Showing posts with label Tradisi. Show all posts
Showing posts with label Tradisi. Show all posts

Agama Hindu Bali

PENYINTAS DARI ERA PURBA HINGGA ERA DIGITAL

Sengaja judul yang saya pilih,sengaja provokatif, tapi tujuannya adalah untuk mengenalkan kepada banyak para pihak, yang kalau bicara soal Agama Hindu Bali- sebagai minoritas, yang kadang dikolomkan sebagai 'yang masih berhala' atau bahkan oleh beberapa orang (kelompok tertentu  penganutnya sendiri; yang mulai dirasuki perasaan rasionalisasi dalam konteks religius; mengira agama Bali ini perlu 'diindiakan'.

Pada tahun 1980-an, sebuah manuskrip ditemukan (kali ini saya tidak menyebut lontar, agar sepadan dengan gaya-gaya penemuan spiritual di belahan dunia lain, kalau menyebut manuskrip otomatis sahih); manuskrip ini bernama Padma Bhuwana, yang isinya: "Nihan katattwaning bhuwana alit, katunggalang ring katattwaning bhuwana agung, mangkana pidartanya. Nihan mulaning pulo Bali ring usana, katama tekaning mangke,mawit Icaka 85, tat kalanira Sri Aji Candrabhaya umadeg ratu jumeneng sira ring Tampaksiring irika anangun kahyangan ring Besukih" -- Jadi disekitar tahun 163 masehi ritus di gunung agung; Pura Besakih dan Pura Pasar Agung telah dilakukan dengan mapan, artinya peradaban Bali telah mulai dengan 'agamanya' bandingkan kemudian dengan ritus Batur Purba, yang justru jauh lebih tua; dan bolehlah ditengok pembuktiannya ini pada ritus-ritus yang masih hidup dan berlangsung pada desa Trunyan. Boleh bandingkan dengan angka tahun secara antropologis bagaimana agama-agama monoteis mulai dinyatakan ada! Jika tahun 163 Masehi itu ditempatkan tua, maka ritus Batur Purba sungguh-sungguh sangat tua.

Pada tradisi Gunung Agung, terutama pada Pura Pasar Agung, ritus nangluk mrana adalah bukti yang terkuat bahwa agama Bali ini memang tangguh dan kokoh melewati berbagai kepengaruhan yang berdatangan kemudian; baik era yang diklaim sebagai pengaruh Rsi Markandeya, yang mewariskan ritus Pancadatu dan kemudian Era Mpu Kuturan yang membangun hubungan negara dengan agama; dalam Tri Kahyangan. Namun penyintas dari ritus purba dan pasar agung ini bertahan dan menjadi dasar pertumbuhan agama Hindu- Bali sampai kini. Sebelum era Trilinggagiri, jejak kuat akan siwait mengenai penetapan tiga gunung sebagai lingga suci. Maka di pura pasar agung tiga buah Gedong yakni Gedong Merana Watek Bikul, Gedong Merana Watek Perit dan Gedong Merana Watek Uler. Ketiganya akan mengalir dalam tradisi Nangluk Mrana, juga berbagai Ritus Usabha yang bertebaran hingga kini dilaksanakan diberbagai desa-desa tua dan madya; dengan waktu dan ketentuan yang sesuai dengan hasil sumber daya alamnya.

Kemudian Ritus Nyepi, yang kini dimodernkan dengan peringatan tahun Icaka; padahal ritus nyepi adalah ritus penyintas yang paling memukau dari warisan Agama Bali. Perhatikan manuskrip ini; " ....brata penyepian lwir sawung anggeram anda, yan tan panes awaknya tan lumekas ikang anda. Yan tan sepi ing idep, sepi ing pamrih, sepi ing gawe, Tan molih Yoganta, iki ngaran penyepian. Ingon-ingon Dewi Mas Ayu Danu kang gineseng dening apwining giri Tolangkir, mangke juga pamarisudha ning ingwang. Poma, poma, poma. Ulu ning bawi manadi mrana tikus, walungnya manadi walangsangit, jejeronnya manadi mrana tan pasangkan. Yan pageh samanta ratu ngamong rat, rong puluh tahun sapisan hane mrana walangsangit hana mrana tikus. Yan tan pageh tan wilangan dina mrana tan pasangkan dateng. Iki rungwakna, bhuta kala katung pinaka pangsranan pasar, soang karya ring Basukih atakwan pwa ring pasar agung, yang tan prasida kabehan, ke wala jejaton juga wenang..."


