Kepala Yang Menghamburkan Kupu-kupu



Cerpen
By COK SAWITRI
KEPALA YANG MENGHAMBURKAN KUPU-KUPU


           Pagi terasa menyebalkan, Kramo mengaduk kopinya dengan sembarangan, denting sendoknya terdengar nyaring. Semalaman dirinya tak bisa tidur lelap, beberapakali dirinya harus terjaga dan harus memasukan kepala itu ke dalam tembok.
Ah, kepala sialan itu, selalu menyembul  dari tembok dan seperti kepala terbuat dari karet, kepala itu begitu lentur keluar tanpa membuat retakan ataupun rekahan di tembok kemudian kepala yang seperti dibalut plastik tipis membuka mulutnya lebar-lebar; menganga begitu dalam dan dari nganga mulutnya keluarlah ratusan kupu-kupu, yang berhambur berterbangan...
           Jika kepala itu ditarik, lehernya otomatis mengembang liat seperti karet, memanjang dengan lentur. Kramo hampir setiap malam harus mendorong kepala itu kembali masuk ke dalam tembok bahkan kerap dengan susah payah. Biasanya, dalam semalam kepala itu muncul dua kali saja, tetapi kemarin malam kepala itu ke luar tembok lima kali!

          Kramo mendengus. Hantu kepala itu makin kurang ajar, kemarin sembulannya muncul tepat di depan hidung Kramo yang kebetulan tidur dengan posisi wajah menghadap ke tembok, tentu saja ia terkejut dan sempat melihat dengan jelas saat mulut itu menganga pelan-pelan, lalu mengeluarkan kupu-kupunya. Kramo bahkan sempat meraih kepala itu dan menariknya sekuat tenaga, tetapi leher itu melar lentur mirip karet yang ditarik, melar dan liat. Karena tak bisa ditarik ke luar, Kramo kembali menekan kepala itu ke dalam tembok dengan sekuat tenaga. Hasilnya, ia hampir tak tidur hingga matahari terbit tiba. Kala pun matanya terpejam tetapi pikirannya terus membayangkan wajah itu, wajah hantu kepala yang mengangakan mulutnya itu. Wajah yang dibalut oleh semacam kelamar tipis, seperti lapisan kulit ari binatang yang baru lahir..

          Hm. Pagi ini, Kramo sudah bertekad bulat; sebentar lagi dia akan menemui tukang bangunan di ujung gang;  Mas Gempal namanya. Orang itu kelahiran kampung ini juga. Kramo akan meminta bantuan khusus agar tembok tua rumahnya segera mungkin dapat dibongkar, harus dibongkar! dan diganti batako. Kramo untuk sementara akan kost saja atau menempati bilik di bengkelnya di belokan  Gang sebelah.
          Kramo bersungut-sungut, memutar-mutar terus sendok di dalam gelasnya. Tak habis pikir, bagaimana mungkin neneknya mewariskan rumah ini lengkap dengan hantu kepala itu. Ah, hantu! Hantu kepala!  Sejak kecil Kramo sudah mendengar tentang kisah hantu kepala itu. Hanya saja tak pernah ia mendengar baik dari almarhumah neneknya, kemudian almarhumah bibinya, kalau hantu kepala itu keluar dari tembok lalu mengangakan mulutnya selebar mungkin lalu mengeluarkan kupu-kupu yang berterbangan seperti lebah menyiangi diri,  yang dengan suara gemeresak, berputar-putar memenuhi kamar lalu melesat cepat menubrukan diri mereka secara serempak ke langit-langit rumah yang terbuat dari gedeg bambu !
          Gilanya, setiap hari Kramo pasti menyapu remah-remah sayap kupu-kupu itu. Kramo mendesah, dahinya mengkerut, rambutnya kucel karena terus ditarik jemarinya. Ah, jika itu hantu mengapa ada remah sayap-sayap kupu-kupu itu?

          Kramo melenguh. Buat apa memikirkan apakah itu hantu, apakah itu penghuni dimensi lain, terserah. Kramo sudah kehilangan rasa takut dan getir sejak lama, sejak istrinya kabur dengan salah satu anak buahnya di bengkel, sejak  itu hatinya kehilangan perasaan untuk merasakan yang menakuti dirinya. Rasa kecewa itu sudah menghanguskan rasa khawatirnya. Tetapi kalau tidurnya sampai terganggu, ini soal yang paling menjengkelkan. Bahunya terasa pegal setiap bangun pagi, selalu ada kebas di punggung seperti masuk angin berat.
Diseruputnya kembali isi gelasnya. Pikirannya menerawang, ia juga harus bertanya kepada orang-orang tua yang mengenal neneknya di sekitar kampung ini. Ah, tapi berapa orang tua lagi yang tersisa, yang seusia neneknya?  Kramo mendengus. Dan apa semua tahu kisah hantu kepala itu?
          Kramo menandaskan isi gelasnya. Meraih handuk kecil  dan melilitkannya ke leher. Hari ini, mau tak mau ia harus menemui tukang bangunan, menghitung biaya pergantian tembok itu; terserahlah, yang penting hantu kepala itu tak lagi bermukim di tembok tanah itu.
         "Minimal tujuh juta, Kramo. Biarpun rumahmu itu kecil dengan tiga kamar, tetapi membongkarnya harus hati-hati, itu rumah model tua, mungkin setua kampung ini usainya. Kenapa harus kau bongkar…Itu model rumah majapahit! Itu yang pernah kudengar…"
         Kramo melengak, model Majapahit? Rumah dengan tembok batu bata tanah, dengan jendela-jendela kecil, lalu kisi-kisinya; memang Kramo tahu, rumah itu sudah sangat tua. Tetapi rumah itu juga terlalu kecil pintunya, kalau mau masuk ke dalam rumah Kramo harus sedikit membungkuk. Tetapi di dalam rumah, udara sangat sejuk sebab lantainya masih dari tanah. Kramo semula tak peduli dengan perubahan berbagai rumah disekitarnya. Tetapi kini,ia berpikir bukan karena ingin ikut mode atau membangun lebih besar, bukan. Ia hanya ingin hantu kepala itu pergi dari tembok rumahnya. Tetapi mana mungkin ia bercerita kepada Mas Gempal, tukang bangunan ini  tentang hantu kepala yang berumah di tembok. Ah, tak akan sudi tukangan bangunan ini mengerjakan rumah berhantu. Kalau soal ongkos, rasanya masih dapat jangkau…

"Ah, mau model majapahit, model apa sajalah, tapi lihatlah, rumah itu seperti rumah mini ditengah semua bangunan modern…"
          "Tidak masalah, kau beruntung Kramo. Kau masih punya halaman depan dan belakang, masih ada ladang di belakang walau tak luas. Kalau menurutku, kalau kau ingin rumah baru, bangun di tanah sebelahnya…"
Kramo tertegun. Tapi berapa biayanya…
           "ah, kamu itu sendiri, buatlah bangunan satu bilik dengan dapur dan kamar mandi, yang paling mahal adalah membuat kamar mandi. Kemudian tambahi teras kecil tempat kau menerima kawan-kawan, buatlah semacam balai-balai dari bambu…"
"Berapa kira-kira biayanya?"
            "tidak sampai lima puluh juta, itu sampai ongkos termasuk membeli bahan bangunan.."
Kramo mengerutkan keningnya, lima puluh juta? Itu artinya isi tabungannya akan terkuras habis. Kramo mendengus. Harus ia pikirkan kembali. Rumah warisan itu memang masih kokoh dan sesungguhnya nyaman. Hanya saja; Hantu kepala itu, mengapa harus ke luar tembok setiap malam?

