Showing posts with label Batubulan. Show all posts
Showing posts with label Batubulan. Show all posts

Sebab Kau Hanya


SEBAB KAU HANYA
Menyapamu dalam diam. Menyebutmu. Dalam diam.

Tak cukup beraniku. Sebab kau hanya

Lintasan-lintasan dalam hati.

Dalam pikiran.

Menganyam risau.

Kau tak tahu. Tak tahu aku

Pernah engkau bayangkan

Ada yang mencintai dalam diam

Tak menyapamu. Tak menemuimu.

Keheningan-keheningan. Hanya sebab kau

Tak pernah menduga. Tak perlu juga

sebab hanya kau



batanghari, 24 oktober 2015)

Membayangkan Kau Kini

Kini

Kubayangkan padang terhampar

Berbaring berjejer berbantallkan tangan

Sesekali kepalamu menoleh

Mencari langit dalam diamku



Padang-padang risau menyapa pikiran

Ruam yang menyapa tarikan nafas

Apa yang lupa kita ucapkan

Sebelum akhirnya jarak menipu



Desau dalam hati

Mengalah pada kemungkinan

Tak ada alasan untuk kembali

Sebanyak akar yang menyangga

Begitu lengkap kemustahilan




Kini

Aku melucu untuk diri

Jika saja aku berani menyatakan

Cukup kuat untuk hadapi ledakan sakit hati

Mungkin

Aku tak menulis puisi ini.


(batanghari, 2015)

Kubaca Pesanmu, Sembunyilah Pilu

kubaca pesanmu: dimana kamu

aku menjawab: aku di rumah

                       bagian mana yang menderak

sepasang matamu memandang

selalu susah payah sembunyikan

betapa riuh debur ombak didalamnya

tempias garam menjangkau pori-pori

maafkan, bila pantai membisukan pasirnya

kubaca risau berulang

berulang seolah tak direncanakan

                      "tiap-tiap kata lambungkan kita jauh-jauh
                     
                      tentang kekasihmu,
                     
                      tentang sukadukamu"

sesekali bila bahumu mendekat

kalimat pendek di layar

membawa kerlip menjauh

dibalik batas pandangan

pernah engkau ingat

kapan mulainya bunga-bunga mekar

walau ingatanmu menanam?

                       kubaca pesanmu, selalu

dibalik tanya menderu angin yang kukenal

badai yang pernah membawa jung-jung berkeping

sebab bukan waktuku lagi

untuk berbagi dukacita

menakik kata ditelinga: aku tahu, isi hatimu!

                      pernah engkau ingat?

gemetar yang terburu disimpan dalam tawa

atau menatap kesenyapan

seolah lamunan membawaku ke langit tinggi

melayarkan angan dalam samudera

                       ah, kubaca pesanmu

selalu: agar kau kira

aku tahu apa-apa

tentang gelisah hatimu

setiap pesanmu kubaca!

kujawab juga seperti biasa



(batanghari, 2015, menunggu tiket)

Tahukah Kamu, Ketika Kamu Pergi

seberapa sanggup memandang bayangan di cermin

mencari kerut di dahi

tahukah kamu

saat engkau pergi

udara hilang angin, hampa berumah di dada

langkah hilang detak, jantung menangisi denyutnya

diam-diam kecewa menari

kulapisi dengan keriangan

berapa tebal lagi bedak harus kupulas ke wajah?

kuas yang mana mengarsir sembab di dada


tahukah kamu

gerimis tak henti di hati

musim berganti berkali. Berkali-kali

kesat dilidah, penat dinafas

benteng terindah itu, setia sembunyikan aku

memetakan perjalanan; satu kota ke kota lain

satu terminal ke terminal lain

ditiap jendela kaca

tahukah kamu

aku butakan pandangan

agar tak kulihat; kecewa yang menari

membayangi aku kemana pun pergi.

hadapkan tanya

siapa yang kupandangi setiap hari?

asing itu tersenyum riang

berapa gores lagi agar nampak bahagia?

merah, biru, hijau...

