Showing posts with label Siwa Gama. Show all posts
Showing posts with label Siwa Gama. Show all posts

Makaula Guru - Siwa Gama (BAG. 5)

Ketika film Mahadev ditayangkan di televisi. Banyak kawan yang saya kenal, menjadi penggemarnya. Banyak pula yang bertanya-tanya dalam hati, seperti itukah kisahnya Siwa (?) Bahkan kemudian beberapa kawan memasang potret-potret, lalu mengira itulah ‘rupa dan wajah’  dari hakekat. Bahkan beberapa diantaranya meniru-niru pola kostumnya, make-up: megoreskan cendana didahinya, mengalungkan kalung dan trend kemudian gelang-gelang dengan iming-iming 'tameng suci' dll. Sungguhlah berbeda jika belajar Ma-kaula guru ini dalam tradisi Siwa Gama. Bagian sargah yang akan memaparkan bagaimana ‘runutan’ kejadian penciptaan semesta itu akan menegur mereka yang menjadikan gambar dan khayalan kisah sebagai tindakan keseharian.

Tatwa-widhi (widhitatwa), begitu dinamakan, tatwa-mahasunya, itu juga namanya, tak terbayangkan. Pada bagian Raja Pranaraga (nama ini sesungguhnya juga nama hakekat), mempertanyakan tentang: kimpunah devamapnoti, catur lokapala jneyah, ghandarva vidhyadharasca, prassadhascaiva ucyate, kalimat ini adalah pertanyaan, walau dituliskan dan diucapkan dalam bahasa sansekerta, artinya begini ; dari manakah asal usul Sanghyang Catur Lokapala, Gandarwa, Kinnara dan Widyara? Itu sebabnya orang bali menggunakan gugon tuwon, tapi janganlah mudah idepan (janganlah mudah percaya)—sebab beberapa kawan mengira, asal dituliskan dan diucapkan dalam bahasa sansekerta itu mantra! Sehingga ‘mensucikannya’. Karena itu dalam Ma-kaula guru, prinsipnya adalah : harus bertanya kembali ke gaman (pegangannya) sendiri. Perhatikan kemudian bagaimana ketika Sanghyang Brahma selesai menciptakan alam semesta, dikisahkan dia segera melakukan Yoga, memusatkan batin kepada Sang Hyang Adisuksma, dia Sang Hyang Triwindu merupakan badan rahasia. Dari proses Yoga itu; muncul dari batin kehalusan (yang supra halus): sabda tan matra, itu yang sering dipanggil Sang Hyang Druwa. Lalu dari bayangan benih rupa, ini yang disebut rupa tan matra, ini dipanggil Sang Hyang Agni Dewa. Lalu dari lubuk batinnya muncul pradananya, Bhatari Uma sebutannya. Muncul dari yoga itu, dewi Prasuti dan Dewi Asiksiki. Dari batin purusanya lahir Sang Hyang Dharma, diberi tugas sebagai dewanya siang. Dari posisi Brahmayoganya, maka lahir pula Sanghyang Prajapati. Agar memudahkan mereka semua yang sebenarnya ‘tak terbayangkan’ dibayangkan sebagai putra dan putri dari ciptaan. Sama seperti bagaimana Sang Hyang Adi Suksma menyebut catur dewata ataukah saat menyebut Pratanjala dan Uma; sebagai putra-putrinya.Tetapi harus ini cara menjembatani keterbatasan manusia itu sendiri.Dari awal telah dikatakan; Sang Hyang Adi Suksma itu tak berwujud, tak berkelamin....serba tak, juga serba dapat; tanpa tangan pun dapat menjangkau, tanpa telinga dapat mendengar...betapa tidak mudah jika proses belajar ini dengan saklek seperti yang ‘sesungguhnya’ hakekat itu.

Perhatikan bagaimana dan dimana, lalu apa sebenarnya mereka yang dipuja itu. Lalu jika dilanjutkan bahwa dalam yoga Sang Hyang Brahma itu memusatkan batinnya ke Sang Hyang Adi Suksma,dalam antara-antara purusa dan pradana, muncul bayangan yang digerakkan oleh pranabayu (tenaga nafas kehidupan), terjadi dalam pertemuan air api, kejadiannya demikian dahsyat, meneggetarkan maka lahirlah Sanghyang Metrujala. Karena itu dalam keseharian orang membayangkan kelahiran dan kematian tak ubahnya membayangkan Kala Mertyu, begitu menggetarkan dan menciutkan hati, sebab keduanya digerakan oleh tenaga kehidupan yang kekuatannya tak tertandingi. Tak ada yang bisa mencegah kelahiran, begitu pula kematian. Tak cuma itu saja yang tercipta dalam Yoga Batara Brahma kepada Hyang Widhi, lahir kemudian bagi dunia fana yang dikenal dengan nama Dewi Tri Purusa; Dewi Saraswati, Dewi Sri dan Dewi Sadhana. Dari penciuman (ganda tan matra) dalam yoga agung itu muncul Bhatari Bumi, dari batinnya lahir Sanghyang Sanatkumara. Perhatikan baik-baik bagaimana cara Siwa Gama, sebagai dasar memahami ‘Widi” dan “Sunya”. Kemudian ketika Wisnuyoga menghadap batinnya kepada Hyang Widi; lahirlah Sang Budha, Sang Bala, Sanghyang swayambhumanu...dst, jumlah empat belas, semuanya lelaki. Lalu dari Iswarayoga; lahirlah Sang Kasyapa, Sang Balikilya, Sang Merdu. Sang Tumburu, Sang Kapila. Sebab semua memusatkan yoganya kepada Hyang Widhi maka dari Paramanirbhawa (nirwana tertinggi) lahir barisan ini Sang Pitra, Sang Marici, Sang Bhregu,Sang anggira, Sang Pulasti, Sang Pulaha, Sang Kretu, Sang Dhaksa, Sang Atri, Sang Garga, Sang wasista, Sang Nilalohita. Semua itu adalah maharesi surgawi.

