Ritus Dewi Sri

MUNGKINKAH MUARA TRADISI MADAHA?

Cukup lama, sungguh lama, pertanyaan-pertanyaan muncul dalam kepala, bila menyaksikan tari rejang dalam upacara-upacara besar agama Hindu di Bali.Selalu pertanyaan itu henti pada penjelasan; rejang sebagai tari wali atau sebagai gambaran penyambutan kepada turunnya batara-batar(?) Bahkan Tradisi Rejang hingga kini selalu dilakukan menjelang hari Kuningan di berbagai desa yang berkaitan jika dicermati adalah 'jejak ritus' peninggalan Mpu Kuturan.

Sebuah manuskrip cukup tua, dari kekayaan 'kosa kata'nya mengisyaratkan ketuaan: manuskrip itu berjudul Hempu Kuturan: berisikan tata upacara kepada sawah, kepada Dewi Sri, Rambut Sedana. Berisikan pula mengenai tata krama terhadap mrana (wabah hama) seperti tikus (termasuk mrateka tikus), burung, ulat, khususnya berbagai hal yang berkaitan pertumbuhan padi di sawah, termasuk empelan, bawungan, tata cara upacara alih fungsi sawah bahkan membangun sawah.  Manuskrip ini memberi gambaran bait-bait suci dari era Mpu Kuturan. Sejak pembacaan awal, misalnya,"yan angrawuhken Nini, hunggwaniya ring bale hagung, manguyu-nguyu, 3, dina. Subak ika, yan wus hangaci-haci, saha rentheng, hunggahakna ring lumbung, phalaniya murah ikang pari, mwang sadhana, sing tinandur padha wredhi" ---Kata 'Bale Agung'  adalah nama yang paling khas dari adanya tri kahyangan tiga. Pada Pura Puseh di desa-desa tua dan juga pada Desa Bali Kunaakan selalu ditemukan nama satu bangunan bernama Bale Agung. Dalam awalan ini penjelasan mengenai usabha desa begitu tegas menyampaikan tujuannya adalah untuk pemarisudha; pembersihan dan penyucian, namun yang menarik adalah seluruh inti upacara ini bermuara pada Dewi Sri sebagai pujaan.

Sejak lama sering terdengar nama lontar dharma pemaculan, mengenai soal persawahan dan hari-hari melakukan kegiatan di sawah dengan upacaranya. Jika dibandingkan dengan manuskrip ini, Hempu Kuturan memberi banyak jawaban mengenai ritus Ngusabha, ritus-ritus suci kuna di Bali yang sampai kini diwarisi, yakni pada desa-desa tua di Bali; Dewi Sri dan Rambut Sadana ( perhatikan pula pada manuskrip-manuskrip suci lainnya) dalam Agama Hindu di Bali adalah Btara-Btari yang sangat tua sebagai pusat tujuan upacara. Menjadi menarik kemudian bahwa dalam manuskrip ini; pelaksanaan piodalan dan upacara-upacara di Pura Puseh  memberi penjelasan bahwa kehadiran tari rejang itu sama dan sejajar kehormatannya dengan posisi perlengkapan banten. Jadi bukan hiburan atau dengan tujuanmenghantarkan ataukah menyambut; ini adalah kelengkapan persembahan.

Yang paling menakjubkan tentunya adalah Ritus kepada Dewi Sri; dari tata krama memperlakukan sawah, sungai, dari menanam hingga memotong padi; bahkan membersihkan pundukan dan memangkas rumput  ternyata ada bait sucinya. Isyarat yang dapat dipahami era Mpu Kuturan merancang- bangun Desa pakraman, bahwa pada era itu kemajuan pengairan telah mencapai tingkat yang sempurna, pengelolaan sawah juga demikian. Sebab sebutan aungan misalnya; lorong jalur air menembus bukit sungguh dijelaskan dengan detail.  Jadi, dalam manuskrip ini Ritus Dewi Sri menjadi dasar dan pengikat seluruh rangkaian upacara hingga ke Pura Puseh. Sejak lama, selalu dugaan bahwa budaya agraris adalah ibu religi agama bali ini juga seni budaya dan peradabannya, ketika membaca manuskrip ini menegaskan pernyataan-pernyataan itu tak hanya 'struktur' dan runutan juga bait-bait sucinya memberi pengetahuan suci yang menakjubkan bahwa kemungkinan pemujaan dewi sri dan bhatara sadhana adalah sungguh tua (bandingkan dengan Tantu Pagelaran atau manuskrip suci lainnya misalnya mengenai Canting Kuning).

