Showing posts with label Nyepi. Show all posts
Showing posts with label Nyepi. Show all posts

Bali, me'nyepi' pada sebuah negeri republik

Bali, aku bertanya, tahun berapa engkau menjadi bagian negara Indonesia? Mungkin baru tahun 1950-an, saat kemerdekaan Indonesia diucapkan, Bali masih dalam kuasa-kuasa transisi antara Belanda dan Jepang. Sedang Nyepi telah lampau dilaksanakan di bali, bahkan sebelum kekuasaan raja-raja Bali. Dalam tradisi tatwa Bali, maka Nyepi adalah perintah Hyang Pasupati kepada tiga putranya Hyang Gnijaya berstana di gunung Lempuyang, Hyang Putranjaya berstana di Gunung Agung, Hyang DewI Danuh berstana di Gunung Batur, ketiganya disebut dengan penuh hormat sebagai Penyiwian Trilinggagiri. Selanjutnya diyakini kemudian Hyang Pasupati kembali mengutus empat putranya, agar ke bali, agar pulau itu stabil. Bali saat itu digambarkan dengan kalimat suci: Duk tan hana paran-paran. Dengan kedatangan empat putranya, maka dikenal kemudian dengan saptalinggagiri; kedatangan mereka itu bertepatan dengan Perwani Tileming Kasanga ( untuk refrensi mengcek kesahihan, silahkan cek Babad Bhatara Rarasa dan lontar Bhisama-Griya Buduk- tulisan Bapa Gede Sura-1992): disanalah salah satu perintah yang harus diemban adalah melaksanakan Berata penyepian. Izinkan saya mengutip," ....brata penyepian lwir sawung anggeram anda, yan tan panes awaknya tan lumekas ikang anda. Yan tan sepi ing idep, sepi ing pamrih, sepi ing gawe, tan molih yoganta. Iki ngaran penyepian. Ingon-ingon Dewi Mas Ayu Danu kang gineseng- dening apwining giri Tolangkir, mangke juga pamarisudha ning ingwang. Poma. Poma. Poma. Uluning bawi manadi mrana tikus, walungnya manadi walangsangit, jejeronnya manadi mrana tan pasangkan. Yan pageh samanta ratu ngamong rat, rong puluh taun sapisan hane mrana wangsangit hana mrana tikus. Yan tan pageh tan wilangan dina mrana pasangkan dateng. Iki rungwakna, kaki patuk nini patuk angadegaken maring pasar agung. Ni Bhuta kala katung pinaka pangsaranan pasar, soang karya ri basukih atakwan pwa ring pasar agung, yang tan prasisa kabehan, ke wala jejaten juga wenang...."-- peristiwa ini jauh lebih tua dari era Raja Marakata, jauh lebih tua dari kedatang Mpu Kuturan sang pendiri desa pekraman dan kahyangan tiga:dll, jauh lebih tua dari era Gelgel. Jadi tradisi nyepi, dapat dijenguk berkaitan dengan upacara Nangluk Mrana, di pasar hingga ada penyiwian untuk tiga jenis epidemik di Bali yakni; Jro Ketut, Jro walang sangit dan Jro kedis perit (silahkan cek ke pura pasar agung)

Maka ritus nyepi ini bergerak dari satu era ke era lainnya, dan dalam jajaran bentangan upacara-upacara di desa-desa bali kuna (bukan bali mula) ditemukan berbagai jenis nyepi dan di era selanjutnya nyepi juga dilaksanakan ditengah runutan upacara besar yang disebut nyuwung. Dan entah berapa kali pendatang tiba di bali, menjadi kemudian penduduk Bali, nyepi terus dilakukan. Sebab Saptalinggagiri itu tetap ada. tetap diyakini, tetap menjadi dasar dari kestabilan pulau ini. Berbilang-bilang kisah pertemuan tradisi budaya dengan budaya luar, dengan negeri cina, mesir, dst; jejaknya adalah pada karya seni, artefak, kuliner; dst. Dan selama itu, Bali adalah hati yang terbuka sekaligus kokoh pada komitmen awal yakni menjaga kestabilan pulau bali ini. Maka era Jayakesunu, lebih menegaskan (era Singamandawa, anak wungsu, dkk); ini adalah era penguatan pencerahan untuk tetap menjaga kejatimulaan bali itu dengan tetap merayakan Nyepi dan Kasang, galungan, kuningan, purnama, tilem, semua tumpek. Itu adalah sejatinya 'agama' yang disimpan dalam upacara-upacara. Bukan kali ini saja Bali didatangi oleh orang luar, bahkan setiap era. Dan semuanya tahu, bahwa Bali memang agamanya berbeda, tata caranya juga berbeda dalam memperilakukan keagamaannya. Sekalipun kemudian masuk agama budha, Hindu (siwait), dll, bahkan di era Belanda, penjajah ini pun memahami bahwa Bali ini memiliki tradisi yang sangat bagus untuk menjaga keharmonian; tidak hanya pada hubungan antar manusia, namun dalam menjaga alam (lingkungan). Lalu Jepang pun demikian. Maka peradaban Bali itu; sebagai negeri sudah mantap dan jauh dahulu kala telah memiliki hubungan internasional.

Maka ketika bergabung ke Indonesia, Bali pun sempat bargaining persoalan agamanya. Bali, pulau kecil ini tidaklah meratap untuk bergabung, tetapi dengan syarat bahwa agama, budayanya, dan seluruh keunikannya dihormati dan dihargai dalam tata negara Indonesia, maka Bali akan menjadi bagian yang setia. Jika kini, ada yang menyoal; apakah pelaksanaan nyepi itu memaksa warga yang bukan hIndu bali dan dikait-kaitkan dengan toleransi dan hak asasi; bahkan menjadikan kewilayahan NKRI memberikan kebhinekaannya kepada semua warga, sehingga seharusnya yang non Hindu Bali boleh tidak ikut nyepi (?)--Saya tidak menjawab, tetapi saya hanya akan menjelaskan; bahwa Bali ini memang memiliki perbedaan dan barang siapa yang hendak hidup di Bali, harus menyadari; bahwa di masa ini, salah satu asset ekonomi Bali, yang menghidupi kebanyakan bukan orang Bali adalah dari tradisi, agama, budaya dan seni. Bukan dari pemandangan!. Nyepi adalah ritus untuk Bumi dan semesta, ini sifatnya tidaklah untuk meagamakan, namun ini spiritnya kepada siapapun juga yang tinggal di bali adalah untuk mengajak dan menyadari; bahwa ada panca mahabhuta; lima energi besar, yang menjadi kekuatan kehidupan itu perlu diberikan ruang untuk mengobati dirinya. Nyepi adalah proses penyembuhan, air, udara, tanah, suara, dst; seluruh elemen lingkungan hidup ini dalam era masa ini apalagi; polusi, polutan; dst. itu perlu direhat sejenak; secara modern; nyepi adalah terapi terbaik bagi alam semesta ini. Karena setiap orang; mau agama apapun; dia perlu udara, dia perlu air, dia perlu keheningan; bukan kebisingan, dia perlu merasakan belajar dalam kegelapan, untuk menghargai energi cahaya; dst. Karena itu, Nyepi menjadi inspirasi kepada seluruh dunia mengenai hemat energi dan penyelamatan lingkungan. Ini jawaban saya untuk siapa saja yang menyoal nyepi dan merasa tak nyaman saat berada di Bali. Dan ingatlah, Bali dan peradabannya, jauh ada sebelum Indonesia ini ada, dan kami semua membagi keselamatan dengan perilaku nyata. walau tak sempurna, namun kami yakin, udara, air, telinga anda, dan banyak lagi yang lain, disegarkan dan menjadi bagian dari tubuh anda dalam menyehatkan diri anda secara lahir dan batin, sehingga anda bisa melakukan keyakinan anda masing-masing dengan lebih teguh dan kokoh. Inilah duka cita saya, saat membaca hinaan, caci maki serta protes mengenai nyepi di medsos, yang saya baca dengan kepedihan sekaligus merasa seharusnya; kita semua dapat saling menjelaskan apa tujuan dan hakekat dari nyepi. Salam damai. (cok sawitri, Singarsa, 2015, 22 maret)

Ibu, kapan nyepi itu kapan mulainya?