Ritus Nyepi ternyata berkaitan erat kepada pemujaan Dewi Mas Ayu Danu (Danau Batur), ini sebuah pertanda penyintas kuat dilewati oleh ritus Batur Purba ketika era penetapan Trilinggagiri (masuknya siwait), Tradisi nyepi juga berkaitan dengan Kaki Patuk dan Nini Patuk, sebutan mulia sebelum Gunung dan bumi ini disiwakan dan diumakan. Kemudian pemujaan di pasar adalah kepada Ni Bhuta Kala Katung sebagai dewa pasar; dan bandingkan era Nirartha hingga kini yang menggantikan pusat pemujaan di pasar dengan sebutan Pura Melanting. Dan melewati dekade demi dekade, hingga ketika berjejer dengan era hubungan Bali dan Jawa Timur (era Airlangga), rintisan Markandeya diperkuatkan dengan kejenialan Mpu Kuturan; sesungguhnya ide adanya keharmonian dan kemartabatan posisi 'agama dalam kelembagaannya' dalam negara; agar tidak saling tumpang tindih ditemukan dalam konsep Kahyangan Tiga; jadi membumikan ketakutan akan surgawi yang rigid itu dilakukan dengan luarbiasa; ini akan dapat diperbandingankan dengan era lebih tua; yakni bagaimana pola sistem sosial dalam masyarakat Bali Aga (Agra= pegunungan) yang hingga kini nampak di Desa Tenganan; jauh mendahului dari mimpi sosialis modern.

Di milineum ini, agama Bali ini makin jelas perwajahannya di era digital; trend ketertarikan kepada yang lampau oleh jepretan kamera,misalnya, pertukaran informasi yang cepat, memberi ruang penjelasan;bahwa agama-agama tua itu memiliki manuskrip-manuskrip yang setanding dengan keketatan monoteis, dan pewarisannya melalui genetika ingatan.

Dengan bahagia; penyintas ini telah tiba melewati milineum, dan memberi wawasan dan teguran untuk tidak tergopoh-gopoh mencari padanan pada tradisi-tradisi lain dan cara pandang akademik yang membedahkan dengan alam pikiran struktur monoteis, atau menyeragamkan tanjakan dan turunannya; yang jelas, tidak pada soal mencari tuhan, tetapi pada proses mengenai daya tahan untuk hidup dalam keharmonian menjadi kabar di akhir tahun, sekaligus menjawab; untuk tidak sebatas berduka dan marah atas 'pengkelasduaan' atas segala macam keyakinan yang bukan dari monoteisme.

Hal lain, bagian yang menakjubkan dalam Agama Hindu di Bali; yang luput dari pengamatan dan barangkali tidak disangka menjadi tonggak penanda yang paling khas, dalam ritus-ritus kecil maupun besar, yang sifatnya pribadi maupun bersama, ini disebut ‘Sehe (Sasonteng, Samudana),  mantra dari era ritus purba ini penyintas yang mengalir dari era ke era melalui pewarisan 'genetika' ingatan. Salah satunya, adalah 'sesapa', semacam ucapan karib di saat upacara Tumpek Ngatag (Bubuh), 25 hari sebelum hari raya Galungan, sesapa ini disampaikan sebagai penutup persembahan kepada Sankara, dewanya tumbuh-tumbuhan," Kaki-Kaki, tiang mapengarah, malih 25 dina Galungan, mabuah apang nged-nged," -Sankara yang mengingatkan kepada para pemeluk Siwait dari garis Sidhanta adalah nama Maharsi yang menjadi awal adanya mashab Sidanta, dan itu nama lain dari nama Siwa. Namun secara mengejutkan dalam konteks perayaan Galungan; ada yang namanya Sang Dewa Penunggun Karang yang justru menjadi pusat tujuan upacara tumpek ngatag itu; yang diyakini jika tidak dijaga dapat berubah menjadi Sang Hyang Kala Raksa.

Yang harus diperhatikan adalah bagaimana penyintas; bait-bait suci dari ritus purba ini, pujaan dan kemudian pola komunikasi yang disimpan dalam kode-kode yang sangat jenial; Pada wilayah danau Batur Purba, pada bekas cekungan lava yang kini telah mengering, sebagian telah menjadi empat danau, dan beberapa kepingnya kini menjadi pedesaan, dimana salah satu sudutnya ada Desa Trunyan, yang secara arkeologis sangat tua, jauh lebih tua dari tradisi Gunung Agung, desa itu masih hidup dan menjadi penyintas yang tangguh dengantradisi pemujaanya kepada Batara Da Tonta, Batara Pancering Jagat.

