Showing posts with label Teater. Show all posts
Showing posts with label Teater. Show all posts

Teater Adalah Kita






CATATAN TENTANG WORKSHOP TEATER ADALAH KITA


Tahun 2002 lalu, saya mulai memikirkan mengenai modul workshop teater yang tidak ala kadarnya. Sebab saya kerap mengamati dan mengalami, banyak pengetahuan mendasar mengenai teater tidak terbagi dalam proses pelatihan. Sebab kebanyakan pelatihan teater urusannya selalu disebabkan oleh tujuan target pementasan. Karena itu, workshop teater seharusnya berbagi akan pengetahuan teater, tidak terjebak dalam kisah-kisah definisi, mengulang penjelasan mengenai sejarah teater atau ceramah-ceramah yang diselipi contoh-contoh yang sepintas lalu, yang kesannya lintasan riuh, bergerombol dan berteriak-teriak. Akhirnya, pada tahun 2004 bekerjasama dengan Taman Budaya Bali, saya membuat workshop yang cukup panjang dengan sejumlah komunitas di Bali dan itu dengan ikatan hasil : yakni peserta didorong agar mau melakukan penulisan naskah dan disertai dengan janji, naskah yang terpilih akan didorong menjadi pementasan (sebagai produksi). Memang, proses yang panjang  itu memerlukan dana yang tak sedikit. Teater bukanlah jenis kesenian yang mudah mendapatkan dana, dan karakter yang harus dihadapi adalah keengganan untuk mau belajar dan berbagi pengetahuan, apalagi jika sudah merasa senior. Dan memang, harus berani menulikan telinga, menjalankan proses penawaran pembelajaran semacam ini pun pastilah tak lepas dari rasa suka dan tidak suka. Gratis sekali pun, akan tetapsaja ada prasangka.

Kegiatan tahun 2004 itu- pada tahap tertentu- berhasil melahirkan satu buku naskah karya anak-anak muda remaja dan kemudian mereka pun berproduksi dan pentas di Taman Budaya Bali. Dan setelah itu, saya memutuskan untuk melihat dari jauh, apa sebenarnya dampak proses workshop itu untuk beberapa kawan muda. Sebagian memang terus berkarya diberbagai kesukaan mereka, sebagian akhirnya lenyap menjadikan workshop tahun 2004 itu hanya sebagai kenangan. Namun sejak tahun 2009 ketika saya kembali ke Bali setelah perjalanan keliling ke luar daerah, saya kembali mengamati; bahwa proses latihan teater tidak memberi perbandingan yang jauh dengan apa yang saya amati sebelum tahun 2002.  Namun saya memutuskan untuk lebih banyak menulis dan berkarya lebih individual dengan beberapa teman dan komunitas yang secara kenyamanan bisa membuat saya lebih nyaman. Dan saya hampir melupakan modul workshop teater saya itu, hingga tanpa sengaja ketika saya menonton launching album svara semestanya Ayu Laksmi di Jakarta, saya memutuskan untuk jalan-jalan ke Aceh.

Dan tahun ini, tahun 2015, saya digugah oleh sahabat saya, begitu tiba di Aceh, sahabat saya meminta saya mengenalkan teater melalui workshop, tentu saja saya harus menjelaskan lebih awal, sebelum menyanggupinya; workshop yang saya rancang untuk teater tidaklah berbentuk ceramah, namun proses kreatif; bahasa kerennya itu seperti orang punya motor pergi ke bengkel, sudah bisa naik motor tetapi harus distune-up mesinnya. Sebab saya percaya, semua orang walau tidak pernah berlatih teater sekalipun, namun pastilah pernah menonton seni pertunjukan; dari pentas tari sampai musik, bahkan pastilah pernah ditugaskan oleh gurunya baca puisi, bernyanyi atau membaca Pancasila disaat upacara bendera. Berdiri di depan banyak orang atau menonton adalah elemen pengalaman yang paling kuat untuk mempercayai; proses belajar itu sebenarnya tidaklah sulit, semua orang mempunyai potensi untuk 'berkeinginan' pentas. 