Dalam Ma-kaula guru ini bila berpegang kepada Siwa Gama, perhatikan Daksa paranem akhyatam, jadi ciptaan Brahmayoga itu bernama Sang Prasuti dan Sang Asiksiki dikawinkan dengan Sang Daksa yang tercipta dari Iswarayoga.Tidaklah sama seperti membayangkan perkawinan antar manusia, dengan tubuhnya ini; mereka itu sesungguhnya berbadan mulia;inilah yang biasanya lama sekali menjadi bagian perenungan, perdebatan,agar jangan jatuh dalam langgam mudah idepan. Inilah juga menjadi tanda pembeda Hindu Bali dengan Hindu di India. Tak akan ditemukan nama-nama dalam di pura ataukah merajan orang bali: gambar atukah lukisan ‘merupakan’ wajah-wajah itu. Bahkan kisah Sang Daksa, yang kelak nantinya menjadi ‘pembayangan’ yang paling dekat dalam batas memahami elemen-elemen kesemestaan dari berbagai unsur yang bermuara kepada sabda tan matra, rupa tan matra, dan ganda tan matra. Itu sebabnya, Siwa Gama ini begitu berat dipelajari kecuali dengan cara Ma-Kaula Guru itu. Jika dipelajari dengan harfiah, jatuhnya akan kepada khayalan-khayalan, mengira itu dongeng. Padahal, bagaimana Hindu Bali memberi kesantunan pikiran untuk memahami awal mula penciptaan itu, memberi dasar-dasar keyakinan bagaimana lapisan-lapisan supra-misteri yang harus pelahan dipahami, tidak mudah idepan, itu kata orang tua bila menasehati bila ada anak-anaknya tiba merasa tahu akan betara-betaranya. Sebab kemampuan filologi dan idiomatika, sangat diperlukan untuk perlahan-lahan memahami bagaimana perilaku spiritual itu dalam Hindu Bali, bagaimana tubuh religius yang hadir dalam upacara-upacara, dan bagaimana bait suci weda itu yang dipilih bagi kehidupankeseharian, agar seperti yang telah disampaikan; jika tak tahu yang disembah,pastilah ucapan doamu juga tak sampai. Jika tak tahu menyembah, pastilah takada yang disembah. Sembah ini sebenarnyaa kunci pembeda Hindu Bali dengan Hindu lainnya di dunia ini.

(BERSAMBUNG- mulai letih pikiran ini, semoga dicerahkan hati)

Makaula Guru - Siwa Gama (BAG. 4)

"Prashivena viramanti"

Ling bhupati, kadyangapa marmanya, maka nimitta Bhatara Siwa sinembah de nikang dewata kabeh, denyan akweh para dewata, padha mahottama angganira, padha wnang paran ing sembah, pinaka pangupadyayan.

Bukankah kini sering yang tak lagi belajar Gama Bali itu, mempertanyakan mengapa Batara Siwa dipuja oleh semua dewata padahal banyak para dewata pada mulia tubuhnya, pada pantas dijadikana sasaran sembah, dijadikan guru?—pertanyaan itu, disampikan juga oleh Raja Pranaraga, mewakili kekinian. Menjelaskan secara lembut, Hindu Bali memang garis sivaitnya adalah Siwa Sidhanta, Budhanya adalah Wajrayana, dan ada juga Waisnawa Bali, ketiganya akan hadir dalam upacara besar sebagai yang bertugas; memohon tirta tri sadaka. Ini adalah bersatunya kekuatan tiga mantra tersuci; yang dalam keyakinan Hindu Bali akan menjadi ‘penghubung’ antara bhuwana agung dan bhuwana alit.

Dalam Ma-kaula Guru, jika muncul pertanyaan seperti ini, maka dijawab dengan mengulang kisah awalan terciptanya semesta; Dahulu, pada mulanya, ketika disebut sebagai Sang Hyang Acintya, yang menyuruh empat putranya (ciptaannya) yang pertama, yakni menciptakan dunia di empat penjuru. Keempat putranya itu menolak, bahkan mempertanyakan:  mereka kemudian dikutuk, lenyap ke caturdasamanu. Ini pun ada penjelasnnya, bahwa ketika disebut Sanghyang Hanarawang, menciptakan bayu (kekuatan/nafas) sebanyak 30 jenis, beserta namanya masing-masing. Yang paling awal diciptakan itu berjumlah 14 caturdasamanu, dibawahnya itu Sang Hyang Bayu, yang bungsu sebanyak enam belas; itulah merupakan jiwa alam semesta. Bayangkanlah lapisan-lapisan misteri itu, lapisan kekuatan nafas semesta ini.

