Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Maguru Sisia


Pasraman, dan Maguru Sisia Pada Hindu Bali


Bagaimanakah dahulu pewarisan pengetahuan agama di Bali dilakukan? Pertanyaan sederhananya apakah ada sekolah? Sistem pendidikan seperti apakah yang menyelamatkan pewarisan pengetahuan suci itu (? ) Mengingat sejak lampau telah ditemukan prasasti, era perunggu misalnya memberi syarat akan kemampuan ketrampilan kriya yang menakjubkan. Dalam sebuah prasasti abad ke 8 misalnya, kala itu ada yang disebut Satra; kata ini sebenarnya bermakna penginapann yang berkaitan dengan kuil suci. Era Singhamandawa; bangunen partapanan satra dikatahan buru......di bukit cintamani mmal. Kala itu ada tiga pendeta disebut bhiksu yang diperintahkan membangun pertapaan (prasasti Bukit Cintamani), sebutan lain 'ulan', pada era itu para pendeta siwa dan budha memang kerap membangun partapan. Kemungkinannya inilah model sekolah spiritual Bali lampau, yang tersebar cukup banyak di sekitar bukit Kintamani, Bedahulu dan baru pada era kekuasaan Gelgel, sebutan partapan atau petapaan diganti dengan sebutan pasraman. Informasi ini mengacu dari kakawin-kakawin mengenai keberadaan pasraman; tempat belajar.  Secara kata, pasraman Ini lebih mengacu adanya tempat pasiraman (permandian khusus yang disucikan). Jika membaca beberapa jejak sistem pendidikan keagamaan Bali, terutama pewarisan penulisan aksara, pembacaan dan bahkan tradisi maguru lagu. Dalam Salampah Laku, hampir mendekati catatan perjalanan pribadi dari Pedande Made Sidemen disebut mengenai tujuannya ke Singarsa (Sidemen) untuk berguru ke Pasraman Cemara. Sebelum Belanda menguasai Bali dan mengenalkan sekolah pedesaan bernama SR, memang diberitakan bahwa di wilayah Singarsa banyak berdiri Pasraman, hingga tidaklah mengherankan banyak lahir karya sastra dari desa tersebut. Yang menjadi pertanyaan, bagaimanakah sebenarnya gaya pengajaran, katakanlah kurikulumnya di Satra? Ataukah kemudian di pasraman-pasraman bali itu?

Jejak-jejak yang dapat dibaca kini dari tradisi mebasan, melajah mekekawin juga tradisi maguru sisia di Bali menjelaskan posisi Guru Pengajian berbeda dengan Guru Nabe (sebutan dalam hubungan murid dan guru untuk tujuan madwijati). Melajah gaya bali, secara rasa bahasa melajah ini bagi orang Bali selalu dikaitkan dengan sastra; aksara. Dimaknai harus serius, tenget dan hanya orang-orang tertentu yang akan menekuni sastra ini. Pengertian sastra ini pun bukan dalam arti karya sastra dalam bahasa indonesia. Nyastra adalah berarti belajar pengetahuan suci. Beberapa orang tua yang pernah saya wawancarai mengenai tradisi pasraman di Singarsa, menyatakan bahwa semua yang akan belajar ke pasraman diawali dengan ngayah ring sang guru, biasanya seorang pendeta yang dipilih; pendeta ini pun yang berpengetahuan lengkap, sebab ada juga pendeta yang tidak menguasai pengetahuan selain kebutuhan upacara. Awalnya tak ubahnya seperti juru sapuh (tukang bersih-bersih) di merajan (pura sang guru). Jadi setiap pagi para murid ditugaskan membersihkan lingkungan merajan, tak peduli siapapun latar belakang keluarganya, mau anak raja, orang kaya, jika telah memutuskan nunas ajah; harus diawali menjadi juru sapuh, kemudian mencari kayu bakar dan bahan sayuran ke bukit dan pesawahan.  Jadi di awal-awal nunas ajah itu, yang diajarkan adalah sikap meladeni dan belajar etika; melajah ngeraos (tata krama bicara), melajah negak (kesopan bersikap), melajah makedas-kedas (belajar membersihkan diri dan lingkungan). Setelah itu barulah belajar membaca, mengenal huruf, kemudian mengenal aksara. Kemudian pelahan mengenali guru lagu. Prosesnya mungkin sangat pribadi. Apabila telah dirasa cukup, semisalnya bisa membaca dan memahami guru lagu. Para murid ini dikembalikan pada keluarganya. Kemudian barulah jika sang murid memerlukan tambahan pengetahuan, akan kembali. Jadi berbeda benar dengan proses maguru sisia bila menyiapkan diri menjadi pendeta. Informasi lain, pewarisan pengetahuan pengetahuan khusus di bali seperti pebalianan biasanya diwariskan secara biologis, kepemangkuan diwariskan sesuai dengan tradisi yang diiikuti ada yang diwariskan secara biologis ada karena ketakson atau dipilih secara bergiliran oleh desa kala patranya.

Mengingat kini begitu riuhnya keinginan melakukan pasraman kilat dan kemudian berdirinya asram bergaya 'india', sepatutnya orang Bali mulai memikirkan mengenai pasraman gaya bali dengan pengetahuan 'nyastra' balinya, terutama pewarisan rasa basa dan pekerti. Sebab pembangunan pasraman ataukah asram bila itu berkaitan dengan ajaran keagamaan, mau tidak mau harus ada ketegasan dalam pembedanya dengan asram ala india atau asram ' fashion religius' yang menawarkan meditasi, yoga; dst ala 'alternatif spiritual universal', yang kadang pengetahuan tatwanya memberi kepengaruhan yang cukup membingungkan. Terutama hubungan guru-murid, kemudian dengan tradisi pemujaan antara Purusha dengan Atman. Padahal, pasraman, didalammnya adalah Guru Pengajian, bukan dalam posisi guru suci, sekalipun itu sang guru adalah pendeta.Jadi kultus cium kaki, cium debu tidaklah seharusnya terjadi dalam asram kontemporer ini, berbeda dengan posisi maguru sisia ketika akan menuju dwijati.

Sebagai bandingannya, dalam tradisi Hindu  Bali ada yang disebut sang sulinggih (Ida Pedande),mereka (dia) yang telah melewati upacara madwijati (masuci,madiksa,mabersih, mapeningan, atau juga ada yang menyebut dengan mapodgala).Mereka itu yang berkeinginan menjadi sang sulinggih telah menyiapkan dirinya secara sekala dan niskala. Sang sisia, setelah memantapkan dirinya bersiap untuk berkonsentrasi mempelajari ajaran suci.

Di bali dalam tradisinya; bagi laki-laki biasanya menyiapkan diri setelah melewati masa produktif kerja dan menikah (grhasta); memasuki yang dalam idealnya disebut wanaprasta; di bali wanaprasta bagi sang sisia ini justru dimulai pula masa brahmacari, tahap proses belajar kerohanian. Bandingkan dengan pengertian brahmacari dalam konteks ajaran catur asrama Hindu di India plus bandingkan dengan tradisi upanaya; demikian pula bandingkan bahwa dalam tradisi bali; perempuan diizinkan menjadi pendeta sekalipun tidak menikah (disebut kelak pedande kanya;kania).

tradisi keagamaan Bali mewariskan sang sisia yang akan menentukan mencari sang nabe, sang guru; berbagai alasan dipergunakan; yang pertama, pertalian darah, pertalian hubungan historis dalam guru masisia, kesamaan mashab juga pertimbangan 'desa kala patra'. Jadi sang sisia akan mempertimbangkan banyak hal ketika menentukan, siapa yang akan dipinangnya menjadi sang nabe. Sebaliknya, sang nabe pun demikian akan mempertimbangkan permintaan calon sisianya, apakah akan menerima ataukah tidak permohonan tersebut; dari tradisi ketelitian Guru Nabe sangat menentukan kelak kesempurnaan sang sisia.

Apabila telah ada kesepahaman, kemantapan di hati juga pertimbangan seluruh keluarga, maka sang calon sisia akan dikenalkan mengenai, "nihan ta cilakramaning aguron-aguron, haywa tan bhakti ring guru, haywa himaniman, haywa tan cakti ring sang guru, hyawa tan sadhu tuhwa, haywa nikelana sapatuduhing sang guru, haywangideki wayangan sang guru, haywanglungguhi palungguhing sang guru. (dikutip dari cilakrama)"

Sang sisia saat telah diterima sebagai seorang Nabe (mahaguru): maka akan otomatis mentaati tatatertib; janganlah tidak bakti terhadap guru, janganlah mencaci maki guru, janganlah segan kepada guru, jangan tidak tulus, jangan menentang segala perintah guru, jangan menginjak bayangan guru, jangan menduduki tempat duduk guru. Hubungan sang sisia (sebutan lainnya: kang anak) dengan sang nabe ditertibkan dengan sangat ketat, bahkan kenyataan calon sisia (calon pendande di bali) jarang bahkan tidak berani terlalu sering bertemu dengan sang nabe, sebab ada aturan sebagai berikut; seorang sisia tidak diperkenankan duduk berhadap-hadapan dengan sang nabe, tidak diizinkan memutus pembicaraan sang nabe,harus menuruti perkataan/apa yang diucapkan sang nabe, bila sang nabe datang tanpa direncanakan, sang sisia harus turun dari tempat duduknya, menunduk sampai diizinkan berdiri, bila diizinkan berjalan bersama, sang sisia berjalan di belakang dalam jarak dimana bayangan sang nabe tidak akan terinjak kakinya. Demikian pula aturan menyahuti ucapan sang guru, selalu dalam aturan yang ketat; kemudian tidak emosi, terpancing membantah apabila dimarahi ataupun dinasehati, ditegur. Demikian pula dalam aturan sujud bakti, ada tata tertib yang ketat harus ditaati oleh sang sisia.