Di sana dalam ritus besar dan kecilnya tidak akan menggunakan Pedande dari ranah Hindu seperti yang dikenali dalam upacara-upacara besar keagamaan di Hindu Bali. Para pemuja Sang Dewi Danu Batur, yang dibayangkan berkendaraan Naga Emas itu, melanjutkan tradisi ritus dengan 'mantra' yang mewakili keagungan bait suci purba; berbagai desa Bali Aga dalam wilayah 'bintang danu Batur" ataukah disebut Wanua Batur; suatu tanda akan 'pemagaran' akan tradisi religi yang berbeda dengan Hindu di Bali pada umumnya, masih menjaga tradisi adanya 'pendeta' yang menjadi bagian struktur pemerintahan 'kahyangan' di bumi ini. Yang mewariskan mantra-mantranya secara rahasia, bahkan kadang diluar kemampuan untuk memahaminya. Para pemimpin upacara dalam tradisi ini adalah penghubung dengan yang dipuja; dipilih oleh inspirasi suci dan ada pula karena biologis- genetik. Begitu pula di berbagai desa Baliaga lainnya, termasuk Desa Tenganan. Mantra mereka: sungguh penyintas yang luar biasa. Sebab ketika Sang Kulputih, sebagai perbandingan-era Markandeya, mulainya datang 'mantra' yang jika diamati dengan sangat teliti, penandanya dengan banyaknya menggunakan pengucapan huruf suci dari apa yang disebut kini Dasa Aksara; bersanding dengan kode-kode dalam tradisi bait suci tantrik purba; Phat, Rang, Rih....dst , kelegendarisan pengganti Markandeya itu mulai mengenalkan tradisi banten yang lebih detail dengan mantra-mantra yang hingga kini menjadi dasar kepemangkuan di Hindu Bali; menunjukan ada perbedaan besar antara era mantra ritus wanua Batur, Bali Aga dengan yang ada dalam tradisi Kitab Suci SangKul Putih, yang menjadi penata Pura Besakih, dia yang mewariskan tradisi upacara-upacara besar dalam tradisi ritus di area Gunung Agung yang kemudian diiikuti oleh seluruh wilayah Hindu Bali. Dan ternyata penyintas dari bait suci yang lebih tua dihadirkan dalam bait-bait suci tradisi Sangkul Putih, termasuk dalam ritus air di matair yang ada di gunung agung.

Penyintas dalam bentuk Bait Suci ini secara menakjubkan kini tetap hadir di era Bali Hindu Modern ini, walaupun dalam tradisi kepemangkuan; mantra-mantra Sang Kul Putih kemudian bertemu dengan Tradisi Bait Suci Kusuma Dewa, tetap menunjukan hadirnya penyintas Bait suci, yang hadir dalam kode-kode yang dikolomkan sebagai 'sehe' ditengah kekhusukan pengucapan mantra yang mulai membaitkan sankrit dan kawi kuna.Bahkan ditemukan pula dalam mantra piodalan yang dilakukan oleh para pendeta Budha; pengucapan sela; bait suci bergaya sehe ini mengisyaratkaan sebuah pelanjutnya menjaga kehadiran bait suci dari kelampauan.


