Catatan akhir tahun 2023(I) : SEJARAH TARI DAN DEFENISI TARI BELUMLAH FINAL.

Kepada wong kampus seni : "tari adalah suatu pengertian yang luas dan masih terlalu abstrak untuk dapat diperbandingkan " - dikutip dari penelitian Tari dalam Sejarah kesenian- jawa bali. (Makudang kudang prasasti akan hal mengenai tari).

Kita mulai dengan kata tari. Igel adalah menyatakaan tari, tak hanya Bali menggunakan kata ini juga jawa. Cobalah baca beberapa prasasti mengenai penetapan Sima. Lalu dari khasanah sastra: panretta ( cek kakawin smarandhana) atau manrretaa (negarakertagama) sedang di ramayana disebut " nartaki ya mangigel" lalu masolah, imen imen, dan bahkan abhinaya (karmawibhangga borobudur) sebagai sikap tari : lebih menyangkut paham gesture, gerak yang memiliki makna tertentu. Juga sebutan di berbagai wilayah nusantara soal menyebutkan apa itu tari dan menari!

Jadi sejarah tari dan defenisi tari itu belum final. Dan kaum cendikiawan kampus seni hendaknya tak bergerak sebagai ruang latihan menari macam kursus profesional. Alangkah indahnya. Tari itu menjadi ' subyek' penelitian yang tak akan habis. Juga akan menguatkan proses kreatif bahkan penciptaan yang tak henti tentu dengan fundamen yang berakal sehat dan memahami akar akar kecendikiaan estetika. Jangan berhenti pada gelar akademik. Lalu hanya asyik mengira telah melahirkan teori. Dan itu mengira ilmiah dan genap. Masih banyak yang dapat dicari. Masih banyak kawan. (Video dari panggung maestreo II)

Dayu Arya Dayu Ani Wayan Westa @sorotan Luciana Ferrero Sudarta Gusti Sudirana Yuganada Analisa Kerenz Dewa Ayu Eka Putri Ni Ketut Putri Minangsari Mahijasena Gunarta Made Adi Gunarta Suliati Boentaran Gung Ama Agung Arini Cok Pring

DRAFT MIMPI (3)

Apakah sampai atau selesai ketika menyadari : keresahan hidup itu adalah biaya biaya makan, minum dan lain lain. Atau itulah kemalangan ketika bertaruh hanya untuk itukah hidup? Mengagungkan kemuliaan lahir itu?'

Gelora itu hilang dari dadaku. Menipis seperti asap rokok yang terhembus angin. Aku tak lagi bangun pagi dan mengisi siang menuju malam untuk pikiran pikiran dan ingatan-ingatan apa saja itu. Tidak juga kutempatkan sebagai remeh temeh. Aku mulai memahami sekaligus tak mau paham. Aku melihat diriku diantara banyak orang. Aku bercakap ringan kadang berdiam. Aku tak banyak lagi memperhatikan orang orang dengan perasaan menilai. Juga aku melihat diriku untuk ada sesekali pada keriuhan kelelahan, keinginaan keinginan kabur, yang belum terdefenisikan. Aku memasukan hpku ke ransel. Hanya sesekali melihat apakah ada pesan masuk. Lalu tanpa beban membiarkannya dalam ransel seharian. 

Aku mulai terbiasa. Membiasakan diri pada keadaanku. Bukan. Tapi aku merasa terlalu ringan. Aku melihat saat berjalan menuju jalan bebatuan itu. Ya. Sebentar lagi ada yang menyapa. Aku juga tahu saat melangkah akan muncul perasaan. Apakah benar jalan ini akan membawaku ke tempat pertemuan. Aku melihat diriku bertanya. Aku tersenyum. Aku dapat dengan ringan bertanya: benarkah jalan ini menuju arah tempat pertemuan? 

Apa sebutannya? Prediksi? Bukan. Aku melihat beberapa menit ataukah peristiwa ke depan dari waktuku saat itu (?) Aku tersenyum pada orang orang yang menerka nerka akan kehadiranku. Aku berusaha menenangkannya. Bahkan mencegah agar dia merasa telah memancing kekesalanku. Ini lucu. Kadang sangat lucu. Kusebut itu mimpi. Ya. Bagaimana dirimu: merasakan sekelilingmu dengan tanpa melihat (?) Ya. Dirimu di situ. Ada yang misalnya yang tiba hanya dengan tujuan bekerja. Ada karena merasa ini bagian dari kesempatan untuk melapiskan ingatan baik. Tapi rata rata mereka datang sebagai seseorang yang menjalani hidup dengan menuju sampai atau selesai (?) Usia bukan perkara. Beberapa tengah hendak mencari. Ada yang tak tahu kenapa ada di sini. Di sini. Aku hampir tertawa. Mimpi. Mimpi itu. Aku tahu. Aku tak tengah lelap. 

