan memutar, tidakmungkin menyeberangi danau buatan Gangga. Bima melangkah dengan wajah membeku,dahinya berkerut dan rambutnya tergerai. Ia membiarkan dirinya melangkah tanpatujuan. Ketika gelap tiba, ia menjejakan kaki di area yang dahulu digunakanoleh Kaurawa sebagai perkemahan.

     "Nyalakan unggun…" Bima memilih salah satubekas kemah yang masih utuh buat bermalam. Dengan sigap para pengawalnyamenyalakan unggun. Namun Bima urung melangkah memasuki kemah itu, entah mengapaaroma dari kemah itu membuat nafasnya terganggu.

     "Periksa sekelilingnya dan yang lain carilahsesuatu untuk dimakan…" Bima berucap dengan sorot mata hampa, membuangtatapannya jauh-jauh. Lalu langkahnya begitu lampai menuju suatu titik,membiarkan dirinya melihat kejauhan.

     Lama Bima berdiri di hadapan tenda-tenda yangbeberapa diantaranya telah mulai miring, tapi tenda yang letaknyaditengah-tengah nampak masih kokoh. Bima kenal tenda itu, tenda tempat parapetinggi kaurawa berkumpul, bertukar pikiran merencanakan kematian jutaanmanusia. Begitu pula dipihaknya, betapa setiap malam perdebatan dilakukan hanyauntuk mempercepat kematian lawan.

     "Bakar semua tenda-tenda itu, kita lanjutkanperjalanan…" Bima tak mau diusik oleh ingatan-ingatan yang membuatnya merasakembali menghadapi wajah para sepupunya.

     Tak lama seperti ladang api tempat itu. Bimamelangkah menjauh mengikuti kata hatinya, hingga pagi tiba barulah merekamenemukan batas sebuah desa. Para pengawalnya dengan hati-hatimengingatkan,"tuanku, desa ini dahulu adalah desa yang menjadi dapur umum bagiprajurit Kaurawa…"

     Bima mengangguk, "tenanglah, bersikap seolahtak mengerti. Tugas kita tak hanya membersihkan rongsokan perang, tapi jugamembersihkan mereka yang tak inginkan kedamaian…"

(BERSAMBUNG, cuplikan novel ini sengaja diSAJIKAN  untuk menyambut PERAYAAN TUJUH BELAS AGUSTUS, BAGI BANGSA INDONESIA DI TAHUN 2013 YANG DENGAN KEGUNDAHAN / COK SAWITRI/resepsion lontar chandra bherawa)

Novel Tantri, Perempuan Yang Bercerita


SEGERA DIAKHIR MEI.....NOVEL TANTRI,PEREMPUAN YANG BERCERITA;

Apa bedanya raja dengan rakyat
rumahnya disebut istana
perintahnya adalah kuasa
tak beda dengan saudagar kaya
rumahnya bagai istana
perintahnya juga kuasa
pasar tunduk padanya
(kutipan dari Novel Tantri, Perempuan yang Bercerita, silahkan memesan jika berkenan)