SEBELUM KAU BERBUSA BICARA TENTANG DIA....MINIMAL BACALAH INI

HOPPLA!
oleh chairil anwar

Bagi seorang yang bisa menulis menurut
Kepercayaan yang sudah mendarah-nanah
Dalam dirinya, bukan menurut kepercayaan
Yang masih diharapkannya.



Jika kita memaling ke belakang, kita dapati "Pujangga Baru" terlahir dalam 1933 bersama dengan terebutnya oleh Hitler kekuasaan di Jerman, tetapi majalah ini selama hidupnya hanya memuat satu artikel dangkal tentang fascisme! Di samping itu melengganglah "Pujangga Baru" dengan nomor-nomor pertamanya berisi esei yang tidak berdasarkan pengetahuan (dalam arti seluasnya!) kesusastraan, meneriakan "pembaharuan". Tetapi oleh karena memang ada intensitas dalam golakan mulanya, tersembur jugalah beberapa ikatan sajak "pembaharuan’. "Jiwa Berjiwa" oleh Armijn Pane: tidak satu sajakpun dari kumpulan ini yang tinggal lagi dalam ingatan. "Tebaran Mega’ oleh Takdir Alisjahbana: 2 atau 3 sajak duka ketika kematian isterinya turut menyembilu hati. Beberapa pula dari Or. Mandank yang bersahaja menggores.

Puncaknya dalam gerakan Pujangga baru selama 9 tahun adalah Amir Hamzah dengan prosa-prosa lyris, sajak-sajak lepas, 2 ikatan sajak: "Buah Rindu", "Nyanyi Sunyi", salinan dari beberapa sastrawan-sastrawan Timur yang ternama, disatukan dalam "Setanggi Timur’. Kata kawan-kawan seangkatannya Amir Hamzah dapat pengaruh dari pujangga-pujangga sufi dan Parsi. Tetapi yang perlu diperhatikan bagi saya ialah, bahwa Amir dalam "Nyanyi Sunyi" dengan murninya menerakan sajak-sajak yang selain oleh "kemerdekaan penyair’ memberi gaya baru pada bahasa Indonesia, kalimat-kalimat yang pedat dalam seruannya, tajam dalam kependekannya. Sehingga susunan kata Amir dalam "Nyanyi Sunyi" ialah yang dinamakan "puisi gelap" (duistere poezie). Maksudnya: kita tidak akan bisa mengerti Amir hamzah, jika kita membaca "Nyanyi Sunyi" sonder pengetahuan tentang sejarah dan agama, karena kalimat-kalimat Amir di sini mengenai missal-misal serta perbandingan-perbandingan dari sejarah dan agama (keislaman). Kalau kawannya Takdir menempatkan Amir sudah ditingkatkan "internasional", saya hanya bisa menerima kegembiraan ini dalam arti: puisi yang dilahirkan Amir bisa digabungkan pada hasil pujangga-pujangga lain di masa kini. Karena puisi amir juga meminta ‘pengetahuan", tenaga rohani si pembaca.

Dalam waktu belakangan dari Pujangga Baru menjejer lagi seorang Karim halim, yang menuliskan 4 atau 5 sajak untuk kenangan, dan Asmara hadi dengan kelantangan pekikan perjuangan, sepoi lagu cintanya bisa dicatatkan juga. Selain itu beberapa kritik serta polemic yang tidak berdasarkan pengetahuan dan kepribadian (personality) mencoba meributkan kehidupan "Pujangga Baru" yang sebenarnya tidak membawa apa-apa dalam arti penetapan-penetapa kebudayaan. Jadi: "Pujangga Baru’ selama 9 tahun tidak memperlihatkan corak, tidak seorang pun dari majalah tersebut sampai kepada suatu ‘perhitungan’. Maka datanglah "Kulturkammer’ Jepang dengan nama "Pusat Kebudayaan" yang memberi kesempatan tumbuhnya "kesenian’ dengan garis-garis Asia Raya-jarak-kapas- memperlipat ganda hasil bumi-romusha-menabung-pembikinan kapal dan lain-lain. Dan terjelma pulalah pasukan seniman muda yang dengan patuhnya tinggal dalam garis-garis tersebut, tidak sedikitpun berdaya meninggalkannya!!! Tidak mereka tahu bahwa berates seniman-seniman di Eropah (Jerman, Itali), di Jepang sendiri, menentang dengan pertaruhan jiwa, yang meninggalkan negeri yang dicintainya karena aliran kebudayaan paksaan ini. Yang berpendirian: lebih baik tidak menulis dari pada memperkosa kebenaran, kemajuan.

Sekarang: Hopplaa! Lompatan yang sejauhnya, penuh kedararemajaan bagi Negara remaja ini. Sesudah mendurhaka pada Kata kita lupa bahwa Kata adalah yang menjalar mengurat, hidup dari masa ke masa, terisi padu dengan penghargaan, Mimpi, Pengharapan, Cinta dan Dendam manusia. Kata ialah kebenaraan!!! Bahwa Kata tidak membudak pada dua majikan, bahwa Kata ialah These sendiri!! Dan waktu lampau cuma mengajar kita : didesakkannya kita ke kesedaran yang ada memang dalam diri sendiri; harga-harga kerohanian yang sudah terobek-robek kita raba kembali dalam bentuk sepenuh-penuhnya. Dunia- Terlebih kita- yang kehilangan kemerdekaan dalam segala makna, menikmatkan kembali kelezatannya kemerdekaan.

Kemerdekaan dan Pertanggungan Jawab adalah harga manusia, harga Penghidupan ini. Dan apa sajapun tidak akan membikin kita rela menekan diri sendiri lagi…………..

Hopplaa!! Melompatlah! Nyalakan api murni, Api persaudaraan bangsa-bangsa yang tidak akankunjung padam.

Hopplaa! Mari kawan-kawan seangkatan, kita pahat tugu pualam Indonesia sempurna. Dunia sempurna….