Ya. Aku tahu. Banyak mungkin yang merasa. Kenapa dia berbeda dari cerita cerita orang tentang dia (?) Aku juga tak merasa berubah. Aku hanya merasa kini mau menerima : apa melihat diriku itu sesuatu. Bukan dicermin. Aku merasakan desau orang orang berkeliaran di sekelilingku. Aku merasakan juga beberapa menanti reaksi fatalku. Aku tersenyum. Kerikuhan dan kekikukan. Kelelahan tubuh itu jauh lebih ringan. Dibandingkan. Kau mengira tengah memuliakan hidup dengan mengerjakan sesuatu pun menjaga kesantunan. Aku menghindari menjenguk kelebat kerisauan kerisauan orang orang. Waktu kadang membuat orang melupakan dirinya. Ketika mereka mengira tengah mengerjakan sesuatu.

Mimpi itu. Tak lagi membuatku risau. Atau bertanya. Aku hanya tahu. Ini telah lama terjadi. Sering kuhindari untuk memahami. Sering kuasingkan. Sebab aku tahu. Tak mungkin akan berkata: aku akan disana. Juga aku tahu seperti apa. Hah! Itu mimpi. Bunga bunga tidurku.

 (Draft Mimpi 3- by cok.sawitri).

DRAFT 2024 : MIMPI (2)

derita itu harus diselesaikan. Bukan dihentikan.Tapi derita itu jenisnya banyak. Tak akan sanggup menyelesaikannya dengan serentak'

Kapan mulainya itu ? Bahkan terjadi disaat tak tidur. Mulanya rasa asing. Mungkin semacam terpukau. Terpaku : aku melihat diriku berjalan memeluk bola basket di bawah pohon mangga besar. Aku lihat langkahku juga desau daun daun kering yang terinjak. Tapi aku saat itu memang berjalan dengan memeluk bola basket. Di bawah pohon mangga besar. Aku tidak lagi tidur. Juga bukan mimpi berjalan. Aku melihat diriku berjalan disaat aku berjalan. Mimpi. Itu awalnya. Rasa asing. Membuatku menyimpan mimpi itu dalam diam. Juga aku tidak mau mempertanyakan. Itu benar teralami. Atau hanya khayalanku. Lalu di sebuah mall saat aku ke luar dari lift. Kembali aku melihat diriku. Menekan tombol buka. Lalu masuk ke dalam. Memperhatikan nomor lantai. Lalu pintu lift terbuka. Warna bajuku. Ransel. Sepatu. Begitu aku melangkahkan kaki. Aku kembali. Kembali asing. Kembali terpukau.

Aku tak memikirkan. Melupakan. Tidak memberi kesempatan untuk berpikir. Itu barangkali mimpi. itu tak selalu tiba. Atau kerap tiba. Aku asingkan dalam ketidakpedulian. Sampai kemudian mimpi itu tak hanya untuk melihatku. Tetapi aku dibawanya melihat. Hadir. Kemana dan mengapa. Alasan apa. Tetapi tak pernah dalam waktu lama. Tetapi cukup untuk tahu. Awalnya tanpa suara. 

Mimpi itu kuasingkan. Aku hanya tertawa kepada diriku. Konyol. Jadinya konyol. Beberapa kali aku berusaha untuk tak tahu apa apa akan khianat bahkan penghinaan yang dengan riang gembira dilakukan oleh orang kupercayai. Saat bertemu atau bercakap. Aku kadang terdiam. Betapa deritanya. Berpura-pura. Kebohongannya membuatku ingin tertawa.

Ya. Mimpi itu. Harus disebut sebagai mimpi. Tiba tak terduga. Entah untuk tujuan apa. Kadang tiba di tempat- tempat yang menurutku tak ada urusanku dengan apapun itu. Tapi itu membuatku menandai polanya. Mengapa dibawa dan tiba pada keasingan-keasingan. Mengapa tak tiba hanya pada yang kurasakan, yang berikat emosional. Apa alasannya. Atau usah dipikirkan. Cukup selesaikan. Bukan hentikan. 