Itu sebabnya, saya percaya melalui workshop teater sebenarnya adalah kebersamaan dalam waktu-waktu untuk menggugah potensi dalam diri atau talenta yang tak terduga, yang sebenarnya tidak tersadari atau tersimpan oleh ketiadaan kesempatan.

Sejak lama, saya percaya naskah teater (lakon, drama) adalah alat belajar dan pembuka bagi proses belajar teater juga membuka wawasan latar belakang peristiwa dan karakter, riwayat penulis dan penulisan naskah teater selalu memberi pengetahuan yang mengejutkan. Untuk Workshop berjangka waktu 6 hari, naskah harus dipilih kategori naskah drama pendek. Naskah yang teruji selalu menyediakan petunjuk-petunjuk untuk berpentas. Saya memilih naskah untuk 'workshop teater adalah kita'  empat naskah yakni: Lawan Catur, Kereta Kencana, Salah Paham dan Pinangan. Keempatnya itu akan dibedah dengan terukur. Teknik membedah naskahnya akan mengalirkan dampak pengenalan mengenai stop and go, top-tail; ini memberi peluang menjelaskan apa perbandingan perintah dalam neben teks dengan kemudian arahan sutradara saat melatih naskah. Seringkali sutradara dalam komunitas remaja dipilih karena dianggap lebih rajin atau lebih berpengalaman pentas. Padahal, naskah adalah sutradara terbaik dalam berlatih teater dan secara bersama sebenarnya jika bedah naskah berlangsung dengan baik akan terjadi penyutradaraan secara alamiah.

Langkah pertama adalah mendorong seluruh peserta menjadi kelompok kecil, empat naskah ini tak memerlukan banyak pemain. Jadi, idealnya jumlah peserta yang ikut  workshop memang 20 orang, di bagi menjadi empat kelompok. Setiap kelompok mendapat satu jenis naskah; yang segera dibaca

dengan cara seluruh dialog dibaca bergiliran- secara terus menerus. Dari sini, agar tidak jenuh dikenalkan kemudian Olah Vokal, Olah Tubuh; jadi setiap hari, naskah ini dijadikan pegangan, mengenalkan latihan berbisik, latihan senyap atau uji volume suara. Setelah itu mengenalkan rancang blocking, semua pemain harus melakukan perancangan blocking, sebelumnya dikenalkan mengenai apa itu area panggung, bagaimana membagi area panggung besar, sedang dan kecil. Dari naskah yang terbaca, kemudian berselang-seling dengan upaya memindahkan ke dalam rancang blocking dari komposisi sampai pose;dst. Baru kemudian mengenalkan tata krama pemanggungan, gesture, timing, dll; semua itu mengalir dari naskah masing-masing. Rancang Blocking akan sangat membantu semua peserta membayangkan posisi dirinya, pergerakannya di panggung; kemunculan dan

kepergiannya dari panggung;  rancang blocking ini akan sangat membantu untuk membuat semua peserta tidak kebingungan; sebab ada peta dirinya saat membaca dialog. Rancang blocking sebenarnya draft yang kelak akan terevisi oleh perkembangan latihan. Jika telah final akan menjadi informasi bagi penata panggung, penata lampu; dll.

Modul disusun dengan cermat,  walau sebenarnya sangat fleksibel jika memang telah terbiasa dengan tradisi membaca naskah atau memiliki pengalaman memainkan beragam naskah, namun tiga hal seperti Olah tubuh, Olah Vokal dan Olah Rasa menjadi menu harian yang dikenalkan; variasinya sangat luas untuk hal ini. Jadi pembagian waktu; dan memahami kemampuan peserta sangat akan membantu lancarnya workshop; terbukanya kemungkinan untuk menginformasikan berbagai teknik; seperti teknik berimaji, teknik muncul, sehingga proses mengenalkan pemeranan akan mengalir alami,  sementara naskah terus menerus menjadi tumpuan dan tanpa disadari ketika diajak berdiskusi mengenai isi cerita, alur dan plot, semua peserta dalam jangka waktu tiga hari akan dapat menjadi teman diskusi yang asyik, tidak akan muncul pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan atau keluar jalur.

