SUBLIMASI DALAM KOREO Dayu Arya Dayu Ani

 


Dalam seni pertunjukan di Bali. Menarikan Rangda itu telah distigma : menuju tampil angker, menyeramkan, pencapaiannya : bikin takut! Hingga lupa karakteristik yang ditarikan. Sehingga yang dicari adalah bagaimana mendapatkan gerak plus tambahan vokal : pokoknya agar serem! Rangda itu apakah dalam status 'arca' artinya disucikan ataukah sebagai topeng untuk ditarikan dalam seni pertunjukan. Tetap berasal dari kepradnyanan memahami durga tattwa. Dari sisi estetika itu serius surealis menggambarkan ekstraordinary kecantikan Sang Rahim Agung. Mahahrdaya. Apa saja melampui dari yang biasa biasa saja. Pasti menggetarkan. Menciutkan. Dayu Ani dan adiknya Dayu Gek Han : menterjemahkan kejelitaan tiada tara dari Widyutkarali. Durga gangga gori itu! Yang dalam kisah Sutasoma berkepala sejuta cahaya. Dan pemberi anugrah mantra Mahahrdaya Dharani. Menjauhi godaan: menjadikan adegan peanugrahan itu : menyeramkan dengan gerak gerak gertakan. Sebaliknya : dayu ani mendorong koreonya kepada keharusan membawa nafas halus saat menarikan. Karena ekstraordinari Durga itu pada kemahalembutannya. Perhatikan gradasi potret yang dipoto oleh Made Gunarta saya edit sedikit. Untuk memperlihatkan : sisi sublimasinya untuk menampilkan jenial koreo ini. Dan uji cobanya ditarikan di siang hari tanpa dekorasi, tanpa make up. Ah, jadi pingin bertanya: apakah adegan koreo itu masih bikin merinding (?) 

IDE TIMANG-TIMANG ITU : BUKAN DARI SAYA!

 

Ini penting mengklarifikasi. Juga buat pengetahuan bagi adik adik di Bhumi Bajra. Menghormati dan mengakui ide siapa dalam proses kreatif bahkan saat kolaborasi. Menimang nimang, ngempu tapel rangda itu sebenarnya ide yang mengetarkan. Menyerikan bahkan. Apalagi yang ada dalam koridor percaya akan mistik plus magic. Bukan nyaluk. Tetapi ngempuang. Iyung-iyungang. Itu ide dari Dayu Arya Dayu Ani sendiri. Tugasnya saya adalah ngabetang. Memahami bagaimana memecah stigma soal menarikan rangda dalam seni pertunjukan di Bali. Belum lagi stigma akan berbagai tulisan dan karya saya yang memang bermuara pada riset calon arang. Wajah rangda itu begitu lekat. Jika hanya semata melihat tarian itu sebagai alur gerak berkisah. Formalisasi dalam ekspresi dalam seni pertunjukan Bali kini lebih percaya pada atribut, busana bahkan akrobatik jika hendak memunculkan kejutan dalam seni pertunjukan. Berkali saya menonton, bahkan tangkil saat ada upacara napak pertiwi misalnya. Saya sudah tidak bisa membedakan lagi mana ida sesuhunan sane tedun, apa itu penghayatan terhadap satu peran (?) Semua membangun intimidasi pemanggungan. Bahkan saat nedunang sesuhunan. Sejak lama saya memang mengajak dayu ani merenung : rangda itu mestinya selembut legong, ayu dan dikembalikan kepada jnana wisesanya : yang paling kuat itu adalah kelembutan, yang paling mengharukan dan membuat hati terenyuh adalah urusan ibu dan anak. Tapi ide menimang nimang itu serius membuat saya tersenyum. Saya sudah berjanji dalam hati. Akan mentaati siapapun yang mensutradarai saya. Maka tugas saya walau kadang daya rekam gerak (pileh) saya itu buruk sekali, harus dipandu oleh Mang Yun, Dayu Gek Han. Itupun dengan cara berbisik, kendala lain untuk memberi arahan itu kadang harus dihadapi dengan gelak tawa. Tapi ide menimang nimang rangda itu : serius menyerikan hati. Itu tidak mudah. Lebih mudah menarikan rangda. Dibandingkan menimangnya. serius. Jadi ini saya maksudkan bahwa Dayu Ani itu mumpuni sekali dalam menetapkan apa yang akan dia tetapkan sebagai elemen dalam karyanya. Jadi ini pesan untuk adik adik di bhumi bajra : selalu hati menyimpan kekaguman agar taksu itu tiba dalam semua hayat hidupmu.

