Naskah Arja Siki Bapaku Matahari, Ibuku Bidadari

ARJA SIKI
Proses saya kembali mencoba memahami Arja Siki, tidaklah mudah. Sebab ketika saya memulai melakukan penelitian di tahun 2005, hanya berdasarkan cerita para orang tua yang sempat melihat dan menonton kehadiran Arja Siki itu disekitar tahun1930-an sampai tahun 1959-an. Kondisi ekonomi Bali saat itu membuat banyak orang tak bisa lagi melanjutkan kelompok seni pertunjukannnya, sebab tidak ada uang untuk mengupah tampilnya seni pertunjukan. Karena itu, muncul kreasi Arja Siki, yang hadir di pasar, di tenten dan pasar malam; berbekal kadang kemong, kendang, bahkan kadang hanya bambu; para pragina bertutur berbagai kisah dengan tembang dan lelucon, tanpa busana panggung, kadang mecapil dan kadang hanya memakai gelung. Kisahnya pun tidak utuh, kadang seperti barisan tembang yang menggugah orang di pasar sekedar terhenti, lalu menyahuti. Arja Siki walau mengambil tembang-tembang dari khasanah pengarjaan, sejatinya tidak lagi menggunakan pakem arja. Hampir merupakan ekspresi bebas dari keadaan yang tengah membuat seni pertunjukan tak bisa manggung, sebab ekonomi tahun-tahun itu memang sungguhlah sulit. Pada tahun ini, tahun 2015. Untuk mencoba Arja siki memberi jejak, terutama bagaimana proses ‘rekontruksi’nya ke wilayah panggung, setelah dengan Bahaya Bukan Racun Tembakau, kemudian naskah Presiden Tonya, kini di festival nusantara bertempat di Toya Bungkah, Kintamani Bangli-Bali, saya menyusun naskah berjudul Bapaku Matahari, Ibuku Bidadari.  Sebagai tanggung jawab saya dalam proses kreatif. Naskah sederhana ini, pola cara menuliskannnya meniru bagaimana ‘sket’ cara penulisan naskah tahun 50-an, yakni antara narasi dan dialog (tembang) disatukan, dan saya mencoba menyusun tembang bebas (seperti itikad keberadaan  Arja Siki itu: bebas) maka saya mencoba menyusun tembang dalam bahasa inggris, indonesia dan bahasa bali, gaya japjapan.


JUDUL NASKAH :BAPAKU MATAHARI, IBUKU BIDADARI

PEMAHBAH

(SOLAH PRABANGSA/ KELIES penasar)

TEMBANG JAPJAPAN:

Om swasti astu, om awignam astu.  Mamitang  lugra atur pangubaktin titiang ring idapakulun batara batari sane malingga iriki. Tiang nembe pedek tangkil. Nunas panugraha, paswecan ida, mangde sami sadya rahayu. Nemu ning kayun. Pakedek pakenyung.

(MEDAL kelies DEMANG-DEMUNG/ angsel penasar)

Puniki titiang ngaturang arja siki, sane dumun kasumbung ring jagat Bali, nanging mangkin sekadi sasenggak luas belus tuh ilang. Titiang belog malih ajum, purun jamprah ngewangun malih, mangde ida dane sareng sami nenten menggah piduka. Mangde nenten ical, puniki warisan seni; sane mawasta arja siki. Yen sane pidan, titiang ngundar bilang pasar. Kadenang buduh sing ngelah tongos mesayuban. Tunasang titiang hujan lepeg mangde polih kenyeman. Katundung ulian lacur, mangkin tiang sampun dados juru parkir, juru dayung ring sagete dados guide dadakan. Iriki ring batur mula kamulan jagat. Pulina Bali pulihin pisan.

Titiang puniki asli wong gunung, lekad mentik neruna iriki. Ben jengah wenten festival, tiang pongah juari ngaturang sasolahan. Wiadin ten becik jeg tunas tiang tepuk tangan. Apang semangat buin ngilangang bayu nurdar.

Mapan titiang jagi ngojah pemargin sane lami, duk tan hana paran-paran, naweg jagate kantun suwung mangmung ring nusa bali. Duk punika mawasta walipura. Gelgel ring kampare saking sesaji sekar metumpukan. Dados lelemekan, mentik i punyan cendane.

Ida dane, semeton sami

Welcome to nusantara festival, at toya bungkah, kintamani bali

Tonight, i'm going to tell you a very old story...
I am pologize before, if  iam wrong
In the past

In this place, day or night is not exist.
There is no life, there are only lines of frangrant trees.

Appealed by the scents, the angel flies close approaching this place.

the sun is my Holy Father, the Angels is Holy Mother

was raised by the fragrance and the eruption of the volcano gives me a lake.