Dengan desain 6 hari workshop ini, walau dengan berbagai kemungkinan daya tahan peserta seperti gangguan barier psikologis, rasa enggan, merasa diri 'minder' ternyata akan diketahui tidak mampu tampil, menjadi salah satu kendala paling penting untuk diamati dan diatasi dengan pendekatan. Disiplin waktu kedatangan, istirahat harus diberlakukan ketat; dengan tujuan; pementasan di panggung memang tidak bis memaafkan ketidakdisiplinan.  Proses worskhop model ini mendorong semua peserta membangun kerjasama antar kelompoknya. 

Banyak yang bertanya, apa lalu pencapaiannya? Bahkan ketika saya meminta tolong beberapa teman untuk membantu proses workshop ini; tidaklah mudah menjelaskan bahwa workshop ini gratis  dan anak-anak ini setiap hari, dari jam 9 hingga jam 5 sore harus ada dalam proses pelatihan, dan anak-anak tidak semuanya orang mampu, pertanyaan mereka adalah:  apa out put-nya? Jika saya menjawab gagah; kalau mau revolusi mental, mulailah dengan mengubah stigma workshop-workshop itu dari ceramah sporadis menjadi pembelajaran praktek, maka pencapaiannya adalah minimal ketika hari terakhir, peserta siap melakukan  play reading; itu pertanda peserta sebenarnya telah siap pentas. Pertanda punya keterampilan public speaking, mengalami perubahan perilaku dalam mengelola kebersamaannya, sebab jika menjawab hanya dengan tujuan pelatihan teater secara murni, pastilah kerap seakan teater itutak ada gunanya dalam kehidupan ini. Padahal, pembelajaran teater tidaklah hanya untuk pertunjukan, pembelajaran teater justru memberi kesempatan untuk semua orang bercermin dengan kenyataan hidup disekitarnya, asalkan proses pembelajarannya itu berpihak kepada tahapan-tahapan yang sesuai kadar.

Kemudian mengenalkan manajamen, tata kelola pelatihan misalnya, sangatlah penting, ini bagian mengorganisasikan dari itu perencanaan pertemuan akan selalu bertujuan. Dari rancangan pelatihan akan diketahui kapan sebenarnya pemain misalnya dapat 'Lepas naskah' dan untuk drama pendek tidaklah memerlukan waktu yang panjang untuk hapal naskah dan lepas naskah. Dua minggu seharusnya pemain mulai memasuki tahap stop and go. Atau dicek dengantop and tail jika telah mulai melibatkan property dalam berlatih.

Pelatihan teater di sekolah misalnya, kerap mendapatkan pertanyaan dengan tanda tanya besar; sebab pelatihan hanya hidup jika akan ikut perlombaan. Padahal, jika basis naskah dan pelatihnya membuka wawasan seluas mungkin; proses berlatih teater ini akan menemukan relevansinya dengan banyak ilmu di sekolah; belum lagi nantinya elemen pendukung untuk pentas; dari manajemen produksi sampaipun tata panggung,

busana, dll.  Pelatihan teater berkemungkinan untuk terbuka bagi banyak pelatihan keterampilan dari menjahit, make-up sampai kelistrikan.

Itu sebabnya, saya agak enggan diminta memberi workshop teater, jika cuma sehari, apalagi setengah hari. Lebih baik tidak usah. Sebab citra pelatihan teater, workshop teater yang tidak disertai dengan kemauan untuk  berbagi pengetahuan ilmu praktek teater akan membuat pelatihan teater terkesan asal-asalan dan tanpa tujuan. Jika itu hanya untuk seolah-olah ada workshopteater, saran saya mungkin agak keras, sebaiknya tidak usah dilakukan.

