kata yang bijak, ketakutan itu datang dari perasaan yang terikat akan harapan kedamaian, tetapi tidak tahu bagaimana membangun kedamaian. sudah terlalu banyak kedukaan yang teralami oleh usia hidup; kedukaan dalam hidup pribadi, kedukaan dengan kerabat, deretan alasan kedukaan juga tiba dari masa lalu akan berlanjut pula ke masa depan. Setiap niat dan tindakan untuk mengatasi pelbagai kedukaan akan berdampak pada pengalaman, yang belum tentu mengobati apalagi menghapuskan rasa pedih akibat kedukaan. Bisa jadi itu bibit baru untuk kekerasan baru: mereka menyebutnya dendam yang berdiam di hati. Itu kata yang bijak disebut sebagai duka lara.
Selamat Jalan Guru: KAN KUBACA HURUF ITU....
keberuntunga saya, beberapa tahun lalu, ditemani uni eci (yessy sakti), putri Gusmiati Suid adalah berkunjung ke pagar ruyung, dan bertemu dengan sang guru, guru silat kumanggo yang melahirkan banyak juara silat dunia. sang guru yang tinggal di tengah ladang tebu, bambu dan beraneka pohonan; saya masih ingat, jalan menuju rumahnya jalan tanah ditumbuhi rumputan juga di teras rumahnya seekor anjing pemburu menyalak saat kami memasuki rumahnya; rumah yang sederhana, rumah seorang guru besar, lampu pijar yang muram dan korden pembatas antara ruang tamu dengan ruang tengah....
lalu dia sungguh sang guru, yang tahu persis apa yang diperlukan seorang murid, dia tahu, saya tidak akan tertarik gerakan silat atau belajar bersilat, maka dia ajarkan pada saya tentang prinsip yang mendasari, menjiwai gerakan silat itu: huruf suci, katanya, huruf alif!...saya tersenyum saat saya jelaskan tentang tubuh dalam huruf, yang ada juga dalam ajaran tantrayana. Lalu kami berdua terlibat percakapan yang sangat intens soal huruf dalam tubuh. Bagaimana hubungan gerakan dengan angin, juga bagaimana caranya meringankan hati, bukan meringankan tubuh....
lalu dia sungguh sang guru, yang tahu persis apa yang diperlukan seorang murid, dia tahu, saya tidak akan tertarik gerakan silat atau belajar bersilat, maka dia ajarkan pada saya tentang prinsip yang mendasari, menjiwai gerakan silat itu: huruf suci, katanya, huruf alif!...saya tersenyum saat saya jelaskan tentang tubuh dalam huruf, yang ada juga dalam ajaran tantrayana. Lalu kami berdua terlibat percakapan yang sangat intens soal huruf dalam tubuh. Bagaimana hubungan gerakan dengan angin, juga bagaimana caranya meringankan hati, bukan meringankan tubuh....
kategori:
Catatan
Para Penyeru Kebanggaan...
rasa jerih itu hendak dihadapkan dengan seruan! Mungkin ini cara paling mudah memecahkan kegelisahan. rasa jerih tidaklah timbul dan berjangkit dalam sekejap. sejak awal, semua tahu pokok sebabnya, tapi tentu saja semua merasa berada dalam temperatur yang berbeda, merasa ada dalam tanjakan-tanjakan yang berbeda, itu sebabnya ketika ada alasan untuk jerih, dilupakan dengan mudah sebab asalnya rasa jerih itu berpinak-pinak. Bahkan dalam keseharian pun ada yang merasa dalam derajat suhu tubuh yang berbeda; merasa lebih tahu, lebih bijak, lebih jernih, lebih padat dalam memahami kadar hubungan antar manusia, dan tentu, minus perasaan-perasaan sentimental, kenakalan dan jungkir balik romantisme yang sesekali menjadi keniscayaan.
kategori:
Cerita
SEMBILU..........
kita tak tahu, berapa banyak orang yang alami hal ini; gejalanya tak kasat mata. tiba-tiba hati merasa risau, seperti ada yang menyusup di antara sela jantung dan hati. Ini mungkin namanya sembilu. tapi orang yang mengalami serangan 'risau' ini sering jatuh dalam kebingungan, sebab munculnya tiba-tiba, seringkali ditengah kesibukan kerja atau disaat dalam kondisi fokus mengerjakan sesuatu. Lalu trap! risau itu pun muncul, menjelma menjadi sembilu. seperti ada yang menyedot isi dada dalam tarikan nafas yang kuat,"Susah saya jelaskan!" keluh seorang teman, melalui telpon kemarin malam,"Aku takutnya, ada yang menelepatiku...Siapa yah.." keluhnya lagi dengan suara tersendat.
