Cerita Serial: Kalki Bagian 2

Cerita Serial: Kalki
Bagian 2

    Kampus klasik,  hanya tersisa di beberapa wilayah, menimbulkan pro dan kontra antar kaum. Revolusi pendidikan sudah terjadi puluhan tahun bahkan pernah mencapai puncaknya dengan penyanderaan serentak seluruh kaum pelajar. Untungnya itu kemudian berakhir damai dengan satu alasan; pengetahuan tetap milik semua! Namun sejak itu sistem pendidikan berubah radikal, tetapi beberapa kampus berjuang mempertahankaan sistemnya dengan dalil heritage.
    Anggota kaum elite kota secara oportunis mengatakan, "bahwa pembiayaan kampus klasik sewajarnya ditanggung oleh seluruh umat manusia…" Tetapi tak mendapatkan tanggapan dari pihak manapun, sebab semua telah membangun sekolah-sekolah sesuai dengan kesepakatan kaumnya. Kampus Klasik terselamatkan sebab para pengajarnya, para guru besar di seluruh dunia secara bijak melakukan fundrising dan mengumpulkan dana abadi agar semua kaum mendapatkan kesempatan mempelajari ilmu-ilmu klasik; dari ilmu ekonomi sampai ilmu kimia, tetapi yang paling bergengsi adalah ilmu sejarah, kaum historian adalah kaum terhormat hingga kini walau konflik internal mereka selalu panas dengan cara pandang yang berbeda-beda terhadap berbagai peristiwa sejarah.
    Larung memasuki kementerian utama kaum kota dengan langkah tenang, mata lurus ke depan; dahulu mereka menyebut kementerian itu sebagai kementerian yang mengurus pendidikan. Semua sistem yang masih mengakui tata kelola pemerintahan klasik di setiap kota di seluruh dunia mempertahankan sistem pendidikan yang sama; struktur hirarkis, yang sudah tentu ujung-ujungnya kekuasaan, kini mungkin jauh lebih lentur, dibandingkan dahulu yang dikuasai penguasa kota yang rata-rata keras kepala dan sok tahu soal kebutuhan pendidikan. Walau hingga kini, karakter kaum elite kota tetap sama: merasa harus dominan untuk apa saja…Namun sesungguhnya, mereka kalah total, korupsi yang dulu menjadi bagian dalil kekuatan mereka kini menjadi boomerang, semua pundi-pundi mereka harus digunakan untuk meraih kepercayaan rakyat perkotaan dan membangun fasilitas kembali setelah perang kota berkepanjangan.
    "Kami sudah membaca isi pesan dari kaum gunung. Sesuai dengan perjanjian gencatan senjata dan hak-hak yang semestinya dikuasai oleh rakyat di dunia, tentu saja kami tak akan menghalangi kaum gunung mengirim siswanya sebagai duta ke kampus klasik, itu sistem yang merupakan warisan kaum kota, bukan?"
    Larung menyimpan senyumnya di mata. Di segala kesempatan, kaum politician yang menguasai kota akan bicara tentang betapa hebatnya sistem mereka dan betapa ruginya jika tak kembali ke sistem lama, sistem yang memusatkan kekuasaan pada ibu kota!
    "Saya hanya utusan dan menanti kepastian, kapan para siswa dari kaum kami boleh memasuki asrama kampus, para pemimpin di seluruh dunia, yang menjadi jaringan kami, menanti ketaatan akan gencatan senjata ini…"
Larung tak terpancing memasuki perdebatan, diplomasi pun sebenarnya bukan alat yang memadai di zaman seperti sekarang ini.
    "oh, segera akan kami kirim utusan ke kaum anda…silahkan, pengamanan tingkat tinggi akan mengawal anda sampai ke demarkasi…"
    Larung menganggukkan kepala dan melangkah meninggalkan ruangan sejuk itu, ruangan yang mengingatkan akan keangkuhan birokrasi. Keangkuhan yang menjadi sebab runtuhnya banyak kota dan kedamaian. Peradaban hampir lenyap; walau bangunan, kendaraan, makanan, masih berlimpah, bahkan tumbuhan pun makin membaik nasibnya, tetapi hubungan antar manusia?
    Sebuah kendaraan anti serangan cahaya dan listrik, model Tank yang sudah mengalami regenerasi ratusan kali menanti Larung, tanpa harus bertanya, Larung harus naik. Kaum kota tak menyukai terlalu lama kaum pegunungan seperti tipe Larung, setelah diperiksa catatan, Larung itu tipe A, artinya tipe loyalis yang akan berani mati untuk mempertahankan kesetiaannya kepada cara berpikir kaum pegunungan; Larung harus segera dikeluarkan dari area perkotaan, setidak sesegera mungkin dihantar ke wilayah demarkasi.