NGEBAT, WALTZ DAN AYAHKU

 


Jika saya suka memasak, itu jelas pengaruh almarhum ayah saya. Saat penyajaan (dua hari menjelang galungan dan sehari sebelum penampahan) mau tak mau ayah akan meminta saya menyiapkan 'base-base' tapi itu rasanya semua keluarga di Bali mengalihkan keterampilan memasak dan juga keterampilan lain untuk kelengkapan upacara : terjadi alamiah. Mau tak mau harus bisa. Kalau mahir itu bonus. Atau memang menyukai memasak atau mejejaitan dll. Entahlah. Kemarin melintas ingatan saya pada almarhum : aneh, ternyata ayah pernah mengajari saya berdansa : waltz. Entah untuk acara apa itu. Saya ingat : di ruang tamu yang luang itu : ayah mengajar ketukan 3/4 lalu berputar arah. Kalau tak salah ada tiga tahap langkah. Aiih. Saat itu saya tak bertanya : mengapa ayah bisa dansa? Sebab kemampuan ayah saya lumayan. Saya masih ingat : ada bedanya kalau di ruangan tutup atau di luar ruangan. Aneh. Saya merasa sesuatu menggetarkan hati. Kenapa ya saya ingat justru saat itu: saat di ruang tamu: ayah mengajarkan saya dansa waltz!. (Jagi rawuh ring galungan kantos kuningan dewata dewati titiange) - penyajaan 2024

CATATAN THE TIMPALs : MEREKA DENGAN SUARA KANAK BERTANYA : APA SIH CERITANYA INI (?)




Di bawah pohon sawo di jabaan Merajan Ageng Griya Budakeling : kami berempat sedang menunggu proses adegan Panji Masutasoma bagian openingnya. Dayu Gek Anis, pemeran Galuh    bersama tiga condong (kinar, gung gek, dayu geg) saat itu kembali dari arah utara, arah pintu dari purian merajan ke jabaan : dan Gek Anis mendapati saya tengah menimang Rangda (btari widyutkarali): dengan suara kanaknya menyapa saya : sudah dikasi minum susu (?) Ketiga anak lainnya melepas senyum nakal kanak mereka kepada saya. Saya pun memperagakan dengan sungguh menimang 'btari'. Ketiganya mendekati melihat ke arah rangda, seakan itu adik kecil, "cantik cucunya loh!" Ini dicelotehkan anak anak itu dengan maksud menggoda saya. Yang ga mau dipanggil nenek. Harus memanggil saya kakak atau sista! ๐Ÿ˜„ jadi Kinar lalu bertanya: apa sih ceritanya ini. Yang lainnya bertanya apa ceritanya? Kenapa ada panji? Kenapa ada masutasoma(?) Saya dengan serius juga akhir jatuh kocak. Mulai menceritakan : itu cerita tentang the prince (pake bahasa inggrislah): yang galau lalu meninggalkan istana. Dia itu kabur sebenarnya sebab semuanya  ga mau dong dia pergi gabut gitu. Bisa bahaya kan. Tapi the prince tetap pergi. Nah si panji itu karena dahulu kala : di griya budakeling ini ada gelungan panji yang misterius: yang bisa muncul dan hilang tiba tiba. Nah, adegan awalnya itu tuh bu guru dayu ani mau berkisahkan itu : oh....lalu terjeda. Sebab persiapan akan dimulai. Kembali anak anak itu menggoda saya : ga nangis cucunya (?) Hahahhahaah...dan ternyata diam diam kami diamati oleh Ayu Suma Lestari ibunya gung gek. Lalu saya tertawa berucap : ga boleh loh nyandain rangda. Anak anak itu mengangguk dengan senyum seolah menatap serius ke arah depan. Saya bersukur : pertanyaan jujur dari mereka. Sebab jarang yang mau bertanya soal adegan opening itu. Seakan akan semua mengerti. Lewat anak anak itu saya jadi merasa betapa ketulusan anak anak itu justru menjadi jembatan komunikasi. Tentu dengan komentar : duh gitu loh ajarannya mbok cok...maklum saya memang mengajak anak anak itu agar mengakrabi hal yang selalu ini secara halu ditakuti. Kapan takut, kapan berani, kapan bertanya bahkan mempertanyakan..dst. welcome di pasraman bhumi bajra๐Ÿ˜„

SARASWATI ITU, OH IBUKU!...

