Showing posts with label Ibuku. Show all posts
Showing posts with label Ibuku. Show all posts

SARASWATI ITU, OH IBUKU!...

Para keponakan saya, tentu tak akan alami apa yang saya alami saat kecil. Ingatan hari raya Saraswati. Bila Nyaraswaten tiba. Sehari sebelumnya, Ibu saya akan mendapat kiriman Banten Nyaraswasti dari kakak sepupunya; seorang pendeta. Begitu pula dari tetangga, juga seorang pendeta; mengirimkan banten nyaraswati. Pada masa kanak saya, belum ada jual-beli banten di pasar. Kalau mengupah membuat canang dan jejahitan; saat itu sudah ada. Ibu saya bukanlah tipe religius, kakak sepupunya yang pendeta tahu akan hal itu, begitu pula ipar jauhnya; semua paham akan hal itu. Maka dari balik tembok, suara Ninik Sari, seorang tapini, yang selalu meladeni pendeta tetangga rumah, mengingatkan: bantennya dihaturkan dari pagi, nanti sore baru dilayub; jajannya nanti disuapkan ke putra putrimu! Sejak pagi kalau bisa anak-anak jangan makan alias puasa; mebrata. Disamping banten nyaraswaten juga ada beberapa payuk yang dikirim: kumkuman, untuk banyu pinaruh. Sehari setelah saraswasti adalah banyu pinaruh. Kembali suara itu akan terdengar. Bangunkan anak-anak sebelum matahari terbit, cari pancuran terdekat, mandikan di sana atau pergi ke tepi laut. Mebanyu pinaruh. Jadi menjelang nyaraswanten; dua hal itu yang saya dengar dari balik tembok. Atau dari utusan pendeta; seorang pelayan perempuan dengan senyum yang mahal, mungkin jemu harus menyampaikan pesan yang sama setiap tahun. Dan itu disebabkan ibu saya dengan santai menyahut: inggih.

Lalu yang saya ingat, betapa gemetarnya menunggu malam tiba. Karena sudah diikuti bayangan; besok seharian tak boleh membaca, tak boleh makan, saat senja barulah makan jajan. Jaje Saraswati yang warnanya putih, dasarnya budar diatasnya ada lambang cecak! Juga samar aksara: Ong Kara.

Dari semua upacara untuk diri, mungkin Nyaraswaten yang paling ibu taati. Saat itu sekolah-sekolah belum semarak seperti sekarang merayakan. Justru di rumah-rumah terasa kesibukan menghadapi hari nyaraswati; walau sesungguhnya banten saraswati itu sederhana. Bandingkan dengan banten sugihan atau tumpek ngatag; ada bubur dan ada beberapa jenis jajanan; yang enak sekali dimakan. Banten Saraswati hanya akan menyisakan; jaje saraswati yang kering, tanpa rasa, kadang terasa pahit di lidah. Namun harus dimakan dengan cara ditelan, itu saat sore hari tiba. Sebagai tanda buka puasa. Hal lain, betapa mengantuknya saat pagi dibangunkan, harus segera mandi dan suara ninik sari akan terdengar: pendeta di seberang rumah sudah selesai Nyurwa Sewana, tanda boleh nunas tirta: Majaya-jaya.

Ingatan itu, tradisi nyaraswanten, yang paling berkesan adalah saat menanti Ibu menurunkan banten, di sore hari, ngelayub jaje saraswati: Lihat cecaknya...saya, adik dan kakak saya akan menelan rasa hambar itu; ditelan begitu saja. Dan mengapa cecak? Setiap kali bicara dan jika berbohong, cecak itu tak akan berbunyi. Jika berbunyi setiap kali kita menyampaikan sesuatu: ibu mengingatkan untuk mengatakan: Tu suci.....(sampai kini saya tidak tahu apa kalimat utuhnya): hanya meniru: Tu suci, artinya benar dan jujur apa yang saya ucapkan. Kejujuran berucap itu terkait dengan wacika. Betapa melekat dalam kepala dan hati saya, bila berbohong: cecak itu akan cuek. Karena itu selalu berusaha tidak bohong, tidak bicara kasar, walau sesungguhnya, saya temperemental.

