IDE TIMANG-TIMANG ITU : BUKAN DARI SAYA!

 

Ini penting mengklarifikasi. Juga buat pengetahuan bagi adik adik di Bhumi Bajra. Menghormati dan mengakui ide siapa dalam proses kreatif bahkan saat kolaborasi. Menimang nimang, ngempu tapel rangda itu sebenarnya ide yang mengetarkan. Menyerikan bahkan. Apalagi yang ada dalam koridor percaya akan mistik plus magic. Bukan nyaluk. Tetapi ngempuang. Iyung-iyungang. Itu ide dari Dayu Arya Dayu Ani sendiri. Tugasnya saya adalah ngabetang. Memahami bagaimana memecah stigma soal menarikan rangda dalam seni pertunjukan di Bali. Belum lagi stigma akan berbagai tulisan dan karya saya yang memang bermuara pada riset calon arang. Wajah rangda itu begitu lekat. Jika hanya semata melihat tarian itu sebagai alur gerak berkisah. Formalisasi dalam ekspresi dalam seni pertunjukan Bali kini lebih percaya pada atribut, busana bahkan akrobatik jika hendak memunculkan kejutan dalam seni pertunjukan. Berkali saya menonton, bahkan tangkil saat ada upacara napak pertiwi misalnya. Saya sudah tidak bisa membedakan lagi mana ida sesuhunan sane tedun, apa itu penghayatan terhadap satu peran (?) Semua membangun intimidasi pemanggungan. Bahkan saat nedunang sesuhunan. Sejak lama saya memang mengajak dayu ani merenung : rangda itu mestinya selembut legong, ayu dan dikembalikan kepada jnana wisesanya : yang paling kuat itu adalah kelembutan, yang paling mengharukan dan membuat hati terenyuh adalah urusan ibu dan anak. Tapi ide menimang nimang itu serius membuat saya tersenyum. Saya sudah berjanji dalam hati. Akan mentaati siapapun yang mensutradarai saya. Maka tugas saya walau kadang daya rekam gerak (pileh) saya itu buruk sekali, harus dipandu oleh Mang Yun, Dayu Gek Han. Itupun dengan cara berbisik, kendala lain untuk memberi arahan itu kadang harus dihadapi dengan gelak tawa. Tapi ide menimang nimang rangda itu : serius menyerikan hati. Itu tidak mudah. Lebih mudah menarikan rangda. Dibandingkan menimangnya. serius. Jadi ini saya maksudkan bahwa Dayu Ani itu mumpuni sekali dalam menetapkan apa yang akan dia tetapkan sebagai elemen dalam karyanya. Jadi ini pesan untuk adik adik di bhumi bajra : selalu hati menyimpan kekaguman agar taksu itu tiba dalam semua hayat hidupmu.

NGEBAT, WALTZ DAN AYAHKU

 


Jika saya suka memasak, itu jelas pengaruh almarhum ayah saya. Saat penyajaan (dua hari menjelang galungan dan sehari sebelum penampahan) mau tak mau ayah akan meminta saya menyiapkan 'base-base' tapi itu rasanya semua keluarga di Bali mengalihkan keterampilan memasak dan juga keterampilan lain untuk kelengkapan upacara : terjadi alamiah. Mau tak mau harus bisa. Kalau mahir itu bonus. Atau memang menyukai memasak atau mejejaitan dll. Entahlah. Kemarin melintas ingatan saya pada almarhum : aneh, ternyata ayah pernah mengajari saya berdansa : waltz. Entah untuk acara apa itu. Saya ingat : di ruang tamu yang luang itu : ayah mengajar ketukan 3/4 lalu berputar arah. Kalau tak salah ada tiga tahap langkah. Aiih. Saat itu saya tak bertanya : mengapa ayah bisa dansa? Sebab kemampuan ayah saya lumayan. Saya masih ingat : ada bedanya kalau di ruangan tutup atau di luar ruangan. Aneh. Saya merasa sesuatu menggetarkan hati. Kenapa ya saya ingat justru saat itu: saat di ruang tamu: ayah mengajarkan saya dansa waltz!. (Jagi rawuh ring galungan kantos kuningan dewata dewati titiange) - penyajaan 2024

CATATAN THE TIMPALs : MEREKA DENGAN SUARA KANAK BERTANYA : APA SIH CERITANYA INI (?)




