Kisah Cacing Yang Sederhana

Suatu hari Rsi Abyasa, Rsi yang menguasai ilmu di tiga dunia berjalan di jalan raya ramai penuh kereta, tak sengaja ia menunduk dan melihat ada seekor cacing yang melintas diantara roda-roda kereta dengan gerakan gila. Dengan heran Abyasa memperhatikan, hingga si cacing tiba di tepi jalan. Lalu disapanya si cacing dengan bahasa cacing,"Hai, temanku, kenapakah engkau melintas sedemikian rupa.."
Si cacing menjawab,"Hamba benar-benar takut dengan derak-derak roda kereta, suara derit lecutan penghela kerbau...hamba takut tergilas. Hidup ini tuan, sungguhlah berharga, hamba tak mau meninggalkan surga kehidupan lalu menuju neraka kematian...Hanya karena hamba tak berusaha menghindari roda-roda kereta itu.."

Setelah Rama Patahati...

Setelah Rama patahati, sebab harus membuang Sita di tepi gangga, demi menjaga citra sebagai lelaki dan raja; sebab tidaklah mungkin berdebat dengan seluruh rakyat untuk menjelaskan kalau Sita itu tetap setia walau sudah diculik berbulan-bulan oleh Rahwana. Sudahlah. Rama memilih menjadi raja patahati dan menyibukan diri dengan pekerjaan mengurus rakyat, sehingga lupa akan rasa patahatinya.

Biarlah demikian, pikirnya, dengan hati berderak pedih. Selalu tegak, agung dan berwibawa walau hati tersaya-sayat dalam rindu nestapa; rasa bersalah juga tak berdaya! Ah, pagi itu seperti biasa, Rama dengan semangat sudah memulai pekerjaannya sebagai raja, memberi keadilan kepada rakyatnya. Diperintahkannya Laksamana,"Bawalah semua orang yang meminta keadilan kehadapanku, tak perduli siapapun dia bawalah, sebanyak apapun, bawalah kepadaku...mahluk apapun!"

Sembada, Dari Kisah Tantri Kamandaka: Kematian Karena Bercerita Tanpa Bukti dan Saksi

Entah. Entah apa yang menuntun Patih Sembada pagi itu mendekati tepi danau. Tak ada kerisauan, tak ada kekecewaan. Hatinya lapang, pikirannya terang. Pekerjaannya baik-baik, keluarganya pun baik-baik. Kesehatan dan kesejahteraannya pun baik! Namun entah kenapa, pagi itu ia melesat menuju tepi danau dan kemudian terpana saat menyaksikan, di seberang sana, di batas antara wilayah kerajaan hutan, di bibir danau; istana indah telah berdiri megah.

Patih Sembada benar-benar tercengang, bagaimana tugasnya sebagaimana patih adalah berkeliling, memeriksa dan memastikan wilayah kerajaan hutan aman dan tentram, menjaga kewibawaan dan martabatnya sebagai wilayah. Di bawah pimpinan maha raja harimau bergelar Sang Mong yang memiliki pasukan tak terkalahkan, ratusan srigala, ribuan kera, jutaan semut merah, maka hutan dandaka ini adalah hutan yang paling ditakuti oleh siapapun ia, jika bukan warga negara kerajaan hutan. Kini, apa maksudnya istana megah dibangun dibatas wilayah kerajaan? Malah kaki-kaki bangunannya seolah sengaja menjuntai ke bibir danau! Lalu apa maksudnya nyanyian, musik dimainkan demikian keras seakan menyampaikan; pesta tengah dimulai, seolah tak peduli akan keagungan Sang Mong. Patih Sembada mendengus, berpikir keras, menduga-duga...

Yuk Nulis Puisi Boeat Lupakan 'pulitik' Negeri ini..

rum menangis, saat kukatakan cinta, hujan turunlah menandai airmata,
nujum birahi, hati jadi senyap; sebab rum tahu, aku akan pergi, cinta tidak boleh mengikat,
tak boleh itu menyalahi kebebasan, asal muasal kenapa hujan dapat turun,
sebelum ayat-ayat dibacakan; mengutuk ciuman pengakhiran.
bibirmu kenyal, dadamu naik turun, deru ombak yang hanyutkan jung
membawa kita ke jauh ke dasar, bertemu para penghuni gelap
mereka beristana satu batu!
lemparlah, agar setan-setan pergi dari isi kepala
rum melenguh mengulurkan tangan, merengkuh kepalaku: batu akan menancap di keningmu!
tetap juga cinta ia ucapkan.

Sinopsis Novel Sutasoma


Novel ini diawali dengan kisah latar belakang Jayantaka, raja kerajaan Ratnakanda yang menyaksikan konflik dan carut marut keluarga kerajaan saat ayahnya masih menjadi raja. Berbagai ambisi terbuka akan kekuasaan dan jabatan, juga persaingan terselubung, politik istana yang saling tarik menarik menyebabkan Ratnakanda pelahan berada diambang kehilangan kedaulatan. Kesadaran untuk membenahi kerajaan yang dilakukan raja Ratnakanda justru mendapatkan perlawanan dari kerabat keluarga, hingga timbul kerusuhan yang tidak hanya mengorbankan nyawa tetapi juga hubungan persaudaraan. Jayantaka dinobatkan di masa perkabungan, dalam usia 16 tahun, yang secara keras dipersiapkan oleh ayahnya menjadi raja dengan tugas utama mengembalikan kedaulatan Ratnakanda. Jayantaka lalu menetapkan dharma negara dan dharma agama, yang didorong oleh kaulnya kepada Sang Hyang Kala, yakni perjanjian akan mempersembahkan 100 kepala raja, yang menyebabkan banyak negeri menjadi resah saat menyadari Jayantaka benar-benar memenuhi kaulnya juga tanpa kompromi menerapkan dharma agama yang diyakininya yakni agama siwa. Karena tak cuma menaklukan wilayah juga menawarkan penerapan dharma agama yang diyakini, Jayantaka digelari Sang Porusadha, sang pelahap kepala raja.