    Wilayah demarkasi sebenarnya di zaman dahulu ada semacam tugu batas kota. Namun setelah perang kota yang serentak terjadi di seluruh dunia; wilayah kota-kota menjadi luas; semua daerah pinggiran, kota-kota kabupaten, ibu kota kecamatan, menyatukan dirinya dalam solidaritas orang kota, yang hanya menyisakan lembah dan pegunungan bagi kaum pengungsi, yang kemudian membangun pemukiman dan pergerakan, menjadi pengimbang kekuatan bagi kelompok serapatis dan kelompok teroris lalu kaum gunung memukul balik dengan serangan yang tak terduga, merebut desa-desa dan akhirnya, entah apa sebabnya: sejak bertahun-tahun muncul sebutan kaum kota dan kaum pegunungan, lalu terjadi perdamaian, kemudian pecah perang gerilya yang tak berkseudahan dan memunculkan banyak kaum; yang kini juga berdasarkan profesi dan kepentingan capital. Dunia tak lagi tertata; impian globalisasi; sebagai satu rangkaian putaran jaringan dalam ekonomi, politik, kemanusiaan, dan berbagai impian kaum cendikiawan klasik luluh lantak oleh bencana alam yang juga serentak, lalu kekuatan menguasai satu sama lain menghabiskan semua tatanan, peradaban runtuh! Sedangkan para gerilyawan tetap bertaburan meniru keabadian bintang di langit. Seperti biasanya, disaat seperti itu kaum pedagang menarik untung dengan mendorong pengembangan berbagai senjata dan alat komunikasi.
    Bebauran persoalan-persoalan itu kini telah memadat, sehingga tak mudah kini menceritakan, hendak kemanakah manusia di tengah peradaban yang centang perentang?
    Larung diturunkan di tepian jalan, di depan pos penjagaan. Dengan anggukan kepala sedikit, Larung telah melewati pos penjagaan, di seberang sana, sebuah kereta dengan kuda-kuda berleher kekar telah menantinya.
Dari jauh beberapa pasang mata mengawasi pergerakan Larung. Namun mereka hanya mengawasi, ini wilayah demarkasi, sensitif untuk melakukan sesuatu yang menimbulkan kecurigaan, bisa fatal akibatnya," Hayo mencari Kalki…"
    Nyanyian itu dari sayup-sayup makin terdengar jelas dan jernih, terdengar lagi. Larung hanya menunduk, tak ingin menolehkan kepala kepada datangnya arah nyanyian. Ia dengan cepat naik ke dalam kereta yang saisnya seorang lelaki dengan wajah kusut, bertopi rimba, yang tanpa banyak bicara menarik kekangnya. Kereta itu meninggalkan cepat wilayah demarkasi, debu tipis yang disisakannya. Kehirukpikukan di wilayah dermakasi tak akan dapat melengahkan semua penjaga dan semua yang memiliki kepentingan.
    "Namanya Larung…" bisikan mirip desis itu diucapkan oleh seorang lelaki dengan rambut hampir sebahu. Tatapannya menerawang jauh, jemarinya memainkan sebatang rokok yang belum dinyalakan. Di sebelahnya seorang perempuan dengan jaket tipis, celana panjang yang dikerutkan diujungnya. Tatapanya pun sama: menerawang. Hanya mengerutkan dahi di balik topinya. Kedua bagaikan dua pendatang yang duduk istirahat menunggu kendaraan yang dapat ditumpangi.
    "Dia itu kepercayaan Sang Guru. Departemen kita terlambat tahu siapa Larung itu. Ah, selalu terlambat, sementara semua kaum tak pernah kehilangan kewaspadaannya. Serangan baru akan selalu terjadi pada sistem kita…"
    "Aku berpikir, penyusupan telah terjadi pada kita…"
    "Kamu jangan sembarangan menduga, para politician sedang tak nyaman dengan departemen kita…"
    "Apa kejujuran pendapat mulai dilarang?" suara perempuan itu mirip gumam. Lelaki disebelahnya menyalakan rokok,"kuharap kamu mengerti, situasinya sedang berbeda. Beberapa jaringan kota-kota di dunia sedang alami kebingungan dengan perjanjian gencatan senjata ini. Sebab makin menjauhkan tujuan pembentukan negara…" sahut yang lelaki dengan asap mengepul di wajahnya.
