Ibu, kapan nyepi itu kapan mulainya?

Menikmati gelap di serambi, ibu saya dengan ingatan berayun-ayun, sekelebat entah apa yang melintas dalam ingatannya," Nyepi itu kapan mulainya? dahulu pastilah tidak seperti sekarang rasanya, dahulu belum ada listrik, kita semua mengenal malam sebagai gelap, hanya sentir...obok...kadang obor di halaman...sundih!" --Entah. Saya berusaha membiarkan ibu mengingat, agar ingatannya berjalan pelahan. Lalu terdengar hela nafasnya,"dulu, ya...saat putra=putra Batara Pasupai dikirim ke Bali ya....itu cerita yang kita tahu ya..."-- Mungkin, saya cukup takjub, dalam gelap saya tak mungkin melihat ekspresi wajah ibu. Lalu disaat saya merasa ingatan ibu akan mencair dari kepadatan kepikunannya,"kenapa listrik mati? PLnnya rusak lagi?"

"Nyepi, bu..." saya menyahut. Ibu saya kembali tenggelam dalam diamnya. Saya kembali memancing, kira-kira kapan bu, Nyepi itu mulai dilakukan? Ibu saya tidak menyahut, kemudian tiba-tiba berkata," sejak lama, sejak kepit komaknya bali ini...Pedande Nabe dulu pernah cerita, sejak lama....sejak Bali belum ada banyak manusia..." --Saya memilih diam, takut ibu saya beralih lompatan ingatannya,"sejak tahun berapa? abad berapa? Raja siapa?"

Itu zaman betare....jawaban ibu membuat saya tersenyum, itu artinya gugur sudah hitungan zaman, era, arkeologi, dan lain sebagainya. Sebab tak terbayangkan awalnya jika itu menyangkut awal kedatangan putra=putra batara pasupati. Artinya sejak lampau benar, nyepi itu diaadakan. Dan saya pernah membacanya, tentang catatan tua, mengenai nubuat suci mengapa nyepi dilakukan, itu memang perintah batara pasupati, leluhur dari penguasa- saptagiri. Ibu saya kembali diam, menikmati gelap,"sampai kapan listriknya mati?" tanyanya dengan kembali. Saya menyahut, "Ini nyepi, bu..."--saya tersenyum, ibu kembali bergumam dalam gelap di serambi.

SENGUE

senyap senyaplah aku
berenang dalam gelapmu
pantai tak jauh
gelombang beri buih
tanda tanda
bintang berbalap kerlip
hilang suara, hilang riuh
kau dan aku pernah mengira jalan terang itu
gelap tak menutup mata
hati miliki api yang menyala
melihat tepian
buih-buih kemilau
cemburukan bintang
kini senyap senyaplah aku
berkecipak dalam terangnya gelap
percayakah kau
jalan terang itu
sesungguhnya senyap
(SERI PEMBURU BATU, 2015, cok sawitri, sisian)

Ibu saya mengintip nyepi

Pagi sekali ibu saya bertanya pelan,"sekarang nyepi ya?" saya menjawab, ya. Ibu saya memang sudah sangat pikun, tak lama kemudian ia bertanya lagi,"hari apa ini?" saya menjawab,"nyepi..." Lalu ibu saya melangkah mendekati jendela, menyingkap korden dengan pelahan, ia mengintip ke jalan. Rumah kami memang letaknya di pinggir jalan dan di sebelahnya balai banjar." Tidak boleh ke jalan?" tanyanya kepada saya,"Ya, tidak boleh. Nanti ditegur sama pecalang..."

"Tidak ada yang jualan. Pasar tutup..." kata ibu saya sambil melangkah kembali duduk, minum kopi dan tersenyum,"tidak boleh menyalakan lampu nanti malam?" Ibu saya asyik sekali dengan dirinya,"artinya sipeng....dulu boleh ke luar, jalan-jalan tapi tidak boleh membawa apapun ditangan...kapan mulai pemerintah menjalankan sipeng?" tanya ibu saya. Saya tersenyum," sudah lama..."

Di siang hari, kembali ibu saya bertanya,"hari apa ini?" kembali saya harus menjawab,"Hari nyepi..." kembali ibu saya mengintip dari balik korden, melihat ke jalan,"Tidak boleh ke jalan ya?"

