Showing posts with label Drama. Show all posts
Showing posts with label Drama. Show all posts

Naskah Drama PENDEK

NASKAH DRAMA PENDEK
REKLAMASI
by. Cok Sawitri


Di TENGAH-TENGAH PANGGUNG BERJEJER DRIM-DRIM BESAR, DIBELAKANGNYA TALI TEMALI SENGKARUT, BERGELAYUT, SUASANA GELAP, LAMPU PADA TITIKTITIK TERTENTU MENYALA SALING IKUTI, MENYOROT SELURUH ISI PANGGUNG. SUASANASEPERTI CAHAYA MENJELANG SENJA. LALU KEMBALI GELAP. SEJENAK GELAP, SEPI. LALULAMPU MENYALA KEPADA DRIM-DRIM YANG BERJEJER, DARI LOBANG MASING-MASING DRIMNAMPAK KEPALA-KEPALA, DITIAP BADAN DRIM DITULISKAN ARSITEK, MANDOR, CALO,INVESTOR, ORMAS, CENDIKIAWAN, WARTAWAN, FOTOGRAPHER, SENIMAN, AGAMAWAN, KEPALAKAMPUNG, CAMAT, GUBERNUR, PRESIDEN, HAKIM, POLISI, TUHAN, SETAN, PENYANYI,GUIDE, KASIR, AKTIVIS…YANG LAIN TAK TERBACA; DRIM-DRIM ITU BERJEJER-BERJEJER,BERHIMPITAN LALU SEMUA WAJAH DARI KEPALA DI MASING-MASING DRUM ITU BERUCAP,DATAR, INTONASI TENANG; REKLAMASI….

DRIM 1             :Kesejahteraan itu adalah ketenangan. Kita mencapai sudah kesejahteraan.
DRIM 2             :Tapi ini terlalu gelap, juga terlalu sesak!
DRIM  3            :Jangan mengeluh, jangan ikuti perasaan tidak puas; ini pencapaian…tenang,gelap, diam…moksa!
MEREKA BERSUARA BERSAMA: tenang, gelap, diam…moksa!
DRIM 3            :mati dalam gelap?...
DRIM 1            :Gelap adalah terang, awal terang, menuju terang, gelap ajari melihat terang!
DRUM 2            :sesak dan gelap
DRIM  3            :kita sepakat; gelap, sesak…itu jalan terang
DRIM 2            :susah bernafas
DRIM 1            :masih bernafas, masih bernafas…
DRIM 3            :seperti buta…
DRIM 3            :masih ada terang..
DRIM 2            :haus…
DRIM 1            :Haus tak dikenal
DRIM 3            :Lapar juga
DRIM 2            :sesak, gelap..
DRIM 1            :kesalahan merasakan, ini fase awal, setelah itu terang, nyaman, lega, banyakruang. Sesudah itu, lampu-lampu tak pernah padam, makanan, minuman, udarabersih…..surga, kemajuan, pencapaian…(TERBATUK-BATUK LALU CEGUKAN BEGITU LAMA)

DRIM 3            :aku ingin liburan, beli rumah, beli mobil
DRIM 1            :lakukanlah
DRIM 3            :sudah.
DRIM 2            :sesak, gelap, gelap
DRIM 1            :sesak itu menuju kelegaan, lega itu tamasya…gelap itu, sedikit, banyak, kurang,lebih…
DRIM 2            :Mengambang
DRIM 3            :seperti kerapu laut, teratai, kesucian…
DRIM 2             :lumpur! Lumpur
DRIM 3            :aku ingat, kami mancing lalu berenang
DRIM 1             :kolam biru, kaporitnya aku tidak suka, air tawar, tawar!
DRIM 3            :tawar air, air tawar…..(TERTAWA LIAR, MEMBELAKAKAN MATA)
LAMPU UTAMA MAKIN REDUP, KEPALA-KEPALA ITU MAKIN JELAS,NAMPAK DENGAN MATA MEMBELALAK, MULUT MENGANGA LALU SERENTAK BERUCAP: REKLAMASI
DRIM 1             :kau ingat temanku yang wartawan itu?
DRUM 2            :Release, pernyataan, kata-kata….wacana
DRUM 3            :aku ingat centeng itu, kaya….juga tukang poto itu, dia rajin, rajin memesan….
DRIM 1             :pasir, kapur, semen…
DRIM 2            :besi..kerangka besi
DRIM 2            :aku beli rumah dan apartmen di tempat lain…
DRIM 1            :kita semua begitu…(TERTAWA TERGELAK-GELAK)
DRIM 3            :komisi
DRIM 1            :komisi
DRIM 2            :pasir, batu, besi, tanah…kapur, kerikil..
DRIM 1            :kita kaya
DRIM 2            :aku suka bagiannya
DRIM 3            :aku suka saat kita tertawa
DRIM 1            :aku tertawa saat..
DRIM 2            :SMS
DRIM 2            :Facebook
DRIM 3            :ancam! Gertak! Bangsat-bangsat melarat itu!
LAMPU PADAM SUARA-SUARA SEPERTI MENIMBUN, SEKOP DISERET,DERIT BESI, SUARA CANGKUL
DRIM 1: gelap
DRIM 2: seperti pemakaman
DRIM 3: dalam makam
DRIM 1: pencapain hidup
DRIM 2: dalam gelap…
DRIM 1: kita mengapung?
DRIM 2; seperti teratai suci di atas lumpur

KETIGANYA TERBAHAK, TERTAWA LIAR.
DRIM-DRIM ITU TERSOROT LAMPU NAMPAK KUSAM, KEPALA-KEPALA ITUTAK ADA LAGI DI SANA. PELAHAN SANGAT PELAHAN LAMPU DIREDUPKAN, LAYARDITURUNKAN.
LALU ADEGAN TADI DIULANG DARI AWAL SAMPAI AKHIR DENGAN UTUHTIGA KALI BERTURUT-TURUT.

SELESAI.

Petikan Naskah Pentas Drama Tari Candra Bherawa ( Pertaruhan Nyawa)


Ditengah panggung diletakkan level kecil; kelir besar dipajang sebelah kanan-kiri panggung belakang. Musik terdengar bergemuruh. Pasukan Hastinapura tengah memasuki lapangan pertempuran; dari jauh nampak gagah dan percaya diri, teratur dan nampak siap berperang:
Surya candra
Sanghyang siwa budha
Tungtung langit nenuek patala
Bedha abedha
Sang Sangkara kangri
Sakyamuni ri maharemu….dst
(tembang dinyanyikan)

SINOPSIS CANDRA BHERAWA - BAKAL KISAH PENTAS BHUMI BAJRA DITANGGAL 23 JULI


SINOPSIS CANDRA BHERAWA
BAKAL KISAH PENTAS BHUMI BAJRA DITANGGAL 23 JULI


    Di suatu masa, ketika perang keluarga kuru telah usai. Dharmawangsa dengan keempat saudaranya memimpin Hastinapura didampingi oleh Sang Kresna. Mereka tak hanya harus membangun kembali Negara yang porak poranda akibat perang, namun juga rasa pedih sebab kematian-kematian akibat perang tak hanya terjadi pada keluarga mereka sendiri, seluruh wilayah Hastina mengalami rasa gamang sebab perang besar di kurusetra telah merampas begitu banyak usia dan melenyapkan semua rasa nyaman di hati semua rakyat. Hampir semua keluarga pastilah mengalami kehilangan saudara lelaki, ayah ataukah sepupu, sahabat ataukah kawan bermain.

Teater Bali: Di Era NARAMANGSA - Manusia Memakan Kemanusiaannya (bag.IV)


Mengadaptasi Pola Dasar Pelatihan Teater Tradisi

Bagaimana mengadaptasi pola dasar pelatihan seni pertunjukan tradisi  Bali ke tradisi teater modern; yang hingga kini belum memiliki tradisinya sendiri (?)---Hampir dipastikan hingga kini, bahwa pola pelatihan dasar-dasar teater modern belum memiliki koridornya walau semua paham; bahwa diperlukan pelatihan secara serius dan disiplin kepada para calon aktor atau para pemain drama ini sebelum dinobatkan sebagai pemain teater. Dalam tradisi teater modern selalu terjadi seolah-olah jika telah melakukan olah vokal, olah tubuh, dst (sekedarnya): maka seseorang akan dinyatakan siap memasuki proses pementasan di bawah kepemimpinan seorang sutradara.

Teater Bali: Di Era NARAMANGSA - Manusia Memakan Kemanusiaannya (bag.III): "Membandingkan Monolog Dengan Topeg Pajeg"


"Membandingkan Monolog Dengan Topeg Pajeg"
By. Cok sawitri

Seni pertunjukan Topeng Bali  memiliki tempat yang khusus; tak semata sebagai seni pertunjukan, yang menghibur, namun juga seni topeng ini menjadi bagian dari perlengkapan upacara agama. Dalam tradisi seni topeng Bali dikenal Topeng Panca dan Prembon, yang biasanya ditujukan sebagai seni hiburan; kemudian Topeng Pajeg; yang salah satu pemerannya akan menjadi bagian pelengkap penyempurnaan upacara yakni pada peran Topeng Dalem Sidhakarya.

Teater Bali: Di Era NARAMANGSA - Manusia Memakan Kemanusiaannya (bag.II)


lanjutan dari : Teater Bali, di Era Manusia Memangsa Kemanusiaannya (Bag.I)

Teater Bali atau dalam bahasa yang karib; seni pertunjukan; disebut demikian dalam rangka membedakan dengan jenis dan bentuk seni lainnya; disebabkan karena ada kisah dengan pemeranan; dari Topeng, Gambuh, Wayang Wong, Parwa, Arja, Drama gong, Sendratari; ini kelompok seni pertunjukan yang masih hidup di Bali hingga kini, yang merupakan warisan masa lampau dari rentang masa tahun yang berbeda-beda; yang tetap akan memberi gambaran jelas tentang panggung (stage), penonton dan proses kreatifnya. Selalu pijakan itu akan dimulai dengan pemahaman desa, kala, patra.

Teater Bali: Di Era NARAMANGSA - Manusia Memakan Kemanusiaannya (bag.I)


Di Bali, sejak tahun Caka 818, teater atau drama telah ada. Tidak sebatas sebagai kegiatan pengisi waktu, namun ditempatkan sebagai profesi, yang mendapatkan perlindungan hukum dari penguasa. Juga drama atau teater telah terorganisir sebagai kelompok yang menerima upah serta diduga telah memiliki tradisi kurasi yang berdasarkan track record dan proses kreatif- pengalaman pentas di depan penonton dan penguasa.

SUNYA NIRVANA Telah Menari Dihadapan SANG GURU (para PEDANDE BUDHA di budhakeling)


Akhirnya, drama tari Percakapan Sunya Nirvana ini pentas di desa Budhakeling (19 Oktober 2010), Karangasem Bali, di griya jelantik, di rumah kaum brahmana budha bali, yang sejak lama dikenal sebagai brahmana yang menguasai berbagai keahlian seni. Dari ngewayang, gambuh, ngarja, prembon, nopeng, juga memainkan alat musik dari gender hingga cungklik. Kaum budha di Bali ini memang berbeda dengan 'gaya' budha-budha di daerah di Indonesia begitu pula di belahan dunia yang lain; mereka dari garis Mahayana namun berbasis bajrayana pada tekanan tantrayana; lebih suka menyebutnya dengan mantranaya; disinilah, kakawin Sutasoma biasa dibacakan dan menjadi rajapustaka; para pewaris semangat Mpu Tantular ini kini berkembang menjadi komunitas yang cukup banyak; walau banyak dari keturunan Budhakeling ini berpindah ke luar desa; entah dalam kerangka tugas spiritual, entah juga karena tuntutan perubahan zaman. Mereka itu memiliki silsilsah sejarah yang bermula dari Dang Hyang Astapaka: pendeta budha yang datang ke bali atas undangan Dalem Waturenggong di gelgel dalam rangka menyelesaikan suatu upacara. Itulah awalnya, Dang hyang astapaka memulai puja tapanya di budhakeling dan kemudian mewariskan tradisi tak hanya spiritual namun tradisi berkesenian.