Di bawah pohon sawo di jabaan Merajan Ageng Griya Budakeling : kami berempat sedang menunggu proses adegan Panji Masutasoma bagian openingnya. Dayu Gek Anis, pemeran Galuh    bersama tiga condong (kinar, gung gek, dayu geg) saat itu kembali dari arah utara, arah pintu dari purian merajan ke jabaan : dan Gek Anis mendapati saya tengah menimang Rangda (btari widyutkarali): dengan suara kanaknya menyapa saya : sudah dikasi minum susu (?) Ketiga anak lainnya melepas senyum nakal kanak mereka kepada saya. Saya pun memperagakan dengan sungguh menimang 'btari'. Ketiganya mendekati melihat ke arah rangda, seakan itu adik kecil, "cantik cucunya loh!" Ini dicelotehkan anak anak itu dengan maksud menggoda saya. Yang ga mau dipanggil nenek. Harus memanggil saya kakak atau sista! ๐Ÿ˜„ jadi Kinar lalu bertanya: apa sih ceritanya ini. Yang lainnya bertanya apa ceritanya? Kenapa ada panji? Kenapa ada masutasoma(?) Saya dengan serius juga akhir jatuh kocak. Mulai menceritakan : itu cerita tentang the prince (pake bahasa inggrislah): yang galau lalu meninggalkan istana. Dia itu kabur sebenarnya sebab semuanya  ga mau dong dia pergi gabut gitu. Bisa bahaya kan. Tapi the prince tetap pergi. Nah si panji itu karena dahulu kala : di griya budakeling ini ada gelungan panji yang misterius: yang bisa muncul dan hilang tiba tiba. Nah, adegan awalnya itu tuh bu guru dayu ani mau berkisahkan itu : oh....lalu terjeda. Sebab persiapan akan dimulai. Kembali anak anak itu menggoda saya : ga nangis cucunya (?) Hahahhahaah...dan ternyata diam diam kami diamati oleh Ayu Suma Lestari ibunya gung gek. Lalu saya tertawa berucap : ga boleh loh nyandain rangda. Anak anak itu mengangguk dengan senyum seolah menatap serius ke arah depan. Saya bersukur : pertanyaan jujur dari mereka. Sebab jarang yang mau bertanya soal adegan opening itu. Seakan akan semua mengerti. Lewat anak anak itu saya jadi merasa betapa ketulusan anak anak itu justru menjadi jembatan komunikasi. Tentu dengan komentar : duh gitu loh ajarannya mbok cok...maklum saya memang mengajak anak anak itu agar mengakrabi hal yang selalu ini secara halu ditakuti. Kapan takut, kapan berani, kapan bertanya bahkan mempertanyakan..dst. welcome di pasraman bhumi bajra๐Ÿ˜„

SARASWATI ITU, OH IBUKU!...

Para keponakan saya, tentu tak akan alami apa yang saya alami saat kecil. Ingatan hari raya Saraswati. Bila Nyaraswaten tiba. Sehari sebelumnya, Ibu saya akan mendapat kiriman Banten Nyaraswasti dari kakak sepupunya; seorang pendeta. Begitu pula dari tetangga, juga seorang pendeta; mengirimkan banten nyaraswati. Pada masa kanak saya, belum ada jual-beli banten di pasar. Kalau mengupah membuat canang dan jejahitan; saat itu sudah ada. Ibu saya bukanlah tipe religius, kakak sepupunya yang pendeta tahu akan hal itu, begitu pula ipar jauhnya; semua paham akan hal itu. Maka dari balik tembok, suara Ninik Sari, seorang tapini, yang selalu meladeni pendeta tetangga rumah, mengingatkan: bantennya dihaturkan dari pagi, nanti sore baru dilayub; jajannya nanti disuapkan ke putra putrimu! Sejak pagi kalau bisa anak-anak jangan makan alias puasa; mebrata. Disamping banten nyaraswaten juga ada beberapa payuk yang dikirim: kumkuman, untuk banyu pinaruh. Sehari setelah saraswasti adalah banyu pinaruh. Kembali suara itu akan terdengar. Bangunkan anak-anak sebelum matahari terbit, cari pancuran terdekat, mandikan di sana atau pergi ke tepi laut. Mebanyu pinaruh. Jadi menjelang nyaraswanten; dua hal itu yang saya dengar dari balik tembok. Atau dari utusan pendeta; seorang pelayan perempuan dengan senyum yang mahal, mungkin jemu harus menyampaikan pesan yang sama setiap tahun. Dan itu disebabkan ibu saya dengan santai menyahut: inggih.

