PANJI MASUTASOMA : MAKANAN KEKUASAAN ITU : KEPALA PARA RAJA

Bukan hanya yang punya perut, yang merasakan lapar haus. Maha lapar itu yang tak pernah dicukupkan oleh segala hidangan adalah lapar hausnya kekuasaan. Sutasoma tidak serta merta memahami bahwa dia akhirnya harus berbalik pulang: bukan karena tuntutan kewajiban sebagai pewaris kekuasaan. Dia putra mahkota. Pasti akan dinobatkan. Tapi apa alasannya dia mau kembali memasuki zona nyaman (?) Kembali hidup galau (?) Apa! Kenapa! Kaum pencari ketenangan pasti kesal. Kenapa kembali keurusan duniawi sih! Iya! Jalan hening itu tidak linier. Sutasoma dengan tenang menjawab : Karena aku ingin menjadi hidangan bagi maha rasa lapar itu. 


Semua negeri, semua raja kapan saja : yang dijadikan kegundahan adalah kehilangan kekuasaan. Tak pernah ada penguasa yang gundah akan keadaan rakyat, tanah dan airnya. Sekalipun mereka nampak bersemangat mengurus ini itu : itu semua bagian dari alat menjaga kekuasaan. Makanan, tentara, kesejahteraan, kesetiaan, apa saja itu semua untuk menjaga kekuasaan. Jayantaka, pantas bergelar porusadha : dirumorkan sebagai pelahap kepala para raja. Sutasoma memahami kegalauan Jayantaka. Sebab para raja itu hanya meraih kekuasaan dan sibuk menjaga kekuasaannya. Manusia memakan kemanusiaannya, naramangsa, itulah penguasa. Memakan kemanusiaannya dengan segala cara dan gaya: ideologi, strategi bahkan ayat suci pun jika perlu digunakan buat menjaga kekuasaan. Jayantaka tidak memilih cara seperti sutasoma: kegalauannya di zona nyaman diobati dengan meretas seluruh isi kepala para raja.Harus dicuci otak seluruh kekotoran kepala penguasa itu. Tak ada cara lain : kekerasan, keserakahan, keangkuhan segala asupan penguasa itu harus diretas. Dicucihamakan bila perlu. Itu sebabnya ketika sutasoma kembali dari perjalanannya: bersedia menjadi penguasa. Dia dengan sigap menemui Jayantaka dan bersedia menjadi hidangan kepada mahakala. Dunia selalu rusuh urusan peradaban. Terlalu banyak yang turut campur. Mpu Tantular menjadi saksi sekaligus tak tahu lagi cara menyampaikan kepada zaman : bahwa dunia ini punya dua jalan, jalan seperti porusadha atau jalan sutasoma. Jika keduanya bersanding : bermufakat barangkali hanya akan mengurangi derita dunia. Tetapi bukan berarti tak ada korban. Hukum semesta tetap tak imbang bila hanya ada kelahiran dan kematian. Tetapi derita itu justru harus berputar sebagai wasana penciptaan. ( nonton kevin sebagai jayantaka di latihan gambuh panji masutasomanya Dayu Arya Dayu Ani dan potonya Luciana Ferrero plus tercenung karena ini pas waktunya bagi nusantara. Ayu Weda Made Gunarta Suliati Boentaran

No comments:

Post a Comment