(Dipetik dari Chairil Anwar, Pelopor Angkatan 45, H.B.Jassin)

Cerita Serial: Kalki Bagian 11

Bagian 11


    Orang-orang bermata nyamuk, begitu anak-anak kecil menyebutnya, saat serombongan Tentara Negara Kota memasuki Lounge Bandara Kota. Tak ada yang takut pada penampilan mereka, yang menutupi mata dengan kacamata berlensa inframerah, yang dimodifikasi sedemikian rupa; sehingga nampak trendy. Sebaliknya, yang tua-tua segera maklum, ada sesuatu yang tak beres di bandara dan semoga saja tidak akan mengundang terjadinya baku tembak. Sementara itu, suara informasi penerbangan terus menerus terdengar seolah tak peduli Tentara Negara Kota tengah mengadakan penyisiran, "perhatian…perhatian, pesawat superandroidsonic tujuan bandara kota, pangkalan demarkasi barat segera diberangkatkan. Ini adalah panggilan terakhir…"
    Sukurlah orang-orang bermata nyamuk itu hanya sebentar saja di dalam ruangan, lalu ke luar dengan langkah cepat. Namun tak cepat membuat orang-orang dapat kembali bersikap wajar, ketegangan masih bergayut di semua wajah. Hanya anak-anak yang masih menyimpan kagumnya  nampak dalam tatapan mereka yang berbinar tak lepas-lepas memandang ke  arah pintu.
    Mata nyamuk itu sungguh seksi dimata anak-anak, tetapi menggiris hati bagi yang mengerti. Dalam gelap sekalipun tentara bermata nyamuk itu akan dapat mencari orang yang dikejarnya; hanya dengan sensor DNA! Semua jejak akan didapati. Artinya, ada bukti yang membuat para tentara bermata nyamuk mengejar ke semua tempat, termasuk area public netral seperti bandara ini!
    Penyisiran terus menerus dilakukan oleh Tentara Negara Kota; semua yang menjadi wilayah area kota klaim panglima tentara negara kota dan atau yang menjadi batas pengelolaan harus disisir superteliti! Itu penjelasan resmi dari jubir Panglima Negara Tentara Kota di televisi dengan suara datar hingga terdengar mirip ucapan terbata-bata.
    Diterjunkannya pasukan khusus dengan mata inframerah itu pertanda telah ada kebijakan yang bersifat tak pandang bulu! Mendatangkan rasa cemas dan semua kaum paham sekali bahwa kerusuhan kota nampaknya akan lama dapat diakhiri.    Tetapi sebaliknya, di berbagai kesempatan, terutama di ruang public, kehadiran pasukan khusus itu justru menjadi perhatian yang menyenangkan bagi anak-anak dan kaum muda; mereka keranjingan menjepretkan kamera lalu mengedarkan potret di semua link bagaimana pasukan khusus itu saat melakukan penyisiran; kiriman potret itu dibuat sebagai spam fungky yang tiba-tiba muncul menyela informasi resmi, mau tak mau harus sejenak diperhatikan dan  mengundang komentar lalu jadi perbincangan dimana-mana dan setelah sangat menganggu barulah otomatis diskip!
    "Situasi sedang tak nyaman…Mohon maaf, kami hendak memindahkan rombongan anda ke tempat yang lebih aman…" Kembang Gaduh mengawali percakapannya, Patik Gurun mengangguk sedangkan Panda Gasing melengak dengan kerut di dahi. Hanya beberapa menit setelah dirinya mengkonfirmasi menyetujui permintaan Kembang Gaduh untuk bertemu, Kembang Gaduh telah muncul di hadapannya.
    "Beberapa menit lalu serangan telah terjadi, belum diketahui motiv dan identitas pelaku, namun prediksi intelejen menunjukan analisa yang sangat berbeda dengan yang selama ini beredar di berbagai link…" Jelas Kembang Gaduh dengan suara datar.
    Patik Gurun tak segera menanggapi, hanya memandang Kembang Gaduh dengan hati-hati, "kapan sebenarnya kami dapat bertemu dengan Sang Guru?" Tanyanya dengan suara pelahan.
    Kembang Gaduh menjawab lembut, tanpa mengubah irama suaranya, "perayaan panen kami belum usai, mohon dinanti di tempat yang lebih nyaman dari pada wisma tamu ini…"
    "Kemana kami akan dipindahkan?" Panda Gasing bertanya mirip bisik. Kembang Gaduh tersenyum, menjawab dengan cepat, "kendaraan androidhybrida kami akan membawa anda semua ke pondok yang lebih dekat dengan penduduk Kaum Gunung…"
    Patik Gurun mengangguk, "berilah kami keterangan, mengapa serangan tadi membuat kalian begitu waspada, bukankah kerusuhan area kota selalu membias namun bukan kita tujuan intinya…"
    "Analisa intelejen kami mengatakan, ada sejumlah informasi yang menyatakan bahwa penyerangan ini tak berkaitan dengan faksi perusuh area kota…"
    Wajah Patik Gurun sedikit berubah, "maksudmu, kamikah kemungkinan sasaran…" Tanyanya dengan dahi terangkat tinggi, perkataannya mengambang, wajahnya nampak menegang.
    "Belum kami pastikan, namun lebih baik kita berpindah…" Jawaban Kembang Gaduh membuat Patik Gurun menarik nafas, memandang Panda Gasing dengan sorot mata menikam tajam. Para pengawalnya segera bergerak mengikuti Kembang Gaduh.
    Tak lama kemudian terdengar suara deru tipis, geletarnya terasa di atap seperti angin kencang. Kendaraan androidhybrida adalah kapal terbang siluman, dalam lintasannya tak nampak oleh mata biasa, dapat menyaru meniru suasana sekitarnya, mirip sifat kulit bunglon, namun bahan-bahan pembuat pesawatnya melewati kualitas super titanium, ringan namun bandel.
    Tanpa banyak tanya lagi, segera rombongan Patik Gurun menuju anak tangga yang telah luruh dari atas; diluncurkan bagai undakan dari atas langit. Undakan itu sungguh menciutkan hati. Menaikinya pun seperti melewati undakan di udara, terasa aneh ditelapak kaki, gravitasi seakan bekerja dengan begitu kuatnya. Namun anehnya tubuh tetap stabil, tak sedikit pun ada ungkitan dalam pergerakan tubuh saat melangkah kaki menuju undakan di atasnya. Panda Gasing sedikit memucat menaiki tangga langit itu namun Patik Gurun justru dilanda ketakjuban. Kendaraan yang dikenalnya selama ini di seluruh permukaan bumi sebagai kendaraan super cerdas adalah sedan pribadinya; rupanya kendaraan kebanggaannya itu kalah jauh dengan pesawat androidhybrida.
