Cerita Serial: Kalki Bagian 11

Bagian 11


    Orang-orang bermata nyamuk, begitu anak-anak kecil menyebutnya, saat serombongan Tentara Negara Kota memasuki Lounge Bandara Kota. Tak ada yang takut pada penampilan mereka, yang menutupi mata dengan kacamata berlensa inframerah, yang dimodifikasi sedemikian rupa; sehingga nampak trendy. Sebaliknya, yang tua-tua segera maklum, ada sesuatu yang tak beres di bandara dan semoga saja tidak akan mengundang terjadinya baku tembak. Sementara itu, suara informasi penerbangan terus menerus terdengar seolah tak peduli Tentara Negara Kota tengah mengadakan penyisiran, "perhatian…perhatian, pesawat superandroidsonic tujuan bandara kota, pangkalan demarkasi barat segera diberangkatkan. Ini adalah panggilan terakhir…"

Komedi: Air Adalah Anugrah

seorang pemimpin di daerah yang kerap kena banjir, di musim penghujan memanggil semua stafnya, dengan wajah berkerut memberi peringatan; jangan membuat proyek, kegiatan yang dapat menjadi sebab adanya banjir, paham? Jangan sampai seperti tahun lalu, dua tahun yang lalu, sebab tahun depan saya akan kembali mencalonkan diri, karena itu jaga citra saya, tegasnya dengan suara setengah mengancamkan. Semua stafnya mengangguk-angguk, kecuali satu orang dengan senyum manis mengancungkan tangan. Pak, katanya dengan suara manis, bapak tidak usah tegang; citra bapak akan tetap ngencorong walau tahun ini banjir melanda di seluruh kota, percayalah, bapak akan tetap terpilih!

Telur Katak Betina

TELUR KATAK BETINA

pulang menyarang di bawah teratai kecebong lepaskan kulit
nah, aku seekor katak telur ibuku!
penghujan riuh mari bernyanyi
aku betina anak-anakku telur pecah
suara-suara keras melawan deras
melecut kebisuan jadi sarang
ibu, telur yang mulia tinggal kulit melayang dipermukaan air
mari mengenang ngidam waktu mengedan menebas rangkaian
sebab dari telur, maka ibuku tinggal kulit dan belulang
karena itu di sini tak ada panggilan ibu!

pulang menyarang juga nyanyian dalam deras hujan
bapa kami adalah telur pecah diberkati di kolam penghujan
dahulu, kini sampai kematian nanti
kecebong-kecebong itu merayakan renang pertamanya
matanya menyala dari ujung ekor hingga dahi
makanlah selagi masih sebagai tulang rawan
satu dua sisakan nyanyian diulang-ulang
bukan kulit telur belulang pecah
tapi ibu dan bapa dimuliakan sebutan
bukan sarang kelahiran telur-telur kematian
tak miliki kelahiran…

(THE END, puisi Unreg, cok sawitri)