Lalu yang saya ingat, betapa gemetarnya menunggu malam tiba. Karena sudah diikuti bayangan; besok seharian tak boleh membaca, tak boleh makan, saat senja barulah makan jajan. Jaje Saraswati yang warnanya putih, dasarnya budar diatasnya ada lambang cecak! Juga samar aksara: Ong Kara.

Dari semua upacara untuk diri, mungkin Nyaraswaten yang paling ibu taati. Saat itu sekolah-sekolah belum semarak seperti sekarang merayakan. Justru di rumah-rumah terasa kesibukan menghadapi hari nyaraswati; walau sesungguhnya banten saraswati itu sederhana. Bandingkan dengan banten sugihan atau tumpek ngatag; ada bubur dan ada beberapa jenis jajanan; yang enak sekali dimakan. Banten Saraswati hanya akan menyisakan; jaje saraswati yang kering, tanpa rasa, kadang terasa pahit di lidah. Namun harus dimakan dengan cara ditelan, itu saat sore hari tiba. Sebagai tanda buka puasa. Hal lain, betapa mengantuknya saat pagi dibangunkan, harus segera mandi dan suara ninik sari akan terdengar: pendeta di seberang rumah sudah selesai Nyurwa Sewana, tanda boleh nunas tirta: Majaya-jaya.

Ingatan itu, tradisi nyaraswanten, yang paling berkesan adalah saat menanti Ibu menurunkan banten, di sore hari, ngelayub jaje saraswati: Lihat cecaknya...saya, adik dan kakak saya akan menelan rasa hambar itu; ditelan begitu saja. Dan mengapa cecak? Setiap kali bicara dan jika berbohong, cecak itu tak akan berbunyi. Jika berbunyi setiap kali kita menyampaikan sesuatu: ibu mengingatkan untuk mengatakan: Tu suci.....(sampai kini saya tidak tahu apa kalimat utuhnya): hanya meniru: Tu suci, artinya benar dan jujur apa yang saya ucapkan. Kejujuran berucap itu terkait dengan wacika. Betapa melekat dalam kepala dan hati saya, bila berbohong: cecak itu akan cuek. Karena itu selalu berusaha tidak bohong, tidak bicara kasar, walau sesungguhnya, saya temperemental.

Ketika saya mulai merantau, para keponakan pun mulai bermunculan. Suatu hari, salah satu keponakan yang sekolah di kota denpasar; pulang kampung dengan membawa satu flyer: berisi mantram saraswati. Itu tahun-tahun mulainya demam mengutip mantra india. Sekolah-sekolah dibali mulai ‘religius” dan kantor-kantor pemerintah dan swasta mulai merayakan ‘odalan’nya sendiri. Dengan bangga keponakan saya berkata: ini loh mantram saraswati. Dan kemudian beberapa bulan kemudian bahkan ada plakat dari kayu; ditulisi mantram itu, bak merchandise dapat dibeli di beberapa toko dan warung, juga pedagang kaki lima di pasar-pasar. Lalu betapa kemudian penjelasan mengenai saraswati itu: patung dengan empat tangan; bla....bla...bla...bla...tapi seingat saya, tak ada satu pun sekolah menawarkan: brata nyaraswasten begitu pula lembaga agama Hindu di Bali.