"ya, tidak boleh. Nanti ditangkap pecalang..." jawab saya. Ibu saya tertawa,"pecalang tidak menangkap, hanya menegur dan memberi denda, kalau dahulu di bawa ke jaba pura puseh, itu yang melanggar ke jalan saja, kalau di rumah, pecalang hanya boleh menegur...."--- Saya mengangguk, mengiyakan. Ibu saya dengan kepikunannya nampak mulai berpikir," ternyata mengalah juga kuasa pemerintah ya dengan tradisi kita....jalan sepi, pasar tutup...tapi kita di rumah hanya puik sama listrik, tidak mengeluarkan uang..." ibu saya tertawa sendiri, seolah dalam perasaan menang. Saya mencoba memancing agar ibu tetap dalam kondisi jernih diajak bercakap,"airport juga ditutup...semua toko ditutup..."

"Iya, jumah jak umahe ten kapiutangan sekenne jak duwen pemerintah-e..." ibu saya tersenyum, makan dengan nyaman. Mengangguk-anggukkan kepala. Dan saya tersenyum, mencoba memahami apa yang dipikirkannya. Bagi ibu saya, nyepi pemerintah, nyepi nasional sekarang ini mungkin sesuatu yang baru diikutinya, apalagi dengan gaya sipeng. Sebab dahulu ibu tahu banyak desa melakukan nyepi desa, dan nyepi desa sangatlah ketat. Tergantung jenis nyepinya. Jika desanya punya tradisi nyepi luh muani, maka akan terjadi perubahan arus relasi ke publik bahkan kewajiban domestik.Kalau nyepi desa, artinya sawah, ladang, dst akan tidak boleh dikunjungi. Semua diam di rumah, hanya disekitaran rumah. Namun brata penyepian yang sifatnya 'brata ke dalam diri' dibandingkan brata nyaraswasten, brata galungan, dst; lebih sifatnya kepada menjaga bhuwana agung. Ibu saya kembali mendekati jendela, kembali mengintip ke jalan," ibu mau melakukan brata penyepian?"

Ibu saya tersenyum," kan sudah, tidak jalan, tidak menyalakan listrik..." lalu dahinya berkerut," lentikan api di kayun ane pademang, ampunang ngae-ngae mantra...mapitulung ke gumi, apang buin mebayu, nak mula ngoyong di jumah... muspa ten dadi, batarane mase perlu istirahat. Nak mula patut; Ngoyong...oyongan ragane..." lanjutnya, ketika saya katakan, ada beberapa teman melakukan puasa, mirip monabrata hari ini...ibu saya baik bertanya,"gegodan napi? uli pidan nangun-ne?"

Serius, saya kehilangan kekuatan menjawab. Ibu saya paham tata krama brata, dan paham mengenai tata krama brata gumi. Jadi ada yang untuk dilapis luar diri, kembali ke dalam rumah, kembali ke dalam diri, membiarkan bumi, jalan, memahami ketiadaan terang benderang; dst, sebagai suatu hal yang membedakan tegas secara bayangan; dimana posisi bhuwana agung dan alit. Ibu saya sudah terlalu pikun, untuk menemukan suatu penjelasan mengenai brata gumi dan brata dalam diri; yang menurut ibu; dalam kepikunannya, anak nyepiang jagat, ten uyut, ten melali, ten ngujang-ngujang. Di jumah, ngerasaang elah ngelah umah. Ampunang ngartiang lebih, napi buin kanti matenget-tengetan...nyanan bingung idup-e. Nyanan makejang tepuk salah...

Kembali ibu saya mengintip jendela, melambaikan tangan, karena ada pecalang liwat,pecalang itu menoleh dan tersenyum,"sudah makan?" ibu saya menyapa dan tersenyum, menikmati sekali. Kuasa diri, kuasa rumahnya. Di luar sana kuasa publik terdiam. (MENIKMATI HARI NYEPI, TAHUN 2015)

Renungan Nyepi, Bagai Telur Yang Dierami

BANYAK TEMAN & KENALAN, MENJADI PEMANGKU

Selalu saya harus terkejut bila pulang kampung atau saat sembahyang ke beberapa Pura Sad Kahyangan juga bila pergi kondangan, tiba-tiba bertemu teman, yang sudah berbusana menciri-cirikan telah melakukan pewintenan Eka Jati, otomatis saya bertanya," sampun ngiring, puniki?" dengan sumringah selalu saya mendapat jawaban,"inggih..." disertai cerita mengapa dirinya melangkah melompat, usianya masih cukup muda untuk memutuskan memasuki tahap yang menurut saya; sulit saya laksanakan. Dan tentu saja saya harus mengubah cara memanggil: Jro! Tetapi menjadi pemangku memang tidak lagi semata-mata panggilan hati, kadang terkesan seperti trend; kadang-kadang karena ikut arus lingkungan. Semula ikut kelompok tirtayatra, kemudian mewinten, kemudian melangkah memasuki tahap menjadi pemangku.