Now
My mother rides a golden dragon, my father gives 4 lakes;

thus is essence of me




BATANG -- ISI

(MAGENTOS GELUNG, TETIKES MANTRI BUDUH, TEMBANG DANDANG GUYU)

Perkenalkan saya, saya ini matahari. Mahluk agung yang paling dicintai Hyang Widi Bahkan siwa, jatuh hati. Memberi gelar yang sama pada saya; surya raditya

Nama kecil saya srengenge, sebab mata saya cemerlang dari awal mula Itu sebabnya saya ditugaskan untuk membagi cahaya

Saya tegaskan, saya ini paling tampan di semesta

Seluruh penghuni kahyangan tergila-gila pada saya

Tapi saya bukan lelaki gampangan

Tak mudah saya jatuh cinta

Sungguh hati saya diliputi kesepian

Dan sepi tak pernah sendirian

(GIMICK, GESTURE, SAAT BIDADARI TURUN DARI KAHYANGAN)

Seorang bidadari tengah terbang rendah, mencari-cari sumber keharuman di bumi.  Sungguh kagum dia saat menemukan sumber keharuman yang terkuat berasal dari sepulau kosong tak berpenghuni.  Segera ia menjejakkan kakinya ke tanah, menghirup keharuman sepuas hati. Berputar-putar berlarian diantara barisan pohon-pohon yang tak putus-putusnya mengeluarkan bau semerbak mewangi.

(TANJEK GALUH, NGALEGONG GUYU)

Matahari
yang sepanjang waktu bertugas menyinari bumi, mengeringkan kelembaban, hari itu sungguh terkejut melihat kelebatan perempuan jelita yang tengah menyusup diantara pepohonan, dengan penuh rasa ingin tahu matahari melepas sinar cemerlang dari kedua bola matanya. Dan sungguh hatinya terpesona melihat kecantikan perempuan jelita itu. Dengan jenaka diikutinya gerak perempuan itukemanapun di pulau itu. Hingga perempuan itu sadar dan merasa diintip dan terganggu:

Sapa itu yang berkelebat diantara pepohonan?

Bayangannya menusuk mata

Jantung bergetar, hati gundah gulana

(NABDAB BUSANA LAN GELUNG)

Bidadar itu  pun tersentak, menyahut dengan kesal:

Iiih,
“Duh, dewa ratu ngude jro-ne
Pongah juari ngintilin tiang

Tosing nawang tata krama

Tata susila dadi betare”

Karena terkejut dituding tiba-tiba, matahari menyurup jauh ke angkasa. Bidadari itu lega, karena mengira bebas dari gangguan, kembalilah ia bersenang-senang, setengah melayang menembus pohon-pohon;

Uli dije miiik teke

Engken puarane dadi mesuang miik

Nyen ngajahin i dewa jak makejang

Kanti langite kapompong...

Ngalub nuek kahyangan




(PAUSE. TEKNIK MUNCUL DEMANG GUYU)

Lagi, matahari mendekat, membuat bidadari itu tersengat cahaya, ia berlari dan matahari mengejar dengan sinarnya, hingga dentam kaki bidadari akibat berlari sekuat tenaga membuat tanah terbelah, retak, dan batu-batu bermunculan, gunung tinggi menggeliat dari muka bumi. Goa-goa terbentuk. Bidadari itu berlari, menghindari kejaran cahaya, lalu sembunyi di sebuah ceruk dalam goa.

Disana sang matahari kehilangan jejak, kelimpungan melempas cahayanya: lalu pelahan menyapa dengan suara sedih: (petikan tembang bladbadan/ dukuh seledri)

duhsasuhunan sang kadi ratih

cingak ratu tiang

dumadak ledang kayune

ngicen titiang pamayuh

pangi kaput dong olasin

titiang maboreh tangkah

buwat ring i ratu

madon jaka makaronan

cedok sanggah

mamanah pacang ngelanting

don biu tuh nemuang raras

masaratang ngalih engket angi

nadaksara
majukut dinatah
lelor antuk ulangune
bin pidan ratu kayun
belus lepegan ngeyemin
meh sampun makunyit dialas
matemu titiang nyadia memarekan
mangaula
dong ngiring matali besi
Nganten sabanen festival



Bidadari yang kesal, dengan judesnya menjawab:

Iiih,
kamu...

Belum
apa-apa ngajakin kawin

Enak aja emangnya saya apa-aan...

Pergilah,
pergi jauh jauh ke laut sana

Saya bahagia sendiri

i am single but
i'm happy.

being single is my choice, so, dont disturb me!

Please...


Matahari tidak mau menyerah, memperlihatkan wujud ketampanannnya:

Duh adi,

Mas mirah ede je nakutin lelakut

Alah kedise pakeberber

Nang sayang tiang sayang, sayangang tiang

Sayangang

Osing luung padidian digumine suwung

Keneh mangmung nyanan bingung

Magih matali besi ajak tiang...



Bidadari itu, melengos kesal:

Why you disturb me?

What are you? you dont have an attitude

Love is not easy, i am single but happy

Enjoy  my lonely life

Please, go away from me

If you dont

I am angry......




Matahari terus bergumam, cahaya menebar memenuhi permukaan bumi, mangkin mendekat, makin menguat cahaya itu. Pecah gelombang gelombang sinar, gunung meledak lahir empat danau. Bidadari itu mengendari naga emas, kecipak air terdengar.

My Holy Father the sun

My Holy Mother the angel

Now

I am here.



(TEMBANG PAMUPUT) TELAS
Naskah ini hanya sebagai pemandu. Prosesnya akan sangat tergantung dengan situasi penonton. Untuk pentas tanggal 16 AGustus, Jam 18.00 Wita, di Toya Bongkah, Kintamani, Bangli- Bali, Arja Siki berjudul Bapaku Matahari, Ibuku Bidadari akan diiringi sekeha geguntang Manik Suari, pimpinan  Pak Mandra, Penata Busana @ Adi Siput Mkp.

