Keberingasan semua mahluk itu dari perut kosong. Lapar. Kelaparan. Akal itu dalam posisi tenang. Sakit tidak. Sehat pun tidak. Tergantung situasi perut. Sebab itu mungkin. Para pelatih spiritual mengajak berlatih lapar. Tetapi tidak untuk kelaparan. Sutasoma yang belum akrab dengan rasa lapar. Masih tahap berlatih mengenal lapar dan haus. Bertemu dengan seekor macan betina dengan beberapa ekor anaknya. Saat itu hutan tempat tinggal si macan dan keluarganya tengah paceklik. Tubuh si macan kurus kering. Anak-anaknya pun dekil sebab dari puting ibunya tak keluar susu. Kering. Hutan itu meranggas. Hujan hilang dan cerukan penampung air telah berdebu. Itulah gambaran bagaimana suasana emosi menuju 'Menahan rasa lapar itu untuk menuju beringas'.
Tidaklah cukup sehari. Daya tahan akal itu serius menakjubkan. Binatang juga semua mahluk memiliki naluri bertahan. Hingga batas mana dan apa akal itu goyah. Lalu menggelap nurani. Sutasoma disodorkan itu. Kejadian induk macan yang kelaparan, yang daya tahannya telah rubuh. Untuk hidup harus makan. Yang membebani itu harus disingkirkan. Tidak hanya pada hukum rimba itu berlaku. Keberingasan sebab kelaparan disodorkan pada seorang ibu. Induk. Tak terbayangkan bagaimana ketat dunia binatang menjaga anak-anaknya. Mengalahkan manusia dalam hal menjaga anak-anaknya. Apalagi bila itu binatang buas. Selalu ironi bila menyaksikan naluri melindungi anak anaknya. Kelaparan adalah kebuntuan hidup. Segala akan diretas. Segala kebaikan, kasih sayang juga harapan: omong kosong itu!
Kisah sutasoma ini menarik justru mengenalkan lelaki muda yang latar belakangnya tak kenal apa itu lapar, apa itu haus. Dia mahluk zona nyaman. Yang justru mencari ketidaknyamanan. Maka dikenalkan keberingasan sebab kelaparan. Bagaimana caranya menasehati, membujuk bahkan memberi dalil religius pada keberingasan yang hanya bisa dihentikan dengan obat lapar itu : makanan.
Melankolik bila berkata: betapa dosa dan jahatnya engkau bila memakan anakmu sendiri (?) Kaum agamawan sering ceramah kata kata bijak untuk kasus keberingasan dengan dalil itu : janganlah berbuat kejahatan itu nanti masuk neraka. Lha, macan itu makan anaknya buat bertahan hidup. Itu jauh lebih tinggi nilainya daripada dia bunuh diri ! Iya kan (?) Karena itu : Tawaran sutasoma itu adalah : makanlah aku! Sebab dibunuh pun induk itu memang sudah sekarat karena lapar. Dilarang makan anak-anaknya pun anak anak itu akan mati. Kelaparan itu menjadi tak sederhana. Menjadi tanpa solusi. Ketika dibawa dalam kehidupan manusia : kelaparan itu tak hanya urusan tidak makan dan tak ada bahan makanan semata. Sebab kelaparan itu berjaringan, dampaknya juga berjejaring. Itu derita! Itu dhuka cita! Banyak kata agung dan tulus untuk menghibur persoalan dasar dari hidup itu. Apalagi jika itu menyangkut keberingasan yang membelakangi akal sehat. Tapi seringkali tidak dilihat sebabnya. Juga solusinya pun tak tepat. Maka makanlah aku! Jika itu mengakhiri keberingasan dunia. (Sutasoma dimangsa kala😊 sambil memeriksa dokumentasinya Luciana Ferrero untuk Gambuh Panji Masutasoma Dayu Arya Dayu Ani dan Ayu Weda Putu Ana Anandi Suliati Boentaran Made Gunarta


No comments:
Post a Comment