Ah, hingga matahari meninggi Kramo masih setengah melamun, duduk di belakang meja kumelnya. Keempat anak buahnya tengah sibuk menservis motor pelanggan. Kramo berusaha mengingat-ingat pesan neneknya. Tetapi Kramo sejak kecil jarang ke rumah neneknya, sebab almarhum ayahnya tidak suka kepada almarhumah bibinya. Ayah Kramo malah menyewa tanah di kampung sebelah, di sana membuka warung dan akhirnya membeli sepetak tanah yang kini sudah ditempati adik Kramo dan keluarganya. Ketika Kramo tamat STM, neneknya datang menawarkan warungnya kepada Kramo untuk diubah menjadi bengkel,"Itu tanah milikku, aku sudah lama tidak jualan, kau pakailah sebelum diambil oleh orang-orang yang mengira aku sebatangkara…"
            Kramo setuju, ayahnya hanya menghela nafas dan berpesan pendek,"boleh kau menjadikan warung itu bengkel, tetapi jangan tinggal bersama nenekmu…"
            Ketika kawin, Kramo mengontrak dua kamar di gang sebelah, hingga kemudian istrinya kabur lalu berturut-turut  kematian menghantui keluarganya, yang pertama ayahnyalah  meninggal, kemudian menyusul bibinya dan kemudian neneknya yang terakhir ibunya.    

Saat itu, Kramo sudah tidak kuat dengan rasa getir yang membakar hatinya, setiap kali memasuki kamar kostnya, bayangan istrinya kembali berkelebat, akhirnya ia pindah ke rumah tua itu. Awalnya, sungguh menyenangkan, ia seperti kembali menjejakan kaki ke tanah. Tetapi entah mengapa sejak sebulan lalu, hantu kepala itu muncul ditembok, mula-mula Kramo menganggapnya mimpi buruk, namun karena setiap hari kepala itu muncul dan tidak membuat hatinya takut, Kramo memutuskan tak peduli. Tetapi semalam?...Kramo mulai berpikir, mengapa hantu kepala itu rajin ke luar dari sarangnya? Kurang sajen? Apa sajennya? Kramo menguap lebar. Setngah melamun dipandanginya jalan raya. Siapa yang kenal keluarganya di kampung ini? Semua penghuni rumah-rumah di sekitarnya adalah orang-orang baru, kampung yang dahulu jauh dari jangkauan kini sudah berkembang menjadi kota baru bahkan menurut berita koran, tahun depan kampungnya ini akan maju sebagai kabupaten baru!
           Wak Rumanak! Nama itu tiba-tiba melintas di kepala Kramo. Dahulu kepala adat di sini Wak Rumanak, tetapi setelah anak-anaknya bertengkar soal tanah warisan dan bertikai sampai ke pengadilan, Wak Rumanak mengundurkan diri sebagai kepala adat, lelaki uzur itu tak pernah lagi nampak dimana-mana…atau Wak Gambir?...Kramo mengerutkan dahinya, mengerutkan dahinya. Astaga, ternyata penghuni asli kampung ini sungguhlah sedikit, kecuali di beberapa gang. Di jalur gang rumahnya, rasa-rasanya hanya dirinya yang boleh berkata orang kampung sini!
           "Wak…masih ingat sayakah?"
Wak Rumanak mengangkat dagunya, matanya nampak tajam walau alis dan bulu matanya sudah menjadi tipis,"anak siapa kau?"
           "anak Gasing, dari Nenek Gumrih…"
Wak Rumanak mengangkat alisnya,"siapa?"
           "saya Kramo, cucu Nenek Gumrih…"
Akhirnya suara Kramo didengar Wak Rumanak. Wajahnya seketika mengembangkan senyum,"ah, kau rupanya…kemari, duduk ke sini, aku sudah tuli dan lamur!"
          "Wak dengan siapa di sini?"
"Dengan bibimu, anakku yang bungsu. Yang lain sudah kuusir…Biarlah mereka tak lagi menginjakkan kakinya ke sini…"

           Kramo mengangguk. Maklum akan pecah belahnya keluarga Wak Rumanak.
           "Wak…Ada yang mau saya tanyakan, saya ini lahir di kampung lain dan setelah kawin baru kembali ke kampung ini…"
"Oh, kau sekarang kembali ke rumah tuamu?"
          "Iya Wak…"
Wak Rumanak menunduk sejenak, menarik nafas dan mengusapkan telapak tangannya ke wajah,"apa yang kau mau kau tanyakan? Soal tanah-tanah nenekmu?"
           "Bukan Wak…"
"ah, biasanya, setiap kali anak muda, keturunan kampung ini datang padaku pastilah menanyakan soal duduk perkara tanah-tanah…semua orang begitu serakah hendak menjual tanah-tanah warisan keluarganya…"
          "Tidak Wak..Saya tidak akan menjual tanah, lagi pula tanah nenek tak begitu banyak…"
Wak Rumanak menoleh, memastikan pendengarannya,"apa?"
          "Tanah nenek saya, tak banyak Wak, yang tanah warung sudah saya jadikan bengkel, dan ya tanah ladang di belakang rumah itu…itu saja yang diwariskan nenek!"
          Wak Rumanak menghela nafas,"Itu kesalahan bibimu…bibimu masih hidup?"
"Bibi sudah lama meninggal. Kenapa dengan bibi?"
          "Ah, aku masih kepala adat waktu itu. Bibimu itu kawin dengan ponakan nenekmu, ah lupa aku namanya. Dia itu meminta modal kepada nenekmu, lalu menjual tanah yang sekarang jadi kantor camat itu…Nah nenekmu setuju, tanpa memberitahukan kepada ayahmu. Lalu terjadilah pertengkaran hebat saat tanah dijual, uangnya malah dihabiskan oleh suami bibimu yang diam-diam kawin lagi di kampung lain…sejak itu ayahmu pergi meninggalkan rumah tua itu…"