Ibu saya, masa kanak itu, memberi saya satu pemahaman kini: budaya itu adalah tradisi ingatan, yang diasuhkan kepada saya. Itu kemudian menjadi titik pijak untuk terjadi evolusi spiritual dalam diri saya. Simbol cecak itu menjadi makna bertingkat-tingkat dalam pertumbuhan ingatan saya. Itu yang membuat saya tersenyum bila hari saraswati tiba. Dan ketika kini, betapa semaraknya kawan, sahabat, keluarga; menjadi penuh ritual dan spiritual. Saya justru mencari-cari jaje saraswati dalam banten saraswati itu. Dan saya teringat ketika keluarga saya mewintenkan saya, beda dengan anak-anak sekarang; masuk sekolah langsung diwinten, sedang saya karena dicemaskan senang membaca yang aneh-aneh diwintenkan. Ini hal yang berkaitan dengan Sang Hyang Aksara. Itu sesungguhnya jnana agung, salah satu tujuan tertinggi dari ajaran siwa sidhanta; juga dalam bhuana kosa disebutkan; hanya pengetahuanlah yang dapat membersihkan dirimu! Maksudnya sang hyang jnana; itulah yang jadi penyebab adanya pijakan awal; yakni mengajarkan akan dewi saraswati, pijakan awal ketika engkau masih kanak untuk kelak memasuki evolusi spiritual dalam diri.

Tahun-tahun berlalu, ketika memasuki tahun 90-an sampai 2000-an, demam spiritual itu menjangkiti seluruh dunia, semua agama, dengan berbagai keciriannya. Termasuk lingkungan saya tumbuh dan mulai menua. Para keponakan mulai dewasa dan sesekali akan bertanya: karena saya kritis terhadap mantram saraswati dalam plakat itu. Juga kepada patung dewi itu! Tapi tak ada yang bertanya, apa lalu yang harus dilakukan sesungguhnya bila saraswati tiba, selain sembahyang bersama di sekolah? Rasanya kok seperti odalan biasa-biasa saja?--- yang serius bertanya justru teman-teman dari kalangan intelek modern. Atau yang cemas, kenapa kita makin lama makin rigid yah? Tetapi yang nendang ke hati kok makin menipis? Lalu seperti biasa, karena yang diinginkan itu agar cepat dan terasa: instan, mereka mulai mengeluhkan, kenapa harus diwinten? Kenapa harus ini itu hanya untuk mendekat ke kaki Sang Hyang Aksara. Apalagi teman-teman dari perantauan, identitas menjadi orang Bali salah satunya adalah mebanten; saraswati jatuhnya selalu hari Sabtu, itu salah satu alasan terkuat untuk dapat berkumpul sesama orang bali. Demam menjadi pemangku, mencari cara praktis membuat upacara; semarak sekali perkembangan dalam berbagai potret. Dan tetap saya masih terkenang; jaje saraswati itu. Lalu para keponakan hanya melihat: saya justru paling enggan terlihat khusuk sembahyang saat saraswati tiba. Tumpukan buku saya, dan semua yang saya memiliki secara fisik; seharusnya saya membuat odalan besar. Nyatanya, saya hanya menghaturkan dua buah banten saraswati; satu kepada Sang Hyang Taksu, kedua pada Sang Hyang Jnana. Berdoanya dalam hati. Contoh yang tidak baik bagi semua keponakan, yang tentu akan memprotes bila kesempatan tiba. Kecuali saat saya ke rumah kakek, saya sesekali menengok sisa-sisa lontar yang ada di beberapa bale; hanya menengok. Memastikan apakah sudah remuk ataukah belum. Dan hingga kemudian di rumah kakek; tradisi ngodalin aksara kembali dilakukan dengan meriah. Tiba-tiba saya tercenung saat akan mencakupkan tangan. Sepulangnya, itu terjadi tiga atau lima tahun lalu, saya mencari catatan itu. Bukan plakat itu. Betapa sesungguhnya banyak ragam pemujaan kepada Sang Hyang Aksara, yang saya suka adalah dari tradisi tua; yang populer di kalangan pemangku yang ketat sifatnya, itu pun tidak semua pemangku serius utuh menyanyikannya saat pemujaan kepada Sang Hyang Aksara, saya buka catatan:

Mantra ring Sanghyang Saraswati

Om Saraswati namostu bahyam/ Parade kama rupinii/ Sidi rastu karaksami

Siddhi bawantu mesaddham

Pranamya sarwwa dewasca" Paramatma namawanca" Rupa siddhi karoksabet

Saraswati nama myaham

Padma patrewima laksmi" Padma kesari warnni" Nityam padma laye dewi

Tubyam namah saraswati

Kaywam wyakaranam" Weddha sastra puranakam" Kalpa siddhi tantrani

Tatprasadat karosabet

Dalam pemujaan yang serius kepada Sang Hyang Aksara, ini penjelasan nya kepada saya, oleh seorang pendeta yang menjadikan Sang Hyang Aji Saraswati sebagai salah satu pegangannya dalam memimpin kawikuannya. Menjelaskan kepada saya mengenai : Panca Saraswati Astawa. Itu disampaikan ketika saya mulai kuliah dan saya itu senang belajar apa saja, termasuk membaca kitab-kitab suci berbagai agama. Ibu saya walau cuek, selalu mencemaskan; jika anaknya nanti berganti agama dan kamu kelak menjadi tamu pada hari kematianmu. Panca Saraswati ini masih saya temukan catatannya dengan mata berkaca-kaca, tidak juga bisa saya hapal-hapal, dan tentu saja bagi yang belum diwinten: ini kata pendeta yang sudah lebar itu: ucapkan ini: Ong Byaksayam Ludra Maheswarasyayam namah ya namah swaha//0//---beberapa kawan karena begitu taatnya, kadang menyampaikan kepada saya; kan dia belum diwinten agung, kok boleh membaca yang ‘maha suci?” padahal, siwa sidhhanta itu jelas tak pernah membatasi, siapapun yang hendak membasuh dirinya dengan pengetahuan tinggi, caranya ya itu; mencari pijakan awal;

Om sweta mara narandiwi/Sweta puspa prihandiwi

Sri sri tameng sasraswati//0//

Om rakta mara narandiwi/ Rakta malya panam/Rakta puspa prihandiwi/Sri sri tameng saraswati/Om pita mara narandiniwi/Pita mara malyapanam/Pita puspa prihandiwi/Sri sri tameng sasraswati//0//

Om pita mara narandiwi/Pita mara nalya panam/Pita puspa prihandiwi/Sri sri tameng saraswati//0//

Om kresna mara narandiwi/Kresna mara malya panam/Kresna puspa prihandiwi/Sri sri tameng sasrswati//0//

Om wiswa mara narandiwi/Wiswa mara malyapanam/Wiswa puspa prihandiwi/Sri sri tameng saraswati//0//

Dan selalu persoalan ini bagi yang diperantauan akan ditanyakan. Soal air suci, sesungguhnya kalau titik pijaknya sesantai ibu saya, akan mengenal hal ini: Panuhur tirta Ida Sanghyang Saraswati

PukulunSanghyang Siwa raditya/Sanghyang sasangka/Sanghyang :Lintang Tranggana/Manusa nira analuk tirttha/Mahning Sanghyang pustaka jati/Om Sarayu Saraswati Narmmaddha.....dstnya.

Saya tersenyum, entah mengapa hari ini, ibu saya dan masa kanak itu, justru menghadirkan dewi pengetahuan itu bukan sebagai patung cantik; tetapi inilah hari mengenai pengetahuan tertinggi beserta penjelasannya, gunakanlah bagi orang bijakasana, pengawi, yang ingin belajar segalanya, mengetahui aksara di bhuwana alit, dan bhuwana agung, mengetahui dalam wariga, usada, tutur, agama dan seluruh intisari dan seterusnya itu, dengan mempercayai hidup itu tak pernah keliru, dan selalu dunia ada surga yang dapat engkau patut ciptakan dibumi asalkan engkau tahu mengenai keagungan pengetahuan. Maka semuanya adalah bibit kebaikan dan bernafaslah dengan kedamaian. Usah mengingatkan orang lain, semua memiliki kadarnya, cukup yakinkan hatimu; udara hari ini lembut dan menenangkan hati. Santai ya bu? Ibu saya tersenyum: nak mebrata, pasti silib. Amun masolah wau tinggar!