'Aku melihat diriku sedang menulis. Ada satu mug kopi juga rokok dijemari. Aku melihat diriku. Bahkan saat aku dengan akal sehat menuliskan mimpi itu'

(Draft 2024 : By Cok. SAWITRI)

DRAFT 2024 : MIMPI (1)


'aku sedang naif. Deritaku ini sebab tuhan tengah mengalihkan kasihnya pada yang lebih khusuk memujaNYA.'

Mimpi itu tiba. Bukan datang. Berkali mungkin aku abaikan. Berkali sudah kadang kubiarkan. Tapi mimpi itu tak hendak disebut mimpi. 

Jam nol nol. Tahun baru yang usai. Juga masai. Aku hanya berdiri. Tahu persis. Tak ada yang melihat. Menengok bahkan menyadari kehadiranku. Juga aku tidak suka. Aku hanya berdiri. Menatapi. Betapa lucu. Bukan menyakitkan. Bila tubuhmu, hidupmu berpindah sesuka hati. Tak sekali. Buatku itu mimpi. Harus distempel sebagai mimpi. 

Aku berjalan dengan sadar. Juga tahu semua yang berpapasan dengan aku, tak menyapaku. Sebab mereka tidak kenal aku. Juga tak melihatku. Dulu aku mengira diriku hantu. Atau itu ingatan dalam mimpi. 

Ya. Lucu. Juga menyakitkan. Kadang mimpi itu membawaku pada kenyataan kenyataan yang membuatku nyeri dan pedih. Aku pernah begitu tiba tiba menerobos tembok tebal. Lalu tiba pada sebuah cafe kopi. Berdiri di depan meja. Dimana cangkir kopinya itu bergambar wajah pacarku. Aku kagumi kemampuan Baristanya. Sambil menatap ke arah pemesan kopi itu. Yang lagi duduk dengan senyum bahagia dan diseberangnya pacarnya juga. Tetapi bukan aku. Aku merasa lucu. Bagaimana mungkin aku di cafe itu. Jaraknya dua setengah jam penerbangan plus dari bandara ke tempat ini: aku merasa lucu. Sebab aku sedang dalam mimpi. Prasangka berlebihan. Itu bisa jadi fakta. Bukan. Bukan fakta. Dugaan. 

Lucunya lagi. Setelah aku terjaga. Di kamarku. Aku membalas chat. Seolah olah betapa pentingnya aku. Seolah olah betapa indah atas nama cinta itu. Biasanya, aku menahan diri. Bersikap itu hanya mimpi. Seolah bisa dibohongi itu damai dan tentram. Karena aku ingin itu sebagai mimpi. Ya. Setiap kali aku tiba tiba harus tiba: aku memutuskan itu hanya mimpi. Saat terjaga. Aku tersenyum pada kewajaran dusta itu. 

'Aku naif. Itu derita...bahkan saat tiba tiba aku keluar dari permukaan meja makan. Dan tahu, aku tak akan dilihat mereka. Tapi aku melihat segalanya dengan keyakinan. Aku sakit. Sebab tiba mimpi itu menemui yang mimpi. Itu menyakitkan."

(Bag.1. By cok.sawitri)

NGEBAT, WALTZ DAN AYAHKU

Jika saya suka memasak, itu jelas pengaruh almarhum ayah saya. Saat penyajaan (dua hari menjelang galungan dan sehari sebelum penampahan) mau tak mau ayah akan meminta saya menyiapkan 'base-base' tapi itu rasanya semua keluarga di Bali mengalihkan keterampilan memasak dan juga keterampilan lain untuk kelengkapan upacara : terjadi alamiah. Mau tak mau harus bisa. Kalau mahir itu bonus. Atau memang menyukai memasak atau mejejaitan dll. Entahlah. Kemarin melintas ingatan saya pada almarhum : aneh, ternyata ayah pernah mengajari saya berdansa : waltz. Entah untuk acara apa itu. Saya ingat : di ruang tamu yang luang itu : ayah mengajar ketukan 3/4 lalu berputar arah. Kalau tak salah ada tiga tahap langkah. Aiih. Saat itu saya tak bertanya : mengapa ayah bisa dansa? Sebab kemampuan ayah saya lumayan. Saya masih ingat : ada bedanya kalau di ruangan tutup atau di luar ruangan. Aneh. Saya merasa sesuatu menggetarkan hati. Kenapa ya saya ingat justru saat itu: saat di ruang tamu: ayah mengajarkan saya dansa waltz!. (Jagi rawuh ring galungan kantos kuningan dewata dewati titiange) - penyajaan 2024