NGEBAT, WALTZ DAN AYAHKU

Jika saya suka memasak, itu jelas pengaruh almarhum ayah saya. Saat penyajaan (dua hari menjelang galungan dan sehari sebelum penampahan) mau tak mau ayah akan meminta saya menyiapkan 'base-base' tapi itu rasanya semua keluarga di Bali mengalihkan keterampilan memasak dan juga keterampilan lain untuk kelengkapan upacara : terjadi alamiah. Mau tak mau harus bisa. Kalau mahir itu bonus. Atau memang menyukai memasak atau mejejaitan dll. Entahlah. Kemarin melintas ingatan saya pada almarhum : aneh, ternyata ayah pernah mengajari saya berdansa : waltz. Entah untuk acara apa itu. Saya ingat : di ruang tamu yang luang itu : ayah mengajar ketukan 3/4 lalu berputar arah. Kalau tak salah ada tiga tahap langkah. Aiih. Saat itu saya tak bertanya : mengapa ayah bisa dansa? Sebab kemampuan ayah saya lumayan. Saya masih ingat : ada bedanya kalau di ruangan tutup atau di luar ruangan. Aneh. Saya merasa sesuatu menggetarkan hati. Kenapa ya saya ingat justru saat itu: saat di ruang tamu: ayah mengajarkan saya dansa waltz!. (Jagi rawuh ring galungan kantos kuningan dewata dewati titiange) - penyajaan 2024

The King : " Saya belajar akan The New Dramaturgy kepadanya"

 

Pengetahuan akan dramaturgy itu relatif 'tak populer' walau beberapa keilmuan sosial sangat bertimbang kepada pencapaian pemahaman akan kedramaturgian. Sebagai teori jika dikaitkan dengan teater : maka selalu henti pada sebuah risalah dari era Aristoteles ( buku Poetics) jadi acuan kapan dimana pun kamu terbuntukan saat mencari apa itu dramaturgy. Lalu abad 18- bermunculan dalam tradisi teater eropa akan dramaturgy ini. Nama nama agung itu pasti disebutkan : G.E Lesing : ini kutipan paling populer akan seni peran dari Lesing : seorang penulis lakon ternama dari Jerman pada masa itu, tulisan-tulisannya tentang seni panggung (stagecraft), sastra dan peran teater dalam pembangunan budaya, sangat berpengaruh dalam membentuk bidang dan praktik dramaturgi. Kaitan dramaturgi dengan bidang sastra tetap tersisa; sampai sekarang istilah “dramaturg” secara umum digunakan untuk merujuk pada penasehat sastra yang bekerja di sebuah gedung/institusi teater, yang berpartisipasi dalam proses latihan, dan mengembangkan dan/atau memastikan bahwa “integritas” atau ruh dari naskah lakon tidak hilang di ruang latihan dan penciptaan yang bergerak cepat". Kemudian Patrice Pavis, dll. Tapi terbentang jelas gaya dramaturgy eropa itu. Berpengaruh karena dituliskan. Dunia akademisi selalu minder jika tak mengutip ajaran ajaran dari mereka. Tetapi wilayah Asia walau minimal sekali jumlah orang yang menekuni dramaturgy ini. Telah sejak lampau menginginkan 'dramaturgy yang berbeda dengan eropa' sejauh mungkin mengikis habis cara analisa struktur estetika terhadap pemanggungan oleh seorang dramaturg. Sampai kini belum lahir lahir juga sebuah buku agar dapat menandingi pengaruh buku buku seni pemanggungan ini khususnya untuk the new dramaturgy.


