Cerita Serial: Kalki Bagian 9

Cerita Serial: Kalki
Bagian 9


    Kerusuhan di berbagai kota di dunia mulai mencekam hati, berbagai kaum yang tak memiliki area pemukiman khusus menyiapkan pengamanan atas diri mereka dengan mengibarkan tanda-tanda kaumnya disetiap atap rumah dan dinding sedangkan yang berada dekat dengan titik kerusuhan memilih segera ke luar dari area kota, menuju camp pengungsian terdekat.

    Kota-kota seketika senyap dan mencekam. Namun Kaum Politician makin gencar melakukan kampanye melalui berbagai media; kambing hitam atas runtuhnya peradaban terus dicari, keinginan mengembalikan bangkitnya negara-negara dijelaskan dengan panjang lebar di berbagai siaran televisi. Anehnya, penjelasan mengapa kerusuhan-kerusuhan itu terjadi justru tak dijelaskan; Para tentara negara kota atas nama penegakan hukum dan keamanan makin gencar melakukan pembersihan di berbagai sudut kota dan menghimbau agar para pengungsi, terutama kaum pekerja agar segera kembali ke kota; ditimpali kemudian oleh pemerintah kota yang rajin mengiklankan iming-iming perumahan gratis, fasilitas air dan listrik murah dalam dua tahun ke depan bagi pengungsi yang bersedia kembali ke dalam kota dalam waktu cepat; iklan itu terus didengungkan, semacam proganda yang mendapat kecaman dari berbagai kalangan cendikia. Sedangkan para pengungsi yang tersebar diberbagai camp pengungsian memilih tak tergoda dengan himbauan-himbauan itu, walau pendirian mereka terhadap pemerintahan kota pro kontra, namun mereka tetap harus hati-hati dengan situasi saat ini. Pengalaman mengatakan, perang kota selalu berkepanjangan, diperlukan mediasi dengan berbagai pimpinan kaum untuk meredakannya, dan yang paling cepat menolak menjadi mediator adalah kaum nelayan, yang dengan tegas menolak mengizinkan dermaganya dijadikan jalur lintasan pasokan senjata! Lalu berbagai area demarkasi dilanda ketegangan luar biasa karena rentetan senjata kadang membias ke jalur transportasi, begitu pula semua bandara dikepung oleh tentara negara kota, yang selalu curiga terhadap siapa saja dan seperti biasa sudah menjadi cirri mereka melakukan kekerasan baru memeriksa kemudian.
    Kini telah jelas, salah satu faksi dalam kaum perkotaan menginginkan pengambilalihan kekuasaan dari kaum politician; tak jelas apakah faksi itu mendapat dukungan tentara ataukah tidak, mereka melalui release yang menyusup ke berbagai link menjelaskan, " Ini bukan persoalan perang phisik, tetapi ini persoalan mental penguasa kota yang sudah tak lagi realistik melihat kenyataan di dunia. Kota-kota seperti pohon tua di tanah yang kering, selalu mengira daun-daunnya rindang buat berteduh, padahal tidak…."
    Pemetaan kerusuhan telah dilakukan dengan cepat oleh berbagai pihak, dan nyata sekali, area kota-kota dari arah garis lintang hingga bujur khatulistiwa diberi tanda bintang pecah sebagai tanda kerusuhan yang telah memakan banyak korban, tanda payung sebagai tanda kota yang masih aman dilewati sedang yang berlambang ular sebagai tanda keadaan kota yang tak terduga. Namun pemetaan itu terus harus diubah sebab dengan cepat beberapa kota di wilayah timur maupun selatan mulai menyatakan keadaan berbahaya tingkat tinggi; bahkan ada satu kota telah dikuasai oleh perusuh yang belum membuka dirinya; tidak memberi pernyataan sebagai penguasa baru atas kota itu, dan agaknya jaringan antar faksi perusuh yang berambisi merebut kekuasaan kota ini memiliki kesepakatan untuk tetap sembunyi hingga mereka menguasai beberapa kota strategik.
    "Apakah jika faksi ini memenangkan perang, kehidupan kota akan membaik? Dan bagaimana dampaknya dengan keamanan kaum-kaum yang ada? Bukankah jelas-jelas mereka menginginkan akan mengembalikan tata krama dunia dalam sistem negara-negera?" Pemancing wacana di berbagai link mulai muncul, keresahan tentu saja menemukan letupannya. Tetapi para pemimpin kaum telah siaga dan waspada, "Jangan terpancing mengikuti peperangaan mereka…"
    Kilatan cahaya itu! Dengung pesawat-pesawat pemburu telah mengisi langit, suara ledakan, geletar tembakan listrik dan laser kerap menggetarkan tanah, belum ada tanda-tanda faksi perusuh mengendurkan serangannya. Kaum Perkotaan dimanapun mulai dihimbau agar serentak mempersenjatai diri mereka masing-masing. Bunker-bunker tak lagi dibuka tutup, kini tirai pengaman dinyalakan dengan permanen, nyamuk yang mendekat pun segera mati, manusia yang tak sengaja mendekat seketika kejang. Polusi tingkat tinggi menjadi partikel debu pembawa penyakit pernafasan mewabah. Kesenyapan kota terasa menjadi cekaman yang mengerikan, khususnya di jam-jam tertentu disaat serbuan tembakan terjadi, semua kota bagai diserung kepedihan. Tank-tank dengan suara menderak terus menerus melewati jalan-jalan kota, berkeliling dengan alat pemindai yang tembus pandang ke semua tembok dan kegelapan, semua gerakan akan segera dianalisa, faksi perusuh tak kalah cerdik mereka menggunakan hologram-hologram penyaru sehingga kerap terjadi penembakan membabibuta oleh tentara negara kota. Di berbagai lorong-lorong kota, jalan-jalan pintas yang biasanya nyaman bagi pejalan kaki lampu-lampu penerangnya dimatikan agar daya sinar hologram dapat dipantau namun itu juga kerap menjebak, sebab robot-robot peniru manusia dipadukan hologram kerap dilepas untuk memancing patroli salah tembak. Akhirnya, semua toko menghentikan kegiatannya, semua pasar senyap bisu. Debu-debu merebak ke udara menjadi kabut yang menyesakkan pernafasan. Dari kejauhan langit kota-kota di dunia dipayungi kabut hitam mirip awan raksasa yang siap menjatuhkan biliunan air hujan.
    Para penyusup, para hacker berusaha sekuat tenaga mencari informasi terkini, siapa sebenarnya penggerak kerusuhan, siapa pengendali jaringan faksi ini? Namun tak juga dijejaki informasi yang memuaskan hati. Sementara itu, entah ini diplomasi politik ataukah pengalihan issue, panglima-Panglima Tentara Negara Kota berulangkali mengumumkan di semua media mayian bahwa mereka masih setia menjadi pengaman pemerintahan kota di seluruh muka bumi! Yang Aneh, ditengah kemelut itu perdebatan di televisi makin sering memunculkan kaum cendikia, yang terus menerus memperdebatkan berbagai perbedaan yang menjadi dasar runtuhnya peradaban dunia. Aneh! Kenapa mereka berdebat terus? Sementara keadaan kota-kota begitu mencekam. Pengalihan semacam ini bukan konspirasi biasa. Kaum cendikia termasuk kaum independen, yang tak mungkin melakukan kekonyolan disaat mara bahaya tengah mengancam banyak manusia di area perkotaan justru mereka sudi bersedia menjadi narasumber untuk perdebatan pepesan kosong! Aneh!
    Malenga Sakti, seorang pengajar dari kampus klasik yang sangat dihormati oleh semua kaum tiba-tiba mengirim pesan rahasia ke berbagai kaum, meminta agar dipantau penyusup-penyusup intelektual yang ikut mengungsi ke berbagai camp pengungsian! Ini makin aneh, kenapa bukannya tokoh faksi perusuh yang dikejar posisi dan profilenya? Namun justru ada pengejaran terhadap kaum intelektual?
    "Sebenarnya apa target mereka?"
    Entah. Selalu situasi menjadi sulit jika sudah berkaitan dengan perebutan kekuasaan. Profile kota-kota didunia kembali dibuka untuk menyegarkan ingatan, semua kaum memerintahkan divisi intelejennya bekerja ekstra keras dan menyebarkan informasi seringkas mungkin kepada semua orang agar memahami keadaan secara cerdas. Riwayat keruntuhan negara disebarkan secara luas, buat mengingatkan, siapa teman, siapa lawan, dan siapa-siapa posisi politiknya tak jelas…
    Taburan informasi bergenyatangan di jalur mayian salah satunya yang paling banyak diakses adalah catatan kaum historian; setelah keruntuhan negara-negara di seluruh dunia, wilayah-wilayah berbagai negara awalnya membentuk negara-negara yang lebih kecil, namun negara-negara kecil itu kembali pecah dalam perang yang mencekam yang berlangsung berpuluh-puluh tahun; perang atas nama kemuliaan agama, lalu perang asset ekonomi, perang air, lalu terjadi jeda selama puluhan tahun semua tiba-tiba menghentikan peperangannya sebab dunia telah memasuki situasi porak poranda yang tak dapat dicatat dalam sejarah; dalam seabad perang-perang itu telah melumpuhkan ingatan manusia akan masa lampau, lalu muncul pemimpin-pemimpin kaum yang berupaya menyatukan kemanusiaan, berupaya kembali mengetuk ssemua hati untuk mengingat-ingat hubungan antar manusia, peradaban manusia kembali seperti bayi merangkak, itu terjadi tiga abad yang lalu. Maka pelahan ada tata krama hubungan antar kaum akan tetapi itu tak berlangsung lama sebab muncul kembali perang sistem dan dilanjutkan dengan perang tinja….lima ratus tahun lamanya! Ingatan-ingatan itu dicatat dengan pedih oleh kaum historian. Teknologi yang dahulu diperkirakan akan mencapai puncaknya dengan pencapaian penerbangan antariksa surut oleh keadaan, demikian pula transportasi mengalami stagnasi; pergerakan terasa melambat namun kesadaran lain lebih mengalami kemajuan, kesadaran akan kemampuan tubuh manusia beradaptasi dengan berbagai keadaan. Beruntungnya sistem pengatur manusia yang porak poranda memberi kesempatan kepada alam membenahi diri, maka hutan-hutan kembali semarak, sungai-sungai kembali jernih dan lautan pun lebih tegas warnanya, berbagai spesies binatang kembali berkembang biak walau muncul kebingungan terhadap perubahan cuaca yang seakan ada penyesuaian radikal akibat kondisi alam yang kembali membaik; lintasan khatulistiwa mengalami hujan zenit berkepanjangan kadang disertai badai dan hujan es, sebaliknya beberapa wilayah yang dahulu mengenal empat musim tiba-tiba mengalami musim kering yang berkepanjangan lalu didatangi musim hujan yang memunculkan beraneka pohonan, musim salju kadang dialami oleh semua permukaan bumi dan matahari kadang menghilang dari berhari-hari diganti dengan mendung tebal. Di abad 24, perdagangan kembali berdenyut melintas batas antar garis lintang dan bujur dan jual-beli menggunakan uang kesepakatan dewan keuangan antar kaum memberi keuntungan kepada semua pihak, sistem keuangan keuangan tempo dulu ditinggalkan, tak ada lagi bank dunia atau hegemoni financial oleh negara-negara kaya. Semua asset internasional di lembaga internasional telah dijarah berates tahun lampau, kini gedungnya dijadikan tujuan wisata. Di bumi tak ada lagi kota-kota internasional, semuanya telah menjadi wilayah yang terpecah, tanpa kuasa! Sibuk mengurus diri sendiri! Tak lagi ada permainan ekonomi oleh satu negara! Ditengah situasi itu perkembangan ikatan perkauman melahirkan perang kembali yang paling sengit namun menemukan perarturan baru dalam persenjataan yang tidak lagi menggunakan peluru tajam namun cahaya laser, listrik dan kejut sehingga kematian akibat perang tidak lagi membangkrutkan populasi penduduk dunia, dari perang itu muncul kemudian kaum perkotaan dan kaum pegunungan sebagai pengelola wilayah-wilayah yang jelas batas geografisnya kemudian muncul lalu kaum nelayan, disusul oleh terbentuknya kaum pedagang, kaum pekerja, kaum cendikia, dan kaum putih yang lenyap dua abad lamanya, setelah perang kemuliaan agama, kaum putih muncul di berbagai area netral dengan ciri-ciri yang demikian khas.
    Beberapa kaum berdasarkan keahlian kemudian mendapatkan penghormatan seperti yang diberikan kepada kaum historian, kaum mayian, kaum cendikia; dan didalam semua kaum terdapat faksi-faksi yang disatukan oleh latar belakang yang sama, yang kadang menjadi sebab letupan kerusuhan terjadi dalam satu kaum atau area. Sementara itu kekuasaan pemerintahan negara kota sejak seabad lalu melahirkan kaum politician, yang jika diusut lebih jauh adalah berasal dari kaum pedagang kaya dan penguasa-penguasa senjata, mereka menciptakan tradisi baru yakni: memimpikan negara-negara kembali dihidupkan di muka bumi dengan berdasarkan demokrasi.
