MERAYAKAN NYEPI BAGIAN I: kenanglah dengan hatimu, buang sejenak akal sehatmu!

Mari gunakan hatimu, biarkan pikiran diam.

Biarkan kesadaran akan diri dari hatimu, bukan karena akal sehat yang diagung-agungkan oleh kehidupan masa kini. Biarkan pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi hatimu, seperti riuhnya isi bumi; seperti sesaknya langit oleh bintang-bintang. Biarkan dirimu menjadi penanya yang rewel, pandir dan menjemukan. Ini hari adalah kesempatan engkau duduk di dekat kaki sang guru, yang tak akan memberimu kelas ataupun tingkatan: bertanyalah dengan semangat, seperti meracau dalam tidur yang gelisah.

Jika hatimu merasakan engkau salah satu mahluk yang lahir, tumbuh dan kelak mati di bumi. Maka bumi akan menjelaskan tentang bumi yang bulat, yang memiliki intinya disebut Kala Gni Rudra, itulah inti yang terpanas, tak terbayangkan panasnya! Kenapa panas itu tak menganggumu, sebab ada tujuh lapis yang menjaga tubuh hidupmu di atas bumi yang disebut sapta patala. Tujuh lapis itu; dimana setiap lapisnya ada penghuninya; lapis yang terdekat dengan permukaan bumi disebut Atala dihuni oleh Mahamaya, kemudian lapis di bawahnya disebut Witala yang dikelola oleh Hatakeswara, dia itu manifestasi Brahman, lapis ketiga disebut Sutala dihuni dipimpin oleh raksasa Bali, lapis selanjutnya disebut Talatala dihuni oleh Maya, lalu lapis kelima disebut Mahatala dihuni oleh para ular raksasa, kaum naga, kemudian lapis keenam disebut Rasatala yang dihuni oleh detya dan Manawa, kemudian lapis yang terdekat dengan inti bumi disebut Patala, itu dikuasai oleh Naga Basuki.

Review Iluminasi: "lebih terang dengan lampu penerang…"

Komik silat Kho Ping Ho dapat menjadi akar 'tandingan' ketika membaca novel Iluminasi, karya Lisa febriyanti, terbitan Kaki Langit Kencana, November 2009. Dalam serial silat Kho Ping Ho: ilmu berbisik jarak jauh, telepati, ilmu terbang melayang, berlari cepat, kemampuan memanjangkan tangan; bak manusia karet, kemampuan mengeluarkan api, termasuk menderukan angin, mendatangkan rasa sedingin salju, dst: terbangun dari kisah pendekar-pendekar pilihan, yang terbelah antara dua, golongan hitam dengan putih, biasanya 'sang hero' memiliki kisah sedih dan menderita di awal kisah, kadang menyendiri, terbuang dalam pulau terpencil, jatuh ke dalam tebing curam, dsbnya dan pewarisan 'kesaktian' memang sering melalui garis 'keturunan', tidak direncanakan, yang didahului dengan liku-liku yang mengejutkan bagi calon 'sang hero'.

Review Novel EPITAPH; Kejujuran yang tanggung…

Membaca novel Epitaph, karya Daniel Mahendra, terbitan Kaki Langit Kencana, November 2009, adalah pembacaan fragmen-fragmen yang diutuhkan menjadi kesatuan kisah. Fragmen terbesar adalah kisah Laras Sarasvati, mahasiswi IKJ yang hilang saat melakukan shouting film dokumenter di Gunung Sibayak, Medan. Fragmen kedua adalah Kisah Haikal, kekasih Laras, yang menjadi ‘pencerita’ mengenai tokoh-tokoh yang ikut hilang dalam musibah yang dialami Laras dan menjadi ‘penganalisa’ adanya kejanggalan dalam pencarian korban dalam musibah itu. Fragmen lain, adalah tokoh Langi, teman Haikal yang difungsikan sebagai penulis dari kejadian musibah helikopter itu.

Review NOVEL LASMI

Novel ini diterbitkan oleh Penerbit Kaki Langit pada November 2009, dengan judul Lasmi, mengambil nama tokoh utamanya Lasmiyati, yang dikenalkan melalui Pemilihan Majelis Daerah di tahun 1957 oleh seorang guru; mengenalkan kepada pembaca "mode busana" apa yang saat itu tengah menandai seorang perempuan terpelajar di sebuah desa; “ Tubuhnya yang ramping dengan tinggi rata-rata perempuan, tampaknya sekitar 156-158 sentimeter, di balut sepotong gaun terusan berbahan dril warna khaki. "Gaun itu sepanjang pertengah betis, berlengan sebatas siku, dan sedikit longgar di bagian kaki. Kulitnya sawo matang tampak lembab berkeringat. Rambutnya yang digelung di atas tengkuk agaknya terlebih dahulu dijalin kepang. Tampak tegas dan bersahaja,” Ini fakta di luar diri penulis, yang menjadi bagian pembuka novel Lasmi sepanjang 228 halaman, dengan 52 catatan kaki, memberi fakta kepada pembaca mengenai pengarang dengan sumber-sumbernya, yang diproseskreatifkan menjadi novel dengan kekhasan tertentu; yakni latar belakang peristiwa di rentang tahun 1957-1965-an.

Siwa Ratri Kalpa, Perayaan Malam Siwa

Tahun 2010 ini, Siwa Ratri Kalpa jatuh pada tanggal 14 Januari, dalam sistem kalender Bali disebut prawani Tilem Kapitu, sehari sebelum bulan mati di bulan ketujuh (kapitu), diyakini itu adalah malam tergelap dalam peredaran surya dan candra di atas bumi. Di hari itu, sebelum matahari terbit bagi umat Hindu penganut paham siwa akan melaksanakan proses brata Siwa Ratri. Brata ini terbagi tiga, yang utama adalah melaksanakan monabrata, yang menengah melaksanakan upawasa dan jagra ,sedangkan yang sederhana melaksanakan jagra saja.