Makaula Guru - Siwa Gama (BAG. 5)

Ketika film Mahadev ditayangkan di televisi. Banyak kawan yang saya kenal, menjadi penggemarnya. Banyak pula yang bertanya-tanya dalam hati, seperti itukah kisahnya Siwa (?) Bahkan kemudian beberapa kawan memasang potret-potret, lalu mengira itulah ‘rupa dan wajah’  dari hakekat. Bahkan beberapa diantaranya meniru-niru pola kostumnya, make-up: megoreskan cendana didahinya, mengalungkan kalung dan trend kemudian gelang-gelang dengan iming-iming 'tameng suci' dll. Sungguhlah berbeda jika belajar Ma-kaula guru ini dalam tradisi Siwa Gama. Bagian sargah yang akan memaparkan bagaimana ‘runutan’ kejadian penciptaan semesta itu akan menegur mereka yang menjadikan gambar dan khayalan kisah sebagai tindakan keseharian.

Tatwa-widhi (widhitatwa), begitu dinamakan, tatwa-mahasunya, itu juga namanya, tak terbayangkan. Pada bagian Raja Pranaraga (nama ini sesungguhnya juga nama hakekat), mempertanyakan tentang: kimpunah devamapnoti, catur lokapala jneyah, ghandarva vidhyadharasca, prassadhascaiva ucyate, kalimat ini adalah pertanyaan, walau dituliskan dan diucapkan dalam bahasa sansekerta, artinya begini ; dari manakah asal usul Sanghyang Catur Lokapala, Gandarwa, Kinnara dan Widyara? Itu sebabnya orang bali menggunakan gugon tuwon, tapi janganlah mudah idepan (janganlah mudah percaya)—sebab beberapa kawan mengira, asal dituliskan dan diucapkan dalam bahasa sansekerta itu mantra! Sehingga ‘mensucikannya’. Karena itu dalam Ma-kaula guru, prinsipnya adalah : harus bertanya kembali ke gaman (pegangannya) sendiri. Perhatikan kemudian bagaimana ketika Sanghyang Brahma selesai menciptakan alam semesta, dikisahkan dia segera melakukan Yoga, memusatkan batin kepada Sang Hyang Adisuksma, dia Sang Hyang Triwindu merupakan badan rahasia. Dari proses Yoga itu; muncul dari batin kehalusan (yang supra halus): sabda tan matra, itu yang sering dipanggil Sang Hyang Druwa. Lalu dari bayangan benih rupa, ini yang disebut rupa tan matra, ini dipanggil Sang Hyang Agni Dewa. Lalu dari lubuk batinnya muncul pradananya, Bhatari Uma sebutannya. Muncul dari yoga itu, dewi Prasuti dan Dewi Asiksiki. Dari batin purusanya lahir Sang Hyang Dharma, diberi tugas sebagai dewanya siang. Dari posisi Brahmayoganya, maka lahir pula Sanghyang Prajapati. Agar memudahkan mereka semua yang sebenarnya ‘tak terbayangkan’ dibayangkan sebagai putra dan putri dari ciptaan. Sama seperti bagaimana Sang Hyang Adi Suksma menyebut catur dewata ataukah saat menyebut Pratanjala dan Uma; sebagai putra-putrinya.Tetapi harus ini cara menjembatani keterbatasan manusia itu sendiri.Dari awal telah dikatakan; Sang Hyang Adi Suksma itu tak berwujud, tak berkelamin....serba tak, juga serba dapat; tanpa tangan pun dapat menjangkau, tanpa telinga dapat mendengar...betapa tidak mudah jika proses belajar ini dengan saklek seperti yang ‘sesungguhnya’ hakekat itu.

Perhatikan bagaimana dan dimana, lalu apa sebenarnya mereka yang dipuja itu. Lalu jika dilanjutkan bahwa dalam yoga Sang Hyang Brahma itu memusatkan batinnya ke Sang Hyang Adi Suksma,dalam antara-antara purusa dan pradana, muncul bayangan yang digerakkan oleh pranabayu (tenaga nafas kehidupan), terjadi dalam pertemuan air api, kejadiannya demikian dahsyat, meneggetarkan maka lahirlah Sanghyang Metrujala. Karena itu dalam keseharian orang membayangkan kelahiran dan kematian tak ubahnya membayangkan Kala Mertyu, begitu menggetarkan dan menciutkan hati, sebab keduanya digerakan oleh tenaga kehidupan yang kekuatannya tak tertandingi. Tak ada yang bisa mencegah kelahiran, begitu pula kematian. Tak cuma itu saja yang tercipta dalam Yoga Batara Brahma kepada Hyang Widhi, lahir kemudian bagi dunia fana yang dikenal dengan nama Dewi Tri Purusa; Dewi Saraswati, Dewi Sri dan Dewi Sadhana. Dari penciuman (ganda tan matra) dalam yoga agung itu muncul Bhatari Bumi, dari batinnya lahir Sanghyang Sanatkumara. Perhatikan baik-baik bagaimana cara Siwa Gama, sebagai dasar memahami ‘Widi” dan “Sunya”. Kemudian ketika Wisnuyoga menghadap batinnya kepada Hyang Widi; lahirlah Sang Budha, Sang Bala, Sanghyang swayambhumanu...dst, jumlah empat belas, semuanya lelaki. Lalu dari Iswarayoga; lahirlah Sang Kasyapa, Sang Balikilya, Sang Merdu. Sang Tumburu, Sang Kapila. Sebab semua memusatkan yoganya kepada Hyang Widhi maka dari Paramanirbhawa (nirwana tertinggi) lahir barisan ini Sang Pitra, Sang Marici, Sang Bhregu,Sang anggira, Sang Pulasti, Sang Pulaha, Sang Kretu, Sang Dhaksa, Sang Atri, Sang Garga, Sang wasista, Sang Nilalohita. Semua itu adalah maharesi surgawi.