    Saat semua penumpang telah dipastikan berada dalam pesawat. Kembang Gaduh segera mengirim signal khusus ke berbagai titik pengawas dalam jaring pertahanan Kaum Gunung. Evakuasi cepat semacam ini harus dilakukan dengan cermat. Serangan lanjutan dapat saja terjadi dan wisma tamu terlalu dekat dengan batas ring kewaspadaan dan biasanya akan jauh lebih merepotkan dalam mengatasinya; informasi yang paling valid, ada upaya penyerangan secara brutal terhadap Patik Gurun dan akan menjadi skandal apabila itu terjadi di area Kaum Gunung.
    Inilah penerbangan androidhybrida yang pertamakali dirasakan oleh Patik Gurun juga oleh yang lainnya. Pesawat siluman yang terkenal karena menggunakan bahan bakar dari biogas tinja; hanya pernah dibahas secara gencar setelah perang tinja dimenangkan oleh Kaum Gunung. Pesawat siluman ini pernah diminati oleh semua para penguasa militer, namun bahan bakarnya sangat sulit didapat hanya dimiliki oleh Kaum gunung! Sehingga kepopulerannya lenyap oleh waktu.
Bahwa Kaum Gunung di demarkasi timur telah mengembangkan pesawat siluman yang digunakan membawa prajuritnya memasuki titik-titik pertahanan kaum kota, sudah lama diketahui namun sungguh menarik, kehebatan pesawat itu tidak menjadi focus perhatian semua kaum yang selalu memerlukan penguatan pertahanan; kisah pesawat siluman itu mirip ilusi, tak banyak yang mempercayai akan kecanggihannya. Namun kini Patik Gurun berada dalam pesawat itu, merasakan kehebatan dan serasa berada dalam keajaiban; benar-benar bukan ilusi! Dan ia berusaha duduk dengan tenang menyembunyikan ketakjuban di balik kaca mata yang demikian gelap lensanya.
    Sedangkan Panda Gasing beserta para pengawal Faksi Gurun hanya terdiam, kehilangan hasrat untuk bicara. Betapa laju pesawat ini tak memberi guncangan sedikit pun bahkan ketika pemberitahuan dari pilot bahwa pesawat akan segera tiba di wisma utama, para penumpang tak merasakan bahwa pesawat telah melayang demikian cepat, melewati kecepatan supersonik.
    Ah, Patik Gurun menganggukan kepalanya, menyalami petugas yang mengatur penghantarannya ke wisma utama. Sungguh, hatinya takjub luarbiasa dan memahami mengapa Kaum Gunung disegani bahkan oleh para Tentara Negara Kota.
    Sementara itu, Kembang Gaduh harus mengkoordinasi suasana di camp pengungsian. Segala macam informasi tidak mudah dipilah dengan cepat. Delapan orang yang ditangkap belum memberi keterangan yang memadai, masih mengalami shock akibat kelumpuhan saraf. Informasi dari Larung pun sederhana sekali: Sandya Hening dan rombongannya masih bersantai di wisma Pondok Mati. Lalu desas-desus pengejaran oleh pasukan khusus Tentara Negara Kota ke semua area perkotaan justru semarak dengan berbagai komentar nakal bahkan dilengkapi dengan potret-potret yang spam yang lucu-lucu; disebarkan secara terus menerus oleh anak-anak muda yang sudah barang tentu, tak peduli bahwa kelakuan mereka mengganggu lajunya informasi.
    Kembang Gaduh menengadah menatapi langit; berusaha memikirkan, berusaha menerka-nerka apa sebenarnya yang tengah terjadi, apa sesungguhnya semua ini? Jika faksi perusuh kota itu dari separatis maka akan jelas terjadi perlawanan dari berbagai penguasa kota. Kalau itu dari internal sistem mereka, maka pihak penguasa kota tengah mengubah jalan keyakinan mereka, mereka memanipulasi kaum kota untuk kelanggengan kekuasaan faksi tertentu?
    Letupan di langit tiba-tiba membuat Kembang Gaduh tersentak. Kembali ada serangan di dekat demarkasi, kali ini pastilah Bom gas airmata. Segera tabletnya memberi laporan perubahan suhu dan arah angin. Benar dugaan Kembang Gaduh: Bom Gas airmata! Segera ring pembatas difungsikan, seluruh area kaum gunung segera tertutup oleh kabut. Bau aneh menyebar begitu tipis.
    Sedangkan saat itu, Patik Gurun tengah memasuki ruangan wisma utama yang kata Kembang Gaduh ada dalam area hunian kaum gunung! Dengan hati-hati seorang pengawalnya membuka jendela, Patik Gurun ingin melihat seperti apa wajah pedalaman area Kaum gunung; ah, hamparan ladang jagung menyambut tatapan matanya lalu di arah yang lain barisan bukit dan suara ternak yang tengah merumput menjerit sesekali ditimpali rincik air seakan bersahutan dengan deru angin yang menggesek pohon-pohon. Patik Gurun meminta jendela kembali ditutup sebab desir angin membawa rasa teramat dingin ke pori dan matanya.
    "Bapa, jika ingin mengetahui keadaan sekitar, profile kaum gunung dapat dilihat dari televisi mereka…" Seorang pengawal menunjukan fasilitas yang ada dalam wisma utama. Patik Gurun hanya mengangguk, melambaikan tangan ke arah Panda Gasing, agar mendekatinya, "kamu lihat sendiri, bagaimana kesigapan dan fasilitas yang dimiliki kaum gunung?" Begitu dalam suara Patik Gurun memulai pembicaraan. Panda Gasing mengangguk, dahinya berkerut samar, nampak sedikit rikuh.
    "Kamu paham kenapa aku ingin menemui Sang Guru?"
    Panda Gasing menunduk. Patik Gurun menghela nafas, wajahnya nampak berubah, hatinya kadang galau menghadapi Panda Gasing, yang tak pernah belajar dari pengalaman, "di gurun, pandangan kita terbatas. Kita merasa kitalah yang paling kuat, semua nomad kita kuasai, semua asset pertambangan kita yang dapat, tetapi kita tak memiliki banyak manusia pintar, kita mewarisi kesibukan peperangan dari semua leluhur, kita keturunan yang hingga kini tak pernah secara sungguh-sungguh selesai dari tradisi peperangan…"