Bagi saya, tahun ini keberuntungan buat saya, sebab sahabat saya Anisa di Aceh, telah mendapatkan dukungan lingkungan kampusnya ( Prodi Ilmu Komunikasi, Fisip Unsyiah- Banda Aceh) untuk menjalankan proses workshop teater yang cukup padat dan mengejutkan tentunya, karena suasananya memang akan berbeda dengan workshop-workhop yang biasanya terjadi.  Workshop teater adalah kita, tahun ini, memberi banyak perenungan bagi saya juga mendapat pengalaman tambahan dan yang tetap hanyalah bahwa kita semua memerlukan katalis untuk mengenali hidup ini. Proses pelatihan teater akan memberikan hal itu, apabila dibekali oleh semangat berbagi pengetahuan dan tentu adalah modalnya penuh sabar mendorong peserta mengikuti tahap-tahapannya. Sekian laporan saya dari daerah paling barat di nusantara ini. Semoga bermanfaat. (cok sawitri, musafir pencari gagal mencari batu)

Tumbal, Bunga Mawar Turun dari Kahyangan

catatan pementasan parade teater SOUND GARDEN- DENPASAR

TUMBAL DEWI COKEK;  kisah sedih di malam minggu, bunga mawar turun dari kahyangan
oleh. cok sawitri.

Tidaklah bisa disebut alkisah, apa yang dijadikan narasi dalam pentas 18 Januari 2014 di Sound Garden oleh Herlina Syarifudin tetapi itulah kenyataan-kenyataan getir, penuh linangan darah dan airmata yang kerap menimpa rakyat di negeri ini, kerap pula terlupakan buat dicatatkan dalam sejarah, terlupa pula sebagai kabar berita. Disitulah momentum ketika teater menjalankan kewajibannya; menyuarakan yang terbisukan, menerangkan yang digelapkan.

Pembantaian terhadap kelompok minoritas di berbagai pelosok wilayah negeri ini selalu terjadi dan (akan dipelihara untuk terjadi lagi dan lagi) dan selalu didorong alasan-alasan politik sempit dan ganas, selalu pasti memakan korban; kematian seorang gadis bernama Romlah misalnya, anak keturunan Tionghoa yang ketiban pulung dalam tradisi Cokek, bintang panggung; penari dan penyanyi di rumah kawinan seorang babah, menjadi kenyataan yang tak terbantahkan; negeri ini terlalu banyak memiliki halaman-halaman kisah berlinang darah dan airmata.

Melalui pentas yang menawan; satire dan bergaya lenong yang interaktif dengan penonton mengungkapkan  bagaimana tradisi gambang kromong di wilayah Batavia di masalalu, sejarah kelahiran seni pertunjukan di era kekuasaan Belanda oleh warga keturunan Tionghoa. Jenis kesenian ini sempat berjaya sebagai seni pentas elitis dan bergelimang uang, kemudian seni cokek ini dibrangus entah oleh siapa di awal kekuasaan orde baru.

Romlah, yang diyakini titisan Dewi Cokek serta  banyak orang lainnya, yang tak bersalah telah terimbas keganasan kekuasaan dan membenamkan begitu banyak kenangan indah. Kini hanya meninggalkan jejak ingatan yang menyakitkan.

Herlina Syarifudin telah membangun naskah dan pola pemanggungan yang tumbuh dalam 14 kali pemanggungan, pematangan pentas dilakukannya dalam proses perjalanannya dari satu panggung ke panggung yang lainnya, menjadi perjalanan proses kreatif yang menarik dan menginspirasi. Pentas Tumbal Dewi Cokek malam itu dimulai dengan sapaan gaya khas seni pertunjukan tradisi Betawi; kisah pun dimulai dengan gambaran mengenai bagaimana tradisi cokek itu  di masa lampau; sang bintang, dewi cokek akan selalu ditemani beberapa gadis lainnya yang disebut wayang cokek.

Alunan lagu pantun ritual, yang kata-katanya sangat indah, unik dan menyentuh yang mendengar mengalir dengan kecanggungan yang mengundang senyum, kemudian dilanjutkan dengan musik ‘sayur’ untuk memberi peluang penonton ngibing. Interaksi yang dibangun ini memang terpola dan suasana terasa makin menyentuh hati, saat syair khas gambang kromong menggema memenuhi halaman SOUND GARDEN: bunga mawar turun dari kahyangan…sayang di sayang…dst