          Kramo mengangguk, ia tahu cerita itu. Tahu sebab mengapa ayahnya tidak suka dengan almarhumah bibi.
"Wak…"
         "Sekarang kau sudah punya anak?"
"saya belum kawin…dahulu sempat, tetapi istrinya saya tidak tahan dengan kehidupan saya…"
Wak Rumanak tersenyum kecil,"Kau masih muda, carilah lagi istri…"
Kramo hanya menyeringai,"Wak…Saya hendak bertanya sesuatu mengenai rumah warisan itu…"
Wak Rumanak mengernyitkan alisnya,"Apa?..."
"Soal rumah itu Wak?" Kramo mengeraskan suaranya. Wak Rumanak mengangguk, meraih tas kulit tua, mengeluarkan gumpalan sirih pinang. Lalu tatapan mata Wak Rumanak lurus ke depan,"Kau bertanya riwayat atau soal?"
          "Riwayat…"

Wak Rumanak mulai melepit-lepit daun sirih memasukannya ke bumbung kayu kecil, lalu menumbuknya pelan-pelan,"Kalau tidak salah saat aku diangkat jadi kepala adat dan orang-orang masih taat kepada adat, aku diwajibkan mempelajari riwayat kampung ini dan riwayat beberapa keluarga. Keluargamu itu garis kakek adalah perambah hutan di seluruh wilayah kampung-kampung ini karena itu gelarnya harimau putih, sedang dari garis nenek…kau adalah keturunan dukun goa, jadi dahulu itu kata orang-orang leluhur nenekmu itu tinggal di goa-goa dekat dengan tebing di seberang bukit sana…"
          Kramo mengangguk. Samar-samar mulai mengingat, Wak Rumanak sambil menumbuk sirihnya melanjutkan ceritanya, "Harimau putih sebenarnya sudah punya istri saat mengawini leluhur nenekmu. Dan memecah keturunan-keturunannya di Kampung tebing dan di Kampung bawah. Ayahmu lahir dari garis istri pertama seharusnya, tetapi kakek bapakmu mengawini pula keponakan dari garis nenekmu dari kampung tebing. Kembali keluargamu dipecah-pecah. Semua keluarga demikian adanya. Nah, kakekmu kembali mengambil garis keluarga nenekmu yang aslinya dukun goa…Itu ditentang sekali oleh seluruh keluarga besar dari keturunan istri pertama, aku masih muda saat itu…tetapi kakekmu itu tetap mengawini nenekmu…Maka putus hubunganlah kakekmu dengan keluarga lain, juga dengan beberapa pecahan keluarga yang di kampung tebing!"
          Kramo hanya mengangguk berusaha mengerti, soal kampung tebing, kampung itu sampai sekarang masih seperti kampung zaman lampau dan dikenal keramat berbeda dengan kampung bawah, tidak jelas dimana awal tanam batang rumah yang pertama, semua telah berubah. Kampung-kampung yang pecah-pecah itulah kini menjadi desa, menjadi kecamatan….

"Wak…"
           Wak Rumanak mencecapkan sirih, matanya mengawang jauh, nampak sekali kerdipannya begitu uzur,"Kau mau menanyakan apa lagi?"
"Wak…" Kramo tersendat, lalu bercerita tentang hantu kepala yang ke luar dari tembok dan membuatnya susah tidur,"Tetapi saya tidak takut Wak…hanya tidur saya terganggu.."
          Wak Rumanak meludahkan sirihnya, seperti menghembus. Menoleh ke arah Kramo dan menatap lama," Nenekmu tak sempat rupanya bercerita apapun padamu…"
          Kramo mengangguk membenarkan.

Wak Rumanak kembali meludah, mulutnya memerah,"Hantu Kepala itu namanya si Tuan Terbang Wangi, menurut kabar itu adalah tumbal yang dihidupkan oleh leluhur nenekmu, yang mewarisinya sebagai anak gadis yang kawin ke luar warga Dukun Goa…"
"Apakah maksudnya…Dan bagaimana cara mengusirnya?"
           "Tak bisa kau mengusirnya, itu akan melekat dalam dirimu…"
"Diriku?"
           "Iya…"
Kramo terdiam,"Saya tak mengerti wak…"
          "Pergilah ke kampung tebing, cari kepala adatnya…pastilah akan memberitahu jalan terbaik bagi dirimu…"

Kramo pun memutuskan untuk ke kampung tebing, menemui kepala adat di sana. Dengan menyebut nama neneknya, orang-orang di kampung yang masih dikeramatkan itu seolah menerima anak yang pulang. Dengan terbata-bata Kramo menceritakan apa yang dialaminya. Hantu kepala yang membuka mulutnya, mengeluarkan kupu-kupu dan meninggalkan remah-remah sayap di lantai tanah.
          "Sudah saatnya kau mandi di pancuran di asal leluhurmu…Kami para orang tua akan menemanimu…"
Kramo menelan ludahnya. Tidak mengerti mengapa semua menatapnya dengan tatapan genting. Namun demi dipahaminya hantu kepala itu, ia pun mengikuti saran para orang tua di kampung tebing. Di tengah malam ia dimandikan di pancuran tua lalu dinyanyikan entah lagunya apa.   Begitu samar lagu itu memasuki telinganya, suara-suara jengkerik dan jeritan binatang dikejauhan membuat hatinya bergetar aneh. Usai mandi, Kramo dituntun memasuki sebuah goa…
          Setelah upacara mandi itu, Kramo kembali ke rumah tuanya, kembali merundukan kepala saat memasuki rumah. Menghidupkan lampu dan kemudian duduk di kursi yang tua, sebentar lagi pagi. Sepanjang hari ia ke luar rumah, meliburkan bengkelnya. Ia pun duduk dan menghidupkan kompor tanahnya yang diletakan di perapian, ia memanasi air di cerek yang dulu digunakan neneknya. Aneh, kompor itu tak menyala malah perapian itu yang menyala, cerek itu melayang dan seakan meletakan dirinya di atas lubang tungku. Kramo mengerutkan dahinya saat melihat gelas melayang, lalu sendok itu menyendok gula dan kopi, menuangkannya ke gelas. Kopi itu diseduh tepat di hadapan Kramo yang tercengang-cengang.
         "apakah kau yang membuat kopi? Menyahutlah?"
Kramo menoleh kiri kanan, tak ada yang menyahut. Lalu tembok itu menyembul, kepala itu muncul menguap lebar; kupu-kupu berhamburan.   Kramo menyeruput kopinya,"Masuklah ke rumahmu, istirahatlah…"
          Kepala itu lenyap, meninggalkan remah-remah sayap kupu yang berhamburan di meja dan lantai rumahnya. Kramo menghela nafas, kini ia dapat memahami seperti apa hidup neneknya, seperti apa lalu pandangan orang-orang di zaman dahulu terhadap keluarga keturunan dukun goa.
"Aku akan tidur…" Kramo berusaha membiasakan dirinya untuk menganggap hantu kepala itu bisa diajak ngobrol. Kramo tidak menanti sahutan, ia melangkah menuju kamar itu. Menatap ke dinding, apakah kepala itu akan menyembul? Semoga tidak, Kramo merebahkan dirinya.