Menikmati gelap di serambi, ibu saya dengan ingatan berayun-ayun, sekelebat entah apa yang melintas dalam ingatannya," Nyepi itu kapan mulainya? dahulu pastilah tidak seperti sekarang rasanya, dahulu belum ada listrik, kita semua mengenal malam sebagai gelap, hanya sentir...obok...kadang obor di halaman...sundih!" --Entah. Saya berusaha membiarkan ibu mengingat, agar ingatannya berjalan pelahan. Lalu terdengar hela nafasnya,"dulu, ya...saat putra=putra Batara Pasupai dikirim ke Bali ya....itu cerita yang kita tahu ya..."-- Mungkin, saya cukup takjub, dalam gelap saya tak mungkin melihat ekspresi wajah ibu. Lalu disaat saya merasa ingatan ibu akan mencair dari kepadatan kepikunannya,"kenapa listrik mati? PLnnya rusak lagi?"

"Nyepi, bu..." saya menyahut. Ibu saya kembali tenggelam dalam diamnya. Saya kembali memancing, kira-kira kapan bu, Nyepi itu mulai dilakukan? Ibu saya tidak menyahut, kemudian tiba-tiba berkata," sejak lama, sejak kepit komaknya bali ini...Pedande Nabe dulu pernah cerita, sejak lama....sejak Bali belum ada banyak manusia..." --Saya memilih diam, takut ibu saya beralih lompatan ingatannya,"sejak tahun berapa? abad berapa? Raja siapa?"

Itu zaman betare....jawaban ibu membuat saya tersenyum, itu artinya gugur sudah hitungan zaman, era, arkeologi, dan lain sebagainya. Sebab tak terbayangkan awalnya jika itu menyangkut awal kedatangan putra=putra batara pasupati. Artinya sejak lampau benar, nyepi itu diaadakan. Dan saya pernah membacanya, tentang catatan tua, mengenai nubuat suci mengapa nyepi dilakukan, itu memang perintah batara pasupati, leluhur dari penguasa- saptagiri. Ibu saya kembali diam, menikmati gelap,"sampai kapan listriknya mati?" tanyanya dengan kembali. Saya menyahut, "Ini nyepi, bu..."--saya tersenyum, ibu kembali bergumam dalam gelap di serambi.

Ibu saya mengintip nyepi

Pagi sekali ibu saya bertanya pelan,"sekarang nyepi ya?" saya menjawab, ya. Ibu saya memang sudah sangat pikun, tak lama kemudian ia bertanya lagi,"hari apa ini?" saya menjawab,"nyepi..." Lalu ibu saya melangkah mendekati jendela, menyingkap korden dengan pelahan, ia mengintip ke jalan. Rumah kami memang letaknya di pinggir jalan dan di sebelahnya balai banjar." Tidak boleh ke jalan?" tanyanya kepada saya,"Ya, tidak boleh. Nanti ditegur sama pecalang..."

"Tidak ada yang jualan. Pasar tutup..." kata ibu saya sambil melangkah kembali duduk, minum kopi dan tersenyum,"tidak boleh menyalakan lampu nanti malam?" Ibu saya asyik sekali dengan dirinya,"artinya sipeng....dulu boleh ke luar, jalan-jalan tapi tidak boleh membawa apapun ditangan...kapan mulai pemerintah menjalankan sipeng?" tanya ibu saya. Saya tersenyum," sudah lama..."

Di siang hari, kembali ibu saya bertanya,"hari apa ini?" kembali saya harus menjawab,"Hari nyepi..." kembali ibu saya mengintip dari balik korden, melihat ke jalan,"Tidak boleh ke jalan ya?"

"ya, tidak boleh. Nanti ditangkap pecalang..." jawab saya. Ibu saya tertawa,"pecalang tidak menangkap, hanya menegur dan memberi denda, kalau dahulu di bawa ke jaba pura puseh, itu yang melanggar ke jalan saja, kalau di rumah, pecalang hanya boleh menegur...."--- Saya mengangguk, mengiyakan. Ibu saya dengan kepikunannya nampak mulai berpikir," ternyata mengalah juga kuasa pemerintah ya dengan tradisi kita....jalan sepi, pasar tutup...tapi kita di rumah hanya puik sama listrik, tidak mengeluarkan uang..." ibu saya tertawa sendiri, seolah dalam perasaan menang. Saya mencoba memancing agar ibu tetap dalam kondisi jernih diajak bercakap,"airport juga ditutup...semua toko ditutup..."

"Iya, jumah jak umahe ten kapiutangan sekenne jak duwen pemerintah-e..." ibu saya tersenyum, makan dengan nyaman. Mengangguk-anggukkan kepala. Dan saya tersenyum, mencoba memahami apa yang dipikirkannya. Bagi ibu saya, nyepi pemerintah, nyepi nasional sekarang ini mungkin sesuatu yang baru diikutinya, apalagi dengan gaya sipeng. Sebab dahulu ibu tahu banyak desa melakukan nyepi desa, dan nyepi desa sangatlah ketat. Tergantung jenis nyepinya. Jika desanya punya tradisi nyepi luh muani, maka akan terjadi perubahan arus relasi ke publik bahkan kewajiban domestik.Kalau nyepi desa, artinya sawah, ladang, dst akan tidak boleh dikunjungi. Semua diam di rumah, hanya disekitaran rumah. Namun brata penyepian yang sifatnya 'brata ke dalam diri' dibandingkan brata nyaraswasten, brata galungan, dst; lebih sifatnya kepada menjaga bhuwana agung. Ibu saya kembali mendekati jendela, kembali mengintip ke jalan," ibu mau melakukan brata penyepian?"

Ibu saya tersenyum," kan sudah, tidak jalan, tidak menyalakan listrik..." lalu dahinya berkerut," lentikan api di kayun ane pademang, ampunang ngae-ngae mantra...mapitulung ke gumi, apang buin mebayu, nak mula ngoyong di jumah... muspa ten dadi, batarane mase perlu istirahat. Nak mula patut; Ngoyong...oyongan ragane..." lanjutnya, ketika saya katakan, ada beberapa teman melakukan puasa, mirip monabrata hari ini...ibu saya baik bertanya,"gegodan napi? uli pidan nangun-ne?"

Serius, saya kehilangan kekuatan menjawab. Ibu saya paham tata krama brata, dan paham mengenai tata krama brata gumi. Jadi ada yang untuk dilapis luar diri, kembali ke dalam rumah, kembali ke dalam diri, membiarkan bumi, jalan, memahami ketiadaan terang benderang; dst, sebagai suatu hal yang membedakan tegas secara bayangan; dimana posisi bhuwana agung dan alit. Ibu saya sudah terlalu pikun, untuk menemukan suatu penjelasan mengenai brata gumi dan brata dalam diri; yang menurut ibu; dalam kepikunannya, anak nyepiang jagat, ten uyut, ten melali, ten ngujang-ngujang. Di jumah, ngerasaang elah ngelah umah. Ampunang ngartiang lebih, napi buin kanti matenget-tengetan...nyanan bingung idup-e. Nyanan makejang tepuk salah...

