Showing posts with label Review. Show all posts
Showing posts with label Review. Show all posts

Selintas Mengenai Dramatisasi Puisi Dan Fragmentasi Puisi

Beberapakali ada yang bertanya kepada saya, apa sebenarnya dramatisasi puisi itu (?) dan apa bedanya dengan fragmentasi puisi (?) Kedua pertanyaannya itu muncul karena sudah lama di Bali, disebabkan beberapa kegiatan sekolah dan festival yang menyebutkan ajakan untuk melakukan suatu model pertunjukan dengan teksnya (baca naskah) berdasarkan sebuah puisi.

Mengenali Secara Sepintas MAGURU SISIA dalam Tradisi SIWA BUDHA di Bali (1)


Dalam tradisi hindu di Bali ada yang disebut sang sulinggih (ida pedande), mereka (dia) yang telah melewati upacara madwijati  (masuci,madiksa,mabersih, mapeningan, atau juga ada yang menyebut dengan mapodgala). Mereka itu yang berkeinginan menjadi sang sulinggih telah menyiapkan dirinya secara sekala dan niskala. Sang sisia, setelah memantapkan dirinya bersiap untuk berkosentrasi mempelajari ajaran suci.

Review Iluminasi: "lebih terang dengan lampu penerang…"

Komik silat Kho Ping Ho dapat menjadi akar 'tandingan' ketika membaca novel Iluminasi, karya Lisa febriyanti, terbitan Kaki Langit Kencana, November 2009. Dalam serial silat Kho Ping Ho: ilmu berbisik jarak jauh, telepati, ilmu terbang melayang, berlari cepat, kemampuan memanjangkan tangan; bak manusia karet, kemampuan mengeluarkan api, termasuk menderukan angin, mendatangkan rasa sedingin salju, dst: terbangun dari kisah pendekar-pendekar pilihan, yang terbelah antara dua, golongan hitam dengan putih, biasanya 'sang hero' memiliki kisah sedih dan menderita di awal kisah, kadang menyendiri, terbuang dalam pulau terpencil, jatuh ke dalam tebing curam, dsbnya dan pewarisan 'kesaktian' memang sering melalui garis 'keturunan', tidak direncanakan, yang didahului dengan liku-liku yang mengejutkan bagi calon 'sang hero'.

Review Novel EPITAPH; Kejujuran yang tanggung…

Membaca novel Epitaph, karya Daniel Mahendra, terbitan Kaki Langit Kencana, November 2009, adalah pembacaan fragmen-fragmen yang diutuhkan menjadi kesatuan kisah. Fragmen terbesar adalah kisah Laras Sarasvati, mahasiswi IKJ yang hilang saat melakukan shouting film dokumenter di Gunung Sibayak, Medan. Fragmen kedua adalah Kisah Haikal, kekasih Laras, yang menjadi ‘pencerita’ mengenai tokoh-tokoh yang ikut hilang dalam musibah yang dialami Laras dan menjadi ‘penganalisa’ adanya kejanggalan dalam pencarian korban dalam musibah itu. Fragmen lain, adalah tokoh Langi, teman Haikal yang difungsikan sebagai penulis dari kejadian musibah helikopter itu.

Review NOVEL LASMI

Novel ini diterbitkan oleh Penerbit Kaki Langit pada November 2009, dengan judul Lasmi, mengambil nama tokoh utamanya Lasmiyati, yang dikenalkan melalui Pemilihan Majelis Daerah di tahun 1957 oleh seorang guru; mengenalkan kepada pembaca "mode busana" apa yang saat itu tengah menandai seorang perempuan terpelajar di sebuah desa; “ Tubuhnya yang ramping dengan tinggi rata-rata perempuan, tampaknya sekitar 156-158 sentimeter, di balut sepotong gaun terusan berbahan dril warna khaki. "Gaun itu sepanjang pertengah betis, berlengan sebatas siku, dan sedikit longgar di bagian kaki. Kulitnya sawo matang tampak lembab berkeringat. Rambutnya yang digelung di atas tengkuk agaknya terlebih dahulu dijalin kepang. Tampak tegas dan bersahaja,” Ini fakta di luar diri penulis, yang menjadi bagian pembuka novel Lasmi sepanjang 228 halaman, dengan 52 catatan kaki, memberi fakta kepada pembaca mengenai pengarang dengan sumber-sumbernya, yang diproseskreatifkan menjadi novel dengan kekhasan tertentu; yakni latar belakang peristiwa di rentang tahun 1957-1965-an.