The King : " Saya belajar akan The New Dramaturgy kepadanya"

 

Pengetahuan akan dramaturgy itu relatif 'tak populer' walau beberapa keilmuan sosial sangat bertimbang kepada pencapaian pemahaman akan kedramaturgian. Sebagai teori jika dikaitkan dengan teater : maka selalu henti pada sebuah risalah dari era Aristoteles ( buku Poetics) jadi acuan kapan dimana pun kamu terbuntukan saat mencari apa itu dramaturgy. Lalu abad 18- bermunculan dalam tradisi teater eropa akan dramaturgy ini. Nama nama agung itu pasti disebutkan : G.E Lesing : ini kutipan paling populer akan seni peran dari Lesing : seorang penulis lakon ternama dari Jerman pada masa itu, tulisan-tulisannya tentang seni panggung (stagecraft), sastra dan peran teater dalam pembangunan budaya, sangat berpengaruh dalam membentuk bidang dan praktik dramaturgi. Kaitan dramaturgi dengan bidang sastra tetap tersisa; sampai sekarang istilah “dramaturg” secara umum digunakan untuk merujuk pada penasehat sastra yang bekerja di sebuah gedung/institusi teater, yang berpartisipasi dalam proses latihan, dan mengembangkan dan/atau memastikan bahwa “integritas” atau ruh dari naskah lakon tidak hilang di ruang latihan dan penciptaan yang bergerak cepat". Kemudian Patrice Pavis, dll. Tapi terbentang jelas gaya dramaturgy eropa itu. Berpengaruh karena dituliskan. Dunia akademisi selalu minder jika tak mengutip ajaran ajaran dari mereka. Tetapi wilayah Asia walau minimal sekali jumlah orang yang menekuni dramaturgy ini. Telah sejak lampau menginginkan 'dramaturgy yang berbeda dengan eropa' sejauh mungkin mengikis habis cara analisa struktur estetika terhadap pemanggungan oleh seorang dramaturg. Sampai kini belum lahir lahir juga sebuah buku agar dapat menandingi pengaruh buku buku seni pemanggungan ini khususnya untuk the new dramaturgy.


Di bali juga di Indonesia: menyukai ilmu ilmu ini sepertinya akan tersisihkan. Seolah dunia proses kreatif estetika telah usai pada kampus seni. Pada kepangkatan dan jabatan birokrasi seni. Sukurnya sejak 2005 dengan hati hati saya berguru kepada proses pengasuhan perguruan Maha bajra sandhi. Dan mungkin alamiah saya mengikuti tahap demi tahap : ledakan pemikiran Granoka Gong. Disamping temuan pasca filsafatnya yang bermuara pada Kakawin Sutasoma. Hal yang mencengangkan dia itu sejatinya menyusun The New Dramaturgy itu. Jika lebih luas pengetahuan dan wawasan mengenai segala syarat kedramaturgian: pasti tahu, walau dia tak tertarik untuk menuliskannya. Tetapi jika menyandingkannya dengan kesyaratkan keilmuan dramaturgy se eropa dari era klasik sampai dramaturgy network. Maka sepatutnya Dayu Arya Dayu Ani tahu akan hal ini. Ayahnyalah yang membimbingnya memasuki the new dramaturgy itu: analisa struktur estetika dan berjaringan. Sekalipun dibandingkan dalam bedah fenomena sosial dan estetika. Jika gambuh panji masutasoma ini dibedah hanya dengan teori populer dramaturgy yang lazim digunakan dunia akademisi tanpa pernah up date itu. Betapa kesepiannya dia😊. Maka saya memberanikan diri memenuhi kode etik sebagai sisia dalam Maha Bajra Sandhi. Akan menuliskan dengan Pisau The New Dramaturgy Granoka Gong. (Suksma). colek Sudarta Gusti Luciana Ferrero Suliati Boentaran Aryani Willems Analisa Kerenz Kadek Sonia Piscayanti Arint Az Pranita Dewi Dewi Noviami Ayu Weda Wayan Westa Made Gunarta Bob Teguh Jenny March Dewa Gde Purwita Sukahet Dewa Ayu Eka Putri

No comments:

Post a Comment