Sang sisia jauh-jauh hari baik karena tradisi maupun diberitahu oleh guru pendampingnya (guru waktra), mengenai aturan busana sampaipun rambut. Perhatikan bahwa tradisi menggunakan bhawa (aketu agung) hanya dikenal dalam tradisi hindu di bali; sebab dalam hindu dikenal penataan hiasan rambut ini beragam; dalam tradisi bali dikenal aketu agung, kemudian dikenal pula dengan abhawa ron, mendandani rambut dengan daun, adastar menggunakan destra, abebed sirah; memakai serban, bergundul (amundi), kemudian rambut yang dijalin kelihatannya sebagai mahkota(aketujata);dihias dengan buah-buah kecil yang bulat atau dalam sankerta disebut Rudraraksa atau dalam kawi jawa disebut Aketu ganitri, kemudian terurai (angrure): biasanya pedande budha yang lelaki melakukan angrure, kemudian dikenal pula sanggul rambut sebaga Amrabku, ada juga rambut di tengkuk kepala, disebut anondong; dst….termasuk akuncir alit; dikenal di india pada sadhu-sadhu; jadi tata krama hiasan rambut dalam tradisi pendeta di bali memang berbeda dengan tradisi yang ada di india. Demikian pula pemakaian busana, dstnya.

Sang calon sisia pun mulai melatih diri dalam aturan makan, yang boleh dan tidak diperbolehkan. Bandingkan dengan laku vegetarian; tradisi di bali justru menjelaskan aturan makan dan minum bagi pedande dengan jelas dan teliti: perhatikan bagi pedande dengan garis civait dilarang makan daging babi yang dipelihara didesa ( celengwanwa), ayamwanwa, krurapaksi, nilapaksi, atat,syung, dst. Kemudian mengenai pantangan memakan binatang pancanaka kecuali beberapa yang diizinkan, mengenai larangan memakan makan dari yang hidup di dalam tanah seperti bhuhkrimi, bekut,,pramikirimi, berbagai jenis ulat, serangga, dll. Aturan mengenai yang tidak boleh dimakan tanbhaksyana, dst. Demikian pula soal minuman, kehadiran berjudi, tata cara berteduh, tata cara menempati rumah,melakukan jual-beli, berhutang,...dst.

Banyak hal kemudian kini ditafsir seolah aturan-aturan itu sebagai tata krama feodal, padahal itulah brata (tapa) pengendalian diri seorang calon sisia yang akan menjadi seorang pendeta. Ini adalah bagian keyakinan dimana pembersihan diri tidak sebatas mandi, berpakaian bersih; namun jauh sampai ke dalam diri yang niskala. Demikian pula mengenai busana.Ini adalah pengenalan sepintas mengenai maguru sisia; tak sebatas hubungan guru dengan murid, namun ada 'tatatertib' yang menjadi karakater dalam tata krama yang dijadikan mendorong seseorang yang berkeyakinan untuk kelak menjadi pedande, yang akan menjadi 'surya' bagi umatnya.

Berbeda dengan model hubungan guru murid di sekolah ataukah di pasraman modern yang mengadopsi gaya-gaya tradisi agama yang berbeda mashab dan budaya yang berbeda,maka di Bali tradisi maguru sisia memiliki kekhasan sendiri. Menurut saya sepatutnya bagi yang meyakininya, menjaga tradisi maguru sisia ini, bukan justru mencoba-coba menggantikannya dengan tradisi yang berbeda. Atau mengaburkan dengan menyamaratakan hubungan sisia (umat) dengan 'suryanya' (pedande) bahkan kemudian mengira jika telah menjadi guru agama atau meminpin pasraman ada dalam posisi sebagai nabe. Pengenalan sepintas ini sesungguhnya bersifat pula fleksibel,masing-masing keluarga, klan, dsbnya memiliki pula tambahan dan pengembangan aturan antara sang sisia dan sang nabe, sungguh bijak pula tidak menyeragamkannya, mengira ada yang salah dalam salah satu kebiasaan dan mengira ada yang lain yang lebih benar.Sebab ini adalah masalah keyakinan dalam maguru sisia dalam lingkup tradisi hindu di bali.

(BAHAN buku: GAMA BALI, cok sawitri, kirang langkung kantun melajah)

PUJA SANG HYANG AKSARA

PUJA SANG HYANG AJI SASRAWASTI

Disamping memiliki kekayaan ritus air, Agama Hindu Bali memiliki tata krama pemujaan kepada Sang Hyang Aksara, yang dalam keseharian dikenal sebagai pemujaan kepada Dewi Saraswati. Air dan Aksara menjadi dasar memahami asal muasal kehidupan di bumi. Lahir, hidup dan mati bekalnya adalah Aksara. Pemujaan kepada Sang Hyang Aksara tidaklah berhenti kepada 'sang dewi' . Namun sebenarnya berakar kepada bait-bait suci yang lampau, yang mengisyaratkan kedalaman tatwa akan asal muasal. Pada Manuskrip suci Sundari Gading, dijelaskan bahwa pada mulanya," tan hana, tan hana bhuta, tan hana manusa" dan manuskrip ini mengisyaratkan mengenai asal-muasal semesta dan kehidupan bahwa yang merekatkan semua ini dalam bhuwana agung dan alit adalah aksara. Disebutkan bahwa Sang Sundari Ghading, duk tan hana paran-paran, nora hana gumi langit, kewala bhur, hana akasa, Hyang Sarining Tawang, sire angawetwaken, ika ri wekasan nga: Sanghyang Sundari Ghading, sakeng  rika pawijilanira kabeh, sira sarining Sanghyang Sundari Gadhing, mayoga sira, mijil tan pawak, marupa tan parupa, kewala hana rupa, kadi cakra ika, lwir kadilawe sabnetar, rinapit denira, mwang abang, ireng. Riwekasan mijil Sanghyang Sundari Gadhing sakeng lung cakra ika, swetawarnira, riwekasan, nga: Sang Hyang Panca sunya nirmala, hning warnanira jati, mwah riwekasan, ingaranan Sang Hyang Widhi Wisesa," dari proses itu akan lahir kemudian," mijil sirsa, tan pacaksu, sirsa dudu sirsa, sekala niskala, ri wkasan, ingaran Ekaaksara, dudu gaksara, ri wus mangkana, waneh mwah mijil saking tariping cakra, ya panon, nora panon, warnani, saget bang, saget ireng, saget putih, sampuri wkasan, yatika ingaranan Sanghyang Dwi aksara.....dst" berbilang-bilang manuskrip suci mengenai tatwa agung ini, mengenai mengapa kemudian dirayakan pemujaan kepada Sang Hyang Aksara, yang dalam 'sekalanya' itulah ritus kepada Dewi Saraswati.

Hindu Bali menyimpan bait-bait sucinya tidak dalam satu kitab, seperti agama-agama lain, bahwa tidak juga seperti Hindu di India, yang membaginya dalam empat kitab suci besar, Catur Weda. Hindu di Bali seperti pohon besar, pabila memulai mempelajari agama tua ini dari satu dahan ranting, maka akan cabang pohonnya ditemukan, namun jika penuh kesabaran dan pelahan membuka wawasan, pohon besar itu adalah pengetahuan yang mengakar ke langit dan bumi. Sekala Niskala, merekatkan Bhuwana Agung dan Alit.

Ritus pemujaan kepada Sang Hyang Aksara ini dapat dilihat dalam bentangan yang panjang dalam manuskrip-manuskrip suci bahkan pada era Ritus pemujaan Dewi Sri, ditemukan juga puja kepada Sang Hyang Aji Saraswati. Ritus suci kepada Dewi Sri dan Rambut Sadhana ini telah mengisyaratkan hadirnya juga pemujaan kepada Sang Hyang Aksara," Bu. Wa, Kulawu, pathirtan Sang Hyang Sadana mabanten.....dst, haswan Saraswati tirthaniya, “Pukulun Kaki Komara, Komara Jati, komara hidep, sire mangundang Rambut Sadana, den katur ing anak putu buyut, pada tumurun teka sabran rahina wengi, esuk sore, Rambut Sadana, gumlar aketi, kasuruweyan, mendak angibekin kadaton ing hulun, Rambut Kulah-Kalih, sira hamongmong, helingakna, tutur-tutur haywalali, inget-inget haywalupa"  pernyataan ini kemudian menetapkan jika ada ritus kepada Sang Hyang Rambut Sedana, maka Sa. U. Watugung, patirthan Sang Hyang Aji Saraswati, disebutkan dalam manuskrip ini; mantra pengalukatan untuk bantennya adalah ," tirthaniya nunas ring Bhatara Surya, kukus harum, panglukataniya, perhatikan mantranya:  “Ong pustakem wyanjanem wame, sangka dwajanca daksina, dadanti Sangkara dewi, purna bhusana saprabha, abhiwetajnan sidyat. Puji sthayastu rawapi. Sarwa kleshawinasanem, ganadipa taye namah"

Hingga kini sering para orang tua di Bali, bila tiba hari raya Saraswati memperingatkan kepada anak-anak agar tidak membaca bukunya pada hari itu, semacam 'nyepi kepada kegiatan membaca', peringatan itu menimbulkan pertanyaan dan ternyata peringatan itu yang seolah gugon tuwon dalam manuksrip yang tua ditemukan bahwa ketentuan itu memang ada, disaat Sang Hyang Aji Saraswati melakukan yoganya," Muwah sahanan ing pustakan linggen ing Akshara, pada puja walinen. Rahina ika tan kawenang mamaca pustaka, yan purugen, tinemah de Sang Hyang Saraswati. Yan sire ngodalin, kari kangin suryane, yan singit kawuh, wawu wenang mamaca, apan Sang Hyang Saraswati, wus matukeng suniyata"---jadi ada ketentuan selama matahari masih dalam garis edarnya di timur bumi (arah mata angin masing-masing) pemujaan dilakukan dan bila sudah matahari surut ke barat, barulah diizinkan kembali melakukan kegiatan membaca.