    Ideologi telah lama mengalami kematiannya: ketegangan penghayat kapitalisme dan sosialisme berhadapan dengan kaum spiritual telah lama memilih membungkamkan diri mereka dalam kuburan impian yang pucat dan beku lalu melebur ke berbagai kaum sebagai sikap tertentu, walau sesekali masih muncul tradisi perdebatan mengenai soal kapitalis ataukah sosialis bahkan ada yang masih bermimpi soal komunis dan sebaliknya membangun negara agama: itu kini ditempatkan sebagai romantisme, semacam perayaan kenangan akan masa lalu; disimulasikan  seolah-olah ada strategi menata manusia yang adiluhung, yang justru akan mengungkapan betapa lucunya ketiga penganut ideology itu; Ketiganya berkata ingin mensejahterakan manusia dalam perdamaian dan martabat, ketiganya kemudian buntu berhadapan dengan kenyataan yang tak terkendali. Keajaiban yang dijadikan senjata oleh kaum spiritual tak muncul-muncul, mereka justru menjadi pengeluh dan pemarah sebab kaum yang memandang kebutuhan materi bersikap lebih realistic dalam menghadapi perubahan hidup. Sebaliknya, cara mendapatkan dan mengatur materi itu menjadi ketegangan leher antara pengusung kapitalis dan sosialis. Apa yang mereka perdebatan adalah teori dan prakteknya; yang justru penyerahan dominasi kekuasaannya kemudian yang sama-sama tak memiliki nurani; selalu mereka berjaya sebagai penguasa kalau disokong oleh kerakusan dan sentiment-sentimen yang seakan-akan tengah menyelamatkan kehidupan manusia dengan penggunaan senjata!
    Ah, sampai berapa lama kerusuhan di kota akan berlangsung? Semua kaum dengan cepat mengirim prajurit utamanya ke semua koordinat yang rawan; lintas perdagangan harus diamankan, bahan makanan, bahan bakar, obat-obatan, semua kegiatan perdagangan harus tetap dilakukan, dan jangan sampai kerusuhan kota memberi tempat dan kesan seakan-akan jika kota tak aman, kehidupan di tempat lain pun tak aman, seakan keamanan bergantung pada keamanan negara kota. Itu tak boleh terjadi, itu pertanda pengakuan atas kekuasaan secara tak langsung! Karena itu, semua kaum setelah sebulan sejenak dicekam oleh pengungsian dan issue yang campur baur segeraa mengirimkan prajurit terbaiknya, ke semua koordinat jalur transportasi bahkan dermaga-dermaga segera di bantu pengamanannya. Jalur perdagangan, jalur maya, semuanya kembali diperingatkan untuk kembali beraktivitas secara normal; biarkan kaum perkotaan bersibaku dengan dirinya sendiri!
    "ketika zaman kali mencapai puncaknya, ketika lapar tak menemukan makanannya, para pemangsa pikiran menjadi nyata, saat itulah mari menyambut Kalki…"
    Nyanyian itu, seperti membelah kesenyapan kota-kota yang tengah mencekam. Bangsing Hasan yang tentang mengadakan rapat darurat dengan semua politisi dunia melalui telecofrencesuprasonik; seakan-akan rapat itu adalah pertemuan langsung antar semua pemimpin kota dalam bentuk wadag hologram- sempat tersentak oleh suara lengkingan nyanyian kalki itu, lalu segera ia memerintahkan beberapa prajurit melepas tembakan ke arah dugaan datangnya suara nyanyian itu, mengusir jauh-jauh nyanyian yang akan menggangu rapat hologram antar pemimpin negara kota di dunia.
    Seperti kecoa ataukah tikus tersesat, para penyusup ikut serta mendekam, nyepil, bergelayut bagaikan kutu dalam jalur telecofrencesuprasonik dan menyadap dengan esktra super hati-hati, memadatkan hasil sadapan itu dalam email elektrik yang dikirim dalam kemasan berupa film-film kartun sehingga para intel dalam jalur mayian tak akan pernah menduga bahwa telah terjadi pemantauan tingkat tinggi terhadap aktivitas kaum perkotaan, kebanyakan jika dibuka kiriman elektrik itu akan menjadi spam atau virus bergambar nakal.
    "Beberapa kota yang telah dikuasai oleh faksi perusuh, dan reaksi semua kaum yang tak memperdulikan keadaan keamanan sistem politik perkotaan, itu adalah signal kegagalan seluruh kaum perkotaaan di dunia dalam mengenalkan kembali cita-cita pembentukan negara-negara di dunia…."  Pemimpin Kota salah negara kota demarkasi Barat, Gregorian Masehi VII memulai pidatonya, wajahnya nampak cerah dengan mata demikian tajam, pistol laser nampak di pinggangnya tak ditutupi oleh jas, dia tampil dengana kemeja yang lengannya dilipat seadanya, lanjutnya berucap, "Jelas-jelas, faksi perusuh ini tak paham bahwa pola pemilu di semua kota adalah strategi yang tak bisa hanya dipahami dalam kondisi ideal. Yang mereka jadikan isu adalah bahwa kita semua; para pemimpin kota-kota tidak menjalankan demokrasi yang sesungguhnya sebab peralihan kekuasaaan selalu terjadi dalam tradisi klan atau bahkan turun temurun, tuduhan mereka partai-partai mirip dengan organisasi kuno yang menghabiskan uang public, melakukan penipuan dengan atas nama sistem demokrasi!…."
    Pidato Gregorian Masehi VII mendapatkan reaksi yaitu berupa gumam panjang, tanda tak senang diperdengarkanr dari semua mulut para pemimpin kota. Hologram wadag tubuh mereka nampak bergoyang-goyang keras seakan memberi signal penolakan atas isi pidato yang mereka dengar.
    Gregorian Masehi VII mengangkat tangannya, penuh percaya diri melanjutkan pidatonya, " Kita harus mengubah cara berpikir kita, ya, banyak diantara kita masih mewarisi mental penguasa masa lalu. Seharusnya antara pemimpin faksi kita jelaskan, bahwa proses penguatan kota membutuhkan peralihan sistem politik yang stabil, memang melalui pemilu, namun jangan sampai pemilu itu malah membuat suasana gaduh dan berdampak rusuh…Kita mesti berani menerapkan ketegasan dalam tanda petik…kita harus berani bahwa demokrasi kita dalam koridor perjuangan menuju tinggal landas terbentuknya negara-negara, karena itu memerlukan kesantunan dan keyakinan pada pola kepemimpinan yang sekarang…."
    Tiba-tiba suara-suara mendenging, satu hologram lenyap timbul, dan muncul kemudian wajah berhidung teramat mancung dengan mata mencekung ke dalam, Muso Graci, salah satu pemimpin kota yang dikenal sangat bengis mengatur wilayahnya melakukan interupsi, "Begini, Gregori….Aku hanya punya satu saran saja, mari terapkan ketegasan….Coba kalian pikirkan, diantara semua negara kota, hanya beberapa negara kota yang tak bisa dirusuhi oleh faksi liar ini, kenapa? Sebab aku dengan jajaran pemerintahan di negara kotaku menerapkan ketegasan! Mau dia kaum pekerja, mayian, apa saja, kalau ada dalam wilayah kekuasaan kita harus mengikuti tata krama kita. Tiga puluh tahun lalu, wilayah negara kotaku hanya seprovinsi kecil tak selebar pulau daun, sekarang hampir setengah wilayah negara dalam catatan dokumen kaum historian, telah menjadi tanggungjawab kami; dermaga dan bandara kita kuasai dengan tegas, dengan cara itu mereka harus tahu, ini wilayah kita….nah, kalau menggunakan sistem negara demokrasi ideal, itu bertele-tele sekali, banyak biaya…Pikirkan baik-baik, perbaikan phisik kota-kota setelah kerusuhan ini siapa yang akan menanggung? Kita semua? Semua kaum tidak mau  membantu kita, sebab tujuan kita berbeda. Aku terang-terangan mengatakan, ya kami fasis: sebab tujuan kami membangun negara kuat dan perang adalah keyakinan yang harus kami jalani, jika untuk kesehatan kemanusiaan itu sendiri…Jangan takut melibas dengan tegas sekalipun populasi penduduk kita mengalami penurunan toh kelahiran manusia hingga abad ini masih berlebihan!"
    Berderit-derit hologram para pemimpin kota itu. Bangsing Hasan hanya duduk mematung dengan dahi berkerut. Rapat antar pemimpin kota ini adalah konsolidasi yang sifatnya darurat. Kerusuhan di beberapa kota sudah menggoyahkan pemimpin sahnya. Jika kota-kota itu jatuh ke tangan beberapa faksi keras, maka akan muncul penguasa setipe Muso Graci. Dapat dibayangkan berbagai modus kekerasan akan muncul dan perang dalam skala besar akan dapat segera terjadi…
    Muso Graci, Hiro Naga, Kim Merah; ketiganya adalah pemimpin kota yang berasal dari faksi tentara negara kota, yang dikenal keras dan telengas. Ketiga kota itu telah mencamplok banyak area demarkasi, demarga dan bandara, dan mengintimidasi kaum-kaum lainnya, dan menaklukan secara beringas jika itu terkait masalah asset ekonomi, ketiganya mengelola negara kota mereka dengan tangan besi  dan hampir semua demarkasi dalam area kekuasaan mereka, terutama yang berbatasan dengan wilayah kaum gunung tak pernah aman tentram dalam jangka waktu lama, selalu diwarnai perang gerilya atau penembak-penembak jitu melepaskan tembakan dengan sasaran begitu random, sekedar menakuti siapa saja. Walau jeda perdamaian telah disepakati di seluruh permukaan bumi, namun dengan keras kepala, ketiga pemimpin kota itu melakukan pembersihan wilayahnya dengan telengas dan dalam sidang diplomasi selalu berargumen bahwa tindakan yang mereka lakukan adalah atas nama penanganan gangguan keamanan area kewilayahan.
    Larung tercenung, disebelahnya Pere dengan cermat melakukan pemantauan, layar televisi yang digunakan menyadap kadang-kadang mengabur gambarnya, namun headset yang digunakan mendengarkan percakapan dalam rapat antar pemimpin kota itu masih terdengar jernih. Pere terus berusaha mengamankan titik virus penyadapannya dalam jalur lintasan hologram di link rapat rahasia antar pemimpin kota, keringatannya berbintik di dahi, tanda terus menerus berpikir untuk mengamankan titik penyadapannya.
    Ditengah keseriusan keduanya melakukan pemantauan dan penyadapan. Siul elang tiba-tiba terdengar memekik berulangkali, Larung segera ke luar pondoknya dan memberi isyarat agar Pere melanjutkan pemantauannya.
Sekali lompat, Larung telah melayang melewati ladang tembakau lalu menjejakkan kakinya di jalanan berumput. Kembang Gaduh nampak telah menanti di ujung belokan, melambaikan tangan dengan senyum dimata, tanda situasi terkendali untuk bertukar pesan, "segera kawal Sandya Hening, Guru telah menanti…" perintahnya mirip bisik.
    Larung mengangguk, dan segera mengirim pesan ke link Pere dengan gambar emoticon kambing mengembik. Tak mungkin mengirim pesan berupa kalimat. Larung harus segera menuju camp pengungsian. Dan tiba-tiba dadanya berdebar; ah, pemilik sepasang mata tajam itu…..
    Larung berlari dengan kecepatan yang tak bisa diikuti mata, siliran angin, Kristal-kristal yang dipilih dari debu berhamburan tipis, saat kakinya menjejak di pintu gerbang camp pengungsian, elang pemantaunya bersiul keras dan Cempaka Wangsa telah muncul, tanpa banyak bicara mempersilahkan Larung menuju koordinat pondok-pondok tempat kaum putih mengungsi.
    Sandya Hening ternyata telah mengetahui kedatangan Larung, dan menanti dengan penampilan yang demikian menggetarkan hati. Berkerudung terawang, memberi kesan wajah Sandya hening begitu murung dengan sorot mata tajam menusuk, namun caranya berdiri begitu anggun di ujung jalan koordinat pondok-pondok pengungsian dan di belakangnya berbaris tertib kaum putih dalam kerudung warna-warni; begitu takzim berdiri dengan posisi yang nampak setengah melayang dengan nyanyian yang membuat Larung menghela nafas panjang: kalki lagi, keluhnya di hati.
    Larung mengendalikan ekspresi wajahnya, menyapa penuh hormat kepada Sandya hening dan, menyampaikan pesan dengan singkat. Sandya Hening menyahut dengan suara lembut, "Mari sahabat kita menuju gunung suci, semoga perdamaian memasuki jantung bumi…"
    Larung mengangguk dengan tarikan nafas tertahan; dengan lirikan cepat disapunya semua barisan, sepasang mata itu tak nampak! keluhnya di hati mencari-cari. Namun segera dihentakannya kaki, mengembalikan konsentrasinya, dengan segera Sandya Hening mengikuti Larung dengan kawalan beberapa pengikut yang pastilah memiliki kekuatan pengelolaan energy tubuh yang luarbiasa. Mereka berlari hampir melayang dengan letikan Kristal-kristal berapi yang dari jauh memberi kesan seakan tubuh-tubuh kaum putih memedarkan cahaya kemerahan dan kadang keunguan.
    Si mata tajam itu kemanakah? Larung sambil terus melangkah cepat, berusaha mengibas kecewa hatinya, dipacunya langkah agar terjaga jarak layangan tubuhnya, diisyaratinya elang pantaunya agar bersiul. Ladang-ladang itu terlewati, langit kembali cerah walau gerimis tipis mulai menyebar, hati Larung tiba-tiba berdebar, rasa murung mengurung hatinya: kemana si mata tajam itu…keluhnya dengan rahang dicekat!