Kembali ibu saya mengintip jendela, melambaikan tangan, karena ada pecalang liwat,pecalang itu menoleh dan tersenyum,"sudah makan?" ibu saya menyapa dan tersenyum, menikmati sekali. Kuasa diri, kuasa rumahnya. Di luar sana kuasa publik terdiam. (MENIKMATI HARI NYEPI, TAHUN 2015)

Renungan Nyepi, Bagai Telur Yang Dierami

BANYAK TEMAN & KENALAN, MENJADI PEMANGKU

Selalu saya harus terkejut bila pulang kampung atau saat sembahyang ke beberapa Pura Sad Kahyangan juga bila pergi kondangan, tiba-tiba bertemu teman, yang sudah berbusana menciri-cirikan telah melakukan pewintenan Eka Jati, otomatis saya bertanya," sampun ngiring, puniki?" dengan sumringah selalu saya mendapat jawaban,"inggih..." disertai cerita mengapa dirinya melangkah melompat, usianya masih cukup muda untuk memutuskan memasuki tahap yang menurut saya; sulit saya laksanakan. Dan tentu saja saya harus mengubah cara memanggil: Jro! Tetapi menjadi pemangku memang tidak lagi semata-mata panggilan hati, kadang terkesan seperti trend; kadang-kadang karena ikut arus lingkungan. Semula ikut kelompok tirtayatra, kemudian mewinten, kemudian melangkah memasuki tahap menjadi pemangku.

Mewinten untuk pemangku berbeda dengan mewinten yang dilakukan pada umumnya banyak orang yang beragama Hindu- Bali. Jika untuk pribadi, tujuannya untuk menenangkan diri dan memperdalam ilmu keagamaan, memang melalui tiga tahapan, pawintenan saraswati, ini proses yang disebut membuka (inisiasi) sederhana untuk tujuan memperdalam ilmu pengetahuan, kaum pelajar biasanya melakukan hal ini. Jika kemudian dilanjutkan untuk ke langkah belajar yang menuju keagamaan maka dilakukan pewintenan Marerajahan, ini akan mulai memahami  langkah-langkah persiapan untuk memahami niyama dan nyama brata. Selanjutnya, akan dilanjutkan dengan Pawintenan dengan panugrahan, ini biasanya dalam konteks; menetapkan sang guru spiritual. Sedangkan untuk winten kepmangkuan akan dimulai dengan pewintenan sari; atau sering disebut mawinten ka widhi, yakni memohon langsung ke tempat-tempat suci yang akan diabdinya. Winten sari ini dilaksanakan tanpa pendeta, namun harus disaksikan keluarga, pengempon pura yang menyungsung pura yang akan diabdi, dan harus melalui tahapan upacara yang diyakini oleh pengempon pura tersebut.  Kemudian ada winten pemangku dengan Mepedamel; ini dipimpin oleh seorang pendeta, upacaranya mengikuti tata krama  yang ditradisikan sang pendeta dan disepakati oleh warga yang akan menjadikan pemangku itu sebagai pemuka.

Pewintenan juga dapat dilihat dari tingkat upacaranya, perhatikan bunyi dari lontar pewintenan ini," Nihan tingkahing pewintenan di bunga, nista ngaranya, kramania: angadegaken Sanggar Tutuan 1, genep sakraming Daksina sarwa bungkulan, artanya 1725, canang tubungan maarepan atanding, mwah canang gantal, burat wangi Lenga wangi atanding, rakania nyahnyah gula kelapa aceper, biu mas mwang bubuh perecet winadahan keraras pisang tahen 22 takir, bubur saraswati winalunan roning wadira 22 siki, sami dados atamas......dst"—jadi memang ada jelas perintah aturan dalam tatakrama bantennya. Secara singkat, jika memperhatikan upacara tingkat nista saja, maka sarana bantennya akan mensyaratkan prayascita,pengulapan, kemudian ada banten untuk Sanggah Surya; daksina dua buah, peras dua tanding, suci dua soroh, kelungah dikasturi, dan apabila itu untuk pura-pura dengan persyaratan tertentu, kebiasaan yang disyaratkan akan disertai pula kelengkapan banten pajati, sudamala, pengambian, dll. Boleh kemudian bayangkan untuk tingkat madia dan utama.

Namun syarat upacara ini kerap terlewati, dengan mudah, dengan cepat. Teman, kenalan, dan juga beberapa keluarga tiba-tiba berstatus menjadi pemangku; sebab merasa telah melewati proses upacara. Sehingga kesannya mudah menjadi pemangku asalkan sudah hapal mantra pemuspaan, ngatebang banten; dll, semua mantra-mantra yang diperlukan untuk ngatebang banten sekarang mudah diunduh bahkan atau dibeli secara mudah di berbagai toko buku. Namun yang terasa kemudian ada kesan; kedangkalan dan penyeragaman, ketika ditelisik dengan cermat. Seringkali yang muncul dihadapan banyak orang adalah; mudah kerauhan, mudah seolah-olah mendengar suara-suara, mudah melihat ‘sesuatu’,  mengartikan semua hal sebagai paica: dll. Kemudian begitu sibuk mencari tempat-tempat suci dan menterjemahkan diri sebagai yang siap menerima pawisik dan juga merasa ‘disayangi’. Kesannya memang atraktif sekali apalagi jika pergi berombongan dengan baju putih, kain putih, bija memenuhi dahi;dll.

Seperti biasa setiap kesempatan, saya selalu menyempatkan diri menemui para cendikia dan tentu dengan perasaan untuk meraihkan kebaikan

bersama. Beberapa waktu lalu, trend menjadi pemangku ini menjadi pemikiran, bahwa itu sangat bagus namun harus kemudian didorong agar menjadi;  ngaruruh ka jero, tan makeplag ka jaba. Harus disertai kemauan untuk memasuki diri, lapisan-lapisan tujuan dari dalam diri, tidak dibungakan hanya dengan penampilan dan kesibukan wara-wiri mencari tempat-tempat suci, menjungjung banten daksina, riuh murnama-tilem, namun sejatinya belum melakukan hal yang sebenarnya telah lampau ditawarkan oleh Yogin tertua di Bali dalam soal kepemangkuan oleh Sang Kul Putih.  Meski varian salinan lontar Sang Kul Putih bersisian dengan Kusuma Dewa begitu rupa banyaknya yang tersebar. Namun ada yang sepatutnya dijalankan sebagai dharma ing awak, yakni langkah-langkah Niyama Brata, bagian dari Yogan ning Yoga, yang mendasari sebagai latihan pengendalian diri. Sifatnya sungguh ke dalam diri, menata perilaku diri yang berkaitan dengan tujuan menjadi pemangku itu, yakni penyerahan diri dalam bentuk melayani sesama yang akan melakukan persembahyangan ke tempat suci.