Yang menarik adalah munculnya Puja Daha dalam manuskrip ini, dalam ritus Dewi Sri yang begitu runut dan detail; dari menanam padi (dalam manuskrip ini disebut; pari), perubahan sebutan nama Dewi Sri ketika dari padi di lumbung, ke alat tumbuk, kemudian ketika beras disimpan dalam penyimpan beras, hingga berbagai pantangan, hal-hal yang sifatnya tabu dilakukan-- dinyatakan dengan tak hanya sebagai peringatan suci, namun dengan argumen disertai mantra. Kemudian pemeliharaan ekosistem dalam sistem tahunan di sawah dan kelak berkaitan dengan Ngusabha desa, yang nantinya akan mengaitkan bagaimana keagunga Dewi Sri sebagai batara Nini disingasanakan di Bale Agung di Pura Puseh, setelah itu tata krama memperlakukan padi di lumbung, bagaimana tingkah pola manusia di sawah; niyan tingkah ing wong hasasawahan.  Bagaimana tata krama menyabit rumput, tata cara memanen, bahkan mantra memanennya disebutkan.  Jadi seakan kehidupan suci dewi padi ini dijelmakan dalam ritus daha. Yang selama ini posisi daha yang sekata artinya dengan remaja putri, sering disamakan dengan kegiataan pembinaan putra-putri ala gaya lama.

Di beberapa desa tua di Bali seperti Desa tenganan, Bungaya, Asak; dst tradisi madaha ini masih dilaksanakan begitu pula dengan ngarejang. Terbersit dalam pikiran saya, saat membaca bagian:  bagian Haji Pari Hangumbang Sri Mider.ketika Sang pujaan menjadi beras, perlakuannya tetaplah sungguh dengan hormat, ritus mencuci beras, kemudian memisahkan jelijih dari beras, lalu disebutkan Iti Puja-Daha, wenang gelarakna, maka pamali sumpah ring gaga sawah, bait sucinya sungguh panjang; Om Sang Tabe Pukulun, ling ira Bhatara Iswara, tumurun ring Kahyangan ira, hangastrenin pari pujakathan ing hulun maka landuh ing gumi, hangadekaken hudan, manadi tang sarwa tinandur, phala bungkah phala gantung, rame pakriya-kriya haneneng Prabhu Mantri, mangadohaken sasab marana, Ong Sri yawe namu namah swaha. O, Sang Tabe yata Pukulun, ling ira Bhatara Brahma, tumurun ring Dang Kahyangan, hangastrenin pari pujan ira, kretab ing gumi pretiwi, maka landuhan ing hudan, manadi kang sarwa tinandur, phala bungkah phala gantung, rame pakriya-kriya haneneng Prabhu Mantri, hangundurrakna sasab marana, Ong Sri Yawe namu namah swaha.......dst"

Pada pertengahan bait suci ini, isyarat kebudhaan Mpu Kuturan disuratkan dengan indah: Om sang bragala, sang bragali, yan sira tan harep lukata, haja sira hing kene, haja sira hamangan parin ira Bhatari Sri, yan sira harep lukata, mati kita mangke, tinemah den ira Bhatara Nawangsang,mogha kita hembet bengkang, mati tan mati.....dst"

Barangkali patut direnungkan kembali, melihat kondisi Bali yang makin jauh dari tradisi pertanian, alih fungsi sawah yang begitu cepat, perubahan perlakuan terhadap padi dan beras itu hanya sebatas bahan pangan, keperluan informasi pariwisata yang membahasakan apa saja dengan kalimat eksostik; perlahan ritus Dewi Sri dengan rejang, ritus nangluk mrana sebagai penanganan hama yang ramah lingkungan, lalu pengasuhan sang manusia di pawongan dalam kaitannya dengan Parahyangan, yang sering dikaitkan seolah sebatas kegiatan hubungan sosial kemanusiaan; pelahan akan menjadikan ritus-ritus itu diwariskan dengan tanpa makna. Bahwa bagaimana ritus Dewi Sri ini mengikat manusia bali itu pada kesadaran akan kebutuhan dirinya sebagai mahluk hidup akan sandang,pangan dan papan. Bagaimana  ritus Dewi Sri ini bagaikan bayangan dalam cermin dengan ritus Rejang maupun Daha yangdihadirkan di pusat kekuasaan pakraman; yakni di bale agung ataukah dalam panggungan.