Di bali juga di Indonesia: menyukai ilmu ilmu ini sepertinya akan tersisihkan. Seolah dunia proses kreatif estetika telah usai pada kampus seni. Pada kepangkatan dan jabatan birokrasi seni. Sukurnya sejak 2005 dengan hati hati saya berguru kepada proses pengasuhan perguruan Maha bajra sandhi. Dan mungkin alamiah saya mengikuti tahap demi tahap : ledakan pemikiran Granoka Gong. Disamping temuan pasca filsafatnya yang bermuara pada Kakawin Sutasoma. Hal yang mencengangkan dia itu sejatinya menyusun The New Dramaturgy itu. Jika lebih luas pengetahuan dan wawasan mengenai segala syarat kedramaturgian: pasti tahu, walau dia tak tertarik untuk menuliskannya. Tetapi jika menyandingkannya dengan kesyaratkan keilmuan dramaturgy se eropa dari era klasik sampai dramaturgy network. Maka sepatutnya Dayu Arya Dayu Ani tahu akan hal ini. Ayahnyalah yang membimbingnya memasuki the new dramaturgy itu: analisa struktur estetika dan berjaringan. Sekalipun dibandingkan dalam bedah fenomena sosial dan estetika. Jika gambuh panji masutasoma ini dibedah hanya dengan teori populer dramaturgy yang lazim digunakan dunia akademisi tanpa pernah up date itu. Betapa kesepiannya dia😊. Maka saya memberanikan diri memenuhi kode etik sebagai sisia dalam Maha Bajra Sandhi. Akan menuliskan dengan Pisau The New Dramaturgy Granoka Gong. (Suksma). colek Sudarta Gusti Luciana Ferrero Suliati Boentaran Aryani Willems Analisa Kerenz Kadek Sonia Piscayanti Arint Az Pranita Dewi Dewi Noviami Ayu Weda Wayan Westa Made Gunarta Bob Teguh Jenny March Dewa Gde Purwita Sukahet Dewa Ayu Eka Putri

MA-SUTASOMA : DIA YANG BERANI KELUAR DARI 'COMFORT ZONE'

Dia muda, nyaman dan mapan. Masa depannya telah jelas : dia bakal jadi penguasa. Sutasoma memilih pergi dari semua kenyamanan itu. Masih muda, kategori remaja, belum menikah. Tapi entah kenapa dia galau dalam kenyamanan itu. Entah mengapa dia merasa tak tumbuh juga tak kembang. Tentu kegalauannya itu membuat semua orang jadi ikutan galau. Sekaligus tak berdaya. Keputusannya itu : pergi menjauh dari kenyamanan. Berpaling dari kemegahan kekuasaan. Gila itu! Keputusan absurd. Dia menyusuri hutan, mendaki gunung, menerabas gurun. Melapar dan menghauskan diri. Penyiksaan kepada tubuhnya itu menyerikan hati. Mengapa Mpu Tantular mengangkat tokoh Sutasoma ini (?) Karena dia penganut Budha (?) Mari memasuki kegalauan zaman itu. Saat Mpu Tantular menuliskan ini adalah saat Majapahit menyambut penguasa baru, yang usianya berkisar 16 tahunan. Dan walau mendebarkan : ada seorang ibu yang memangkunya juga Mahapatih Gajahmada. Lalu apa yang direnungkan oleh Mpu Tantular itu (?) Mengapa menghadirkan Sutasoma yang muda dan memilih pergi dari zona nyaman (?) Penguasa kala itu sangat kuat dan tangguh setelah melewati berbagai gejolak dan huru hara. Era itu penguasa pada tahap tak terkoreksi. Hampir tanpa pesaing bahkan oposan. Nyamannya kekuasaan pastilah melahirkan kebebalan. Menggoda kecongkakan. Juga pelemahan mental. Kenyamanan sering melahirkan kaum rebahan bahkan sampai otaknya rebahan. Dan pasti tak akan ada yang berani memberi bisikan : semua kenyamanan dalam kekuasaan itu memiliki akhir. Tragis bahkan. Maka Sutasoma, anak muda, sudah pasti akan berkuasa alami kegalauan atau ambivalensi perasaan : seperti hendak menyatakan : zona nyaman ini melelahkan karena tak ada lagi yang menantang. Bahkan tak ada lagi hasrat pencapaian. Segalanya jadi permainan. Keriangan yang garing. Kemegahan yang mengeringkan hati. Sutasoma menemui kenyataan. Ya! Diajak menemui kenyataan. Anak muda itu dengan kulit tubuh lembut halus menerabas semak belukar yang tajam, menggiris kulitnya. Dipertemukan dengan ambivalensi perasaannya yang selama ini tak dipahami. Kegalauan itu ditemuinya pada berbagai duka cita hidup. Maka mulailah kisah sutasoma itu  yang tentu saja tak akan jadi bacaan menarik bagi penguasa kala itu. Demikian! (Sambil menonton latihan Gambuh Masutasomanya Dayu Arya Dayu Ani potonya dari Luciana Ferrero ) Ayu Weda Gunarta Made Suliati Boentaran

