Apakah sampai atau selesai ketika menyadari : keresahan hidup itu adalah biaya biaya makan, minum dan lain lain. Atau itulah kemalangan ketika bertaruh hanya untuk itukah hidup? Mengagungkan kemuliaan lahir itu?'
Gelora itu hilang dari dadaku. Menipis seperti asap rokok yang terhembus angin. Aku tak lagi bangun pagi dan mengisi siang menuju malam untuk pikiran pikiran dan ingatan-ingatan apa saja itu. Tidak juga kutempatkan sebagai remeh temeh. Aku mulai memahami sekaligus tak mau paham. Aku melihat diriku diantara banyak orang. Aku bercakap ringan kadang berdiam. Aku tak banyak lagi memperhatikan orang orang dengan perasaan menilai. Juga aku melihat diriku untuk ada sesekali pada keriuhan kelelahan, keinginaan keinginan kabur, yang belum terdefenisikan. Aku memasukan hpku ke ransel. Hanya sesekali melihat apakah ada pesan masuk. Lalu tanpa beban membiarkannya dalam ransel seharian.
Aku mulai terbiasa. Membiasakan diri pada keadaanku. Bukan. Tapi aku merasa terlalu ringan. Aku melihat saat berjalan menuju jalan bebatuan itu. Ya. Sebentar lagi ada yang menyapa. Aku juga tahu saat melangkah akan muncul perasaan. Apakah benar jalan ini akan membawaku ke tempat pertemuan. Aku melihat diriku bertanya. Aku tersenyum. Aku dapat dengan ringan bertanya: benarkah jalan ini menuju arah tempat pertemuan?
Apa sebutannya? Prediksi? Bukan. Aku melihat beberapa menit ataukah peristiwa ke depan dari waktuku saat itu (?) Aku tersenyum pada orang orang yang menerka nerka akan kehadiranku. Aku berusaha menenangkannya. Bahkan mencegah agar dia merasa telah memancing kekesalanku. Ini lucu. Kadang sangat lucu. Kusebut itu mimpi. Ya. Bagaimana dirimu: merasakan sekelilingmu dengan tanpa melihat (?) Ya. Dirimu di situ. Ada yang misalnya yang tiba hanya dengan tujuan bekerja. Ada karena merasa ini bagian dari kesempatan untuk melapiskan ingatan baik. Tapi rata rata mereka datang sebagai seseorang yang menjalani hidup dengan menuju sampai atau selesai (?) Usia bukan perkara. Beberapa tengah hendak mencari. Ada yang tak tahu kenapa ada di sini. Di sini. Aku hampir tertawa. Mimpi. Mimpi itu. Aku tahu. Aku tak tengah lelap.
Ya. Aku tahu. Banyak mungkin yang merasa. Kenapa dia berbeda dari cerita cerita orang tentang dia (?) Aku juga tak merasa berubah. Aku hanya merasa kini mau menerima : apa melihat diriku itu sesuatu. Bukan dicermin. Aku merasakan desau orang orang berkeliaran di sekelilingku. Aku merasakan juga beberapa menanti reaksi fatalku. Aku tersenyum. Kerikuhan dan kekikukan. Kelelahan tubuh itu jauh lebih ringan. Dibandingkan. Kau mengira tengah memuliakan hidup dengan mengerjakan sesuatu pun menjaga kesantunan. Aku menghindari menjenguk kelebat kerisauan kerisauan orang orang. Waktu kadang membuat orang melupakan dirinya. Ketika mereka mengira tengah mengerjakan sesuatu.
Mimpi itu. Tak lagi membuatku risau. Atau bertanya. Aku hanya tahu. Ini telah lama terjadi. Sering kuhindari untuk memahami. Sering kuasingkan. Sebab aku tahu. Tak mungkin akan berkata: aku akan disana. Juga aku tahu seperti apa. Hah! Itu mimpi. Bunga bunga tidurku.
(Draft Mimpi 3- by cok.sawitri).


No comments:
Post a Comment