Mewinten untuk pemangku berbeda dengan mewinten yang dilakukan pada umumnya banyak orang yang beragama Hindu- Bali. Jika untuk pribadi, tujuannya untuk menenangkan diri dan memperdalam ilmu keagamaan, memang melalui tiga tahapan, pawintenan saraswati, ini proses yang disebut membuka (inisiasi) sederhana untuk tujuan memperdalam ilmu pengetahuan, kaum pelajar biasanya melakukan hal ini. Jika kemudian dilanjutkan untuk ke langkah belajar yang menuju keagamaan maka dilakukan pewintenan Marerajahan, ini akan mulai memahami  langkah-langkah persiapan untuk memahami niyama dan nyama brata. Selanjutnya, akan dilanjutkan dengan Pawintenan dengan panugrahan, ini biasanya dalam konteks; menetapkan sang guru spiritual. Sedangkan untuk winten kepmangkuan akan dimulai dengan pewintenan sari; atau sering disebut mawinten ka widhi, yakni memohon langsung ke tempat-tempat suci yang akan diabdinya. Winten sari ini dilaksanakan tanpa pendeta, namun harus disaksikan keluarga, pengempon pura yang menyungsung pura yang akan diabdi, dan harus melalui tahapan upacara yang diyakini oleh pengempon pura tersebut.  Kemudian ada winten pemangku dengan Mepedamel; ini dipimpin oleh seorang pendeta, upacaranya mengikuti tata krama  yang ditradisikan sang pendeta dan disepakati oleh warga yang akan menjadikan pemangku itu sebagai pemuka.

Pewintenan juga dapat dilihat dari tingkat upacaranya, perhatikan bunyi dari lontar pewintenan ini," Nihan tingkahing pewintenan di bunga, nista ngaranya, kramania: angadegaken Sanggar Tutuan 1, genep sakraming Daksina sarwa bungkulan, artanya 1725, canang tubungan maarepan atanding, mwah canang gantal, burat wangi Lenga wangi atanding, rakania nyahnyah gula kelapa aceper, biu mas mwang bubuh perecet winadahan keraras pisang tahen 22 takir, bubur saraswati winalunan roning wadira 22 siki, sami dados atamas......dst"—jadi memang ada jelas perintah aturan dalam tatakrama bantennya. Secara singkat, jika memperhatikan upacara tingkat nista saja, maka sarana bantennya akan mensyaratkan prayascita,pengulapan, kemudian ada banten untuk Sanggah Surya; daksina dua buah, peras dua tanding, suci dua soroh, kelungah dikasturi, dan apabila itu untuk pura-pura dengan persyaratan tertentu, kebiasaan yang disyaratkan akan disertai pula kelengkapan banten pajati, sudamala, pengambian, dll. Boleh kemudian bayangkan untuk tingkat madia dan utama.

Namun syarat upacara ini kerap terlewati, dengan mudah, dengan cepat. Teman, kenalan, dan juga beberapa keluarga tiba-tiba berstatus menjadi pemangku; sebab merasa telah melewati proses upacara. Sehingga kesannya mudah menjadi pemangku asalkan sudah hapal mantra pemuspaan, ngatebang banten; dll, semua mantra-mantra yang diperlukan untuk ngatebang banten sekarang mudah diunduh bahkan atau dibeli secara mudah di berbagai toko buku. Namun yang terasa kemudian ada kesan; kedangkalan dan penyeragaman, ketika ditelisik dengan cermat. Seringkali yang muncul dihadapan banyak orang adalah; mudah kerauhan, mudah seolah-olah mendengar suara-suara, mudah melihat ‘sesuatu’,  mengartikan semua hal sebagai paica: dll. Kemudian begitu sibuk mencari tempat-tempat suci dan menterjemahkan diri sebagai yang siap menerima pawisik dan juga merasa ‘disayangi’. Kesannya memang atraktif sekali apalagi jika pergi berombongan dengan baju putih, kain putih, bija memenuhi dahi;dll.