Dalam pengamatan yang sederhana, ini juga ditemukan tata cara pengendalian diri pada para calon dalang, undagi; dll. Jadi memang ada

langkah-langkah melatih diri yakni; " Iti Sangkulputih.....Om Awighnamastu ya nama swaha. Nyan kramaning agem-ageman pamangku. Iti rumuhun kedehepakna ring sarira"  bahwa melatih ke dalam diri ini sangat diutamakan, sekalipun nanti kelak akan menggunakan tradisi puja yang beraneka ragam; tergantung nabe atau guru, atau desa, kala, patranya, namun untuk diri, penyucian diri inilah yang menurut hemat saya, sangat indah dan menggetarkan. Siklus kehidupan pribadi dalam pelatihan ini dimulai saat menjelang tidur," ri kala maturu, mantranya: Ong Sang Hyang Rambut Katomboh ngumandeling awah sarira ning hulun, guruning comma umanis, guruning suryya turu, swapna jagra ya nama swaha". Perhatikan kemudian bahwa hal-hal yang teramat pribadi pun disertai mantra; mawarih, makoratan, malamurud, masigsig (sikat gigi, dll), makramas, masuri (menyisir rambut), membuka pakaian, memakai busana, bahkan bila meludah, mencuci muka, atau akan berendam; mausuhan (menggosok badan), jika memakai kampuh, selendang, jika mengunyah sirih atau merokok, bila makan, memetik bunga, dst.

Langkah-langkah Niyama ini, pengendalian diri bagi  pemangku masa kini ini sering diabaikan, yang didorongkan justru penampilan phisik dan kesemangatan muspa ke berbagai tempat suci. Padahal, kunci dasar dari kebeningan kesadaran kemungkinan terletak pada fundamen ini.

Kebungahan hasrat untuk mendekatkan diri, dalam laku spiritual memang tidaklah mudah, namun kerap dikesankan mudah.  Kedamaian itu sesungguhnya sederhana, ke dalam diri, itu perlu proses yang panjang, jatuh bangunnya hanya diri yang tahu. Banyak sekali kitab penuntun untuk hal ini, dan memang seringkali banyak pihak mengira ini milik untuk golongan tertentu, sesungguhnya tidak. Yang membuat para guru suci enggan berbagi adalah sikap kita yang kadang hangat-hangat tai ayam, apalagi jika karena didorong oleh persoalan-persoalan pribadi; mewinten, menjadi pemangku, bukanlah katalis untuk melepas persoalan duniawi.  Persoalan duniawi harus dihadapi, harus pula dengan proses dan setiap saat disertai keinginan mendengarkan, bahwa perjalanan karma memang tidak terduga bagi siapa saja. (RENUNGAN NYEPI, seperti telur dierami kini, 2015)

NYEPI : 'Kelopak Bawang' Pertama.......

KADANG PERAYAAN NYEPI begitu mencengangkan, hingga banyak mungkin orang di luar pulau Bali sulit membayangkan suatu kekompakan untuk merayakan kesunyian; dengan brata (upaya menahan diri) untuk beberapa hal yang sehari-harinya adalah kebutuhan dasar hidup dan gaya hidup. Nyepi kemudian dibahas sejarahnya dikaitkan dengan tahun ICaka, atau dibahas mengenai bratanya, bahkan di era kapitalisasi ini nyepi juga ditempatkan sebagai langkah paling efisien dalam soal urusan menghemat energi, ramah lingkungan; dll. Padahal, beratus-ratus kitab suci mengenai ajaran suci khususnya Agama Hindu Bali, dan ini sering tidak ditemukan di berbagai wilayah puspa warna keberadaan Hindu di Dunia. Salah satu lontar Aji Sundari Gading, mengungkapkan mengenai ajaran asal muasal; yang jika direnungkan kemudian, akan dipahami mengapa perayaan Nyepi itu naluriah dialkukan; dan semoga tidak selalu dipaksakan dengan sejarah tahun Icaka, sebab perayaan Nyepi adalah wilayah agama Wali (Banten)-nya Bali yang kemudian bertemu muaranya dengan Hindu Bali, bertahun-tahun lampau. Walau dalam kesempatan ini saya terjemahkan dengan bebas; agar memudahkaan membaca; untuk memahami bahwa lapisan-lapisan memahami Hindu Bali, khususnya Nyepi sedalam sepi itu sendiri, tidaak sebatas ketakjuban potret sunyi untuk postcard. Jujurnya, dengan sedikit rasa takut, saya memberanikan diri menyampaikan hal ini, agar menjadi pengetahuan; bagaimana sesungguhnya perbedaan ajaran-ajaran suci di dunia ini, segera memahami bahwa banyak benar pengetahuan suci di Bali, yang memang tidak untuk diceramahkan apalgi untuk didiskusikan dan tentu saja ini ada dalam wilayah tatwa; disetarakan sebagai filsafat suci, yang tidak diperdebatkan lagi di depan berbagai tindakan agama: kocap puniki agem-agem; yan sampun memargi wau dados gaman!...... selamat membaca dan selamat Tilem Kasanga.

Terjemahan Bebas Bagian Pertama: Aji Sundari Gading
Oleh cok sawitri

1a Semoga tiada yang menghalangi; ini ajaran yang sangat mulia dan utama, namanya Aji Sundari Gading, penjelasan Mpu Siwa Cidi Adnyana kepada Maha Raja Hyang Manu yang saat itu berkuasa di Negara Medang Kayangan, entah berapa lama ajaran itu disampaikan kepada Sang Maha Raja oleh Sang Mpu, isi percakapannya: Aum Yang Mulia, Maha Guru, Pengasuh yang mulia; sekarang saya sungguh mengharapkan dari anda pemberian dari Sang Mpu sebuah jawaban: dari Sang Mpu, bagaimana para leluhur itu ada? Bagaimana mencapai kemakmuran bumi? Bagaimana asal muasal manusia ketika mengisi bumi ini di jaman dahulu kala?  Lalu ada yang menetapkan aturan, seperti leluhur-leluhurku menjadi Maha Raja? Berikan saya penjelasan sekarang, begitu perkataan Sang Maha Raja Hyang Manu. Menjawab Mpu Maha Darma (Mpu Swa Cidi Adyana) begini ucapannya,