Herlina memiliki pengalaman yang cukup untuk mensiasati beban kisah yang berat, yang harus dibawakannya sepanjang satu setengah jam. Pada adegan razia oleh kelompok ormas yang telah dimaklumi akan mengatasnamakan demi kepentingan ‘religius’ penonton mulai dijebak untuk masuk dalam wilayah panggung tanpa batas.  Tawa akibat penonton yang didaulat menjadi ‘wakil’ penjaga kesucian dan menafikan kegiatan seni cokek hampir tak putus sepanjang setengah jam, dialog dadakan, kerikuhan dan suasana kagok menjadi cermin; betapa sebetul kecanggungan itu telah terjadi pada hubungan keberagaman di negeri ini, lalu  ketercenungan silih berganti bermunculan dalam pentas itu ketika Herlina mengisahkan  ketragisan pembantaian di komunitas seni cokek itu.

Herlina berupaya untuk menjaga beberapa ciri gestur dari tradisi tua seni cokek seperti gerakan tarian; lalu menjaga kekhasan ‘cengkok’ saat menyanyikan lagu-lagu  gambang kromong versi cokek, sangat terasa ‘jeda’ pembedanya dan walau memang  akan banyak varian ‘style’ gambang kromong di wilayah Batavia kala itu, terutama dalam masalah dialek dan idiolek, malam itu pertunjukan Tumbal Dewi Cokek menjadi permenungan yang membuat semua orang terkesima, bahwa kekayaan seni tradisi di seluruh nusantara itu begitu banyaknya, begitu rupa terlupakan dan apalagi jika diberangus dengan kekerasan, maka keberadaannya pun seakan ‘tak pernah ada’.

Maka Herlina harus cukup cermat untuk tidak terjebak pada gaya lenong pop, yang sempat menjadi trend di wilayah audio visual ditahun 90-an, harus hati-hati masuk dan keluar dalam jebakan lawakan yang memang akan menyeret ke luar alur dan plot kisah menjelaskan kegetiran dan kesakitan dibalik warna-warni selendang dan busana sang Dewi Cokek. Kegamangan Herlina hanyalah satu, yakni eksploarasi naskah yang nampaknya belum tuntas dan improvisasi yang kadang membenamkan narasi penting mengenai ketragisan nasib komunitas cokek.


Namun malam itu, Sound Garden di bawah pimpinan Gung Anom, membukukan kurikulum programnya Tumbal Dewi Cokek  sebagai pentas ketiga (triwulanan) parade teater Indonesia, dengan warna-warna pementasan yang berbeda. Kelegaan lainnya, penonton teater di seputar Denpasar kini telah tahu, Sound Garden sebagai salah satu tempat untuk menonton teater yang mengasyikan.  Malam itu, di bayangi mendung tebal bergayut di langit kota Denpasar, halaman SOUND GARDEN dipenuhi  penonton dari berbagai kalangan;  penuh gelak tawa bercampur lecutan pedih untuk memasuki perenungan; bahwa komunitas seni di negeri ini, kerap menjadi sasaran keganasan peralihan kekuasaan, dan bahkan kini pun masih berlangsung  oleh kepentingan kelompok-kelompok yang mengatasnamakan keyakinan tertentu, kerap melakukan pelarangan dan pembubaran bahkan disertai kekerasan,  hasilnya seperti biasa adalah linangan darah dan ingatan yang getir, lalu ekspresi itu pelahan dimatikan, kemunafikan pun disuburkan disemua lini.

(sound garden, denpasar, 2014)

EKS-PERI-MENTAL NANOQ : PENTAS DIKUJUR TUBUH, INSTAL TANPA KONEKSI


Catatan pentas Parade Teater Indonesia-Sound Garden

Hampir dipastikan penonton pasrah menerima pementasan Nanoq  Da Kansas untuk memasuki situasi yang diperlukan yakni; situasi mau tak mau harus memilah dan memutuskan, bertanya dalam hati atau mengerutkan kening.  Pentas Rek-lama-si(h)  diawali oleh pidato Nanoq yang tentu berupaya keras tidak dimasukan dalam kaitan keutuhan pentas, tetapi dalam teater instalatif apapun yang terinstal dalam panggung; itu bagian pementasan. Nanoq bercerita berusaha untuk tidak naratif, berusaha untuk sedemikian hingga terganggu oleh lalu lalang para pemain yang usianya masih muda-muda, generasi kelima dalam Komunitas Bali Eksperimental Teater yang tahun ini berusia duapuluh, generasi  yang ada dalam era-teknologi dan globalisasi; yang telah terbiasa menjadi penyampah; gerenasi yang rajin membeli dan rajin membuang; pabrik sampah itu adalah setiap orang, tidak siapa, kita semua.