         Dalam kondisi setengah tidur, ia mendengar suara sapu bergerak, hidungnya samar-samar menghirup bau masakan….Dan sayup-sayup ia mendengar suara seperti suara Mas Gempal yang berteriak ketakutan, yang sepertinya berlari dengan menahan kencing, meninggalkan halaman rumahnya sambil berteriak gagap,"hantu…hantu…"

(LATIHAN MEMBUAT CERPEN YANG KEDUA)

OMBAK-OMBAK BERPINDAH KE BINTIK MATAMU!

CERPEN
BY.COK SAWITRI
OMBAK-OMBAK BERPINDAH KE BINTIK MATAMU!


Rum telah menatap mata suaminya berulangkali dan dahinya yang lebar seketika mengerut, menimbulkan garis dalam," Aku melihat ombak dalam matamu, tepatnya di bintik matamu!" Ucapnya datar lalu memayunkan bibirnya. Mendengar ucapan Rum, suaminya mengangkat alisnya, seolah bertanya. Rum mengangguk memberi isyarat bahwa yang diucapkannya sungguhlah benar.
Suami Rum dengan alis tetap terangkat segera bergegas ke kamar, berdiri dengan mulut terkatup di depan cermin lemari. Memang sejak dua hari ini, matanya terasa berbeda. Suami Rum mendekatkan wajahnya ke cermin, hingga ujung hidungnya bersentuhan dengan permukaan cermin. Hm. Di bintik hitam itu, memang berbeda, tetapi betapa sulitnya mendapat penglihatan yang jelas, kerutan dahi suami Rum semakin menebal dan saat kembali ke ruang tengah menemui istrinya, berkata mirip gumam," lihatlah sekali lagi, apakah ombak yang terlihat, apakah masih ada dalam bintik mataku?"

Rum menyorongkan wajahnya, matanya penuh teliti memperhatikan bintik hitam mata suaminya, " jangan berkedip…" Perintah Rum dengan suara tegas. Suami Rum patuh dan membelalak matanya," kini ombak itu sudah bergulung-gulung suamiku…" Ucap Rum masih dengan datar, menepuk pipi suaminya,"Kukira ombak-ombak itu telah bosan mengunjungi pantai…"
"Bergulung-gulung? Bagaimana mungkin?"  Dengan suara agak tercekat, suami Rum mengedip-edipkan matanya, bertanya-tanya di benak dengan entah mengapa begitu gundah.
"Kenyataannya demikian, apa yang kulihat di bintik mata hitammu, itulah…Kenyataan. Kalau tak percaya panggil siapa saja untuk melihat matamu!"

Suami Rum mengerutkan dahinya,"baiklah….Akan kupanggil Rastam, dia juga mengerti soal perdukunan…Hm…Siapa tahu ini santet model terbaru…"
Rastam, sarjana yang lelah, kini sibuk menjadi salah satu team sukses seorang calon bupati segera muncul dengan cerita soal politik lokal," Sekarang harga-harga menaik, aku tak bisa mencari untung terlalu banyak dari persiapan kampanye klienku…."
Rum melengos, "Klienmu? Jadi calon bupati yang kau gadang-gadang itu tak ubahnya seorang pembeli yang bermasalah atau seorang pesakitan yang memerlukan konsultasi?"
"Klien itu sebutan terhormat sekarang…Aku seorang professional, pekerjaanku memang demikian mirip event organizer; pemilihan bupati itu tak ubahnya pentas musik atau mungkin pentas ludruk, perlu iklan, perlu baliho…tujuannya agar banyak yang datang…"

Suami Rum menghembuskan nafasnya,"Rastam tolonglah aku…"
"Oh, iya…Tentu sobat, tentu. Apa yang engkau ceritakan tadi di telpon membuatku terkejut juga menjadi motivasiku untuk segera datang kemari, kemarilah…"

Rum tersenyum tipis, gaya si Rastam ini lebih mirip petugas sales barang kelontong dibandingkan sebagai seorang team sukses. Kemeja dan celana panjangnya membuat penampilan Rastam seperti manajer waralaba. Ah, apaboleh buat pekerjaan yang paling mudah mengumpulkan duit adalah menjadi team sukses!
Rastam menarik nafasnya, memperhatikan dengan seksama wajah dihadapannya. Lalu pandangannya mengarah ke mata. Wajah Rastam meriak seperti ada sentakan, lalu dengan penuh ingin tahu kembali dipandanginya bintik mata hitam itu,"Oh…tidak mungkin…"
"Oh tidak mungkin, bagaimana?" Rum menyela,"Kau lihat ombak bergulung-gulung, bukan? Dan reaksimu oh tidak mungkin?"

Rastam tergugu.
Mengerjapkan matanya, kembali memandang mata itu," Sejak kapan engkau tahu ada ombak di mata suamimu?"
"Sejak dua atau tiga hari…Mula-mula aku tidak begitu yakin, tetapi hari ini aku seratus persen yakin, ombak itu malah bergulung-gulung.." Rum menyahut dengan suara datar, memandang Rastam dengan sorot mata meremehkan,"agar suamiku yakin, maka kuminta dia memanggil siapa saja, agar aku tidak dianggap berkhayal…"

Suami Rum mengerjapkan matanya. Rastam mengerutkan dahinya,"apa yang kau rasakan?"
"Tidak ada…mataku biasa saja, tidak ada rasa perih, tidak ada rasa berat…biasa saja, hanya saja kadang seperti ada yang mendesir di bibir mataku…"
"Kau harus ke dokter…"
Rum mencela cepat,"ke dokter? Dan dokter itu akan memberi obat sakit mata? Itu bukan sakit mata…"
"Cobalah Rastam, bukankah kau paham mengenai magic? Siapa tahu ini santet model baru?"
 Rastam menggeleng,"aku tidak paham jika modelnya begini…"
"Lalu, menurutmu, bagaimana?"
"Aku tidak tahu…" Rastam kembali mendekatkan wajahnya, melihat kembali seksama,"luarbiasa ombak itu membuncah, bergulung-gulung…"
"Tapi tidak ada pantainya…"