kategori:
Cerita
Lamunan
melamunkan yang menari dalam diri
perempuanku tanpa dendang
diam merasakan : gerak meriak tipis
berdenyut dikedalaman
hilang nafas
udara beku di titik pejam
kadang kalau melayang tinggi ke langit,
kadang kalau diam beku dalam wajah gelap
melamunkan yang menari dalam diri
tanpa sayap
mengepak dalam ngambang yang asing
rasanya perih
rasanya jeri
mendingin dalam lorong bertembok putih
menyinar mataharikah dikedalaman
bertemu tanpa tindakan kaki
perjalanan begitu luas, katanya
lalu
jatuh juga dalam tersengal
dijerat sesat dalam risau
menusuk ingatan akanmu
yang tak bosan menari, jadi penghuni setia dalam lamunan
memberi nyata saat senyaplah kamar
ketika memandang kesendirian yang mengasingkan
di sini, diantara jumat yang para penjaga langit
menertibkan lamunan
(cok sawitri, 2008)
perempuanku tanpa dendang
diam merasakan : gerak meriak tipis
berdenyut dikedalaman
hilang nafas
udara beku di titik pejam
kadang kalau melayang tinggi ke langit,
kadang kalau diam beku dalam wajah gelap
melamunkan yang menari dalam diri
tanpa sayap
mengepak dalam ngambang yang asing
rasanya perih
rasanya jeri
mendingin dalam lorong bertembok putih
menyinar mataharikah dikedalaman
bertemu tanpa tindakan kaki
perjalanan begitu luas, katanya
lalu
jatuh juga dalam tersengal
dijerat sesat dalam risau
menusuk ingatan akanmu
yang tak bosan menari, jadi penghuni setia dalam lamunan
memberi nyata saat senyaplah kamar
ketika memandang kesendirian yang mengasingkan
di sini, diantara jumat yang para penjaga langit
menertibkan lamunan
(cok sawitri, 2008)
kategori:
Puisi
Subscribe to:
Posts (Atom)
Banyak dibaca
-
Komik silat Kho Ping Ho dapat menjadi akar 'tandingan' ketika membaca novel Iluminasi, karya Lisa febriyanti, terbitan Kaki Langit K...
-
(bagian Ketiga tulisan Mite dan Legenda Bali: bertanding dengan kisah-kisah dunia) Tradisi Legenda naga tersebar di berbagai belahan ...
-
Keberingasan semua mahluk itu dari perut kosong. Lapar. Kelaparan. Akal itu dalam posisi tenang. Sakit tidak. Sehat pun tidak. Tergantung si...
-
(bagian I: Kahyang Buddhan dalam Budha bali dalam konteks Siwa Buddha) (bagian II: Kahyang Buddhan dalam Budha bali dalam konteks Siwa B...
-
CATATAN DRAMATUR; SEBELUM LAYAR DIBUKA DI TANGGAL 16 SEPTEMBER 2015, END GAME- DI PAMERAN TUTUR NYATUR Proses kreatif teater modern di Ba...
Kategori
Arja
Artikel
Bali
Banda Aceh
Bapaku
Batanghari
Batubulan
Brata
Brayut
Buddha Kula
Budhakeling
Buku
Calon Bupati
Candi Boko
Candra Bherawa
Catatan
Cerita
Cerpen
Chairil Anwar
Chandra Bherawa
Cinta
Dayu Arya
Denpasar
Drama
Dramatur
Epik
Festival
Galungan
Gede Bagus
Geruritan
Gunung Agung
Hindu
Hindu Bali
Ibuku
Icaka
Ical Nyukhin
Imlek
Kalapa
Kalki
KAPAK TUJENG
KECERDASAN SUKMA
Keluarga
Kemerdekaan
Kisah Panji
Koleksi Keluarga
Komedi
Kuningan
Legenda Bali
Lelaki Tua
Maguru Sisia
Men Ami
Minoritas
Mite
Monolog
Nagari
Naskah
Negara Tentangga
Ngembak
Novel
Nyepi
Parade
Pasraman
Pekenan
Pelopor Angkatan 45
Pentas
Perayaan
Perempuan
Petikan
PILKADA
Ponakan
Prolog
Prosa
Puisi
Pura Pasar Agung
Purnamane
Renungan
Review
RISET
Ritus
Ruwatan
Sanur
Saraswati
SASTRA PEMIKIRAN
Satria
Sejarah
Sekolah
Sensasi
Serial
Siki
Sinopsis
Siwa Buddha
Siwa Gama
SUNYA NIRVANA
Sutasoma
Tantri
Tapa Brata
Tari
Teater
Tembakau
Tradisi
Tumbal Dewi
Tutur Nyatur
Ubud
Upacara
Workshop
Arsip
- May 2026 (8)
- April 2026 (9)
- March 2020 (3)
- February 2016 (4)
- January 2016 (33)
- August 2015 (9)
- April 2015 (1)
- March 2015 (8)
- February 2015 (2)
- December 2014 (24)
- January 2012 (5)
- December 2011 (4)
- November 2011 (9)
- October 2011 (1)
- September 2011 (6)
- August 2011 (1)
- July 2011 (3)
- May 2011 (4)
- April 2011 (3)
- March 2011 (4)
- February 2011 (1)
- January 2011 (4)
- October 2010 (6)
- September 2010 (1)
- August 2010 (1)
- May 2010 (4)
- March 2010 (1)
- January 2010 (6)
- December 2009 (2)
- November 2009 (12)
- October 2009 (14)
- September 2009 (5)
- August 2009 (7)
- July 2009 (15)
- June 2009 (8)
- May 2009 (2)
- October 2008 (1)