    "Bapa…Aku mengerti, tapi kaum gunung memilih menerima Sandya Hening dibandingkan dengan kita…Padahal, sudah pernah kujelaskan melalui kurir kepercayaan Sang Guru bahwa pemimpin agung Kaum Putih adalah Bapa…"
    Patik Gurun menghela nafas, matanya menjentikan binar pengertian, "Iya, itu memang akan terjadi, sudah terjadi! Aku pemimpin Kaum Putih, tetapi semua faksi berkhianat dan bahkan melupakan kebaikan kita. Kita menyokong perekonomian mereka, namun mereka tak mau menganggukan kepala sedikit pun kepada kita…"
    "Sandya Hening yang memecah persatuan, lalu meninggalkan kampung kuilnya, karena takut semua faksi menyerbu ke sana…"
    Patik Gurun menggeleng,"kamu salah sangka persoalan ini…Sandya Hening dengan kampung kuilnya bukan faksi lemah…"
    "Bapa, kerusuhan kembali terjadi…" Tiba-tiba salah satu pengawal mengangsurkan tablet, menyela pembicaraan Patik Gurun dengan Panda Gasing, "kerusuhan di dekat demarkasi…Kaum nelayan mengirim pernyataan ancaman, karena yang terkena Bom Gas Airmata adalah truk-truk pengiriman ikan milik mereka…"
    Patik Gurun mengerutkan dahinya, "coba kontak Borus…katakan dari aku…" Perintahnya dengan dahi terangkat tinggi. Kaum Nelayan bukanlah tipe pemarah. Pasti terjadi sesuatu yang membuat Borus tersinggung, pikirnya penuh dugaan.
    "Link kaum nelayan mengalami hablur…"
Penghabluran adalah tanda tak mau dikontak dan itu adalah isyarat telah terjadi sesuatu yang membuat suatu kaum menutup diri dari kontak komunikasi.
    "Koordinat kerusuhan itu tepatnya dimana?" Disela keheningan Panda Gasing tiba-tiba berucap, dengan nada bertanya mirip kepada dirinya sendiri.
    "Di area demarkasi, di food hallnya…"
    Lalu Panda Gasing membuka tabletnya, wajahnya nampak tegang, kerudungnya bergerak-gerak. Patik Gurun sebaliknya, nampak tenang dan melangkah santai ke semua ruangan di wisma utama.
Sementara itu, di Gerbang Perbatasan, Kembang Gaduh melayangkan tubuhnya, bergerak cepat ke arah pos yang terletak di garis batas terdepan area Kaum Gunung. Firasatnya mengatakan serangan hebat akan tiba. Segera begitu kaki Kembang Gaduh menjejak di tangga pos pengawas, tanpa menghiraukan sapaan petugas jaga, diusapnya layar pemantau keadaan, semua tombol kendali diawasi oleh petugas-petugas terpilih, yang kewaspadaannya telah teruji.
    "Segera tembok pengungkit disiagakan!" Perintah Kembang Gaduh dengan suara tercekat.
Kabut makin menebal. Angin mendesir membagi rasa dingin. Hampir pasti jika saat itu melangkah memasuki jalan-jalan di area kaum gunung akan kesulitan melihat jalan dan arah, karena kabut tengah menutup semua celah pemandangan. Tetapi dengan mata nyamuk, musuh akan melihat sasaran dengan mudah dan tepat.
    Kembali percik api memedar di langit, menjatuhkan rintik api yang merembes dengan kemilau yang memecah kabut tebal menjadi pemandangan yang menyeramkan. Lalu suara mirip guntur terdengar bertubi-tubi, memekakan telinga dan memberi guncangan teramat hebat.
    Kembang Gaduh tersenyum dingin, dugaannya tepat. Segera ia memerintahkan serangan balik yang tepat sasaran; pelumpuhan ke area posisi penyerang, yang dibalas dengan serentetan tembakan cahaya yang bertujuan melumpuhkan! Target Kembang Gaduh adalah menangkap hidup-hidup pelaku penyerangan lalu mengintograsi untuk mendapatkan informasi yang paling memungkinkan buat memahami sebab-sebab kerusuhan kota.
    Namun sebelum pasukan khusus Kaum Gunung bergerak menangkap pelaku penyerangan yang telah dilumpuhkan, kembali tembakan beruntun dengan sinar biru melayang di langit, kembali menimbulkan percikan api yang menggetarkan langit. Rekasi Kembang Gaduh begitu dingin dan menekan sebuah kenop; maka perisai penahan serangan segera berkembang. Saat itulah dengan cepat pasukan khusus kaum gunung melayang dari balik-balik perisai , kecepatan lari dan kesigapan mengubah debu menjadi kristal menimbulkan pedaran biru menutupi semua tubuh saat terjadi pergerakan. Tak lama kemudian tablet Kembang gaduh bergetar: penyerang dapat diamankan dalam kondisi koma!
    Begitu pula di area Demarkasi situasi masih tegang, walau perusuh terhalau dengan cepat oleh pasukan Tentara Negara Kota, namun korbannya adalah tujuh truk penuh ikan milik Kaum Nelayan dengan sepuluh orang terluka; tersambar tembakan cahaya di bahu dan dada, yang mengakibatkan lumpuh di lengan dan  jatuh pingsan saat dievakuasi.
    "ketika zaman kali mencapai puncaknya, ketika lapar tak menemukan makanannya, para pemangsa pikiran menjadi nyata, saat itulah mari menyambut Kalki…"
    Kembang Gaduh menoleh, suara itu! Keluh hatinya begitu dekat, teramat dekat, seakan yang menyanyikan berdiri di jalan yang tertutup kabut tebal. Dengan tenang Kembang Gaduh mengusap layar pemantau; mencari datangnya arah suara. Hingga beberapa menit, tak ada signal menunjukan arah datangnya pengirim suara.     
    Pori-pori tubuh Kembang Gaduh tiba-tiba mengembang; aneh! Tak ada tanda layar pemantau, pengendali jejak mengalami gangguan. Petugas jaga yang tengah berkosentrasi dengan semua layar pengendali ditolehnya dan sungguh menakjubkan, sebab para petugas itu pun ternyata juga saling menoleh seolah membenarkan telah sempat mendengar suara nyanyian! Maka tanpa diperintah semua layar pencarian difungsikan, tujuannya mencari arah datangnya pengirim suara, namun hasilnya nihil.
    Sandya Hening!
    Kembang Gaduh terhenyak sejenak, pikirannya gemeretak, segera ia melesat, melayang diantara kabut, menerobos perisai yang terus melentikan percikan bunga api disebabkan serangan tembakan cahaya yang belum juga berhenti, membuat api merintik lebat bagai hujan dijatuhkan dari langit. Firasat itu, keluh hatinya, firasat itu. Betapa selalu terlambat dibaca…..

