Dengan Nakal Kusimpan Kerlip Matamu

isengku,
sekapur sirih
telah meminang senyum manismu
jadi pakis pagi hari
dalam rimba anganku.
angin yang cemburukah
atau matahari yang risau
"hati-hati tak ada hati yang tak jatuh di sini,"
bisikan itu melajulah jauh ke hati
membuatmu guncang saat bertukar tatap denganku
ah, dengan nakal kusimpan kerlip matamu
berkediplah bintang di dadamu
"jernihkan pikiranmu, jernihkan…"
sebelum hujan turun tak dimusimnya

Terjaga Aku

selagi di luar hujan turun
rasa sepi mendinginkan hati
sendiri aku
berapa tahun lagi ingatan ini merapuh
dari bayanganmu?
lagi juga
rasa getir menikam kepala
kian tegas digelap hujan, wajahmu
menggasing aku dalam ketermanguan
rasa lelah mengunang
berkecipak air di halaman
di bawah lampu itu berkilau
seribu dusta dan keluh kesah
jadi pukau
berapa tahun lagi ingatan ini merapuh
sembuhkan perih
yang mencurah selalu
sebab cinta tak lagi di hati
sebab waktu t inggalkan aku

selagi di luar hujan turun
lagi, bayangmu melintas di semua silir air
disemua kemilau kecipak air
merapuhkan pikiran
sendiri aku
memantun sepi
digasing rasa pilu

(ubud, hari kedua, cok sawitri, 2009)

Tak Terkira Kuyupnya Aku

tak terkira kuyupnya mata
saat langkah hari berlalu
membawamu

setangkai daun jatuh
sembilulah aku
mestinya kukatakan padamu
jangan pergi, duduklah di sini
izinkan aku bacakan satu puisi
tentang mimpi yang mencuri lelapku
pada senja yang muram
entah jemarimu atau aku
memetik semua kembang
lalu harum tubuhmu mendekap erat
melekat dikulit lengan
menjatuhkan hatiku; tak terkira kuyupnya

saat langkah hari berlalu
membawamu
entah jemarimu atau aku
kembali memetik setangkai kembang
harumnya melimbungkan aku.

(ubud, hari ketiga, cok sawitri, 2009)

Bukan Hariku


pernah kutulis di angin
sajak cinta untukmu
hujan mengaburkan, matahari menghanguskan
namun abunya pastilah sampai di hatimu

pernah airmataku menetes tanpa alasan
memerihkan ingatan
seperti menghadapi kematian
hampa demikian dada
kukira-kira engkau seperti yang kupikirkan
gamang menegakan diri dalam keriuhan hari
antara tepuk tangan dan tawa riang
semoga abu itu membuat nafasmu tersendak

Jangan Biarkan Gadis Itu Jatuh Cinta

jangan biarkan gadis itu jatuh cinta
matamu telah lupa rupa airmata
hati siapa mendatar usai digaru?
hanya mata bajak yang paham akan hal itu

“ingat kasih, sita yang agung pun ditelan bumi, akhirnya”

tak terhitung namun harus dihitung
rupa hujan dengan tetesnya
keluh ranting kehilangan bunganya
hatimu mendingin saat musim memancang seribu matahari sekalipun!

‘tak ada keharuman yang tak jatuh kebumimu!
”tak ada usia yang tak temui akhir hari”

jangan biarkan gadis itu jatuh cinta
walau harimu memasuki musim bunga
semua hati adalah ranting
yang patah saat bunga ditampar angin
sungguh, tak akan terkira pedihnya
seperti wajah hujan yang engkau lupa
tetesnya luruh jauh ke segala musim

(cok sawitri, ubud 2009)