Ketika saya mulai merantau, para keponakan pun mulai bermunculan. Suatu hari, salah satu keponakan yang sekolah di kota denpasar; pulang kampung dengan membawa satu flyer: berisi mantram saraswati. Itu tahun-tahun mulainya demam mengutip mantra india. Sekolah-sekolah dibali mulai ‘religius” dan kantor-kantor pemerintah dan swasta mulai merayakan ‘odalan’nya sendiri. Dengan bangga keponakan saya berkata: ini loh mantram saraswati. Dan kemudian beberapa bulan kemudian bahkan ada plakat dari kayu; ditulisi mantram itu, bak merchandise dapat dibeli di beberapa toko dan warung, juga pedagang kaki lima di pasar-pasar. Lalu betapa kemudian penjelasan mengenai saraswati itu: patung dengan empat tangan; bla....bla...bla...bla...tapi seingat saya, tak ada satu pun sekolah menawarkan: brata nyaraswasten begitu pula lembaga agama Hindu di Bali.

Ibu saya, masa kanak itu, memberi saya satu pemahaman kini: budaya itu adalah tradisi ingatan, yang diasuhkan kepada saya. Itu kemudian menjadi titik pijak untuk terjadi evolusi spiritual dalam diri saya. Simbol cecak itu menjadi makna bertingkat-tingkat dalam pertumbuhan ingatan saya. Itu yang membuat saya tersenyum bila hari saraswati tiba. Dan ketika kini, betapa semaraknya kawan, sahabat, keluarga; menjadi penuh ritual dan spiritual. Saya justru mencari-cari jaje saraswati dalam banten saraswati itu. Dan saya teringat ketika keluarga saya mewintenkan saya, beda dengan anak-anak sekarang; masuk sekolah langsung diwinten, sedang saya karena dicemaskan senang membaca yang aneh-aneh diwintenkan. Ini hal yang berkaitan dengan Sang Hyang Aksara. Itu sesungguhnya jnana agung, salah satu tujuan tertinggi dari ajaran siwa sidhanta; juga dalam bhuana kosa disebutkan; hanya pengetahuanlah yang dapat membersihkan dirimu! Maksudnya sang hyang jnana; itulah yang jadi penyebab adanya pijakan awal; yakni mengajarkan akan dewi saraswati, pijakan awal ketika engkau masih kanak untuk kelak memasuki evolusi spiritual dalam diri.

Tahun-tahun berlalu, ketika memasuki tahun 90-an sampai 2000-an, demam spiritual itu menjangkiti seluruh dunia, semua agama, dengan berbagai keciriannya. Termasuk lingkungan saya tumbuh dan mulai menua. Para keponakan mulai dewasa dan sesekali akan bertanya: karena saya kritis terhadap mantram saraswati dalam plakat itu. Juga kepada patung dewi itu! Tapi tak ada yang bertanya, apa lalu yang harus dilakukan sesungguhnya bila saraswati tiba, selain sembahyang bersama di sekolah? Rasanya kok seperti odalan biasa-biasa saja?--- yang serius bertanya justru teman-teman dari kalangan intelek modern. Atau yang cemas, kenapa kita makin lama makin rigid yah? Tetapi yang nendang ke hati kok makin menipis? Lalu seperti biasa, karena yang diinginkan itu agar cepat dan terasa: instan, mereka mulai mengeluhkan, kenapa harus diwinten? Kenapa harus ini itu hanya untuk mendekat ke kaki Sang Hyang Aksara. Apalagi teman-teman dari perantauan, identitas menjadi orang Bali salah satunya adalah mebanten; saraswati jatuhnya selalu hari Sabtu, itu salah satu alasan terkuat untuk dapat berkumpul sesama orang bali. Demam menjadi pemangku, mencari cara praktis membuat upacara; semarak sekali perkembangan dalam berbagai potret. Dan tetap saya masih terkenang; jaje saraswati itu. Lalu para keponakan hanya melihat: saya justru paling enggan terlihat khusuk sembahyang saat saraswati tiba. Tumpukan buku saya, dan semua yang saya memiliki secara fisik; seharusnya saya membuat odalan besar. Nyatanya, saya hanya menghaturkan dua buah banten saraswati; satu kepada Sang Hyang Taksu, kedua pada Sang Hyang Jnana. Berdoanya dalam hati. Contoh yang tidak baik bagi semua keponakan, yang tentu akan memprotes bila kesempatan tiba. Kecuali saat saya ke rumah kakek, saya sesekali menengok sisa-sisa lontar yang ada di beberapa bale; hanya menengok. Memastikan apakah sudah remuk ataukah belum. Dan hingga kemudian di rumah kakek; tradisi ngodalin aksara kembali dilakukan dengan meriah. Tiba-tiba saya tercenung saat akan mencakupkan tangan. Sepulangnya, itu terjadi tiga atau lima tahun lalu, saya mencari catatan itu. Bukan plakat itu. Betapa sesungguhnya banyak ragam pemujaan kepada Sang Hyang Aksara, yang saya suka adalah dari tradisi tua; yang populer di kalangan pemangku yang ketat sifatnya, itu pun tidak semua pemangku serius utuh menyanyikannya saat pemujaan kepada Sang Hyang Aksara, saya buka catatan:

Mantra ring Sanghyang Saraswati

Om Saraswati namostu bahyam/ Parade kama rupinii/ Sidi rastu karaksami

Siddhi bawantu mesaddham

Pranamya sarwwa dewasca" Paramatma namawanca" Rupa siddhi karoksabet

Saraswati nama myaham

Padma patrewima laksmi" Padma kesari warnni" Nityam padma laye dewi

Tubyam namah saraswati

Kaywam wyakaranam" Weddha sastra puranakam" Kalpa siddhi tantrani

Tatprasadat karosabet

Dalam pemujaan yang serius kepada Sang Hyang Aksara, ini penjelasan nya kepada saya, oleh seorang pendeta yang menjadikan Sang Hyang Aji Saraswati sebagai salah satu pegangannya dalam memimpin kawikuannya. Menjelaskan kepada saya mengenai : Panca Saraswati Astawa. Itu disampaikan ketika saya mulai kuliah dan saya itu senang belajar apa saja, termasuk membaca kitab-kitab suci berbagai agama. Ibu saya walau cuek, selalu mencemaskan; jika anaknya nanti berganti agama dan kamu kelak menjadi tamu pada hari kematianmu. Panca Saraswati ini masih saya temukan catatannya dengan mata berkaca-kaca, tidak juga bisa saya hapal-hapal, dan tentu saja bagi yang belum diwinten: ini kata pendeta yang sudah lebar itu: ucapkan ini: Ong Byaksayam Ludra Maheswarasyayam namah ya namah swaha//0//---beberapa kawan karena begitu taatnya, kadang menyampaikan kepada saya; kan dia belum diwinten agung, kok boleh membaca yang ‘maha suci?” padahal, siwa sidhhanta itu jelas tak pernah membatasi, siapapun yang hendak membasuh dirinya dengan pengetahuan tinggi, caranya ya itu; mencari pijakan awal;

Om sweta mara narandiwi/Sweta puspa prihandiwi

Sri sri tameng sasraswati//0//

Om rakta mara narandiwi/ Rakta malya panam/Rakta puspa prihandiwi/Sri sri tameng saraswati/Om pita mara narandiniwi/Pita mara malyapanam/Pita puspa prihandiwi/Sri sri tameng sasraswati//0//

Om pita mara narandiwi/Pita mara nalya panam/Pita puspa prihandiwi/Sri sri tameng saraswati//0//

Om kresna mara narandiwi/Kresna mara malya panam/Kresna puspa prihandiwi/Sri sri tameng sasrswati//0//

Om wiswa mara narandiwi/Wiswa mara malyapanam/Wiswa puspa prihandiwi/Sri sri tameng saraswati//0//

Dan selalu persoalan ini bagi yang diperantauan akan ditanyakan. Soal air suci, sesungguhnya kalau titik pijaknya sesantai ibu saya, akan mengenal hal ini: Panuhur tirta Ida Sanghyang Saraswati

PukulunSanghyang Siwa raditya/Sanghyang sasangka/Sanghyang :Lintang Tranggana/Manusa nira analuk tirttha/Mahning Sanghyang pustaka jati/Om Sarayu Saraswati Narmmaddha.....dstnya.

