GAMBUH PANJI MASUTASOMA : DEMANG TUMENGGUNG ITULAH FAKTA 'BADUT'JUGA KEKUASAAN

Rakyat bukan negeri! Dimana sistemnya monarki. Maka dia tak akan bisa berharap kepada penguasanya. Bahkan berdoa sambil menyogok pun sudah pasti urusan calon penguasa baru itu adalah keturunan si penguasa. Mau berontak pun tanggung. Sebab struktur penguasa buat menyangga kekuasaannya : tak diputuskan oleh kemampuan dan keterampilan. Tetapi oleh nepotisme, intrik dan juga manipulatif. Ngeri! Iya. Sutasoma pun tahu hal itu. Jayantaka pun tahu itu. Mencari kesetiaan, loyalitas dengan dalil budi baik itu absurd dalam nalar kekuasaan.


Drama tari gambuh ini sejak era Udayana menjadi jembatan otokritik sekaligus keputusasaan. Tingkatan dari satu orang warga (rakyat adalah jamak): menuju puncak kuasa. Itu seperti memasuki labirin. Lebih ribet dari birokrasi modern. Manipulasi pertama yang ditawarkan kekuasaan adalah seolah-olah dalam mengurus rakyat ada dharma negara. Taat hukum, moral dan etika. Sekaligus glorifikasi. Intimidasi akan muncul untuk sesekali muncul figur baru yang dipromosi di strata wilayah kademangan (setara wilayah kabupaten) itu berkakak adik baik secara biologis maupun tata negara: di situ : istilah mereka kaki tangan penguasa yang berurusan langsung dengan masalah rakyat. Diatasnya pada labirin penguasa : Para arya itu tidaklah semata urusan administrasi tetapi juga wakil wakil keluarga besar : golongan-golongan yang dibangun dengan tak hanya ikatan perkawinan juga keyakinan. Semua juga dalam kekompakannya menyimpan manipulasi : atas segala kelemahan dan ketakutan. 


Drama tari gambuh ini menarik sekali sebagai wajah perlawanan, tandingan sekaligus kearifan yang daya ungkapnya dilabuhkan pada pemeran Demang Tumenggung. Keduanya dalam real time adalah pejabat tinggi. Tetapi ditampilkan dengan kegaduhan, gerak yang nyeleneh : pilihan kata yang simbolik. Tertawa tanpa sebab. Menertawai entah apa yang ditertawai. Kadang begitu riuh dalam kesibukan yang seakan betapa berat pengabdian menjadi pejabat tinggi. Dan entah apa itu pengabdian. Segala celaka juga dipahami akan tiba. Tetaplah tertawa dan hiruk pikuk. Sebab kehirukpikukan akan membuat atasan merasa dicintai. Dan didukung. 


Pemeranan Demang Tumenggung ini tidak sama dengan pemeranan punakawan. Tapi gambuh mendesainnya dalam teks yang methapor buat berkata : kekuasaan itu sejatinya badut : lebih lawak dari gaya punakawan. Bayangkan : penguasa mengira dirinya berkuasa tetapi selalu takut kehilangan kekuasaan. Karena itu selalu memelihara intrik. Bila musuh nyata datang untuk merebut kekuasaannya. Maka penguasa akan berkata : membela tanah air atau membela kebenaran. Maka Demang Tumenggung akan melepas tawanya. Menghirukpikukan dirinya seolah tengah kompak setia. Perhatikan dan dengarkan pilihan teks (dialog) demang tumenggung : linguistik corpus ini, yang diucapkan berulang dengan selang seling pilihan kata yang berlawanan dengan tata krama berbahasa : puitika nyeleneh dalam tradisi puitika sahdu. 


Maka : jika interpretasi atas pemeranan ini mengira ini peran penghiburan. Itu pasti sedang kurang gahol. Tapi jika berani mendekati para cendikia yang menyusun drama tari gambuh ini : maka akan fungsional sampai detik ini. Menghadapi kekuasaan dan penguasa yang sejati selalu rikuh dan kikuk. Sebab tak ada penguasa yang bebas dari perasaan kesepian akan kesetiaan sekitarnya. Sebab yang ada adalah kepentingan. Kesalahan adalah sandera bagi keberadaan mereka. Dalam hal itu entah mengapa posisi Demang Tumenggung ini justru yang dipilih. Sebagai permakluman : peradaban ini pun diwariskan dengan lucu. Bahkan kadang dengan lawakan. Jadi bagi mereka yang mengira kekuasaan dan penguasa itu keketatan tanpa tawa. Itu artinya dia hanya penjilat yang siap menjadi pengkhianat bagi siapa saja yang kelak menghalangi hasrat kuasanya. Maka : pada demang tumenggunglah Sutasoma juga Jayantaka menyaksikan kepala kepala raja itu dipenjara oleh hiruk pikuk canda tawa para demang tumenggungnya. (Nonton latihan Masutasomnya Dayu Arya Dayu Ani dan potonya Made Gunarta sambil senyum pada Luciana Ferrero Suliati Boentaran Ayu Weda Putu Ana Anandi Venus Asri Putu : kita semua harus bisa tetap tertawa)