(BERSAMBUNG)

Komedi: Air Adalah Anugrah

seorang pemimpin di daerah yang kerap kena banjir, di musim penghujan memanggil semua stafnya, dengan wajah berkerut memberi peringatan; jangan membuat proyek, kegiatan yang dapat menjadi sebab adanya banjir, paham? Jangan sampai seperti tahun lalu, dua tahun yang lalu, sebab tahun depan saya akan kembali mencalonkan diri, karena itu jaga citra saya, tegasnya dengan suara setengah mengancamkan. Semua stafnya mengangguk-angguk, kecuali satu orang dengan senyum manis mengancungkan tangan. Pak, katanya dengan suara manis, bapak tidak usah tegang; citra bapak akan tetap ngencorong walau tahun ini banjir melanda di seluruh kota, percayalah, bapak akan tetap terpilih!

Apa??? Dengan gundah pemimpin daerah itu menggebrak meja: saudara ini mengerti apa tidak politik pecintraan? mengerti tidak apa dampaknya jadi bulan-bulanan pers seperti tahun lalu? lawan-lawan politik saya menyerang, sedangkan saudara tenang-tenang menikmati fee keuntungan proyek, mana pernah naik koran dan televisi soal begituan? survei mengatakan kepercayaan publik kepada saya gara-gara proyek gorong-gorong itu menurun drastis. Ingat! Jika itu terjadi, saya tidak akan segan-segan membuat saudara ada di pojokan gorongan, tanpa jabatan, tanpa tunjangan.....

Pak, tenang, pak, tiba-tiba seorang staf lain menyela, tersenyum lebar; kita sudah menemukan solusi dan strategi; proyek dan kegiatan apapun akan tetap berjalan, jika terjadi banjir tidak akan terjadi apa yang bapak khawatirkan. Percayalah, Pak...

Melihat senyum lebar manis itu, pemimpin daerah itu melunak dan bertanya pelan: solusi dan strateginya, apa? Lalu dengan ganjen staf itu bertepuk tangan, tak lama muncul dari balik pintu empat staf dengan wajah sumingrah dengan spanduk besar yang sudah dibentang yang bertuliskan: TERIMA KASIH, KEPADA SEMUA MASYARAKAT YANG TELAH MENERIMA BANJIR TAHUN INI, SEMOGA AMAL KEBAJIKANNYA MENDAPATKAN PAHALA YANG SETIMPAL DARINYA, SEBAB MENURUT KEYAKINAN APAPUN, BANJIR ADALAH AIR, AIR ADALAH ANUGRAH.....

(berlatih standup comedy)

Telur Katak Betina

TELUR KATAK BETINA

pulang menyarang di bawah teratai kecebong lepaskan kulit
nah, aku seekor katak telur ibuku!
penghujan riuh mari bernyanyi
aku betina anak-anakku telur pecah
suara-suara keras melawan deras
melecut kebisuan jadi sarang
ibu, telur yang mulia tinggal kulit melayang dipermukaan air
mari mengenang ngidam waktu mengedan menebas rangkaian
sebab dari telur, maka ibuku tinggal kulit dan belulang
karena itu di sini tak ada panggilan ibu!

pulang menyarang juga nyanyian dalam deras hujan
bapa kami adalah telur pecah diberkati di kolam penghujan
dahulu, kini sampai kematian nanti
kecebong-kecebong itu merayakan renang pertamanya
matanya menyala dari ujung ekor hingga dahi
makanlah selagi masih sebagai tulang rawan
satu dua sisakan nyanyian diulang-ulang
bukan kulit telur belulang pecah
tapi ibu dan bapa dimuliakan sebutan
bukan sarang kelahiran telur-telur kematian
tak miliki kelahiran…

(THE END, puisi Unreg, cok sawitri)

Cerita Serial: Kalki Bagian 10

Cerita Serial: Kalki
Bagian 10


    Bagaimanakah engkau mencari sebab dari hilangnya peradaban kemanusiaan ini? Sandya Hening dengan lentur melayangkan tubuhnya mendahului Larung lalu berhenti dengan dengan anggun.
    Larung tersentak, tak menyangka gerakan Sandya Hening begitu tipis dan halus, hampir tak terduga, "ada apakah?" Dengan mata penuh tanya ditatapnya Sandya Hening yang tersenyum lapang, "Tunggulah beberapa menit lagi, kita berdiam sejenak di sini…Perhatikan baik-baik tabletmu…"
    Pori-pori Larung mengembang, nalurinya mengatakan, Sandya Hening memiliki kemampuan yang luar biasa untuk menebak kejadian yang akan datang. Dan tabletnya benar menyala, perintah Kembang Gaduh agar Sandya Hening dibawa melewati jalan bawah tanah segera dilakukan, sebab Patik Gurun dengan rombongannya tengah menanti izin di batas koordinat Sembilan untuk memasuki area Kaum Gunung.
    Dengan senyum lembut Sandya Hening kemudian mengikuti isyarat Larung menjejak ke arah kanan, melewati ladang tembakau lalu berhenti di depan sebatang pohon beringin tua, entah apa yang disentuh Larung, tiba-tiba di depan beringin tua itu tanaman-tanaman menyibak, dan lorong lebar menyuruk ke bawah, "mari…" ajak larung.
    Rombongan Sandya Hening yang dipandu oleh Larung lenyap ke balik tanah. Hujan deras turun dan nyanyian itu terdengar begitu lembut, berkisah tentang langit yang menitipkan hatinya ke bumi. Lalu desau angin begitu keras seolah hanya alam yang bernyanyi. Derap kereta kuda terdengar silih berganti dengan kendaraan lainnya, kemudian begitu gemuruh saat sebuah truk besar lewat. Para peladang telah usai memanen sayur-sayuran, agaknya telah bersiap menuju pasar bersama, yang terletak di koordinat 10 dekat dengan area demarkasi.