Berbagai pertanyaan bermunculan kembali, dan sesungguhnya,begitu banyak pengetahuan suci mengenai Bali dan agamanya, patut kini kembali bersama digali agar kelak tak terjadi kesalahpahaman yang bisa saja menjadi bumerang bagi diri yang termanjakan oleh puja dan puji, tanpa berani untuk terus merendahkan hati, belajar mengenai Bali, bagi orang Bali kini adalah bekal bagi masa depan.

( Cok Sawitri, singarsa, 25 maret 2015, semoga mendapatkan tambahan informasi lagi)

Ritus Air

TIRTHA NGARAN AMERTA

Air adalah salah satu dari Panca Mahabhuta (lima energi besar/agung) yang membentuk bhuwana agung juga bhuwana alit. Orang Bali dahulu menyebut agamanya secara karib dengan sebutan “Gama Tirta". Karena itu ada perilaku khas kepada air, yang tidak semata menempatkan air sebagai dua hidrogen dan satu oksigen.Tidak sebatas rumus H2O. Air (aik- we, juga sebutan air diwaktu lampau), yeh, toya, banyu, kemudian air yang dimaknai dan ditempat sebagai 'mahluk agung'  itulah disebut Tirtha.

Perilaku kepada air menyebabkan kosa kata mengenai air ini begitu melimpah; bedak (haus), ngelak (luarbiasa haus),  kasatan (bahasa halus untuk haus) dan situasi kondisi yang dialami melahirkan kata seperti kebus bahaang, tuh gaing, ngerintung,dll: suatu pernyataan kebutuhan akan air. Dan tentu saja menarasi air; perjalanan air, dari ngetel, ngericik, ngebyor, membah, makin mengisyaratkan betapa air begitu lekat dalam hidup keseharian. Peristiwa hujan dalam kosa kata Bali makin menjelaskan betapa air adalah bagian yang sangat naluriah; ujan, sabeh, ngerimis, bales, ngemongmong, nempias, dll, lalu air yang berlebih limpahannya disebut dengan kata medaluran, blabar, ngulung, nyereong (suara mirip raungan di hulu), ngebek, peres; dst. Dan sumber mata air disebut sebagai kelebutan, kata ini akan disamakan dengan 'denyut ubun-ubun' disebut siwadwara. Lalu akan dikenal kedokan ( cerukan kecil, biasanya berjejer ditepi pantai atau sungai), cibukan, semer: wanu, danu, segara, dll dan bali memiliki kekariban dengan groboyogan (air terjun), pancoran, pancuran, kecoran, kemudian air yang digunakan untuk menghitung waktu dari tluktak sampai penalikan, dsb; akan membawa pada gambaran bagaimana air menjadi batang hidup bagi bahan pangan, yakni persawahan.

Di sawah, air adalah senjata sekaligus juga nyawa. Karena itu air dalam tubuh manusia akan memberi isyarat kesehatan atau tengah kesakitan. Ngeyem (badan mendingin), mabuah-buah (semua pori mengeluarkan bintik air seperti embun kecil), leteg (luarbiasa basah disebabkan keringat ), kembah, kembung, lesit:dst. Perhatikan bagaimana ritus membangun 'empelan' ini sebagai lintasan jalannya air, dalam lontar Hempu Kuturan ada mantra yang indah dan mengisyaratkan, 'jalan' untuk air, 'menunda' jalannya air, membelokan air pun ada tata kramanya," Pukulun manusan paduka Bhatara, hatur minta lugraha, hatur huning hangaturin Bhatara, maka pangundang Bhatharii Gangga, malejeg hamor ing kukus ing menyan majagawu, Hyang Siwa Sadha Siwa Parama Siwa, katuran padha tumurun, tumuli tedhun bhatara Sakti, Sang Hyang Tleng ing Madanu, Sang Hyang Nini Gangga Dewi, hiniring den ing widyadhara-widyadhari, hakumpul ring kahyangan pangulun hempelan, mwang sang asedahan Tukad, padha katuran saring ing pamdehak canang banten sarwa suci, katuran hamukti sari, ngayab sarin waha".