1b.  Aum Maha Raja, semua mengenai itu Maha Raja adalah ajaran para leluhur kepada kita semua mengenai perilaku, mengenai kisah adanya dewata yang mengisi bumi ini, yang saya sampaikan ini bersumber pada apa yang disampaikan oleh Rsi Agastia ketika bersabda kepada anak kandungnya yang saat itu masih berusia muda, yang bernama Begawan Bredasya, dan penjelasan Rsi Agastia kepada anaknya itu bermuara pada apa yang disampaikan oleh Begawan Dusampyana; ketika dahulu kala, ada pertemuan dengan para dewa dan ini tersebar luas di jaman Janamejaya, menurut ajaran saat itu mengenai pengetahuan suci ini, bahwa ajaran suci ini sebenarnya ada pada kitab suci yang namanya Aji Brahmanda Purana, di situ dimuat bagaimana asal muasal para leluhur itu, bagaimana manusia membangun bumi ini, bagaimana manusia membuat peraturan waktu, hingga masalah yuga, semua itu ada masing-masing jawabannya, saat itu tak ada dewa, tak ada bhuta, tak ada manusia, seperti itu penjelasan awalan dari Sang Maha Muni kepada Raja Hyang Manu, kembali menjawab Sang Maha Raja, dan bertanya: Aum Yang Mulia Pengasuh Agung, juga para guru yang telah menyampaikan ajaran-ajaran tentang asal muasal itu, sekarang izinkan hamba bertanya, bagaimana sebenarnya kemunculan atau kelahiran para dewata di jaman dahulu, siapa yang menyebabkan mereka itu ada, begitu banyak penjelasannya dalam berbagai kisah cerita, semua sendiri-sendiri, bagaimana sebenarnya awalan adanya aksara, dan siapa yang menciptakan aksara itu, dan bagaimana ia muncul di bumi, dan bagaimana buminya bisa ada, mengapa ada langit, mengapa adanya para dewa dan seluruh isi surga, kenapa ada matahari, kenapa ada bulan dan bintang-bintang, dan mengapa ada semesta itu, dari mana datang semua itu, begitu pertanyaan sang maha raja kepada sang pengasuh mulia, kini menjawab sang maha yati, ucapanya; Aum Maha Raja, dimasa dahulu kala itu, mengenai penciptaan aksara, mari merujuk pada apa yang disampaikan oleh Begawan Byasa, begitu juga pertanyaan masing-masing tadi, terutama ketika dunia ini kosong tanpa penghidupan, tidak ada bumi, tidak ada langit, hanya ada Bhur, ada Akasa (kehampaan) dia itu sesungguhnya bergelar Hyang Sarinning Tawang, dia yang menyaksikan kejadian-kejadian itu, nama beliau saat itu, Sang Hyang Sundari Gading, dari kehampaan itulah semua yang kamu tanyakan akan bermunculan, dia merupakan inti sari dari Sang Hyang Sundari Gading, pada awalnya muncul rupa tubuh, tapi tak bertubuh, dia itu juga berwajah tapi tak berwajah, seperti rupa, seperti cakra penampilannya, kadang berubah-ubah sesaat, kadang cepat yang tertangkap adalah warna merah, hitam, terus begitu, lalu muncullah Sang Hyang Sundari Gading dari tengah putaran cakra tersebut. Begitu rupa warnanya mengagumkan, menakjubkan disaat kemudia berubaha penampilannya itu disebut Sang Hyang Panca Sunya Nirmala, kalau ditanya kesejatiannya, dia itu adalah kesejatian yang tak terbayangkan, itu yang sering disebut Sang Hyang Widi Wisesa, salah satu kemaha muliaan dari Dia yang tak terbayangkan. Setelah itu, disaat masih Sang Hyang Sundari Gading melakukan tapanya, tiba-tiba muncul dari putaran cakra itu sekelebat cahaya, tidak bermata, tidak berupa, dia cahaya tapi juga tidak cahaya sesungguhnya, itu disebut juga sekala niskala. Itu kelak yang disebut Sang Hyang Eka Aksara, tapi sesungguhnya bentuknya tidak seperti aksara (huruf), maka disaat itulah muncul bertubi-tubi dari putaran cakra itu, berupa bentuk tapi tidak berbentuk, warnanya kadang merah, kadang hitam, kadang putih. Itu yang kemudian akan disebut Sang Hyang Dwi Aksara Madhu. Setelah itu kembali muncul dari putaran cakra itu delapan warnanya, kadang putih seperti bunga, kadang bercampur baur, kadang merah muda, itu nantinya yang disebut Sang Hyang Tri Aksara Manu. Setelah itu kembali muncul dari putaran cakra itu, mirip sekali dengan suku, warnanya kadang nila, kadang putih, itu nanti yang di sebut Sang hyang Catur Aksara. Setelah itu muncul lagi dari putaran cakra itu berupa Wadag (Angga), tapi itu juga tidak berupa Angga, warnanya sangat putih, kadang terputus-putus, kadang berwarna nila, kadang berwarna hitam pekat, itu namanya Sang Hyang Panca Aksara Madhu. Ketika semua putaran yang muncul itu menjadi satu, itu yang disebut Sang Hyang Eka Sunya Anglayang, itu yang akan memancing keluarnya dari kedalaman putaran cakra itu, munculnya apa yang disebut dengan semua aksara itu, itu yang menjadi berbagai rupa bentuk, itu asal muasalnya yang akan melahirkan segala macam ayat suci, prinsip-prinsip pengetahuan tinggi, inti sari dari ajaran mulia, inti sari dari ajaran mokhsa. Setelah itu Sang Hyang Trimana Lingga Sunya Nirmala Menjadi ujung dari puncak inti sari itu. Itu yang disebut inti sari yang tak terbayangkan, disaat itu pula, Sang Hyang Sunya Catur Tirta Arnawa mengalami keheningan yang maha sejati, yang tak terganggu, tak tergoda, tak tercemar oleh apapun. Dari peristiwa itu, melahirkan Sang Hyang Panca Tirta Mretha, dari itu pula yang akan memunculkan dewa, butha, manusia sakti, tri buana, itu dari Sang Hyang Panca Tirta yang melahirkan dewa, juga Butha, manusia yang seba diam, yang seba ada, yang serba bertenaga. Begitu ajaran suci dahulu mengenai asal muasal dari tatwanya, demikian ucap sang Mpu Dharma. Lagi sang maha raja berucap, Aum, wahai sang maha Poruhitha, sekarang sungguh berbahagia rasanya perasaan saya, memikirkan apa yang telah anda sampaikan kepada saya mengenai semua sabda suci yang ada dari jaman dulu kala, mengenai terciptanya segala ajaran suci itu. Sekarang izinkan saya bertanya mengenai Sang Hyang Aji Aksara, bagaimana dahulu keadaannya seperti apa wajahnya dahulu. Begitu pertanyaan maha raja. Menyahut Sang Mpu Siwa Cidi Adnyana, diinatkan oleh beliau; ingat-ingatlah ini tentang yang bentuknya berupa inti sari itu, yang pertama Cru, Windu Saraswatya, Candra Wijayam, Cakra Wijayam, Padma Wredayam, Nadha Candram, Nadyam Puranca, Swetam Raktam Puspitayam. Kresnayam, Tampakdaramam, Sarwa Sastra Sarodratyam, Dadyam Om Kapam Mantram, Trioksara Am Um Mam, itu awalannya mantram.

5a Kalau lagi dijabarkan mengenai inti sari dari Sang Hyang Sundari Gading disaat beliau beryoga, disaat memunculkan Aksara, beliau kemudian khusuk jauh ke dalam putaran cakra itu, di dalam kekhusukkan itu kembali memuncukan aksara, itu sesungguhnya Sang Hyang Dharma duduk di atas cakra, tidak hanya berhenti sampai di situ, sesudah Sang Hyang Sundari Gading berada di dalam cakra itu, muncul rupa bentuk seperti padma, wajahnya juga badannya putih pucat, sehingga bila dipandang rupanya berpendar-pendar. Bila ditanya sebesar apa bentuknya, seperti secabik kapas di ujung jemari. Dari situlah muncul aksara, di saat pemunculannya itu, disebut Kuntul Angalanglayang, itu sastranya (sebutannya), tetapi sesungguhnya itu bukan. Jadi yang dapat dirasakan seperti hempasan angin dari senjata Bajra, itu sesungguhnya inti sari dari windu. Di saat itulah muncul apa yang disebut Sang Hyang Tampak Kuntulanglayang, mengeluarkan suara seperti suara burung, bentuknya itu seperti Tapak Dara; bacalah itu: MAM, itu bersatu dengan Sang Hyang Windu, pada saat itu muncul suara, suara yang agak di dalam dibaca ER, dia itu inti dari takdir (Sarining Tuduh). Itulah yang menakdirkan suara yang diam, suara yang berpencar, itu yang disebut sang Hyang Eka Dwi Sara. Juga muncul Sang Hyang Ardha Chandra, penampilannya remang-remang, suaranya seperti gemuruh hujan, bentuknya Ongkara Ngadeg. Setelah pemunculan itu, berubah warnanya seperti warna emas yang hablur, suara yang terdengar AM, sejatinya itu juga Padma, yaitu asal muasalnya hidup. Setelah itu, jika itu kamu tanya keberadaannya di dunia manusia, terutama pada tubuhmu, dia itu letaknya di usus, itu sebabnya usus itu disebut Ciwa Tatwa, itu yang menyebabkan dasa bayu dalam tubuhmu, begitu ketetapan yang didapatkan dari dahulu, baru kemudian muncul nadi, bentuknya itu sepi minyak mili, suaranya seperti api besar hurufnya OM. Kalau itu di tubuhmu, hurufnya Ongkara Sumungsang. Kalau dia itu di nyali tubuhmu, itu hurufnya Onkara Bungkung, asalnya masih dari Om yang tadi itu adalah ketetapan pemeliharaan bagi hidup di dalam rongga tubuhmu, kalau kamu memahami Sang Hyang Sundari Gading, bukan hanya sekedar memahami tapi menguasainya, itu akan menjadi Bayu Baya, yang membuat manusia bisa menjadi sakti, begitu penjabaran dari Mpu Ciwa Cidi Adnyana. Kembali menyahut sang Maha Raja, izinkan saya bertanya lebih dalam lagi, sebab masih banyak yang belum saya mengerti dari inti sari ajaran itu tadi. Segera sang Mpu menjawab; iya, apalagi yang ingin engkau tanyakan kepada saya. Lalu Sang Maha Raja bertanya, seperti apa ketika Begawan Kresna Dwipayana menerima wahyu, lalu membuat kitab suci itu, apakah masing-masing ada ceritanya, apakah itu berinti pada Tatwanya atau Aksara. Begitu pertanyaan Sang Maha Raja. Menjawab Sang Mpu; ini bisa saya jelaskan mengenai apa yang disebut dengan Sida Siddhi, dalam prinsipnya ada tiga prinsip yang harus anda pegang, wahai Maha Raja jangan pernah dilupakan.