Penyintas yang hidup melalui berbagai perubahan zaman, dari era Singhamandawa misalnya telah mengisyaratkan adanya sebutan Hyang Api, Dapunta; dll bahkan manuskrip-manuskrip yang sahih dalam bentuk tradisi modern (disebut Prasasti) mulai menyebutkan adanya tata krama religi jelas mengisyaratkan pengaruh kebudhaan dan kesiwaan, ada sebutan dang hyang; Mpuku; kubayan, dst ; semua itu jauh sebelum era Airlangga (kadiri-abad 7). Wanua Batur Purba saya nyatakan menggugah ingatan mitologi yang ditemukan di Eropa; Dewi Danu berkendaraan Naga Emas melahirkaan tradisi ritus yang dalam struktur organisasi desanya sebagai pembayangan akan 'kerajaan kahyangan' yang di bumi. Jarak dengan tradisi Batur Purba ini hampir melewati ribuan tahun, bandingkan kemudian era Sangkul Putih dengan Singhamandawa hanya berkisar 700 tahun-an. Dari era ritus Naga ke era Singha; Mungkin terburu saya menggunakan jarak waktu sebagai tanda bagaimana penyintas hidup dan mengalir melalui bait sucinya, mendampingi datangnya; sebagai contoh, ketika kini orang bali di saat Galungan melakukan upacara Ngayab; maka sehe untuk diri, walau mengutip sehe dari era jayakesunu, namun yang memukauadalah bahwa era kekuasaan " keluarga Jaya" dari kurun Bali Madya ini; melanjutkan tradisi sehe dari mantram yang lebih tua: "Om Kaki bra Galungan, Bhatara Kala Bhatara Jabung, Bhatara kala Amangkurat, Sang Kala Enjer Sang Yamaraja, Kaki sang kala nadah, aywa nadah pun 'anu', apan pun anu, samakira, angion kararon tkalawan sira, pun 'anu' sih asanak kalawan sira, sira asih asanak ring pun anu,.....dst" bandingkan kemudian pola mantra yang dikenali sebagai berikut dalam upacara bayi: "pakulun bhatara Brahma, Bhatara Wisnu, Bhatara Iswara manusa ira si anu anglepas aon ipun i bhatara tiga, pakulun anyuda letuh ipun, teka sudha, teka sudha, teka sudha, lepas malan ipun" - walau sudah menyebut tri murti, sebutan di depan dan di belakang; pembuka dan penutup memberi isyarat kuatnya penyintas dari tradisi mantram purba hidup mendampingi; kode penyebutan 'anu' dan 'pakulun' kemudian menyebutkan 'kaki' sebagai tanda penghormatan, menunjukan penyintas dalam rupa bait suci sangat agung memberi kemisterian pada tradisi ritus mantra di Bali yang memang kemudian tidak bisa disamakan dengan tradisi pengucapan mantra di India atau di belahan dunia manapun yang kini sering berupaya menyama-nyamakan dengan gaya pemikiran' keuniversalan Hindu. Di era abad 15 sangat dekat dengan era kekinian; bagaimana upaya Nirarta untuk memperkuat liturgi dalam upacara-upacara termasuk penguatan posisi Pedande; dengan mantram-mantram yang silih berganti mengisyaratkan kehinduannya melalui bait suci kata sanskrit,namun tetap penyintas yang agung hadir justru dalam titik-titik penentu, di semua upacara; mantra purba ini meretas mendampingi era Markandeya dan Sangkul Putih, kemudian Era Singha Mandawa, meretas lagi ke era Nirartha dan Astapaka, hingga kini, penyintas ini; dalam kekuatan bait suci, jarang benar dijadikan penanda; bahwa tak ada yang tiada hingga ketiadaan itu tiada. Yang anggun adalah bagaimana proses penyintas ini meretas dan tidak dalam posisi yang tertindas, namun justru menjadi bait keagungan; bahkan hingga di puncak-puncak gunung, lembah dan bukit tertentu, banyak benar; upacara yang tidak menghendaki mantra (yang berbahasa sankrit), namun meminta sehe. maka tahun boleh berganti, cara pandang boleh berubah, tetapi penyintas dalam ritus bait suci ini mewakili keabadian dan penjaga harmoni pertumbuhan peradaban agama dalam Hindu di Bali.


(PETIKAN DARI PROSES PENULISAN BUKU GAMA BALI, cok sawitri, bekal sabar jika ada yang menghina keyakinan ini)

Mengenali kembali & Mengenang Tradisi Tapa Brata Hindu BALI

Ditengah arus trend spiritual berlabel universal, ditengah upaya rasionalisasi apa saja mengenai tindakan keagamaan; kemeriahan penerbitan berbagai buku agama dan kemegahan perlengkapan upacara agama; Kritik terhadap umat Hindu Bali selalu adalah pada banyaknya upacara yang dilakukan.
Padahal, upacara bagi umat Hindu Bali adalah salah satu bentuk ‘brata’, pelaksanaan dari tapa; upaya pengendalian diri, meluangkan waktu, mengorbankan kesenangan diri untuk menumpahkannya pada proses menyiapkan hingga mempersembahkan sesuatu yang diyakininya.

Setiap agama memiliki keciriannya. Tentu saja, yang berkutat pada argumen itu masih saja akan dipertanyakan oleh yang tengah dilanda trend spiritual universal ataulah yang memasuki fase bulan madu dengan rasionalisasi agama, pertanyaan mereka : lalu bagaimana ‘ pengisian kedalam diri?’, sebab upacara dengan proses persiapannya lebih banyak didikannya pada ‘sekala’,  sedangkan yang kelahiriah begitu rapat ribetnya, lalu bagaimanakah dengan pengisian yang kedalam diri? Yang kebatiniah? Hampir dipastikan, banyak yang hebat mejejahitan, rajin menghaturkan sajen, tetapi tidak tahu maknanya.

Begitulah silang pendapat, kritik dan jawaban sahut menyahut. Bahkan seringkali yang hanya berbekal pengetahuan buku ‘penerbitan’ akibat rasionalisasi agama, yang berupaya meniru pola dogmatis; kadang mencetuskan bukan hanya kritik tajam, tetapi kadang mencela agama hindu bali. (maaf, saya jujur saja mengungkapkan ini).