Ritus kepada Sang Hyang aji Saraswati ini juga mengenal brata disebutkan dalam manuskrip suci Indik Brata, jadi agama Hindu Bali memiliki berbagai macam puasa (brata), salah satunya adalah “Hana brata anararaswati, nga: tan amangan sekul ingiliran, tumpeng pinanganta, iwaknya uyah, sataun 3 lek samayanya. Bhatara raja Laksmi hyangnya, pha: teka guna, mwang kasiddhyan, subhaga kita, mantranya saat melakukan brata ini: Ong Ang laksmi Ning puri de nama, yahahyas....dst"

Perhatikan kemudian pada tradisi saha: Ritus Sarsawati ini disebut dengan Panganter canang anggen nyaraswati; iki pangante canange atanding, kawasa anggen nyaraswati wenang kawasa, sebenarnya melakukan ritus ini dengan canang saja jika itu batas kemampuannya diperkenankan. Disertai mantra; Pukulun Bhagawan Aksara Walikilya, Bhagawan Sastra Walikilya, Sanghyang Saraswati makadi Sanghyang Paramestiguru cokor idewa sami katuran sarining canang sateges miwah sekare sukupak matapakan beras muwah jinah 66 katur ring cokor idewa sami, ica cokor idewa anyari kalihica cokor idewa angaturaken tamba katiba ring sunya, canange mebaas pipis ika wenang.telas"

Mari kemudian bandingkan dengan manuskrip yang berkaitan dengan pengelukatan saraswati," Ang brahma saraswati dityam, sarwwa wighna winasanam, brahmaaghni wiswa rupanaman, sarwwa puja mahottanam.....dst" (kategori kuta mantra, mohon maaf tidak dituliskan secara lengkap)

Ritus ini kemudian menjadi begitu lengkap, menjawab semua alasan argumen mengapa pemujaan saraswati dilakukan, yakni bagaimana ketika manuskrip suci membabarkan mengenai Sang Aji Saraswati, mengenai seluruh perjalanan huruf suci di bhuwana agung dan bhuwana alit, itu semua mungkin kemudian nampak sederhana ketika dirayakan di sekolah di merajan, di kamar kost; namun sesungguhnya, mengisyaratkan agama Hindu Bali, memiliki ritus mengenai puja Aksara ini dengan sangat detail dan lengkap. Dan kerap dikategorikan jika yang ingin mendalaminya; sebagai wilayah kadiatmikan, katatwaan, yakni jauh lebih mendalam dari sekedar filsafat, lebih dalam dari teologi itu sendiri. Semoga bagi anak muda bali, informasi ini menggugah hati. Dan kelak, jika ada orang lain di luar penganut agama Hindu Bali mempertanyakan, apakah kalian memuja patung perempuan bertangan empat dengan mengendarai angsa? Kalian tidak akan gundah, namun dapat menjawab dengan memberikan penjelasan singkat, seperti tradisi pengajaran Wali itu, tidak harus semua dijelaskan, jika terketuk hatinya, maka tak hanya ranting, cabang, bahkan hingga akar Sang Hyang Aksara akan menjawab. Damai di hati selalu dengan berbekal pengetahuan mengenai diri sendiri. (cok sawitri, 2015, menyongsong Perayaan Sasraswati tahun 2015 yang akan jatuh pada tanggal 2 mei nanti).

Ritus Dewi Sri

MUNGKINKAH MUARA TRADISI MADAHA?

Cukup lama, sungguh lama, pertanyaan-pertanyaan muncul dalam kepala, bila menyaksikan tari rejang dalam upacara-upacara besar agama Hindu di Bali.Selalu pertanyaan itu henti pada penjelasan; rejang sebagai tari wali atau sebagai gambaran penyambutan kepada turunnya batara-batar(?) Bahkan Tradisi Rejang hingga kini selalu dilakukan menjelang hari Kuningan di berbagai desa yang berkaitan jika dicermati adalah 'jejak ritus' peninggalan Mpu Kuturan.

Sebuah manuskrip cukup tua, dari kekayaan 'kosa kata'nya mengisyaratkan ketuaan: manuskrip itu berjudul Hempu Kuturan: berisikan tata upacara kepada sawah, kepada Dewi Sri, Rambut Sedana. Berisikan pula mengenai tata krama terhadap mrana (wabah hama) seperti tikus (termasuk mrateka tikus), burung, ulat, khususnya berbagai hal yang berkaitan pertumbuhan padi di sawah, termasuk empelan, bawungan, tata cara upacara alih fungsi sawah bahkan membangun sawah.  Manuskrip ini memberi gambaran bait-bait suci dari era Mpu Kuturan. Sejak pembacaan awal, misalnya,"yan angrawuhken Nini, hunggwaniya ring bale hagung, manguyu-nguyu, 3, dina. Subak ika, yan wus hangaci-haci, saha rentheng, hunggahakna ring lumbung, phalaniya murah ikang pari, mwang sadhana, sing tinandur padha wredhi" ---Kata 'Bale Agung'  adalah nama yang paling khas dari adanya tri kahyangan tiga. Pada Pura Puseh di desa-desa tua dan juga pada Desa Bali Kunaakan selalu ditemukan nama satu bangunan bernama Bale Agung. Dalam awalan ini penjelasan mengenai usabha desa begitu tegas menyampaikan tujuannya adalah untuk pemarisudha; pembersihan dan penyucian, namun yang menarik adalah seluruh inti upacara ini bermuara pada Dewi Sri sebagai pujaan.

Sejak lama sering terdengar nama lontar dharma pemaculan, mengenai soal persawahan dan hari-hari melakukan kegiatan di sawah dengan upacaranya. Jika dibandingkan dengan manuskrip ini, Hempu Kuturan memberi banyak jawaban mengenai ritus Ngusabha, ritus-ritus suci kuna di Bali yang sampai kini diwarisi, yakni pada desa-desa tua di Bali; Dewi Sri dan Rambut Sadana ( perhatikan pula pada manuskrip-manuskrip suci lainnya) dalam Agama Hindu di Bali adalah Btara-Btari yang sangat tua sebagai pusat tujuan upacara. Menjadi menarik kemudian bahwa dalam manuskrip ini; pelaksanaan piodalan dan upacara-upacara di Pura Puseh  memberi penjelasan bahwa kehadiran tari rejang itu sama dan sejajar kehormatannya dengan posisi perlengkapan banten. Jadi bukan hiburan atau dengan tujuanmenghantarkan ataukah menyambut; ini adalah kelengkapan persembahan.

Yang paling menakjubkan tentunya adalah Ritus kepada Dewi Sri; dari tata krama memperlakukan sawah, sungai, dari menanam hingga memotong padi; bahkan membersihkan pundukan dan memangkas rumput  ternyata ada bait sucinya. Isyarat yang dapat dipahami era Mpu Kuturan merancang- bangun Desa pakraman, bahwa pada era itu kemajuan pengairan telah mencapai tingkat yang sempurna, pengelolaan sawah juga demikian. Sebab sebutan aungan misalnya; lorong jalur air menembus bukit sungguh dijelaskan dengan detail.  Jadi, dalam manuskrip ini Ritus Dewi Sri menjadi dasar dan pengikat seluruh rangkaian upacara hingga ke Pura Puseh. Sejak lama, selalu dugaan bahwa budaya agraris adalah ibu religi agama bali ini juga seni budaya dan peradabannya, ketika membaca manuskrip ini menegaskan pernyataan-pernyataan itu tak hanya 'struktur' dan runutan juga bait-bait sucinya memberi pengetahuan suci yang menakjubkan bahwa kemungkinan pemujaan dewi sri dan bhatara sadhana adalah sungguh tua (bandingkan dengan Tantu Pagelaran atau manuskrip suci lainnya misalnya mengenai Canting Kuning).

Yang menarik adalah munculnya Puja Daha dalam manuskrip ini, dalam ritus Dewi Sri yang begitu runut dan detail; dari menanam padi (dalam manuskrip ini disebut; pari), perubahan sebutan nama Dewi Sri ketika dari padi di lumbung, ke alat tumbuk, kemudian ketika beras disimpan dalam penyimpan beras, hingga berbagai pantangan, hal-hal yang sifatnya tabu dilakukan-- dinyatakan dengan tak hanya sebagai peringatan suci, namun dengan argumen disertai mantra. Kemudian pemeliharaan ekosistem dalam sistem tahunan di sawah dan kelak berkaitan dengan Ngusabha desa, yang nantinya akan mengaitkan bagaimana keagunga Dewi Sri sebagai batara Nini disingasanakan di Bale Agung di Pura Puseh, setelah itu tata krama memperlakukan padi di lumbung, bagaimana tingkah pola manusia di sawah; niyan tingkah ing wong hasasawahan.  Bagaimana tata krama menyabit rumput, tata cara memanen, bahkan mantra memanennya disebutkan.  Jadi seakan kehidupan suci dewi padi ini dijelmakan dalam ritus daha. Yang selama ini posisi daha yang sekata artinya dengan remaja putri, sering disamakan dengan kegiataan pembinaan putra-putri ala gaya lama.