    Sementara itu Kembang Gaduh dari kejauhan dengan tenang memandang rombongan Patik Gurun yang masih terhenti di depan gerbang pembatas. Ada enam kendaraan double cabin dan sebuah sedan anti peluru, kendaraan yang telah mengalami injeksi sempurna, dalam kondisi tertentu dapat difungsikan untuk terbang rendah juga sebagai kapal cepat jika melewati perairan, kendaraan-kendaraan semacam itu, kendaraan multifungsi, generasi optic dari amphibian, hanya mampu dimiliki faksi kaya yang memiliki asset penambangan minyak. Kendaraan-kendaraan itu digunakan untuk perjalanan jauh buat menghindari pelintasan demarkasi, dermaga dan bandara.
    Panda Gasing, si pemeluk teguh, dengan kerudung keemasan nampak mondar-mandir di sekitar sedan anti peluru yang diduga Kembang Gaduh; didalam sedan itu pastilah Patik Gurun! Pemimpin faksi gurun dari kaum putih yang mengaku telah sah menjadi pemimpin seluruh faksi kaum putih? Pastilah, perjalanan yang panjang telah ditempuh oleh mereka, melewati beberapa area yang cukup rawan. Namun Faksi gurun memiliki jaringan kuat dengan jaringan teroris maupun separatis, sehingga keberadaan mereka kadang dengan begitu mudah di berbagai wilayah, lalu hilang lenyap entah sembunyi dimana. Dengan asset pertambangan minyak yang gemuk, faksi gurun memiliki kekuatan untuk melakukan lobi tingkat tinggi ke berbagai penguasa tentara di berbagai kaum di berbagai wilayah permukaan bumi. Bukan rahasia lagi, sejak lama, faksi gurun dicurigai memiliki ambisi untuk menjadi penguasa beberapa wilayah di demarkasi utara, namun karena perbedaan ideology tantangan terus menerus menghalangi keinginan mereka itu bahkan dalam persekutuan internal kaum putih, faksi gurun kerap menghadapi perlawanan yang keras.
    Namun, siapapun faksi gurun itu, para petugas perbatasan kaum gunung dengan wajah beku seolah tak paham akan siapa yang datang di hadapan mereka melanjutkan tugasnya; diam bagai patung dan tak perlu memberi basa-basi; sikap para petugas itu hanya berdiri tegak saat rombongan faksi gurun menghentikan kendaraan mereka, tak ada yang nampak diantara para petugas itu terintimidasi dengan kegelisahan Panda Gasing yang seakan merasa patut ditakuti, ia yang paling pertama ke luar dari kendaraan, kerudungnya berkibar diterpa angin. Hanya satu petugas yang kemudian menyapa lalu bicara dengan juru bicara rombongan Patik Gurun, bukan dengan Panda Gasing.
    Sementara itu, Sandya Hening sungguh tak menutupi kekagumannya. Kaum gunung mendekati sempurna mengelola wilayahnya. Kaum Gunung di Demarkasi Timur memang berbeda gaya dengan kaum gunung di banyak wilayah lainnya. Sang Guru konon memiliki usia hampir seratus tahun dengan wajah bersih dan mata cemerlang, namun sangat jarang menghadiri pertemuan publik; kaum gunung selalu menghadirkan wakil Sang Guru dalam berbagai koordinasi tingkat tinggi antar para pemimpin kaum. Kaum Gunung dikenal sejak lampau memiliki sikap yang tegas dan cenderung tertutup terhadap kaum lainnya. Apalagi setelah perang tinja, hampir semua kaum jadi segan dan jerih terhadap kaum gunung, yang profile kaumnya memberi kejelasan akan kesungguhan mereka untuk bekerja keras bagi kehidupan kemanusiaan.
    Kaum pekerja di wilayah kaum gunung bukanlah faksi, namun semuanya menjadi warga kaum. Dari tukang besi hingga tukang jahit, dari petani hingga peladang, pengurus air hingga penjaga hutan, lalu peternak hingga ahli-ahli pengobatan, begitu beragam keanggotaan mereka disatukan dalam satu sistem keamanan yang sungguh membuat banyak kaum lain kadang tercengang-cengang, apa yang menyatukan mereka dengan begitu kuat dan setia? Kaum gunung di beberapa wilayah lain masih memiliki ketegangan internal, walau secara mudah diatasi, namun konflik mereka kerap meletup, diduga itu disebabkan tak ada pemimpin sekuat Sang Guru seperti Kaum gunung di demarkasi timur.
    Lorong itu begitu sejuk dan tanpa terasa langkah kaki tiba-tiba dihembus  oleh cahaya putih yang menyilaukan, seketika mereka menghentikan langkah, hanya sejenak untuk memberi mata berkesempatan beradaptasi, hanya sesaat keadaan itu mereka lakukan, kemudian Sandya Hening terkesima luarbiasa saat matanya terbebas dari silau. Saat tiba di pintu lorong, saat melepas pandangan secara bebas; pemandangan dihadapannya sungguh bagai mimpi; gunung-gunung yang seolah berderet bagai benteng lalu hutan lebat dengan gemuruh penghuninya, lembah yang indah dengan barisan pondok diantara sela-sela ladang dan sawah, aroma tanah yang memberat dalam tarikan nafas….
    "Inikah pondok rahasia itu?" Dalam hati Sandya Hening berucap, pori-porinya mengembang, ada yang meruam dalam permukaan kulitnya. Dalam risalah-risalah rahasia, sejak dua abad lalu, kaum gunung demarkasi timur bekerja keras membangun hunian rahasia yang konon dibangun oleh para ahli yang sulit dipercayai dengan logika. Bahkan pencapaian kemampuan para pembangun pondok rahasia itu disebutkan dalam risalah-risalaha rahasia telah melampaui kemampuan para tetua kaum putih.
    Oh, alam impian
    Surga dibumi itu
    Membumilah surga
    Yang dimimpikan bukanlah mimpi
    Yang tak nyata, dinyatakan
    Bukan ayat kosong
    Yang dibualkan kaum agamawan
    Sibuk menceramahkan surga
    Lupa jika surga itu dibumi