    Tiba-tiba suara dentuman keras terdengar, orang-orang berhamburan, pekik ketakutan terdengar lalu kilatan cahaya tiba-tiba melesat dari berbagai arah. Suara-suara detam langkah berlarian dan tubuh yang dijatuhkan berdebam berturut-turut. Dalam sekejap wilayah demarkasi itu tertutup kabut hitam dan sesekali kilatan cahaya membelah dengan kemilau yang memiriskan hati. Rintihan kesakiyan terdengar lamat-lamat. Lalu seperti sulap, keheningan menyengat. Kabut asap lenyap cepat sekali berganti dengan debu dari deru mobil beriringan yang datang dari arah jalan kota, pasukan keamanan pemerintahan kota telah tiba, tanpa tanda, tanpa isyarat.
    Walau gencatan senjata telah disepakati, tetapi kelompok separatis, yang menyempal dari berbagai kaum tidak pernah berdiam, akan selalu berusaha untuk mengganggu kedamaian, tetapi ada juga yang mencurigai bahwa satu faksi dalam pemerintahan kota lebih menyukai peperangan dilanjutkan dan mengambil taktik bahwa serangan dilakukan seolah-olah dari kelompok separatis. Keyakinan di beberapa faksi  bahwa jika saja semua pemerintahan kota sepakat, perang terbuka menaklukan semua kaum dilakukan; maka negara-negara akan dapat segera dikembalikan dan sistem dijalankan sebagaimana mestinya; tidak akan lagi mengulang kesalahan abad yang lalu. Bagi kaum kota, demokrasi tetap harapan…Bagi kaum dagang, demokrasi adalah peluang keuntungan.
    Kereta yang membawa Larung telah memasuki jalan lebar di hutan sampah. Sebuah lembah yang dahulu kala pernah menjadi momok dan masalah, menjadi symbol pembuangan dan kemiskinan, tetapi kini sampah adalah komoditi yang mahal setara dengan nilai emas. Kaum perkotaan dengan suara bulat menetapkan lembah-lembah sebagai tempat pembuangan sampah, dan ketika terjadi perseteruan, lembah itu dilimpahkan kepada kaum pegunungan, tujuannya tentu menyingkirkan kenyamanan kaum gunung, yang lintasannya sangat bergantung dengan keadaan lembah-lembah. Kaum kota saat itu ngotot dan menggunakan kekerasan untuk menekan kesepakatan, agar sampah-sampah itu legal sepanjang zaman menimbuni semua lembah. Namun kini, kaum gunung menarik nikmatnya mengurus sampah; dari listrik sampai bahan bangun tercipta oleh sampah daur ulang. Dan ketika itu diketahui oleh kaum pedagang, mereka sempat berupaya untuk mengambilalih terutama pengelolaan listrik yang dihasilkan oleh tinja. Melalui lobi-lobi di dewan kota-kota seluruh dunia kaum pedagang berusahaa meyakinkan semua penguasa kota namun hasilnya perang tinja terjadi! Butuh sepuluh tahun untuk meredakan persoalan sampah itu dan kaum kota menyadari, di wilayahnya tak mungkin lagi ada daerah yang dijadikan penimbun sampah.
    Hutan sampah kini, tidaklah kumuh, bukanlah gunungan sampah yang berbau menyengat, tetapi hutan dengan bak-bak dari baja; sebuah pabrik raksasa, yang memperkerjakan ribuan pekerja dengan upah paling tinggi diantara kaum buruh manapun! Dan hingga kini, minat menguasai hutan sampah ini masih rawan menjadi persoalan di seluruh dunia, bagaikan keinginan memiliki ladang minyak di masa lalu.
    Tablet ditangan Larung menyala, pesan itu singkat: ledakan dan tembak menembak di wilayah demarkasi telah terjadi, pihak pemerintahan kaum kota memblok jalan untuk sementara. Lalu beratus-ratus informasi bermunculan, ternyata semua wilayah demarkasi di seluruh dunia, hari ini dalam jam yang sama diserang dengan cara yang sama.
"Hooo……"
    Dengan pelahan sais kereta menarik kekang, menghentikan laju kereta. Larung yang duduk di belakang, hanya diam menanti, apa gerangan yang menghentikan perjalanannya.