"Jangan-jangan semua pantai kehilangan ombak dan berpindah ke matamu…" Rastam tiba-tiba seperti dikejutkan oleh suaranya sendiri. Rum tersentak,"aah, manalah mungkin bintik mata menampung seluruh ombak lautan, itu hanya barangkali seupil dari ribuan juta kilometer ombak samudera…"
Rastam mengeryitkan dahinya, " baiklah, aku pamit dahulu, nanti kukabari jika paranormal klienku paham soal ini…"
"Oh jadi klienmu memakai paranormal?" Rum menyela cepat, penuh ingin tahu. Rastam tertawa,"Tentu sajalah…Sekarang paket pengurusan team sukses termasuk paranormal dan pawang hujan…"

Lalu Rastam pergi, Rum melanjutkan kembali pekerjaannya mengurus rumah, cucian baru kering harus disetrika, makanan buat nanti malam belum disiapan sedangkan  suaminya nampak tercenung sendiri. Benarkah? Ombak-ombak itu ada dimatanya? Dibayangkannya wajah ombak. Duh, terasa berdebar dadanya, bagaimana mungkin bintik hitam mata itu menampung ombak lautan?
"Rum, bagaimana kalau benar seperti yang dikatakan Rastam, ombak-ombak disemua pantai berpindah di mataku?"
"Ya, mungkin, tidak mungkin" sahut Rum tanpa menoleh
"Kalau mungkin!"
"Artinya ini peristiwa istimewa…"
"Mengapa?"
Rum menghentikan gerak tangannya, melipat pakaian adalah pekerjaan menyebalkan,  ia menoleh menatap suaminya,"Kau jerih? Bukankah ombak-ombak itu tidak mengganggumu?"
"Bagaimana jika itu mungkin…"
"Akan terjadi perubahan pada wajah laut…jika ombak-ombak menghilang, ya lautan akan seperti kolam…"
"Bagaimana dengan perahu-perahu?"
"Ya tetap berlayar, mereka bisa mendayung.."
"Bagaimana dengan garam?"
"Itu tidak kutahu…"

Suami Rum dengan kecewa kembali ke dalam kamarnya, berdiri lagi di depan cermin,"ombak itu…" bisiknya kepada dirinya sendiri," semakin jelas….makin dekat rasanya."

Ada ketukan di pintu. Rum bergegas membuka. Rastam bukannya mengirim paranormal, malah mengirim wartawan. Ah, sudahlah. Rastam pastilah melakukan ini dalam rangka meyakinkan dirinya. Benarkah ada ombak di sebuah bintik mata hitam? Tanpa banyak bertanya,

Rum mempersilahkan wartawan itu masuk ke ruang tengah lalu Rum memanggil suaminya dan membiarkan wartawan itu memandangi wajah suaminya dan dengan dingin Rum melihat bagaimana wajah wartawan itu memucat, tanpa bisa banyak bertanya,"Ini jelas tidak mungkin…" keluhan itu keluar akhirnya dari mulut wartawan itu, takjub yang dirasakannya saat melihat ombak bergulung-bergulung, memecah dan menghempaskan buih-buihnya dan itu di bintik hitam mata manusia, berubah menjadi denyar ketakutan yang asing.
"Bu…"
Rum tersenyum," apa pak wartawan akan memberitakan soal ombak di mata suami saya?"
"Saya tidak berani, Bu. "
"Kenapa?"
"Ini mustahil, Bu"
"Loh, kok mustahil, bukannya Pak Wartawan sudah melihat sendiri?"

Wartawan itu menggelengkan kepalanya, sepertinya tercekat, kehilangan kata-kata dan komentarnya. Lalu permisi dengan gugup, jelas punggungnya memperlihatkan desau rasa takut. Rum dengan bijak mengantarkan wartawan itu hingga halaman rumah, berpesan dengan suara datar,"hati-hati ya, jangan terlalu dipikirkan…ombak-ombak itu akan tetap di bintik mata suami saya…"

Lalu sorenya Rastam kembali muncul kali ini dengan serombongan manusia yang cara berpakaiannya mirip dengan Rastam. Semua melihat mata Suami Rum dan seperti reaksi yang dapat diduga, semua terdiam, tak berkomentar sepatah pun. Namun wajah-wajah itu seperti wajah yang menahan rasa tidak percaya, wajah seperti di alam mimpi, wajah yang tanpa jiwa.
"Cobalah gunakan koneksimu…telpon siapa saja yang mengurus soal kelautan…" Ucap Rum saat merasakan keheningan menjadi tidak menyenangkan padahal Rastam dan rombongannya menyesaki ruang tengah rumah.
"Oh..baiklah, aku kenal seorang pejabat departemen yang mengurus kelautan.."
"Jangan pejabatnya…telpon yang biasa yang di laut…"
"Ohh…polisi kelautan"
Lalu Rastam sibuk menelpon.  Dari si A sampai Si B; semuanya menjawab belum sempat bermain ke pantai. Jadi soal ombak di mata suami Rum belum bisa dikaitkan dengan perubahan lautan. Belum ada informasi, apakah ombak di pantai ada perubahan atau tersaingi dengan kemunculan ombak di mata suaminya?
"Pak…" Nah, itu salah satu suara rombongan Rastam.
Rastam menoleh,"Iya…ada informasi apa?"
"Ini ada kabar di Blackberry saya…bahwa beberapa pantai kehilangan ombaknya.."
"coba pastikan berita itu…"

Maka sibuklah orang-orang menelpon kemanapun yang mereka pikir akan mendapat jawaban, apakah benar ombak-ombak mulai menghilang di pantai-pantai. Apakah semua gelombang lautan akan berpindah pula ke mata suami Rum?
"Aku merasa mual…" Tiba-tiba suami Rum mengeluh. Rum segera mendekat,"Ombak dimatamu sedang mengamuk, gelombangnya sedang tinggi.."
"Rum…"  Rastam menegur Rum dengan suara mulai mengiba.
"Iya Rastam?" Rum menoleh, penuh Tanya, pandangannya datar.
"Sepertinya…ini suatu kejadian yang luar biasa, sepertinya…ini tidak mungkin, tetapi mungkin. Teryata benar, ombak-ombak mulai menghilang di beberapa pantai!"
"Lalu?"
"Orang-orang pemerintah ingin melihat suamimu…"
"Lalu…"
"Sebentar lagi mereka akan datang…"
Benar seperti kata Rastam, orang-orang pemerintah itu berdatangan bahkan ada polisi yang dengan segala kebingungannya menatap berulangkali mata suami Rum.
"Bagaimana ini?"
"Ya, bagaimana…"Rum menyahut, suaminya nampak mulai kelelahan, lelah karena terus menerusi dipandangi.
"Kalau ternyata ada koneksi hilangnya ombak-ombak di beberapa pantai dengan ombak-ombak dimata suamimu…"
"Maksudnya apa? Suami saya harus mengembalikan ombak-ombak itu?"
"Dengan cara apa?" Rastam menimpali dengan pikiran menerawang, apakah mata itu akan dicongkel? Lalu isinya ditumpahkan?

