Aku Tak Kan Mengirimi Kau Bunga

Aku Tak Kan Mengirimi Kau Bunga



kau

tersanjung puisi ini

bulan di pucuk cemara

bukit-bukit menggigil

       aku

       tak cemas pikiran-pikiran

       mengusik perasaan dengan kata manis

       melambungkan perkiraanmu

       mengundang tawa kecil

       jadikanlah berita seakan dikejar petaka

kau

mendaki langit berundakan lehermu

dagumu membelah kening

candi yang rubuh

oleh puja-puji

           aku

           tak akan tertawa

           tetap menjaga mata duka

           merana menatap rembulan

           saat sepi

           semut memindahkan remah

           meminangmu memasuki gegar

Aku

pasti, hanya kata

rayuan tak seikat bunga

tak akan kukirim

walau kau

            menjinjit cerita

            seakan aku jatuh cinta

            sebab karena kata-kata

aku lupa

mabuk yang keberapa

memujamu bak berhala



(batubulan, 2015)

Testimoni (1)

Testimoni (1)



pernah

aku seperti yang lain, yang lain seperti aku

sembunyi dari patahati

membungkus sedih dengan puisi

mendandani dukacita dengan tawa


pernah

lautan temanku berkisah

sunyi karibku bercakap

melapisi tatapan dengan senyuman


pernah

hampa mengenalkan dirinya

nyeri menggariskan jejaknya

pernah

seperti tangan pelukis

mengubur kisah dengan warna

gelap menyala dilubuk duka

tak ada airmata. Keluh kesah pun: tak!


seperti yang lain, yang lain seperti

aku dustakan perih luka, perih luka dustakan aku

meledakkannya dalam tawa, tawa menghanguskannya

membiarkan, segalanya tak terduga.



(batubulan, tahun 2015)

Suatu Waktu Mengenangmu

Suatu Waktu Mengenangmu


kaukah yang melintas

desau angin dalam keriuhan jalan

ingatkan aku pada satu menu:

udang dililit bacon, roti dibalut butter

matamu lembut berkerjap:

menepuk punggung tangan

kopi dengan rasa asing di lidah

ah, perapian di seberangku duduk

menceburkan ingatan ke lamunan

asap itu tenggelam aku!

malam-malam pernah berbaring beratap ilalang kering

mengejar jarak ubud-denpasar-airport

cerita menjadi kata-kata beku, kini

hampir tengah malam

beberapa toko menunda langkah

baju hangat, kemeja dan topi

memanjangkan hari jalan di sisimu

payung, akar-akar remang dari dinding tanah

memekik dalam diam hati:

mengapa kita berpisah?



kaukah yang memintas

dalam potongan sayur di piring salad

anak-anak itu mengangsurkan tiket

malam senyum, gerimis tipis

turun tepuk tangan di waktu kita menyeberang

memegang lengan kelam, tinggalkan keriuhan

kelam melelahkan hati,

malam menyimpan kenang

jalan-jalan memungut ingatan sepanjang malam

sempat, aku simpan sehelai daun kering

lalu remuk oleh amarahku



riuh tepi jalan, kini

memberiku tempat buat sembunyi

berkali-kali memandangi setapak

diseberang pasar telah berdandan

menyisakan bayang di pohon pohon

berdirilah di sebelahku menukar senyum

lalu kini menjadi sunyi yang pedih



kaukah yang melintas

menyapa dalam desau angin

memurungkan cahaya lampu lampu

mengherani aku: mengapa tak sanggup lupa

kenangan telah uzur, kalender puluhan kali diganti

kaukah yang memintas?

malam-malam ditepi jalan, menegur rahasia hati ucapkan selamat tinggal, kini

yang tak pernah sempat kita ucapkan.


(batubulan, tahun 2015)

BILA 1/2 CINTA, 1/4 NYALI PATAHKAN AKU

BILA 1/2  CINTA, 1/4 NYALI PATAHKAN AKU

masih,

aku lamunkan kau

tamasnya ke tepi pantai

ketapang-ketapang murung

cangkang-cangkang kerang

lukai jari manismu

'ceritalah tentang kekasihmu

bahagia ataukah dukacita

ombak berkali kali menyalami

perpisahan dikering matahari

keringatku menyerikan lukaku ’



aku cemas, menjadi pandir

berdiri rikuh karang-karang

sembunyi ikan dalam genang

menyurut laut purnama menjauh

ganggang tumbuh di rahasia waktu

lumut jatuhkan keberanianku



masih

aku menarik nafas mengusir sengal

apa yang dilukis hujan?

derai sedih warna-warni

sebab aku bisu, hilang ucap

buat membilang jumlah rindu

genangan dimataku menjelma gulma

tenggelamkan lamunan lamunan


masih,

membenam dibalik pasir

dihempas angin, dihempas takutku

patah, patahlah aku.

sekali itu masih di khayalanku

(batubulan, 2015)

KAU TAK BOLEH TAHU, AKU JATUH CINTA

padamu

lupakan jalan jalan bersisian

setapak berliku penuh bunga

dibahu kiri melihatmu senyum



kudongengkan kurcaci-kurcaci kecil

agar kau tertawa

lupa di bahu kananmu

kesedihan hati melelehkan perih

ikut melangkah ditiap-tiap tawa



di bidang lidahku terpahat kisah

dalam dada perahu-perahu sunyi

menepi menjauhi pantai

kau tak boleh tahu

pasir-pasir memasuki mata

debur ombak mencuri nafasku



padamu

kubikin langit jatuhkan hujan

membasuh keluh kesah

hingga kini kusimpan simpan tatapan

bila berkali-kali

kau tak boleh tahu

dalam igauku

kecemasan berbaring pilu

dekat telingamu, di hati:

"aku cinta, semoga kau tak tahu"

 (tahun 2015, batubulan)