Bagaimana air yang melintas sungai-sungai, orang Bali memiliki rasa hormat yang luar biasa kepada sedahan tukad; mereka yang menjaga sungai. Perhatikan ritus yang berkaitan dengan sungai ini, ini dari tradisi Kuturan, jika mempersembahkan sesuatu kepada sungai, maka mantranya,"Pukulan sedahan tukad, kaki sedahan tukad pancing, kaki sedahan empelan, bantang buwah bantang nyuh, bantang tueuh hempelan ingsun. Poma. Poma.poma" perhatikan kemudian bagaimana posisi sang air dalam lanjutan ritus itu," Jeng nini Bhatari Gangga, manawi kurang manawa luput, hangaturan pasajin ingsun ring asedahan tukad, makadi paduka Bhatari gangga, puniki sasantun ingsun. Om AM Um Mam, Om bhur Bhuwah Swaha, sidhir astu ya namah" dan jika pernah mendengar bawungan, bendungan; yang posisinya sebenarnya menampung dan menunda sejenak perjalanan air, selalu ritus menempatkan sang air, agar sudi menolong, tidak menumpahruahkan, tidak menjadi ganas, tidak menjadi penyakit, selalu dimohonkan.
Air itu dalam keyakinan agama Hindu di Bali menjadi mahluk agung, 'tirtha ngaran amerta': air adalah hidup. Kalimat ini sungguh dalam, air itu mahluk, hidup itu tergantung benar kepada sang air. Tidak terbantahkan, tubuh manusia mendekati 80 persen adalah air. Membayangkan kerumitan dan kerahasiaan perjalanan air dalam tubuh, orang Bali membayangkan kesemestaan. Bahwa ada putaran perjalanan air itu tak pernah henti, tak pernah habis. Namun medianya, tubuh dan alam hanyalah media, air bisa datang, dapat juga pergi. Dapat sembunyi, dapat pula memperlihatkan kemegahannya. Air dapat merayu, juga dapat murka semurka-murkanya.  Itu sebabnya air kemudian ditempatkan sebagai tempat peleburan segala kotoran, segala mala, duka cita. Kesegarannya itulah yang menyentuh denyar kesadaran.  “U" Ngaran uddhakam ngaran gangga,ngaran tirtha suci. Uddhaka adalah kata yang tak semata merujuk sebutan pada samudera (laut) namun sebagai tempat suci. Karena itu Air suci atau yang disebut Tirtha, dikenal berjenis-jenis dan bertingkat-tingkat. Ritus perilaku memposisi air sebagai badan suci ini, jika untuk persembahyangan maka dikenal dengan tirtha pembersihan dan wangsuhpada. Keduanya akan hadir dalam awal dan akhir persembahyangan, yang tirtha pembersihan biasanya dibuat oleh Sulinggih atau karena permohonan oleh pemangku;dll.

Ritus 'membadansucikan' air ini membuka wawasan luas, mengenai ritus tua, yang memberikan dasar keyakinan kepada penganut agama Hindu
Bali. Pada tradisi kepamangkuan, terutama yang menjalankan permagin Sang Kul Putih, disebutkan jika untuk diri, dibenarkan membuat tirtha sendiri, " Ong surya maha gangga ya nama swaha, arung nala dewa maha gangga ya nama swaha, ong jagat karana ya nama swaha, ong bhang dewa sakti ya nama swaha, Ong Ah ksama karana ya nama swaha, Ong Ung prastawa ya nama swaha, Ong Pat paramasuka ya nama swaha". Bandingkan kemudian bagaimana para sulinggih membuat tirtha itu, disebut ngarga. Tentu ada proses persiapan yang teliti untuk menetapkan kemudian pengucapan kuta mantra ( etikanya saya tak dapat menuliskan isi mantranya), namun ada langkah-langkah yang menurut keyakinan, bahwa air itu adalah 'mahluk agung' yakni pada proses ketika Sang Sulinggih menulisi air yang diletakan dalam Siwambha, alat tulisnya adalah bunga; yang ditulis adalah tiga huruf suci disertai puja tri Purusa Mantra.  Jika dengan penuh meditatif memperhatikan maka gerakan penulisan itu melintang dari utara ke selatan, kemudian air dalam siwambha itu diputar tiga kali, searah gerak jarum jam dan biasanya akan disertai puja 'Amrta saptawaja'.  Perputarannya menyatukan huruf suci dalam pembayangan menjadi  lambang tuhan dan arah ke kanan itulah amrta: air kehidupan.  Ritus ini memberi pembayangan akan jalannya air, bahwa hulu-hilir, tidak serta merta karena ketinggian dan kerendahan, atau di atas atau di bawah, air memiliki langkah memutar. Hidup itu pun dalam keyakinan orang bali adalah putaran. Jantera. Dalam ritus lainnya, dikenal pula dengan sebutan 'nuur', memohon air suci, dilakukan oleh para pemangku, kadang disebut wangsuhpada, kadang disebut banyun cokor. Dan cara memercikannya pun tak sekedar memercikan air, dalam lontar kusuma dewa perilaku memercikan banyun cokor ini terutama kepada manusia," ong tirtha kamandalu, winadahan cacibuk mangga, asing inum ilang mala, ikang sudamala papa klesa, Ong sri we nama swaha"     