Maka orang-orang pemerintahan itu berdebat satu sama lain, dan tiba-tiba salah satu dari mereka dengan tegas berkata,"Bawa ke rumah sakit saja…"
"Suami saya tidak sakit, dia malah kelelahan karena terus menerus anda semua memandanginya…Lagi pula saya tidak ada ongkos untuk urusan rumah sakit!"
"Negara akan menanggung, ini masalah gawat…."

Rum mengedik,"Ini bukan masalah gawat, suami saya tidak terganggu, cuma kita yang melihat yang terganggu…"
"Tapi ombak-ombak itu hilang…"
"Maksud bapak, apa? Ingin mengkambinghitamkan suami saya yang mengambilnya?"
Semua saling pandang. Rum mencibirkan bibirnya, menuju pintu rumahnya, membukanya lebar-lebar,"Pergilah kalian semua, saya dan suami saya perlu istirahat, kedatangan kalian sangat kami hormati…

Ah, ombak-ombak itu kini berbuncah-buncah, gemuruhnya mulai terdengar. Suami Rum mendengkur pulas seakan berada di tepi pantai. Sementara di luar rumah kehebohan bercampur panik, berita simpang siur mulai terdengar bahwa ombak-ombak telah berpindah ke mata suami Rum.
Esok pagi ambulans berdatangan, iring-iringan mobil berderet memarkir diri di sepanjang jalan depan rumah. Dagang-dagang asongan seketika muncul. Dokter-dokter ahli didatangkan, paranormal pun silih berganti melakukan aksinya.
"Rum…"
"Tenanglah…kita tunggu saja, apa yang akan mereka lakukan…"
"Bagaimana kalau mataku dicongkel mereka?"
"Untuk apa?"
"Untuk mengembalikan ombak-ombak itu…"
"Kok enak? Memangnya kamu pernah mengambilnya. Ombak-ombak itu datang sendiri, tanpa diminta, lagi pula siapa pemilik ombak?"

Lalu hening.
Seorang paranormal mulai meringkik, memasuki kondisi kesurupan. Semua yang ada di ruang tengah nampak berusaha memperhatikan, walau agak jenuh, sebab sudah puluhan kali ada kesurupan. Tetapi ombak-ombak itu tetap di bintik mata itu. Sedangkan secara medis; hasil lab masih dalam proses.
"Apa kata paranormal itu, Rum?"
Rum menjebikan bibirnya,"sudahlah, suamiku. Paranormal itu hanya menyampaikan bahwa ada penghuni laut yang kesal pada ulah manusia yang bikin hotel seenaknya….alaah, paling-paling dia itu dahulunya kontraktor yang gagal atau calon anggota DPR yang kalah…"
"Tapi siapa tahu, itu benar…"
"suamiku, sudahlah, kita rugi apa?"
"aku rugi ketenanganku…"
"tidurlah…nanti kuusir mereka semuanya…"

Suami Rum memejamkan mata deru ombak itu terdengar. Rum meminta semua orang pergi dari rumahnya, lalu menutup pintu rumahnya dengan rapat. Orang-orang menelan ludahnya, semua merasakan daya cekam itu; ombak-ombak menghilang, berpindah di bintik hitam mata….
Di luar sana orang-orang terhenti langkahnya, debur ombak itu terdengar di telinga mereka; makin lama makin mendekat.....semua memucat. Kota pun itu hening. Hening...

BERLATIH LAGI, MENULIS CERPEN)

TEKS TANTU PANGGELARAN (HASIL KETIKAN TAHAP PERTAMA)

TEKS TANTU PANGGELARAN


DIKETIK DARI SALINAN KOLEKSI KELUARGA
Keterangan lontar ini ditulis diperkirakan pada abad 15. Dan salinannya berupa ketikan dalam kondisi lusuh. Isinya tidak hanya mengenai asal muasal manusia di jawa, juga mengenai asal siwa budha, dll. INI HASIL KETIKAN PERTAMA, karena kondisi yang sangat lusuh, semoga jika ada kekurangan, kesalahan dibetulkan agar bersama-sama dapat kembali membacanya dengan baik. Kemudian mengenai symbol dalam huruf, keterbatasan mata dan penggunaan kumpuiter memungkinkan kekurangan sempurnaan. SALINAN yang ada cukup panjang. dan saya harus mengetiknya pelahan-lahan. agar tidak hilang baik sebagai file, dst;lebih baik saya share, sebab keterbatasan alat dan cara penyimpanan memiliki peluang hilangannya salinan ini.
Salam

Awighnamastu

(1)    Nihan Sang Hyang Tantu Panglaranya, kayatnakna de mpu sangulun, sa mahārĕpa wruherika, ndah ndah pahenak tangdenta mangrĕngĕ ring kacaritanikā nușa Jawa ring açitkala. Iki manușa Tanana, nguwineh sang hyang Mahāmeru tan hana ring nușa Jawa, kunang kahananira sang hyang Maņdalagiri, sira ta gunung magőng aluhur pinakālingganing bhuwana, mungguh ring bhūmi Jambudipa.Yata matangnyan henggang henggung hiking nușa Jawa, sadākala molah marayĕgan, hapan Tanana sang hyang Mandaraparwwata, nguniweh janma manușa. Yata matangnyan mangadĕg bhātarā Jagatpramaņā, rĕp mayogha ta sira ring nușa Yawadipa lawan bhaţāri Parameçwari, yata matangnya hana ri Dhiyang ngaranya mangke, tantu bhaţārā mayughā nguni kacaritanya.

(2)    Malawas ta bhaţārā manganakĕn, yugha, motus ta sira ri sang hyang Brahmā Wișņu magawe manușā. Ndah tan wihang hyang Brahmā wisnu magawe ta sira manusa; lmah kinĕmpĕlkĕmpĕnira ginawenira manușā lituhayu pāripūrņņa kadi rūpaning dewatā. Mānūșā jalu hulih sang hyang Brahmāgawe, mānūsā, mānūsa histri hulih sang hyang wișņu gawe, pada lituhayu pāipurņna. Yata matangnyan hana gunung Pawinihan ngaranya mangke, tantu hyang Brahmāwișņu magawe manūșa kacaritanya.