Seperti biasa setiap kesempatan, saya selalu menyempatkan diri menemui para cendikia dan tentu dengan perasaan untuk meraihkan kebaikan

bersama. Beberapa waktu lalu, trend menjadi pemangku ini menjadi pemikiran, bahwa itu sangat bagus namun harus kemudian didorong agar menjadi;  ngaruruh ka jero, tan makeplag ka jaba. Harus disertai kemauan untuk memasuki diri, lapisan-lapisan tujuan dari dalam diri, tidak dibungakan hanya dengan penampilan dan kesibukan wara-wiri mencari tempat-tempat suci, menjungjung banten daksina, riuh murnama-tilem, namun sejatinya belum melakukan hal yang sebenarnya telah lampau ditawarkan oleh Yogin tertua di Bali dalam soal kepemangkuan oleh Sang Kul Putih.  Meski varian salinan lontar Sang Kul Putih bersisian dengan Kusuma Dewa begitu rupa banyaknya yang tersebar. Namun ada yang sepatutnya dijalankan sebagai dharma ing awak, yakni langkah-langkah Niyama Brata, bagian dari Yogan ning Yoga, yang mendasari sebagai latihan pengendalian diri. Sifatnya sungguh ke dalam diri, menata perilaku diri yang berkaitan dengan tujuan menjadi pemangku itu, yakni penyerahan diri dalam bentuk melayani sesama yang akan melakukan persembahyangan ke tempat suci.

Dalam pengamatan yang sederhana, ini juga ditemukan tata cara pengendalian diri pada para calon dalang, undagi; dll. Jadi memang ada

langkah-langkah melatih diri yakni; " Iti Sangkulputih.....Om Awighnamastu ya nama swaha. Nyan kramaning agem-ageman pamangku. Iti rumuhun kedehepakna ring sarira"  bahwa melatih ke dalam diri ini sangat diutamakan, sekalipun nanti kelak akan menggunakan tradisi puja yang beraneka ragam; tergantung nabe atau guru, atau desa, kala, patranya, namun untuk diri, penyucian diri inilah yang menurut hemat saya, sangat indah dan menggetarkan. Siklus kehidupan pribadi dalam pelatihan ini dimulai saat menjelang tidur," ri kala maturu, mantranya: Ong Sang Hyang Rambut Katomboh ngumandeling awah sarira ning hulun, guruning comma umanis, guruning suryya turu, swapna jagra ya nama swaha". Perhatikan kemudian bahwa hal-hal yang teramat pribadi pun disertai mantra; mawarih, makoratan, malamurud, masigsig (sikat gigi, dll), makramas, masuri (menyisir rambut), membuka pakaian, memakai busana, bahkan bila meludah, mencuci muka, atau akan berendam; mausuhan (menggosok badan), jika memakai kampuh, selendang, jika mengunyah sirih atau merokok, bila makan, memetik bunga, dst.

Langkah-langkah Niyama ini, pengendalian diri bagi  pemangku masa kini ini sering diabaikan, yang didorongkan justru penampilan phisik dan kesemangatan muspa ke berbagai tempat suci. Padahal, kunci dasar dari kebeningan kesadaran kemungkinan terletak pada fundamen ini.

Kebungahan hasrat untuk mendekatkan diri, dalam laku spiritual memang tidaklah mudah, namun kerap dikesankan mudah.  Kedamaian itu sesungguhnya sederhana, ke dalam diri, itu perlu proses yang panjang, jatuh bangunnya hanya diri yang tahu. Banyak sekali kitab penuntun untuk hal ini, dan memang seringkali banyak pihak mengira ini milik untuk golongan tertentu, sesungguhnya tidak. Yang membuat para guru suci enggan berbagi adalah sikap kita yang kadang hangat-hangat tai ayam, apalagi jika karena didorong oleh persoalan-persoalan pribadi; mewinten, menjadi pemangku, bukanlah katalis untuk melepas persoalan duniawi.  Persoalan duniawi harus dihadapi, harus pula dengan proses dan setiap saat disertai keinginan mendengarkan, bahwa perjalanan karma memang tidak terduga bagi siapa saja. (RENUNGAN NYEPI, seperti telur dierami kini, 2015)