Dalam Ma-kaula guru ini bila berpegang kepada Siwa Gama, perhatikan Daksa paranem akhyatam, jadi ciptaan Brahmayoga itu bernama Sang Prasuti dan Sang Asiksiki dikawinkan dengan Sang Daksa yang tercipta dari Iswarayoga.Tidaklah sama seperti membayangkan perkawinan antar manusia, dengan tubuhnya ini; mereka itu sesungguhnya berbadan mulia;inilah yang biasanya lama sekali menjadi bagian perenungan, perdebatan,agar jangan jatuh dalam langgam mudah idepan. Inilah juga menjadi tanda pembeda Hindu Bali dengan Hindu di India. Tak akan ditemukan nama-nama dalam di pura ataukah merajan orang bali: gambar atukah lukisan ‘merupakan’ wajah-wajah itu. Bahkan kisah Sang Daksa, yang kelak nantinya menjadi ‘pembayangan’ yang paling dekat dalam batas memahami elemen-elemen kesemestaan dari berbagai unsur yang bermuara kepada sabda tan matra, rupa tan matra, dan ganda tan matra. Itu sebabnya, Siwa Gama ini begitu berat dipelajari kecuali dengan cara Ma-Kaula Guru itu. Jika dipelajari dengan harfiah, jatuhnya akan kepada khayalan-khayalan, mengira itu dongeng. Padahal, bagaimana Hindu Bali memberi kesantunan pikiran untuk memahami awal mula penciptaan itu, memberi dasar-dasar keyakinan bagaimana lapisan-lapisan supra-misteri yang harus pelahan dipahami, tidak mudah idepan, itu kata orang tua bila menasehati bila ada anak-anaknya tiba merasa tahu akan betara-betaranya. Sebab kemampuan filologi dan idiomatika, sangat diperlukan untuk perlahan-lahan memahami bagaimana perilaku spiritual itu dalam Hindu Bali, bagaimana tubuh religius yang hadir dalam upacara-upacara, dan bagaimana bait suci weda itu yang dipilih bagi kehidupankeseharian, agar seperti yang telah disampaikan; jika tak tahu yang disembah,pastilah ucapan doamu juga tak sampai. Jika tak tahu menyembah, pastilah takada yang disembah. Sembah ini sebenarnyaa kunci pembeda Hindu Bali dengan Hindu lainnya di dunia ini.

(BERSAMBUNG- mulai letih pikiran ini, semoga dicerahkan hati)

Makaula Guru - Siwa Gama (BAG. 4)

"Prashivena viramanti"

Ling bhupati, kadyangapa marmanya, maka nimitta Bhatara Siwa sinembah de nikang dewata kabeh, denyan akweh para dewata, padha mahottama angganira, padha wnang paran ing sembah, pinaka pangupadyayan.

Bukankah kini sering yang tak lagi belajar Gama Bali itu, mempertanyakan mengapa Batara Siwa dipuja oleh semua dewata padahal banyak para dewata pada mulia tubuhnya, pada pantas dijadikana sasaran sembah, dijadikan guru?—pertanyaan itu, disampikan juga oleh Raja Pranaraga, mewakili kekinian. Menjelaskan secara lembut, Hindu Bali memang garis sivaitnya adalah Siwa Sidhanta, Budhanya adalah Wajrayana, dan ada juga Waisnawa Bali, ketiganya akan hadir dalam upacara besar sebagai yang bertugas; memohon tirta tri sadaka. Ini adalah bersatunya kekuatan tiga mantra tersuci; yang dalam keyakinan Hindu Bali akan menjadi ‘penghubung’ antara bhuwana agung dan bhuwana alit.

Dalam Ma-kaula Guru, jika muncul pertanyaan seperti ini, maka dijawab dengan mengulang kisah awalan terciptanya semesta; Dahulu, pada mulanya, ketika disebut sebagai Sang Hyang Acintya, yang menyuruh empat putranya (ciptaannya) yang pertama, yakni menciptakan dunia di empat penjuru. Keempat putranya itu menolak, bahkan mempertanyakan:  mereka kemudian dikutuk, lenyap ke caturdasamanu. Ini pun ada penjelasnnya, bahwa ketika disebut Sanghyang Hanarawang, menciptakan bayu (kekuatan/nafas) sebanyak 30 jenis, beserta namanya masing-masing. Yang paling awal diciptakan itu berjumlah 14 caturdasamanu, dibawahnya itu Sang Hyang Bayu, yang bungsu sebanyak enam belas; itulah merupakan jiwa alam semesta. Bayangkanlah lapisan-lapisan misteri itu, lapisan kekuatan nafas semesta ini.