Agama air ini memang  sangat tua, menempatkan air sebagai yang suci, sebagai pengurip, pemberi hidup. Bahkan mendorong penciptaan, bahkan kemudian menyelesaikan tugas hidup. Dalam ritus ngaben misalnya, dikenal sebutan tirtha pemanah, penembak dan pengentas. Jadi lahir, hidup dan mati; air ini yang mengitari. Begitu rupa. Jika jelajah dibuka, dan kini dalam kondisi lingkungan hidup yang penuh dengan kerusakan dan keluhan. Maka kembali mempelajari isyarat-isyarat dari ritus air sungguhlah meyakinkan hati bahwa air itu adalah hidup. Tirtha ngaran Amerta. Karena itu, tidaklah mungkin menghindar untuk tidak melakukan pemeliharaan kepada air sang hidup.

(BAGIAN 1. MELIHAT ANAK KECIL BERMAIN HUJAN, cok sawitri, 2015)

Bali, me'nyepi' pada sebuah negeri republik

Bali, aku bertanya, tahun berapa engkau menjadi bagian negara Indonesia? Mungkin baru tahun 1950-an, saat kemerdekaan Indonesia diucapkan, Bali masih dalam kuasa-kuasa transisi antara Belanda dan Jepang. Sedang Nyepi telah lampau dilaksanakan di bali, bahkan sebelum kekuasaan raja-raja Bali. Dalam tradisi tatwa Bali, maka Nyepi adalah perintah Hyang Pasupati kepada tiga putranya Hyang Gnijaya berstana di gunung Lempuyang, Hyang Putranjaya berstana di Gunung Agung, Hyang DewI Danuh berstana di Gunung Batur, ketiganya disebut dengan penuh hormat sebagai Penyiwian Trilinggagiri. Selanjutnya diyakini kemudian Hyang Pasupati kembali mengutus empat putranya, agar ke bali, agar pulau itu stabil. Bali saat itu digambarkan dengan kalimat suci: Duk tan hana paran-paran. Dengan kedatangan empat putranya, maka dikenal kemudian dengan saptalinggagiri; kedatangan mereka itu bertepatan dengan Perwani Tileming Kasanga ( untuk refrensi mengcek kesahihan, silahkan cek Babad Bhatara Rarasa dan lontar Bhisama-Griya Buduk- tulisan Bapa Gede Sura-1992): disanalah salah satu perintah yang harus diemban adalah melaksanakan Berata penyepian. Izinkan saya mengutip," ....brata penyepian lwir sawung anggeram anda, yan tan panes awaknya tan lumekas ikang anda. Yan tan sepi ing idep, sepi ing pamrih, sepi ing gawe, tan molih yoganta. Iki ngaran penyepian. Ingon-ingon Dewi Mas Ayu Danu kang gineseng- dening apwining giri Tolangkir, mangke juga pamarisudha ning ingwang. Poma. Poma. Poma. Uluning bawi manadi mrana tikus, walungnya manadi walangsangit, jejeronnya manadi mrana tan pasangkan. Yan pageh samanta ratu ngamong rat, rong puluh taun sapisan hane mrana wangsangit hana mrana tikus. Yan tan pageh tan wilangan dina mrana pasangkan dateng. Iki rungwakna, kaki patuk nini patuk angadegaken maring pasar agung. Ni Bhuta kala katung pinaka pangsaranan pasar, soang karya ri basukih atakwan pwa ring pasar agung, yang tan prasisa kabehan, ke wala jejaten juga wenang...."-- peristiwa ini jauh lebih tua dari era Raja Marakata, jauh lebih tua dari kedatang Mpu Kuturan sang pendiri desa pekraman dan kahyangan tiga:dll, jauh lebih tua dari era Gelgel. Jadi tradisi nyepi, dapat dijenguk berkaitan dengan upacara Nangluk Mrana, di pasar hingga ada penyiwian untuk tiga jenis epidemik di Bali yakni; Jro Ketut, Jro walang sangit dan Jro kedis perit (silahkan cek ke pura pasar agung)

