Showing posts with label Cinta. Show all posts
Showing posts with label Cinta. Show all posts

"SSSST....benarkah engkau mencintaiku?"



saat berjumpa denganmu
kerinduan berwarna pekat sempurna
jatuh dalam ruang berbenteng batu
langkah-langkah gugup memberi ukuran luas
berbilang senyum dan sorot mata mengukir diam
dinding diurap kemuraman senja
aku tak diberi anugrah kepekaan
berbilang saat bertukar cerita
genap  kepekatan mengaburkan pandangan
beberapa kutipan kalimat memasuki tidur
impianku dikurung warna warni
kepekaanku dicuri ketakjuban
saat berjumpa denganmu
teka-teki yang kau kirim
tidak pernah terpecahkan
peta buta yang menyesatkan
"sssst……benarkah tebakanku?"
aku menari dalam penjara batu
mengira matahari telah mati
sebuah celah memberi bayangan kabur
"benarkah engkau menjengukku?"
langkah sepelan apa nyaring jika itu langkahmu
desah setipis apa mirip badai masuki sunyiku
saat berjumpa denganmu
kerinduan mencapai pekat sempurna
seperti peramal menanti akhir hari
sinar matamu  menahan sepi
pias menghias diraut wajah
hingga terbata terucapkan isi hatimu
telingaku kehilangan pendengaran
telapak tangan gering dalam dingin hati
"ssst…benarkah kau mencintaiku?"
saat berjumpa denganmu
berulang ulang sempurna kesalahan
membaca barisan huruf dalam sorot mata
menghapal keraguan dalam pejam duka
mengaburkan wajahmu
sepekat warna rindu
saat berjumpa denganmu
langkah langkahku memutari ruang batu

(Seri Puisi Cinta, amlapura, 11 november 2015, cok sawitri)

Aku Pernah Bertemu Kesedihanmu

aku pernah bertemu kesedihanmu
menyalami dalam percakapan lirih
dukacita memang jelita, tak mudah dilupa
kemilau airmata menggores gambar cahya
lalu kita menjadi dekat
lalu kita menjaga jarak

aku pernah bertemu kecemburuan
bertukar tatap mata dalam tebal kabut
prasangka memang renyah, mudah patah
kecewa menemukan lecutannya
lalu kita menjadi bisu
lalu kita merasa terganggu

aku pernah berkawan lekat dengan patahati
setia berkawan kemana pergi
kehilangan mengenalkan hampa
senyapnya membebaskan
lalu kita bertemu lagi
lalu kita melupakan jarak
tapi dukacita terlalu jelita
bersahabat dengan kecewa
aku pernah bertemu dengan kesedihanmu
seperti memajang potret kesayangan
setiaphari ingatkan akan kemilau airmata
lalu kita kehilangan tawa
lalu kita terbiasa kecewa
menjumpai dukacita mengikatnya
menjadikannya teman setia !

(SERI PUISI CINTA, batanghari, 10 november 2015, cok sawitri)

Dimana Kan Kusimpan Harum Yang Engkau Tinggalkan?



kutangkap setangkup harum melati
pasar pagi menjala riuh, jejalan orang bersisian
dimana kan kusimpan denyar aroma menghambur
embun bergulir di helai rambut
sengajakah kau
sadarkah kau
harum yang tertinggal di lorong lembab
dimana akan kusimpan?
maka kegilaaan rasuki kepala
helai demi helai sayuran mekar wajahmu
buah-buah memamerkan senyuman
tahu  tempe menjelma jemarimu
yang kutangkap
hamburan aroma melati kau tinggalkan
hingga tak sempat kusapa; apa kabarmu
masihkah dukacita bergelombang di sorot mata
pernah, keisengan ajarkan kesabaran pada telinga
keluh kesah seperti kucuran air
meluap hingga tenggelamkan kita
pernah, akal sehat mengangsurkan sapu tangan
hapus airmatamu
hingga terhapus pula dukacitamu
jatuh berkubang dalam tawa ketidakpedulian
pecah kemudian isak pedih
lagi lagi dan lagi semburan keluh
meruap hingga tersengal udara dalam nafas
kini, kutangkap aroma melati
menarik seluruh ingatan asing
membuatku rela terhimpit  dilorong pasar pagi
menangkup dalam lambaian
'semoga engkau baik-baik'
embun masih bergulir didahimu
kemarau tak akan jemu keringkan airmata
keriuhan telah menjelma menjadi engkau
menujumku dalam diam
mendesis tanya
dimana kan kusimpan harum yang kau tinggalkan?