Disebabkan empat putranya itu menolak, maka Sanghyang Adi Sukma metitahkan putra kembar buncing: Pratanjala dan Canting Kuning. Tak terbayangkan kegaibannya, kedua baru lahir dari penciptaan, menerima perintah penciptaan dunia. Keduanya bersedia dan diberi anugrah utama, seketika keduanya berubah menjadi ardhanareswari, yakni inilah awalnya dalam Hindu Bali disebut Uma-Pratanjala, Diciptakanlah laut serta danau, keduanya dipuja dengan sebutan Ganggasoma, Pratanjalan disebut Bhagawan Gangga.  Lalu sejak itu Bhatari Gangga diberi anugrah menjadi dewa laut dan dewa danau, dia juga adalah tempat air sucinya dunia. Setelah kejadian itu, barulah Catur dewata memohon maaf atas segala kelancangannya. Sebutan ketika kelembutan hati itulah disebut Batara Guru. Di Bali selalu ada namanya sajen Guru Piduka, tujuannya adalah memetik kelembutan hati Hyang Widi. Itulah awalnya mengapa Batara Siwa (Pratanjala) dipuja lebih dari yang lainnya, sebab bersama Uma, dialah yang menjalanka titah penciptaan.

Proses Ma-kaula Guru sebenarnya diakui meletihkan pikiran oleh Raja Pranaraga. Itu sebabnya harus disampaikan dengan banyak kisah. Namun tradisi ini adalah cara pendidikan yang sangat kritis, dialog-dialognya penuh gugahan, mempertanyakan, meragukan bahkan, ada bagian dari Sargah dalam Siwa Gama ini, disaat letih pikiran, maka dipertanyakan, kesucian Batara Surya, bahkan dengan terbuka diucapkan bahwa apakah mereka itu, tak lebih dari tiga bumi? Suryakanta, candrakanta dan manikanta, apakah mereka tidak lain hanyalah batu? Dahsyat sekali pertanyaan ini. Itu sebabnya, dijawab dengan hati-hati, lihatlah Agni, bukankah dia nampak memangsa segalanya? Namun sesungguhnya, hakikat dia, tidaklah kotor, ia tidak mengisi perut dan tubuhnya dengan mangsanya. Begitu Batara Surya, dia memang bertubuh matahari, namun bukan dia yang engkau puja. Sebab hakikatnya, yang menjadi saksi, menjadi pembersih duka lara adalah Hyang Widhi, dalam mata dunia, keduanya itu hanyalah sinar yang membakar.

Dari sargah inilah maka sebutan Batara Guru akan muncul, dari bagian inilah akan lahir tradisi kependetaan di Bali. Tradisi melukat. Makaula Guru ini dasarnya adalah keyakinan, Ma-gama itutidaklah untuk dihitung dengan rasio, namun keyakinan. Proses pembelajarannya sungguhlah sangat meletihkan, itu sebabnya kadang-kadang disisihkan, tidak diajarkan secara utuh. Sebab saat mendengarkan penjelasannya, akan menggugah hati siapapun untuk bertanya secara kritis, namun jawabannya harus dengan sabar dipahami.

(BERSAMBUNG, kantun melajah)

Makaula Guru - Siwa Gama (BAG. 3)

Betapa sering gugupnya ditengah negara yang mematok definisi agama. Banyak anak muda Bali yang pergi merantau jauh dari pulaunya, mengalami kesulitan apabila disindir, apa yang kalian sembah? Bahkan beberapa kawan yang merasa telah dicerahkan, ikutan bertanya, mempertanyakan bagian terpenting dari Agama Hindu Bali itu: sembah. Dalam makaula guru, para orang tua di bali dengan gugon tuwon menjelaskan mengenai ‘hirarkie’ sembah kepada siapa ‘boleh’ bila itu sembah yang dilakukan disaat sama-sama hidup, pada pura mana atau bagian mana saja yang ‘boleh’ disembah. Atau sama sekali: tidak boleh. Kerap bagi yang tak mengertu tentang wahyadhyatmika ning sembah (pemujaan lahir batin) akan salah kaprah, terutama apabila ada kebaruan dalam hubungan kekeluargaan, yang satu merasa direndahkan, yang lain dianggap  terlalu arogan; disebabkan penjelasan mengenai soal sembah ini dilakukan dengan gugon tuwon: de, nak mule keto!

Raja Pranaraga, yang duduk di dekat kaki sang guru, mempertanyakan hal ini, mewakili kita yang memang di zaman ini merasa setara dan bebas memutuskan soal sembah. Maka Sang guru menjawab dengan gambaran bahwa itu disebabkan ada banyak cara pemujaan yang dilakukan oleh masyarakat karena ada catur loka pala, ada panca dewata, ada asta dewata, ada pitara, ada tanah, adaa langit, ada guru, bapak-ibu, lalu ada pura, meru, sanggah terutama laut, danau, bukankah bagi Hindu Bali, itu semua dipujanya?—Itulah yang membingungkan pikiran Raja Pranaraga, murid yang mewakili kebingungan kita.