BAGIAN KETIGA, KAJIAN CHANDRA BHERAWA



CHANDRA BHERAWA : SEBUAH KARYA SASTRA PEMIKIRAN, KECERDASAN SUKMA MULIA HINDU BALI, AWALAN KABHINEKAAN SIWA BUDHA. (BAG.3- seri belajar kajian sastra klasik)

Pada bagian ketiga tulisan ini, makin menguatkan pentingnya ketika memahami teks Chandra Bherawa sebagai rangkaian wacana. Juga tidak terburu-buru. Di Bali dan Jawa memang ada dikenal yang disebut dengan Ajian Chandra Bherawa, kesaktian dari Salya dalam perang Mahabrata. Sehingga teks Chandra Bherawa ini mengalami dua kali kesalahpahaman. Pertama, dikira inilah kitab sakti yang dimiliki oleh Salya dengan ajian Chandra Bherawanya, kedua, ini juga dikira teks tutur kawisesan dari pemargin Budha. Banyak pencari kebatinan mengejar teks ini, bahkan membangun rumors akan tingkat kesulitannya untuk ‘hanya’ mendapatkan teks ini! Dalam dua tulisan sebelumnya, telah dijelaskan bahwa ini adalah bagian dari Kuntiyajna Nilachandra, yang dengan alasan yang "aje wera’ memang dipisahkan dan dibaca dengan terbatas disebabkan isinya adalah dalam bentuk wacana, yang memerlukan kedalaman penafsiran. Namun kisah yang dituturkannya sesungguhnya ringkas, jelas dan indah.

Walau tuturan kisahnya nampak runut, pemaknaannya jelas, sebagai bentuk gaya penulisan ide, wacana memang tak dapat diartikan melalui kalimat per kalimat. Setelah Arjuna dikalahkan. Maka Bhima yang datang dengan strategi menyerang yang berbeda. Sebab dari laporan Nakula, Sahadewa dan Arjuna, musuh kebal akan senjata tajam. Maka Bhima mencabut sebatang pohon bodi yang tinggi dan batangnya sebesar pelukan lelaki dewasa. Dengan pohon bodi itu Bhima menyerang, hingga pohon bodi itu remuk menjadi serpihan, Chandra Bherawa tak terluka, tak bergeser dari tempatnya. Bhima karena panik, meraih tubuh Chandra Bherawa, menekuk dan membantingnya lalu membawa ke sebuah sumur paling dalam. Melemparnya sekuat tenaga. Namun Tubuh Chandra Bherawa mengambang. Tetap tersenyum. Bhima kehabisan akal, mencabut sebatang pohon lontar. Dengan batang pohon lontar itu, ditumbukkannya ke dalam sumur, hingga pohon lontar itu tercabik sendiri. Bhima menggeram, mencari batu besar, menggotongnya dan melemparkannya ke dalam sumur. Batu itu pecah seribu. Chandra Bherawa dengan gerak sabar ke luar dari sumur, berdiri tegak kemudian, menatap Bhima, " Apa lagi maumu, Bhima? Tiadalah tahu engkau akan hakekat hidupku,"

Bhima tertegun, lalu menjawab," Kalah aku. Kresnalah yang membuat aku marah padamu. Aku akan sampaikan kepadanya,"

Kedatangan Kresna menemui Chandra Bherawa menjadi bentuk dialog yang mengesankan, Kresna kini diposisikan sebagai yang tak paham akan ajaran kasunyatan. Bagian yang mengundang senyum. Bukankah Kresna raja debat? Serba tahu akan berbagai hal. Dia awatara. Mengapa dalam kisah ini dihadirkan menjadi si ‘awam’. Menjadi wakil pertanyaan umum, apa sesungguhnya agama yang dianut oleh Chandra Bherawa?

"Indah ta kita Sri Candrabherawa, kapuhan swacitta mami den ta, apa swajatine pwa ajin ta, don ta tan harep magawe Sanggar Kabuyutan, tan ahyun manembah Sad Kahyangan, amangan tan pabanten, ndah warahakena ri kami,"

Chandra Bherawa dengan suara tenang menjawab, tidak menyebut agamanya, tetapi ajaran yang dijadikannya sebagai sikapnya sekarang sebagai sumber isyarat. Chandra Bherawa menjelaskan nama ilmunya Bajradhara, memuja Sang Hyang Adi Buddha. Yang dipujanya berada si sela keningnya, itu sama dengan puncak Sucikabajra. Dengan gamblang ia menjelaskan kepada Kresna. Alasan dirinya, mengapa tidak lagi di negerinya, kepada semua rakyatnya diperlukan rumah suci, segala macam kecirian beragama; ritus, ritual, liturgi, bagi Chandra Bherawa, "semua itu ada dalam diri. Persembahan terindah adalah dirimu! Jika hendak ingin membuat upacara besar, dirimulah upacara besar itu!"