Dalam kesempatan ini, masih dalam rangkaian Galungan Kuningan, saya sengaja meluangkan waktu menemui beberapa orang tua dan membaca secara hati-hati beberapa refrensi (salinan lontar) petunjuk pelaksanaannya mengenai ‘pengisian ke dalam diri’ yakni yang dalam tradisi spiritual agama Hindu bali disebut tapa brata, yang sebenarnya kategori jarang dibicarakan, jarang diungkapkan kepada umum, sehingga pewarisannya menjadi sangat terbatas, namun menghadapi gejala trend maraknya laku spiritual universal ataukah yang spiritual kesurupan; ada baiknya, saya pikir; menggugah dengan tulisan kecil ini, bahwa Hindu Bali sangat kaya dengan jenis tapa brata; jadi tidaklah elok jika dicari-cari pada kebiasaan agama lain ataulah sekte lain. Agama Hindu Bali telah memiliki tradisi puasa, yang berjenis-jenis dengan kuta mantra, aturan, tata krama; yang memang itulah jalan keyakinannya.

Tapa demikian diartikan sebagai upaya untuk mengendalikan diri; ada enam musuh dalam diri yang akan terus menerus memusuhi diri manusia dan kemanusiaannya; itu dari  moha, krodha, lobha, mana, mada dan harsa. Keenam musuh ini diterjemahkan sebagai nafsu, amarah, lobha, kesombongan, mabuk, dan bersenang-senang secara berlebihan. Keenam musuh  tersebut akan selalu menggoda manusia, itulah keyakinan Hindu Bali; bahkan disaat akan melaksanakan upacara sekalipun; keinginan membuat upacara besar-besaran tanpa mengukur kemampuan diri, atau  mabuk akan jabatan hingga melupakan etika: dst; sekalipun nampak indah dan mengagumkan dihadapan pandangan orang lain, namun jika tidak berhati-hati; akan memasuki area kekalahan oleh sad ripu itu sendiri.

Semoga direnungkan, jika Moral itu adalah kesepakatan sosial; kesepakatan bersama mengenai hidup dalam kebersamaan, namun meningkatkan moral dan mengendalikan dirilah; itulah tujuan keagamaan Hindu Bali dalam kerangka keharmonian. Karena itu dikenalkan apa yang disebut diksa, jalan kesucian dan brata, yaitu pengendalian indria; bahwa tidak ada satu orang pun akan luput dari kesalahan, tak satu orang pun akan terbebas dari janji karmaphala. Karena itu upaya untuk menjalani kehidupan dengan optimis di jalan suci dikenalkan tapa brata.

Dalam tradisi Hindu di Bali; dikenal pembratayaan, ini adalah tindakan dari tapa; brata; jadi jika dalam kisah-kisah suci itihasa, dikisahkan seseorang menyepi ke gunung, ke suatu tempat, menjauhi keramaian untuk bertapa, maka itu setanding dengan jika dengan penuh kesadaran dan berkeyakinan; menuangkan keinginan tapa itu dengan ‘tindakan’ brata.  Ada sekitar 36 jenis brata yang saya teliti, yang jelas-jelas menjawab pertanyaan kaum spiritual universal maupun yang merasionalisasikan keagamaannya; bahwa tradisi Hindu Bali memiliki tatacara bahkan tatakrama dalam mewujudkan ‘sang ayat’ suci itu dalam tindakan dalam kerangka menyucikan batiniahnya, yaitu kesadaran akan diri bahwa pastilah tidak mungkin menghindari kesalahan, maka brata adalah penyeimbangnya.

Dari 36 jenis brata itu, yang menarik perhatian saya adalah brata nyarining galungan; hampir ada di tiga refrensi kategori pitutur, artinya kategori ajaran suci yang saya baca; bahwa perayaan galungan yang begitu panjang rangkaiannya juga ada yang disebut dengan brata nyarining galungan; saya kutip  dalam kesempatan ini tetapi tanpa kuta mantranya; “Ana brata nyarin galungan. Abanten sarimpen. Sawiji sowang. Henah-akena ring hareping sanggar Kadi kramaning banten kang lagi. Kang ring tengah wuhana burat wangi, lenga wangi. Mwang beras kalih catu, harttha, 225. Pinuja sapari krama. Angabhakti. Wusing angabhakti, amangan sarimpen. Ryuwusing amangan sarimpen, amangan sakawana…dst” Brata ini menjelaskan bahwa bukan hanya persiapan persembahan sajen dan prosesi upacara saja yang dilakukan namun juga ada yang dimaksud dengan brata galungan yaitu dalam bahasa gaul; bagaimana menghisap sari pati kesucian galungan itu, untuk kebaikan diri, manusia, kemanusiaan, dan jagat raya. Dalam pelaksanaannya brata ini juga disertai pengucapan kuta mantra; proses inilah yang biasanya memerlukan konsentrasi, keiklasan dan kesabaran. Dalam tradisi Bali, kuta mantra tidak dapat disebarluaskan secara terbuka kecuali kepada yang meyakini dan akan melakukan kesadaran untuk bersetia melakukan brata tersebut.