Diingatkan dalam makaula guru ini, prinsip kehati-hatian untuk tidak terburu-buru, berprasangka, sebab berguru mengenai tatwa, tidak hanya kecerdasan dan ketekunan, namun juga kelapangan hati untuk menghadapi ketidaktahuan diri. Pendeta agung, Danghyang Asmaranatha memberi jawaban kepadaa kebingungan dengan,” sebabnya banyak yang menerima sembah, sebab satulah Dia yang disembah dengan yang menyembah.Jika tidak ada yang menyembah, maka tidak ada yang disembah. Ida Sang Hyang Widi, sang hita wakya, sebab sebenarnya antara Atma dengan Dewa (batara) itu tunggal. Sang Hyang Widi merupakan wujud alam semesta, siang dan malam membayanginya, senantiasa mengetahui baik buruknya dunia, segala mahluk hidup dan mati, semua tumbuh dari tubuh Hyang Widi, sebagai permainan dalam baik-buruknya kebenaran dan harta. Segala yang lebih mulia dan pantas dihormati. Segala yang lebih rendah sebagai sarana pantas menyembah. Itulah alatnya dharma. Keduanya itu, dianggap Sang Hyang Widi, karena sesungguhnya manusia yang hidup itu kotor (amat) dan penuh dosa. Jika kalian tidak menyembah Widi, kalian artinya tidak menyembah leluhur. Hanya saja ketika ia masih hidup, manusia dia, namun bila dia mati, jika suka berbantah-bantah soal ini, semoga ia dilahirkan kembali menjadi lintah, cacing, ular kecil, rayap, dll.

Perhatikan dengan hati-hati penjelasan di atas. Bagi orang Bali soal sembah kenapa para orang tua sangat ketat dan bahkan terkesan fanatik,sebab jika sembah tidak dalam keperluannya; maka itu menyembah kepada yang tiada menerima sembah. Maka diingatkan bahwa ada tata cara menyembah, bagaimana memahami pradana Hyang Widi di dalam diri, itu sering dalam bahasa para yogi disebut Dewi Nirjnani, tak peduli laki atau perempuan; semuanya memiliki dewi dalam dirinya; inilah dewanya kelepasan, yang bersemayam di tengah padma, dilautan madhu, berpayung padma angalayang. Itulah yang seharusnya menjadi Gama, yakni memahami yang ada dalam diri, sehingga memahami kemudian pradana itu, yang sesungguhnya dalam diri sebagai Hyang Kabuyutan. Dengan cara demikian,maka tata cara menyembah, aturan menyembah tidak akan membuat siapapun merasa tak nyaman: sebabnya dia tahu menyembah kepada apa.

Siwa Gama sebenarnya telah menyiapkan umat Hindu Bali untuk bertemu dengan keraguan masa depan akan keyakinannya sendiri. Pada Sargah ini, ditanyakan pula, siapa asta dewata itu? Mengapa ada dewi-dewinya? Lalu siapa Yamadhipa itu? ---Itu sebab orang tua di Bali, selalu menularkan pengetahuan ini dengan cerita, sebab jika cerita bagi anak-anak dan remaja, tidak akan menimbulkan protes dan ekspresi yang menegasi.  Mengenai Asta Dewata ini, selalu diceritakan dengan kisah bahwa dahulu kala, saat terbayangkan, bumi ini belum ada, belum ada kehidupan. Sang Hyang Adi Sukma murka dan kecewa kepada putra-putranya yang dikenal dengan sebutan Catur Dewata (bukan catur dewa!): catur dewata! Yaitu Sang Kusika, Sang Garga, Sang Maitri dan Sang Kurusya. Sebab keempat putranya itu adalah badan Hyang Widi, maka disebut pula catur cadhu sakti namun karena menolak titah Hyang widi, dikutuk dan jatuh menjadi catur bhuta. Dalam sekejap entah mengapa Hyang widi menciptakan kembali Catur Dewata. Ini yang biasanya disebut Siwareka. Sebab seperti terjadi duplikasi; nga-reka. Dari sinilah ajaran tatwa mreta lahir. Ajaran ini disambut oleh Pratanjala yang diciptakan kembar dampit dengan canting kuning. Maka sang catur dewata itu berubah akibat Pratanjala bergabung menjadi Pancasiwa, lalu Hyang widi menampakan dirinya kemudian dalam batinya Siwareka, melengkapi itulah; yang disebut astadewata. Memang tidak mudah untuk belajar mengenai tattwa Siwa Gama ini, bukan karena disembunyikan, bukan karena difanatikan oleh para guru, namun jika tidak hati-hati maka tersalahpahami. Perhatikan kemudian bahwa keempat Cadusakti itu, yang juga merupakan sabda gaib dari Hyang widi, yang disebabkan mempertanyakan perintah awal penciptaan semesta berubah menjadi penampakan yang menakutkan. Kisah-kisah dalam rumah tangga bali, pastilah akrab dengan nama-nama: Sang Jogormanik, Sang Yamapati, Sang Dorakala, dan Sang Citragopta.