(BERSAMBUNG)

Cerita Serial: Kalki Bagian 8

Cerita Serial: Kalki
Bagian 8


    Iring-iringan itu sungguh mencolok mata. Kaum Putih! Bergerak dengan kereta-kereta tertutup di kiri kanan barisan lelaki berkerudung begitu khusuk merapal doa. Angin, debu, semua yang menimbulkan suara, kebisingan deru kendaraan seakan terhenti sejenak; Kaum Putih bagai prosesi hening begitu tenang menuju perbatasan Kaum Gunung. Tujuan merek jelas camp pengungsian! Namun cara mereka meninggalkan area kota dimana Kerusuhan terus berlangsung, begitu flamboyan.
    Seperti yang diinformasikan Pere, akhirnya beberapa jenderal utama, pengelola Tentara Kota mengakui bahwa ada kelompok separatis dalam faksi mereka. Kaum politician mulai menampakan diri kembali dilayar-layar televisi dan sengaja mengupload rapat darurat parlemen mereka buat menyatakan bahwa pemilihan pemimpin di area kota ditunda; untuk sementara masih dipercayakan kepada pemimpin lama; Bangsing Hasan nampak ditemani lawan politiknya Jaya Hasbi, begitu pula wajah-wajah para pemimpin kota di seluruh dunia menampakan diri di berbagai saluran informasi secara silih berganti. Namun letupan senjata belumlah berhenti justru tembakan cahaya makin kerap menderap di langit kelam sebagai tanda ada penyergapan dan pelumpuhan-pelumpuhan. Begitu pula Camp pengungsian  makin penuh oleh berbagai kedatangan pengungsi dan belum ada tanda-tanda akan ada yang berhasrat kembali ke area kota, justru rombongan-rombongan berbagai kaum yang tak memiliki kelompok pengamanan makin sering bergerak menuju camp-camp pengungsian.
    Sepertinya kaum putih hari ini agaknya telah menemukan kesepakatan diantara mereka, muncul dengan anggun di jalan utama dalam iring-iringan yang mengundang perhatian semua mata.
    Pintu gerbang camp pengungsian kaum pegunungan: begitu ditulis besar-besar dengan sistem buka tutup; setiap orang ataupun rombongan pengungsi harus menunggu konfirmasi apabila akan memasuki camp pengungsian. Petugas Camp pengungsian  selalu dengan sigap memeriksa hingga jauh ke belakang, meminta izin dengan sopan untuk melongok, memeriksa isi kendaraan; entah kereta, truk bahkan bis, semuanya diperiksa dengan sangat teliti. Orang-orang sakit mendapat pertolongan segera diangkut dengan ambulan menuju rumah perawatan pengungsian, urusan administrasi dilengkapi kemudian.
    "kaum putih…" beberapa pengungsi yang sedang melintas di dekat pintu gerbang pemeriksaan camp pengungsian tanpa sadar mendesis saat tahu bahwa rombongan kereta kuda yang berbaris panjang adalah kaum putih.
    Entah mengapa, walau terlalu sering diucapkan, kadang ditemukan dalam kelompok kecil, namun selalu kehadiran kaum putih dalam jumlah besar mengundang perhatian. Entah karena gaya mereka atau kemisteriusan yang selalu terasa. Tiba-tiba saja banyak orang ke luar dari pondok-pondok pengungsian dan menatapi arah pintu gerbang.
    Cempaka Wangsa, pemimpin penjaga periksa dengan senyum ramah memberi anggukan kepada pimpinan rombongan pengungsian.
    "Saya Sandya Hening, kami dari faksi timur…"
    Cempaka Wangsa mengangguk, "cukup jauh perjalanan yang anda tempuh…"
    "Iya…" dengan suara pelan, nafas halus, Sandya Hening menyodorkan dokumen, "kami harus melewati demarkasi barat lalu selatan, barulah tiba di sini, di demarkasi kami, kaum pegunungan telah menerima beberapa kaum, yang diantaranya tak menyukai kami…karena itu, disarankan agar kami menuju camp pengungsian demarkasi timur.."