Maka ritus nyepi ini bergerak dari satu era ke era lainnya, dan dalam jajaran bentangan upacara-upacara di desa-desa bali kuna (bukan bali mula) ditemukan berbagai jenis nyepi dan di era selanjutnya nyepi juga dilaksanakan ditengah runutan upacara besar yang disebut nyuwung. Dan entah berapa kali pendatang tiba di bali, menjadi kemudian penduduk Bali, nyepi terus dilakukan. Sebab Saptalinggagiri itu tetap ada. tetap diyakini, tetap menjadi dasar dari kestabilan pulau ini. Berbilang-bilang kisah pertemuan tradisi budaya dengan budaya luar, dengan negeri cina, mesir, dst; jejaknya adalah pada karya seni, artefak, kuliner; dst. Dan selama itu, Bali adalah hati yang terbuka sekaligus kokoh pada komitmen awal yakni menjaga kestabilan pulau bali ini. Maka era Jayakesunu, lebih menegaskan (era Singamandawa, anak wungsu, dkk); ini adalah era penguatan pencerahan untuk tetap menjaga kejatimulaan bali itu dengan tetap merayakan Nyepi dan Kasang, galungan, kuningan, purnama, tilem, semua tumpek. Itu adalah sejatinya 'agama' yang disimpan dalam upacara-upacara. Bukan kali ini saja Bali didatangi oleh orang luar, bahkan setiap era. Dan semuanya tahu, bahwa Bali memang agamanya berbeda, tata caranya juga berbeda dalam memperilakukan keagamaannya. Sekalipun kemudian masuk agama budha, Hindu (siwait), dll, bahkan di era Belanda, penjajah ini pun memahami bahwa Bali ini memiliki tradisi yang sangat bagus untuk menjaga keharmonian; tidak hanya pada hubungan antar manusia, namun dalam menjaga alam (lingkungan). Lalu Jepang pun demikian. Maka peradaban Bali itu; sebagai negeri sudah mantap dan jauh dahulu kala telah memiliki hubungan internasional.

Maka ketika bergabung ke Indonesia, Bali pun sempat bargaining persoalan agamanya. Bali, pulau kecil ini tidaklah meratap untuk bergabung, tetapi dengan syarat bahwa agama, budayanya, dan seluruh keunikannya dihormati dan dihargai dalam tata negara Indonesia, maka Bali akan menjadi bagian yang setia. Jika kini, ada yang menyoal; apakah pelaksanaan nyepi itu memaksa warga yang bukan hIndu bali dan dikait-kaitkan dengan toleransi dan hak asasi; bahkan menjadikan kewilayahan NKRI memberikan kebhinekaannya kepada semua warga, sehingga seharusnya yang non Hindu Bali boleh tidak ikut nyepi (?)--Saya tidak menjawab, tetapi saya hanya akan menjelaskan; bahwa Bali ini memang memiliki perbedaan dan barang siapa yang hendak hidup di Bali, harus menyadari; bahwa di masa ini, salah satu asset ekonomi Bali, yang menghidupi kebanyakan bukan orang Bali adalah dari tradisi, agama, budaya dan seni. Bukan dari pemandangan!. Nyepi adalah ritus untuk Bumi dan semesta, ini sifatnya tidaklah untuk meagamakan, namun ini spiritnya kepada siapapun juga yang tinggal di bali adalah untuk mengajak dan menyadari; bahwa ada panca mahabhuta; lima energi besar, yang menjadi kekuatan kehidupan itu perlu diberikan ruang untuk mengobati dirinya. Nyepi adalah proses penyembuhan, air, udara, tanah, suara, dst; seluruh elemen lingkungan hidup ini dalam era masa ini apalagi; polusi, polutan; dst. itu perlu direhat sejenak; secara modern; nyepi adalah terapi terbaik bagi alam semesta ini. Karena setiap orang; mau agama apapun; dia perlu udara, dia perlu air, dia perlu keheningan; bukan kebisingan, dia perlu merasakan belajar dalam kegelapan, untuk menghargai energi cahaya; dst. Karena itu, Nyepi menjadi inspirasi kepada seluruh dunia mengenai hemat energi dan penyelamatan lingkungan. Ini jawaban saya untuk siapa saja yang menyoal nyepi dan merasa tak nyaman saat berada di Bali. Dan ingatlah, Bali dan peradabannya, jauh ada sebelum Indonesia ini ada, dan kami semua membagi keselamatan dengan perilaku nyata. walau tak sempurna, namun kami yakin, udara, air, telinga anda, dan banyak lagi yang lain, disegarkan dan menjadi bagian dari tubuh anda dalam menyehatkan diri anda secara lahir dan batin, sehingga anda bisa melakukan keyakinan anda masing-masing dengan lebih teguh dan kokoh. Inilah duka cita saya, saat membaca hinaan, caci maki serta protes mengenai nyepi di medsos, yang saya baca dengan kepedihan sekaligus merasa seharusnya; kita semua dapat saling menjelaskan apa tujuan dan hakekat dari nyepi. Salam damai. (cok sawitri, Singarsa, 2015, 22 maret)