SUBLIMASI DALAM KOREO Dayu Arya Dayu Ani

 


Dalam seni pertunjukan di Bali. Menarikan Rangda itu telah distigma : menuju tampil angker, menyeramkan, pencapaiannya : bikin takut! Hingga lupa karakteristik yang ditarikan. Sehingga yang dicari adalah bagaimana mendapatkan gerak plus tambahan vokal : pokoknya agar serem! Rangda itu apakah dalam status 'arca' artinya disucikan ataukah sebagai topeng untuk ditarikan dalam seni pertunjukan. Tetap berasal dari kepradnyanan memahami durga tattwa. Dari sisi estetika itu serius surealis menggambarkan ekstraordinary kecantikan Sang Rahim Agung. Mahahrdaya. Apa saja melampui dari yang biasa biasa saja. Pasti menggetarkan. Menciutkan. Dayu Ani dan adiknya Dayu Gek Han : menterjemahkan kejelitaan tiada tara dari Widyutkarali. Durga gangga gori itu! Yang dalam kisah Sutasoma berkepala sejuta cahaya. Dan pemberi anugrah mantra Mahahrdaya Dharani. Menjauhi godaan: menjadikan adegan peanugrahan itu : menyeramkan dengan gerak gerak gertakan. Sebaliknya : dayu ani mendorong koreonya kepada keharusan membawa nafas halus saat menarikan. Karena ekstraordinari Durga itu pada kemahalembutannya. Perhatikan gradasi potret yang dipoto oleh Made Gunarta saya edit sedikit. Untuk memperlihatkan : sisi sublimasinya untuk menampilkan jenial koreo ini. Dan uji cobanya ditarikan di siang hari tanpa dekorasi, tanpa make up. Ah, jadi pingin bertanya: apakah adegan koreo itu masih bikin merinding (?) 

IDE TIMANG-TIMANG ITU : BUKAN DARI SAYA!

 

Ini penting mengklarifikasi. Juga buat pengetahuan bagi adik adik di Bhumi Bajra. Menghormati dan mengakui ide siapa dalam proses kreatif bahkan saat kolaborasi. Menimang nimang, ngempu tapel rangda itu sebenarnya ide yang mengetarkan. Menyerikan bahkan. Apalagi yang ada dalam koridor percaya akan mistik plus magic. Bukan nyaluk. Tetapi ngempuang. Iyung-iyungang. Itu ide dari Dayu Arya Dayu Ani sendiri. Tugasnya saya adalah ngabetang. Memahami bagaimana memecah stigma soal menarikan rangda dalam seni pertunjukan di Bali. Belum lagi stigma akan berbagai tulisan dan karya saya yang memang bermuara pada riset calon arang. Wajah rangda itu begitu lekat. Jika hanya semata melihat tarian itu sebagai alur gerak berkisah. Formalisasi dalam ekspresi dalam seni pertunjukan Bali kini lebih percaya pada atribut, busana bahkan akrobatik jika hendak memunculkan kejutan dalam seni pertunjukan. Berkali saya menonton, bahkan tangkil saat ada upacara napak pertiwi misalnya. Saya sudah tidak bisa membedakan lagi mana ida sesuhunan sane tedun, apa itu penghayatan terhadap satu peran (?) Semua membangun intimidasi pemanggungan. Bahkan saat nedunang sesuhunan. Sejak lama saya memang mengajak dayu ani merenung : rangda itu mestinya selembut legong, ayu dan dikembalikan kepada jnana wisesanya : yang paling kuat itu adalah kelembutan, yang paling mengharukan dan membuat hati terenyuh adalah urusan ibu dan anak. Tapi ide menimang nimang itu serius membuat saya tersenyum. Saya sudah berjanji dalam hati. Akan mentaati siapapun yang mensutradarai saya. Maka tugas saya walau kadang daya rekam gerak (pileh) saya itu buruk sekali, harus dipandu oleh Mang Yun, Dayu Gek Han. Itupun dengan cara berbisik, kendala lain untuk memberi arahan itu kadang harus dihadapi dengan gelak tawa. Tapi ide menimang nimang rangda itu : serius menyerikan hati. Itu tidak mudah. Lebih mudah menarikan rangda. Dibandingkan menimangnya. serius. Jadi ini saya maksudkan bahwa Dayu Ani itu mumpuni sekali dalam menetapkan apa yang akan dia tetapkan sebagai elemen dalam karyanya. Jadi ini pesan untuk adik adik di bhumi bajra : selalu hati menyimpan kekaguman agar taksu itu tiba dalam semua hayat hidupmu.