Kemudian brata yang lain, saya pikir ini sifatnya umum dan penting bagi generasi muda yaitu brata Aji Sasrawasti: “byasakena teka ning dina, saniscara, umanis, watugunung; CA, wetoning Saraswati, saprakara ningbanten, sarwwa suci, tan kari bubur precet, bubur prajnan, bubur cendol, saraswati saha hasep, menan cendana, prasiddha prajnan kita, ping 7 anjadma, tan kahilanganing saraswati, byasakna, ping 7, ring dina samangkana;…dst lalu petunjuk ini dilanjutkan dengan kuta mantra. Dalam lontar yang lain akan ada tata caranya melaksana brata ini. Biasanya, sekolah-sekolah di Bali pada Hari saraswati melaksanakan persembahyangan bersama; ini seperti umumnya persembahyangan yang dikenal, sehingga kemudian menimbulkan pula sikap kritis dari kaum spiritual universal, seolah-olah itu semata kegiatan formal semata.

Kemudian sederet brata lainnya; hampir 36 jenis memberikan gambaran mengenai betapa meriah dan mendalamnya perilaku spiritual agama Bali, yang kini memang jarang dilakukan bahkan mungkin banyak yang tidak dikenal lagi atau jarang dilakukan. Ini disebabkan oleh proses membawa ajaran agama ke sekolah, kegugupan menghadapi rasionalisasi keagamaan, yang memang membuat tradisi; kebiasaan lama tersingkirkan, apalagi jika dalam kurikulum pendidikaan hal-hal yang dipentingkan bukanlah ‘laku spiritual’ tetapi hapalan-hapalan untuk pengetahuan umum mengenai kehinduan.

Maka tidaklah aneh, jika enam musuh dalam diri itu kian lama justru kian mengendalikan diri atau banyak pihak berupaya mencari dengan ‘cara lain’ salah satunya adalah dalam pola ‘kesurupan spiritual’ yakni menyerahkan diri pada kegiatan-kegiatan spiritual model baru atau perilaku spiritual dalam bimbingan seorang guru, yang belum tentu memahami pembratayaan; akhirnya; justru menimbulkan; tradisi klenik baru atau kultus tokoh suci baru, yang sebenarnya dalam tradisi Hindu Bali, itu tidak dikenal. Sebab di bali hanya dikenal maguru sisia dan masurya! : hubungan sang umat dengan pemimpin spiritualnya, hubungan umat dengan guru spiritualnya, dalam konteksnya yang sangat berbeda dengan tradisi hubungan guru-murid, atau umat dan pemimpinnya yang kini kadang membuat banyak orang tertegun dan terheran-heran; diakibatkan munculnya; perilaku fanatik, kecirian baru yang secara tidak langsung membuat model perilaku spritual yang mendekati fashionable; fanatisme yang kadang justru mendangkal pengetahuan dana perilaku spiritual; inilah bagian dari nujum itu; bahwa mega trend spiritual, keelokan agama timur, dieksploatasi ke ruang-ruang jelajah yang mendekati kapitalisasi; dimana dominannya adalah munculnya sang guru yang kadang tidak lebih dari seorang pengajar kursus atau semacam artis penghapal ayat suci dan lagu-lagu rohani.

Karena itu, sangatlah penting, ketika kritik, dan pertanyaan mengenai tradisi spiritual Hindu Bali ditanyakan; maka, jawabannya bukan hanya tradisi upacara yang Hindu Bali miliki, Hindu Bali pun memiliki tradisi puasa, tradisi tapa brata; hanya saja memang tidak untuk diinfotainmentkan, tidak untuk dipublikasikan; sebab dasarnya, pertama dari kesadaran, kedua keyakinan (sraddha) dan yang terpenting, kesiapan diri untuk memasuki pelaksanaan brata itu; sebab dalam tradisi Hindu Bali; tidak diperkenankan sang amangkurat (Negara, sekolah, bahkan guru) mengintervensi kesadaran itu; entah dengan cara himbauan apalagi dengan menjadikan dogma; dan jika berkaitan dengan keyakinan, itu tidak diperbolehkan. Karena itu, tradisi ini hanya akan menemui yang diketuk kesadarannya,  bagi yang menyadari ada sesuatu dalam dirinya kurang, barulah jantera laku spiritual itu akan berdentang, memintal kemauan untuk memasuki pengisian diri.
Demikian, selamat paing galungan.
(By. Cok sawitri).