    Cempaka Wangsa mengangguk, informasi melalui link kaum gunung telah dia baca sejak kemarin, bahwa penolakan terhadap beberapa faksi kaum putih terjadi di beberapa camp pengungsian. Rata-rata menolak, karena merasa terganggu dengan sikap kaum putih; ah, sok misterius…Kalau marah membawa-bawa nama tuhan! Keluhan itu selalu terdengar dimana-mana. Kaum Putih memang berbeda sikap dan ucapannya, kaum yang dalam sejarahnya dahulu mempengaruhi seluruh umat manusia akan kehidupan sesudah kematian. Mereka adalah keturunan penganut berbagai agama, yang berusaha memurnikan ajaran agama masing-masing, berperang dahsyat dengan lembaga-lembaga agama bahkan memburu berbagai organisasi agama dan para pedagang spiritual, lalu setelah itu mereka menghilang membangun perkampunganan yang tertutup. Baru setelah perang tinja, kaum putih bermunculan, memasuki berbagai area dan menempati tempat-tempat yang terpencil; jika di kaum nelayan mereka menempati lorong-lorong, di perkotaan mereka akan menempati area pinggiran sedang di area kaum gunung mereka menempati lembah-lembah; mereka menyebarkan kelompok-kelompok kecil dan menetap dengan sikap yang misterius, bekerja seadanya dan seringkali menjajakan beberapa keperluan obat herbal atau pengharum ruangan. Diantara mereka ada yang menjadi pengamen dan pemain sulap juga kadang menjadi pelayan untuk keperluan-keperluan kegiatan sosial. Namun Kaum Putih memiliki asset kekayaan yang luarbiasa, berbagai tempat pemujaaan peninggalan peradaban lampau menjadi hak mereka, dikelola menjadi tujuan wisata dan riset pengetahuan, dari semua itu mereka membangun organisasi pendanaan bagi semua kaum putih dimanapun. Namun ketegangan akibat perbedaan keyakinan kerap membuat perang diantara internal mereka.
    Ini rombongan pengungsian terbesar, semua anggota pengaman camp pengungsian memeriksa barisan Kaum Putih; dari kereta, roda mereka bahkan dengan hati-hati mereka juga meminta bekal makanan baik berupa tong maupun kotak yang dibungkus agar dibuka.
    "Aman tahap pertama…"  Laporan itu terbaca didalam link semua tablet kaum pegunungan, maka derit payung raksasa terdengar sesudah itu, dengan sistem scan, maka akan diketahui apakah ada penyusup bersenjata atau dengan penyakit tertentu yang harus diperiksa.
    Prosedur pemeriksaan berlanjut dengan keputusan penempatan mereka. Camp pengusian kaum gunung ditata mirip tata ruang desa kecil, ada pasar, rumah sakit juga tempat berolahraga. Namun posisi-posisi tempat tinggal mereka diatur sedemikian rupa. Rombongan Kaum putih, faksi timur berjumlah 50 kereta dengan 25 kepala keluarga. Segera mereka diarahkan ke arah paling ujung, intruksi tata krama menempati camp pengungsian segera disebarkan melalui tablet mereka dan dibacakan secara berulang-ulang.
    Sandya hening mengucapkan terima kasih kepada Cempaka Wangsa dan sungguh hatinya tertegun; tak menyangka kaum gunung menata camp pengungsian begitu rupa, terpelihara, semua tanah yang ada dimanfaatkan; barisan tanaman sayur mayur, pohon buah, juga kandang-kandang diatur demikian rapi, saluran airnya pun demikian terjaga.
    Dengan isyarat, rombongan kaum putih itu mengikuti langkah Sandya Hening, sebuah ruangan mirip aula kecil dimasuki oleh mereka. Dengan tertib mereka mencari tempat duduk di lantai, duduk melingkar, anak-anak membuka kerudungnya, memperlihatkan cahaya mata yang gemerlap, yang lainnya segera duduk merunduk. Cempaka Wangsa dengan singkat memberi ucapan penyambutan, lalu menyerahkan pengaturan penempatan pondok kepada Sandya hening.
    "Mereka tertib dan teratur…"
    "aku pikir mereka agak berbeda dengan kaum putih jalanan…" satu sama lain para penjaga camp membicarakan rombongan pengungsi kaum putih, faksi timur yang baru saja tiba.
    Namun segala penyambutan dan pemeriksaan itu hanya sebentar saja, sebab jerit elang terdengar dari berbagai arah, cempaka Wangsa segera berlari ke depan. Pintu gerbang camp pengungsian ditutup cepat. Tablet kerahasiaan menyala, wajah Cempaka Wangsa memucat. Dia menoleh ke arah kanan dan melihat beberapa bayangan begitu cepat mencapai tempat Cempaka Wangsa berdiri, " Mohon, diperiksa ulang…" desisnya, namun tak ada yang menyahut.
    "Tutup pintu gerbang dengan cermat, pasukan telah bersiaga penuh…"
    "akan sulit membuktikan bahwa salah satu dari mereka sebenarnya pengungsi dari kaum perkotaan yang tengah bertingkai…mereka pasti telah disusupi dan belum menyadari atau mereka tengah tersandera…"
    Wajah semua penjaga camp pengungsian berubah tegang. Jerit elang kembali terdengar, link rahasia menyala: bersikap seolah tak tahu apa-apa, namun waspada, camp pengungsian telah terususupi.
    Perang kota mulai memperlihatkan dampaknya, para pengungsilah yang tahu bagaimana keadaaan sesungguhnya. Berita-berita hanya sanggup bertutur dari sisi yang dapat mereka jangkau. Isu penculikan mulai merebak, transportasi mulai terganggu. Para pedagang mulai membayar pengawalan. Kaum cendekia pun mulai memberi isyarat jika keadaan semakin tak jelas, mereka meminta agar kampus-kampus klasik diamankan dan para mahasiswa akan dikembalikan ke kaumnya untuk sementara. Tapi anehnya; kaum politician terus mewartakan; keadaan mulai aman dan terkendali.
    "ketika zaman kali mencapai puncaknya, ketika lapar tak menemukan makanannya, para pemangsa pikiran menjadi nyata, saat itulah mari menyambut Kalki…"
    Sandya hening mengangkat tangannya, semua rombongan itu kini duduk dalam posisi meditasi, pelahan mereka menggumamkan nyanyian:

Huru hara yang mengharukan
Hati bumi yang dibumihanguskan
Langit kehilangan matahari
Bulan kehilangan cahaya
Bintang-bintang berjatuhan
Segala yang mencair, mencair
Segala yang membatu, membatu
Manusia memakan kemanusiaannya
    "ketika zaman kali mencapai puncaknya, ketika lapar tak menemukan makanannya, para pemangsa pikiran menjadi nyata, saat itulah mari menyambut Kalki…"


    Sandya hening, pemimpin faksi timur? Cempaka Wangsa mengernyitkan dahinya, menoleh ke kiri dan kanan, lesatan-lesatan para prajurit utama nampaknya telah menempati sudut-sudut rahasia di camp pengungsian. Apa yang terjadi?
    Dengan berusaha menenangkan diri Cempaka wangsa mencoba mengkontak prajurit utama kaum gunung; mengkonfirmasi sekali lagi, benarkah rombongan yang baru tiba adalah Sandya hening? Hanya para pemimpin yang tahu dalamnya lautan, perihnya dendam. Hanya yang terpilih akan tahu siapa Sandya hening. Jika benar itu kelompok Sandya Hening maka dari yang bayi hingga yang jompo adalah penguasa ilmu langit; mereka menghidupkan seluruh elemen tubuh mereka, membaca isi tubuh mereka seperti bahan bacaan, dan memerintahkan seperti yang mereka baca. Mereka berdiam dalam kelompok kecil di kaki pegunungan, hidup sungguh-sungguh menjauhi keramaian dan pergaulan. Namun kini, mengapa mereka mengungsi?
    "Kamu bersikap biasa saja…Perlakukan mereka sebagai pengungsi yang sama dengan yang lainnya!" itu saja jawaban yang didapatkan oleh Cempaka Wangsa, yang tetap merasa gundah dan memerintahkan secara diam-diam beberapa anggotanya untuk tetap mengawasi secara tandem.
    "Mereka bukan orang-orang yang lemah…" Larung tiba-tiba muncul di sebelah Cempaka Wangsa, yang tersentak sangat kaget, "Ah, engkau…" keluhnya sedikit kesal.
    Larung menyeringai,"aku diutus guru untuk menemui Sandya Hening…"
    Mengukur jarak ataukah jarak yang terukur? Dengan desir angin ataukah degup jantung? Larung tahu, Sandya hening telah tahu kedatangannya. Barisan pondok yang kini dihuni kaum putih, faksi timur telah bertanda; berupa aroma keharuman yang merebak tak putus lalu gumam nyanyian yang membangkitkan bulu roma dan para lelaki yang nampak sibuk menyiapkan makanan di dapur umum yang terbuka, begitu santun dan lentur geraknya; sungguh, mereka bertubuh tipis tanpa tenaga! Ah, betapa cepatnya mereka bekerja, perbekalan mereka telah ditata dan nampaknya mereka memang telah menyiagakan segala hal. Para nenek tua nampak duduk-duduk menyulam pakaian dengan gerak tangan seakan menari, gilanya mata mereka terpejam! Yang tak nampak  adalah para lelaki muda dan para gadis, sedang anak-anak dengan kepala mereka yang ternyata gundul bersih setelah kerudung mereka dibuka nampak bergerak dengan langkah-langkah halus mengitari kebun-kebun sayur mayur….
    "hanya mata elang yang paham…" Sandya hening menyambut dengan tangan terbuka kedatangan larung, mereka berdekapan sejenak. Lalu Sandya hening mengajak larung ke pojok ruangan aula, sudut yang sudah ditata sebagai tempat sang guru berdiam.
    "Tak mungkin aku mengirim kabar kepada sang guru, jika aku terpaksa melawat jauh, menyaru sebagai pengungsi adalah siasat yang paling mungkin saat ini…"
    Larung mengangguk penuh senyum, "Sang Guru menanti kedatangan anda di gunung, kapan saja, jika tuan sudah menganggap tepat adanya pertemuan…"
    "terima kasih, mata elang tahu hal itu…" Sahutnya tersenyum lembut. Mata Sandya hening begitu tajam, menusuk jauh kebalik relung. Larung menyerahkan secarik kertas, lalu berbisik, "sang penyanyikah sebabnya, tuan?"
    "Faksi gurun sebabnya…" sahutnya penuh kedamaian, "sudah ratusan tahun kami tak meninggalkan lembah kuil, namun kini demi tercegahnya perang besar, kami harus menemui sang guru…Kaum pegunungan di tempat lain, agaknya tengah goyah…sebab ketuaan menuntut pengganti, segala macam informasi telah ditanggalkan oleh keinginan-keinginan…"
    Larung mengangguk dan sepintas matanya menatap sepasang mata yang begitu lembut begitu tegas menatapnya. Siapa dia? Pikirnya dengan dada berdebar. Sandya hening menepuk pundak Larung, " segeralah kembali ke gunung, badai akan tiba…."
    Jerit elang menjauh, Cempaka Wangsa menelan kegundahannya, diperintahkannya seluruh penjaga memeriksa semua pondok dan sudut camp pengungsian, dadanya berdebar, dan kerut dahinya terasa menyakitkan, "apakah aku memasukan naga ke dalam sarang?"

(BERSAMBUNG)

Cerita Serial: Kalki Bagian 7

Cerita Serial: Kalki
Bagian 7


    Perang kota dimulai!
    Tak mungkin berdiam diri. Semua kaum segera bersiaga, apapun alasannya, imbas itu akan tiba juga.
    Ah, dahulu kala di abad 20 ada hampir tiga ratus ibukota negara di dunia, berkuasa atas wilayah-wilayah yang luas, menjadi pusat, menjadi penentu, menjadi tuan atas segala hal; dengan wajah sok penuh perhatian membangun dirinya dengan gedung-gedung megah, pusat-pusat perbelanjaan dan segala macam tanda kemajuan yang kemudian menjadi alasan untuk terjadinya kesenjangan luar biasa dengan rakyat yang menjadikannya sebagai pusat kekuasaan. Kini di tahun 2512 kisah-kisah kota-kota itu hanyalah menyisakan kisah ketegangan luarbiasa, wajah lampau, sejenis fosil yang tetap berusaha eksis dengan segala sisa kearoganannya: tetap mengira kota-kota itu akan kembali pusat dan tujuan kepercayaan kekuasaan di dunia sekalipun seperti saat ini; kerusuhan tengah meledak di semua area kota di dunia; kota tetap berusaha memberi kesan bahwa kerusuhan itu terjadi oleh musuh; dan harus ditemukan kambing hitamnya!
Perang kota telah dimulai. Dimulai lagi….