6b mengenai Mpu Sang Hyang Sundari Gading, yang menjadi pusat pembicaraan ini, sekarang diceritakan Sang hyang Cakra Wijaya, lenyap kembali pada keheningan kehampaan hening, samar-samar tapi juga tidak bias disebut samar-samar, Nampak tapi juga tidak bias disebut Nampak, siang hari tapi tidak dibut siang hari. Peristiwa lenyapnya Sang Hyang Cakra Wijaya itulah disebut Sang Hyang Suddhanirmala. Di saat dia beryoga, itulah yang sebenarnya menciptakan dewa, rajanya dewa, disaat itu seketika tercipta wajah tak berwajah, tubuh tak bertubuh, berwarna sweta, melingkar posisi tubuhnya seperti burung yang terkena badai begitu besarnya, itu muncul dari yogha Sang Hyang Suddha UM Nirmala, peristiwa itu disebut Sanghyang Sunia Tri Nirmala, setelah Nampak Sanghyang Trinirmala ini mendekat suara gemuruh yang luar biasa, mulai tampak tubuhnya batara, besarnya seukuran guli, di saat nampak itu disebut Sanghyang Sunya Kamareka, sebab dia dalam situasi dan kondisi Rwabhineda. Dia ditakdirkan sebagai Sanghyang Sarining Sunya UMkara, menyusup ke dalam kesemestaan yang tengah tercipta. Dia Sanghyang Sarining UMkara, dari situ akan keluar ditakdirkan merancang itu aksara juga para dewata ; seluruh aksara juga merancang seluruh tempatnya, itu diciptakan serentak! Demikian proses penciptaannya dahulu sekali, sering disebut Purwa Dewa Aji Taksaran dan juga disitu tercipta adanya Trikaya Parisudha, Tatwa Diatmika, itu sebabnya sang penciptanya disebut Sanghyang Kawi UMkara, dia juga disebut Sanghyang Bhur. Ini juga akan muncul dalam Brahmanda Purana, yang akan menceritakan juga tentang Sundari Gading, sebab dari Brahmanda Purana itu melahirkan begitu banyak melahirkan Tatwa Carita, antara lain Adi Sasana, Wana Wasa, Tirara, Samedia, Dwija, Anka, Salia, Nisma, Gaddha, Setripalaya, Srama, Catur Asrama,  dan banyak sekali yang lainnya termasuk Aksara Samuscaya, Aksara Samuscaya Kreta, Adigama. Nah, yang berkaitan langsung dengan agama, antara lain; Treta Agama, Dewa Danda, Mantri Sasana, Dewa Sasana, Rasi Sasana, Raja Niti, begitu perkembangan masing-masing. Demikian yang disampaikan oleh Sang Mpu.

Menyahut Maha Raja dengan segera, Duhai Guru yang Mulia, belum tuntas saya memahami mengenai apa yang anda jelaskan, sekarang saya mau bertanya, seperti apa Purwa Dewa itu? Menyahut sang Mpu; Baiklah maha Raja, ini mengenai Purwa Dewa itu, sekarang kita ceritakan dari Sanghyang Tri Sunya Reka, beryoga untuk menciptakan semua dewa. Di saaat dia beryoga itu disebut juga Sanghyang Sunya Taya, tercipta "Tang" sebagai seloka, juga Sruti, tercipta juga “Adi Sunya Mawidyatam, Maha Kertam, Maha Shakti Maha Inem, Maha Kreta Maha Shakti Purusho We Sukam, Katanam Mani Prasusatye", inilah wahyu yang pertama terdengar sampai di bumi, itu berasal dari Sanghyang Sunya Taya, asal muasal Batara dan Batari. Dia itu juga disebut Sanghyang Widi Wisesa yang sesungguhnya sari dari Sanghyang Sundari Gading yang juga menjadi Sari dari Saraswati: Ning, itu adalah cahaya bagi manusia (buana alit) juga bagi bumi (buana agung), di saat terdengarnya aksara itu berbunyi “ini sebagian Srutinya", “Tram Kertam Widi Purwam, Katatwam Ywatam, Swaha Mandalanam, Ring Darma Atam. Pa." Sekarang kita jabarkan mengenai Sanghyang Widi yang juga disebut sebagai sari OMkara yang juga menciptakan putra-putra Dewata, juga yang bukan dewa, juga termasuk Butha sebagai pelayannya, begitulah sebenarnya yang dimaksud dengan Sanghyang Sunya Taya. Begitu banyak ciptaannya, kadang tidak sanggup lagi kita mengingatnya, sering tidak memiliki rupa, juga tidak memiliki celah, tak terukur, tak terbayangkan, sering tak sanggup kita memikirkan terciptanya aksara pada awalnya, yang tercipta dari apa yang disebut juga Trimana Sanghyang Sunya Taya Nirmala, dia merupakan sari dari Sanghyang Sundari Gading, merupakan asal muasal aksara, yang kemudian berkembang menjadi Pancaksara, yang bentuknya seperti cakra gemerlap, berputar-putar tak pernah terhenti, dalam rahim Sunya Nirmala, itu dia disebut ruang dalam Padma Cakra Aksara, dari situ muncul bibit suci UMkara, ditakdirkan keluar yang tidak keluar namanya Eka Windu, dia juga disebut demikian. Nah, kita sekarang melanjutkan proses penciptaan selanjutnya, yaitu disaat Ekaksara yaitu UMkara juga Pancaksara, SAM disaat itu disebut Iswara: BAM. Lalu Brahma disebut: TAM. Maha Dewa disebut AM. Wisnu itu berubah dijadikan 50 bentuk, antara lain, Sunya Atotaya: MAM AH, lalu Dwi Aksaranya disebut: AM AH, Tryaksara disebut: MAM UM AM. Itu juga Subyaksara, dia juga Maha Windu, itu juga adalah Sunya. Setelah itu ada yang disebut Dwiaksara, Bhatari: AM. Pramasiwa: Ah. Kalau nanti itu disambungkan pengucapannya denga Triaksara maka dia akan menjadi mantram: OM RAH NINITARI AH, SIRE SANGHYANG PRAMASUNYA, OM KARA BHATARA SIWA. Sekarang kita lanjutkan tentang Sunyaksara ada 50 banyaknya, dia itu juga Sanghyang Sunya Nirmala sebutannya, di saat adanya Sunyaksara itu muncul juga ciptaan Eka Twi manu, Dwi Sura Manu, Tri Sura Manu, juga ada suara-suara yang luar biasa, suara yang bercampur dalam peristiwa itu. Setelah itu keluar sarinya Weda Mantra, dia juga sari dari surga, sari dari nirbana, dia juga sari Windu Taya, dia juga merupakan bibit dari semua suara, dia yang kemudian akan menjadi jenis semua suara, suara diam, suara ngorok, dan juga ada yang disebut dengan suara ketika Brahma mengisap sari, suara di dalam sunyi sepi, suaradi tengah kegemuruhan samudera, suara di tengah-tengah tarikan nafas hidung, suara di tengah pangkal lidah, suara dalam kehampaan semesta, suara di puncak suara, suara di saat angin menunjukkan amarahnya, suara di desirnya angin, suara di saat ketika nafas itu terlupakan oleh kita. Semua itu tercipta di seluruh permukaan semesta. Setelah itu Sanghyang Sunya Nirmala barulah menciptakan Purwa Dewa, yang semuanya Nampak bercahaya-cahaya. Demikian ketetapan yang sudah ditetapkan dahulu. Sruti: “Mahawidyam Hiyewam, indurupanya Sanghyang mami, Inguni Papadya Rupam, Mahatwa ya Adi Kadga, Nimihing Tatwa Dikah, Twi Wadhu Mtu Nimite". Peristiwa itu begitu indahnya, di situlah kekuatan Sanghyang Widi, menciptakan semua dewa, sebab diberikan tempat di Sunya (tempat tak terbayangkan) juga ditempatkan di belakang dia, di kiri dan kanan, kadang tak terbayangkan bagaimana beliau menempatkan dewa-dewanya itu, juga tak terbayangkan kapan dia datang dan perginya, selalu ada cahaya-cahaya sebagai tanda kehadirannya, tapi selalu kamu harus ingat, sebelum dewa itu hadir selalu ada desiran angin yang tak terduga cirinya.

