PANJI MASUTASOMA : PADA KEMATIAN JAYAWIKRAMA, FLEXING PENGUASA DIAKHIRKAN

Mengapa kaul itu hanya 100 kepala raja(?) Bukan seluruh kepala raja di muka bumi (?) Jawaban sopannya karena ada 100 mentalillnes yang mudah sekali memasuki isi kepala para penguasa. Salah satunya adalah flexing! Pamer! Pencitraan! Awalnya ini bermula dari keinginan menjadikan negerinya makmur! Artinya kaya raya : uang, emas dan permata. Merk kekayaan lainnya adalah busana juga gertak melalui pamer! 


Jayawikrama salah satu yang ditarget oleh Jayantaka. Iya! Karena Jayawikrama memimpin negerinya dengan flexing! Senang sekali bersikap seolah dermawan, royal itu beda dengan murah hati. Dermawan itu beda dengan bagi bagi hadiah. Jayawikrama mendandani seluruh isi negerinya dengan seolah-olah semuanya baik-baik saja. Jika dia mengunjungi rakyatnya : dia itu tak segan segan membagikan tak hanya bahan makanan juga melempar hamburkan keping emas. Semua pasukannya didandani : bukan dilatih. Dibusanai agar nampak anggun berwibawa. Seluruh elite kabinetnya diizinkan untuk meraih sebanyak mungkin kekayaan dan aman bila mau memamerkannya sehingga mata manusia silau akan gemerlap kekayaan itu. Jerih kepada si kaya. Menjadi kaya itu bikin ciut nyali orang lain. 


Percakapan di negeri itu dalam mood saling memuji! Sekaligus saling meniadakan. Antara fakta khayalan tak mungkin lagi dibedakan. Jayantaka menargetnya. Tak bisa hanya dengan mencucihamakan otak semata. Brainwash itu tidak mempan bagi penguasa yang membangun negerinya dengan flexing.


Kadang, jalan pralina diambil sekalipun itu perih. Semesta pun memutuskannya untuk pembersihan. Sebab pamer. Pencitraan. Kepura-pura ini adalah berakar dari rasa enscure, ada dalam bangunan karakternya : minder akut. Mendekati psikotik belum lagi kompleks terdesak yang dialami figur penguasa model Jayawikrama ini. Kaget. Tak tahu bagaimana menjadi pemimpin! Karena itu dia flexing. 


Maka tak bisa tak. Jalan pekat itu diambil. Bukankah dalam kegelapan, cahaya kunang kunang akan indah (?) Mengerikan benar bila mendengar langsung apa yang diucapkan Jayantaka saat memetik satu per satu nyawa itu! Tujuannya segera membasmi habis satu penyakit yang mudah menjangkiti penguasa : flexing! Pamer. Pencitraan. Enscure. Kepura-puraan. Sebab dunia tak akan pernah selesai urusannya hanya berbekal suatu hari dia akan tobat dan sadar. Menjadi baik itu mustahil bagi mental yang hidup antara fakta dan imaji. ( memperhatikan pertumbuhan Kesa sebagai Jayawikrama. Poto Luciana Ferrero dalam proses Panji Masutasomanya Dayu Arya Dayu Ani dan tantangan pemeranan ini dalam pakem gerak gambuh sungguh mendebarkan. Colek Ayu Weda Suliati Boentaran Made Gunarta Putu Ana Anandi

No comments:

Post a Comment