    Cahaya-cahaya tembakan meletup-letup dari berbagai arah; ledakan dibaluti asap tebal tak dapat ditembus oleh pandangan mata biasa silih berganti bergasing dengan pusaran yang membumbung ke langit seperti lajunya badai debu! Suara gemeretak entah bangunan runtuh dan dentam benda jatuh silih berganti, tetapi erangan kesakitan jarang benar terdengar. Perang, kerusuhan dan berbagai perubahan cuaca sejak lima ratus tahun lalu telah menciptakan berbagai cara bertahan untuk hidup di dunia. Yang diserang adalah symbol-simbol kekuasan kota, symbol-simbol kuno yang disakralkan oleh kaum politisi. Bangunan parlemen telah compang camping begitu pula gedung-gedung pemerintahan lainnya; Entah faksi mana yang tak puas dengan perayaan kedemokrasian itu, entah siapa kini yang kembali menggoyang kedamaian. Para pengungsi itu manusia; dari anak-anak hingga orang tua renta, berduyun-duyun meninggalkan area kota dikawal seadanya oleh relawan-relawan yang tak jelas asal kaumnya. Di semua demarkasi; barat, timur, selatan, utara hampir di semua benua dan pulau, di area-area yang masih setia pada sistem tata negara tua: demokrasi dengan ibu kota di sebuah kota besar mendadak kisruh. Pengap oleh ketegangan. Renyah oleh teriakan untuk saling mengingatkan untuk segera menyingkir sejenak dari kota. Penduduk asli kota biasanya akan bertahan di bunker-bunker mereka, kaum politician terutama telah terbiasa membangun bentengnya di bawah tanah. Dari bunker-bunker mereka akan mengendalikan pergerakan tentara kota mereka, mengawasi dermaga juga menjaga titik-titik asset mereka yang penting; bandara, demarkasi, media, juga kontak dengan beberapa kaum dilakukan dengan cepat dan diplomatis.

    Semua tablet kini menyala, semua kaum membuka linknya sendiri; bahu membahu mencari kabar keadaan di seluruh penjuru dunia, "Ini bukan perang, tetapi kerusuhan, kerusuhan yang didalangi oleh saudara-saudara kita sendiri…" suara para pemimpin kota timbul tenggelam berusaha menyela semua kabar berita yang tengah bergerak cepat di semua layar mayian. Tetapi adakah yang peduli jeritan politisi disaat seperti ini?
    "Kau harus melindungi faksiku," bisik Pere kepada Larung saat melewati lapisan penjagaan pertama area Kaum Pegunungan. Larung menoleh dengan dahi terangkat, penuh tanda tanya.
    "Apa yang kau sembunyikan?"
    Pere menunduk, wajahnya nampak pucat, "faksi kami menemukan informasi rencana penyerbuan kota-kota…"
    "siapa?"
    Pere menggeleng, "faksiku, faksi kami hanya memohon perlindungan, disudut terbaik di wilayah kaum gunung…"

    Larung mengerutkan dahinya,"aku tak paham, faksimu?…"
    Pere memandang lama mata Larung, " para tetua kami adalah para hacker di abad 20….dan kami terbagi dua, ada yang bekerja bagi lembaga-lembaga formal, ada yang independen…"
    "tapi bagi kami semua, sulit membedakan kalian…"
    "Kami bisa membedakan diri kami…"
    "Jadi kalian sudah berperang terlebih dahulu di dunia maya? Itu sebabnya tak ada berita apapun mengenai kerusuhan di berbagai kota?"
Pere mengangguk, "tak ada jalan lain, satu per satu kamu menghindari jalan maya untuk meminta pertolongan…"

    Cahaya-cahaya ditembakan secara terus menerus, entah siapa yang menembakan; gemuruh tank-tank mulai terdengar. Lorong-lorong kota sebaliknya senyap, jalanan senyap, listrik dimatikan, semua kegiatan perdagangan seketika terhenti: yang ada adalah hamburan tembakan untuk menghancurkan apa saja. Sayup-sayup terdengar deru pesawat pemburu mengintai di atas langit, bergerak dengan cepat dilangit yang kelam. Langit mulai gelap, hujan deras akan segera turun. Semua area kota divakumkan!
    Larung mematikan tabletnya. Laporan para pewarta kadang makin memperburuk ketakutan. Para pengungsi telah nampak di ujung-ujung batas wilayah kaum gunung. Camp-camp pengungsian telah permanen disediakan sejak ratusan tahun lalu, aturannya telah jelas, jadi tak akan lagi keluh kesah. Bagi semua kaum yang bertikai, jika telah memasuki camp pengungsian harus menghentikan tindakan kekerasan; harus bersedia bersikap netral, mematikan tablet dan istirahat menjaga keluarga dan asset mereka masing-masing. Manusia tetap membutuhkan berkembang biak jika tak mau punah, maka jika sudah memasuki camp pengungsian semua yang berperang harus menghormati. Kesadaran ini membuat semua kaum menghormati camp pengungsian dimanapun.
    "Jadi siapa menyerang siapa ini?"
    Pere tersendak, menunduk lama. Larung tentu saja tak bisa beli kucing dalam karung, menerima satu faksi dalam usulan jaringan besar kaum gunung? Kalau mau, camp pengungsian cukup bagi semua pengungsi tetapi memang bagaimanapun para penyusup akan tetap mencari musuhnya dengan segala cara. Pengungsian khusus yang diminta Pere itu dalam perlindungan prajurit utama Kaum Gunung. Itu statusnya pengungsi politik.
    "Apakah di sini aman bercerita?" Pere balik bertanya, suaranya gundah.
    "Di sini aman, di sebelah ladang jagung dan tembakau itu, itu pondokku…"
    Pere mengedarkan pandangannya, betapa hijaunya pemandangan, tak akan ada yang menyangka ini adalah garis batas terdepan benteng pertahanan kaum gunung. Berkilo-kilo meter jauh ke sana, kea rah yang sulit dijangkau mata; di sana pondok Larung. Kampung Kaum Gunung tak mudah ditembus. Beratus tahun mereka telah menata perkampungan mereka. Semua pondok adalah titik koordinat pertahanan mereka.
    "Kami telah berperang sejak tiga bulan lalu…" Pere memulai ceritanya," Perang di dunia maya adalah hal lumrah, warisan yang kami terima sejak abad dua puluh…"
Larung mengangguk,"aku tahu hal itu, tapi faksi dalam mayian…ini menjadi pertanyaan mendasar bagiku…?"
    "Kami tak sengaja meretas salah satu benteng lawan kami, mereka dari demarkasi barat, dan memiliki kedekatan dengan faksi gurun dari kaum putih…"
    Demarkasi barat?
Larung melengak mengerutkan dahinya, benoa luas dengan ketuaan tradisi kotanya. Dan kemajuan zaman abad dua puluh dimulai dari para pemikir mereka, sayangnya kemudian mereka ingin menguasai dunia dengan kepentingan ekonomi dan ideology, jauh dalam hati mereka selalu merasa dari ras yang unggul. Kini demarkasi barat adalah demarkasi paling mencekam, dikelola oleh berbagai tentara kota yang tak mau berbagi dengan kaum manapun. Rusuh setiap saat dapat terjadi di demarkasi barat. Kota-kotanya lebih banyak dikuasai oleh pemimpin dagang senjata, bukan oleh kaum politician. Jadi ini ada kaitan dengan mereka?
    "siapa mereka?"
Pere tertunduk lama, lalu mendongak, "mereka itu Faksi gurun, mereka bekerjasama sejak lama dengan Panglima tentara Kota di demarkasi barat…"
    Larung tersenyum samar, "Jadi benarlah isu itu? Laksmana Borus sejak lama mencurigai kaum putih…"
    "Bukan kaum putih, ini faksi gurun…"
    "apa target mereka?"
    "menguasai semua kota di dunia, dan kemudian menyerang semua kaum untuk mengembalikan kota sebagai pusat control masing-masing negera sesuai sejarah masa lampau.."
    "Dan itu akan terjadi negosiasi di dalam internal kaum perkotaan, bukan?"
Pere mengangguk, "hanya beberapa penguasa kota yang menentang…"
    "Untuk sementara faksimu mengungsi ke camp pengungsian umum…" Larung tiba-tiba melesat, melompat hilang dari pandangan Pere.
    Pere menghela nafas dan menyalakan tabletnya. Mengkoordinat jalur pengungsian bagi kaumnya. Dikejauhan cahaya-cahaya seperti menoreh langit. Kali ini Pere tak yakin kerusuhan akan segera berhenti, sebab ia tahu, seperti apa persiapan kerusuhan kali ini.

    "ketika zaman kali mencapai puncaknya, ketika lapar tak menemukan makanannya, para pemangsa pikiran menjadi nyata, saat itulah mari menyambut Kalki…"

    Pere melengak, hatinya terkesima, kenapa serasa dekat sekali nyanyian itu? Ah, nujum kisah itu apakah benar dunia akan terbebaskan oleh perang bila percaya kepada kedatangan Kalki? Entah mengapa mata Pere berkaca-kaca, benarkah perang dapat dihentikan? Benarkah ada jalan damai bagi kehidupan kini dan ke masa depan?