(3)    Pinatmokĕn pwa hulih hyang brahmā wișūu magawe manusa, sama hatut madulur mapasihpasihan. Mānak taya, maputu, mabuyut, mahitung, munihanggas; wrddhi karma ning janma manușa. Ndah tanpa humah taya lanang wadwan mawuda-wuda haneng alas, manikĕsnikĕs hanggas, apan tan ana pagawe ulahnya, tanana tinirūtirūny tanpa kupina, tanpa ken, tanpa sāmpursāmpur, tanpa basahan, tanpa kĕndit, tanpa jambul, tanpa gunting. Mangucap tan wruh ring ujaranya, tan wruh ri rasahanya; sing roņdon mwang wohan pinanganya; mangkana hulah ning janma mānūsa ring usana.

(4)    Yata matangnyan mapupul mapulungrahi sang watek dewatākabeh, manangkil ri bhatāra Guru. Tuwan bhaţāra Jagatnātha manuduh watĕk dewatāgumawaykna katatwa pratișţa ri Yawadipāntara. Nāling bhaţāra mahākarana.

(5)    Anaku kamu hyang brahmā, turuna pwa ring Yawadipa; panglandĕpi pĕrang perang ning manūșa, lwirnya: āstra, luke, tatab, usu, pĕrkul, patuk, salwirning pagawayaning mānūsa. Kita mangaran pande wsi; kunang denta manglandĕpanāstra, ana windu prakāça ngaranya. Mpune sukunta kalih mangapita nabuka; paradakĕn tang ayah çarasantana. Malandĕp tang astra dene mpune sukunta kalih; matangnyan mpu sujiwana ngaranapande, apan mpune sukunta manglandepi bayah. Matangnya mpu ngaranta pande wși, apan mpune sukunta çarana. Samangkana pawkasangku ri tanayangku.

(6)    Muwah tanayangku sang hyang Wiçwakarmma, turun pwa ring Yawadipa, magawe umah tirunĕn ring manușa; tinhĕr ngarananta hundehagi. Kita tirunen ing manusa magaweyumah, kitangaran huņdeahagi.

(7)    Kunang kamu hyang Içwara, turun pwa ri Yawadipa, pawarahwarah tikang manușa warah ring sabda wruhanya ring bhāșā, nguniweh warah ring daçaçila, pañcaçiksa. Kita guruwa ning rāma deça, matangnyan Gurudeça ngaranta ring Yawadipa.

(8)    Kunang kamu hyang wișņu, turun pwa ring Yawadipa, kunang pituhun sawuwusta dening manușa, sapolahta tirunĕn dening manușa. Kita guru ning janma manusa, amawa rāt kitānaku.

(9)    Kunang kita hyang mahādewa, turun pwa ring Yawadipa, papande mas, pagawe hanggonanggoning manușa.

(10) Bhagawān Ciptagupta manglukisa, hamarnnamarnnaha lĕngkara, sakarāpaka ri cipta, maçarana mpune tanganta, matangnyan mpu Cipta, macarana mpune tanganta; matangnyan mpu Ciptangkāra ngaranabta nglukis.

(11) Samangkana pawkas bhatāa Guru ring dewatā kabeh; yata sama tumurun maring Yawadipa. Hyang brahmā pande wsi, inarșayanira tang pañcamahābhuta, lwirnya: pŗthiwi, āpah, teja, bāyu, ākāça. Ikang pŗhiwi pinakaparwan, āpah pinakacapit, teja pinakahapuy, bayu pinakahububan, ākāça pinakapalu; yata matangnyan hana gunung brahmā ngaranya mangke, tantu hyang brahmā pande wsi ngūni kacaritanya yata tkaning mangke. Palu parwan sawit ning tal göngnya, susupitnya sapucang, hyang bāyu mtu skaing guhā, hyang agni hana rahina wngi, apan tantu hyang brahmā kapņde wsi kacaritanya.

(12)  Tumurun ta bhagawān wiçwakarmma huņdahagi magaweyumah, maniruniru tang manușa magaweyumah, pada taya momahomah. Yata hana deça ring Mdang Kamulan ngaranya mangke, mulaning mānusāpomahomah ngūni kacaritanya.

(13)  Tumurun bhatārāçwara mawarahmarah ring çabda rahayu nguniweh ring daçaçila pancaçiksa. Sira ta Gurudeça panĕnggah ringkana.

(14)  Jĕg tumurun ta bhatāra wisnu kalih bhatārī çri jĕg ratu sakeng awangawang. A ngaraning Tanana, wa ngaraning maruhuhur, hyang ngaraning bhatāra; matangnyan ta rahyang kandyawan ngaran bhatāra wișņu. Sang Kanyawan ngaran bhatārī çri ri nagara ring Mdang Gaņa, apan mulamulaning nagara kacaritanya ngūni, apan sira amarahmarah ring manusa; yata wruh mangantih manĕnun makupina madodot matapih masampusampur.

(15) Bhatāra mahādewa sira tumurun mapandemās; bhagawān ciptagupta sira tumurun anglukis.


(HASIL KETIKAN SALINAN TAHAP PERTAMA (1) )

SINOM FISBUK......SEMOGA NGTREND...BAHASA MENUNJUKAN....


Ampura, niki wau malajah, dumadak membah malih ngurit ngarupak ring jagate,  becik malih ring fisbuke....mangde sekadi gaya siaran radio niki; raris cawisang

MALAJAH PADALINGSA; PUPUH SINOM (WATEKAN) SEMUT
kasurat olih Cok sawitri

nutug pajalan sumangah
tendas kembung kulit ngendih
Sliwar sliwer joh ken tanah
Jeg ngatitem mamedihin
apan mrasa banya tinggi
semut agung tendas kembung
buntut gemol ceking bancang
deratdat derutdut banggi
alah guyu
nanging tosing tepuk gumi


nang ke sidem sambatang
awak selem kulit lanyig
tendas cenik panyuh celang
akecritan mata pedih
kucekang kang nyumingkin
merem gandem pala ngadu
ngae taluh bilang dangka
sulur sidem mule cungkling
saget nyaru
nden tatas ba ngariamin


samaluh ngagelar solah
awak gede ngajejehin
mapimapi dadi sumangah
tosing belur yan nyingetin
pragat solah ngaranyik
gaya jamprah landa lundu
belog conol tiwas lekad
kaplag kaplugang joh kori
tosing tahu
I jelajag manyurakin


paling jelajag matindak
pati kaplug uyang paling
bes kaliwat ngamah gula
tosing nawu rasa lepis
punyahe ulian manis
wadih kanti srayang sruyung
bayu pusang kerem gula
gobane lemlem ngadingkling
raris nudut
Ngariamin awak padidi

Nang I bekis takonang
suba cenik keneh bengis
demen sajan ngadad-adag
nyenget ngipuk ngagenitin
gibel-gibel medihin
I bekis masolah lugu
buyar yar palaibe samprag
demen nimpung getih mati
alah alu
getarang ngaliwes ilib


