Balada Setangkai Daun Jatuh, Meledakan Khayalmu

setangkai daun jatuh
meledakkan khayalmu
meledak ia menjadi serpih
kepingnya semoga tak melukai
jemarimu yang kusut
menahan rasa dingin

jangan tatap mataku
sebab kilaunya kan memantul dihatimu!
ada peri didalamnya
yang kelak iseng selalu datangi mimpi-mimpimu

Seperti Dermaga Yang Tak Bertanya

sedang hatiku
seperti dermaga yang tak bertanya
perahu siapa yang kan buang sauh

ah, pagi yang mana
akan kembalikan hati
percaya embun di jemarimu
jadi gigir didadaku

ah, malam yang mana
akan kembalikan kerinduan
percaya hati jadi hangat
bila didekatmu

Kuberi Hatimu Sayap

kuberi hatimu sayap
agar bebas terbang kemana-mana
melayanglah!

aku tengah belajar kesabaran
pada kembang sepatu yang tak miliki keharuman
pada alir air yang mencari tujuan

melayanglah!
semua peta telah kau miliki
tak kan lagi kau tersesat oleh kata manis
cinta ataukah bukan
bulan mati ataukah purnama
aku beri hatimu sayap
pergilah!
takkan ada lambaian tangan kehilangan
telah cukup segala macam percakapan
bila tak ada keberanian
tak akan ada penantian
cinta atau bukan
kuberi hatimu sayap
melayanglah!
sebelum kasihku jadi beban yang melelahkan!

(batu bulan, cok sawitri, 2009)

Pernah Aku Menjadi Apa Saja Untukmu

pernah aku diayun senyap
memburu pencuri hujan
bersekutu dengan raja dewa
dalam gemuruh melupakanmu

angin yang mati
kusimpan di hati
tak lagi mendesir
bila namamu diucapkan hari

pernah aku menjadi elang
mengincar buruan
bersekutu dengan rasa lapar
dalam cabikan aku kubur bayangmu

Atas Nama Cinta

Lalu kau menatapku demikian lama;
wajahmu, wajah purnama yang menentramkan. Kuharap hujan tak turun,teranglah cuaca hati, jangan tersendak rasa bersalah.
Entah kapan mulainya, aku tak lagi bisa percaya akan kesetiaan.

Tanpa keperihan, atas nama cinta, kau pemilik kebebasan burung-burung pagi;
danau di lembah, cemara dipegunungan, terbanglah singgah;
tak juga akan menyarangkan kecemburuan.

Lalu matamu berkerjap perih,
bujukan-bujukan itu kehilangan nyalinya; membentur kesenyapan, membenturkan kerikuhan. Bukankah ini yang diharapkan, tak ada ikatan, tak membebani langkah tujuan; jeda angin mengembalikan kataku pada dendang yang menikam.