(BERSAMBUNG)

Cerita Serial: Kalki Bagian 6

Cerita Serial: Kalki
Bagian 6


    Pere!
    Sang Pemilik Kaum Mayian, warung yang terletak diantara lorong-lorong di tengah area kota. Larung ingat wajah itu, wajah Pere! ditariknya nafas, berdiri tenang dikejauhan memandang atap bangunan-bangunan di area demarkasi, sengaja ia berjarak, mengambil rentang pandang saat mengamati. Nalurinya berkata, akan terjadi sesuatu yang tak mungkin terelakan. Kini, ia harus memasuki area kota, yang sibuk dengan kampanye demokrasinya, bermimpi membalikan jalannya kenyataan. Sejarah telah usang, hilang wibawa, negara-negara dengan sistemnya telah menyerpih kemanusiaan-kemanusiaan dalam kaum-kaum, dalam faksi-faksi bahkan suku-suku dalam bangsa-bangsa pun tercerai, semua kekecewaan telah serempak menghabiskan sistem tata kepemimpinan dimanapun di dunia.
    Larung mengatupkan gerahamnya. Matanya makin lurus melepas pandangan. Memasuki kota dengan jalur formal disaat-saat kaum kota merayakan kerepublikan mereka, itu sangat aman.  Walau area demarkasi rentan dengan penyerangan, tetapi area ini jauh lebih aman dibandingkan dengan menggunakan jalan pintas. Tentara Negara Kota sangat telengas untuk urusan pengamanannya, selalu memiliki alasan untuk melakukan tindakan kekerasan kepada siapapun disaat seperti sekarang ini.
    Larung bertimbang untung ruginya, mengukur segala hal dengan cermat. Kemudian ia melangkah pelahan menuruni jalanan tanah, seperti yang dilakukan banyak orang lainnya, yang memilih jalan setapak menuju area demarkasi; di jalur lain ada jalan beraspal, namun itu jalur-jalur kendaraan dengan berbagai tujuan, terlalu melelahkan jika diseberangi, juga pengawasan teramat ketat bahkan kadang berlebihan.
    Saat Larung memasuki area demarkasi; beberapa kereta telah diparkir di tepi jalan, truk dan kendaraan-kendaraan kecil berjejer rapi dengan symbol-simbol kaum dan faksi-faksi yang melindungi mereka. Tanda peringatan untuk tak mengganggu perayaan demokrasi sudah terpasang, nampak jelas dimana-mana memperingatkan berbagai hal yang biasanya dilakukan bagi yang menentang segala macam mimpi untuk mewujudkan negara kembali.
Larung menghela nafasnya dengan berat dan mengayun langkah diantara ayunan langkah-langkah kaki orang-orang yang entah apa tujuannya ke area demarkasi, entah kendaraan apa yang akan dipilih untuk memasuki area kota; ada kereta bawah tanah, ada bis, banyak model kendaraan yang dapat disewa untuk memasuki area kota.
    Area Demarkasi walau terkesan sebagai area bebas, namun sebenarnya dibawah pengawasan Tentara Negara Kota; ini adalah kesepakatan ratusan tahun lalu; yang kadang menjadi alasan untuk terjadinya ketegangan-ketegangan. Di area ini transaksi perdagangan, transaksi informasi biasanya terjadi  dengan cara sebebas-bebasnya, namun semua tahu, sebebas apapun harus dengan hati-hati sekali.
    "Selamat datang…Selamat datang di area bebas: Demarkasi Timur…."
    Layar televisi hologram tingkat superplasma dinyalakan tepat di area kedatangan dan keberangkatan, siaran cuma satu: laporan persiapan kampanye Bangsing Hasan, penguasa kota yang mencalonkan dirinya kembali dengan saingannya seorang politisi muda: Jaya Hasbi. Wajah keduanya silih berganti ditayangkan, kadang berpedar karena getaran kereta yang datang dan pergi. Kadang membuat mata tertarik untuk melihat, selebihnya kebanyakan orang tak peduli. Di semua sudut nampak kedai-kedai makanan, souvenir, berbagai peralatan rumah; semua kaum seakan-akan terwakili di semua kedai, padahal semua kedai itu milik kaum pedagang yang sudah barang tentu dari zaman ke zaman menikmati keuntungan dalam situasi apapun!
    Larung menuju sebuah kedai, "sebaiknya minum kopi dan makan dahulu, sebelum memasuki kota dan menemui Pere" putusnya dalam hati.
Diantara keramaian dan keriuhan area demarkasi, Larung melangkah tenang. Suara-suara berbagai manusia mirip dengungan, keluh kesah, caci maki juga nyanyian; campur aduk dan membuat hati dilanda ketidaknyamanan. Sedang televisi sibuk menghadirkan analisa politik, siapakah yang akan memenangkan pemilihan umum, apakah Bangsing Hasan ataukah Jaya Hasbi?
    "Paketan atau special?"
    "Paketan…" Larung memilih makanan box. Jika tak habis, bisa dibawa saat menuju area perkotaan. Dipilihnya duduk di sudut, meja kecil yang akan menjauhkannya sedikit dari dengung suara-suara yang mirip dengung jutaan lebah itu.
    "Kerusuhan terjadi lagi…"
    Larung memasang telinganya dengan baik-baik, mengunyah makanan dengan tenang sesekali menyeruput kopinya, telinganya terus terpasang; diantara dengung keriuhan suara-suara yang tak jelas itu, jelas didengarnya ada yang melakukan transaksi informasi, "hebatnya sama sekali tidak diberitakan di satlet kaum kota juga kaum mayian agaknya telah bungkam…Semua link seolah-olah mengesankan keadaan sedang damai seratus persen! Padahal dalam link kami; dari  berbagai penjuru bumi, di semua area kota ada kerusuhan, ini bukan kerusuhan kecil, ini serentak dan massif…"
    "Penculikan pun makin sering terjadi, banyak area demarkasi melaporkan kehilangan orang, tetapi tak ada tindakan sama sekali. Kelompok mana yang memback-up penculik ini? Kalau bukan kaum pedagang, siapa lagi?"
    "entahlah..."
    Larung berusaha menebak-nebak, siapa dengan siapa yang bertransaksi ini, kaum mana dengan kaum apa?
    "berita bawah tanah lebih menakutkan, faksi kaum putih terpecah-pecah, semua tengah mengejar Sang Penyanyi…"
    "Isu sengaja dihembuskan seakan Sang Penyanyi terakhir terlihat di area kota demarkasi timur, artinya Sang Penyanyi tak jauh-jauh dari wilayah garis khatulistiwa?"
    "Mungkin saja, kaum gunung memiliki sistem yang paling tertutup…"
    "Ah, mereka tak akan melakukan konspirasi itu, walau ideology mereka memang kemanusiaan di bumi, tetapi mereka tahu persis resikonya jika kini terlibat dalam ketegangan politik global. Dan link kaum gunung belum memberitakan apapun soal itu, baik secara bahasa sandi maupun lelucon menyebut akan adanya Sang Penyanyi. Aku pikir, kerusuhan di semua kota-kota di dunia, isu Sang Penyanyi; ini satu paket…perang nampaknya akan terjadi lagi, hanya saja kali ini kita tak tahu apakah faksi dalam kota yang radikal yang mensetting semua keanehan ini, termasuk sikap kaum mayian…"
    "satu-satunya kunci pembuka, kaum mayian…"
    "entahlah…apakah mereka juga sebagian budak yang dilepaskan?"
    Larung menyeruput minumannya, pikirannya bekerja dengan hati-hati. Yang tak terungkap sejak dahulu adalah para penculik ini dan bagaimana dewan keuangan melakukan standar nilai uang, yang kini tak lagi menggunakan mata uang atas nama negara tertentu, uang kini dikeluarkan oleh Dewan Keuangan Bumi, dan semua kaum terwakili dalam dewan keuangan itu.
    "memburu para penculik…" Larung tersentak sendiri dengan inspirasi dalam kepalanya, segera ia melangkah meninggalkan kedai itu, menuju pintu pejalan, lebih baik dirinya kembali ke gunung dan mengusulkan pertemuan tertutup; strategi harus dibangun, kaum mayian tak dapat dilibatkan saat ini sebagai sumber informasi.
    Berjalan adalah kebiasaan yang hampir hilang di bumi ini, dan kaum gunung menjadikannya sebagai senjata pergerakan, ratusan tahun kaum gunung berupaya menemukan teknik berjalan yang menyaingi kecepatan kendaraan. Generasi kaum gunung kini dikenal sebagai pejalan cepat dan pejalan layang, dan krisis energy memang kemudian teratasi setelah berbagai bahan bakar bermunculan, namun semua kaum, semua wilayah di muka bumi ini tak lagi dapat sembarangan berjualan kendaraan, sebab bahan bakarnya berbeda-beda merumitkan proses produksi kendaraan. Kaum gunung memiliki bahan bakarnya sendiri segala macam minyak dari tanaman, biooil kaum gunung adalah salah satu yang asset yang paling diincar saat ini.
    "Larung…"
    Larung terus melangkah tak menoleh dan tak bereaksi walau namanya ada yang memanggil. Tubuhnya melewati pintu pemeriksaan, telinganya mendengar namanya dipanggil kembali, namun ia tak akan menoleh di pintu pemeriksaan. Kaki Larung terus melangkah menuju arah Timur, menuju jalan yang menjadi milik kelola Kaum Gunung.
    "Larung…"
    Kereta-kereta dan truk-truk masih terparkir rapat, artinya banyak kaum gunung masih ada di kota dan banyak kaum lain juga sedang ada di pasar kaum gunung. Larung memelankan langkahnya, keramaian seperti ini membuat hatinya lebih nyaman untuk memastikan ada yang memanggilnya.
    "Kau memanggilku?"
    "Iya.."
    "belokan pertama di dekat bunker penjualan bahan bakar…" Larung dengan suara berdesis, tanpa menoleh menyahuti pemanggilnya dan memberi petunjuk dimana dapat bertemu.
    Tiba-tiba hujan luruh dengan deras. Larung mengibas jaketnya yang seketika berubah menjadi mantel penahan hujan. Demikian juga orang-orang nampak seketika memakai mantel penahan hujan dengan aneka warna-warni; payung-payung seketika terkembang. Hujan deras disertai petir seperti biasa bersamaan dengan matahari yang benderang. Cuaca yang lumrah ditahun 2500-an
    Dekat bunker penjualan bahan bakar ada kedai besar milik kaum gunung. Larung mencapai tempat itu saat kilatan petir seperti hendak membelah tanah. Larung menepis ujung jaketnya, seketika mantel hujannya kuncup menjadi jaket yang sedikit basah ujungnya dan segera ia melangkah ke meja paling sudut. Kedai telah penuh sesak, banyak yang tengah berteduh dan duduk-duduk dengan obrolan tak jelas, mengisi waktu buat menanti hujan reda atau istirahat sejenak dari kesibukan. Ah, di sini tak ada televisi superplasma milik kaum kota, aroma kedainya pun berbeda… Larung memanggil pelayan dan memesan minuman dan makanan: Kopi hangat, pisang semental dibakar…
    Larung menanti pesanannya saat itu telinganya menangkap jelas, langkah sepasang kaki begitu halus dan teratur, tak ada detaknya, Larung tersenyum, saat menyadari orang yang memanggilnya telah memasuki kedai, kibasan jaketnya pun sangat halus, artinya bukan penduduk biasa. Larung dengan tatapan beku menatap ke arah pemilik langkah halus itu, "Pere?" desisnya dengan kerut didahi.
    Pere memperlihatkan giginya, tersenyum lebar, segera ia duduk di depan Larung, "sorry, aku memanggilmu di pintu…"
    "Tak apa, kau mau memesan apa?" Larung menyela cepat. Mengalihkan percakapan.
    "Hujan…" keluh pere
    "tak akan lama…"
    Pere mengangguk, memesan menu yang sama dengan Larung.
    "apa kabarmu?" Larung dengan suara mirip gumam, mata yang cermat berusaha menangkap keadaan sekitarnya. Kedai ini bukanlah kedai hanya bagi kaum gunung…segala macam kaum dapat singgah di sini.
    "Baik…" sahut Pere dengan mata berkerjap, melepas isyarat. Larung mengangguk, "Hayolah kita minum dan makan, setelah hujan reda kita memburu jamur di hutan…"
    "ketika zaman kali mencapai puncaknya, ketika lapar tak menemukan makanannya, para pemangsa pikiran menjadi nyata, saat itulah mari menyambut Kalki"
    Pere mengerutkan dahi, Larung tersenyum,"biarkanlah, mereka pengamen.."
    "Masih juga nyanyian itu beredar, padahal santer dimana-mana dikatakan, Sang Penyanyi menghilang…"
    "Hayolah, buat apa kita pedulikan. Nyatanya, masih mereka bernyanyi, tak ada yang hilang…Isu di masa kampanye kaum kota, selalu dengan tujuan yang tak terduga,"
    Deru hujan tiba-tiba terhenti dan kini berganti dengan desiran angin yang membawa udara yang teramat dingin,"hujan es sebentar lagi…"
    "Ya…"
    Larung memastikan pantauannya, betapa banyak mata-mata yang hilir mudik, menyaru mencari tempat berteduh ke kedai yang dikelola kaum gunung ini. Dan beberapa kaum putih, juga duduk di meja dekat jalan, seperti biasa berkerudung dengan wajah yang memucat; lalu dari kaum nelayan, kaum pedagang…..Larung menggeliatkan punggungnya, berusaha menahan debaran jantungnya; walau samar firasatnya mengatakan, disekitar kedai yang penuh sesak ini ada juga orang-orang tersamar entah itu dari kelompok teroris, separatis, atau kelompok petualang…
    Tiba-tiba petir menyambar demikian dahsyat disertai suara ledakan Guntur, lalu hologram bermunculan dengan suara yang membuat bulu kuduk meremang; "segera menyingkir, amok dikota baru saja terjadi, ada faksi yang melakukan serangan ingin menguasai kota…."
    Dalam gemuruh ledakan Guntur dan kilatan petir, suara-suara cemas berdengung, kegelisahan meruak terasa menyengat disemua sudut warung. Semua pengunjung warung mencoba mencari koneksi dalam tablet mereka dan menggunakan signal pemeta agar dapar dapat gambar terkini dari koordinat yang diinginkan. Larung menatap Pere,"kau sudah tahu rupanya…"
    "Iya, pengungsian akan segera menuju perkampunganmu…" desisnya.
    Larung mengangguk dan segera berdiri, Pere mengikuti. Keduanya tanpa menoleh kiri dan kanan melesat dalam desau angin dingin dibawah kilatan petir dan badai guntur. Perang mungkin akan terjadi lagi! Aungan sirine terdengar tak lama kemudian, siul elang bersahut-sahutan, prajurit kaum gunung bermuncul dari berbagai semak, area yang semula adalah perbatasan sunyi dengan area demarkasi kini telah dibentengi oleh tembok-tembok yang dengan otomatis bermunculan dari balik tanaman-tanaman. Semua area perkampungan dimanapun pastilah kini menyalakan bentengnya.
    Perang akan dimulai lagi?
    "ketika zaman kali mencapai puncaknya, ketika lapar tak menemukan makanannya, para pemangsa pikiran menjadi nyata, saat itulah mari menyambut Kalki…"