Nanoq tidak akan membiarkan narasi pidatonya itu menjadi narasi menjelaskan kemana kisah akan bergulir; dan inilah bagian paling menarik dalam pentas ini, yakni  bagaimana narasi dalam pentas itu dihindari namun kisah itu harus terjalin. Instal selanjutnya adalah dua anak remaja mengusung bendera merah putih diantara tali, baskom penuh cat putih, gelayutan kardus, karung, baju seragam hansip; mengucapkan kalimat yang sebenarnya kalimat kesukaan Nanoq; ‘dikujur tubuhku’…..kalimat ini juga ditemukan dalam pentas Nanoq dengan  judul yang berbeda, begitu pula aksi menyiram tubuh, memandikan diri dipanggung; sesuatu yang paling 'dikhaskan' oleh BET.

Namun kali ini digunakan untuk menjadi motiv menggerakan proses pembentukan symbol dari awalan sebuah lagu wajib dari radio kecil, pidato yang seharusnya aneh, kemudian manusia sebagai pabrik sampah dalam abad kemodernannya, dan merah putih yang berupaya tegak dalam upacara yang  selalu kosong; kami bangsa udang…..(otak udang adalah perlambang kebodohan)…kemudian kami bangsa tempe…..dan kebiasaan mengenang kepada pahlawan, kekagumam kepada hero, terasa tepat diinstal dalam suara sumbang.

Penginstalan, meminjam istilah dalam ilmu tukang, dalam ilmusosial berusaha ditandingkan dengan ‘doktrin’ dalam dunia tanaman; cangkokan.Dalam bahasa produk massal; instan! Nanoq berupaya memberikan gugahan mengenai penimbunan sumpah serapah; kebauran, jungkar jungkir, serta ketidakjelasanberbagai komunikasi; sesakral apapun dalam hubungan kemanusiaan, kini komunikasi adalah sebatas ucapan; gerakan mulut.

Selebihnya, pentas malam itu, 14 December 2013, pentas kedua dalam parade teater Indonesia di Sound Garden Denpasar Bali; menjelaskan mengenai jebakan kepada semua pemain mengira ‘pentas’ yang seolah tak peduli dialog, tak peduli gestur….dst; justru yang diperlukan Nanoq adalah para pemain  yang memiliki kemampuan melewati rata-rata kebutuhan normal pementasan teater.Jika tak maka pentas instalatif ini tak akan menginstal tanpa koneksi istilah listriknya; konsleting; terutama kepada penonton; untuk berhak memilah, memilih dan mendebatkan gagasan itul;sebagaimana layaknya tujuan dari hampir semua pentas teater instalatif;penonton tahu dan berjarak, gagasan, ide, symbol…akan terpilah sepanjang durasi yang berupaya menginstalisaikan berbagai perenungan itu. Ruwet ataukah tidak tulisann ini, ini adalah tatakrama dalam menonton instalasi, namun setidaknya warna teater di Bali sungguh masih penuh pukau, setidaknya sepanjang durasi 55 menit.

(by. cok sawitri, agar tak putus semangat menulis soal teater, sebab menulis soal teater itu selalu semangatnya musiman….)