Di beberapa desa tua di Bali seperti Desa tenganan, Bungaya, Asak; dst tradisi madaha ini masih dilaksanakan begitu pula dengan ngarejang. Terbersit dalam pikiran saya, saat membaca bagian:  bagian Haji Pari Hangumbang Sri Mider.ketika Sang pujaan menjadi beras, perlakuannya tetaplah sungguh dengan hormat, ritus mencuci beras, kemudian memisahkan jelijih dari beras, lalu disebutkan Iti Puja-Daha, wenang gelarakna, maka pamali sumpah ring gaga sawah, bait sucinya sungguh panjang; Om Sang Tabe Pukulun, ling ira Bhatara Iswara, tumurun ring Kahyangan ira, hangastrenin pari pujakathan ing hulun maka landuh ing gumi, hangadekaken hudan, manadi tang sarwa tinandur, phala bungkah phala gantung, rame pakriya-kriya haneneng Prabhu Mantri, mangadohaken sasab marana, Ong Sri yawe namu namah swaha. O, Sang Tabe yata Pukulun, ling ira Bhatara Brahma, tumurun ring Dang Kahyangan, hangastrenin pari pujan ira, kretab ing gumi pretiwi, maka landuhan ing hudan, manadi kang sarwa tinandur, phala bungkah phala gantung, rame pakriya-kriya haneneng Prabhu Mantri, hangundurrakna sasab marana, Ong Sri Yawe namu namah swaha.......dst"

Pada pertengahan bait suci ini, isyarat kebudhaan Mpu Kuturan disuratkan dengan indah: Om sang bragala, sang bragali, yan sira tan harep lukata, haja sira hing kene, haja sira hamangan parin ira Bhatari Sri, yan sira harep lukata, mati kita mangke, tinemah den ira Bhatara Nawangsang,mogha kita hembet bengkang, mati tan mati.....dst"

Barangkali patut direnungkan kembali, melihat kondisi Bali yang makin jauh dari tradisi pertanian, alih fungsi sawah yang begitu cepat, perubahan perlakuan terhadap padi dan beras itu hanya sebatas bahan pangan, keperluan informasi pariwisata yang membahasakan apa saja dengan kalimat eksostik; perlahan ritus Dewi Sri dengan rejang, ritus nangluk mrana sebagai penanganan hama yang ramah lingkungan, lalu pengasuhan sang manusia di pawongan dalam kaitannya dengan Parahyangan, yang sering dikaitkan seolah sebatas kegiatan hubungan sosial kemanusiaan; pelahan akan menjadikan ritus-ritus itu diwariskan dengan tanpa makna. Bahwa bagaimana ritus Dewi Sri ini mengikat manusia bali itu pada kesadaran akan kebutuhan dirinya sebagai mahluk hidup akan sandang,pangan dan papan. Bagaimana  ritus Dewi Sri ini bagaikan bayangan dalam cermin dengan ritus Rejang maupun Daha yangdihadirkan di pusat kekuasaan pakraman; yakni di bale agung ataukah dalam panggungan.

Berbagai pertanyaan bermunculan kembali, dan sesungguhnya,begitu banyak pengetahuan suci mengenai Bali dan agamanya, patut kini kembali bersama digali agar kelak tak terjadi kesalahpahaman yang bisa saja menjadi bumerang bagi diri yang termanjakan oleh puja dan puji, tanpa berani untuk terus merendahkan hati, belajar mengenai Bali, bagi orang Bali kini adalah bekal bagi masa depan.

( Cok Sawitri, singarsa, 25 maret 2015, semoga mendapatkan tambahan informasi lagi)

Ritus Air

TIRTHA NGARAN AMERTA

Air adalah salah satu dari Panca Mahabhuta (lima energi besar/agung) yang membentuk bhuwana agung juga bhuwana alit. Orang Bali dahulu menyebut agamanya secara karib dengan sebutan “Gama Tirta". Karena itu ada perilaku khas kepada air, yang tidak semata menempatkan air sebagai dua hidrogen dan satu oksigen.Tidak sebatas rumus H2O. Air (aik- we, juga sebutan air diwaktu lampau), yeh, toya, banyu, kemudian air yang dimaknai dan ditempat sebagai 'mahluk agung'  itulah disebut Tirtha.

Perilaku kepada air menyebabkan kosa kata mengenai air ini begitu melimpah; bedak (haus), ngelak (luarbiasa haus),  kasatan (bahasa halus untuk haus) dan situasi kondisi yang dialami melahirkan kata seperti kebus bahaang, tuh gaing, ngerintung,dll: suatu pernyataan kebutuhan akan air. Dan tentu saja menarasi air; perjalanan air, dari ngetel, ngericik, ngebyor, membah, makin mengisyaratkan betapa air begitu lekat dalam hidup keseharian. Peristiwa hujan dalam kosa kata Bali makin menjelaskan betapa air adalah bagian yang sangat naluriah; ujan, sabeh, ngerimis, bales, ngemongmong, nempias, dll, lalu air yang berlebih limpahannya disebut dengan kata medaluran, blabar, ngulung, nyereong (suara mirip raungan di hulu), ngebek, peres; dst. Dan sumber mata air disebut sebagai kelebutan, kata ini akan disamakan dengan 'denyut ubun-ubun' disebut siwadwara. Lalu akan dikenal kedokan ( cerukan kecil, biasanya berjejer ditepi pantai atau sungai), cibukan, semer: wanu, danu, segara, dll dan bali memiliki kekariban dengan groboyogan (air terjun), pancoran, pancuran, kecoran, kemudian air yang digunakan untuk menghitung waktu dari tluktak sampai penalikan, dsb; akan membawa pada gambaran bagaimana air menjadi batang hidup bagi bahan pangan, yakni persawahan.

Di sawah, air adalah senjata sekaligus juga nyawa. Karena itu air dalam tubuh manusia akan memberi isyarat kesehatan atau tengah kesakitan. Ngeyem (badan mendingin), mabuah-buah (semua pori mengeluarkan bintik air seperti embun kecil), leteg (luarbiasa basah disebabkan keringat ), kembah, kembung, lesit:dst. Perhatikan bagaimana ritus membangun 'empelan' ini sebagai lintasan jalannya air, dalam lontar Hempu Kuturan ada mantra yang indah dan mengisyaratkan, 'jalan' untuk air, 'menunda' jalannya air, membelokan air pun ada tata kramanya," Pukulun manusan paduka Bhatara, hatur minta lugraha, hatur huning hangaturin Bhatara, maka pangundang Bhatharii Gangga, malejeg hamor ing kukus ing menyan majagawu, Hyang Siwa Sadha Siwa Parama Siwa, katuran padha tumurun, tumuli tedhun bhatara Sakti, Sang Hyang Tleng ing Madanu, Sang Hyang Nini Gangga Dewi, hiniring den ing widyadhara-widyadhari, hakumpul ring kahyangan pangulun hempelan, mwang sang asedahan Tukad, padha katuran saring ing pamdehak canang banten sarwa suci, katuran hamukti sari, ngayab sarin waha".

Bagaimana air yang melintas sungai-sungai, orang Bali memiliki rasa hormat yang luar biasa kepada sedahan tukad; mereka yang menjaga sungai. Perhatikan ritus yang berkaitan dengan sungai ini, ini dari tradisi Kuturan, jika mempersembahkan sesuatu kepada sungai, maka mantranya,"Pukulan sedahan tukad, kaki sedahan tukad pancing, kaki sedahan empelan, bantang buwah bantang nyuh, bantang tueuh hempelan ingsun. Poma. Poma.poma" perhatikan kemudian bagaimana posisi sang air dalam lanjutan ritus itu," Jeng nini Bhatari Gangga, manawi kurang manawa luput, hangaturan pasajin ingsun ring asedahan tukad, makadi paduka Bhatari gangga, puniki sasantun ingsun. Om AM Um Mam, Om bhur Bhuwah Swaha, sidhir astu ya namah" dan jika pernah mendengar bawungan, bendungan; yang posisinya sebenarnya menampung dan menunda sejenak perjalanan air, selalu ritus menempatkan sang air, agar sudi menolong, tidak menumpahruahkan, tidak menjadi ganas, tidak menjadi penyakit, selalu dimohonkan.
Air itu dalam keyakinan agama Hindu di Bali menjadi mahluk agung, 'tirtha ngaran amerta': air adalah hidup. Kalimat ini sungguh dalam, air itu mahluk, hidup itu tergantung benar kepada sang air. Tidak terbantahkan, tubuh manusia mendekati 80 persen adalah air. Membayangkan kerumitan dan kerahasiaan perjalanan air dalam tubuh, orang Bali membayangkan kesemestaan. Bahwa ada putaran perjalanan air itu tak pernah henti, tak pernah habis. Namun medianya, tubuh dan alam hanyalah media, air bisa datang, dapat juga pergi. Dapat sembunyi, dapat pula memperlihatkan kemegahannya. Air dapat merayu, juga dapat murka semurka-murkanya.  Itu sebabnya air kemudian ditempatkan sebagai tempat peleburan segala kotoran, segala mala, duka cita. Kesegarannya itulah yang menyentuh denyar kesadaran.  “U" Ngaran uddhakam ngaran gangga,ngaran tirtha suci. Uddhaka adalah kata yang tak semata merujuk sebutan pada samudera (laut) namun sebagai tempat suci. Karena itu Air suci atau yang disebut Tirtha, dikenal berjenis-jenis dan bertingkat-tingkat. Ritus perilaku memposisi air sebagai badan suci ini, jika untuk persembahyangan maka dikenal dengan tirtha pembersihan dan wangsuhpada. Keduanya akan hadir dalam awal dan akhir persembahyangan, yang tirtha pembersihan biasanya dibuat oleh Sulinggih atau karena permohonan oleh pemangku;dll.