Penyurutan Makna Ruwatan Oleh Sensasi


Tradisi Sastra Ruwatan Yang Dipanggungkan: Penyurutan Makna Ruwatan Oleh Sensasi

Hingga di penghujung tahun 2011; pertunjukan drama tari Calon Arang kembali (masih menjadi trend di Bali. Bahkan kini tayangan televisi stasiun lokal di Bali rajin menayangkan pula. Dari pengamatan, hampir semua pemeran dalam tradisi pertunjukan Calon Arang masih dalam pakem lama; selalu dihadirkan di atas panggung; Peran Matah Gede, Ratna Manggali, Balian, Patih, dst: pembagian peran ini dilengkapi 'sisia' dan sensasi-sensasi misalnya pengusungan 'mayat' ke kekuburan sebagai bagian tradisi 'ngundang leak' yang memang sejak dahulu merupakan bagian yang menjadi kekuatan dari pertunjukan Drama Tari Calon Arang.

Belajar ke Pasar: "MAMEKEN" menemui KERIMIK PEKEN

"Peken":  begitu caranya menyebut pasar tradisional di Bali: "meken"; artinya pergi ke pasar dengan tujuan belanja. "Pekenan" : artinya hari besarnya pasar atau sering di sebut 'beteng', yang suka otak-atik kata mengira-ira 'beteng' ini dari kata 'bet': penuh sesak. Padahal itu terkait dengan 'wewaran'; pasah, beteng, kajeng. Sebab di pasar lain, ada juga yang menggunakan pasah bahkan kajeng sebagai hari pekan alias 'pekenan'.

Menarik sekali, apa yang terjadi pada diri saya dua minggu terakhir ini. Tiba-tiba saya harus sering pergi ke pasar tradisional, karena ibu saya sudah tua dan sedang sedikit sakit, saya harus melakukan hal yang tidak pernah saya lakukan sejak kecil: yaitu 'mameken': pergi ke pasar dan belanja! Ibu saya atau banyak sekali ibu-ibu di tempat kelahiran saya, yang usianya berkisar dari 60-80 tahunan memiliki hobby pergi ke pasar; mungkin kalau sejak dahulu ada mall; ibu saya dan teman-temannya itu dikategorikan: kaum shoppinger, senang sekali belanja ke pasar. Untungnya, ini pasar tradisional. Yang buka dari jam empat pagi dan tutup sekitar jam tiga sore; selebihnya adalah persiapan para pedagang untuk membuka atau menutup dagangan. Bayangkan, jika pasar tradisional sejak dahulu bukanya dua puluh empat jam! Mungkin ibu-ibu angkatan ibu saya akan nongkrong di pasar seharian! Mengingatkan akan hobby ke pasar itu; dari window shopping sampai penyakit gila belanja memang dari zaman ke zaman telah ada; sebab konon di semua pasar tradisional ada energy pemikat hati yang berfungsi meluluhkan semua hati untuk berbelanja (?)

Ngembak gni, Kenapa gni?

Ngembak secara rasa bahasa Bali artinya dimulainya perubahan, kata ini juga dipakai untuk menandai pertumbuhan jakun anak lelaki disebut 'ngembakin': tanda beranjak dewasa, juga diartikan mulai mengalir, mulai tampak. Dan Gni dalam tradisi Hindu Bali adalah tak sekedar api. Dalam kitab Sasrasmuscaya dituliskan dengan indah mengenai agni ini: "...manglelana amuja ring Sang Hyang Tryagni ngaranira Sang Hyang Apuy Tiga, praktyakanya, ahawaniya, grhaspatya, citagni, ahanidha ngaranira apuy ring asuruhan, rumateng I pangan, grhyapatya ngaranira apuy ring winarang, apam agni saksika kramaning winarang ikalaning wiwaha, citagni ngaranira apuy nring manusawa, nahan ta sang hyang tryagni ngaranira sirata puja..." arti bebasnya yakni: taat memuja kepada tiga api suci yang digelari Tryagni; yaitu ahawanya, grhaspatya dan citagni. Ahawanya artinya pemasak makanan, grhaspatya artinya api upacara perkawinan, sebagai saksi, citagni artinya api pembakar jenazah. Itulah tiga api suci, api itu harus dihormati dan dipuja.