(SERI PUISI CINTA, batanghari, 9 november 2015, cok sawitri)

Kadangkala, Meraih Kelegaan Tanpamu



kadangkala bebaskan pandangan ke luas langit
lautan lepas tak terbatas, kelegaan singgah
saat hela nafas, melintas seperti hentakan
layang-layang melayang hampa
memejam mata tak kuasa menerima
bagaimana bisa engkau tak paham

bila dingin menjerat leher, pori-pori mekar
gigil yang gemeletuk jauh dalam dada
gemeretak awan dihilir angin, ombak membuncah
biji-biji pasir merepih melepas kilau
perihnya garam pada sayatan luka
bagaimana dapat engkau hilang nyali
apa yang menghalangi kejujuran karang
dikikis hantaman risau?
hanya kerang berani berteduh
ganggang menghanyutkan diri, jauh ke tepi
begitu juga kau

kadangkala ingin kulepas jaring kelebat ombak
meraih tanganmu lalu bertukar tatap
percik sunyi menyala sesaat
lalu redup
apa yang menahan langkahmu
tak ada jeram tebing menggores betismu
luka yang belum engkau ratapi
rasa malu yang belum tiba merahkan wajahmu
apa yang mengurungmu
memasungmu dalam kepalsuan-kepalsuan
hingga angin mendesir menerbangkan pasir
memerihkan mata kembalikan aku;
buat bebas pandangan, meraih kelegaan tanpamu.

(Seri Puisi Cinta, batanghari, 8 november 2015, cok sawitri)

Berapa Jauh Kan Berlari Engkau Dari Cintamu



berapa jauh kan berlari engkau
engkau kan berlari berapa jauh
sembunyi dari kata hati
kata hati sembunyi
mengakrabi rasa rikuh, menjadikan senyum
menjadikan senyum,  menikmati rasa cemas  di tiap-tiap hela nafas
ketakutan bila terucap tak sengaja
tak sengaja kau menyebut satu nama
lalu karanglah kisah tentang risau hati
pernah sepi memberi waktu buat bercakap
"siapa yang kau rindu?"
menepis sahutan walau tak terucapkan
"bersama siapa kau merasa nyaman?"
gundah jawaban ditepikan tarikan nafas
dibalik matamu yang memandang
memandangi yang ada dibalik matamu
bayangan-bayangan samar menyahut tegas
tegas menyahut bayangan bayangan samar
bukan mengapa, ingatan hilang kejernihan
kejernihan hilang ingatan, mengapa bukan
"apa yang kau cemaskan?"
hingga sepi pergi, keriuhan membawamu masuki gundah
gundah masuki sepi membawamu pergi ke riuh
makin sembunyi dari kata hati
kata hati makin sembunyi
tapi tiap tiap tarikan nafas
bayangan itu melintas merambat dalam udara
dalam udara merambat bayangan
membekap hingga demam tiba
keluh rasa pening memeluk isi kepala
berapa tahan engkau memerlukan waktu
mengira disembuhkan bila saat tiba
ah, engkau lupa
jatuh cinta bukan sebangsa penyakit jantung
penyakit jantung bukan sebangsa jatuh cinta
jatuh rindu bukan salah ataukah benar
benar ataukah salah jatuh rindu

dalam kecut pun tanyakan ini pada sepi
sepi tanyakan ini dalam kecut
dengan siapa?
maka airmatamu kan meledak
meledak isakmu dalam sepi
sepi beban tangismu
menggukir duka pada sembab lingkar mata
berapa lama engkau akan berlari
berlari engkau akan berapa lama
menghindar sebagai sembunyi ?
sembunyi sebagai menghindar
"debur dadamu meracaukan pilu
kesanggupan sisa sesak nafasmu: itu!"

