DRAFT 2024 : MIMPI (1)


'aku sedang naif. Deritaku ini sebab tuhan tengah mengalihkan kasihnya pada yang lebih khusuk memujaNYA.'

Mimpi itu tiba. Bukan datang. Berkali mungkin aku abaikan. Berkali sudah kadang kubiarkan. Tapi mimpi itu tak hendak disebut mimpi. 

Jam nol nol. Tahun baru yang usai. Juga masai. Aku hanya berdiri. Tahu persis. Tak ada yang melihat. Menengok bahkan menyadari kehadiranku. Juga aku tidak suka. Aku hanya berdiri. Menatapi. Betapa lucu. Bukan menyakitkan. Bila tubuhmu, hidupmu berpindah sesuka hati. Tak sekali. Buatku itu mimpi. Harus distempel sebagai mimpi. 

Aku berjalan dengan sadar. Juga tahu semua yang berpapasan dengan aku, tak menyapaku. Sebab mereka tidak kenal aku. Juga tak melihatku. Dulu aku mengira diriku hantu. Atau itu ingatan dalam mimpi. 

Ya. Lucu. Juga menyakitkan. Kadang mimpi itu membawaku pada kenyataan kenyataan yang membuatku nyeri dan pedih. Aku pernah begitu tiba tiba menerobos tembok tebal. Lalu tiba pada sebuah cafe kopi. Berdiri di depan meja. Dimana cangkir kopinya itu bergambar wajah pacarku. Aku kagumi kemampuan Baristanya. Sambil menatap ke arah pemesan kopi itu. Yang lagi duduk dengan senyum bahagia dan diseberangnya pacarnya juga. Tetapi bukan aku. Aku merasa lucu. Bagaimana mungkin aku di cafe itu. Jaraknya dua setengah jam penerbangan plus dari bandara ke tempat ini: aku merasa lucu. Sebab aku sedang dalam mimpi. Prasangka berlebihan. Itu bisa jadi fakta. Bukan. Bukan fakta. Dugaan. 

Lucunya lagi. Setelah aku terjaga. Di kamarku. Aku membalas chat. Seolah olah betapa pentingnya aku. Seolah olah betapa indah atas nama cinta itu. Biasanya, aku menahan diri. Bersikap itu hanya mimpi. Seolah bisa dibohongi itu damai dan tentram. Karena aku ingin itu sebagai mimpi. Ya. Setiap kali aku tiba tiba harus tiba: aku memutuskan itu hanya mimpi. Saat terjaga. Aku tersenyum pada kewajaran dusta itu. 

'Aku naif. Itu derita...bahkan saat tiba tiba aku keluar dari permukaan meja makan. Dan tahu, aku tak akan dilihat mereka. Tapi aku melihat segalanya dengan keyakinan. Aku sakit. Sebab tiba mimpi itu menemui yang mimpi. Itu menyakitkan."

(Bag.1. By cok.sawitri)

No comments:

Post a Comment