Teater Bali: Di Era NARAMANGSA - Manusia Memakan Kemanusiaannya (bag.I)


Di Bali, sejak tahun Caka 818, teater atau drama telah ada. Tidak sebatas sebagai kegiatan pengisi waktu, namun ditempatkan sebagai profesi, yang mendapatkan perlindungan hukum dari penguasa. Juga drama atau teater telah terorganisir sebagai kelompok yang menerima upah serta diduga telah memiliki tradisi kurasi yang berdasarkan track record dan proses kreatif- pengalaman pentas di depan penonton dan penguasa.

ADAPTASI NASKAH THE DANGERS OF TOBACCO KARYA ANTON CHEKOV


BAHAYA 'RACUN' TEMBAKAU

Panggung dibangun sebagai ruang seminar yang khas mengesankan sebagai ruang seminar  klub intelektual, atau di sebuah klub elit social di sebuah kota kecil. Ical Nyukhin melangkah masuk dengan penampilan yang mengesankan; berkumis rapi dengan cabang yang seperti disisir serta jenggot yang jelas terawat, kumisnya rapi dan dia mengenakan mantel, celana panjang yang kencang dan dasi yang nampak dibalik rompi. Langkah-langkah Ical Nyukhin seperti meniru bentuk salib: maju mundur, ke kiri dan ke kanan, sebelum akhirnya terhenti di ujung tengah ruangan, di dekat sebuah mimbar, dengan meja kecil di sebelahnya, sebuah laptop dan layar lcd setengah menyala dan ical nyukhin segera membuka mantelnya dan menyesuaikan rompinya agar jasnya nampak tak kusut.

SUNYA NIRVANA Telah Menari Dihadapan SANG GURU (para PEDANDE BUDHA di budhakeling)


Akhirnya, drama tari Percakapan Sunya Nirvana ini pentas di desa Budhakeling (19 Oktober 2010), Karangasem Bali, di griya jelantik, di rumah kaum brahmana budha bali, yang sejak lama dikenal sebagai brahmana yang menguasai berbagai keahlian seni. Dari ngewayang, gambuh, ngarja, prembon, nopeng, juga memainkan alat musik dari gender hingga cungklik. Kaum budha di Bali ini memang berbeda dengan 'gaya' budha-budha di daerah di Indonesia begitu pula di belahan dunia yang lain; mereka dari garis Mahayana namun berbasis bajrayana pada tekanan tantrayana; lebih suka menyebutnya dengan mantranaya; disinilah, kakawin Sutasoma biasa dibacakan dan menjadi rajapustaka; para pewaris semangat Mpu Tantular ini kini berkembang menjadi komunitas yang cukup banyak; walau banyak dari keturunan Budhakeling ini berpindah ke luar desa; entah dalam kerangka tugas spiritual, entah juga karena tuntutan perubahan zaman. Mereka itu memiliki silsilsah sejarah yang bermula dari Dang Hyang Astapaka: pendeta budha yang datang ke bali atas undangan Dalem Waturenggong di gelgel dalam rangka menyelesaikan suatu upacara. Itulah awalnya, Dang hyang astapaka memulai puja tapanya di budhakeling dan kemudian mewariskan tradisi tak hanya spiritual namun tradisi berkesenian.

Mengenali Secara Sepintas MAGURU SISIA dalam Tradisi SIWA BUDHA di Bali (1)


Dalam tradisi hindu di Bali ada yang disebut sang sulinggih (ida pedande), mereka (dia) yang telah melewati upacara madwijati  (masuci,madiksa,mabersih, mapeningan, atau juga ada yang menyebut dengan mapodgala). Mereka itu yang berkeinginan menjadi sang sulinggih telah menyiapkan dirinya secara sekala dan niskala. Sang sisia, setelah memantapkan dirinya bersiap untuk berkosentrasi mempelajari ajaran suci.

Nanti di 19 Oktober; BUDHAKELING dalam Percakapan SUNYA NIRVANA


Bagi saya, desa Budhakeling begitu dekat di hati; sejak kecil saya tahu, secara spiritual, keluarga saya 'masurya ke para pendeta budha'. Masa kanak saya pun banyak berhubungan dengan keluarga brahmana budha di Budhakeling. Di setiap upacara keluarga, selalu saya akan bertemu dengan mereka; hubungan yang dekat, hampir tanpa batasan, mirip hubungan keluarga.