Disebabkan empat putranya itu menolak, maka Sanghyang Adi Sukma metitahkan putra kembar buncing: Pratanjala dan Canting Kuning. Tak terbayangkan kegaibannya, kedua baru lahir dari penciptaan, menerima perintah penciptaan dunia. Keduanya bersedia dan diberi anugrah utama, seketika keduanya berubah menjadi ardhanareswari, yakni inilah awalnya dalam Hindu Bali disebut Uma-Pratanjala, Diciptakanlah laut serta danau, keduanya dipuja dengan sebutan Ganggasoma, Pratanjalan disebut Bhagawan Gangga.  Lalu sejak itu Bhatari Gangga diberi anugrah menjadi dewa laut dan dewa danau, dia juga adalah tempat air sucinya dunia. Setelah kejadian itu, barulah Catur dewata memohon maaf atas segala kelancangannya. Sebutan ketika kelembutan hati itulah disebut Batara Guru. Di Bali selalu ada namanya sajen Guru Piduka, tujuannya adalah memetik kelembutan hati Hyang Widi. Itulah awalnya mengapa Batara Siwa (Pratanjala) dipuja lebih dari yang lainnya, sebab bersama Uma, dialah yang menjalanka titah penciptaan.

Proses Ma-kaula Guru sebenarnya diakui meletihkan pikiran oleh Raja Pranaraga. Itu sebabnya harus disampaikan dengan banyak kisah. Namun tradisi ini adalah cara pendidikan yang sangat kritis, dialog-dialognya penuh gugahan, mempertanyakan, meragukan bahkan, ada bagian dari Sargah dalam Siwa Gama ini, disaat letih pikiran, maka dipertanyakan, kesucian Batara Surya, bahkan dengan terbuka diucapkan bahwa apakah mereka itu, tak lebih dari tiga bumi? Suryakanta, candrakanta dan manikanta, apakah mereka tidak lain hanyalah batu? Dahsyat sekali pertanyaan ini. Itu sebabnya, dijawab dengan hati-hati, lihatlah Agni, bukankah dia nampak memangsa segalanya? Namun sesungguhnya, hakikat dia, tidaklah kotor, ia tidak mengisi perut dan tubuhnya dengan mangsanya. Begitu Batara Surya, dia memang bertubuh matahari, namun bukan dia yang engkau puja. Sebab hakikatnya, yang menjadi saksi, menjadi pembersih duka lara adalah Hyang Widhi, dalam mata dunia, keduanya itu hanyalah sinar yang membakar.

Dari sargah inilah maka sebutan Batara Guru akan muncul, dari bagian inilah akan lahir tradisi kependetaan di Bali. Tradisi melukat. Makaula Guru ini dasarnya adalah keyakinan, Ma-gama itutidaklah untuk dihitung dengan rasio, namun keyakinan. Proses pembelajarannya sungguhlah sangat meletihkan, itu sebabnya kadang-kadang disisihkan, tidak diajarkan secara utuh. Sebab saat mendengarkan penjelasannya, akan menggugah hati siapapun untuk bertanya secara kritis, namun jawabannya harus dengan sabar dipahami.

(BERSAMBUNG, kantun melajah)

Makaula Guru - Siwa Gama (BAG. 3)

Betapa sering gugupnya ditengah negara yang mematok definisi agama. Banyak anak muda Bali yang pergi merantau jauh dari pulaunya, mengalami kesulitan apabila disindir, apa yang kalian sembah? Bahkan beberapa kawan yang merasa telah dicerahkan, ikutan bertanya, mempertanyakan bagian terpenting dari Agama Hindu Bali itu: sembah. Dalam makaula guru, para orang tua di bali dengan gugon tuwon menjelaskan mengenai ‘hirarkie’ sembah kepada siapa ‘boleh’ bila itu sembah yang dilakukan disaat sama-sama hidup, pada pura mana atau bagian mana saja yang ‘boleh’ disembah. Atau sama sekali: tidak boleh. Kerap bagi yang tak mengertu tentang wahyadhyatmika ning sembah (pemujaan lahir batin) akan salah kaprah, terutama apabila ada kebaruan dalam hubungan kekeluargaan, yang satu merasa direndahkan, yang lain dianggap  terlalu arogan; disebabkan penjelasan mengenai soal sembah ini dilakukan dengan gugon tuwon: de, nak mule keto!

Raja Pranaraga, yang duduk di dekat kaki sang guru, mempertanyakan hal ini, mewakili kita yang memang di zaman ini merasa setara dan bebas memutuskan soal sembah. Maka Sang guru menjawab dengan gambaran bahwa itu disebabkan ada banyak cara pemujaan yang dilakukan oleh masyarakat karena ada catur loka pala, ada panca dewata, ada asta dewata, ada pitara, ada tanah, adaa langit, ada guru, bapak-ibu, lalu ada pura, meru, sanggah terutama laut, danau, bukankah bagi Hindu Bali, itu semua dipujanya?—Itulah yang membingungkan pikiran Raja Pranaraga, murid yang mewakili kebingungan kita.

Diingatkan dalam makaula guru ini, prinsip kehati-hatian untuk tidak terburu-buru, berprasangka, sebab berguru mengenai tatwa, tidak hanya kecerdasan dan ketekunan, namun juga kelapangan hati untuk menghadapi ketidaktahuan diri. Pendeta agung, Danghyang Asmaranatha memberi jawaban kepadaa kebingungan dengan,” sebabnya banyak yang menerima sembah, sebab satulah Dia yang disembah dengan yang menyembah.Jika tidak ada yang menyembah, maka tidak ada yang disembah. Ida Sang Hyang Widi, sang hita wakya, sebab sebenarnya antara Atma dengan Dewa (batara) itu tunggal. Sang Hyang Widi merupakan wujud alam semesta, siang dan malam membayanginya, senantiasa mengetahui baik buruknya dunia, segala mahluk hidup dan mati, semua tumbuh dari tubuh Hyang Widi, sebagai permainan dalam baik-buruknya kebenaran dan harta. Segala yang lebih mulia dan pantas dihormati. Segala yang lebih rendah sebagai sarana pantas menyembah. Itulah alatnya dharma. Keduanya itu, dianggap Sang Hyang Widi, karena sesungguhnya manusia yang hidup itu kotor (amat) dan penuh dosa. Jika kalian tidak menyembah Widi, kalian artinya tidak menyembah leluhur. Hanya saja ketika ia masih hidup, manusia dia, namun bila dia mati, jika suka berbantah-bantah soal ini, semoga ia dilahirkan kembali menjadi lintah, cacing, ular kecil, rayap, dll.

