HALTE
Kita dipertemukan begitu saja
Disebuah halte
Ketika kita menunggu jemputan
Atau mungkin menunggu kaki hujan berhenti berderap seperti sepatu lars*
Hujan, itu alasan yang lebih kusuka
Lampu merkuri keemasan
Mengiringi tarian anak-anak langit itu
Aku mulai menggigil
Engkau tak membawa scarf
Kautawarkan telapak tanganmu
Hanya ini yang kupunya, katamu
Kutawarkan kopi terakhir dari tumblerku
Begitu cara kita saling menyapa
Hujan masih menari
Anak-anak langit masih berlari
Kita berbagi keheningan
Ketika kata-kata tak dibutuhkan lagi
Jemari kita berkawan karib
Saling mengait
Tanganku mulai menghangat
Tapi kautemukan beku yang asing itu
Ruang kosong yang tak asing
Ingatan patah
Anak-anak langit itu berhenti sejenak
Engkau melepas genggaman
Seharusnya begitu
Lalu jemputanmu datang
Engkau melambaikan tangan
Atau mungkin tak perlu
Toh kita hanya sesama penunggu
Halte itu menjadi lembar usang
Selekasnya...
Sayang sekali, tak demikian
Anak-anak langit duduk di samping kita
Mereka berbagi gula-gula
Engkau berbagi tawa
Dari deretan gigimu yang rapi dan kuat untuk melukai bibir yang kausinggahi
Aku berbagi kisah
Tentang caraku mencintai hidup
Ketika hidup tak mencintaiku
Entah engkau yang mengingatku
Atau aku yang tak bisa lupa dengan tatap mata amber menjelang senja berhujan itu
Harusnya,
Kita hanyalah sekumpulan moment
Yang terserak di setiap halte sepanjang Buncit Raya
Pertemuan,
Yang selalu mengisyaratkan perpisahan
Bahkan sebelum sempat bertanya
Berapa jumlah baliho yang menutupi langit
Atau
Engkau suka pangsit basah kuah atau kering saja
Anak-anak langit itu pamit
Hujan sudah selesai
Termyata memang,
Jemputanmu datang
Ia mengenakam dress bergambar bunga camelia
Yang kautanami dari pelarian satu ke pelarian yang lain
Engkau beranjak
Tak menoleh lagi
Aku masih duduk di halte
Memasukkan kenangan ke dalam tumbler
Sesekali mungkin aku ingin mencecap
Hangat yang pernah itu...
Desember, rain lalu...