NGEBAT, WALTZ DAN AYAHKU

 


Jika saya suka memasak, itu jelas pengaruh almarhum ayah saya. Saat penyajaan (dua hari menjelang galungan dan sehari sebelum penampahan) mau tak mau ayah akan meminta saya menyiapkan 'base-base' tapi itu rasanya semua keluarga di Bali mengalihkan keterampilan memasak dan juga keterampilan lain untuk kelengkapan upacara : terjadi alamiah. Mau tak mau harus bisa. Kalau mahir itu bonus. Atau memang menyukai memasak atau mejejaitan dll. Entahlah. Kemarin melintas ingatan saya pada almarhum : aneh, ternyata ayah pernah mengajari saya berdansa : waltz. Entah untuk acara apa itu. Saya ingat : di ruang tamu yang luang itu : ayah mengajar ketukan 3/4 lalu berputar arah. Kalau tak salah ada tiga tahap langkah. Aiih. Saat itu saya tak bertanya : mengapa ayah bisa dansa? Sebab kemampuan ayah saya lumayan. Saya masih ingat : ada bedanya kalau di ruangan tutup atau di luar ruangan. Aneh. Saya merasa sesuatu menggetarkan hati. Kenapa ya saya ingat justru saat itu: saat di ruang tamu: ayah mengajarkan saya dansa waltz!. (Jagi rawuh ring galungan kantos kuningan dewata dewati titiange) - penyajaan 2024

CATATAN THE TIMPALs : MEREKA DENGAN SUARA KANAK BERTANYA : APA SIH CERITANYA INI (?)




Di bawah pohon sawo di jabaan Merajan Ageng Griya Budakeling : kami berempat sedang menunggu proses adegan Panji Masutasoma bagian openingnya. Dayu Gek Anis, pemeran Galuh    bersama tiga condong (kinar, gung gek, dayu geg) saat itu kembali dari arah utara, arah pintu dari purian merajan ke jabaan : dan Gek Anis mendapati saya tengah menimang Rangda (btari widyutkarali): dengan suara kanaknya menyapa saya : sudah dikasi minum susu (?) Ketiga anak lainnya melepas senyum nakal kanak mereka kepada saya. Saya pun memperagakan dengan sungguh menimang 'btari'. Ketiganya mendekati melihat ke arah rangda, seakan itu adik kecil, "cantik cucunya loh!" Ini dicelotehkan anak anak itu dengan maksud menggoda saya. Yang ga mau dipanggil nenek. Harus memanggil saya kakak atau sista! ๐Ÿ˜„ jadi Kinar lalu bertanya: apa sih ceritanya ini. Yang lainnya bertanya apa ceritanya? Kenapa ada panji? Kenapa ada masutasoma(?) Saya dengan serius juga akhir jatuh kocak. Mulai menceritakan : itu cerita tentang the prince (pake bahasa inggrislah): yang galau lalu meninggalkan istana. Dia itu kabur sebenarnya sebab semuanya  ga mau dong dia pergi gabut gitu. Bisa bahaya kan. Tapi the prince tetap pergi. Nah si panji itu karena dahulu kala : di griya budakeling ini ada gelungan panji yang misterius: yang bisa muncul dan hilang tiba tiba. Nah, adegan awalnya itu tuh bu guru dayu ani mau berkisahkan itu : oh....lalu terjeda. Sebab persiapan akan dimulai. Kembali anak anak itu menggoda saya : ga nangis cucunya (?) Hahahhahaah...dan ternyata diam diam kami diamati oleh Ayu Suma Lestari ibunya gung gek. Lalu saya tertawa berucap : ga boleh loh nyandain rangda. Anak anak itu mengangguk dengan senyum seolah menatap serius ke arah depan. Saya bersukur : pertanyaan jujur dari mereka. Sebab jarang yang mau bertanya soal adegan opening itu. Seakan akan semua mengerti. Lewat anak anak itu saya jadi merasa betapa ketulusan anak anak itu justru menjadi jembatan komunikasi. Tentu dengan komentar : duh gitu loh ajarannya mbok cok...maklum saya memang mengajak anak anak itu agar mengakrabi hal yang selalu ini secara halu ditakuti. Kapan takut, kapan berani, kapan bertanya bahkan mempertanyakan..dst. welcome di pasraman bhumi bajra๐Ÿ˜„