Ritus 'membadansucikan' air ini membuka wawasan luas, mengenai ritus tua, yang memberikan dasar keyakinan kepada penganut agama Hindu
Bali. Pada tradisi kepamangkuan, terutama yang menjalankan permagin Sang Kul Putih, disebutkan jika untuk diri, dibenarkan membuat tirtha sendiri, " Ong surya maha gangga ya nama swaha, arung nala dewa maha gangga ya nama swaha, ong jagat karana ya nama swaha, ong bhang dewa sakti ya nama swaha, Ong Ah ksama karana ya nama swaha, Ong Ung prastawa ya nama swaha, Ong Pat paramasuka ya nama swaha". Bandingkan kemudian bagaimana para sulinggih membuat tirtha itu, disebut ngarga. Tentu ada proses persiapan yang teliti untuk menetapkan kemudian pengucapan kuta mantra ( etikanya saya tak dapat menuliskan isi mantranya), namun ada langkah-langkah yang menurut keyakinan, bahwa air itu adalah 'mahluk agung' yakni pada proses ketika Sang Sulinggih menulisi air yang diletakan dalam Siwambha, alat tulisnya adalah bunga; yang ditulis adalah tiga huruf suci disertai puja tri Purusa Mantra.  Jika dengan penuh meditatif memperhatikan maka gerakan penulisan itu melintang dari utara ke selatan, kemudian air dalam siwambha itu diputar tiga kali, searah gerak jarum jam dan biasanya akan disertai puja 'Amrta saptawaja'.  Perputarannya menyatukan huruf suci dalam pembayangan menjadi  lambang tuhan dan arah ke kanan itulah amrta: air kehidupan.  Ritus ini memberi pembayangan akan jalannya air, bahwa hulu-hilir, tidak serta merta karena ketinggian dan kerendahan, atau di atas atau di bawah, air memiliki langkah memutar. Hidup itu pun dalam keyakinan orang bali adalah putaran. Jantera. Dalam ritus lainnya, dikenal pula dengan sebutan 'nuur', memohon air suci, dilakukan oleh para pemangku, kadang disebut wangsuhpada, kadang disebut banyun cokor. Dan cara memercikannya pun tak sekedar memercikan air, dalam lontar kusuma dewa perilaku memercikan banyun cokor ini terutama kepada manusia," ong tirtha kamandalu, winadahan cacibuk mangga, asing inum ilang mala, ikang sudamala papa klesa, Ong sri we nama swaha"     

Agama air ini memang  sangat tua, menempatkan air sebagai yang suci, sebagai pengurip, pemberi hidup. Bahkan mendorong penciptaan, bahkan kemudian menyelesaikan tugas hidup. Dalam ritus ngaben misalnya, dikenal sebutan tirtha pemanah, penembak dan pengentas. Jadi lahir, hidup dan mati; air ini yang mengitari. Begitu rupa. Jika jelajah dibuka, dan kini dalam kondisi lingkungan hidup yang penuh dengan kerusakan dan keluhan. Maka kembali mempelajari isyarat-isyarat dari ritus air sungguhlah meyakinkan hati bahwa air itu adalah hidup. Tirtha ngaran Amerta. Karena itu, tidaklah mungkin menghindar untuk tidak melakukan pemeliharaan kepada air sang hidup.

(BAGIAN 1. MELIHAT ANAK KECIL BERMAIN HUJAN, cok sawitri, 2015)

Renungan Nyepi, Bagai Telur Yang Dierami

BANYAK TEMAN & KENALAN, MENJADI PEMANGKU

Selalu saya harus terkejut bila pulang kampung atau saat sembahyang ke beberapa Pura Sad Kahyangan juga bila pergi kondangan, tiba-tiba bertemu teman, yang sudah berbusana menciri-cirikan telah melakukan pewintenan Eka Jati, otomatis saya bertanya," sampun ngiring, puniki?" dengan sumringah selalu saya mendapat jawaban,"inggih..." disertai cerita mengapa dirinya melangkah melompat, usianya masih cukup muda untuk memutuskan memasuki tahap yang menurut saya; sulit saya laksanakan. Dan tentu saja saya harus mengubah cara memanggil: Jro! Tetapi menjadi pemangku memang tidak lagi semata-mata panggilan hati, kadang terkesan seperti trend; kadang-kadang karena ikut arus lingkungan. Semula ikut kelompok tirtayatra, kemudian mewinten, kemudian melangkah memasuki tahap menjadi pemangku.

Mewinten untuk pemangku berbeda dengan mewinten yang dilakukan pada umumnya banyak orang yang beragama Hindu- Bali. Jika untuk pribadi, tujuannya untuk menenangkan diri dan memperdalam ilmu keagamaan, memang melalui tiga tahapan, pawintenan saraswati, ini proses yang disebut membuka (inisiasi) sederhana untuk tujuan memperdalam ilmu pengetahuan, kaum pelajar biasanya melakukan hal ini. Jika kemudian dilanjutkan untuk ke langkah belajar yang menuju keagamaan maka dilakukan pewintenan Marerajahan, ini akan mulai memahami  langkah-langkah persiapan untuk memahami niyama dan nyama brata. Selanjutnya, akan dilanjutkan dengan Pawintenan dengan panugrahan, ini biasanya dalam konteks; menetapkan sang guru spiritual. Sedangkan untuk winten kepmangkuan akan dimulai dengan pewintenan sari; atau sering disebut mawinten ka widhi, yakni memohon langsung ke tempat-tempat suci yang akan diabdinya. Winten sari ini dilaksanakan tanpa pendeta, namun harus disaksikan keluarga, pengempon pura yang menyungsung pura yang akan diabdi, dan harus melalui tahapan upacara yang diyakini oleh pengempon pura tersebut.  Kemudian ada winten pemangku dengan Mepedamel; ini dipimpin oleh seorang pendeta, upacaranya mengikuti tata krama  yang ditradisikan sang pendeta dan disepakati oleh warga yang akan menjadikan pemangku itu sebagai pemuka.

Pewintenan juga dapat dilihat dari tingkat upacaranya, perhatikan bunyi dari lontar pewintenan ini," Nihan tingkahing pewintenan di bunga, nista ngaranya, kramania: angadegaken Sanggar Tutuan 1, genep sakraming Daksina sarwa bungkulan, artanya 1725, canang tubungan maarepan atanding, mwah canang gantal, burat wangi Lenga wangi atanding, rakania nyahnyah gula kelapa aceper, biu mas mwang bubuh perecet winadahan keraras pisang tahen 22 takir, bubur saraswati winalunan roning wadira 22 siki, sami dados atamas......dst"—jadi memang ada jelas perintah aturan dalam tatakrama bantennya. Secara singkat, jika memperhatikan upacara tingkat nista saja, maka sarana bantennya akan mensyaratkan prayascita,pengulapan, kemudian ada banten untuk Sanggah Surya; daksina dua buah, peras dua tanding, suci dua soroh, kelungah dikasturi, dan apabila itu untuk pura-pura dengan persyaratan tertentu, kebiasaan yang disyaratkan akan disertai pula kelengkapan banten pajati, sudamala, pengambian, dll. Boleh kemudian bayangkan untuk tingkat madia dan utama.

Namun syarat upacara ini kerap terlewati, dengan mudah, dengan cepat. Teman, kenalan, dan juga beberapa keluarga tiba-tiba berstatus menjadi pemangku; sebab merasa telah melewati proses upacara. Sehingga kesannya mudah menjadi pemangku asalkan sudah hapal mantra pemuspaan, ngatebang banten; dll, semua mantra-mantra yang diperlukan untuk ngatebang banten sekarang mudah diunduh bahkan atau dibeli secara mudah di berbagai toko buku. Namun yang terasa kemudian ada kesan; kedangkalan dan penyeragaman, ketika ditelisik dengan cermat. Seringkali yang muncul dihadapan banyak orang adalah; mudah kerauhan, mudah seolah-olah mendengar suara-suara, mudah melihat ‘sesuatu’,  mengartikan semua hal sebagai paica: dll. Kemudian begitu sibuk mencari tempat-tempat suci dan menterjemahkan diri sebagai yang siap menerima pawisik dan juga merasa ‘disayangi’. Kesannya memang atraktif sekali apalagi jika pergi berombongan dengan baju putih, kain putih, bija memenuhi dahi;dll.