Teater Adalah Kita






CATATAN TENTANG WORKSHOP TEATER ADALAH KITA


Tahun 2002 lalu, saya mulai memikirkan mengenai modul workshop teater yang tidak ala kadarnya. Sebab saya kerap mengamati dan mengalami, banyak pengetahuan mendasar mengenai teater tidak terbagi dalam proses pelatihan. Sebab kebanyakan pelatihan teater urusannya selalu disebabkan oleh tujuan target pementasan. Karena itu, workshop teater seharusnya berbagi akan pengetahuan teater, tidak terjebak dalam kisah-kisah definisi, mengulang penjelasan mengenai sejarah teater atau ceramah-ceramah yang diselipi contoh-contoh yang sepintas lalu, yang kesannya lintasan riuh, bergerombol dan berteriak-teriak. Akhirnya, pada tahun 2004 bekerjasama dengan Taman Budaya Bali, saya membuat workshop yang cukup panjang dengan sejumlah komunitas di Bali dan itu dengan ikatan hasil : yakni peserta didorong agar mau melakukan penulisan naskah dan disertai dengan janji, naskah yang terpilih akan didorong menjadi pementasan (sebagai produksi). Memang, proses yang panjang  itu memerlukan dana yang tak sedikit. Teater bukanlah jenis kesenian yang mudah mendapatkan dana, dan karakter yang harus dihadapi adalah keengganan untuk mau belajar dan berbagi pengetahuan, apalagi jika sudah merasa senior. Dan memang, harus berani menulikan telinga, menjalankan proses penawaran pembelajaran semacam ini pun pastilah tak lepas dari rasa suka dan tidak suka. Gratis sekali pun, akan tetapsaja ada prasangka.

Kegiatan tahun 2004 itu- pada tahap tertentu- berhasil melahirkan satu buku naskah karya anak-anak muda remaja dan kemudian mereka pun berproduksi dan pentas di Taman Budaya Bali. Dan setelah itu, saya memutuskan untuk melihat dari jauh, apa sebenarnya dampak proses workshop itu untuk beberapa kawan muda. Sebagian memang terus berkarya diberbagai kesukaan mereka, sebagian akhirnya lenyap menjadikan workshop tahun 2004 itu hanya sebagai kenangan. Namun sejak tahun 2009 ketika saya kembali ke Bali setelah perjalanan keliling ke luar daerah, saya kembali mengamati; bahwa proses latihan teater tidak memberi perbandingan yang jauh dengan apa yang saya amati sebelum tahun 2002.  Namun saya memutuskan untuk lebih banyak menulis dan berkarya lebih individual dengan beberapa teman dan komunitas yang secara kenyamanan bisa membuat saya lebih nyaman. Dan saya hampir melupakan modul workshop teater saya itu, hingga tanpa sengaja ketika saya menonton launching album svara semestanya Ayu Laksmi di Jakarta, saya memutuskan untuk jalan-jalan ke Aceh.

Dan tahun ini, tahun 2015, saya digugah oleh sahabat saya, begitu tiba di Aceh, sahabat saya meminta saya mengenalkan teater melalui workshop, tentu saja saya harus menjelaskan lebih awal, sebelum menyanggupinya; workshop yang saya rancang untuk teater tidaklah berbentuk ceramah, namun proses kreatif; bahasa kerennya itu seperti orang punya motor pergi ke bengkel, sudah bisa naik motor tetapi harus distune-up mesinnya. Sebab saya percaya, semua orang walau tidak pernah berlatih teater sekalipun, namun pastilah pernah menonton seni pertunjukan; dari pentas tari sampai musik, bahkan pastilah pernah ditugaskan oleh gurunya baca puisi, bernyanyi atau membaca Pancasila disaat upacara bendera. Berdiri di depan banyak orang atau menonton adalah elemen pengalaman yang paling kuat untuk mempercayai; proses belajar itu sebenarnya tidaklah sulit, semua orang mempunyai potensi untuk 'berkeinginan' pentas. 

Itu sebabnya, saya percaya melalui workshop teater sebenarnya adalah kebersamaan dalam waktu-waktu untuk menggugah potensi dalam diri atau talenta yang tak terduga, yang sebenarnya tidak tersadari atau tersimpan oleh ketiadaan kesempatan.