Petikan Naskah Pentas Drama Tari Candra Bherawa ( Pertaruhan Nyawa)


Ditengah panggung diletakkan level kecil; kelir besar dipajang sebelah kanan-kiri panggung belakang. Musik terdengar bergemuruh. Pasukan Hastinapura tengah memasuki lapangan pertempuran; dari jauh nampak gagah dan percaya diri, teratur dan nampak siap berperang:
Surya candra
Sanghyang siwa budha
Tungtung langit nenuek patala
Bedha abedha
Sang Sangkara kangri
Sakyamuni ri maharemu….dst
(tembang dinyanyikan)

SINOPSIS CANDRA BHERAWA - BAKAL KISAH PENTAS BHUMI BAJRA DITANGGAL 23 JULI


SINOPSIS CANDRA BHERAWA
BAKAL KISAH PENTAS BHUMI BAJRA DITANGGAL 23 JULI


    Di suatu masa, ketika perang keluarga kuru telah usai. Dharmawangsa dengan keempat saudaranya memimpin Hastinapura didampingi oleh Sang Kresna. Mereka tak hanya harus membangun kembali Negara yang porak poranda akibat perang, namun juga rasa pedih sebab kematian-kematian akibat perang tak hanya terjadi pada keluarga mereka sendiri, seluruh wilayah Hastina mengalami rasa gamang sebab perang besar di kurusetra telah merampas begitu banyak usia dan melenyapkan semua rasa nyaman di hati semua rakyat. Hampir semua keluarga pastilah mengalami kehilangan saudara lelaki, ayah ataukah sepupu, sahabat ataukah kawan bermain.

Monolog Bahaya Racun Tembakau

DI NEGERI DIMANA hamba dibesarkan dengan EMOSIONAL DAN GUGUP setiap kali berurusan dengan kata moral dan surga....negeri dimana semua himbauan itu diuji dengan cobaan kecil, yang kemudian menunjukan hamba harus menjadi pencuriga; dilarang ini, dilarang itu: paranoid itu juga merembet kemana-mana....termasuk kepada asap rokok, pada SI... NIKOTIN: yang juga ditemukan pada makanan sehari-hari lainnya: tomat, terung, cabai, teh....paprika, bahkan kentang....banyak sekali secara alamiah dan nyaman hamba memakan makanan-makanan yang dikatakan segar dan banyak vitamin itu, makanan yang mengandung nikotin itu lalu tidur dengan asap obat anti nyamuk....apakah kelak hamba juga akan bertemu kelompok organisasi yang emosional, yang mengatakan merokok itu, asapnya itu akan menghalangi jalan menuju surga?....sebab ada nikotinnya? nikotin itu dilaknatikah? hasyiiit....hamba pasti akan dikatakan tak beragama kelak jika sambil tersendak berkata....nikotin itu juga obat!...hasyittt.....

(Improvisasi, arja satu, monolog bahaya racun tembakau, nanti, tanggal 31 mei, bentara budaya bali)

Pentas Monolog Cok Sawitri - 31 Mei 2011


MOHON perhatian! MOHON perhatian! kaum perokok dan pecinta tembakau meminta perhatian pada tanggal 31 Mei.......

Teater Bali: Di Era NARAMANGSA - Manusia Memakan Kemanusiaannya (bag.IV)


Mengadaptasi Pola Dasar Pelatihan Teater Tradisi

Bagaimana mengadaptasi pola dasar pelatihan seni pertunjukan tradisi  Bali ke tradisi teater modern; yang hingga kini belum memiliki tradisinya sendiri (?)---Hampir dipastikan hingga kini, bahwa pola pelatihan dasar-dasar teater modern belum memiliki koridornya walau semua paham; bahwa diperlukan pelatihan secara serius dan disiplin kepada para calon aktor atau para pemain drama ini sebelum dinobatkan sebagai pemain teater. Dalam tradisi teater modern selalu terjadi seolah-olah jika telah melakukan olah vokal, olah tubuh, dst (sekedarnya): maka seseorang akan dinyatakan siap memasuki proses pementasan di bawah kepemimpinan seorang sutradara.

Teater Bali: Di Era NARAMANGSA - Manusia Memakan Kemanusiaannya (bag.III): "Membandingkan Monolog Dengan Topeg Pajeg"


"Membandingkan Monolog Dengan Topeg Pajeg"
By. Cok sawitri

Seni pertunjukan Topeng Bali  memiliki tempat yang khusus; tak semata sebagai seni pertunjukan, yang menghibur, namun juga seni topeng ini menjadi bagian dari perlengkapan upacara agama. Dalam tradisi seni topeng Bali dikenal Topeng Panca dan Prembon, yang biasanya ditujukan sebagai seni hiburan; kemudian Topeng Pajeg; yang salah satu pemerannya akan menjadi bagian pelengkap penyempurnaan upacara yakni pada peran Topeng Dalem Sidhakarya.