Perhatikan dengan hati-hati penjelasan di atas. Bagi orang Bali soal sembah kenapa para orang tua sangat ketat dan bahkan terkesan fanatik,sebab jika sembah tidak dalam keperluannya; maka itu menyembah kepada yang tiada menerima sembah. Maka diingatkan bahwa ada tata cara menyembah, bagaimana memahami pradana Hyang Widi di dalam diri, itu sering dalam bahasa para yogi disebut Dewi Nirjnani, tak peduli laki atau perempuan; semuanya memiliki dewi dalam dirinya; inilah dewanya kelepasan, yang bersemayam di tengah padma, dilautan madhu, berpayung padma angalayang. Itulah yang seharusnya menjadi Gama, yakni memahami yang ada dalam diri, sehingga memahami kemudian pradana itu, yang sesungguhnya dalam diri sebagai Hyang Kabuyutan. Dengan cara demikian,maka tata cara menyembah, aturan menyembah tidak akan membuat siapapun merasa tak nyaman: sebabnya dia tahu menyembah kepada apa.

Siwa Gama sebenarnya telah menyiapkan umat Hindu Bali untuk bertemu dengan keraguan masa depan akan keyakinannya sendiri. Pada Sargah ini, ditanyakan pula, siapa asta dewata itu? Mengapa ada dewi-dewinya? Lalu siapa Yamadhipa itu? ---Itu sebab orang tua di Bali, selalu menularkan pengetahuan ini dengan cerita, sebab jika cerita bagi anak-anak dan remaja, tidak akan menimbulkan protes dan ekspresi yang menegasi.  Mengenai Asta Dewata ini, selalu diceritakan dengan kisah bahwa dahulu kala, saat terbayangkan, bumi ini belum ada, belum ada kehidupan. Sang Hyang Adi Sukma murka dan kecewa kepada putra-putranya yang dikenal dengan sebutan Catur Dewata (bukan catur dewa!): catur dewata! Yaitu Sang Kusika, Sang Garga, Sang Maitri dan Sang Kurusya. Sebab keempat putranya itu adalah badan Hyang Widi, maka disebut pula catur cadhu sakti namun karena menolak titah Hyang widi, dikutuk dan jatuh menjadi catur bhuta. Dalam sekejap entah mengapa Hyang widi menciptakan kembali Catur Dewata. Ini yang biasanya disebut Siwareka. Sebab seperti terjadi duplikasi; nga-reka. Dari sinilah ajaran tatwa mreta lahir. Ajaran ini disambut oleh Pratanjala yang diciptakan kembar dampit dengan canting kuning. Maka sang catur dewata itu berubah akibat Pratanjala bergabung menjadi Pancasiwa, lalu Hyang widi menampakan dirinya kemudian dalam batinya Siwareka, melengkapi itulah; yang disebut astadewata. Memang tidak mudah untuk belajar mengenai tattwa Siwa Gama ini, bukan karena disembunyikan, bukan karena difanatikan oleh para guru, namun jika tidak hati-hati maka tersalahpahami. Perhatikan kemudian bahwa keempat Cadusakti itu, yang juga merupakan sabda gaib dari Hyang widi, yang disebabkan mempertanyakan perintah awal penciptaan semesta berubah menjadi penampakan yang menakutkan. Kisah-kisah dalam rumah tangga bali, pastilah akrab dengan nama-nama: Sang Jogormanik, Sang Yamapati, Sang Dorakala, dan Sang Citragopta.

Lalu dimana letaknya Weda? Selalu penganut Hindu di era ini, setelah merasa telah berjalan-jalan ke berbagai belahan dunia membutuhkan ayat suci untuk mendandani badan religiusnya sebagai penganut Hindu. Dalam Siwa Gama, maka salah satu ayat yang kini digunakan sebagai bagian ayat Tri Sandya; Om Ksmasvamam mahadevah, sarva prani hitangkarah, mam moca sarva papebyah, palayaswa sadasiwa, itu adalah ayat suci yang diucapkan oleh catur dewata ketika memohon ampun kepada Hyang widi, memohon atas segala kesalahan, ucapan ini datang dari dua dewata yang bungsu, lalu disusul oleh dua dewata lainnya: Om ksamasvamam jagatnatha, sarva papa nirantaram, mam mocca sarvapapebhyah, palayaswa sadasiwa. Itu sebabnya; mantram pemujaan kepada siwa terdiri atas dua permakluman. Bagi orang Hindu Bali kenapa tidak mau sembarang mengajarkan anak-anaknya mantram weda, disebabkan Siwa Gama, yakni jika tak tahu mengapa ayat suci itu diwahyukan, maka membaca ayat suci sama saja dengan cuma menggumamkan kata-kata. Inilah kaitan mengapa dalam Hindu Bali sembah dan mengucapkan weda itu selalu dengan sikap hati-hati, kesannya memilih dan tertutup. Tidak bisalah kemudian, karena trend mudahnya membeli kitab weda, membuat sembarang dapat membacanya. Bukan badan religi yang dikejar, tetapi sejatinya Ma-gama.
(BERSAMBUNG, kantun melajah, kirang langkung ampurayang)