Sejak lama, saya percaya naskah teater (lakon, drama) adalah alat belajar dan pembuka bagi proses belajar teater juga membuka wawasan latar belakang peristiwa dan karakter, riwayat penulis dan penulisan naskah teater selalu memberi pengetahuan yang mengejutkan. Untuk Workshop berjangka waktu 6 hari, naskah harus dipilih kategori naskah drama pendek. Naskah yang teruji selalu menyediakan petunjuk-petunjuk untuk berpentas. Saya memilih naskah untuk 'workshop teater adalah kita'  empat naskah yakni: Lawan Catur, Kereta Kencana, Salah Paham dan Pinangan. Keempatnya itu akan dibedah dengan terukur. Teknik membedah naskahnya akan mengalirkan dampak pengenalan mengenai stop and go, top-tail; ini memberi peluang menjelaskan apa perbandingan perintah dalam neben teks dengan kemudian arahan sutradara saat melatih naskah. Seringkali sutradara dalam komunitas remaja dipilih karena dianggap lebih rajin atau lebih berpengalaman pentas. Padahal, naskah adalah sutradara terbaik dalam berlatih teater dan secara bersama sebenarnya jika bedah naskah berlangsung dengan baik akan terjadi penyutradaraan secara alamiah.

Langkah pertama adalah mendorong seluruh peserta menjadi kelompok kecil, empat naskah ini tak memerlukan banyak pemain. Jadi, idealnya jumlah peserta yang ikut  workshop memang 20 orang, di bagi menjadi empat kelompok. Setiap kelompok mendapat satu jenis naskah; yang segera dibaca

dengan cara seluruh dialog dibaca bergiliran- secara terus menerus. Dari sini, agar tidak jenuh dikenalkan kemudian Olah Vokal, Olah Tubuh; jadi setiap hari, naskah ini dijadikan pegangan, mengenalkan latihan berbisik, latihan senyap atau uji volume suara. Setelah itu mengenalkan rancang blocking, semua pemain harus melakukan perancangan blocking, sebelumnya dikenalkan mengenai apa itu area panggung, bagaimana membagi area panggung besar, sedang dan kecil. Dari naskah yang terbaca, kemudian berselang-seling dengan upaya memindahkan ke dalam rancang blocking dari komposisi sampai pose;dst. Baru kemudian mengenalkan tata krama pemanggungan, gesture, timing, dll; semua itu mengalir dari naskah masing-masing. Rancang Blocking akan sangat membantu semua peserta membayangkan posisi dirinya, pergerakannya di panggung; kemunculan dan

kepergiannya dari panggung;  rancang blocking ini akan sangat membantu untuk membuat semua peserta tidak kebingungan; sebab ada peta dirinya saat membaca dialog. Rancang blocking sebenarnya draft yang kelak akan terevisi oleh perkembangan latihan. Jika telah final akan menjadi informasi bagi penata panggung, penata lampu; dll.

Modul disusun dengan cermat,  walau sebenarnya sangat fleksibel jika memang telah terbiasa dengan tradisi membaca naskah atau memiliki pengalaman memainkan beragam naskah, namun tiga hal seperti Olah tubuh, Olah Vokal dan Olah Rasa menjadi menu harian yang dikenalkan; variasinya sangat luas untuk hal ini. Jadi pembagian waktu; dan memahami kemampuan peserta sangat akan membantu lancarnya workshop; terbukanya kemungkinan untuk menginformasikan berbagai teknik; seperti teknik berimaji, teknik muncul, sehingga proses mengenalkan pemeranan akan mengalir alami,  sementara naskah terus menerus menjadi tumpuan dan tanpa disadari ketika diajak berdiskusi mengenai isi cerita, alur dan plot, semua peserta dalam jangka waktu tiga hari akan dapat menjadi teman diskusi yang asyik, tidak akan muncul pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan atau keluar jalur.

Dengan desain 6 hari workshop ini, walau dengan berbagai kemungkinan daya tahan peserta seperti gangguan barier psikologis, rasa enggan, merasa diri 'minder' ternyata akan diketahui tidak mampu tampil, menjadi salah satu kendala paling penting untuk diamati dan diatasi dengan pendekatan. Disiplin waktu kedatangan, istirahat harus diberlakukan ketat; dengan tujuan; pementasan di panggung memang tidak bis memaafkan ketidakdisiplinan.  Proses worskhop model ini mendorong semua peserta membangun kerjasama antar kelompoknya. 