Sruti: Chantikuni Mtutwam, Atamyan Awidhititah, Kreta Maharupam, Upaprastawa Dewam, Pa". dia yang baru tercipta itu diberi nama Sanghyang Cantik Kuning, keluar dari kasih sayang tak terhingga dari Sanghyang Widi Wisesa, begitu jelitanya rupa mereka, salah satunya ada yang bernama Bhatari Uma, Sruti; Kursika Sang Sweta Rupam Coma Sunya Metu Putyeng, Sang Sadyana Wanayat, Iswaranamah Dewam". Dia muncul di atas tandu terbang dengan cahaya yang sangat luar biasa, putih warnanya, lalu muncul kemudian Sangkursika namanya, keluar dari bayangan cahaya itu, itu namanya Sang Sadya, setelah itu ada yang disebut Bhatara Iswara. Sruti: Sang Garga, Rakta Warnaya, Meti Widi Sukapunyeng, BAM Bama Apnuyat, Twam Brahmana masning Dewam, Pa. lalu tercipta pula dia yang disebut Sang Garga, rupanya merah sebutannya Sang Bang itu akan menjadi Basma (menjdi Karbon) setelah itu muncul Sang Hyang Brahma. Sruti: “Metri Kawitwam Warna Sya, Alah Mungguh Muka Punye. Tatapumama Wapunyat, Madewam Namamimam, Pa". Nah, Sang Hyang Widi juga dikisahkan menciptakan jenis kelamin lelaki bentuknya seperti semburan cahaya yang disebut Metri: TAM. Setelah itu ada yang disebut dengan Bhatara Maha Dewa, Srutinya: “Kurupyam Kresna Rupam, Apti Widi Metu Punye, Am Anggo Metu Puyat, Twi Wisnu Nama Anak mami. Pa." sekarang kita bicarakan tentang Sunya Kareka, dia yang memiliki putera lelaki, hitam bentuknya, itu yang disebutkan sebagai AM dan memiliki banyak nama, kelak dia dikenal sebagai Bhatara Wisnu.

11a. Sruti: “Kretantala Intarupam Bhurbwah Widyam Mapanye, IM I Sama Mawahyang, Twam Siwa Namaning Dewyam. Pa". sekarang keluarlah putra yang hijau namanya Sang Kretantala warnanya sebanyak 5. Dia nanti juga disebut Sang Hyang IM Isa, setelah itu Bhatara Siwa mengeluarkan Sruti: “Sadewa Saktya Baktyam Nam, Twam Baktyam Maha Sunya Tanam Tarwihang Sadnya Mawidyam, Amretam Alah Ta Wijim. Pa." Camkan ini anakku, apapun yang diinginkan oleh Sang Hyang Widi tak akan bias menolak keinginannya, itu salah satu kekuasaan dari SangHyang Widi. Srutinya: “Ajnyana Sunya Nirmalam, Atmaja Catur Dewate Engdyah AH Sadnyana Putra Kahya Bhwanaken Mami. Pa." Begitu wahyu Sanghyang Widi kepada Sang Dewa Catur yang mohon anugerah disaat akan membuat lapisan-lapisan bumi, beliau memohon kekuatan yang sama dimana tak bisa menolak dari ketentuan yang akan mereka buat.