Yan patapaan I rangrang
batis sengkok kumis muing
awak gede mula gagah
kulit selem caling renggah
di padange manyelisik
tepuk timpal kaden satru
alahang jangkrik kapluggang
demen saje matimpal mati
nyama adu
tepuk cepok ngepet pati


semut api bablakasan
nyander salap alah angin
cegut kulit kebyahkebyah
sliabsliab kembung api
calinge maguna gni
awak kieng ditanah manyaru
matambus sai mapanggang
ulian cenik meled sakti
umah abu
kaasihin sih olih api


(batubulan naweg purnamane)

SEBELUM KAU BERBUSA BICARA TENTANG DIA....MINIMAL BACALAH INI

HOPPLA!
oleh chairil anwar

Bagi seorang yang bisa menulis menurut
Kepercayaan yang sudah mendarah-nanah
Dalam dirinya, bukan menurut kepercayaan
Yang masih diharapkannya.



Jika kita memaling ke belakang, kita dapati "Pujangga Baru" terlahir dalam 1933 bersama dengan terebutnya oleh Hitler kekuasaan di Jerman, tetapi majalah ini selama hidupnya hanya memuat satu artikel dangkal tentang fascisme! Di samping itu melengganglah "Pujangga Baru" dengan nomor-nomor pertamanya berisi esei yang tidak berdasarkan pengetahuan (dalam arti seluasnya!) kesusastraan, meneriakan "pembaharuan". Tetapi oleh karena memang ada intensitas dalam golakan mulanya, tersembur jugalah beberapa ikatan sajak "pembaharuan’. "Jiwa Berjiwa" oleh Armijn Pane: tidak satu sajakpun dari kumpulan ini yang tinggal lagi dalam ingatan. "Tebaran Mega’ oleh Takdir Alisjahbana: 2 atau 3 sajak duka ketika kematian isterinya turut menyembilu hati. Beberapa pula dari Or. Mandank yang bersahaja menggores.

Puncaknya dalam gerakan Pujangga baru selama 9 tahun adalah Amir Hamzah dengan prosa-prosa lyris, sajak-sajak lepas, 2 ikatan sajak: "Buah Rindu", "Nyanyi Sunyi", salinan dari beberapa sastrawan-sastrawan Timur yang ternama, disatukan dalam "Setanggi Timur’. Kata kawan-kawan seangkatannya Amir Hamzah dapat pengaruh dari pujangga-pujangga sufi dan Parsi. Tetapi yang perlu diperhatikan bagi saya ialah, bahwa Amir dalam "Nyanyi Sunyi" dengan murninya menerakan sajak-sajak yang selain oleh "kemerdekaan penyair’ memberi gaya baru pada bahasa Indonesia, kalimat-kalimat yang pedat dalam seruannya, tajam dalam kependekannya. Sehingga susunan kata Amir dalam "Nyanyi Sunyi" ialah yang dinamakan "puisi gelap" (duistere poezie). Maksudnya: kita tidak akan bisa mengerti Amir hamzah, jika kita membaca "Nyanyi Sunyi" sonder pengetahuan tentang sejarah dan agama, karena kalimat-kalimat Amir di sini mengenai missal-misal serta perbandingan-perbandingan dari sejarah dan agama (keislaman). Kalau kawannya Takdir menempatkan Amir sudah ditingkatkan "internasional", saya hanya bisa menerima kegembiraan ini dalam arti: puisi yang dilahirkan Amir bisa digabungkan pada hasil pujangga-pujangga lain di masa kini. Karena puisi amir juga meminta ‘pengetahuan", tenaga rohani si pembaca.

Dalam waktu belakangan dari Pujangga Baru menjejer lagi seorang Karim halim, yang menuliskan 4 atau 5 sajak untuk kenangan, dan Asmara hadi dengan kelantangan pekikan perjuangan, sepoi lagu cintanya bisa dicatatkan juga. Selain itu beberapa kritik serta polemic yang tidak berdasarkan pengetahuan dan kepribadian (personality) mencoba meributkan kehidupan "Pujangga Baru" yang sebenarnya tidak membawa apa-apa dalam arti penetapan-penetapa kebudayaan. Jadi: "Pujangga Baru’ selama 9 tahun tidak memperlihatkan corak, tidak seorang pun dari majalah tersebut sampai kepada suatu ‘perhitungan’. Maka datanglah "Kulturkammer’ Jepang dengan nama "Pusat Kebudayaan" yang memberi kesempatan tumbuhnya "kesenian’ dengan garis-garis Asia Raya-jarak-kapas- memperlipat ganda hasil bumi-romusha-menabung-pembikinan kapal dan lain-lain. Dan terjelma pulalah pasukan seniman muda yang dengan patuhnya tinggal dalam garis-garis tersebut, tidak sedikitpun berdaya meninggalkannya!!! Tidak mereka tahu bahwa berates seniman-seniman di Eropah (Jerman, Itali), di Jepang sendiri, menentang dengan pertaruhan jiwa, yang meninggalkan negeri yang dicintainya karena aliran kebudayaan paksaan ini. Yang berpendirian: lebih baik tidak menulis dari pada memperkosa kebenaran, kemajuan.

Sekarang: Hopplaa! Lompatan yang sejauhnya, penuh kedararemajaan bagi Negara remaja ini. Sesudah mendurhaka pada Kata kita lupa bahwa Kata adalah yang menjalar mengurat, hidup dari masa ke masa, terisi padu dengan penghargaan, Mimpi, Pengharapan, Cinta dan Dendam manusia. Kata ialah kebenaraan!!! Bahwa Kata tidak membudak pada dua majikan, bahwa Kata ialah These sendiri!! Dan waktu lampau cuma mengajar kita : didesakkannya kita ke kesedaran yang ada memang dalam diri sendiri; harga-harga kerohanian yang sudah terobek-robek kita raba kembali dalam bentuk sepenuh-penuhnya. Dunia- Terlebih kita- yang kehilangan kemerdekaan dalam segala makna, menikmatkan kembali kelezatannya kemerdekaan.

Kemerdekaan dan Pertanggungan Jawab adalah harga manusia, harga Penghidupan ini. Dan apa sajapun tidak akan membikin kita rela menekan diri sendiri lagi…………..

Hopplaa!! Melompatlah! Nyalakan api murni, Api persaudaraan bangsa-bangsa yang tidak akankunjung padam.

Hopplaa! Mari kawan-kawan seangkatan, kita pahat tugu pualam Indonesia sempurna. Dunia sempurna….



(Dipetik dari Chairil Anwar, Pelopor Angkatan 45, H.B.Jassin)