Banyak yang bertanya, apa lalu pencapaiannya? Bahkan ketika saya meminta tolong beberapa teman untuk membantu proses workshop ini; tidaklah mudah menjelaskan bahwa workshop ini gratis  dan anak-anak ini setiap hari, dari jam 9 hingga jam 5 sore harus ada dalam proses pelatihan, dan anak-anak tidak semuanya orang mampu, pertanyaan mereka adalah:  apa out put-nya? Jika saya menjawab gagah; kalau mau revolusi mental, mulailah dengan mengubah stigma workshop-workshop itu dari ceramah sporadis menjadi pembelajaran praktek, maka pencapaiannya adalah minimal ketika hari terakhir, peserta siap melakukan  play reading; itu pertanda peserta sebenarnya telah siap pentas. Pertanda punya keterampilan public speaking, mengalami perubahan perilaku dalam mengelola kebersamaannya, sebab jika menjawab hanya dengan tujuan pelatihan teater secara murni, pastilah kerap seakan teater itutak ada gunanya dalam kehidupan ini. Padahal, pembelajaran teater tidaklah hanya untuk pertunjukan, pembelajaran teater justru memberi kesempatan untuk semua orang bercermin dengan kenyataan hidup disekitarnya, asalkan proses pembelajarannya itu berpihak kepada tahapan-tahapan yang sesuai kadar.

Kemudian mengenalkan manajamen, tata kelola pelatihan misalnya, sangatlah penting, ini bagian mengorganisasikan dari itu perencanaan pertemuan akan selalu bertujuan. Dari rancangan pelatihan akan diketahui kapan sebenarnya pemain misalnya dapat 'Lepas naskah' dan untuk drama pendek tidaklah memerlukan waktu yang panjang untuk hapal naskah dan lepas naskah. Dua minggu seharusnya pemain mulai memasuki tahap stop and go. Atau dicek dengantop and tail jika telah mulai melibatkan property dalam berlatih.

Pelatihan teater di sekolah misalnya, kerap mendapatkan pertanyaan dengan tanda tanya besar; sebab pelatihan hanya hidup jika akan ikut perlombaan. Padahal, jika basis naskah dan pelatihnya membuka wawasan seluas mungkin; proses berlatih teater ini akan menemukan relevansinya dengan banyak ilmu di sekolah; belum lagi nantinya elemen pendukung untuk pentas; dari manajemen produksi sampaipun tata panggung,

busana, dll.  Pelatihan teater berkemungkinan untuk terbuka bagi banyak pelatihan keterampilan dari menjahit, make-up sampai kelistrikan.

Itu sebabnya, saya agak enggan diminta memberi workshop teater, jika cuma sehari, apalagi setengah hari. Lebih baik tidak usah. Sebab citra pelatihan teater, workshop teater yang tidak disertai dengan kemauan untuk  berbagi pengetahuan ilmu praktek teater akan membuat pelatihan teater terkesan asal-asalan dan tanpa tujuan. Jika itu hanya untuk seolah-olah ada workshopteater, saran saya mungkin agak keras, sebaiknya tidak usah dilakukan.

Bagi saya, tahun ini keberuntungan buat saya, sebab sahabat saya Anisa di Aceh, telah mendapatkan dukungan lingkungan kampusnya ( Prodi Ilmu Komunikasi, Fisip Unsyiah- Banda Aceh) untuk menjalankan proses workshop teater yang cukup padat dan mengejutkan tentunya, karena suasananya memang akan berbeda dengan workshop-workhop yang biasanya terjadi.  Workshop teater adalah kita, tahun ini, memberi banyak perenungan bagi saya juga mendapat pengalaman tambahan dan yang tetap hanyalah bahwa kita semua memerlukan katalis untuk mengenali hidup ini. Proses pelatihan teater akan memberikan hal itu, apabila dibekali oleh semangat berbagi pengetahuan dan tentu adalah modalnya penuh sabar mendorong peserta mengikuti tahap-tahapannya. Sekian laporan saya dari daerah paling barat di nusantara ini. Semoga bermanfaat. (cok sawitri, musafir pencari gagal mencari batu)