Lalu dimana letaknya Weda? Selalu penganut Hindu di era ini, setelah merasa telah berjalan-jalan ke berbagai belahan dunia membutuhkan ayat suci untuk mendandani badan religiusnya sebagai penganut Hindu. Dalam Siwa Gama, maka salah satu ayat yang kini digunakan sebagai bagian ayat Tri Sandya; Om Ksmasvamam mahadevah, sarva prani hitangkarah, mam moca sarva papebyah, palayaswa sadasiwa, itu adalah ayat suci yang diucapkan oleh catur dewata ketika memohon ampun kepada Hyang widi, memohon atas segala kesalahan, ucapan ini datang dari dua dewata yang bungsu, lalu disusul oleh dua dewata lainnya: Om ksamasvamam jagatnatha, sarva papa nirantaram, mam mocca sarvapapebhyah, palayaswa sadasiwa. Itu sebabnya; mantram pemujaan kepada siwa terdiri atas dua permakluman. Bagi orang Hindu Bali kenapa tidak mau sembarang mengajarkan anak-anaknya mantram weda, disebabkan Siwa Gama, yakni jika tak tahu mengapa ayat suci itu diwahyukan, maka membaca ayat suci sama saja dengan cuma menggumamkan kata-kata. Inilah kaitan mengapa dalam Hindu Bali sembah dan mengucapkan weda itu selalu dengan sikap hati-hati, kesannya memilih dan tertutup. Tidak bisalah kemudian, karena trend mudahnya membeli kitab weda, membuat sembarang dapat membacanya. Bukan badan religi yang dikejar, tetapi sejatinya Ma-gama.
(BERSAMBUNG, kantun melajah, kirang langkung ampurayang)

Makaula Guru - Siwa Gama (BAG. 2)

Seseorang yang mengaku spiritualis, rajin latihan yoga, menggagas kursus meditasi dan yoga, bertanya dengan skeptis; dimana letaknya Weda dalam Hindu Bali (?) Sambil berseloroh hampir saya menjawab dengan isyarat tangan; telunjuk mengarah ke dalam dada. Tetapi tentu ini tidaklah akan menenangkan kegairahan hatinya yang tengah merasa mensucikan dirinya.--- Dalam Siwa Gama, Gama itu berarti pegangan, mendasari untuk menjalankan perilaku spiritual dan religiusitas. Telah dipercakapan dengan sangat indah. Bayangkanlah, ketika membaca: bait suci tentang catur asrama, penjelasannya, karena ‘beliau’ menguasai trikaya parisudha, yang dinamakan wiku catur, dia yang datang tanpa kereta,‘seseorang’ yang duduk diatas batu tunggal, ‘dia’ yang tanpa menikah, ‘dia’ yang menjadi pendeta sejak kanak-kanak, ia yang tahu melaksana suryasevana, yang mampu melakukan penyucian atas dirinya sendiri. Bayangkan, bagaimana caranya kemudian mencari padanan mengajarkan bait suci kepada penganut yang awam. Maka dalam bentuk dialog dipercakapan; tanya jawab, dimanakah dia itu tempatnya dalam diriku? Lalu dijawab: dalam tri kaya Parisudha. Yang manakah disebut Trikaya? –yakni pada Kayika (tindakan), wacika (ucapan), manacika (pikiran) yang dibersihkan dengan keluhuran budi.

Lalu siapakah yang menjadi saksi bagi orang berbudi luhur? Tentulah Sang Hyang Adisukma, karena dialah Ida Sang Hyang Widi yang menunggal dalam diri, dikeliling lingkaran tiga windu, yaitu pangkal, di tengah dan di ujung. Maka pertanyaan yang skeptis lalu dijawab mantram sucinya: Om om siwaya namah/ Om om sadasiwaya namah/ Om om Paramasiwaya namah.

Jadi, awalan Ma-gama dalam kaula guru dipengajaran Hindu Bali,berbeda dengan gaya-gaya dogma, yang dikenalkan adalah hakikat; perintah bait sucinya adalah; dia yang menyembah  keberadaan Sang Tripramana, Triguna,Triajnana, sebagai benih yang diciptakan Sang Hyang Widhi. Lalu pelahan diperkenalkan makna suara wyanjana, Om maksudnya purusa. Om artinya pradana. Perhatikan (maksud dengan arti). Cobalah kini, betapa banyak orang Bali menyebut dan mengutip mantram siwa ini, tetapi tidak dimulai dengan makaula guru. Padahal bait suci ini sungguhlah memiliki kedalaman hakikat. Jadi jika ditanya, dimana sih letak weda itu dalam Hindu Bali, maka mulai dijawab dengan penjelasan hakikat.  Om Om itu Samyoga, yakni Siwa, itu dinamakan penunggalan, bisa datang dan pergi. Di sini ditegaskan bahwa Om Siwa Ya Namah adalah permulaan sembah. Puncak mantranya adalah Hrang, ini dalam cara pengajarannya diyakinkan bahwa melekat dalam dirimu; jadi apabila melakukan sembah kepada Hyang Widhi, otomatis manunggal dalam diri,sedangkan penjelasan untuk Om Om Sadasiwa, ini disebutkan sebagai bagian Aksara suci yakni Sa bersatu dengan Aksara Da, danti ditimbulkan oleh aranga, ini yang disebut teknik mengucapkan dengan antaswara, dia yang manunggal dalam diri saat muspa, kemudian dalam ketaknyataan itu puncak mantranya Hring; ini berada jauh dalam diri, terbagian dalam, ini disebut abyantara.