(SERI PUISI CINTA, BATANGHARI, 8 NOVEMBER 2015, COK SAWITRI)

Siapa Yang Berani Ucapkan Cinta (?)



yang bermain di lamunanmu
pantai yang lelah, jukung berjemur di bawah ketapang
daun-daun kering terinjak, berapa jejak disapu pasir

ah, lupakan tawa lepas membelah ombak
cerita ringan membebaskan kesumat pikiran
apa yang menjalin alasan buat berulang menyapa?
bahan cerita begitu riuh, tumbuh di lidah seperti barisan lumut
kini kering, matahari menyilaukan, jukung melaut pagi hari
merapat kebisuan, semua cerita kehilangan kisah

mencoba kau aku pernah seperti tangan penganyam tikar
temukan penyisip satu cerita tak masuk akal kalaupun!
jadi ombak gemuruh, penuh riak buat perjumpaan
mengayunkan lamunan, lalu seperti jukung lumpuh
mengering di atas pasir, menunggu gergaji membelah
adakah yang lebih pahit buat disesali
selain bertanya siapa yang tak berani
ucapkan; aku mencintaimu

pikiran menertawai seperti riuh camar kehilangan karang
lalu pilu mendekam di bawah telapak terbenam pasir kering
melambai tatapan adakala jarak pandang lebih menyatakan
tak lagi pantai bagi hati, bagimu kini hanya lamunan.

(SERI PUISI CINTA, batanghari, 8 November 2015, cok sawitri)

Menjauhlah Kau Dari Bujuk Rindu



angin tanpa desau tambah lekat dihati
pengap merayap kesepian bermain sendiri
hujan lupa janji pada musimnya, memilih perjalanan
menjauhlah menjauhlah dari bujuk rindu

terlalu muda kau buat menghela sayap langit
bangsa kupu kupu hanya bangga pada kepompong
lupa ranting bunga yang tak pernah mengeluh
terbanglah,  terbanglah
tinggalkan remah biarkan mengering
percakapan hanya pertukaran kata kata
hampa apa kabarmu, kosong kamu sedang apa
kesantunan memagari senyuman
siapa yang jemu dahulu?

angin kehilangan geraknya, seperti jukung hilang kemudi
pohon berdiri tegak, daun-daun berdiam bisu
jangan bicara, jangan bertanya
bukan buat lagi berpikir pikir
cinta tidak perkalian dalam hitungan perasaan

terlalu gundah kau buat memahami kediaman
mengira permainan dapat diulang
lupa, kebosanan menemukan keriangan
berdiam dalam angin
pergi kemanapun sekalipun tanpa desau

 (seri puisi cinta, batanghari, 7 november 2015, cok sawitri)

Salahkan Aku, Bila Kau Mencintaiku



malam bersayap terbang rendah
kelam hinggap di dahan
pernah kau berteduh
akal kita punya, tapi jatuh cinta perhitungan hati
kalah gemuruh ombak saat kau cerita kekasihmu,
pertengkaran dan risau risau
tak riuh tawaku menjangkau rembulan
percaya kita rasa, tapi rindu menyentuh kalbu

salahkan aku, bila kau mencintaiku

pernah kucari dalam gundah
dimana mulainya jantungmu berdegup
ingatan melukiskan mimpi-mimpi
ditelan bumi, kau sembunyi menghindar
desau menakik nafas
kupikir sama saja dengan yang lain
semua kenalan adalah kartu nama
lalu lalang melintas malam siang
hingga perih menikam
dalam kering gemetar benar ucapanmu
"saya sembunyi darimu"

malam makin terbang mendekati puncak gelap
salahkan aku, bila kau mencintaiku
semua sayap pernah lelah
begitu juga gundah hati
singgahlah, biarkan dirimu bertualang
bila gunung, lembah tak lagi tujuan tamasya
lalu tangismu malam-malam tersimpan
disisakan di pagi hari
sesal yang tak pernah harus ditanggung
apa salahnya mencintai: cuma mencintai!