(BERSAMBUNG)

Cerita Serial: Kalki Bagian 5

Cerita Serial: Kalki
Bagian 5



    "Ketika zaman kali mencapai puncaknya, ketika lapar tak menemukan makanannya, para pemangsa pikiran menjadi nyata, saat itulah mari menyambut Kalki…"

    Berapa langkah diperlukan untuk jarak satu kilometer jalan? Apabila itu menanjak ataukah menurun, terjal ataukah berbelok-belok, kaum gunung harus memahami hal itu. Berapa tua sebatang pohon, berapa tua tumpukan batu, semua jejak itu harus menjadi bagian kehidupan kaum gunung.
    Larung melangkah menaiki bebukitan, entah berapa langkah telah dia ayunkan. Entah apa yang akan terjadi lagi, perang gerilya ataukah teroris akan kembali beraksi? Separatis mana lagi yang akan dapat dibeli oleh pihak manapun di muka bumi ini? Ini zaman dihitungan yang begitu susah membayangkan bila dahulu kala di abad 20 ada negara-negara berkuasa penuh diseluruh permukaan bumi, ada perarturan-perarturan yang mengatur setiap perhubungan-perhubungan, yang kemudian luluh lantak oleh berbagai kejadian; dimulai dengan satu negara pecah dan disusul yang lainnya; seperti gelas dibanting; berkeping-keping lalu teroris dan separatis dengan berbagai alasan saling menghantam, menceraiberaikan berbagai hal.
    Namun tak ada lagi pusat kekuasaan, tak ada lagi presiden ataukah raja, tak ada tokoh-tokoh lintas yang berpengaruh. Kaum historian dan para peramal berusaha membangun mimpi akan masa depan manusia di Bumi? Namun melewati seabad ini agaknya perkauman-perkauman, demarkasi-demarkasi yang bukan berdasarkan besaran wilayah dianggap paling damai dan membuat semua kaum dan individu terbebaskan oleh birokrasi dan korupsi yang membelit bumi beratus tahun. Kaum politician berupaya mengubah cara berpikir, menguasai kota-kota dan membangun solidaritas mirip keyakinan akan spiritual…
    Di belokan bukit, diantara lebatnya hutan, Larung berdiri tegak, tabletnya menyala. Kaum Nelayan telah mengirim kabar yang mendebarkan hati, akan ada kekacauan besar. Di dermaga kota dalam garis khatulistiwa, bekas negara kepulauan yang hancur karena korupsi disinyalir ada pengiriman senjata yang diterima oleh kelompok-kelompok bayaran, entah faksi mana yang bermain di area Kaum Perkotaan di saat Kaum Perkotaan tengah melakukan ritual mereka; mengkampanyekan indahnya bernegara dalam demokrasi.
    Larung tersenyum sambil menatap layar tabletnya, telinganya menangkap gemeresak langkah-langkah kaki yang mendekatinya.
    "Seperti tak berpenjaga, tetapi tak tertembus rupanya, Kaum Pegunungan di seantero bumi telah mencapai pemantapan…?"
    Larung menoleh ke arah kanan, dari balik semak-semak bermunculan orang-orang dengan mantel berjuntai dengan kerudung, yang bicara tak lain Panda Gasing, utusan kaum putih, yang tak asing wajahnya, wajah yang cukup populer.
    "Sang Penyanyi masih dalam perawatan…"
    "Kami tahu hal itu, keyakinan tetaplah keyakinan, kelak Kalki akan tiba…"
    "Kekacauan telah dimulai…di sudut area kota, empat panggung kampanye mereka rubuh oleh tembakan laser…" lanjut yang lain, menimpali ucapan Panda Gasing, wajah yang begitu misterius dibalik kerudung.
    "Secepat itukah kejadiannya?" Larung menyela dengan gumam tak yakin, mengerutkan dahinya, apakah Kaum Mayian mulai malas mengup-date pemberitaan? Ataukah ada kekuatan lain menguasai dunia maya?
    "Kami tadi melintasi area kota dan kami menumpang kereta-kereta ke demarkasi utara, dari terminal itu televisi-televisi memberitakan adanya kekacauan…"
    "Lalu tujuan kalian ingin bertemu di bukit pemuja ini, dengan keperluan apakah denganku?"
    "Izinkan pemimpin kami menemui Sang Guru…"
    Larung melengak, pemimpin kaum putih? Benarkah kini mereka ada satu pemimpin? Dalam riwayatnya, berbagai agama satu sama lain merasa lebih unggul, belum lagi sekte dan berbagai kepercayaan, lalu kaum spiritual, semuanya yang merasa hidup untuk kebaikan atas nama keyakinan menyatukan diri sebagai kaum putih, yang menentukan sikap mereka tak memiliki markas, tetapi hidup menyebar disemua kaum, dengan kesetiaan yang tak terduga kepada semua garis keyakinan mereka. Kaum putih sulit dipercaya, Panda Gasing, tokoh yang tak terduga, riwayatnya jelas, dia berasal dari satu agama garis keras, sejak dahulu kala menjadi bagian terpenting munculnya faksi fundamentalis.
Larung tersenyum, "siapa pemimpin kaum putih? Apakah mungkin ada satu pemimpin bagi kaum putih?" Tatapan mata Larung begitu menyelidik
    Panda Gasing terkekeh, "kewaspadaan kaum gunung sungguh menakjubkan…kami telah memiliki kini satu pemimpin…"
    "Siapa? Itu artinya kalian akan memerlukan markas…Mungkinkah tradisi-tradisi keyakinan ada dalam satu area? Tanpa berbenturan…?"
    "Itu urusan internal kami, yang pasti era kaum putih telah dimulai…"
    "Siapakah?"
    Larung memastikan arah angin berdesir darimana, belum tentu Sang Penyanyi satu faksi dengan Panda Gasing, dan belum tentu Panda Gasing datang sebagai seorang kawan.
    "Kami menggunakan kepemimpinan bergiliran…era yang sekarang dipimpin oleh Patik Gurun!"
    Larung mengatupkan gerahamnya, mengangguk pelan. Diplomasi adalah diplomasi, tetapi mempercayai informasi tidaklah mudah di zaman seperti ini.
    "Akan kami sampaikan, dan kelak melalui jalur mayian akan kami sampaikan kabar…"
    "Jangan melalui kaum mayian, kami akan memberikanmu link kaum putih, faksi kami…"
    Larung mengangguk. Memperhatikan layar tabletnya,"link kalian telah masuk," gumam Larung dengan senyum. Panda Gasing mengangguk lalu berpamitan diikuti oleh orang-orang bermantel dengan juntai, kerudung yang mengibaskan misteri.
    Sang Penyanyi, siapakah sebenarnya yang menyerang dia? Larung sungguh mulai merasakan pori-porinya mengembang. Sang Guru telah mengingatkan bahwa mengobati Sang Penyanyi dan membiarkannya bermukim di kampung kaum pegunungan akan memancing perhatian beberapa faksi dan kaum yang  apapun motivnya adalah yang berseberangan dengan tujuan Sang Penyanyi, yakni bumi diselamatkan dikembalikan dalam tata krama bernegara.
    Siul panjang burung elang terdengar, Larung melangkah menuruni bebukitan. Dari berbagai arah semak bermuncul prajurit kaum pegunungan, "mereka hanya lima orang, kami buntuti hingga terminal utara…" Laporan prajurit pemburu hanya ditanggapi anggukan oleh Larung.
    Lalu para prajurit itu menghilang kembali di balik semak-semak. Larung terus melangkah seolah sendirian di lorong jalan tanah bebukitan yang dilebati pohon-pohon besar. Ada seratus murid utama yang dapat diajak berunding, namun hanya dua puluh yang boleh mengambil keputusan. Markas Kaum Pegunungan harus diamankan lebih ketat selama Sang Penyanyi di rawat di area kaum Gunung.
    "Tak ada yang tahu, siapa sebenarnya Sang Penyanyi ini…"
    "Orang-orang yang menghantarkannya, membisu dalam meditasi di depan kamar perawatan, menolak makan dan minum…"
    "Informasi kaum mayian pun sedikit sekali…"
    "Sepertinya, tak akan ada yang tahu, siapa dia…"
    Larung menghela nafas, percakapan dalam pertemuan kemarin malam, masing terekam bagus dalam ingatannya. Hampir semua merasakan, Sang Penyanyi ini adalah figur yang misterius, menurut informasi dari kaum pegunungan di berbagai wilayah di permukaan bumi, mengatakan, pernah mendengar nyanyian mengenai Kalki itu…Namun mereka tak begitu peduli, sebab banyak pengamen berkeliaran di semua demarkasi…
    Penanda itu kini garis lintang, garis khatulistiwa, daratan, lautan, pulau, entahlah, tak pasti untuk memahami, semua ingin membaur, peta-peta tinggal tanda, pembatas kekuasaan telah lama lenyap. Alamat-alamat menggunakan signal dari markas-markas kaum-kaum.
    Larung melangkah memasuki jalan perkampungan. Barisan ladang jagung, barisan sawah-sawah, kebun buah-buah, kolam-kolam ikan, kandang ayam, babi, sapi, kubangan kerbau bahkan penangkaran-penangkaran berbagai binatang telah berabad dilakukan oleh kaum gunung. Kaum Gunung tak takut kehabisan makanan, semua bekerja sesuai dengan keahlian dan melatihkan keterampilan di balai-balai pendidikan, namun di malam hari, semua mendapatkan pelatihan keprajuritan dan doktrin kesetiaan, tata krama hidup di zaman yang tak terduga.
