Kepada wong kampus seni : "tari adalah suatu pengertian yang luas dan masih terlalu abstrak untuk dapat diperbandingkan " - dikutip dari penelitian Tari dalam Sejarah kesenian- jawa bali. (Makudang kudang prasasti akan hal mengenai tari).
Kita mulai dengan kata tari. Igel adalah menyatakaan tari, tak hanya Bali menggunakan kata ini juga jawa. Cobalah baca beberapa prasasti mengenai penetapan Sima. Lalu dari khasanah sastra: panretta ( cek kakawin smarandhana) atau manrretaa (negarakertagama) sedang di ramayana disebut " nartaki ya mangigel" lalu masolah, imen imen, dan bahkan abhinaya (karmawibhangga borobudur) sebagai sikap tari : lebih menyangkut paham gesture, gerak yang memiliki makna tertentu. Juga sebutan di berbagai wilayah nusantara soal menyebutkan apa itu tari dan menari!
Jadi sejarah tari dan defenisi tari itu belum final. Dan kaum cendikiawan kampus seni hendaknya tak bergerak sebagai ruang latihan menari macam kursus profesional. Alangkah indahnya. Tari itu menjadi ' subyek' penelitian yang tak akan habis. Juga akan menguatkan proses kreatif bahkan penciptaan yang tak henti tentu dengan fundamen yang berakal sehat dan memahami akar akar kecendikiaan estetika. Jangan berhenti pada gelar akademik. Lalu hanya asyik mengira telah melahirkan teori. Dan itu mengira ilmiah dan genap. Masih banyak yang dapat dicari. Masih banyak kawan. (Video dari panggung maestreo II)
Dayu Arya Dayu Ani Wayan Westa @sorotan Luciana Ferrero Sudarta Gusti Sudirana Yuganada Analisa Kerenz Dewa Ayu Eka Putri Ni Ketut Putri Minangsari Mahijasena Gunarta Made Adi Gunarta Suliati Boentaran Gung Ama Agung Arini Cok Pring