(Seri Puisi Cinta, batanghari, 5 november 2015, cok sawitri)

Oh, Sudikah Engkau Mencintaiku?



bunga kapas menyerahkan kelembutan di telapak
diterima pada suatu tepukan saat senja
pernah berjatuhan kelopak-kelopak bunga
bakal tunas bersukarela  menunggu musim berganti

permainan kelereng menyurut dihalaman ingatan
teriakan teriakan  canda menyusup jauh
lama sudah, dekat masih
kehangatan yang menujum saat bertukar tepukan

oh, sudikah engkau mencintai  aku?

hingga jatuh rebah ke lapis terbawah
kalah harkat pada peminta-minta
memohon kelembutan pada kapas-kapas
merepih tepi lingkar kelereng
pernah, aku menjentik, bergulir jauh

Oh, sudikah engkau mencintai aku?

kini, membungkuk hilang penyangga punggung
semua senyum meniru bunga layu
kumal benar bayangan saat berjumpa
lagi, kau bahkan lupa sekedar menyapa

Oh, hampa benar terbang kapas
membagi kelembutan tak lagi singgah
kesabaran mengubur diri di hari lalu

(SERI PUISI CINTA, batanghari, 5 november 2015, cok sawitri)

Tak Ada Cinta Dalam Mimpi dan Lamunan



tak ada cinta dalam mimpi
tak ada rindu dalam lamunan

embun tak sanggup menyentuh
tamasya jauh tidur
menemuimu dalam terawang
betapa hebat rindu
mengendarai awan biru
melesat kalahkan cahaya

aku bertamu dalam mimpi
duduk dekat jendela di ruang tamu
renyah suara penuhi  ketercengangan
hingga terjaga
gerimis tipis tiupkan dingin
tak sanggup tenangkan kegundahan
berapa lama kusimpan dalam diam
curahan air teresap kemarau
sejak kerikil terpijak
sajak-sajak  langkah kaki digumamkan jantung
tolehan kepalamu mengawang mata
membalas tatap seakan hampa

berapa lama kutimbang
mengukur jarak kekonyolan
menahan beban lamunan
bila kembali  hati remaja
sudikah, sekali saja tersentuh
embun  malang dimusim kemarau
pecah didaun gersang
angin tega meniupkan  kesangsian
bertamu sopan kabarkan kisah

tak ada cinta dalam mimpi
tak ada rindu dalam lamunan

(seri puisi cinta, batanghari, 4 november 2015, cok sawitri)

Telingaku Mimpi, Langkahmu Menjauh Sudah



rasanya sudah gelap
padahal terang lampu di halaman
hatiku kelam
hujan berlari menjauh
memasuki karang karang rahasia
dilangit pelangi tinggal kisah

rasanya sudah sunyi
riuh kendaraan terdengar mendekat
telingaku mimpi
panas menjulurkan sungutnya
layu tanah, hilang harum bunga bunga
lumut lelah melawan kilau
“aku melihatmu meliwati barisan pohon pohon
lalu terjal tebing bergerak
seperti layar cahaya
menjangkaumu dengan hati
menyapamu dengan harapan”

rasanya sudah gelap
terang lampu dihalaman
tubuhku tak lagi berbayang
desau angin meluluhkan keringat
perih saat sampai di bola mata
rasanya sudah senyap
hampa disiulkan gelap
aku mengingatmu duduk dekat kaki
bercerita tentang mimpi
berkendaraan macan kecil mengibarkan bendera
lalu perempuan-perempuan gila menebasnya
lalu lelaki lelaki pengecut mendadahnya

rasanya hampa
mendesau sampai jauh ke rumput-rumput
mengering hati
saat terang begitu nyata
langkahmu menjauh
gemanya menghujam telinga
rasanya benar sudah gelap!

