DRAFT 2024 : MIMPI (2)

derita itu harus diselesaikan. Bukan dihentikan.Tapi derita itu jenisnya banyak. Tak akan sanggup menyelesaikannya dengan serentak'

Kapan mulainya itu ? Bahkan terjadi disaat tak tidur. Mulanya rasa asing. Mungkin semacam terpukau. Terpaku : aku melihat diriku berjalan memeluk bola basket di bawah pohon mangga besar. Aku lihat langkahku juga desau daun daun kering yang terinjak. Tapi aku saat itu memang berjalan dengan memeluk bola basket. Di bawah pohon mangga besar. Aku tidak lagi tidur. Juga bukan mimpi berjalan. Aku melihat diriku berjalan disaat aku berjalan. Mimpi. Itu awalnya. Rasa asing. Membuatku menyimpan mimpi itu dalam diam. Juga aku tidak mau mempertanyakan. Itu benar teralami. Atau hanya khayalanku. Lalu di sebuah mall saat aku ke luar dari lift. Kembali aku melihat diriku. Menekan tombol buka. Lalu masuk ke dalam. Memperhatikan nomor lantai. Lalu pintu lift terbuka. Warna bajuku. Ransel. Sepatu. Begitu aku melangkahkan kaki. Aku kembali. Kembali asing. Kembali terpukau.

Aku tak memikirkan. Melupakan. Tidak memberi kesempatan untuk berpikir. Itu barangkali mimpi. itu tak selalu tiba. Atau kerap tiba. Aku asingkan dalam ketidakpedulian. Sampai kemudian mimpi itu tak hanya untuk melihatku. Tetapi aku dibawanya melihat. Hadir. Kemana dan mengapa. Alasan apa. Tetapi tak pernah dalam waktu lama. Tetapi cukup untuk tahu. Awalnya tanpa suara. 

Mimpi itu kuasingkan. Aku hanya tertawa kepada diriku. Konyol. Jadinya konyol. Beberapa kali aku berusaha untuk tak tahu apa apa akan khianat bahkan penghinaan yang dengan riang gembira dilakukan oleh orang kupercayai. Saat bertemu atau bercakap. Aku kadang terdiam. Betapa deritanya. Berpura-pura. Kebohongannya membuatku ingin tertawa.

Ya. Mimpi itu. Harus disebut sebagai mimpi. Tiba tak terduga. Entah untuk tujuan apa. Kadang tiba di tempat- tempat yang menurutku tak ada urusanku dengan apapun itu. Tapi itu membuatku menandai polanya. Mengapa dibawa dan tiba pada keasingan-keasingan. Mengapa tak tiba hanya pada yang kurasakan, yang berikat emosional. Apa alasannya. Atau usah dipikirkan. Cukup selesaikan. Bukan hentikan. 

'Aku melihat diriku sedang menulis. Ada satu mug kopi juga rokok dijemari. Aku melihat diriku. Bahkan saat aku dengan akal sehat menuliskan mimpi itu'

(Draft 2024 : By Cok. SAWITRI)

No comments:

Post a Comment