11b Sruti: “Kursikam Garga Metritwam Kurusya Kretatjalanam, Tar Wihang Wisaye, Ribunam Subianam. Pa". Maka jadilah itu catur dewa, Sang Kursika memohon kepada Sanghyang Sunya Wisesa, oh yang dipuja sebagai sang sukma sekarang telah ada 6 kekuasaan dari Hyang Widi yang dimiliki oleh para dewa yang akan membuat aturan semesta, kalau tak ada kuasa penciptaan dari Hyang Widi terhadap 6 kekuasaan itu kepada para dewa semua, mohon ampun sebesar-besarnya, seluruh hasil ciptaanmu ini sekarang hamba mohon restu dan hamba sendiri akan mohon pamit, tidak akan bersama 6 kekuatan Bhatara itu, yang bertugas membuat bumi. Demikian yang disampaikan oleh Sang Dewa Catur. Kemudian menyahutlah Sanghyang Sukma, Sruti: “Kursika Mwang Raksasa Rupa, Garga Satwa Monam, Metri Nago Rupanca, Kurusya Mina Hwayarupa. Pa." Nah, itulah yang disampaikan oleh Sanghyang Sukma kepada Sang Dewa Catur: kepada 6 kekuasaan suci yang sesungguhnya dimiliki pila oleh Sanghyang Suksma Taya, yang pada saat itu juga mewahyukan berupa ucapan: Hai kalian Sang Dewa Catur, kamu Sang Kosika sebab kamu menolak tak ikut dalam ketentuan yang aku buat, maka kamu Sang Kosika semoga kamu menjadi Bhuta Dengen rupamu lebih menyeramkan dari Yaksa. Lalu kamu sang Garga, kamu akan menjadi Mong, lalu kamu Metri akan menjadi naga, lalu kamu kurusya akan menjadi buaya, nah itu semua kutukan yang harus kalian terima, itulah yang akan menimpa sang Dewa catur sepanjang zaman, tak bias menolaknya, tak bias menghindarinya. Sruti: “Dewa Catur Salah Rupam, Purwa Daksina Uttaram, Pascima Mangsat Siretwam, Tarkawenam Katatwang Dewam, Pa". Begitu wahyu yang disampaikan Sanghyang Suksma Taya, bergegas-gegas Dewa Catur melesat dari hadapan suara itu, lalu mengambil posisi empat penjuru, mulai saat itulah Sang Kursika berada dalam posisi yang Iswamanu, disebut Sanghyang Purwa bentuk rupanya adalah Bhuta Dengen, arah anginnya Wetan (utara), lalu di timur ditempati oleh Sang Garga, itu sesungguhnya tempat Sang Bramaramanu, itu disebut posisi daksina. Lalu di arah selatannya bumi, kesitu Sang Metri ditempatkan, menempati posisi Maha Dewa Swara Manu. Lalu kemudian Sanghyang Paskima, ia letaknya di Kulon (barat). Nah, sekarang Sang Kurusya menempati tempat Haris Swara Manu, kelak nanti disebut Sanghyang Utara Manu (arah utara bumi). Inilah sesungguhnya menjadi awal adanya arah mata angin, timur, barat, utara, dan selatan. Nah itu sebabnya nanti akan menjadi penyebab yang sebut adanya Kanda 4 Dewa. Bersamaan dengan itu, diciptakan juga manusia sakti di seluruh penjuru bumi, itu yang nanti disebut Sang Catur Bhuta, itu nanti yang akan memasuki unsur dalam penciptaan manusia, keluar masuk tidak menetap, itu sesungguhnya inti sari dari Kanda 4 Dewa: Sanghyang Korsika akan menjadi bibit suara, dia disebut Anggapati, Sang Anggapati di dalam proses penciptaan itu akan menjadi air ketuban, warnanya putih. Sedangkan Sanghyang Garga nanti disebut Sanghyang Yamadipati menjadi darahnya manusia, lalu ada Rajapati yang berasal dari Metri, sementaraSang Banaspati menjadi Banah yang berbentuk Jenar, sedangkan Sanghyang Kursya berada di bagian kepala berbentuk hitam legam. Sruti: Nakarona Yaram, Myatwam, Narayapam Prayodani, Umasiwa Prayipanam, Konam Sunya Mahasiwa. Pa. Duhai anakku semata wayang, seperti apakah rupa anakku itu, begitu terdengar suara, biarlah pada awalannya dia disebut Sang Cantik Kuning, biar juga dia disebut Kretan Jala, Sebab sesungguhnya dia ciptaan Sanghyang Suksma. Sruti: “Sani Sana Padma Sanah, Isanan Satnyawidyam, Maka Saktitah Temaajayengku, Hyang Widi Satnyanakmamam. Pa". Duhai anakku Krentan Jala, Cantik kuning, semoga menyatu sakti seperti yang diharapkan, taat engkau anakku kepada yang menciptakan kamu. Srutinya: “Swabawa Sunya Sang Sarwa Darmam, Swabawam Ning Sarwa Sunyam, Prakretinta Sarwadarma. Pa". Duhai anakku, lalu terdengar suara Sanghyang Suksma, anakku segala hidup adalah sesuai dengan keinginanku dan seperti apa yang aku katakana, kalau siapa saja mengikuti ketentuanku apalagi dengan jalan pengetahuan, maka engkau bagaikan dewa, karena itu ingatlah ketentuan ini, kelak di masa depan kamu akan disebut ninipatuk dan kakipatuk, bahagia-bahagialah kalian. Sruti: Mahawiryam, Awarewara Wisanta, Sarwa Tatwa Matra Dike, Sarwa Salekam Saratam, Pa.

14a Maka kemudian terdengarlah wahyu dari Sanghyang Widi: Wahai nini dan kaki berdua, bapamu sekarang akan menganugerahi kalian berdua yaitu segala macam mantera, segala macam filsafat, segala macam rahasia sunya, segala macam isi dari wahyu yang semuanya itu semua anugerah ciptan dari Sanghyang Onkara, perhatikan dengan baik-baik Srutinya: Pancaksangan, Sarwatatwam, SAM BAM TAM ING, Maka Tatwam, Ekaksara, Ma, Omkara, Pa. Masing-masing dari Pancaksara itu adalah sesungguhnya kuasaku, dia juga ciptaanku, SAM: Iswara; BAM: Brahma; TAM: Maha Dewa; AM: Wisnu. Di situ kaki nini juga termasuk Panca Brahma: NAM MAM SIM WAM YAM. Ingat-ingatlah wahai kalian berdua, bahwa sesungguhnya awalnya mereka adalah sinar suci, dialah yang akan menjaga kalian berdua dan juga disebut ekaksara, dia itu yang sebenarnya menjadi bahan dasar keberadaanmu di dunia, juga bahan dasar dari anak keturunanmu.

14b Sruti: “Dwiaksara: AM AH, Tatwa Triaksaram MAM OM AM UM, Sunyaksara Maha Windu, IM Sunya Tatwa Anak Mami, Pa". Memahami Dwiaksara Am itu kamu Nini, Ah itu kamu Kaki, karena itu jika kamu sudah memahami Tryaksara, maka kamu akan mengenal kalimat ini; OM Nini Bhatari, AH Ramanira, OM Kaki Bhatara Siwa. Sedangkan Sunyaksara yang ada 50 rupa itu dengarkanlah Srutinya:


(Terjemahan bebas Bagian Pertama: Aji Sundari Gading, salah satu dasar Tatwa, mengenai asal muasal semesta; pengetahuan suci Agama Hindu Bali, salah satu ajaran suci yang menjabarkan tatwa asal muasal mengenai Sunya)

Kenapa Bunga Bukan Yang Lainnya?

Beberapa  anak muda telah singgah di teras rumah, mereka pulang karena rindu perayaan nyepi dan seperti biasa semangat pulang dibarengi pula semangat mempertanyakan berbagai tradisinya sendiri.  Banyak kisah kepulangan anak-anak muda Bali dengan semangat bertanya; seakan tiba-tiba begitu banyak hal yang tak diketahui dalam agamanya sendiri; yakni agama Hindu Bali atau Gama Tirtha ini, agama yang menandai mereka sebagai orang bali. Mereka kini merasa tak cukup lagi dengan pengetahuan berdasarkan kebiasaan ataukah ajaran lisan, tetapi harus ada referensinya.

Renungan Nyepi: Rumah Sakit di Pagi Hari

Belum matahari terbit benar, saya sudah di IRD sebuah rumah sakit di kota kecil. Ayah saya, pasien pertama hari ini, melegakan sebab perawat dan dokternya sigap. Tapi ibu saya terus menerus mengingatkan; uangnya sudah di bawa? Saya mengangguk memperhatikan proses perawatan terhadap ayah; jasa pelayanan dan jasa sarana di hari kerja; sebab tarifnya ada dua macam; di luar hari kerja dengan harga berbeda. Istilah-istilah itu saya baca di dinding depan, dekat ruang tunggu setelah ayah diharuskan observasi terlebih dahulu;  apakah akan rawat inap atau rawat jalan: tergantung dari hasilnya nanti; tensi diperiksa lalu diambil tindakan medik. Ibu saya sekali lagi mengingatkan, apakah saya sudah bawa uang?