(Seri Puisi Cinta, batanghari, 3 Nopember 2015, cok sawitri)

Kau Tak Boleh Tahu, Soal Ini



kau tak boleh tahu
memandangmu udara jadi bersih
sesak didada menemukan kelapangannya
segala hiruk pikuk benak
jadi senyum pagi hari

kau tak boleh tahu
duduk di sebelahmu kenyamanan senja
teh hangat manis, pisang goreng renyah
pemandangan yang melamunkan
terdengar bening kata
tak terucapkan walau tak sepatah
cerita cerita sedihmu
menjadi siul di hati
keluh kesah hari harimu
menjadikan aku penuh arti

kau tak boleh tahu
bertemu denganmu kelengkapan hati
sesaat ataukah berlama lama
genap  isi dada
hilang kisah dari tutur
riang mekar dalam kebisuan

kau tak boleh tahu
rasa hampa penuhi hari
bila kau tahu, hasrat hati
sebab kau, tak pernah menduga
aku diam-diam memikirkan
hijau daun ditangan
melayang layang di langit
kita berdua mengejarnya
dalam ledak tawa tersipu
menyimpan kemilau di bola mata
penuh cahaya biru langit pun tak boleh tahu!
juga kau
tak boleh tahu!

(seri puisi cinta, batanghari, 2 nopember 2015, cok sawitri)

Lepaslah Engkau, Jangan Kembali



lepaslah engkau. bebaslah engkau
kemana hati hendak singgah
remah remahnya berjatuhan ke tanah
tak jauh aku, menahan pandangan
saat ucapanmu membelah sunyi
berjatuhan geriam tak terperi.
 
bergeraklah lurus ayunkan nafas
pernah gigir jemari hilang kendali
hampir membuncah telaga matamu
betapa haru melihat susah payah
kau sembunyikan risaumu
bijak itu tumbuh ajaib di benak
ajarkan kekang  pada tanya
apa yang kau cemaskan?

hanya setipis benang kekaguman, mencintai
keduanya mengaduk seluruh akal sehat
jarum yang mengarah pasti salah waktu
haruskah menghakimi perjumpaan
beratus kali kudengar persembunyian itu
tentang kekasihmu
tentang tawa tangismu

keraguan itu berakar pinak
menghasut gelisah diraut wajahmu
beratus kali tanpa sebab kau terdiam
lepaslah engkau
mari rasakan ngilu menarik kejam isi dada
hapus ingatan dari lamunan
gelas tak harus selalu terisi
kosongkan. bebaslah engkau
bila kelak kepengecutan pergi
pilih jalan bijak, sampaikan padaku
aku dapat menari tanpa nyanyian
aku dapat bernyanyi tanpa syair
aku dapat bersyair tanpa kata
jika itu membuat bahagia
semua mata nyaman menerima
lepaslah engkau
bawa hatimu, jangan pernah kembali
tak ada yang menanti
tak ada yang menyesali

(seri puisi cinta, 30 oktober 2015, cok sawitri)

Biarkan Cinta Meniru Cahaya



cahaya siang lepuhkan sayap  kupu kupu
sudah lama, hutan semak belukar di hati
jelaga-jelaga menggantung diri,
berayun kelam membawa sekotak sedih,
mirip kado di hari ulang tahun

cahaya siang membelah bayangan, tubuhmu bayang,
menembus batang- batang pohon,
tak ada jalan kecil tikungan memutar bagi diri
mengejar lalu bertemu  seolah tak sengaja.
gundah tertutup belukar,  duri-duri mengasah diri
jelaga panjangkan kelam,  menjulur meniru akar-akar
"banyak kali kesempatan mati bagi pertimbangan
hingga basi semua percakapan
hingga masai semua harapan
kerinduan kehilangan kecantikannya
berapa sanggup disimpan pernyataan mulia ini? "