Seperti biasa setiap kesempatan, saya selalu menyempatkan diri menemui para cendikia dan tentu dengan perasaan untuk meraihkan kebaikan

bersama. Beberapa waktu lalu, trend menjadi pemangku ini menjadi pemikiran, bahwa itu sangat bagus namun harus kemudian didorong agar menjadi;  ngaruruh ka jero, tan makeplag ka jaba. Harus disertai kemauan untuk memasuki diri, lapisan-lapisan tujuan dari dalam diri, tidak dibungakan hanya dengan penampilan dan kesibukan wara-wiri mencari tempat-tempat suci, menjungjung banten daksina, riuh murnama-tilem, namun sejatinya belum melakukan hal yang sebenarnya telah lampau ditawarkan oleh Yogin tertua di Bali dalam soal kepemangkuan oleh Sang Kul Putih.  Meski varian salinan lontar Sang Kul Putih bersisian dengan Kusuma Dewa begitu rupa banyaknya yang tersebar. Namun ada yang sepatutnya dijalankan sebagai dharma ing awak, yakni langkah-langkah Niyama Brata, bagian dari Yogan ning Yoga, yang mendasari sebagai latihan pengendalian diri. Sifatnya sungguh ke dalam diri, menata perilaku diri yang berkaitan dengan tujuan menjadi pemangku itu, yakni penyerahan diri dalam bentuk melayani sesama yang akan melakukan persembahyangan ke tempat suci.

Dalam pengamatan yang sederhana, ini juga ditemukan tata cara pengendalian diri pada para calon dalang, undagi; dll. Jadi memang ada

langkah-langkah melatih diri yakni; " Iti Sangkulputih.....Om Awighnamastu ya nama swaha. Nyan kramaning agem-ageman pamangku. Iti rumuhun kedehepakna ring sarira"  bahwa melatih ke dalam diri ini sangat diutamakan, sekalipun nanti kelak akan menggunakan tradisi puja yang beraneka ragam; tergantung nabe atau guru, atau desa, kala, patranya, namun untuk diri, penyucian diri inilah yang menurut hemat saya, sangat indah dan menggetarkan. Siklus kehidupan pribadi dalam pelatihan ini dimulai saat menjelang tidur," ri kala maturu, mantranya: Ong Sang Hyang Rambut Katomboh ngumandeling awah sarira ning hulun, guruning comma umanis, guruning suryya turu, swapna jagra ya nama swaha". Perhatikan kemudian bahwa hal-hal yang teramat pribadi pun disertai mantra; mawarih, makoratan, malamurud, masigsig (sikat gigi, dll), makramas, masuri (menyisir rambut), membuka pakaian, memakai busana, bahkan bila meludah, mencuci muka, atau akan berendam; mausuhan (menggosok badan), jika memakai kampuh, selendang, jika mengunyah sirih atau merokok, bila makan, memetik bunga, dst.

Langkah-langkah Niyama ini, pengendalian diri bagi  pemangku masa kini ini sering diabaikan, yang didorongkan justru penampilan phisik dan kesemangatan muspa ke berbagai tempat suci. Padahal, kunci dasar dari kebeningan kesadaran kemungkinan terletak pada fundamen ini.

Kebungahan hasrat untuk mendekatkan diri, dalam laku spiritual memang tidaklah mudah, namun kerap dikesankan mudah.  Kedamaian itu sesungguhnya sederhana, ke dalam diri, itu perlu proses yang panjang, jatuh bangunnya hanya diri yang tahu. Banyak sekali kitab penuntun untuk hal ini, dan memang seringkali banyak pihak mengira ini milik untuk golongan tertentu, sesungguhnya tidak. Yang membuat para guru suci enggan berbagi adalah sikap kita yang kadang hangat-hangat tai ayam, apalagi jika karena didorong oleh persoalan-persoalan pribadi; mewinten, menjadi pemangku, bukanlah katalis untuk melepas persoalan duniawi.  Persoalan duniawi harus dihadapi, harus pula dengan proses dan setiap saat disertai keinginan mendengarkan, bahwa perjalanan karma memang tidak terduga bagi siapa saja. (RENUNGAN NYEPI, seperti telur dierami kini, 2015)

TEKS TANTU PANGGELARAN (HASIL KETIKAN TAHAP PERTAMA)

TEKS TANTU PANGGELARAN


DIKETIK DARI SALINAN KOLEKSI KELUARGA
Keterangan lontar ini ditulis diperkirakan pada abad 15. Dan salinannya berupa ketikan dalam kondisi lusuh. Isinya tidak hanya mengenai asal muasal manusia di jawa, juga mengenai asal siwa budha, dll. INI HASIL KETIKAN PERTAMA, karena kondisi yang sangat lusuh, semoga jika ada kekurangan, kesalahan dibetulkan agar bersama-sama dapat kembali membacanya dengan baik. Kemudian mengenai symbol dalam huruf, keterbatasan mata dan penggunaan kumpuiter memungkinkan kekurangan sempurnaan. SALINAN yang ada cukup panjang. dan saya harus mengetiknya pelahan-lahan. agar tidak hilang baik sebagai file, dst;lebih baik saya share, sebab keterbatasan alat dan cara penyimpanan memiliki peluang hilangannya salinan ini.
Salam

Awighnamastu

(1)    Nihan Sang Hyang Tantu Panglaranya, kayatnakna de mpu sangulun, sa mahārĕpa wruherika, ndah ndah pahenak tangdenta mangrĕngĕ ring kacaritanikā nușa Jawa ring açitkala. Iki manușa Tanana, nguwineh sang hyang Mahāmeru tan hana ring nușa Jawa, kunang kahananira sang hyang Maņdalagiri, sira ta gunung magőng aluhur pinakālingganing bhuwana, mungguh ring bhūmi Jambudipa.Yata matangnyan henggang henggung hiking nușa Jawa, sadākala molah marayĕgan, hapan Tanana sang hyang Mandaraparwwata, nguniweh janma manușa. Yata matangnyan mangadĕg bhātarā Jagatpramaņā, rĕp mayogha ta sira ring nușa Yawadipa lawan bhaţāri Parameçwari, yata matangnya hana ri Dhiyang ngaranya mangke, tantu bhaţārā mayughā nguni kacaritanya.

(2)    Malawas ta bhaţārā manganakĕn, yugha, motus ta sira ri sang hyang Brahmā Wișņu magawe manușā. Ndah tan wihang hyang Brahmā wisnu magawe ta sira manusa; lmah kinĕmpĕlkĕmpĕnira ginawenira manușā lituhayu pāripūrņņa kadi rūpaning dewatā. Mānūșā jalu hulih sang hyang Brahmāgawe, mānūsā, mānūsa histri hulih sang hyang wișņu gawe, pada lituhayu pāipurņna. Yata matangnyan hana gunung Pawinihan ngaranya mangke, tantu hyang Brahmāwișņu magawe manūșa kacaritanya.

(3)    Pinatmokĕn pwa hulih hyang brahmā wișūu magawe manusa, sama hatut madulur mapasihpasihan. Mānak taya, maputu, mabuyut, mahitung, munihanggas; wrddhi karma ning janma manușa. Ndah tanpa humah taya lanang wadwan mawuda-wuda haneng alas, manikĕsnikĕs hanggas, apan tan ana pagawe ulahnya, tanana tinirūtirūny tanpa kupina, tanpa ken, tanpa sāmpursāmpur, tanpa basahan, tanpa kĕndit, tanpa jambul, tanpa gunting. Mangucap tan wruh ring ujaranya, tan wruh ri rasahanya; sing roņdon mwang wohan pinanganya; mangkana hulah ning janma mānūsa ring usana.

(4)    Yata matangnyan mapupul mapulungrahi sang watek dewatākabeh, manangkil ri bhatāra Guru. Tuwan bhaţāra Jagatnātha manuduh watĕk dewatāgumawaykna katatwa pratișţa ri Yawadipāntara. Nāling bhaţāra mahākarana.

(5)    Anaku kamu hyang brahmā, turuna pwa ring Yawadipa; panglandĕpi pĕrang perang ning manūșa, lwirnya: āstra, luke, tatab, usu, pĕrkul, patuk, salwirning pagawayaning mānūsa. Kita mangaran pande wsi; kunang denta manglandĕpanāstra, ana windu prakāça ngaranya. Mpune sukunta kalih mangapita nabuka; paradakĕn tang ayah çarasantana. Malandĕp tang astra dene mpune sukunta kalih; matangnyan mpu sujiwana ngaranapande, apan mpune sukunta manglandepi bayah. Matangnya mpu ngaranta pande wși, apan mpune sukunta çarana. Samangkana pawkasangku ri tanayangku.

(6)    Muwah tanayangku sang hyang Wiçwakarmma, turun pwa ring Yawadipa, magawe umah tirunĕn ring manușa; tinhĕr ngarananta hundehagi. Kita tirunen ing manusa magaweyumah, kitangaran huņdeahagi.

(7)    Kunang kamu hyang Içwara, turun pwa ri Yawadipa, pawarahwarah tikang manușa warah ring sabda wruhanya ring bhāșā, nguniweh warah ring daçaçila, pañcaçiksa. Kita guruwa ning rāma deça, matangnyan Gurudeça ngaranta ring Yawadipa.

(8)    Kunang kamu hyang wișņu, turun pwa ring Yawadipa, kunang pituhun sawuwusta dening manușa, sapolahta tirunĕn dening manușa. Kita guru ning janma manusa, amawa rāt kitānaku.

(9)    Kunang kita hyang mahādewa, turun pwa ring Yawadipa, papande mas, pagawe hanggonanggoning manușa.

(10) Bhagawān Ciptagupta manglukisa, hamarnnamarnnaha lĕngkara, sakarāpaka ri cipta, maçarana mpune tanganta, matangnyan mpu Cipta, macarana mpune tanganta; matangnyan mpu Ciptangkāra ngaranabta nglukis.

