:untuk Cok Sawitri

(meski puisi tak menyelesaikan masalah bangsa, tapi aku tetap menulis saja sebab mau menjadi tukang setrika yang bercerita, aku tak serapi dirimu). 

HALTE
Kita dipertemukan begitu saja 
Disebuah halte

Ketika kita menunggu jemputan
Atau mungkin menunggu kaki hujan berhenti berderap seperti sepatu lars*
Hujan, itu alasan yang lebih kusuka

Lampu merkuri keemasan
Mengiringi tarian anak-anak langit itu
Aku mulai menggigil

Engkau tak membawa scarf
Kautawarkan telapak tanganmu

Hanya ini yang kupunya, katamu
Kutawarkan kopi terakhir dari tumblerku
Begitu cara kita saling menyapa

Hujan masih menari
Anak-anak langit masih berlari
Kita berbagi keheningan
Ketika kata-kata tak dibutuhkan lagi
Jemari kita berkawan karib
Saling mengait

Tanganku mulai menghangat
Tapi kautemukan beku yang asing itu
Ruang kosong yang tak asing
Ingatan patah

Anak-anak langit itu berhenti sejenak
Engkau melepas genggaman
Seharusnya begitu
Lalu jemputanmu datang
Engkau melambaikan tangan
Atau mungkin tak perlu
Toh kita hanya sesama penunggu
Halte itu menjadi lembar usang 
Selekasnya...

Sayang sekali,  tak demikian
Anak-anak langit duduk di samping kita
Mereka berbagi gula-gula
Engkau berbagi tawa
Dari deretan gigimu yang rapi dan kuat untuk melukai bibir yang kausinggahi
Aku berbagi kisah
Tentang caraku mencintai hidup
Ketika hidup tak mencintaiku
Entah engkau yang mengingatku
Atau aku yang tak bisa lupa dengan tatap mata amber menjelang senja berhujan itu

Harusnya,
Kita hanyalah sekumpulan moment
Yang terserak di setiap halte sepanjang Buncit Raya
Pertemuan,
Yang selalu mengisyaratkan perpisahan
Bahkan sebelum sempat bertanya
Berapa jumlah baliho yang menutupi langit
Atau
Engkau suka pangsit basah kuah atau kering saja

Anak-anak langit itu pamit
Hujan sudah selesai
Termyata memang,
Jemputanmu datang
Ia mengenakam dress bergambar bunga camelia
Yang kautanami dari pelarian satu ke pelarian yang lain

Engkau beranjak
Tak menoleh lagi

Aku masih duduk di halte
Memasukkan kenangan ke dalam tumbler
Sesekali mungkin aku ingin mencecap
Hangat yang pernah itu...
Desember, rain lalu... 

SAYA TULIS INI WALAUPUN TAK BERGUNA

Sabtu siang kemarin sebelum hujan, anak-anak angkatan baru TEATER SOLAGRACIA - SMA N1 NEGARA, latihan (workshop) penulisan naskah drama di Rumah Kertas Budaya Indonesia.

Teater Solagracia ini terbentuk atas inisiatif empat orang siswa yaitu Wiwik Made Dwijayanti, Anggi, .... dan ..... (saya lupa namanya) tahun 2010 yang saya fasilitasi bersama seorang guru setempat bernama Ibu Ami. Ibu Ami sendiri sudah pindah tugas ke SMA N2 Negara kalau tidak salah tahun 2012.

Di tahun pertama terbentuk, Teater Solagracia berhasil lolos seleksi bidang teater tingkat provinsi untuk mewakili Bali dalam festival seni pelajar (sekarang bernama FLS2N) di Makassar dengan dua naskah karya saya, yaitu "MIN" dan "Ringsek".

Berkat bimbingan keras Cok Sawitri saat mereka dikarantina selama dua minggu di Denpasar, ditambah rasa "jengah" karena dianggap tak penting oleh banyak guru, Teater Solagracia yang didampingi seorang gurunya, Pak Sudirtha Van Genta, berhasil membawa pulang medali emas.

Teater Solagracia yang di tahun-tahun selanjutnya sempat menjadi Juara 2 pada lomba drama modern tingkat provinsi yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Juara 1 Lomba Teater Balai Bahasa Provinsi Bali, terus berkembang di bawah pembinanya Ibu Guru Eva. Mereka juga sempat berpentas di Jogja dan Bandung dalam event teater tingkat nasional.

Dan kemarin, Teater Solagracia berhasil masuk dalam kategori LIMA TERBAIK NASIONAL pada Festival Digital Musikalisasi Puisi Tingkat Nasional 2023 yang diselenggarakan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek di Jakarta.