    "Kita dimana ini?" Sandya Hening tak mau larut dalam kagum. Larung mengangguk hormat, "Kami menyebut tempat ini sebagai Pondok Mati…"
    Sandya Hening tersenyum dengan mata berkaca-kaca, " begitu indah yang kalian sebut pondok mati itu…" Ucapnya tergetar, "tidur yang panjang adalah bagi pikiran, bukan bagi badan. Pikiran yang istirahat akan memberi kebaikan bagi semesta…"
    Larung mengangguk dan tersenyum tipis, " para guru bertempat di area ini, ini sesungguhnya area pelatihan bagi kami…"
    Elang-elang nampak bertengger di dahan-dahan, beberapa ekor burung merak tiba-tiba melesat dalam gerombolan yang mencengangkan mata, memperlihatkan keindahan bulu-bulu mereka. Lalu landak-landak nampak menyusup di bawah semak, lalu trenggiling bagai bola liar meluncur ke berbagai arah, kupu-kupu berbalapan dengan capung-capung emas. Suara burung, suara serangga; keriuhan itu kadang lenyap seketika berganti dengan deru suara bambu, lalu hening seperti nafas bayi yang lelap.
    "Di sini tak diperkenankan menggunakan kendaraan, kereta sekalipun. Jika usai panen, hanya kuda dan kerbau yang digunakan sebagai alat pengangkut…" Larung menjelaskan saat mengajak Sandya hening memasuki bantaran jalan tanah. Sesekali nampak orang-orang tua lewat dengan langkah-langkah lembut, memberi anggukan samar, lalu melanjutkan langkah ke arah yang berbeda-beda.
    Jalan setapak itu kemudian dilanjutkan undakan tanah, yang memberi kesadaran bahwa langkah kaki terus menurun, seperti usia yang akan mencapai dataran lembah, kematian tubuh. Desau tanaman-tanaman, rincik air, kolam-kolam penuh air dengan teratai warna-warni lalu desau keharumam cempaka nampak membuat segala yang dipandang menjadi cemerlang. Para remaja yang nampak tengah bermeditasi dengan posisi setengah melayang diawasi oleh para guru yang duduk seakan tak peduli. Lalu di tiap pondok yang dilewati terdengar suara jantera diputar, suaranya silih berganti seperti irama yang tak putus. Para penenun itu begitu khusuk memintal benang bagai meniru putaran bumi.
    "Mari kita istirahat dulu…" Larung menunjuk sebuah pondok di arah utara dekat sebuah kolam, Sandya Hening mengangguk dengan keharuan luar biasa. Keheningan itu, kedamaian itu terasa menyentak-nyentak menerobos ke relung hati.
    Beberapa orang dengan senyum dimata telah menanti kedatangan Sandya Hening, beberapa pengikutnya dipersilahkan pula memasuki pondok-pondok yang terletak sebelah menyebelah dan hidangan segera datang. Sungguh sikap yang lembut dan santun.
    Larung berpamitan untuk melaporkan kedatangan Sandya Hening kepada Sang Guru, tak ada siul elang yang melengking, sungguh, di pondok mati segalanya begitu menentramkan, segala seakan melembutkan hati dan mengalir bagai air yang tenang.
    Sementara itu rombongan faksi gurun mulai bergerak melewati gerbang perbatasan, dikawal Kembang Gaduh dengan prajurit pendam menuju perhentian di dekat camp pengungsian; sebuah wisma penerima tamu yang disiapkan bagi para utusan untuk kegiatan koordinasi tingkat tinggi telah siap menyambut kedatangan Faksi Gurun.
    Panda Gasing nampak sudah tenang, wajahnya sumingrah saat turun dari kendaraannya, segera dia melangkah disebelah Kembang Gaduh yang mengenalkan para petugas di wisma tamu dengan suara lembut. Dan setelah dirasa aman oleh para pengawal Patik Gurun yang melakukan pemeriksaan ke dalam ruangan-ruangan; barulah sang pemimpin faksi gurun ke luar dari kendaraannya, penampilannya khas faksi gurun; dibalut kerudung putih bertepi emas, yang ujung-ujungnya hampir terjuntai menyentuh tanah. Patik Gurun tak menutup wajahnya dengan kerudung seperti yang lainnya, namun matanya ditutup kaca mata hitam dan nampak jemarinya dihiasa beberapa cincin.
    Kembang Gaduh memberi penghormatan secukupnya dan mempersilahkan rombongan Patik Gurun untuk beristirahat yang segera memasuki ruangan. Beberapa pengawalnya tetap bersiaga di luar . Kembang Gaduh hanya mengangguk dan memaklumi sikap waspada para pengawal Patik Gurun. Lalu dengan langkah cepat Kembang Gaduh menuju pos penjaga wisma, memberitahukan secara singkat pengalihan tugas pengawalan.
    Siul elang melengking-lengking seperti menebas mendung di langit. Panda Gasing berdiri di dekat jendela memandang ke sekitarnya. Ruangan itu senyap sebab Patik Gurun duduk dengan berdiam diri, menikmati minuman hangat dan penganan kecil, sepintas seolah tak peduli dengan sikap Panda Gasing yang terkesan tegang dan waspada.
    "Kaum Gunung selalu memiliki cara untuk membuat kesan seakan-akan orang lain tak tahu apa-apa tentang sikap mereka. Aku yakin sekali, pengungsian keluarga Sandya Hening yang diterima dengan sangat baik adalah isyarat bahwa kaum gunung tahu banyak soal kerusuhan di area perkotaan dan pastilah juga paham dimana Sang Penyanyi berada…"
    "Jaga kata-katamu…." Patik Gurun menyela dingin, setelah membuka kaca mata nampak matanya cekung ke dalam.
    "Kaum nelayan melakukan pembersihan di semua teluk dan perhentian kapal, dan mereka itu memiliki hubungan mesra dengan kaum gunung…"
    Patik Gurun menghela nafas, "belajarlah membuat analisa yang cerdik…" suaranya mengandung teguran, "sikapmu melupakan keadaan di sekitar, ini bukan di wilayah kita. Kaum Gunung Demarkasi timur, bukan kaum gunung seperti para nomad di wilayah kita. Mereka ini terkuat dalam koordinasi dan paling siap untuk melakukan perang panjang…"
    Panda Gasing mendesah, wajahnya memerah, "Mereka tak memiliki keyakinan…"
Patik Gurun menghela nafas kembali, mengulapkan tangannya, beberapa pengawal segera datang, diperintahkannya untuk memeriksa kamar, "aku harus membersihkan diri, perjalanan jauh ini membuat seluruh otot kita tegang, istirahatlah…kita segarkan diri dan dalam batas tertentu kita aman di sini…"