Ibu, kapan nyepi itu kapan mulainya?

Menikmati gelap di serambi, ibu saya dengan ingatan berayun-ayun, sekelebat entah apa yang melintas dalam ingatannya," Nyepi itu kapan mulainya? dahulu pastilah tidak seperti sekarang rasanya, dahulu belum ada listrik, kita semua mengenal malam sebagai gelap, hanya sentir...obok...kadang obor di halaman...sundih!" --Entah. Saya berusaha membiarkan ibu mengingat, agar ingatannya berjalan pelahan. Lalu terdengar hela nafasnya,"dulu, ya...saat putra=putra Batara Pasupai dikirim ke Bali ya....itu cerita yang kita tahu ya..."-- Mungkin, saya cukup takjub, dalam gelap saya tak mungkin melihat ekspresi wajah ibu. Lalu disaat saya merasa ingatan ibu akan mencair dari kepadatan kepikunannya,"kenapa listrik mati? PLnnya rusak lagi?"

"Nyepi, bu..." saya menyahut. Ibu saya kembali tenggelam dalam diamnya. Saya kembali memancing, kira-kira kapan bu, Nyepi itu mulai dilakukan? Ibu saya tidak menyahut, kemudian tiba-tiba berkata," sejak lama, sejak kepit komaknya bali ini...Pedande Nabe dulu pernah cerita, sejak lama....sejak Bali belum ada banyak manusia..." --Saya memilih diam, takut ibu saya beralih lompatan ingatannya,"sejak tahun berapa? abad berapa? Raja siapa?"

Itu zaman betare....jawaban ibu membuat saya tersenyum, itu artinya gugur sudah hitungan zaman, era, arkeologi, dan lain sebagainya. Sebab tak terbayangkan awalnya jika itu menyangkut awal kedatangan putra=putra batara pasupati. Artinya sejak lampau benar, nyepi itu diaadakan. Dan saya pernah membacanya, tentang catatan tua, mengenai nubuat suci mengapa nyepi dilakukan, itu memang perintah batara pasupati, leluhur dari penguasa- saptagiri. Ibu saya kembali diam, menikmati gelap,"sampai kapan listriknya mati?" tanyanya dengan kembali. Saya menyahut, "Ini nyepi, bu..."--saya tersenyum, ibu kembali bergumam dalam gelap di serambi.

SENGUE

senyap senyaplah aku
berenang dalam gelapmu
pantai tak jauh
gelombang beri buih
tanda tanda
bintang berbalap kerlip
hilang suara, hilang riuh
kau dan aku pernah mengira jalan terang itu
gelap tak menutup mata
hati miliki api yang menyala
melihat tepian
buih-buih kemilau
cemburukan bintang
kini senyap senyaplah aku
berkecipak dalam terangnya gelap
percayakah kau
jalan terang itu
sesungguhnya senyap
(SERI PEMBURU BATU, 2015, cok sawitri, sisian)