Tidak terasa ternyata sekarang sudah tahun 2024, wkwkwkwk... maksud saya ternyata sudah 13 tahun lebih saya menjadi "om"-nya atau menjadi pamannya Teater Solagracia. Dan dari setiap angkatan Teater Solagracia bersama "adiknya" yaitu TEATER TANPA NAMA - SMA N2 NEGARA yang dibentuk dan difasilitasi Wendra Wijaya tahun 2015 (?), selalu pula saya ajak bekerja atau menjadi eksekutor dalam berbagai kegiatan kesenian di lokal Jembrana dan Bali.

Demikian cerita ini saya tulis walaupun mungkin tidak berguna.

Catatan akhir tahun 2023(I) : SEJARAH TARI DAN DEFENISI TARI BELUMLAH FINAL.

Kepada wong kampus seni : "tari adalah suatu pengertian yang luas dan masih terlalu abstrak untuk dapat diperbandingkan " - dikutip dari penelitian Tari dalam Sejarah kesenian- jawa bali. (Makudang kudang prasasti akan hal mengenai tari).

Kita mulai dengan kata tari. Igel adalah menyatakaan tari, tak hanya Bali menggunakan kata ini juga jawa. Cobalah baca beberapa prasasti mengenai penetapan Sima. Lalu dari khasanah sastra: panretta ( cek kakawin smarandhana) atau manrretaa (negarakertagama) sedang di ramayana disebut " nartaki ya mangigel" lalu masolah, imen imen, dan bahkan abhinaya (karmawibhangga borobudur) sebagai sikap tari : lebih menyangkut paham gesture, gerak yang memiliki makna tertentu. Juga sebutan di berbagai wilayah nusantara soal menyebutkan apa itu tari dan menari!

Jadi sejarah tari dan defenisi tari itu belum final. Dan kaum cendikiawan kampus seni hendaknya tak bergerak sebagai ruang latihan menari macam kursus profesional. Alangkah indahnya. Tari itu menjadi ' subyek' penelitian yang tak akan habis. Juga akan menguatkan proses kreatif bahkan penciptaan yang tak henti tentu dengan fundamen yang berakal sehat dan memahami akar akar kecendikiaan estetika. Jangan berhenti pada gelar akademik. Lalu hanya asyik mengira telah melahirkan teori. Dan itu mengira ilmiah dan genap. Masih banyak yang dapat dicari. Masih banyak kawan. (Video dari panggung maestreo II)

Dayu Arya Dayu Ani Wayan Westa @sorotan Luciana Ferrero Sudarta Gusti Sudirana Yuganada Analisa Kerenz Dewa Ayu Eka Putri Ni Ketut Putri Minangsari Mahijasena Gunarta Made Adi Gunarta Suliati Boentaran Gung Ama Agung Arini Cok Pring

DRAFT MIMPI (3)

Apakah sampai atau selesai ketika menyadari : keresahan hidup itu adalah biaya biaya makan, minum dan lain lain. Atau itulah kemalangan ketika bertaruh hanya untuk itukah hidup? Mengagungkan kemuliaan lahir itu?'

Gelora itu hilang dari dadaku. Menipis seperti asap rokok yang terhembus angin. Aku tak lagi bangun pagi dan mengisi siang menuju malam untuk pikiran pikiran dan ingatan-ingatan apa saja itu. Tidak juga kutempatkan sebagai remeh temeh. Aku mulai memahami sekaligus tak mau paham. Aku melihat diriku diantara banyak orang. Aku bercakap ringan kadang berdiam. Aku tak banyak lagi memperhatikan orang orang dengan perasaan menilai. Juga aku melihat diriku untuk ada sesekali pada keriuhan kelelahan, keinginaan keinginan kabur, yang belum terdefenisikan. Aku memasukan hpku ke ransel. Hanya sesekali melihat apakah ada pesan masuk. Lalu tanpa beban membiarkannya dalam ransel seharian. 

Aku mulai terbiasa. Membiasakan diri pada keadaanku. Bukan. Tapi aku merasa terlalu ringan. Aku melihat saat berjalan menuju jalan bebatuan itu. Ya. Sebentar lagi ada yang menyapa. Aku juga tahu saat melangkah akan muncul perasaan. Apakah benar jalan ini akan membawaku ke tempat pertemuan. Aku melihat diriku bertanya. Aku tersenyum. Aku dapat dengan ringan bertanya: benarkah jalan ini menuju arah tempat pertemuan? 

Apa sebutannya? Prediksi? Bukan. Aku melihat beberapa menit ataukah peristiwa ke depan dari waktuku saat itu (?) Aku tersenyum pada orang orang yang menerka nerka akan kehadiranku. Aku berusaha menenangkannya. Bahkan mencegah agar dia merasa telah memancing kekesalanku. Ini lucu. Kadang sangat lucu. Kusebut itu mimpi. Ya. Bagaimana dirimu: merasakan sekelilingmu dengan tanpa melihat (?) Ya. Dirimu di situ. Ada yang misalnya yang tiba hanya dengan tujuan bekerja. Ada karena merasa ini bagian dari kesempatan untuk melapiskan ingatan baik. Tapi rata rata mereka datang sebagai seseorang yang menjalani hidup dengan menuju sampai atau selesai (?) Usia bukan perkara. Beberapa tengah hendak mencari. Ada yang tak tahu kenapa ada di sini. Di sini. Aku hampir tertawa. Mimpi. Mimpi itu. Aku tahu. Aku tak tengah lelap. 