katakanlah: suatu hari dalam gugup
terucap pelahan: aku mencintaimu!
kau berhak tahu, berhak pula menepisnya
seperti angin kepada daun dan debu
namun itu hanya dalam hati
menggantung di tiang angan-angan
cahaya siang meremukan semua jentik di selokan
lumut-lumut menemui akhir musim
beberapa kecebong tersengal diserang panas
nafasku mendekati putus asa
cara apa lagi memancingkan umpan
kolam dangkal di hati hilang penghuni
aku saksikan rindu seperti daun gugur
cinta seperti hilir mudik motor dijalanan
tak satu pun miliki alasan meminta tangan melambai
tumpangkan aku hingga ke tujuan
sekotak sedih kubuka bungkusnya
isinya segala macam pertemuan denganmu
"makan siang, makan malam, jalan-jalan ngobrol di hp, sms-an, bertukar buku, rencana pentas, demo, bergosip..."
sesak benar berhamburan terbang
riuh mengerubuti kepala
seperti nyamuk muda di senja hari
nguingnya cahaya siang lumpuhkan ayunan kelam

entah, pedihkah berayun menghantam kesabaran
ucapanku terasa kental; sudah cukup, biarkan cinta meniru cahaya
dalam kesenyapan hati
aku kehilangan bayanganmu
lepuh cahaya siang, melepuh cahaya di hati
remah sayap kupu kupu jatuh
mengusap pipi
jelaga mengayunkan hati,
saat pasti aku masukan cinta  dalam kotak berpita jelaga

(seri puisi cinta, batanghari, 30 oktober 2015, cok sawitri)

Kau Bertanya, Apakah Aku Mencintaimu



Ya.
Ya sesudah dan sebelumnya
Ya dari bermula dan sampai kapanpun
Seperti putaran matahari
Seperti putaran purnama
Tersipu malam
Tersenyum siang

Aku tak mau jadi anjing peladang
Menggonggong riuh tak miliki nyali
Seperti pejantan nyamuk hanya menguing
Kodok yang riuh di musim hujan
tubuh serangga repuh di dalam
aku tak mau jadi pengeluh
salahkan hujan, salahkan panas
peratap yang mengira diri pejuang
dikenang-kenang seolah sempurna
ya disaat dan selanjutnya
ya hari ini, esok dan nanti
sedalam samudera, sedalam hati
setinggi langit kalahkan gunung
cemburu angin
debu pun iri
ya.

(seri puisi cinta, batanghari, 29 Oktober 2015, cok sawitri)

Sampaikan Padanya, Jatuh Cinta Aku



sampaikan padanya
aku gemetar hilang pegangan
melayang hilang pijakan
saat kembali bertukar tatap

matahari, bulan, bintang-bintang
hilang cahaya bahkan pelangi hilang warna
kerikuhan ini menakutkan
pandir aku jatuh kikuk
sungguh, cemas menghujam dada
bila kau tahu, merambat api dalam jemari
menghanguskan seluruh pori
dipicu hulunya oleh senyummu

sampaikan kepadanya
bagaimana cara sembunyi
kemilau matamu serentak melepas anak panah
menghujam penuh penuh
hingga terhuyung siang malam
bahkan untuk berucap salam
seluruh nafas gemetar nyeri

jalanan, pasar, dermaga, senyap
hilang riuh sebab gemuruh laut berpindah
setiap kali bertemu kau
puncak panas matahari lepuhkan tenang

sampaikan padanya
dilapis terbawah dari bumi
tersisa padaku; pias wajah
menahan cemas bila kau tahu
terjatuh aku oleh cinta.
(seri puisi cinta, batanghari, 29  oktober 2015, cok sawitri)

Itukah kau Rupa Rindu



kaukah yang mengindap
dalam sepi malam?
meniti daun-daun
menyusup di kisi-kisi
Menjelma wajah sedih
itukah rupa rindu?

kaukah yang menginjak kerikil
gemericik tipis menolehkan lamunan
menggerakkan tangan buat melihat
lengang kelam di luar
itukah rupa rindu?

pejamlah mata
biarkan mata hati membayangkan
panggil seribu kali namamu
bayangkan dirimu menari pelahan
lalu terjaga
sepi sendiri
itukah rupa rindu?

apa dipertaruhkan buat menenangkan
tak ada keajaiban jatuhi malam
menduga kau lagi ingat
sama sekelam malam risau hati
makin cekam ingatan
tak ada dering telpon
hingga kering hati ucapkan namamu
mengindap di daun daun
matamu memandang
membiarkan lamunan melepas senyuman
itukah rupa rindu?
(Seri puisi cinta, batanghari, 28 oktober 2015, cok sawitri)