Dapat dibayangkan mengapa para leluhur penganut Agama Hindu Bali ini saat mengajarkan, mewariskan bait-bait sucinya dengan pola asuh yang bijak,yang sesuai dengan kemampuan anak cucunya. Juga seperti telah memperkirakan bahwa kelak ketika zaman mengadu pengetahuan yang didapatkan manusia dengan keyakinan beragama, pasti akan mempertanyakan hal ini; banyak sekali aku mendengarkan doa ini, mantra ini, “Om Hrang Hring Sah Paramasiwa ditya ya namah”—ini adalah pertanyaan yang kritis sekali, bagaimana sebenarnya posisi Sang Hyang Surya dengan Siwa Ditya. Bahwa dalam kehidupan Hindu Bali tentulah dekat sekali dengan pemujaan kepada Surya Candra. Dalam tradisi pengasuhan di bali, ini tidak akan dijawab dengan membedahkan per kata dari bait suci, walau secara filologi bisa dijelaskan. Tetapi biasanya dalam tradisi Bali, para orang tua akan mencerita kisah tujuh dewa, disampaikan menjelang tidur oleh nenek atau kakeknya: dahulu kala ada Batara (cara orang bali menyebut dewa), batara Wrehaspati, Batara Soma, Batara Bhanu, Batara Budha, Batara Anggara dan Batara Saniscara menghadap Batara Siwa, menyampaikan permohonanannya, lalu Batara Siwa meanugrahkan kesaktian. Nah, setelah semua batara itu diberikan anugrah datanglah batara surya, batara siwa sangat sayang kepada batara surya, diberikan anugrah dapat melihat atma, disitu diberikan gelar Parama Siwaditya menyamai batara siwa; karena itu Batara surya menyebutkan Batara Siwa sebagai Batara Guru, juga mempersembahkan tempat di pantara sunya (kosong) itu awalnya para pengajar disebut guru dan pemujaan batara guru diberi tempat pengaskaraan yaitu suatu tempat kehormatan dalam upacara. Batara Siwa membalas dengan tambahan anugrah kepada batara surya sebagai saksi alam semesta, mengetahui baik-buruk perbuatan manusia dan persembahannya, besar atau kecil, batara surya semenjak itu disembah dalam semua kegiatan upacara.

Kitab suci Siwa Gama ini memang mewarisi tradisi upanisad, duduk dekat kaki sang guru, terjadi dialog-dialog yang kritis, tidak ada keraguan untuk menyampaikan keraguan, dalam bait suci sargah ini; Raja Pranaraga bahkan meminta menjelaskan ulang Sanghyang Acintya, Sanghyang Taya, Sanghyang Hanarawang. Disampaikan dengan pertanyaan tajam, apakah itu dewa-dewa yang berbeda-beda, kalau berbeda apa bedanya, kalau sama apa samanya? Sebab dimana-mana orang memuja, berdoa kepada Sang Hyang Acintya Taya, menyebutnya Sang Hyang Licin, yang ditanyakan adalah hakikatnya.

Bait-bait suci ini menjelaskan mengenai kejadian ketika Sanghyang adisuksma menciptakan Akasa sebagai jalan bayu,sabda, idep, ketika dalam pertemuan yoganya maka terciptalah akasa dalam keadaan tidak menentu, muncul bersama Sanghyang Tatwajnana, Sang Hyang Anu, yang merupakan orangtua batara bayu, sabda, idep; ingatlah dalam banyak nyanyian misalnya: bibi anu...lamun payu....begitulah caranya orang bali mengenalkan bagian dari mengapa kemudian ada sebutan Sang Hyang Hanarawang. Jadi gelar, sebutan itu dalam tradisi Agama Hindu Bali memiliki argumentasi spiritual dalam bait suci, untuk Sang Hyang Licin disebutkan itulah tujuan batin yang paling rahasia, dapat dimasuki oleh tatwajnana, keberadaannya dalam windu yang sepi, dicangkok oleh sinar rahasia, para yogi agung akan mengatakan itu tempat kekosongan tertinggi, yang melihat walau tak bermata, yang mencium walau tak berhidung, berkata walau tak bermulut, mendengar tanpa telinga, menjamah tanpa tangan, berjalan tanpa kaki, berkarsa tanpa hati. Dia tak berbadan. Alam semesta inilah badannya, dia tanpa ayah-ibu, dialah sang hyang licin, sedangkan untuk Sang Hyang Acintya itu adalah apabila Sang Hyang Adisukma keluar dari windu yang mengembang memberi anugrah kepada orang yang mengerti tatwajnana, dibayangkan sebagai orang kerdil: wewelan, tanpa cawat, tanpa alat kelamin; inilah pembayangan yang paling mudah dipahami oleh pemujanya yang awam. Sedang Sang Hyang Taya, dalam tradisi umat Hindu Bali inilah menjadi dwistasastra, suara yang datang dan pergi. Taya artinya juga niskala, dapat berwujud dan tak berwujud inilah hakikat sadasiwa, itulah juga kelak disebut Sang Hyang Titah, Sang Hyang Tunggal, itu hanya akan dapat dipahami ketika memahami kerjanya batin ketika melakukan sembahyang khusuk. Itu juga widhi, asal dan tujuan kembali.

Tradisi Kaula Guru ini memang tidak dilakukan seperti pengajaran di kelas-kelas, dilakukan dalam tradisi dialog yang pesertanya terbatas. Sebab apabila tidak demikian, ajaran tatwasiwa ini akan sulit dipahami, dari sargah ini pelahan akan dikenalkan mengenai banyak hal dari alasan penyebutan, mantra, upacara. Karena itu, disebut Gama. Bukan disebut Agama. (BERSAMBUNG, kantun malih malajah, kirang langkung ampurayang)