Ya. Aku tahu. Banyak mungkin yang merasa. Kenapa dia berbeda dari cerita cerita orang tentang dia (?) Aku juga tak merasa berubah. Aku hanya merasa kini mau menerima : apa melihat diriku itu sesuatu. Bukan dicermin. Aku merasakan desau orang orang berkeliaran di sekelilingku. Aku merasakan juga beberapa menanti reaksi fatalku. Aku tersenyum. Kerikuhan dan kekikukan. Kelelahan tubuh itu jauh lebih ringan. Dibandingkan. Kau mengira tengah memuliakan hidup dengan mengerjakan sesuatu pun menjaga kesantunan. Aku menghindari menjenguk kelebat kerisauan kerisauan orang orang. Waktu kadang membuat orang melupakan dirinya. Ketika mereka mengira tengah mengerjakan sesuatu.

Mimpi itu. Tak lagi membuatku risau. Atau bertanya. Aku hanya tahu. Ini telah lama terjadi. Sering kuhindari untuk memahami. Sering kuasingkan. Sebab aku tahu. Tak mungkin akan berkata: aku akan disana. Juga aku tahu seperti apa. Hah! Itu mimpi. Bunga bunga tidurku.

 (Draft Mimpi 3- by cok.sawitri).

DRAFT 2024 : MIMPI (2)

derita itu harus diselesaikan. Bukan dihentikan.Tapi derita itu jenisnya banyak. Tak akan sanggup menyelesaikannya dengan serentak'

Kapan mulainya itu ? Bahkan terjadi disaat tak tidur. Mulanya rasa asing. Mungkin semacam terpukau. Terpaku : aku melihat diriku berjalan memeluk bola basket di bawah pohon mangga besar. Aku lihat langkahku juga desau daun daun kering yang terinjak. Tapi aku saat itu memang berjalan dengan memeluk bola basket. Di bawah pohon mangga besar. Aku tidak lagi tidur. Juga bukan mimpi berjalan. Aku melihat diriku berjalan disaat aku berjalan. Mimpi. Itu awalnya. Rasa asing. Membuatku menyimpan mimpi itu dalam diam. Juga aku tidak mau mempertanyakan. Itu benar teralami. Atau hanya khayalanku. Lalu di sebuah mall saat aku ke luar dari lift. Kembali aku melihat diriku. Menekan tombol buka. Lalu masuk ke dalam. Memperhatikan nomor lantai. Lalu pintu lift terbuka. Warna bajuku. Ransel. Sepatu. Begitu aku melangkahkan kaki. Aku kembali. Kembali asing. Kembali terpukau.

Aku tak memikirkan. Melupakan. Tidak memberi kesempatan untuk berpikir. Itu barangkali mimpi. itu tak selalu tiba. Atau kerap tiba. Aku asingkan dalam ketidakpedulian. Sampai kemudian mimpi itu tak hanya untuk melihatku. Tetapi aku dibawanya melihat. Hadir. Kemana dan mengapa. Alasan apa. Tetapi tak pernah dalam waktu lama. Tetapi cukup untuk tahu. Awalnya tanpa suara. 

Mimpi itu kuasingkan. Aku hanya tertawa kepada diriku. Konyol. Jadinya konyol. Beberapa kali aku berusaha untuk tak tahu apa apa akan khianat bahkan penghinaan yang dengan riang gembira dilakukan oleh orang kupercayai. Saat bertemu atau bercakap. Aku kadang terdiam. Betapa deritanya. Berpura-pura. Kebohongannya membuatku ingin tertawa.

Ya. Mimpi itu. Harus disebut sebagai mimpi. Tiba tak terduga. Entah untuk tujuan apa. Kadang tiba di tempat- tempat yang menurutku tak ada urusanku dengan apapun itu. Tapi itu membuatku menandai polanya. Mengapa dibawa dan tiba pada keasingan-keasingan. Mengapa tak tiba hanya pada yang kurasakan, yang berikat emosional. Apa alasannya. Atau usah dipikirkan. Cukup selesaikan. Bukan hentikan. 

'Aku melihat diriku sedang menulis. Ada satu mug kopi juga rokok dijemari. Aku melihat diriku. Bahkan saat aku dengan akal sehat menuliskan mimpi itu'

(Draft 2024 : By Cok. SAWITRI)