(11) Samangkana pawkas bhatāa Guru ring dewatā kabeh; yata sama tumurun maring Yawadipa. Hyang brahmā pande wsi, inarșayanira tang pañcamahābhuta, lwirnya: pŗthiwi, āpah, teja, bāyu, ākāça. Ikang pŗhiwi pinakaparwan, āpah pinakacapit, teja pinakahapuy, bayu pinakahububan, ākāça pinakapalu; yata matangnyan hana gunung brahmā ngaranya mangke, tantu hyang brahmā pande wsi ngūni kacaritanya yata tkaning mangke. Palu parwan sawit ning tal göngnya, susupitnya sapucang, hyang bāyu mtu skaing guhā, hyang agni hana rahina wngi, apan tantu hyang brahmā kapņde wsi kacaritanya.

(12)  Tumurun ta bhagawān wiçwakarmma huņdahagi magaweyumah, maniruniru tang manușa magaweyumah, pada taya momahomah. Yata hana deça ring Mdang Kamulan ngaranya mangke, mulaning mānusāpomahomah ngūni kacaritanya.

(13)  Tumurun bhatārāçwara mawarahmarah ring çabda rahayu nguniweh ring daçaçila pancaçiksa. Sira ta Gurudeça panĕnggah ringkana.

(14)  Jĕg tumurun ta bhatāra wisnu kalih bhatārī çri jĕg ratu sakeng awangawang. A ngaraning Tanana, wa ngaraning maruhuhur, hyang ngaraning bhatāra; matangnyan ta rahyang kandyawan ngaran bhatāra wișņu. Sang Kanyawan ngaran bhatārī çri ri nagara ring Mdang Gaņa, apan mulamulaning nagara kacaritanya ngūni, apan sira amarahmarah ring manusa; yata wruh mangantih manĕnun makupina madodot matapih masampusampur.

(15) Bhatāra mahādewa sira tumurun mapandemās; bhagawān ciptagupta sira tumurun anglukis.


(HASIL KETIKAN SALINAN TAHAP PERTAMA (1) )

SINOM FISBUK......SEMOGA NGTREND...BAHASA MENUNJUKAN....


Ampura, niki wau malajah, dumadak membah malih ngurit ngarupak ring jagate,  becik malih ring fisbuke....mangde sekadi gaya siaran radio niki; raris cawisang

MALAJAH PADALINGSA; PUPUH SINOM (WATEKAN) SEMUT
kasurat olih Cok sawitri

nutug pajalan sumangah
tendas kembung kulit ngendih
Sliwar sliwer joh ken tanah
Jeg ngatitem mamedihin
apan mrasa banya tinggi
semut agung tendas kembung
buntut gemol ceking bancang
deratdat derutdut banggi
alah guyu
nanging tosing tepuk gumi


nang ke sidem sambatang
awak selem kulit lanyig
tendas cenik panyuh celang
akecritan mata pedih
kucekang kang nyumingkin
merem gandem pala ngadu
ngae taluh bilang dangka
sulur sidem mule cungkling
saget nyaru
nden tatas ba ngariamin


samaluh ngagelar solah
awak gede ngajejehin
mapimapi dadi sumangah
tosing belur yan nyingetin
pragat solah ngaranyik
gaya jamprah landa lundu
belog conol tiwas lekad
kaplag kaplugang joh kori
tosing tahu
I jelajag manyurakin


paling jelajag matindak
pati kaplug uyang paling
bes kaliwat ngamah gula
tosing nawu rasa lepis
punyahe ulian manis
wadih kanti srayang sruyung
bayu pusang kerem gula
gobane lemlem ngadingkling
raris nudut
Ngariamin awak padidi

Nang I bekis takonang
suba cenik keneh bengis
demen sajan ngadad-adag
nyenget ngipuk ngagenitin
gibel-gibel medihin
I bekis masolah lugu
buyar yar palaibe samprag
demen nimpung getih mati
alah alu
getarang ngaliwes ilib


Yan patapaan I rangrang
batis sengkok kumis muing
awak gede mula gagah
kulit selem caling renggah
di padange manyelisik
tepuk timpal kaden satru
alahang jangkrik kapluggang
demen saje matimpal mati
nyama adu
tepuk cepok ngepet pati


semut api bablakasan
nyander salap alah angin
cegut kulit kebyahkebyah
sliabsliab kembung api
calinge maguna gni
awak kieng ditanah manyaru
matambus sai mapanggang
ulian cenik meled sakti
umah abu
kaasihin sih olih api


(batubulan naweg purnamane)

Ngembak gni, Kenapa gni?

Ngembak secara rasa bahasa Bali artinya dimulainya perubahan, kata ini juga dipakai untuk menandai pertumbuhan jakun anak lelaki disebut 'ngembakin': tanda beranjak dewasa, juga diartikan mulai mengalir, mulai tampak. Dan Gni dalam tradisi Hindu Bali adalah tak sekedar api. Dalam kitab Sasrasmuscaya dituliskan dengan indah mengenai agni ini: "...manglelana amuja ring Sang Hyang Tryagni ngaranira Sang Hyang Apuy Tiga, praktyakanya, ahawaniya, grhaspatya, citagni, ahanidha ngaranira apuy ring asuruhan, rumateng I pangan, grhyapatya ngaranira apuy ring winarang, apam agni saksika kramaning winarang ikalaning wiwaha, citagni ngaranira apuy nring manusawa, nahan ta sang hyang tryagni ngaranira sirata puja..." arti bebasnya yakni: taat memuja kepada tiga api suci yang digelari Tryagni; yaitu ahawanya, grhaspatya dan citagni. Ahawanya artinya pemasak makanan, grhaspatya artinya api upacara perkawinan, sebagai saksi, citagni artinya api pembakar jenazah. Itulah tiga api suci, api itu harus dihormati dan dipuja.

Teater Bali: Di Era NARAMANGSA - Manusia Memakan Kemanusiaannya (bag.IV)


Mengadaptasi Pola Dasar Pelatihan Teater Tradisi

Bagaimana mengadaptasi pola dasar pelatihan seni pertunjukan tradisi  Bali ke tradisi teater modern; yang hingga kini belum memiliki tradisinya sendiri (?)---Hampir dipastikan hingga kini, bahwa pola pelatihan dasar-dasar teater modern belum memiliki koridornya walau semua paham; bahwa diperlukan pelatihan secara serius dan disiplin kepada para calon aktor atau para pemain drama ini sebelum dinobatkan sebagai pemain teater. Dalam tradisi teater modern selalu terjadi seolah-olah jika telah melakukan olah vokal, olah tubuh, dst (sekedarnya): maka seseorang akan dinyatakan siap memasuki proses pementasan di bawah kepemimpinan seorang sutradara.

Teater Bali: Di Era NARAMANGSA - Manusia Memakan Kemanusiaannya (bag.III): "Membandingkan Monolog Dengan Topeg Pajeg"


"Membandingkan Monolog Dengan Topeg Pajeg"
By. Cok sawitri

Seni pertunjukan Topeng Bali  memiliki tempat yang khusus; tak semata sebagai seni pertunjukan, yang menghibur, namun juga seni topeng ini menjadi bagian dari perlengkapan upacara agama. Dalam tradisi seni topeng Bali dikenal Topeng Panca dan Prembon, yang biasanya ditujukan sebagai seni hiburan; kemudian Topeng Pajeg; yang salah satu pemerannya akan menjadi bagian pelengkap penyempurnaan upacara yakni pada peran Topeng Dalem Sidhakarya.

Teater Bali: Di Era NARAMANGSA - Manusia Memakan Kemanusiaannya (bag.II)


lanjutan dari : Teater Bali, di Era Manusia Memangsa Kemanusiaannya (Bag.I)

Teater Bali atau dalam bahasa yang karib; seni pertunjukan; disebut demikian dalam rangka membedakan dengan jenis dan bentuk seni lainnya; disebabkan karena ada kisah dengan pemeranan; dari Topeng, Gambuh, Wayang Wong, Parwa, Arja, Drama gong, Sendratari; ini kelompok seni pertunjukan yang masih hidup di Bali hingga kini, yang merupakan warisan masa lampau dari rentang masa tahun yang berbeda-beda; yang tetap akan memberi gambaran jelas tentang panggung (stage), penonton dan proses kreatifnya. Selalu pijakan itu akan dimulai dengan pemahaman desa, kala, patra.

Teater Bali: Di Era NARAMANGSA - Manusia Memakan Kemanusiaannya (bag.I)


Di Bali, sejak tahun Caka 818, teater atau drama telah ada. Tidak sebatas sebagai kegiatan pengisi waktu, namun ditempatkan sebagai profesi, yang mendapatkan perlindungan hukum dari penguasa. Juga drama atau teater telah terorganisir sebagai kelompok yang menerima upah serta diduga telah memiliki tradisi kurasi yang berdasarkan track record dan proses kreatif- pengalaman pentas di depan penonton dan penguasa.

Siwa Ratri Kalpa, Perayaan Malam Siwa

Tahun 2010 ini, Siwa Ratri Kalpa jatuh pada tanggal 14 Januari, dalam sistem kalender Bali disebut prawani Tilem Kapitu, sehari sebelum bulan mati di bulan ketujuh (kapitu), diyakini itu adalah malam tergelap dalam peredaran surya dan candra di atas bumi. Di hari itu, sebelum matahari terbit bagi umat Hindu penganut paham siwa akan melaksanakan proses brata Siwa Ratri. Brata ini terbagi tiga, yang utama adalah melaksanakan monabrata, yang menengah melaksanakan upawasa dan jagra ,sedangkan yang sederhana melaksanakan jagra saja.