    Kereta-kereta pengangkut barang mulai nampak, truk-truk kecil bersiliran, gudang-gudang pengepakan nampak di sana-sini dan tentu saja bangunan-bangunan pendingin makanan ada di semua rumah. Kaum dimana pun didunia kini selalu harus menyediakan diri mereka stok makanan, kerusuhan setiap saat dapat terjadi, dan disaat seperti itu makanan menjadi sangat sulit dicari.
    "ketika zaman kali mencapai puncaknya, ketika lapar tak menemukan makanannya, para pemangsa pikiran menjadi nyata, saat itulah mari menyambut Kalki…"
    Larung terus melangkah memasuki kerimbunan ladang jagung, menghindari siliran truk dan kereta, dia harus mencapai pusat perkampungan dengan menggunakan jalan menerabas. Nyanyian itu terdengar lagi, sayup tetapi. Ah, itu mungkin gaung ingatan. Bukankah Sang Penyanyi tengah dirawat antara hidup dan mati?
    Pondok diujung perkebunan Jagung, luasnya enam are, asap mengepul dari perapian. Larung mendengar kokok ayam dan embikan kambing. Melalui jalan belakang Larung memasuki pondok ujung perkebunan, pondok milik Kembang Gaduh, salah satu murid utama yang memiliki keahlian membuat tepung.
    "Salaam…."
    "Kau Larung? Kemarilah aku di dapur, seisi rumah sedang ke pasar…"
    Larung menuju dapur Kembang Gaduh, pondok yang terpisah dari pondok utama. Kembang Gaduh nampak tengah mengaduk sesuatu dalam kuali.
    "Wah, ada bubur jagung…" Larung menyerangai dengan mata berkedip. Kembang gaduh tertawa bangga, "Makanya, kau seharusnya segera kawin, jadi pondokmu itu akan terus mengepulkan asap…"
    Larung tertawa, memperhatikan gantungan di atas tungku yang penuh dengan daging-daging yang diasapi. Mengeringkan dengan cara mengasapi lebih aman dibandingkan menjemur, sebab cuaca sulit diduga. Hujan dapat turun semau hatinya dan kadang panas berhari-hari terjadi dengan angin yang menderas hingga semua tanaman tertutupi debu tipis.
    "Kau pergi ke bukit?"
    "Iya…" Larung menuju sebuah rak, mengambil satu mug dan mencari cerek air, menuangkan mulutnya ke atas mug, "kau minum air sembung?"
    "Ya…" Larung menegak isi mug dengan lahap. Rasa sembung yang pahit namun gurih terasa merayap ke dalam seluruh urat tubuhnya.
    "Utusan kaum putih…"
    Kembang Gaduh mengangsurkan satu mangkuk bubur, dan mengajak Larung pindah duduk di meja makan, tudung saji diangkat, daging dendeng, daging kuah, sayur daun yang membuat perut Larung menggeliat merasakan rasa lapar.
    Dapur yang luas, meja makan yang nyaman. Isi dapur yang lengkap. Larung tersenyum lebar dan mulai menyuap bubur jagung dan mengambil beberapa potong dendeng.
    "Siapa yang diutus mereka?"
    "Panda Gasing…"
    "Faksi gurun?" Kembang Gaduh tersenyum, "sejak lama faksi mereka tidak jelas kemana berpihak, bahkan kaum nelayan pernah memergoki mereka menyelundupkan bahan-bahan peledak. Laksamana Borus pernah menyampaikan langsung kepadaku saat aku bertugas mengawasi kesepakatan jual beli makanan dengan mereka…"
    "Kaum Putih memang tak terduga…"
    "Panda Gasing itu licin seperti belut sungai di musim badai…" Kembang Gaduh terkekeh ringan, "tetapi kali ini tentunya faksi gurun berhitung dengan cermat, jika memang Sang Penyanyi satu faksi dengan mereka, tentu mereka langsung memasuki perkampungan dan menengok Sang Penyanyi…"
    Larung mengangguk, "mereka menduga-duga jejak terakhir Sang Penyanyi, namun tadi mereka hanya menyampaikan keinginan bahwa pemimpin kaum putih ingin bertemu dengan guru kita…"
    "ha? Aneh sekali, mereka punya pemimpin?"
    "Mereka bilang internal mereka menyepakati ada pergiliran kepemimpinan…"
    Kembang Gaduh mengerutkan dahinya, "kaum putih tersebar di semua kaum, dan semua masalah mereka kadang tak jelas…"
    "Aku akan menyampaikan pada guru permintaan faksi gurun kaum putih itu, namun tentu saja harus ada penjelasan yang lebih strategis…"
    Kembang Gaduh, "sebaiknya kamu turun gunung, masuki kaum kota yang ada link dengan faksi gurun, dengarkan apa yang sebenarnya terjadi, dan kini saat yang tepat, kaum kota tengah mengkampanyekan impian mereka…"
    "Kekacauan sudah terjadi di beberapa titik signal area kota…"
    "itu ulah faksi kaum kota…tidak usah khawatir…"
    "Menurutmu, apakah para pengawal Sang Penyanyi dapat dipercaya…?"
    Kembang Gaduh tersenyum lebar, " mereka diawasi dengan cermat oleh Elang Sabit"
    "Mereka masih membisu…"
    "itu sikap umumnya kaum spiritual…riwayat mereka dahulu menyebabkan sikap mereka sangat tertutup.."
    Panda Gasing bukan kaum putih sembarang kaum putih, dalam riwayatnya, dia keturunan salah satu pemimpin agama yang memiliki pengikut di seluruh dunia, disaat dunia dilanda kekacauan,  Faksi gurun masih berkutat dengan tafsir keyakinan mereka yang super fanatic lalu tercengang saat di semua wilayah tak hanya kaum penguasa yang menghabisi mereka namun juga semua kaum. Mereka menarik diri menjauhi pergaulan dan melakukan gerilya dan baru muncul ketika terjadi jeda perdamaian oleh bencana cuaca; mereka melakukan proses negosiasi dengan jaringan kaum putih, walau demikian, faksi gurun selalu mengalami hubungan pasang surut dengan semua faksi dalam perkauman kaum putih.
    "Faksi gurun memiliki kedekatan dengan kaum pedagang, dan mereka memiliki banyak asset kekayaan yang membuat mereka dapat membeli di seluruh dunia area-area yang tidak dapat mereka sebut markas tetapi sebenarnya mirip dengan bunker, dari situlah diduga gerakan mereka dilakukan. Tetapi tentu saja mereka tak lagi bisa mengumbar keyakinan mereka, klaim kebenaran atas keyakinan mereka sudah lama tak lagi dapat dijadikan senjata…"
    "Bahkan kita sekarang sudah tak tahu berapa kaum telah terbentuk di seluruh dunia, kampus-kampus klasik tak dapat dijadikan rujukan apakah ada kaum baru yang mengajukan anggotanya untuk memasuki bangku keilmuan klasik…"
    Kembang Gaduh mengakhiri kunyahannya, "beberapa bekas bandara di dunia itu sekarang menjadi demarkasi berbagai kaum, tetapi beberapa secara pengelolaan jatuhnya pada kaum kota dan kaum dagang….itu pangkal sebabnya apabila terjadi kembalinya ketegangan…"
    "Bukankah bandara bukan lagi tujuan favorit dalam melakukan perjalanan?"
    "Tetap utama dan tercepat, melalui laut, beberapa wilayah laut tidak ada yang mau mengamankan, faksi dalam kaum nelayan tidak memiliki kemauan untuk memiliki jaringan dalam mengelola keamanan…"
    "Borus sangat dekat dengan laksamana laut Utara…"
    "hanya karena Borus dapat memasok jagung dan buah ke wilayah kampung mereka, jika tidak, mereka sama sekali tak bertegur sapa sekalipun dalam link yang sama…"
    Larung mengangguk, meraih kembali satu potong dendeng. Suara kereta terdengar di kejauhan, tampaknya istri dan anak-anak Kembang Gaduh telah kembali dari pasar, "aku harus pergi…" Ucap Larung dengan singkat, Kembang Gaduh mengangguk pelan. Tata krama prajurit kaum gunung, tak bertemu dengan keluarga saudara sekaum bila mengurus pekerjaan kaum. Dalam sekejap larung telah lenyap dibalik kerimbunan ladang-ladang jagung.
    "Hoooo……hoooo" Suara perempuan menghentikan laju kuda terdengar begitu nyaring, melengking seolah menyaingi lengking siul burung-burung elang. Sayup Larung melangkah, kembali mendengar nyanyain itu, "ketika zaman kali mencapai puncaknya, ketika lapar tak menemukan makanannya, para pemangsa pikiran menjadi nyata, saat itulah mari menyambut Kalki…"
    Larung menghela nafas, menghentikan langkah, memejamkan mata, mengaktifkan pendengarannya,"hayolah, bernyannyilah kembali, akan kucari dimana sebenarnya letak asalmu…"
    "ketika zaman kali mencapai puncaknya, ketika lapar tak menemukan makanannya, para pemangsa pikiran menjadi nyata, saat itulah mari menyambut Kalki…"
    Lalu nampak tersentak, wajahnya pucat pasi, dengan menghentak Larung melayang, tubuhnya melayang cepat di atas pohon-pohon jagung…..

(BERSAMBUNG)