Cinta Ini, Itu Cinta



tak ada yang lebih mulia
membawa airmata dalam lelap tidur
kemarau hilang
rumput menghijau
diairinya
lagi, aku bertanya kepada hati
diajaknya bermain tebak-tebakan
diam apa yang banyak bicara?

lalu, aku bertanya kepada jantung
diajaknya berteka teki
degup apa yang tak dipukul
gemanya merobohkan mimpi?

tak ada yang lebih berat
memanggul rahasia rahasia ini
meniru airmata
keberanian berindap dalam isak
lidah menguburkan semua kata
berkali-kali perjumpaan adalah perpisahan
kedekatan adalah jarak
tutur sapa hanyalah ucapan hampa

lalu, aku bertanya kepada dada
diajaknya bertimbang
berapa berat penuh samudera menampung
mana lebih ringan rindu ataukah cinta
menyimpannya sebagai rahasia
atau ucapkan untuk luka?

lagi, kutanya benak bisu itu
diajukannya keraguan
cinta kadang memerlukan busana
buat memutuskan layak dipandang

tak ada yang lebih mulia
membawa airmata ke dalam lamunan
menghanyutkan hampa
kemuraman menyerung pandang
sebabnya; cinta tak kenal alasan
sialnya, padamu enggan dipantaskan.
(seri puisi cinta, batanghari, 28 oktober 2015, cok sawitri)

Pohon Mati, Ngilu Hatiku



kali itu sedih benar

kemarau mata hilang genangnya

malam seperti perahu

merayap diatas gelap

bersiap siap kehilanganmu

sejak mula kutanam di halaman

pohon mati

kusiram saban hari

Setiap percakapan, setiap perjumpaan

suburlah; jadilah perindang

berteduh minum teh, menukar tawa

kelak bila kehilangan kau

kecipak kelam tak memilukan hati

aku selalu bersiap saat jatuh hati

sama riang bila patah hati tiba

kali itu pedih benar

seperti siang silau cahaya

dua tangan ini tak cukup pejamkan

gelombang perih menderapkan ngilu ke dada

memar pohon mati itu merimbunkan daunnya,

akarnya berkecambah lalu menguning

saat tangan  melambai ke langit

sempat kudatarkan ucapan

beban di bahu hampa

tak ringan lagi lewati tujuan

kali itu sedih benar

berdiri di halaman menatapi

pohon mati

mencabut akar dari dirinya sendiri

tanpa keluh remuk menjadi abu malam.

ditanamnya ngilu di hati

tanpa kusiram  menjulang rimbun menutup mata.

(seri puisi cinta, batanghari, 27 Oktober 2015, cok sawitri)

Tanya Padaku, Benarkah Aku Jatuh Cinta Padamu



dimana senyummu kusimpan

bila senja tiba

matamu ada genang kelopak embun

mirip pagi yang memaksa terjaga

lembar lembar melukis tawamu

lapis lapis mengariskan batas

dimana rikuhmu kusimpan

saat kulewati bahumu

menegurmu dalam bisik

menyapa sekadar ucap

jalan ke kanan ataukah ke kiri

engkau lelaki ataukah perempuan

tak cukupkah waktu bersarang

untuk membiarkan rindu kalah

gelanggang yang riuh

panggung tak berbatas waktu

lalu

mari maki perasaan perasaan ini

mari caci kerinduan kerinduan ini

dimanakah rasa salah kusimpan

mencintaimu diam-diam

membiarkanmu dihembus angin

ikuti debu yang menghamburkan pandangan

nyeri senjaku

perih ingatanku

bagaimana mungkin embun meniti daun daun

menyongsong matahari

lalu mati di hatiku

bila kau baca sajak ini

isi dadamu ditikam ngilu

pikirkan hal mustahil

tanya padaku

benarkah aku jatuh cinta padamu?

(seri puisi cinta, batanghari, 26 oktober 2015, cok sawitri)