Perayaan Budha Wage Kelawu : Artha Yang Menanyai Pemiliknya….

Dalam tradisi, perayaan Budha Wage Kelawu (Cemeng), sering diartikan sebagai perayaan kepada Betara Rambut Sedana; perayaan kepada 'Dia' yang mememiliki kekayaan yang sesungguhnya.
Karena itu, pada hari Rabu, Wage, Kelawu, bagi yang meyakininya, akan menghindari melakukan transaksi jual beli; sebab pada hari itu, "Dia" yang memiliki kekayaan tengah melakukan yoganya. Maka tradisi 'ekonomis' yang menarik; sebab dalam sekali waktu 'uang' tidak dipergunakan. Walau dalam sehari, alangkah menariknya jika seseorang dibebaskan dari 'ketakutan' akan ketiadaan uang. Bayangkan andai serentak terjadi dalam sehari, semua orang tidak melakukan transaksi jual beli (?) Bagaimanakah sesungguhnya memaknai posisi uang dalam kehidupan manusia saat seperti itu (?) Kekacauankah akan terjadi atau akan hadir makna baru dalam menilai uang dalam kehidupan masa kini; yang memang menilai keberhasilan seseorang dari kekayaan, jabatan; dari busana luarnya; tidak peduli asal muasal kekayaan itu; didapatkan dengan jalan suci ataukah menipu? Uang telah terbukti ' menipu' kejujuran hati, 'penguasa' dan "tuhan" yang sesungguhnya di masa kini.

Tumpek Wayang: Peringatan Terakhir; Tak Ada Manusia Yang Abadi!!

Tanggal 6 Pebruari 2010, hari ini, hari Sabtu, Umat Hindu Bali merayakan Tumpek Wayang, perayaan yang menandakan bahwa kelahiran ke dunia tak ubahnya bayangan di kelir pertunjukan wayang, karmalah yang menjadi sebab rupa bentuk waktunya. Tak ada yang dapat menghindar karma phala itu; manusia ketika lahir, tidak dapat memilih menjadi anak siapa atau menolak untuk menjadi keturunan siapa. Lahir itu rahasia; mengalir kemudian dalam waktu; memberi ingatan, bahwa hanya perbuatan baik yang menjadi kendaraan untuk melewati segala macam cobaan hidup: sattwam, rajah dan tamas, silih berganti memasuki hati dan pikiran. Hidup manusia tak akan lepas dari ketiga hal ini, pastilah: dengan pahit dinyatakan: tidak ada kelahiran yang demikian tulus, selalu ada kekurangannya!

MERAYAKAN SUMPAH PEMUDA bersama mahasiswa :Tengah menuju SEBUAH KONSEP DAN IMPIAN YANG KOSONG


Kini secara berbisik atau lebih sering terucap diam-diam dalam hati, tentang nasib persatuan dan kesatuan negara Indonesia. Setelah Indonesia memasuki era reformasi (1998-2009), politik praktis menjadi kegiatan terpenting dan utama bagi kehidupan kenegaraan Indonesia. Hampir dipastikan proses demokratisasi yang diimpikan setelah era orde baru, yakni demokrasi liberal (teramat liberal) menyebabkan terjadinya kesibukan jadwal pemilihan pemimpin pusat dan daerah demikian padat dengan biaya mahal telah menjadi 'wajah reformasi'. Politik kini menjadi komiditi utama, melahirkan demikian banyak politisi dadakan yang mengatasnamakan kepentingan rakyat. Hasil dari proses 13 tahun ini; persoalan utama negara tidaklah teratasi secara signifikan; dari masalah kemiskinan, perekonomian, kesehatan, korupsi: semuanya bermuara pada mentalitas penjaringan kepemimpinan negara tidak berubah; malah kian hari kian menjelaskan pola kroni diadaptasi kini dengan sentiment dan fanatisme yang lebih meluas, yakni solidaritas agama dan kedaerahan. 'Instanisasi' di semua lini serentak terjadi. Kejenuhan masyarakat kemudian dialihkan kepada pesona kehidupan religius, yang jatuh kemudian kepada fashion, yakni pada kedangkalan bukan kedalaman proses pencarian hidup dalam kebaikan dan kedamaian, toleransi dan solidaritas semakin nyata menipis ditengah gegap gempita kebebasan menyatakan pendapat.

HARI RAYA KUNINGAN : Rangkaian penghormatan kepada Sang Bumi


Hari raya kuningan atau juga disebut tumpek kuningan selalu jatuh pada hari sabtu (saniscara) kliwon wuku kuningan, berdasarkan kalender Caka Bali; hari raya kuningan selalu berangkaian dengan Hari raya Galungan, datangnya enam bulan sekali. Perayaan kuningan sedikit berbeda dengan perayaan galungan, secara mitologi, misalnya umat Hindu di Bali percaya bahwa pada hari Kuningan para leluhur yang telah distanakan dari Galungan akan kembali ke sunyaacintya, ke ruang yang tak terbayangkan. Namun secara tatwa (filsafat), baik galungan dan kuningan adalah perayaan kelahiran bumi, orang Bali menyebutnya sebagai otonan bumi, (jangan diartikan sebagai ulang tahun), namun pada hari itu ditetapkan sebagai penghormatan kepada semesta, kepada anugrah tuhan yang berkelimpahan pada hidup manusia, dimana sang bumilah sang ibu yang memberikan pala bungkah, pala bija, aneka bahan makanan dari sarwa prani (yang hidup) dan bermanfaatkan bagi kehidupan. Pada hari galungan sesungguhnya tak cuma badan manusia, namun isi rumah, isi dapur disucikan kembali, kembali diajak mengingat posisi fungsinya masing-masing; dari saluran air sampai sapu, dari segala macam alat dapur sampaipun perkakas lainnya, semua yang membantu kehidupan manusia diperlakukan dengan hormat, demikian pula persembahan; dihaturkan dengan keanekaragaman buah-buahan; keragaman biji-bijian, isi laut dan isi bumi; secara jatu (dipilih) dipersembahkan baik dalam penjor maupun banten (sajen); yang menandai bahwa manusia berhutang budi tak cuma kepada sesama manusianya namun kepada seluruh mahluk hidup di dunia.

MAKAN MEMAKAN....


Kelucuan akan terjadi ketika negara menatakramakan isi perut, dan barangkali kelak negara pun akan mengatur bagaimana cara mengunyah dan menelan makanan. Jam berapa boleh makan apa, jam berapa tidak boleh makan apa. Alasannya sudah barang tentu adalah kenyamanan, kesehatan dan soal 'sorga' bagi para pemakan makanan penghuni negaranya: selintas nampak negara penuh kasih sayang kepada 'umat'nya yang disebut rakyat itu, yang sudah jelas memiliki selera berbeda soal makan memakan, namun 'umat' yang penuh selera itu pastilah akan menyerah ketika dalil tata krama makanan itu disangkutpautkan dengan aturan suci; tata krama menuju sorga. Semua tahu (banyak juga yang pura-pura tidak tahu) : Hampir semua agama memiliki aturan soal makan memakan ini. Dan sudah barang tentu, latar bekalang aturan suci itu dikeluarkan tidak akan menyoal perbedaan musim; yang bersebab-akibat langsung dengan pengalaman pertahanan tubuh terhadap berbagai penyakit. Karena itu ada beda antara keyakinan dengan religius juga spiritual, dan pasti itu akan berbeda pula dengan aturan tata krama negara. Sebab tata krama negara adalah kesepakatan dari berbagai keragaman 'selera', tidak karena 'keyakinan' negara itu dibentuk. Keyakinan selalu berakibat adanya pengikut yang taat dan loyal; kecirian fanatisme, dan lingkungan sosial menguatkannya dengan solidaritas; lama kelamaan itu akan menjadi kebiasaan dan itulah mentradisi; menjadi pengikat. Seolah-olah itulah kesepakatan, tanpa boleh diuji lagi.

RINGKASAN singkat riwayat TARI BARIS TUNGGAL


Sekitar tahun 1989-an saya berkesempatan mewawancarai Pak Oka Sading; salah satu penari jauk manis yang sangat dikagumi masyarakat Bali. Dalam percakapan akhir tanpa sengaja terjadi percakapan mengenai riwayat Tari Baris tunggal, yang awalnya saya sendiri mengira usia tari ini sangat tua, ternyata tari baris pangalembar kadang juga disebut Tari Baris Solo; disusun koreografinya dan dipentaskan pertama kali sekitar tahun 1932-an; tujuan disusunnya tari baris tunggal ini agar tari baris sakral tidak dieksplotasi oleh turis-turis yang mulai berdatangan ke Bali. Jadi, di tahun itu masyarakat Bali telah memulai sebenarnya bagaimana caranya melindungi martabat dan harkat berkesenian dari arus jual-beli yang dimenjiwai tourisme. Waktu itu cara yang dilakukan agar tari-tari sakral tidak dipertunjukan sembarangan maka diciptakan koreografi dari inspirasi dari keberadaan Tari Sakral.

Teater Bali di Era Manusia Memangsa Kemanusiaan


Di Bali sejak tahun Çaka 818, teater atau drama telah ada. Tidak sebatas sebagai kegiatan pengisi waktu, namun ditempatkan sebagai profesi, yang mendapatkan perlindungan hukum dari penguasa. Juga nampak drama dan teater telah terorganisir sebagai kelompok yang menerima upah serta juga dapat diduga telah memiliki tradisi kurasi yang berdasarkan track record dan proses kreatif dari penonton dan penguasa.