Saya tersenyum, entah mengapa hari ini, ibu saya dan masa kanak itu, justru menghadirkan dewi pengetahuan itu bukan sebagai patung cantik; tetapi inilah hari mengenai pengetahuan tertinggi beserta penjelasannya, gunakanlah bagi orang bijakasana, pengawi, yang ingin belajar segalanya, mengetahui aksara di bhuwana alit, dan bhuwana agung, mengetahui dalam wariga, usada, tutur, agama dan seluruh intisari dan seterusnya itu, dengan mempercayai hidup itu tak pernah keliru, dan selalu dunia ada surga yang dapat engkau patut ciptakan dibumi asalkan engkau tahu mengenai keagungan pengetahuan. Maka semuanya adalah bibit kebaikan dan bernafaslah dengan kedamaian. Usah mengingatkan orang lain, semua memiliki kadarnya, cukup yakinkan hatimu; udara hari ini lembut dan menenangkan hati. Santai ya bu? Ibu saya tersenyum: nak mebrata, pasti silib. Amun masolah wau tinggar!

Naskah Arja Siki Bapaku Matahari, Ibuku Bidadari

ARJA SIKI
Proses saya kembali mencoba memahami Arja Siki, tidaklah mudah. Sebab ketika saya memulai melakukan penelitian di tahun 2005, hanya berdasarkan cerita para orang tua yang sempat melihat dan menonton kehadiran Arja Siki itu disekitar tahun1930-an sampai tahun 1959-an. Kondisi ekonomi Bali saat itu membuat banyak orang tak bisa lagi melanjutkan kelompok seni pertunjukannnya, sebab tidak ada uang untuk mengupah tampilnya seni pertunjukan. Karena itu, muncul kreasi Arja Siki, yang hadir di pasar, di tenten dan pasar malam; berbekal kadang kemong, kendang, bahkan kadang hanya bambu; para pragina bertutur berbagai kisah dengan tembang dan lelucon, tanpa busana panggung, kadang mecapil dan kadang hanya memakai gelung. Kisahnya pun tidak utuh, kadang seperti barisan tembang yang menggugah orang di pasar sekedar terhenti, lalu menyahuti. Arja Siki walau mengambil tembang-tembang dari khasanah pengarjaan, sejatinya tidak lagi menggunakan pakem arja. Hampir merupakan ekspresi bebas dari keadaan yang tengah membuat seni pertunjukan tak bisa manggung, sebab ekonomi tahun-tahun itu memang sungguhlah sulit. Pada tahun ini, tahun 2015. Untuk mencoba Arja siki memberi jejak, terutama bagaimana proses ‘rekontruksi’nya ke wilayah panggung, setelah dengan Bahaya Bukan Racun Tembakau, kemudian naskah Presiden Tonya, kini di festival nusantara bertempat di Toya Bungkah, Kintamani Bangli-Bali, saya menyusun naskah berjudul Bapaku Matahari, Ibuku Bidadari.  Sebagai tanggung jawab saya dalam proses kreatif. Naskah sederhana ini, pola cara menuliskannnya meniru bagaimana ‘sket’ cara penulisan naskah tahun 50-an, yakni antara narasi dan dialog (tembang) disatukan, dan saya mencoba menyusun tembang bebas (seperti itikad keberadaan  Arja Siki itu: bebas) maka saya mencoba menyusun tembang dalam bahasa inggris, indonesia dan bahasa bali, gaya japjapan.