Para keponakan saya, tentu tak akan alami apa yang saya alami saat kecil. Ingatan hari raya Saraswati. Bila Nyaraswaten tiba. Sehari sebelumnya, Ibu saya akan mendapat kiriman Banten Nyaraswasti dari kakak sepupunya; seorang pendeta. Begitu pula dari tetangga, juga seorang pendeta; mengirimkan banten nyaraswati. Pada masa kanak saya, belum ada jual-beli banten di pasar. Kalau mengupah membuat canang dan jejahitan; saat itu sudah ada. Ibu saya bukanlah tipe religius, kakak sepupunya yang pendeta tahu akan hal itu, begitu pula ipar jauhnya; semua paham akan hal itu. Maka dari balik tembok, suara Ninik Sari, seorang tapini, yang selalu meladeni pendeta tetangga rumah, mengingatkan: bantennya dihaturkan dari pagi, nanti sore baru dilayub; jajannya nanti disuapkan ke putra putrimu! Sejak pagi kalau bisa anak-anak jangan makan alias puasa; mebrata. Disamping banten nyaraswaten juga ada beberapa payuk yang dikirim: kumkuman, untuk banyu pinaruh. Sehari setelah saraswasti adalah banyu pinaruh. Kembali suara itu akan terdengar. Bangunkan anak-anak sebelum matahari terbit, cari pancuran terdekat, mandikan di sana atau pergi ke tepi laut. Mebanyu pinaruh. Jadi menjelang nyaraswanten; dua hal itu yang saya dengar dari balik tembok. Atau dari utusan pendeta; seorang pelayan perempuan dengan senyum yang mahal, mungkin jemu harus menyampaikan pesan yang sama setiap tahun. Dan itu disebabkan ibu saya dengan santai menyahut: inggih.

Lalu yang saya ingat, betapa gemetarnya menunggu malam tiba. Karena sudah diikuti bayangan; besok seharian tak boleh membaca, tak boleh makan, saat senja barulah makan jajan. Jaje Saraswati yang warnanya putih, dasarnya budar diatasnya ada lambang cecak! Juga samar aksara: Ong Kara.

Dari semua upacara untuk diri, mungkin Nyaraswaten yang paling ibu taati. Saat itu sekolah-sekolah belum semarak seperti sekarang merayakan. Justru di rumah-rumah terasa kesibukan menghadapi hari nyaraswati; walau sesungguhnya banten saraswati itu sederhana. Bandingkan dengan banten sugihan atau tumpek ngatag; ada bubur dan ada beberapa jenis jajanan; yang enak sekali dimakan. Banten Saraswati hanya akan menyisakan; jaje saraswati yang kering, tanpa rasa, kadang terasa pahit di lidah. Namun harus dimakan dengan cara ditelan, itu saat sore hari tiba. Sebagai tanda buka puasa. Hal lain, betapa mengantuknya saat pagi dibangunkan, harus segera mandi dan suara ninik sari akan terdengar: pendeta di seberang rumah sudah selesai Nyurwa Sewana, tanda boleh nunas tirta: Majaya-jaya.

Ingatan itu, tradisi nyaraswanten, yang paling berkesan adalah saat menanti Ibu menurunkan banten, di sore hari, ngelayub jaje saraswati: Lihat cecaknya...saya, adik dan kakak saya akan menelan rasa hambar itu; ditelan begitu saja. Dan mengapa cecak? Setiap kali bicara dan jika berbohong, cecak itu tak akan berbunyi. Jika berbunyi setiap kali kita menyampaikan sesuatu: ibu mengingatkan untuk mengatakan: Tu suci.....(sampai kini saya tidak tahu apa kalimat utuhnya): hanya meniru: Tu suci, artinya benar dan jujur apa yang saya ucapkan. Kejujuran berucap itu terkait dengan wacika. Betapa melekat dalam kepala dan hati saya, bila berbohong: cecak itu akan cuek. Karena itu selalu berusaha tidak bohong, tidak bicara kasar, walau sesungguhnya, saya temperemental.

Ketika saya mulai merantau, para keponakan pun mulai bermunculan. Suatu hari, salah satu keponakan yang sekolah di kota denpasar; pulang kampung dengan membawa satu flyer: berisi mantram saraswati. Itu tahun-tahun mulainya demam mengutip mantra india. Sekolah-sekolah dibali mulai ‘religius” dan kantor-kantor pemerintah dan swasta mulai merayakan ‘odalan’nya sendiri. Dengan bangga keponakan saya berkata: ini loh mantram saraswati. Dan kemudian beberapa bulan kemudian bahkan ada plakat dari kayu; ditulisi mantram itu, bak merchandise dapat dibeli di beberapa toko dan warung, juga pedagang kaki lima di pasar-pasar. Lalu betapa kemudian penjelasan mengenai saraswati itu: patung dengan empat tangan; bla....bla...bla...bla...tapi seingat saya, tak ada satu pun sekolah menawarkan: brata nyaraswasten begitu pula lembaga agama Hindu di Bali.