    Panda Gasing mengangguk, lalu duduk menghentak seraya membuka tabletnya. Bibirnya berkerut-kerut dan dahinya terangkat. Link penjual informasi dikontaknya dengan cepat, segera dia memberi tanda siap membayar informasi terkini mengenai kekuatan Kaum Gunung Demarkasi Timur dan akan ditambahi bonus jika memberi informasi dimana posisi Sandya Hening…..
    Kembang Gaduh tak pergi jauh, tak akan pergi jauh. Dari posisi yang tepat, ia mengawasi wisma tamu. Dalam koordinasi tingkat tinggi melalui link khusus, beberapa informasi memperingatkan Kembang Gaduh bahwa Panda Gasing sebagai calon pewaris Patik Gurun memiliki karakter yang sulit ditebak. Beberapa analisa malah mensinyalir, Panda Gasing ikut bermain untuk mendukung faksi perusuh di berbagai kota. Walau sulit membuktikan dugaan itu namun banyak pihak mengetahui bahwa Panda Gasing kerap menyediakan tempatnya untuk persembunyian kaum separatis.
    Kerusuhan di kota tidaklah mudah kini menebak-nebak apa motivnya, penembakan misterius kerap terjadi, kampus klasik beberapa kali disasar peluru cahaya yang melumpuhkan walau Pemilu Kota sudah ditunda dan hampir dipastikan telah terjadi konsolidasi antar pemimpin kota dan gerakan pembersihan makin gencar dilakukan oleh Tentara Negara kota, letupan serangan masing sering terjadi, aliran listrik kerap terputus dan jumlah korban entah sudah mencapai berapa banyak, tak banyak yang tahu, pergerakan pengungsi tak lagi banyak, sepertinya area kota mulai kosong dan warganya ke luar menuju camp-camp pengungsian terdekat.
    Kembang Gaduh tak mau memikirkan lebih jauh, mengapa Sandya Hening mengajak faksinya mengungsi hingga jauh ke wilayah demarkasi timur? Lalu Patik Gurun tiba-tiba muncul. Semua seolah terjadi secara wajar ditengah situasi area perkotaan yang sedang rusuh dan mencekam.
    Melesat satu informasi di tablet Panda Gasing: Sandya Hening mengadakan pertemuan dengan Sang Guru di suatu tempat yang dirahasia! Informasi mahal itu jelas didapatkan dari camp pengungsian. Dengan langkah tergesa ia memasuki ruangan, hendak menemui Patik Gurun namun para pengawal menahan langkahnya, "Bapa sedang istirahat…"
    Panda gasing melenguh, membalikan tubuhnya. Pikirannya berdenyut. Khianat! Dan tentu saja diplomasi yang akan dipakai jalan untuk membuat Sandya Hening tak bergerak lebih jauh. Panda Gasing mengedik dengan jemari bergetar diremasnya rambut, dibukanya kerudung, dihempasnya ke lantai. Lalu dia memegang tabletnya. Melakukan kontak dengan banyak link. Lalu tercenung-cenung cukup lama. Kembali melanjutkan menulis sesuatu di tabletnya….
    Luncuran tembakan cahaya tiba-tiba muncul dari tepian-tepian gerbang perbatasan, sasrannya mengarah ke pos penjagaan. Kembang Gaduh dengan tenang memberi komando kepada prajurit pendam. Senyumnya tipis mengembang, siulan elang bersahutan di langit. Pertahanan kaum gunung sudah sejak kerusuhan area kota telah disupersiagakan. Dalam sekejap balasan tembakan datang dari sudut-sudut yang mematikan, melesat menuju arah datangnya tembakan tak bertuan itu. Lalu menderu suara tank-tank dari balik tanah, serupa kura-kura ke luar dari pasir. Jarak tembakan telah dipantau dan diukur tepat, sinyal cepat koordinasi dinyalakan dengan Tentara Negara Kota di demarkasi, lalu penyergapan dilakukan tanpa hambatan. Delapan penembak gelap tertangkap…
    Link Mayian berkedip-kedip mengabarkan akan penangkapan yang super cepat telah dilakukan oleh prajurit Kaum Gunung beberapa menit yang lalu. Kronologis kejadian dengan singkat dijelaskan. Namun tak ada penjelasan kemana para peneror itu dibawa…
    Mencekam. Mencekamlah kini. Semua kaum makin menyadari para perusuh kota telah memancing berbagai kemungkinan untuk menularnya upaya melibatkan semua pihak dalam baku tembak namun untungnya langkah awal penembakan ke arah gerbang perbatasan kaum gunung dipatahkan dengan cepat; semua pihak yakin, sebentar lagi akan terungkap siapa dalang dari kerusuhan di kota, namun itu semua tergantung dari pihak kaum gunung apakah akan mengumumkan hasil penyelidikannya atau akan menyimpannya dalam bahasa diplomasi yang lain…
    Patik Gurun mendesah, mengulapkan tangannya usai membaca tablet ditangannya, "Panggil Panda…." Suaranya mirip keluh saat memerintah seorang pengawalnya, matanya nampak kian cekung. Sunyi kemudian di ruangan wisma tamu itu, para pengawal berdiri diam mematung, tak ada yang berani bergerak. Siulan pekik elang sesekali terdengar menambahi rasa tak nyaman. Lalu lamat-lamat suara Patik Gurun terdengar, "tahukah kamu, informasi mayian yang baru kubaca, membuatku ingat akan apa yang dahulu kamu lakukan ketika kita mengunjungi kaum nomad. Dan kamu ceroboh Panda…"
    "aku tidak melakukan apapun, bapa…"
    "baiklah, jika itu bukan kamu yang melakukan, sukurlah, namun kelak jika terungkap, kamu harus menanggung sendiri akibatnya, mereka bukan kaum nomad, ini kaum gunung demarkasi timur…"
    Lalu senyap. Siulan elang kembali terdengar. Dari jendela Patik Gurun memandang ke luar, hatinya resah, diedarkannya pandangan, betapa tak nampak penjagaan disekitarnya, tak ada pasukan yang petantang petenteng memanggul senjata, namun sekali ada upaya penyerbuan, prajurit pendam kaum gunung itu seperti hantu, muncul dari balik tanah….Patik Gurun menarik nafasnya dan mengerutkan dahi saat tabletnya bergetar; izin bertemu dari Kembang Gaduh!
    Menegang wajah Patik Gurun, begitu pula wajah Panda Gasing. Menanti kedatangan Kembang Gaduh sungguh mendebarkan hati, jika ternyata serbuan itu melibatkan Panda Gasing, keluh hati Patik Gurun dengan bimbang maka Sandya Hening melenggang meninggalkan kaum putih…Maka akan terjadi ketegangan internal bahkan takkan terhindar peperangan akan terjadi….Cita-cita itu makin menjauh, persatuan bumi atas nama keyakinan satu spiritual akan makin ditinggalkan….

(BERSAMBUNG)