PANJI MASUTASOMA : ZONA TAK NYAMAN ITU BERNAMA 'KELAPARAN'

Keberingasan semua mahluk itu dari perut kosong. Lapar. Kelaparan. Akal itu dalam posisi tenang. Sakit tidak. Sehat pun tidak. Tergantung situasi perut. Sebab itu mungkin. Para pelatih spiritual mengajak berlatih lapar. Tetapi tidak untuk kelaparan. Sutasoma yang belum akrab dengan rasa lapar. Masih tahap berlatih mengenal lapar dan haus. Bertemu dengan seekor macan betina dengan beberapa ekor anaknya. Saat itu hutan tempat tinggal si macan dan keluarganya tengah paceklik. Tubuh si macan kurus kering. Anak-anaknya pun dekil sebab dari puting ibunya tak keluar susu. Kering. Hutan itu meranggas. Hujan hilang dan cerukan penampung air telah berdebu. Itulah gambaran bagaimana suasana emosi menuju 'Menahan rasa lapar itu untuk menuju beringas'. 


Tidaklah cukup sehari. Daya tahan akal itu serius menakjubkan. Binatang juga semua mahluk memiliki naluri bertahan. Hingga batas mana dan apa akal itu goyah. Lalu menggelap nurani. Sutasoma disodorkan itu. Kejadian induk macan yang kelaparan, yang daya tahannya telah rubuh. Untuk hidup harus makan. Yang membebani itu harus disingkirkan. Tidak hanya pada hukum rimba itu berlaku. Keberingasan sebab kelaparan disodorkan pada seorang ibu. Induk. Tak terbayangkan bagaimana ketat dunia binatang menjaga anak-anaknya. Mengalahkan manusia dalam hal menjaga anak-anaknya. Apalagi bila itu binatang buas. Selalu ironi bila menyaksikan naluri melindungi anak anaknya. Kelaparan adalah kebuntuan hidup. Segala akan diretas. Segala kebaikan, kasih sayang juga harapan: omong kosong itu!


Kisah sutasoma ini menarik justru mengenalkan lelaki muda yang latar belakangnya tak kenal apa itu lapar, apa itu haus. Dia mahluk zona nyaman. Yang justru mencari ketidaknyamanan. Maka dikenalkan keberingasan sebab kelaparan. Bagaimana caranya menasehati, membujuk bahkan memberi dalil religius pada keberingasan yang hanya bisa dihentikan dengan obat lapar itu : makanan. 


Melankolik bila berkata: betapa dosa dan jahatnya engkau bila memakan anakmu sendiri (?) Kaum agamawan sering ceramah kata kata bijak untuk kasus keberingasan dengan dalil itu : janganlah berbuat kejahatan itu nanti masuk neraka. Lha, macan itu makan anaknya buat bertahan hidup. Itu jauh lebih tinggi nilainya daripada dia bunuh diri ! Iya kan (?) Karena itu : Tawaran sutasoma itu adalah : makanlah aku! Sebab dibunuh pun induk itu memang sudah sekarat karena lapar. Dilarang makan anak-anaknya pun anak anak itu akan mati. Kelaparan itu menjadi tak sederhana. Menjadi tanpa solusi. Ketika dibawa dalam kehidupan manusia : kelaparan itu tak hanya urusan tidak makan dan tak ada bahan makanan semata. Sebab kelaparan itu berjaringan, dampaknya juga berjejaring. Itu derita! Itu dhuka cita! Banyak kata agung dan tulus untuk menghibur persoalan dasar dari hidup itu. Apalagi jika itu menyangkut keberingasan yang membelakangi akal sehat. Tapi seringkali tidak dilihat sebabnya. Juga solusinya pun tak tepat. Maka makanlah aku! Jika itu mengakhiri keberingasan dunia. (Sutasoma dimangsa kala😊 sambil memeriksa dokumentasinya Luciana Ferrero untuk Gambuh Panji Masutasoma Dayu Arya Dayu Ani dan Ayu Weda Putu Ana Anandi Suliati Boentaran Made Gunarta

