RUM, Akhirnya Hatinya Patah…

nyanyikan lagu itu
mimpi telah pergi, ia tak lagi berdiam
lenyap permohonan
lenyaplah pula kelembutan.
nyanyikan segera! agar pohon besar tak meninggi
ibalah kepada langit
ibalah kepada bintang
satu lagu akan luruhkan daun-daunnya
biarkan di bawah ia tidur
biarkan lelap. biarkan lelap. mimpi akan tiba sesekali

rum membisu. sejak sajak itu dikirim. percakapan menjalin hati; aku bukan peramal. aku bukan penebak kata. yakin aku, berkali-kali ia nyatakan, ingin mengajakku kencan. sempat aku bimbang. sempat pikiran liar tepikan wajah kekasihku.petualangan itu menujumku. hingga mata sulit terpejam. tapi kini ia mencuri semua mimpi. kejujuranku pisau tajam.lukai aku. Maka biarkan puncak pohon itu gapai langit. para pencuri kelak berlompatan.

Langit Adalah Panggung, Tak Miliki Janji Pada Siapun

kukisahkan kepadamu
ada hujan yang tak betah di awan
saban musim ia datang berkunjung ke bumi
ada matahari yang sabar
tetap rindu pada malam

semua kerinduan-kerinduan, sayangku
temukan jalan
kukisahkan padamu
hatiku, telah kutitipkan di kerlip bintang
saban purnama kuhembus dalam cahayanya
sekalipun engkau tak perdulikan itu
tetaplah tetap aku merindukanmu

Cintai Aku Sekarang Atau Nanti

rum belajar dari khianat, tersenyum ia tersenyum pada lamunan, tapi bukan kepadamu.
cinta mungkin sebangsa tanaman, ucapnya getir; kelak tumbuh, entah merimbun atau meranggas. angin nakal akan kirim serbuk sari ke setiap tarikan nafas. rum terbatuk membayangkan sesak nafas. sesak menahan gundah-gundah. rasa telengas yang entah darimana tumbuh.

cintai aku sekarang atau nanti! seruan itu seperti iklan.
rum ingin tertawa. seperti yang diduganya; perempuan ini tengah melambung tinggi. ke langit biru, diayun puisi-puisi cinta! terdesak untuk merasa istimewa. ah, ada yang mencintaiku. ada yang mencintaiku. dimainkanlah peran sebagai merpati yang singgah di senja hari. tapi rum telah belajar dari teka-teki. jawaban pertama memerlukan tafsir. itu yang menggugah hati untuk bertanya lagi. pasti makin melambung ia; biarkan hingga merasa diri teramat istimewa.

Mungkin Tak Seindah Yang Dulu

cuacakah yang membuat angin bergerak liar
mestinya hujan turun, bukan terik matahari
telah menebal debu dalam pandangan
semua tanaman hilang senyum hari ini

ah, cerita-cerita diwaktu ngaso
segelas kopi membuat mata nyalang
memanglah memang aku pernah naksir kamu
jadi gelak tawa, canda ria olok-olok di kala bertemu, kini

Cinta Yang Tak Terduga

ajakanku sungguhlah sederhana
jadilah kekasihku, jadilah!
kalaupun mesti rahasia
rahasiakanlah…

kutahu bulan siang tak menyaingi matahari
demikian pula harum melati dengan kenanga
jikapun kini hatimu miliki setapak jalan
tempat lewat segala macam impian-impian
bukankah rahasia akan bekerja sebagai rahasia
tak akan menyurutkan nyali