    "Apakah murid berbakti dari kaum gunung tak sudi menyapaku?" Suara itu terdengar jelas, Larung melengak, pelahan menyingkap atap keretanya, matanya tenang mencari arah suara. Larung segera melompat turun, "ah, maafkan aku, rupanya engkau…"
    Sang Gajah Putih, itu sebutannya. Kaum Gunung dari Thailand, diiringi enam orang dengan perbekalan seperti para pendaki, mengembangkan tangan saat Larung melangkah dengan tangan terbuka pula, "ah, sudah lama kita tak bertemu, bagaimana bisa tak berkabar akan datang berkunjung…"
    "Panjang ceritanya…" Sang Gajah Putih, menarik lengan Larung, "perkenankan semua adik kita, generasi muda kaum gunung…"
    Setelah perkenalan yang hangat, mereka memutuskan berjalan kaki diikuti kereta yang mencongklang pelahan.
    "Kami menghindari kini menumpang pesawat…"
    "Kenapa?"
    "beberapa kaum kita di eropa dan afrika, mulai tertarik untuk terlibat pembicaraan dengan kaum pedagang, sepertinya, kebutuhan akan senjata membuat mereka harus mulai membuka diri selebar-lebarnya. Dan jebakan itu adalah pada wilayah-wilayah penerbangan, kaum kota di beberapa benua dan kepulauan mulai menginginkan ada paspor atas nama negara…"
    Larung melengak,"kapankah itu terjadi?"
    "setahun ini…Impian mengembalikan kekuasaan kaum kota sudah mulai mengental, dan kaum mayian agaknya ikut bermain-main. Banyak faksi yang kini secara diam-diam mulai menyukai keuntungan yang dijanjikan kaum kota…"
    "Tapi itu sulit terjadi…" Larung menyela pelan,"kita sudah lama menjadi warga atas kelahiran kita di muka bumi, bukan warga suatu negara…"
    Sang Gajah Putih tersenyum, " itu tujuanku datang menemuimu, aku akan menghadap Sang Guru untuk menyerahkan pesan dari Guru kami…"
    Larung mengangguk. Baru saja sedikit tenang menikmati gencatan senjata, kini desas-desus mulai dihembuskan, serangan serentak dilakukan oleh kelompok separatis, dunia memang tak berhenti dengan hasrat berkuasa.
    "Mari, kita memakai jalan pintas…" Larung memberi isyarat agar kereta melaju mengikuti jalan, dirinya memimpin memasuki jalan setapak yang membawa mereka ke sebuah perkampungan; kampung kaum gunung.
Tapi belum beberapa tindak, Larung dan Sang Gajah Putih telah saling pandang, menghentikan langkah. Keduanya mengajak yang lain untuk bersembunyi di balik pohon-pohon. Suara burung-burung yang terkejut memecahkan keheningan. Larung yakin, itu suara orang-orang berkuda. Sang Gajah Putih berusaha menerka berapa jumlah kuda yang akan melintasi jalan setapak itu.
    "Kaum putih…" Bisik Larung, memberi isyarat agar semua merunduk, makin sembunyi. Derap langkah kuda terdengar berderap semakin mendekat. Dari celah-celah batang pohon berbaur semak mereka melihat dengan jelas; sepertinya kaum putih tengah mengawal seseorang yang terluka, yang duduk membonceng dengan kepala nyaris terkulai.
Larung menoleh kepada Sang Gajah Putih, mengisyaratkan akan menampakan diri. Kuda-kuda itu meringkik kaget sebab kehadiran orang-orang yang tak dikenal . Para penunggang kuda itu, kaum putih pun nampak tersentak menarik tali kekang dengan sentakan, ringkik kuda terdengar mekakak, semua mata meriap waspada, "adakah jalan-jalan setapak telah dikuasai hanya oleh satu kaum?" pertanyaan itu terucap oleh lelaki berambut putih dengan lengan bertato naga.
    Larung tersenyum, " maafkan. Saya tak bermaksud demikian. Kami kebetulan kembali dari demarkasi darat, memilih jalan setapak karena kereta tak cukup menampung…"
    "Oh, kaum gunung rupanya…" wajah-wajah kaum putih nampak berubah lega. Segera beberapa dari para penunggang kuda itu melompat turun, "keberuntungan kami bertemu kalian. Kami berputar-putar tak tentu arah. Kami hendak menuju perkampungan anda dengan cepat. Tadi kami bermaksud mengambil jalan pintas, ternyata malah membingungkan. Karena itu, kami kembali untuk menuju jalan besar…"
    "Ada keperluan apakah…" Larung melempar tatapan ke arah lelaki yang duduk dibonceng dengan kepala terkulai. Nampak seperti menahan kesakitan luar biasa. Sang Gajah Putih hanya mendengarkan, berdiam dengan berdiri tenang di belakang Larung begitu pula keenam adiknya, diam dengan sorot mata penuh perhatian.