merona pipi meniru alur tangis

ah, tahukah kamu

bahkan bayangan pun tak kumiliki, lagi

ketika kamu pergi



( batubulan, ngantiang baju liku-2015)

Cintailah Aku Kemudian

Berjingkat keraguan pada malam-malammu

Aku tak bersalah, aku tak bersalah

Mencintai itu bukan soal

Suara-suara yang mendera

Melecut hati

Aku tak sudi berlari, aku tak sudi sembunyi

Tuhan maha kuasa



Berindap pilu didalam-dalamku

Matamu menyimpan risau

Aku pergi, aku pergi

Semua damai, damai semua

Tuhan puas, hati tak

Bersidekap mabuk dalam tubuhku

Bayangkan tatapanmu

Aku bisa,bisa melaju,henti ataukah diam

Airmata, tawa itu sama

Berjingkat mauku buat tak peduli

Matilah tatakrama, matilah

Aku menggantung leher di langit

Kemudian meledak dalam perapian

Bolehlah, cinta diucapkan, sesal digumamkan

Aku mencintaimu, kemudian

Setelah bosan dengan kemunafikan

Lalu. Lalang, lalu...

Biarlah demikian.

Bila Kau Tahu, Ingatanku Yang Sial, Pisahkan Kamu

Bila Kau Tahu, Ingatanku Yang Sial, Pisahkan Kamu



ingatanku yang sial

pada senja di tepi lamunan

bunga-bunga kamboja luruh

luruh-luruh daun daun kering

kering-kering hati

setapak  menjanjikan

desir ditiap langkah mengayun jauh

aroma tubuhmu terselip

menghentikan tarikan nafas

berkali-kali saat jalan sendiri

berkali-kali aku mengherani

didada bersiap pentas satu pertunjukan

menanti layar dibuka, kegelisahan menyepikan diri

lampu-lampu dipadamkan

suaramu mencariku

demam yang meruap dalam kulitmu

tiba-tiba menebarkan kehangatan

ingatanku yang sial

sampai tepuk tangan itu meledak

sorak sorai menyilaukan mata

hati dapat berlari, tubuhku diserung keriuhan

saat sepi, tinggal aromamu

sebaris pesan dari banyak orang:

kami pulang duluan, sampai jumpa lain kali

ada yang lenyap, sudut tempatmu berdandan

kosong benar di sana

kosong benar hatiku

ah, ingatanku yang sial

aroma yang tenggelamkan aku

kau tak akan tahu

sebab aku tak banyak menyapa

sebab aku tak banyak waktu

sebab aku kehilangan canda

lampu padam, kehangatan didahimu

demam yang asing itu

meruap jauh ke denyar sepi sepiku

ingatanku yang sial

kau tak akan tahu

sampai kini,

bahkan sekalipun lampu kembali dipadamkan

dahimu kembali hangat

jatuh dibahuku

ingatanku yang sial

menjadikanku jauh darimu selalu



(batubulan, tahun 2015)

PLATONIK

PLATONIK



jalan-jalan sepi tanpamu

lampu merah, patung polisi

aku diingatkan tak boleh melaju mendekati garis batas

nyanyian selamat pagi dari mesin di tiang-tiang

menghela namamu pergi jadi gumam

                matamu pendongeng bagi tatapan

                menerbangkan aku

                sampan kayu, tenda, meja-meja

                tak ada camar, telor penyu tak butuh purnama

menangkar kali pertama hangat di hati

di teras saat hari memiringkan cahaya mentari

kerap engkau datang, berjalan-jalan hati

lampu-lampu seakan dibawah ombak; kemilau matamu

mau kemana? itu siapa, ini apa!

                tak ada tempat bagi hati menguji

                semua cerita memasuki telinga, hati, ingatan

                rahasia impian menjadi rumah sembunyi

                lembah,gunung, rumput hangus

                asapnya membuat kita batuk bersama

terasa kanak saat engkau berucap

aku mencintaimu hanya dalam hati

nyali itu berwarna gelap

jantung, hati, entah apa lagi tersangkut

dikemas dalam kantong plastik

berbaring penat, bantal, selimut

           seperti buku menuliskan apa saja

           pernah aku membatin, agar kau suka aku

           pernah aku menduga, kau akan suka aku

           lalu deru telpon menjerit mengusir tidur


jalan-jalan makin sepi tanpamu

di perempatan lampu merah menyala

tawamu masih hangat dalam dada

tangismu masih kagumi kecemasanku

aku mencintai dalam hati; juga.