Ibu saya, masa kanak itu, memberi saya satu pemahaman kini: budaya itu adalah tradisi ingatan, yang diasuhkan kepada saya. Itu kemudian menjadi titik pijak untuk terjadi evolusi spiritual dalam diri saya. Simbol cecak itu menjadi makna bertingkat-tingkat dalam pertumbuhan ingatan saya. Itu yang membuat saya tersenyum bila hari saraswati tiba. Dan ketika kini, betapa semaraknya kawan, sahabat, keluarga; menjadi penuh ritual dan spiritual. Saya justru mencari-cari jaje saraswati dalam banten saraswati itu. Dan saya teringat ketika keluarga saya mewintenkan saya, beda dengan anak-anak sekarang; masuk sekolah langsung diwinten, sedang saya karena dicemaskan senang membaca yang aneh-aneh diwintenkan. Ini hal yang berkaitan dengan Sang Hyang Aksara. Itu sesungguhnya jnana agung, salah satu tujuan tertinggi dari ajaran siwa sidhanta; juga dalam bhuana kosa disebutkan; hanya pengetahuanlah yang dapat membersihkan dirimu! Maksudnya sang hyang jnana; itulah yang jadi penyebab adanya pijakan awal; yakni mengajarkan akan dewi saraswati, pijakan awal ketika engkau masih kanak untuk kelak memasuki evolusi spiritual dalam diri.

Tahun-tahun berlalu, ketika memasuki tahun 90-an sampai 2000-an, demam spiritual itu menjangkiti seluruh dunia, semua agama, dengan berbagai keciriannya. Termasuk lingkungan saya tumbuh dan mulai menua. Para keponakan mulai dewasa dan sesekali akan bertanya: karena saya kritis terhadap mantram saraswati dalam plakat itu. Juga kepada patung dewi itu! Tapi tak ada yang bertanya, apa lalu yang harus dilakukan sesungguhnya bila saraswati tiba, selain sembahyang bersama di sekolah? Rasanya kok seperti odalan biasa-biasa saja?--- yang serius bertanya justru teman-teman dari kalangan intelek modern. Atau yang cemas, kenapa kita makin lama makin rigid yah? Tetapi yang nendang ke hati kok makin menipis? Lalu seperti biasa, karena yang diinginkan itu agar cepat dan terasa: instan, mereka mulai mengeluhkan, kenapa harus diwinten? Kenapa harus ini itu hanya untuk mendekat ke kaki Sang Hyang Aksara. Apalagi teman-teman dari perantauan, identitas menjadi orang Bali salah satunya adalah mebanten; saraswati jatuhnya selalu hari Sabtu, itu salah satu alasan terkuat untuk dapat berkumpul sesama orang bali. Demam menjadi pemangku, mencari cara praktis membuat upacara; semarak sekali perkembangan dalam berbagai potret. Dan tetap saya masih terkenang; jaje saraswati itu. Lalu para keponakan hanya melihat: saya justru paling enggan terlihat khusuk sembahyang saat saraswati tiba. Tumpukan buku saya, dan semua yang saya memiliki secara fisik; seharusnya saya membuat odalan besar. Nyatanya, saya hanya menghaturkan dua buah banten saraswati; satu kepada Sang Hyang Taksu, kedua pada Sang Hyang Jnana. Berdoanya dalam hati. Contoh yang tidak baik bagi semua keponakan, yang tentu akan memprotes bila kesempatan tiba. Kecuali saat saya ke rumah kakek, saya sesekali menengok sisa-sisa lontar yang ada di beberapa bale; hanya menengok. Memastikan apakah sudah remuk ataukah belum. Dan hingga kemudian di rumah kakek; tradisi ngodalin aksara kembali dilakukan dengan meriah. Tiba-tiba saya tercenung saat akan mencakupkan tangan. Sepulangnya, itu terjadi tiga atau lima tahun lalu, saya mencari catatan itu. Bukan plakat itu. Betapa sesungguhnya banyak ragam pemujaan kepada Sang Hyang Aksara, yang saya suka adalah dari tradisi tua; yang populer di kalangan pemangku yang ketat sifatnya, itu pun tidak semua pemangku serius utuh menyanyikannya saat pemujaan kepada Sang Hyang Aksara, saya buka catatan:

Mantra ring Sanghyang Saraswati

Om Saraswati namostu bahyam/ Parade kama rupinii/ Sidi rastu karaksami

Siddhi bawantu mesaddham

Pranamya sarwwa dewasca" Paramatma namawanca" Rupa siddhi karoksabet

Saraswati nama myaham

Padma patrewima laksmi" Padma kesari warnni" Nityam padma laye dewi

Tubyam namah saraswati

Kaywam wyakaranam" Weddha sastra puranakam" Kalpa siddhi tantrani

Tatprasadat karosabet

Dalam pemujaan yang serius kepada Sang Hyang Aksara, ini penjelasan nya kepada saya, oleh seorang pendeta yang menjadikan Sang Hyang Aji Saraswati sebagai salah satu pegangannya dalam memimpin kawikuannya. Menjelaskan kepada saya mengenai : Panca Saraswati Astawa. Itu disampaikan ketika saya mulai kuliah dan saya itu senang belajar apa saja, termasuk membaca kitab-kitab suci berbagai agama. Ibu saya walau cuek, selalu mencemaskan; jika anaknya nanti berganti agama dan kamu kelak menjadi tamu pada hari kematianmu. Panca Saraswati ini masih saya temukan catatannya dengan mata berkaca-kaca, tidak juga bisa saya hapal-hapal, dan tentu saja bagi yang belum diwinten: ini kata pendeta yang sudah lebar itu: ucapkan ini: Ong Byaksayam Ludra Maheswarasyayam namah ya namah swaha//0//---beberapa kawan karena begitu taatnya, kadang menyampaikan kepada saya; kan dia belum diwinten agung, kok boleh membaca yang ‘maha suci?” padahal, siwa sidhhanta itu jelas tak pernah membatasi, siapapun yang hendak membasuh dirinya dengan pengetahuan tinggi, caranya ya itu; mencari pijakan awal;

Om sweta mara narandiwi/Sweta puspa prihandiwi

Sri sri tameng sasraswati//0//

Om rakta mara narandiwi/ Rakta malya panam/Rakta puspa prihandiwi/Sri sri tameng saraswati/Om pita mara narandiniwi/Pita mara malyapanam/Pita puspa prihandiwi/Sri sri tameng sasraswati//0//

Om pita mara narandiwi/Pita mara nalya panam/Pita puspa prihandiwi/Sri sri tameng saraswati//0//

Om kresna mara narandiwi/Kresna mara malya panam/Kresna puspa prihandiwi/Sri sri tameng sasrswati//0//

Om wiswa mara narandiwi/Wiswa mara malyapanam/Wiswa puspa prihandiwi/Sri sri tameng saraswati//0//

Dan selalu persoalan ini bagi yang diperantauan akan ditanyakan. Soal air suci, sesungguhnya kalau titik pijaknya sesantai ibu saya, akan mengenal hal ini: Panuhur tirta Ida Sanghyang Saraswati

PukulunSanghyang Siwa raditya/Sanghyang sasangka/Sanghyang :Lintang Tranggana/Manusa nira analuk tirttha/Mahning Sanghyang pustaka jati/Om Sarayu Saraswati Narmmaddha.....dstnya.

Saya tersenyum, entah mengapa hari ini, ibu saya dan masa kanak itu, justru menghadirkan dewi pengetahuan itu bukan sebagai patung cantik; tetapi inilah hari mengenai pengetahuan tertinggi beserta penjelasannya, gunakanlah bagi orang bijakasana, pengawi, yang ingin belajar segalanya, mengetahui aksara di bhuwana alit, dan bhuwana agung, mengetahui dalam wariga, usada, tutur, agama dan seluruh intisari dan seterusnya itu, dengan mempercayai hidup itu tak pernah keliru, dan selalu dunia ada surga yang dapat engkau patut ciptakan dibumi asalkan engkau tahu mengenai keagungan pengetahuan. Maka semuanya adalah bibit kebaikan dan bernafaslah dengan kedamaian. Usah mengingatkan orang lain, semua memiliki kadarnya, cukup yakinkan hatimu; udara hari ini lembut dan menenangkan hati. Santai ya bu? Ibu saya tersenyum: nak mebrata, pasti silib. Amun masolah wau tinggar!