Teater Bali: Di Era NARAMANGSA - Manusia Memakan Kemanusiaannya (bag.II)


lanjutan dari : Teater Bali, di Era Manusia Memangsa Kemanusiaannya (Bag.I)

Teater Bali atau dalam bahasa yang karib; seni pertunjukan; disebut demikian dalam rangka membedakan dengan jenis dan bentuk seni lainnya; disebabkan karena ada kisah dengan pemeranan; dari Topeng, Gambuh, Wayang Wong, Parwa, Arja, Drama gong, Sendratari; ini kelompok seni pertunjukan yang masih hidup di Bali hingga kini, yang merupakan warisan masa lampau dari rentang masa tahun yang berbeda-beda; yang tetap akan memberi gambaran jelas tentang panggung (stage), penonton dan proses kreatifnya. Selalu pijakan itu akan dimulai dengan pemahaman desa, kala, patra.

Teater Bali: Di Era NARAMANGSA - Manusia Memakan Kemanusiaannya (bag.I)


Di Bali, sejak tahun Caka 818, teater atau drama telah ada. Tidak sebatas sebagai kegiatan pengisi waktu, namun ditempatkan sebagai profesi, yang mendapatkan perlindungan hukum dari penguasa. Juga drama atau teater telah terorganisir sebagai kelompok yang menerima upah serta diduga telah memiliki tradisi kurasi yang berdasarkan track record dan proses kreatif- pengalaman pentas di depan penonton dan penguasa.

MONO-LOG : MARAK’US

(hanya cuplikan)

MALAM HAMPIR PUKUL KE JARUM 10. BERDEGUM-DEGUM MUSIK, BERBINAR-BINAR MENYILAUKAN LAMPU-LAMPU YANG GENIT MENAWARKAN WARNA-WARNINYA. ANEH. TIDAK ADA AROMA MINUMAN KERAS, TAPI JUSTRU AROMA HARUM PARFUM MERUAK. GADIS-GADIS MEMAKAI DRESS KETAT, MEMPERLIHATKAN BAHUNYA, LELAKI LELAKI MEMAKAI CELANA YANG MENGEMBANG DI PANTAT AGAK MELOROT HINGGA PANTAT ITU KELIHATAN MENIPIS.

Sinopsis Novel Sutasoma


Novel ini diawali dengan kisah latar belakang Jayantaka, raja kerajaan Ratnakanda yang menyaksikan konflik dan carut marut keluarga kerajaan saat ayahnya masih menjadi raja. Berbagai ambisi terbuka akan kekuasaan dan jabatan, juga persaingan terselubung, politik istana yang saling tarik menarik menyebabkan Ratnakanda pelahan berada diambang kehilangan kedaulatan. Kesadaran untuk membenahi kerajaan yang dilakukan raja Ratnakanda justru mendapatkan perlawanan dari kerabat keluarga, hingga timbul kerusuhan yang tidak hanya mengorbankan nyawa tetapi juga hubungan persaudaraan. Jayantaka dinobatkan di masa perkabungan, dalam usia 16 tahun, yang secara keras dipersiapkan oleh ayahnya menjadi raja dengan tugas utama mengembalikan kedaulatan Ratnakanda. Jayantaka lalu menetapkan dharma negara dan dharma agama, yang didorong oleh kaulnya kepada Sang Hyang Kala, yakni perjanjian akan mempersembahkan 100 kepala raja, yang menyebabkan banyak negeri menjadi resah saat menyadari Jayantaka benar-benar memenuhi kaulnya juga tanpa kompromi menerapkan dharma agama yang diyakininya yakni agama siwa. Karena tak cuma menaklukan wilayah juga menawarkan penerapan dharma agama yang diyakini, Jayantaka digelari Sang Porusadha, sang pelahap kepala raja.