Entah apa alasannya

sampan kayu menjadi meja-meja

gelas-gelas telah kosong lama

pelayan berganti, di laut anak-anak mendayung kano

sampan tak tahu, penyu dan camar kemana

kau tahu, aku juga tahu

cukup dalam hati mengucapkanya berkali-kali




(batu bulan, tahun 2015)

Aku Tak Kan Mengirimi Kau Bunga

Aku Tak Kan Mengirimi Kau Bunga



kau

tersanjung puisi ini

bulan di pucuk cemara

bukit-bukit menggigil

       aku

       tak cemas pikiran-pikiran

       mengusik perasaan dengan kata manis

       melambungkan perkiraanmu

       mengundang tawa kecil

       jadikanlah berita seakan dikejar petaka

kau

mendaki langit berundakan lehermu

dagumu membelah kening

candi yang rubuh

oleh puja-puji

           aku

           tak akan tertawa

           tetap menjaga mata duka

           merana menatap rembulan

           saat sepi

           semut memindahkan remah

           meminangmu memasuki gegar

Aku

pasti, hanya kata

rayuan tak seikat bunga

tak akan kukirim

walau kau

            menjinjit cerita

            seakan aku jatuh cinta

            sebab karena kata-kata

aku lupa

mabuk yang keberapa

memujamu bak berhala



(batubulan, 2015)

Testimoni (1)

Testimoni (1)



pernah

aku seperti yang lain, yang lain seperti aku

sembunyi dari patahati

membungkus sedih dengan puisi

mendandani dukacita dengan tawa


pernah

lautan temanku berkisah

sunyi karibku bercakap

melapisi tatapan dengan senyuman


pernah

hampa mengenalkan dirinya

nyeri menggariskan jejaknya

pernah

seperti tangan pelukis

mengubur kisah dengan warna

gelap menyala dilubuk duka

tak ada airmata. Keluh kesah pun: tak!


seperti yang lain, yang lain seperti

aku dustakan perih luka, perih luka dustakan aku

meledakkannya dalam tawa, tawa menghanguskannya

membiarkan, segalanya tak terduga.



(batubulan, tahun 2015)

Suatu Waktu Mengenangmu

Suatu Waktu Mengenangmu


kaukah yang melintas

desau angin dalam keriuhan jalan

ingatkan aku pada satu menu:

udang dililit bacon, roti dibalut butter

matamu lembut berkerjap:

menepuk punggung tangan

kopi dengan rasa asing di lidah

ah, perapian di seberangku duduk

menceburkan ingatan ke lamunan

asap itu tenggelam aku!

malam-malam pernah berbaring beratap ilalang kering

mengejar jarak ubud-denpasar-airport

cerita menjadi kata-kata beku, kini

hampir tengah malam

beberapa toko menunda langkah

baju hangat, kemeja dan topi

memanjangkan hari jalan di sisimu

payung, akar-akar remang dari dinding tanah

memekik dalam diam hati:

mengapa kita berpisah?



kaukah yang memintas

dalam potongan sayur di piring salad

anak-anak itu mengangsurkan tiket

malam senyum, gerimis tipis

turun tepuk tangan di waktu kita menyeberang

memegang lengan kelam, tinggalkan keriuhan

kelam melelahkan hati,

malam menyimpan kenang

jalan-jalan memungut ingatan sepanjang malam

sempat, aku simpan sehelai daun kering

lalu remuk oleh amarahku



riuh tepi jalan, kini

memberiku tempat buat sembunyi

berkali-kali memandangi setapak

diseberang pasar telah berdandan

menyisakan bayang di pohon pohon

berdirilah di sebelahku menukar senyum

lalu kini menjadi sunyi yang pedih



kaukah yang melintas

menyapa dalam desau angin

memurungkan cahaya lampu lampu

mengherani aku: mengapa tak sanggup lupa

kenangan telah uzur, kalender puluhan kali diganti

kaukah yang memintas?

malam-malam ditepi jalan, menegur rahasia hati ucapkan selamat tinggal, kini

yang tak pernah sempat kita ucapkan.