Makaula Guru - Siwa Gama (BAG. 2)

Seseorang yang mengaku spiritualis, rajin latihan yoga, menggagas kursus meditasi dan yoga, bertanya dengan skeptis; dimana letaknya Weda dalam Hindu Bali (?) Sambil berseloroh hampir saya menjawab dengan isyarat tangan; telunjuk mengarah ke dalam dada. Tetapi tentu ini tidaklah akan menenangkan kegairahan hatinya yang tengah merasa mensucikan dirinya.--- Dalam Siwa Gama, Gama itu berarti pegangan, mendasari untuk menjalankan perilaku spiritual dan religiusitas. Telah dipercakapan dengan sangat indah. Bayangkanlah, ketika membaca: bait suci tentang catur asrama, penjelasannya, karena ‘beliau’ menguasai trikaya parisudha, yang dinamakan wiku catur, dia yang datang tanpa kereta,‘seseorang’ yang duduk diatas batu tunggal, ‘dia’ yang tanpa menikah, ‘dia’ yang menjadi pendeta sejak kanak-kanak, ia yang tahu melaksana suryasevana, yang mampu melakukan penyucian atas dirinya sendiri. Bayangkan, bagaimana caranya kemudian mencari padanan mengajarkan bait suci kepada penganut yang awam. Maka dalam bentuk dialog dipercakapan; tanya jawab, dimanakah dia itu tempatnya dalam diriku? Lalu dijawab: dalam tri kaya Parisudha. Yang manakah disebut Trikaya? –yakni pada Kayika (tindakan), wacika (ucapan), manacika (pikiran) yang dibersihkan dengan keluhuran budi.

Lalu siapakah yang menjadi saksi bagi orang berbudi luhur? Tentulah Sang Hyang Adisukma, karena dialah Ida Sang Hyang Widi yang menunggal dalam diri, dikeliling lingkaran tiga windu, yaitu pangkal, di tengah dan di ujung. Maka pertanyaan yang skeptis lalu dijawab mantram sucinya: Om om siwaya namah/ Om om sadasiwaya namah/ Om om Paramasiwaya namah.

Jadi, awalan Ma-gama dalam kaula guru dipengajaran Hindu Bali,berbeda dengan gaya-gaya dogma, yang dikenalkan adalah hakikat; perintah bait sucinya adalah; dia yang menyembah  keberadaan Sang Tripramana, Triguna,Triajnana, sebagai benih yang diciptakan Sang Hyang Widhi. Lalu pelahan diperkenalkan makna suara wyanjana, Om maksudnya purusa. Om artinya pradana. Perhatikan (maksud dengan arti). Cobalah kini, betapa banyak orang Bali menyebut dan mengutip mantram siwa ini, tetapi tidak dimulai dengan makaula guru. Padahal bait suci ini sungguhlah memiliki kedalaman hakikat. Jadi jika ditanya, dimana sih letak weda itu dalam Hindu Bali, maka mulai dijawab dengan penjelasan hakikat.  Om Om itu Samyoga, yakni Siwa, itu dinamakan penunggalan, bisa datang dan pergi. Di sini ditegaskan bahwa Om Siwa Ya Namah adalah permulaan sembah. Puncak mantranya adalah Hrang, ini dalam cara pengajarannya diyakinkan bahwa melekat dalam dirimu; jadi apabila melakukan sembah kepada Hyang Widhi, otomatis manunggal dalam diri,sedangkan penjelasan untuk Om Om Sadasiwa, ini disebutkan sebagai bagian Aksara suci yakni Sa bersatu dengan Aksara Da, danti ditimbulkan oleh aranga, ini yang disebut teknik mengucapkan dengan antaswara, dia yang manunggal dalam diri saat muspa, kemudian dalam ketaknyataan itu puncak mantranya Hring; ini berada jauh dalam diri, terbagian dalam, ini disebut abyantara.

Dapat dibayangkan mengapa para leluhur penganut Agama Hindu Bali ini saat mengajarkan, mewariskan bait-bait sucinya dengan pola asuh yang bijak,yang sesuai dengan kemampuan anak cucunya. Juga seperti telah memperkirakan bahwa kelak ketika zaman mengadu pengetahuan yang didapatkan manusia dengan keyakinan beragama, pasti akan mempertanyakan hal ini; banyak sekali aku mendengarkan doa ini, mantra ini, “Om Hrang Hring Sah Paramasiwa ditya ya namah”—ini adalah pertanyaan yang kritis sekali, bagaimana sebenarnya posisi Sang Hyang Surya dengan Siwa Ditya. Bahwa dalam kehidupan Hindu Bali tentulah dekat sekali dengan pemujaan kepada Surya Candra. Dalam tradisi pengasuhan di bali, ini tidak akan dijawab dengan membedahkan per kata dari bait suci, walau secara filologi bisa dijelaskan. Tetapi biasanya dalam tradisi Bali, para orang tua akan mencerita kisah tujuh dewa, disampaikan menjelang tidur oleh nenek atau kakeknya: dahulu kala ada Batara (cara orang bali menyebut dewa), batara Wrehaspati, Batara Soma, Batara Bhanu, Batara Budha, Batara Anggara dan Batara Saniscara menghadap Batara Siwa, menyampaikan permohonanannya, lalu Batara Siwa meanugrahkan kesaktian. Nah, setelah semua batara itu diberikan anugrah datanglah batara surya, batara siwa sangat sayang kepada batara surya, diberikan anugrah dapat melihat atma, disitu diberikan gelar Parama Siwaditya menyamai batara siwa; karena itu Batara surya menyebutkan Batara Siwa sebagai Batara Guru, juga mempersembahkan tempat di pantara sunya (kosong) itu awalnya para pengajar disebut guru dan pemujaan batara guru diberi tempat pengaskaraan yaitu suatu tempat kehormatan dalam upacara. Batara Siwa membalas dengan tambahan anugrah kepada batara surya sebagai saksi alam semesta, mengetahui baik-buruk perbuatan manusia dan persembahannya, besar atau kecil, batara surya semenjak itu disembah dalam semua kegiatan upacara.