Kresna pada dasarnya tidak hendak sekedar berdebat, namun menguji dengan pertanyaan untuk menemukan alasan membunuh Chandra Bherawa,"Dimanakah engkau menyatukan ilmumu itu? Katakan Padaku?"

Jawaban Chandra Bherawa ini memerlukan pemahaman perbandingan referensi tatwa budha yang ada di Bali atau nusantara umumnya. Agar terang benderang pemahaman akan teks ini," ketahui raja Kresna. Penyatuan ilmuku itu dalam Rasa Nirbhana!"—sebagai puncaknya adalah Sila Gamana. Dalam diri tidak ada yang lebih mulia daripada atma. Pertanyaan Chandra Bherawa,"yan muwah gawenan Sanggar, ring sanggar tunggunen tang atma, atma salah para ngarannya yan mangkanana, tan hurung amanggih lara meh katekan pati,"

Kresna yang biasanya cerdas dan cerdik, tampil dalam kisah ini dengan kebingungan yang tidak ditutupi. Ia tergelincir dengan bertanya engkau tahu dengan ilmu Sri Mahamanggala? Kresna tidak ingin menyelesaikan dengan dialog, sebaliknya melanjutkan perbedaan itu dalam peperangan," kali ini aku bertaruh...tebak ajianku ini!"

Dalam teks ini, soal isi dari ajaran Wisnu Murti dijabarkan oleh Chandra Bherawa," Aku tahu wahai Kresna tentang kesaktianmu itu."

Wisnu Murti yang mencengangkan dalam berbagai kisah Itiasa, kini dikuliti oleh Chandra Bherawa,"Adrsya namanya berasalkan angin. Anjalatundha namanya beralaskan mega. Amadapa namanya beralaskan tunas. Angganacara namanya beralaskan angin. Selain itu, anima, laghima, mahima, prapti, Prakamya, Wasitwa, Masiyitwa, Yatrakamawasayitwa,Yatrakamawasayitwa, bagimu itu kekuatan super natural untuk berjalan kemana engkau sukai. itu juga asta Iswarya. Aku memberi nama apa yang engkau lakukan ajian Sarwa Krura. Aku tahu hakekatnya itu semua, segala wujudmu. Silahkan selesaikan semadhimu!"

Jelaslah apa yang hendak disampaikan oleh teks ini adalah bagaimana memaknai perbedaan tattwa bahkan yang terjadi dalam satu ajaran yang asal muasalnya sama. Kresna menjadi figur suci yang jelas ditempatkan sebagai awatara, namun tidak semua menempatkannya sebagai dewa pujaan. Lalu ilmu tertinggi dari Kresna bernama Wisnu Murti dengan mendalam, dikenali dan ditandai oleh Chandra Bherawa, bahwa dari sikap itu menjelaskan bahwa dalam menuju mencapai ajaran Bajradhara, seharusnya memahami ajaran-ajaran lain dengan kemahiran yang tak sekedar teknis namun sampai pada tingkat ahli. Jika berani menyatakan diri, sebagai penganut ‘agama/keyakinan’ tertentu dan merasa lebih patut diikuti, maka seharusnya wajib mengetahui ilmu-ilmu agama yang lainnya. Jadi, bukan kebutaan terhadap ketidaktahuan, seolah-olah tahu akan ajaran agama, seolah-olah kenal Hyang Widhi, karena pandai mengucapkan ayat suci, taat sembahyang, dan berbagai kewajiban lahiriah, yang kasat mata dapat dinilai oleh mata dunia digunakan ukuran sebagai keunggulan kesucian. Apalagi kemudian tersesat memahami makna surga dan neraka. Sesungguhnya, itu awal menjauhi jalan suci.

Kresna karena tersentak oleh ajakannya sendiri, mengajak bertaruh, maka terpaksa menagih kepada Chandra Bherawa untuk mengeluarkan kesaktiannya. Kresna sungguh ingin mendapatkan menunda kekalahannya,"Keluarkanlah kesaktianmu, aku akan menebakmu!"