JUDUL NASKAH :BAPAKU MATAHARI, IBUKU BIDADARI

PEMAHBAH

(SOLAH PRABANGSA/ KELIES penasar)

TEMBANG JAPJAPAN:

Om swasti astu, om awignam astu.  Mamitang  lugra atur pangubaktin titiang ring idapakulun batara batari sane malingga iriki. Tiang nembe pedek tangkil. Nunas panugraha, paswecan ida, mangde sami sadya rahayu. Nemu ning kayun. Pakedek pakenyung.

(MEDAL kelies DEMANG-DEMUNG/ angsel penasar)

Puniki titiang ngaturang arja siki, sane dumun kasumbung ring jagat Bali, nanging mangkin sekadi sasenggak luas belus tuh ilang. Titiang belog malih ajum, purun jamprah ngewangun malih, mangde ida dane sareng sami nenten menggah piduka. Mangde nenten ical, puniki warisan seni; sane mawasta arja siki. Yen sane pidan, titiang ngundar bilang pasar. Kadenang buduh sing ngelah tongos mesayuban. Tunasang titiang hujan lepeg mangde polih kenyeman. Katundung ulian lacur, mangkin tiang sampun dados juru parkir, juru dayung ring sagete dados guide dadakan. Iriki ring batur mula kamulan jagat. Pulina Bali pulihin pisan.

Titiang puniki asli wong gunung, lekad mentik neruna iriki. Ben jengah wenten festival, tiang pongah juari ngaturang sasolahan. Wiadin ten becik jeg tunas tiang tepuk tangan. Apang semangat buin ngilangang bayu nurdar.

Mapan titiang jagi ngojah pemargin sane lami, duk tan hana paran-paran, naweg jagate kantun suwung mangmung ring nusa bali. Duk punika mawasta walipura. Gelgel ring kampare saking sesaji sekar metumpukan. Dados lelemekan, mentik i punyan cendane.

Ida dane, semeton sami

Welcome to nusantara festival, at toya bungkah, kintamani bali

Tonight, i'm going to tell you a very old story...
I am pologize before, if  iam wrong
In the past

In this place, day or night is not exist.
There is no life, there are only lines of frangrant trees.

Appealed by the scents, the angel flies close approaching this place.

the sun is my Holy Father, the Angels is Holy Mother

was raised by the fragrance and the eruption of the volcano gives me a lake.

Now
My mother rides a golden dragon, my father gives 4 lakes;

thus is essence of me




BATANG -- ISI

(MAGENTOS GELUNG, TETIKES MANTRI BUDUH, TEMBANG DANDANG GUYU)

Perkenalkan saya, saya ini matahari. Mahluk agung yang paling dicintai Hyang Widi Bahkan siwa, jatuh hati. Memberi gelar yang sama pada saya; surya raditya

Nama kecil saya srengenge, sebab mata saya cemerlang dari awal mula Itu sebabnya saya ditugaskan untuk membagi cahaya

Saya tegaskan, saya ini paling tampan di semesta

Seluruh penghuni kahyangan tergila-gila pada saya

Tapi saya bukan lelaki gampangan

Tak mudah saya jatuh cinta

Sungguh hati saya diliputi kesepian

Dan sepi tak pernah sendirian

(GIMICK, GESTURE, SAAT BIDADARI TURUN DARI KAHYANGAN)

Seorang bidadari tengah terbang rendah, mencari-cari sumber keharuman di bumi.  Sungguh kagum dia saat menemukan sumber keharuman yang terkuat berasal dari sepulau kosong tak berpenghuni.  Segera ia menjejakkan kakinya ke tanah, menghirup keharuman sepuas hati. Berputar-putar berlarian diantara barisan pohon-pohon yang tak putus-putusnya mengeluarkan bau semerbak mewangi.

(TANJEK GALUH, NGALEGONG GUYU)

Matahari
yang sepanjang waktu bertugas menyinari bumi, mengeringkan kelembaban, hari itu sungguh terkejut melihat kelebatan perempuan jelita yang tengah menyusup diantara pepohonan, dengan penuh rasa ingin tahu matahari melepas sinar cemerlang dari kedua bola matanya. Dan sungguh hatinya terpesona melihat kecantikan perempuan jelita itu. Dengan jenaka diikutinya gerak perempuan itukemanapun di pulau itu. Hingga perempuan itu sadar dan merasa diintip dan terganggu:

Sapa itu yang berkelebat diantara pepohonan?