    "Saudara kami, Sang Penyanyi terkena tembakan cahaya di demarkasi, sebuah serangan yang tak menentu. Kami ingin menyerahkannya kepada Sang Guru…"
    Larung mengerutkan dahinya, Sang Penyanyi? Yang menyanyikan kisah pencarian kalki itu terkapar kini karena tembakan cahaya petugas keamanan kaum kota? Larung tersenyum tipis, menarik nafas panjang, "baiklah, mari ikut kami," dengan isyarat diajakinya semua untuk melangkah mengikuti langkahnya. Kuda-kuda segera diputar kembali kekangnya. Perjalanan kini tak lagi pelahan, semua bergerak cepat, kelincahan kaki kaum gunung sungguh mengagumkan hati dapat mengimbangi ketangkasan kaki kuda.
    Tak lama kemudian barisan pohon jagung terhampar, disebelah yang lain hamparan ladang tembakau, emas hitam yang kini menjadi komidit utama untuk bahan pengobatan kanker, bahan pembuatan protein, dahulu kaum kota dan kaum dagang menggunakan siasat kampanye anti rokok dan menjebak para aktivis lingkungan untuk kontra tembakau. Kini, banyak wilayah sangat membutuhkan pasokan tembakau untuk bahan pembuatan obatnya; kaum gunung mendapatkan banyak keuntungan dari tembakau dan sampah.
    Di kejauhan itu, diantara dua bukit, nampak perkampungan kaum gunung; seperti barisan tenda-tenda yang  mengepulkan asap mengepul di tiap atapnya, padahal itu rumah-rumah yang dibuat dari bata sampah daur ulang, yang didesain khusus agar dapat dipindahkan dalam waktu singkat. Perkampungan yang sejak seabad lalu dibangun oleh para pengungsi yang menentang pemerintahan kota yang korupsi, kini memiliki tata krama yang mengikuti garis aturan sebuah perguruan, mirip sistem sosial mereka seperti perguruan silat dalam cerita-cerita film di zaman kuno.
    Ah, sejarah mencatat dan betapa sulit melupkan saat-saat revolusi yang memilukan itu. Tak ada satu pun negara di dunia yang tak mengalami; pecahnya amarah rakyat kepada pemerintahnya, dan tak disangka, kemarahan kali itu adalah penolakan dari rakyat untuk tidak lagi memiliki pemerintahan dengan alasan apapun! Maka sejak itu, kaum-kaum terbentuk, pemimpin-pemimpin perang bermunculan, fanatisme dibangunkan atas alasana kesamaan sekecil apapun dapat menjadi kaum; dunia kehilangan peradaban modernnya yang semula paling dibanggakannya: yakni adanya negara, pemerintahan, demokrasi, hubungan internasional; lalu segala macam organisasi internasional segera runtuh, kehilangan akalnya, hanya dalam jangka sepuluh tahun; tak ada satu pun kota yang tak dicekam kerusuhan. Perang kota memaksa banyak orang mengungsi, menjauhi kota-kota….
    Larung memberi isyarat kepada Sang gajah Putih untuk melangkah terlebih dahulu," kuda-kuda kalian harus ditambat di sini, Sang Penyanyi harus kita gendong…"
    Kaum putih mengangguk, memahami, pastilah jalan pintas bukan untuk kendaraan lewat sekali pun kuda dan kaum gunung dikenal menjaga perkampungan mereka dengan banyak jebakan yang mematikan. Hamparan hijau yang memukau itu bisa juga adalah tipuan yang akan mencabut nyawa yang tak paham.
    Senjakah? Atau sudah menjelang pagi? Di zaman ini, siapakah yang peduli? Adakah satu orang yang dapat diam menikmati harinya, kini?
    Burung elang melayang-layang di atas. Larung bersiul dan sungguh menakjubkan, tak lama kemudian dari belahan rumpun-rumpun jagung muncul jembatan yang ditarik pelahan. Kuda-kuda meringkik keras. Langkah kaki terasa ringan menuruni hamparan rumput yang mulai landai.
    "Larung…"
Larung menoleh, Sang Penyanyi dengan kepala setengah terkulai memangil namanya,"hayolah mencari kalki…." Desisnya berusaha bernyanyi. Lalu diam. Larung menelan ludahnya, terasa ada lender tiba-tiba menahan lidahnya, sekat yang membuat hatinya berdegup.
    "Kalki…"

(BERSAMBUNG)

Baca juga yang ini: