Men Ami Disembunyikan Wong Samar....


Sudah jam Sembilan!

    Ini sudah siang, tetapi toko kecil Men Ami belum buka. Biasanya, jam lima pagi sudah dibuka. Kemana Men Ami? Kenapa warungnya tutup tanpa pengumuman? Jika ada upacara atau acara keluarga, sehari sebelumnya biasanya Men Ami sudah bercerita. Beberapa orang yang gagal berbelanja dengan langkah ringan memasuki halaman rumah Men Ami dan bertanya,   "Pak, Men Ami kemana?"

Nang Oman Ditimpa Pawisik

    Gerimis bercampur angin masih terasa di kulit. Sesekali berhembus memasuki rumah. Pagi belum terang benar, tetapi  Nang Omang sudah berdandan; destar putih, baju putih, kain putih; semuanya serba putih. Istri Nang Oman, Mang Manik pun demikian, sudah selesai berdandan; kini tengah merapikan isi bokor, tempat kewangen dan canang, yang dengan suara pelan menanyakan kepada pembantunya, apakah sajen sudah siap?

    Pagi yang terasa berbeda dari biasanya, pikir Nang Omang! Lalu ia mengerutkan dahi, iya! Rasanya memang berbeda! Komat-komat Nang Omang memikirkan perasaannya; memang berbeda! Dengan langkah pasti, ia ke luar kamar,  "Bu, sudah siap? Bapak merasa Ida Hyang sudah memanggil…" Ucapnya dengan suara datar.

Penyurutan Makna Ruwatan Oleh Sensasi


Tradisi Sastra Ruwatan Yang Dipanggungkan: Penyurutan Makna Ruwatan Oleh Sensasi

Hingga di penghujung tahun 2011; pertunjukan drama tari Calon Arang kembali (masih menjadi trend di Bali. Bahkan kini tayangan televisi stasiun lokal di Bali rajin menayangkan pula. Dari pengamatan, hampir semua pemeran dalam tradisi pertunjukan Calon Arang masih dalam pakem lama; selalu dihadirkan di atas panggung; Peran Matah Gede, Ratna Manggali, Balian, Patih, dst: pembagian peran ini dilengkapi 'sisia' dan sensasi-sensasi misalnya pengusungan 'mayat' ke kekuburan sebagai bagian tradisi 'ngundang leak' yang memang sejak dahulu merupakan bagian yang menjadi kekuatan dari pertunjukan Drama Tari Calon Arang.

Belajar ke Pasar: "MAMEKEN" menemui KERIMIK PEKEN

"Peken":  begitu caranya menyebut pasar tradisional di Bali: "meken"; artinya pergi ke pasar dengan tujuan belanja. "Pekenan" : artinya hari besarnya pasar atau sering di sebut 'beteng', yang suka otak-atik kata mengira-ira 'beteng' ini dari kata 'bet': penuh sesak. Padahal itu terkait dengan 'wewaran'; pasah, beteng, kajeng. Sebab di pasar lain, ada juga yang menggunakan pasah bahkan kajeng sebagai hari pekan alias 'pekenan'.

Menarik sekali, apa yang terjadi pada diri saya dua minggu terakhir ini. Tiba-tiba saya harus sering pergi ke pasar tradisional, karena ibu saya sudah tua dan sedang sedikit sakit, saya harus melakukan hal yang tidak pernah saya lakukan sejak kecil: yaitu 'mameken': pergi ke pasar dan belanja! Ibu saya atau banyak sekali ibu-ibu di tempat kelahiran saya, yang usianya berkisar dari 60-80 tahunan memiliki hobby pergi ke pasar; mungkin kalau sejak dahulu ada mall; ibu saya dan teman-temannya itu dikategorikan: kaum shoppinger, senang sekali belanja ke pasar. Untungnya, ini pasar tradisional. Yang buka dari jam empat pagi dan tutup sekitar jam tiga sore; selebihnya adalah persiapan para pedagang untuk membuka atau menutup dagangan. Bayangkan, jika pasar tradisional sejak dahulu bukanya dua puluh empat jam! Mungkin ibu-ibu angkatan ibu saya akan nongkrong di pasar seharian! Mengingatkan akan hobby ke pasar itu; dari window shopping sampai penyakit gila belanja memang dari zaman ke zaman telah ada; sebab konon di semua pasar tradisional ada energy pemikat hati yang berfungsi meluluhkan semua hati untuk berbelanja (?)

Calon Bupati


    Dengan kumis tipis, bibir bawah mengatup, tatapan yang seolah tak melihat siapapun, Gede Bagus mengangguk sekenanya. Duduk bersila di bale gede, bale warisan kakeknya yang sudah direnovasi tiga kali dan kini sudah menyala-nyala, bale yang berwibawa karena diukir dan didempul cat prada , dimport dengan harga mahal, "jadi begitulah tanggapan mereka, Bli…" Dalam keheningan rumah berhalaman luas, tepatnya diperluas, kebun belakang sudah dijadikan bangunan, ladang kiri kanan sudah jadi show room. Dulu, rumah kakeknya hanya seluas tiga are, tetapi kakeknya juga memiliki kebun dan ladang sebelah menyebelah dengan rumah, kini sudah ditatanya, sudah dipilah dengan perhitungan asta kosala kosali. Penataan rumah itu dimulai ketika almarhum ayahnya diangkat jadi pejabat di awal reformasi, dan meninggal mendadak saat Gede Bagus baru saja menikahi Gek Ayu, tetapi untunglah sewaktu ayahnya diangkat jadi pejabat, Gede Bagus membuka restauran, jual beli mobil dan juga jual beli tanah, "mereka katakan, Bli sudah mulai melakukan manuver…"