Sejak lama, di kalangan pecinta sastra klasik di Bali, rumor yang dikembangkan akan isi teks Chandra Bherawa ini adalah soal ajaran kesaktian. Sehingga ditempatkan sebagai tutur kadiatmikan. Bahkan pernah saya mendengar bahwa ada yang menjadikannya penuntun dalam melakukan tapa brata. Dalam teks ini tidak ditemukan; penuntun, arahan apapun untuk melakukan hal-hal yang biasanya ada dalam tutur kawisesan. Yang ada adalah perdebatan menebak isi dari kesaktian-kesaktian yang dikagumi dalam dunia spiritual timur itu.

Chandra Bherawa sebelum mendemonstrasikan pencapaian ilmunya, meminta Bhima, Arjuna dan Nakula serta Sahadewa agar sudi datang untuk melihat, setelah semua datang barulah ia memulai,".....Mangatonanan rupang ku mangke, sangke harep, sangke pungkur, sangke iringan, yan hana cedangga, warahakena ri kami, irikang aji Brahmana Arddhanarewari ngarannya, delengan caksun ta den ta abener,"

Dimulai mengenalkan nama dari kesaktiannya, Aji Brahmana Arddhanarewari, syarat yang melihat adalah lihat dengan jelas dan jernihkan penglihatan. Berbeda dengan tampilan Wisnu Murti yang semuanya serba dahsyat, maka, Chandra Bherawa setelah memusatkan batinnya mengubah dirinya menjadi Manik sphatika, besarnya hanya sebesar lengan. Setelah ditatap dengan benar, bila mengerjapkan mata maka berubah menjadi Manik Sutrawat, besarnya sekepal, bersinar ke segala penjuru. Bila mata yang memandang berkerjap akan berubah wujud menjadi Manindra, besarnya seruas jari, nampak bening berkilauan, kembali jika mata berkerjap akan berubah sebagai Maninten seperti merica besarnya, cahayanya seperti sinar bulan. Bila mata berkerjap maka akan berubah sebesar biji jawa yang di bagi tujuh. Hilang tanpa bekas.

Kresna termangu, begitu pula semua yang menyaksikan. Memperhatikan teks ini, bagaimana menjelaskan akan adanya perbedaan kebijakan dalam melaksanakan agama dalam kehidupan; yang satu Karma Sanyasa, yang lain Yoga Sanyasa. Perbedaan ini melahirkan tata krama kehidupan yang berbeda dalam keseharian penganutnya. Namun akibat keyakinan akan tanggungjawab menjaga kehidupan, pihak Hastina, dalam hal ini Kresna menginginkan semua yang masih awam dalam beragama sebaiknya melaksanakan agama secara Karma Sanyasa, agama dilakukan dengan ritual, ritus, liturgi; berbagai kecirian agama sampai rumah suci, hari besar, hari kecil, jam sembahyang, dll. Agama distrukturkan pelaksanaannya. Menjadi kewajiban yang bertujuan menjaga hubungan antar manusia, untuk menjadi dasar saling menghormati satu sama lain dan menjauhi kesalahan dan dosa. Perbedaan cara ini sejak lampau menjadi alat kekuasaan untuk menundukan kebutuhan manusia yang berbeda-beda. Penyerbuan dengan kekerasan oleh Nakula dan Sadewa, lalu Arjuna dan Bhima, memberi gambaran, betapa banyak banyak riwayat bumi perang akibat salah satu keyakinan yang diyakini sekelompok orang sebagai jalan terbaik mencapai kesadaran cahaya tertinggi, dengan sebutan apapun, mewariskan kekerasan. Dalam tahap selanjutnya, wacana yang disampaikan oleh teks ini adalah pertaruhan dengan pencapaian keilmuan dalam konteks spiritual agung.

Kresna menyatakan dirinya kalah. Dengan murung mengatakan, akan menemui Yudhistira. Chandra Bherawa tersenyum, memahami hasrat kekuasaan, kehendak ingin menguasai melalui ajaran itu sungguh membuat Kresna lalai akan tujuan keawataraannya. Maka ia berpesan,"Aku hendak pulang ke alam Abhirati, sampaikan kepada Yudhistira, jika aku kalah olehnya, putriku menjadi taruhannya."

(bagian.3. Kajian Chandra Bherawa, belajar mengkaji sastra klasik, maafkan jika banyak kekurangan!)