Bayangannya menusuk mata

Jantung bergetar, hati gundah gulana

(NABDAB BUSANA LAN GELUNG)

Bidadar itu  pun tersentak, menyahut dengan kesal:

Iiih,
“Duh, dewa ratu ngude jro-ne
Pongah juari ngintilin tiang

Tosing nawang tata krama

Tata susila dadi betare”

Karena terkejut dituding tiba-tiba, matahari menyurup jauh ke angkasa. Bidadari itu lega, karena mengira bebas dari gangguan, kembalilah ia bersenang-senang, setengah melayang menembus pohon-pohon;

Uli dije miiik teke

Engken puarane dadi mesuang miik

Nyen ngajahin i dewa jak makejang

Kanti langite kapompong...

Ngalub nuek kahyangan




(PAUSE. TEKNIK MUNCUL DEMANG GUYU)

Lagi, matahari mendekat, membuat bidadari itu tersengat cahaya, ia berlari dan matahari mengejar dengan sinarnya, hingga dentam kaki bidadari akibat berlari sekuat tenaga membuat tanah terbelah, retak, dan batu-batu bermunculan, gunung tinggi menggeliat dari muka bumi. Goa-goa terbentuk. Bidadari itu berlari, menghindari kejaran cahaya, lalu sembunyi di sebuah ceruk dalam goa.

Disana sang matahari kehilangan jejak, kelimpungan melempas cahayanya: lalu pelahan menyapa dengan suara sedih: (petikan tembang bladbadan/ dukuh seledri)

duhsasuhunan sang kadi ratih

cingak ratu tiang

dumadak ledang kayune

ngicen titiang pamayuh

pangi kaput dong olasin

titiang maboreh tangkah

buwat ring i ratu

madon jaka makaronan

cedok sanggah

mamanah pacang ngelanting

don biu tuh nemuang raras

masaratang ngalih engket angi

nadaksara
majukut dinatah
lelor antuk ulangune
bin pidan ratu kayun
belus lepegan ngeyemin
meh sampun makunyit dialas
matemu titiang nyadia memarekan
mangaula
dong ngiring matali besi
Nganten sabanen festival



Bidadari yang kesal, dengan judesnya menjawab:

Iiih,
kamu...

Belum
apa-apa ngajakin kawin

Enak aja emangnya saya apa-aan...

Pergilah,
pergi jauh jauh ke laut sana

Saya bahagia sendiri

i am single but
i'm happy.

being single is my choice, so, dont disturb me!

Please...


Matahari tidak mau menyerah, memperlihatkan wujud ketampanannnya:

Duh adi,

Mas mirah ede je nakutin lelakut

Alah kedise pakeberber

Nang sayang tiang sayang, sayangang tiang

Sayangang

Osing luung padidian digumine suwung

Keneh mangmung nyanan bingung

Magih matali besi ajak tiang...



Bidadari itu, melengos kesal:

Why you disturb me?

What are you? you dont have an attitude

Love is not easy, i am single but happy

Enjoy  my lonely life

Please, go away from me

If you dont

I am angry......




Matahari terus bergumam, cahaya menebar memenuhi permukaan bumi, mangkin mendekat, makin menguat cahaya itu. Pecah gelombang gelombang sinar, gunung meledak lahir empat danau. Bidadari itu mengendari naga emas, kecipak air terdengar.

My Holy Father the sun

My Holy Mother the angel

Now

I am here.



(TEMBANG PAMUPUT) TELAS
Naskah ini hanya sebagai pemandu. Prosesnya akan sangat tergantung dengan situasi penonton. Untuk pentas tanggal 16 AGustus, Jam 18.00 Wita, di Toya Bongkah, Kintamani, Bangli- Bali, Arja Siki berjudul Bapaku Matahari, Ibuku Bidadari akan diiringi sekeha geguntang Manik Suari, pimpinan  Pak Mandra, Penata Busana @ Adi Siput Mkp.