(batubulan, tahun 2015)

BILA 1/2 CINTA, 1/4 NYALI PATAHKAN AKU

BILA 1/2  CINTA, 1/4 NYALI PATAHKAN AKU

masih,

aku lamunkan kau

tamasnya ke tepi pantai

ketapang-ketapang murung

cangkang-cangkang kerang

lukai jari manismu

'ceritalah tentang kekasihmu

bahagia ataukah dukacita

ombak berkali kali menyalami

perpisahan dikering matahari

keringatku menyerikan lukaku ’



aku cemas, menjadi pandir

berdiri rikuh karang-karang

sembunyi ikan dalam genang

menyurut laut purnama menjauh

ganggang tumbuh di rahasia waktu

lumut jatuhkan keberanianku



masih

aku menarik nafas mengusir sengal

apa yang dilukis hujan?

derai sedih warna-warni

sebab aku bisu, hilang ucap

buat membilang jumlah rindu

genangan dimataku menjelma gulma

tenggelamkan lamunan lamunan


masih,

membenam dibalik pasir

dihempas angin, dihempas takutku

patah, patahlah aku.

sekali itu masih di khayalanku

(batubulan, 2015)

SINOM FISBUK......SEMOGA NGTREND...BAHASA MENUNJUKAN....


Ampura, niki wau malajah, dumadak membah malih ngurit ngarupak ring jagate,  becik malih ring fisbuke....mangde sekadi gaya siaran radio niki; raris cawisang

MALAJAH PADALINGSA; PUPUH SINOM (WATEKAN) SEMUT
kasurat olih Cok sawitri

nutug pajalan sumangah
tendas kembung kulit ngendih
Sliwar sliwer joh ken tanah
Jeg ngatitem mamedihin
apan mrasa banya tinggi
semut agung tendas kembung
buntut gemol ceking bancang
deratdat derutdut banggi
alah guyu
nanging tosing tepuk gumi


nang ke sidem sambatang
awak selem kulit lanyig
tendas cenik panyuh celang
akecritan mata pedih
kucekang kang nyumingkin
merem gandem pala ngadu
ngae taluh bilang dangka
sulur sidem mule cungkling
saget nyaru
nden tatas ba ngariamin


samaluh ngagelar solah
awak gede ngajejehin
mapimapi dadi sumangah
tosing belur yan nyingetin
pragat solah ngaranyik
gaya jamprah landa lundu
belog conol tiwas lekad
kaplag kaplugang joh kori
tosing tahu
I jelajag manyurakin


paling jelajag matindak
pati kaplug uyang paling
bes kaliwat ngamah gula
tosing nawu rasa lepis
punyahe ulian manis
wadih kanti srayang sruyung
bayu pusang kerem gula
gobane lemlem ngadingkling
raris nudut
Ngariamin awak padidi

Nang I bekis takonang
suba cenik keneh bengis
demen sajan ngadad-adag
nyenget ngipuk ngagenitin
gibel-gibel medihin
I bekis masolah lugu
buyar yar palaibe samprag
demen nimpung getih mati
alah alu
getarang ngaliwes ilib


Yan patapaan I rangrang
batis sengkok kumis muing
awak gede mula gagah
kulit selem caling renggah
di padange manyelisik
tepuk timpal kaden satru
alahang jangkrik kapluggang
demen saje matimpal mati
nyama adu
tepuk cepok ngepet pati


semut api bablakasan
nyander salap alah angin
cegut kulit kebyahkebyah
sliabsliab kembung api
calinge maguna gni
awak kieng ditanah manyaru
matambus sai mapanggang
ulian cenik meled sakti
umah abu
kaasihin sih olih api


(batubulan naweg purnamane)