Kitab suci Siwa Gama ini memang mewarisi tradisi upanisad, duduk dekat kaki sang guru, terjadi dialog-dialog yang kritis, tidak ada keraguan untuk menyampaikan keraguan, dalam bait suci sargah ini; Raja Pranaraga bahkan meminta menjelaskan ulang Sanghyang Acintya, Sanghyang Taya, Sanghyang Hanarawang. Disampaikan dengan pertanyaan tajam, apakah itu dewa-dewa yang berbeda-beda, kalau berbeda apa bedanya, kalau sama apa samanya? Sebab dimana-mana orang memuja, berdoa kepada Sang Hyang Acintya Taya, menyebutnya Sang Hyang Licin, yang ditanyakan adalah hakikatnya.

Bait-bait suci ini menjelaskan mengenai kejadian ketika Sanghyang adisuksma menciptakan Akasa sebagai jalan bayu,sabda, idep, ketika dalam pertemuan yoganya maka terciptalah akasa dalam keadaan tidak menentu, muncul bersama Sanghyang Tatwajnana, Sang Hyang Anu, yang merupakan orangtua batara bayu, sabda, idep; ingatlah dalam banyak nyanyian misalnya: bibi anu...lamun payu....begitulah caranya orang bali mengenalkan bagian dari mengapa kemudian ada sebutan Sang Hyang Hanarawang. Jadi gelar, sebutan itu dalam tradisi Agama Hindu Bali memiliki argumentasi spiritual dalam bait suci, untuk Sang Hyang Licin disebutkan itulah tujuan batin yang paling rahasia, dapat dimasuki oleh tatwajnana, keberadaannya dalam windu yang sepi, dicangkok oleh sinar rahasia, para yogi agung akan mengatakan itu tempat kekosongan tertinggi, yang melihat walau tak bermata, yang mencium walau tak berhidung, berkata walau tak bermulut, mendengar tanpa telinga, menjamah tanpa tangan, berjalan tanpa kaki, berkarsa tanpa hati. Dia tak berbadan. Alam semesta inilah badannya, dia tanpa ayah-ibu, dialah sang hyang licin, sedangkan untuk Sang Hyang Acintya itu adalah apabila Sang Hyang Adisukma keluar dari windu yang mengembang memberi anugrah kepada orang yang mengerti tatwajnana, dibayangkan sebagai orang kerdil: wewelan, tanpa cawat, tanpa alat kelamin; inilah pembayangan yang paling mudah dipahami oleh pemujanya yang awam. Sedang Sang Hyang Taya, dalam tradisi umat Hindu Bali inilah menjadi dwistasastra, suara yang datang dan pergi. Taya artinya juga niskala, dapat berwujud dan tak berwujud inilah hakikat sadasiwa, itulah juga kelak disebut Sang Hyang Titah, Sang Hyang Tunggal, itu hanya akan dapat dipahami ketika memahami kerjanya batin ketika melakukan sembahyang khusuk. Itu juga widhi, asal dan tujuan kembali.

Tradisi Kaula Guru ini memang tidak dilakukan seperti pengajaran di kelas-kelas, dilakukan dalam tradisi dialog yang pesertanya terbatas. Sebab apabila tidak demikian, ajaran tatwasiwa ini akan sulit dipahami, dari sargah ini pelahan akan dikenalkan mengenai banyak hal dari alasan penyebutan, mantra, upacara. Karena itu, disebut Gama. Bukan disebut Agama. (BERSAMBUNG, kantun malih malajah, kirang langkung ampurayang)

Makaula Guru - Siwa Gama (BAG. 1)

Banyak sekali yang kini bertanya, apakah Hindu Bali mempunyai kitab suci? Atau beberapa kawan penganut Hindu dalam langgam baru berseru: kita mesti back to weda (?) Seakan Agama Hindu Bali ini ‘tersesat’. Saya memilih tidak memperdebatkan, sebab ini adalah soal keyakinan. Bagaimana Agama Hindu Bali membangun bangunan spiritualitas, bagaimana membangun pola pengajarannya secara gugon tuwon. Salah satu Kitab yang disucikan dalam pengajaran Hindu Bali adalah Lontar Siwa Gama. Dalam keseharian sebenarnya isi ajaran ini melingkupi keseharian umat Hindu di Bali. Namun karena terbagi dalam 21  sargah, artinya akan bertahun-tahun memerlukan waktu memahaminya. Maka dahulu orang-orang mewarisikan pengetahuan Siwa Gama ini justru melalui masatua. Dipetik menjadi suntingan-suntingan kisah dengan segala improvisasi, sehingga dalam kisah-kisah yang seolah terpisah-pisah itu ajaran Gama Siwa diwariskan, dan dalam masatua itu, tidak disampaikan mantram-matram sucinya. Yang dituju adalah pemahaman untuk membangun perilaku. Jadi sasarannya adalah bangunan spiritualitas, bukan menjadi tubuh ‘religius’ dengan kefanatikan buta.

Dalam pelajaran-pelajaran Agama Hindu Bali di era tahun 50-an, dikenal apa itu tatwa, tata susila dan upacara. Tiga kerangka agama Hindu Bali ini sesungguhnya diambil dari kitab suci Siwa Gama. Bait-bait suci dalam Siwa Gama ini disampaikan dengan cara berkisah (tutur), jadi memerlukan waktu dan kesabaran untuk membacanya. Belajar agama, itu beda dengan melajah Gama! (perhatikan kalimat ini). Karena itu, di awal manuscript suci ini dimulai dengan pengajaran widhitatwa, polanya justru dalam bentuk dialog antara seorang pemimpin bernama Raja Pranaraga dengan pendeta istana bernama Bagawan Asmaranatha, dalam dialog diawalan inilah dituturkan mengenai tatwamahasunya; ini sebenarnya antisipasi jika umat Hindu Bali ditanya; apakah kalian monotheis? Apakah Pantheisme? Ataukah Animisme?  Dalam kitab suci ini; pernyataan suci dalam bahasa sansekerta dari kitab weda disampaikan: ekam ewa adwityam brahman, eko narayanad na dwityo’sti kascit, ekam sat wiprah bahuda wadanti. Bagaimana kemudian mengingatkan keterbatasan manusia yang terbatas dalam menggambarkan hakekat. Disebutkan kemudian, ini cara agama Hindu Bali menyebut tuhannya dengan berbagai nama: Sang Hyang Widhi, Sanghyang Adi Suksma, Sanghyang Titah, Sanghyang Anarawang, Sangyang Licin, Sanghyang Acintya, Sanghyang Taya dan Sanghyang Tunggal.

Tuhan disebut Ida Sang Hyang Widi, sebab Tuhan merupakan asal dan tujuan kembalinya alam semesta ini; dengan indah dituliskan seperti ini: Apa nimitta pwa sira ingaran Sang Hyang Widi, apa sira sangkan paran ing rat kabeh. Bahkan dalam dialog itu suci itu, sang raja yang mewakili ketidakyakinannya akan keyakinannya bahkan mempertanyakan: syapa sang sinanggah Widhi? Itulah dijawab dengan tenang oleh Bhagawan, sang guru: tan hyan sanghyang Adisukma. Pada bagian ini (sargah) menjelaskan keagungan tuhan itu, seolah menjawab semuaa pertanyaan kekinian, yang mengira Hindu Bali; berhala, kafir, dll, bahkan menjawab yang menyerukan agar keindia-indian. Jawabannya adalah: Tuhan dikala disebut Sanghyang Adisuksma karena tuhan maha gaib, adi artinya utama, suksma artinya tak nyata, tak berupa, tak berwajah. Dalam kemahagaiban itu justru mengarahkan, menuntun, itu yang disebut Sang Hyang Titah. Dengan cemerlang dituliskan seperti ini: asing lwih pinaka pangajyan ing rat kabeh, yatika denira sinanggah Sanghyang Titah. Seka ning sabda suksma sinanggah utama.

Dalam pola asuh orang Bali di masa lampau, maka dalam bagian ini biasanya akan dimulai dengan menceritakan mengenai penciptaan dunia; asal muasal kesemestaan. Bhuwana Agung itu;  Bahwa tidak ada yang tahu, di dunia ini, mengapa Sang Hyang Adisukma ingin menciptakan dunia; tak elok bagi siapapun untuk menerka-nerka. Yang dapat diketahui adalah ketia Hyang Adi Sukma ini beryoga; yoga pertama di bhuwana agung, tak terbayang dimana dan bagaimana rupa itu, itu disebut Ekaksana. Itu sebabnya manusia hingga akan melihat cahaya gemerlapan, tetapi pada awalnya ada cahaya gemerlapan yang lebih gemerlap; itulah yang disebut windhu, ini tanpa rupa, tanpa warna. Para pujangga konon memberi nama akan kerinduan melihat cahaya gemerlapan itu dalam semadhinya dengan sebutan Sang Hyang Meleng, sedang para Yogi Agung di Bali menyebutnya dengan Sanghyang Macongol, sedangkan kaum awam, yang masih dirangsuki hasrat kesakten; membayangkan sebagai anak kecil, super kecil, itu disebut wewelan. Awalan sargah ini memang mengenalkan widhitatwa dan ‘kasunyaan’; itu sebabnya tak terbayangkan, terjangkau oleh kedangkalan pengetahuan dan kemampuan manusia biasa. Dilanjutkan kemudian bahwa Sang Hyang Adiksukma melakukan Yoga kedua; ini disebut Rwangksana, saat itulah awalnya di bhuwana agung diciptakan atmatatwa dan mayatatwa, ini dalam bahasa gaulnya disebut purusa pradana, para yogi agung menyebutnya dengan itu atmatatwaatma, sedangkan kaki buyut, mereka yang awam menyebutnya: rama-rena.

Orang Bali dalam pengajarannya melalui tutur, melalui kisah, menyimpan ingatannya secara genetis dan perilaku, disebutkan saat Yoga ketiga: ini disebut tigaksana, ini yang kemudian dikenal dengan Tri Pramana; bayu (nafas) sabda (suara), idep (pikiran/ batin), tri purusa,tranyatah karana, trigunatatwa, dalam pengajaran yang lebih mendalam; ini disebut Sanghyang Triwindu, itu yang dinamakan Sakala-Niskala-Sunyata (nyata-tak nyata- kosong). Dalam tradisi pengasuhan ini juga disebut dapurtiga, namun sering dalam kaula siwa gama; ini yang dalam mata pelajaran (kalau boleh meminjam istilah masa kini): disebut Pradanatatwa. Dalam tradisi tutur, ini dianalogkan dengan bagaikan bayi dalam kandungan. Itulah kadang orang tua sering mengucapkan: kendeng! Yogi Agung akan menyebutnya itu Mahawindu, para pencari keagungan tuhan yang awam: menyebutnya sandyawela. Masih dalam kisah suci awal peciptaan disebutkan mengenai Yoga keempat disebut: patangksana, ini selalu akan menjadi cerita menarik dalam pengasuhan di Bali, yakni ketika diciptakan Sanghyang Catur Suksma dan Catur Bhuta: arah utara selatan timur barat; ini disebut sebagai Graha, dan para sastrawan menyebutnya Taranggana, yang awam menyebutnya ‘samar’.

Pada pengajaran Kaula Siwa Gama ini, memang tidak semerta mengenalkan mantram-mantram, yang dihapal atau diucapkan, seperti tata cara agama lain dalam mengenalkan keagamaannya melalui teks. Bait suci dalam Kaula Siwa gama ini justru sifatnya argumentatif, artinya ada dialog-dialog yang sangat kritis.

Baru dikisahkan kemudian bagaimana terciptanya Panca Tan matra, Panca mahabhuta dan Panca Wibhuta, ini kejadiannya pada Yoga kelima Sanghyang adisukma. Jadi dalam keyakinan siwa gama; penciptaan itu bersifat revolusioner; menderap, perubahannya itu daat seketika terjadi hingga tak disadari oleh manusia itu sendiri. Baru dalam Yoga keenam yang disebut Nemksana, bagian dalam pewarisannya diceritakan dengan dramatik kadangkala bahwa bagaimana disumbat bulan, bintang dan matahari, agar muncul bumi, lautan, dan dibayangkan awalannya itu dalam proses pemunculannya seperti akar raksasa yang menjulur, seperti gelombang ombak yang tak terbayangkan besarnya lalu merentang, melengkung, membanting-banting dirinya seperti pecahan-pecahan pelangi. Para sastrawan biasanya menyebutkan itu dengan kalimat yang menyerikan, antara takjub dan takut; itu disebut gana-gana, sebab tak terbayangkan besarnya, panjangnya, rupanya bagaikan telor raksasa yang tak terukur. Itu sebabnya awalan bumi, lautan itu diawal penciptaannya disebut Andabhuwana (telor dunia), jika hendak bergaya sedikit; ini disebut dengan yoga stiti caksusan, maka dalam bahasa keseharian ini yang disebut  kabyudhayan. Lagi proses peciptaan terjadi, yakni pada Yoga ketujuh, disebut Pitungksana, ini proses terciptanya manusia, diikuti penciptaan hewan, , burung, ikan binatang, tumbuhan-tumbuhan; dst. Yang melata, yang bersuara, yang berjalan, yang melayang; semuanya itu awalnya seperti bibit. Itulah pertemuan antara pancatanmaatra dengan Pancamahabhuta menjadi Pancendriya dan Pancakarmendiya; jadi terjadi bing-bang yang maha besar kala itu, adanya keserempakan sekaligus perbedaan pada bentuk dan rupa dalam bhuwana alit. Ini awalan adanya bhuwana alit, masih prematur sekali, ini disebut oleh para yogi agung sebagai sariraguhya, ini juga disebut paramanuh.

Pada dasarnya Siwa Gama sudah menduga bahwa kelak keyakinan itu akan dibenturkan dengan hitungan matematika; bagi yang tak bisa lagi membedakan mana keyakinan, mana persoalan untung rugi, bahkan ingin rasional; ketika sang raja, mewakili ketidaksabaran memahami ajaran Siwa Gama ini, bertanya soal luas semesta dan bumi, dijawab dengan penuh kesabaran; bahwa letak bumi diciptakan oleh Sang Hyang Widi adalah seratus yojana letak bumi ke bawah,  seratus ribu Yojana luar ruang angkasa yang ke atas,  dua ratus ribu yojana luas alam semesta hingga ketepi. Ini disebutkan dalam pembayangan sebagai “ukuran’  sehingga para pujangga mencoba untuk menjelaskan agar manusia yang penuh ketidakpuasan soal angka ini memahami; diberikan patokan bahwa widhi Yojana itu, sebanding dengan sepuluh ribu depa, tapi hitunglah dari saptawindu. Pada awalnya, bumi dikitari empat samudera, di situ bersemayam Sanghyang Mahagiri, dilengkapi tujuh sungai agar bumi menjadi stabil. Dalam kitab ini juga disebut; bahwa kenyinyiran manusia bertanya soal keyakinannya, kadang menjemukan, sebab itu pertanda dia tak akan me-gama. Karena itu tak mau dijawab dengan detail.

(BERSAMBUNG, MOHON SABAR, tiang mase nak kari melajah)