PANJI MASUTASOMA : MAKANAN KEKUASAAN ITU : KEPALA PARA RAJA

Bukan hanya yang punya perut, yang merasakan lapar haus. Maha lapar itu yang tak pernah dicukupkan oleh segala hidangan adalah lapar hausnya kekuasaan. Sutasoma tidak serta merta memahami bahwa dia akhirnya harus berbalik pulang: bukan karena tuntutan kewajiban sebagai pewaris kekuasaan. Dia putra mahkota. Pasti akan dinobatkan. Tapi apa alasannya dia mau kembali memasuki zona nyaman (?) Kembali hidup galau (?) Apa! Kenapa! Kaum pencari ketenangan pasti kesal. Kenapa kembali keurusan duniawi sih! Iya! Jalan hening itu tidak linier. Sutasoma dengan tenang menjawab : Karena aku ingin menjadi hidangan bagi maha rasa lapar itu. 


Semua negeri, semua raja kapan saja : yang dijadikan kegundahan adalah kehilangan kekuasaan. Tak pernah ada penguasa yang gundah akan keadaan rakyat, tanah dan airnya. Sekalipun mereka nampak bersemangat mengurus ini itu : itu semua bagian dari alat menjaga kekuasaan. Makanan, tentara, kesejahteraan, kesetiaan, apa saja itu semua untuk menjaga kekuasaan. Jayantaka, pantas bergelar porusadha : dirumorkan sebagai pelahap kepala para raja. Sutasoma memahami kegalauan Jayantaka. Sebab para raja itu hanya meraih kekuasaan dan sibuk menjaga kekuasaannya. Manusia memakan kemanusiaannya, naramangsa, itulah penguasa. Memakan kemanusiaannya dengan segala cara dan gaya: ideologi, strategi bahkan ayat suci pun jika perlu digunakan buat menjaga kekuasaan. Jayantaka tidak memilih cara seperti sutasoma: kegalauannya di zona nyaman diobati dengan meretas seluruh isi kepala para raja.Harus dicuci otak seluruh kekotoran kepala penguasa itu. Tak ada cara lain : kekerasan, keserakahan, keangkuhan segala asupan penguasa itu harus diretas. Dicucihamakan bila perlu. Itu sebabnya ketika sutasoma kembali dari perjalanannya: bersedia menjadi penguasa. Dia dengan sigap menemui Jayantaka dan bersedia menjadi hidangan kepada mahakala. Dunia selalu rusuh urusan peradaban. Terlalu banyak yang turut campur. Mpu Tantular menjadi saksi sekaligus tak tahu lagi cara menyampaikan kepada zaman : bahwa dunia ini punya dua jalan, jalan seperti porusadha atau jalan sutasoma. Jika keduanya bersanding : bermufakat barangkali hanya akan mengurangi derita dunia. Tetapi bukan berarti tak ada korban. Hukum semesta tetap tak imbang bila hanya ada kelahiran dan kematian. Tetapi derita itu justru harus berputar sebagai wasana penciptaan. ( nonton kevin sebagai jayantaka di latihan gambuh panji masutasomanya Dayu Arya Dayu Ani dan potonya Luciana Ferrero plus tercenung karena ini pas waktunya bagi nusantara. Ayu Weda Made Gunarta Suliati Boentaran