Kenapa Bunga Bukan Yang Lainnya?

Beberapa  anak muda telah singgah di teras rumah, mereka pulang karena rindu perayaan nyepi dan seperti biasa semangat pulang dibarengi pula semangat mempertanyakan berbagai tradisinya sendiri.  Banyak kisah kepulangan anak-anak muda Bali dengan semangat bertanya; seakan tiba-tiba begitu banyak hal yang tak diketahui dalam agamanya sendiri; yakni agama Hindu Bali atau Gama Tirtha ini, agama yang menandai mereka sebagai orang bali. Mereka kini merasa tak cukup lagi dengan pengetahuan berdasarkan kebiasaan ataukah ajaran lisan, tetapi harus ada referensinya.

Teater Bali: Di Era NARAMANGSA - Manusia Memakan Kemanusiaannya (bag.IV)


Mengadaptasi Pola Dasar Pelatihan Teater Tradisi

Bagaimana mengadaptasi pola dasar pelatihan seni pertunjukan tradisi  Bali ke tradisi teater modern; yang hingga kini belum memiliki tradisinya sendiri (?)---Hampir dipastikan hingga kini, bahwa pola pelatihan dasar-dasar teater modern belum memiliki koridornya walau semua paham; bahwa diperlukan pelatihan secara serius dan disiplin kepada para calon aktor atau para pemain drama ini sebelum dinobatkan sebagai pemain teater. Dalam tradisi teater modern selalu terjadi seolah-olah jika telah melakukan olah vokal, olah tubuh, dst (sekedarnya): maka seseorang akan dinyatakan siap memasuki proses pementasan di bawah kepemimpinan seorang sutradara.

Teater Bali: Di Era NARAMANGSA - Manusia Memakan Kemanusiaannya (bag.III): "Membandingkan Monolog Dengan Topeg Pajeg"


"Membandingkan Monolog Dengan Topeg Pajeg"
By. Cok sawitri

Seni pertunjukan Topeng Bali  memiliki tempat yang khusus; tak semata sebagai seni pertunjukan, yang menghibur, namun juga seni topeng ini menjadi bagian dari perlengkapan upacara agama. Dalam tradisi seni topeng Bali dikenal Topeng Panca dan Prembon, yang biasanya ditujukan sebagai seni hiburan; kemudian Topeng Pajeg; yang salah satu pemerannya akan menjadi bagian pelengkap penyempurnaan upacara yakni pada peran Topeng Dalem Sidhakarya.

Teater Bali: Di Era NARAMANGSA - Manusia Memakan Kemanusiaannya (bag.II)


lanjutan dari : Teater Bali, di Era Manusia Memangsa Kemanusiaannya (Bag.I)

Teater Bali atau dalam bahasa yang karib; seni pertunjukan; disebut demikian dalam rangka membedakan dengan jenis dan bentuk seni lainnya; disebabkan karena ada kisah dengan pemeranan; dari Topeng, Gambuh, Wayang Wong, Parwa, Arja, Drama gong, Sendratari; ini kelompok seni pertunjukan yang masih hidup di Bali hingga kini, yang merupakan warisan masa lampau dari rentang masa tahun yang berbeda-beda; yang tetap akan memberi gambaran jelas tentang panggung (stage), penonton dan proses kreatifnya. Selalu pijakan itu akan dimulai dengan pemahaman desa, kala, patra.

Teater Bali: Di Era NARAMANGSA - Manusia Memakan Kemanusiaannya (bag.I)


Di Bali, sejak tahun Caka 818, teater atau drama telah ada. Tidak sebatas sebagai kegiatan pengisi waktu, namun ditempatkan sebagai profesi, yang mendapatkan perlindungan hukum dari penguasa. Juga drama atau teater telah terorganisir sebagai kelompok yang menerima upah serta diduga telah memiliki tradisi kurasi yang berdasarkan track record dan proses kreatif- pengalaman pentas di depan penonton dan penguasa.

Mengenali Secara Sepintas MAGURU SISIA dalam Tradisi SIWA BUDHA di Bali (1)


Dalam tradisi hindu di Bali ada yang disebut sang sulinggih (ida pedande), mereka (dia) yang telah melewati upacara madwijati  (masuci,madiksa,mabersih, mapeningan, atau juga ada yang menyebut dengan mapodgala). Mereka itu yang berkeinginan menjadi sang sulinggih telah menyiapkan dirinya secara sekala dan niskala. Sang sisia, setelah memantapkan dirinya bersiap untuk berkosentrasi mempelajari ajaran suci.