CATATAN THE TIMPALs : MEREKA DENGAN SUARA KANAK BERTANYA : APA SIH CERITANYA INI (?)




Di bawah pohon sawo di jabaan Merajan Ageng Griya Budakeling : kami berempat sedang menunggu proses adegan Panji Masutasoma bagian openingnya. Dayu Gek Anis, pemeran Galuh    bersama tiga condong (kinar, gung gek, dayu geg) saat itu kembali dari arah utara, arah pintu dari purian merajan ke jabaan : dan Gek Anis mendapati saya tengah menimang Rangda (btari widyutkarali): dengan suara kanaknya menyapa saya : sudah dikasi minum susu (?) Ketiga anak lainnya melepas senyum nakal kanak mereka kepada saya. Saya pun memperagakan dengan sungguh menimang 'btari'. Ketiganya mendekati melihat ke arah rangda, seakan itu adik kecil, "cantik cucunya loh!" Ini dicelotehkan anak anak itu dengan maksud menggoda saya. Yang ga mau dipanggil nenek. Harus memanggil saya kakak atau sista! ๐Ÿ˜„ jadi Kinar lalu bertanya: apa sih ceritanya ini. Yang lainnya bertanya apa ceritanya? Kenapa ada panji? Kenapa ada masutasoma(?) Saya dengan serius juga akhir jatuh kocak. Mulai menceritakan : itu cerita tentang the prince (pake bahasa inggrislah): yang galau lalu meninggalkan istana. Dia itu kabur sebenarnya sebab semuanya  ga mau dong dia pergi gabut gitu. Bisa bahaya kan. Tapi the prince tetap pergi. Nah si panji itu karena dahulu kala : di griya budakeling ini ada gelungan panji yang misterius: yang bisa muncul dan hilang tiba tiba. Nah, adegan awalnya itu tuh bu guru dayu ani mau berkisahkan itu : oh....lalu terjeda. Sebab persiapan akan dimulai. Kembali anak anak itu menggoda saya : ga nangis cucunya (?) Hahahhahaah...dan ternyata diam diam kami diamati oleh Ayu Suma Lestari ibunya gung gek. Lalu saya tertawa berucap : ga boleh loh nyandain rangda. Anak anak itu mengangguk dengan senyum seolah menatap serius ke arah depan. Saya bersukur : pertanyaan jujur dari mereka. Sebab jarang yang mau bertanya soal adegan opening itu. Seakan akan semua mengerti. Lewat anak anak itu saya jadi merasa betapa ketulusan anak anak itu justru menjadi jembatan komunikasi. Tentu dengan komentar : duh gitu loh ajarannya mbok cok...maklum saya memang mengajak anak anak itu agar mengakrabi hal yang selalu ini secara halu ditakuti. Kapan takut, kapan berani, kapan bertanya bahkan mempertanyakan..dst. welcome di pasraman bhumi bajra๐Ÿ˜„

No comments:

Post a Comment