Cerita Serial: Kalki Bagian 3

Cerita Serial: Kalki
Bagian 3

    Para peramal membayangkan masa depan itu serba canggih, serba super teknologi, mereka lupa, kenyataan justru membalikkan ramalan. Bahkan jungkir balik. Berbagai bencana mengembalikan sebagian manusia kepada sang bumi…piring terbang itu cuma impian, kendaraan tetap beroda, bahkan lebih banyak berbalik menggunakan kuda dengan pelana, perahu dan jukung….
Kampung nelayan itu….
    "Buktinya tanpa pemerintahan, tanpa negara, kehidupan berjalan…Tak hanya sehari, tapi hampir seabad!" Lobu Muda dengan tubuh kekar, berwajah singa, dengan rambut ikalnya menjadi manis karena kemampuannya berdebat, selalu semua perkataannya demikian meyakinkan.
    "Selama ada perintah, maka ada pemerintahan kecil ataukah besar…" Larenge, pelajar kaum nelayan yang berwajah persegi menyahut dengan santun, "yang dimaksud pemerintah di sini tentu saja penguasa…"
    Kei dengan wajah pucat, suara seperti tercekik berkata tak acuh, "definisi penguasa sudah lama direvisi…"
    "Itu kenyataannya; penguasa sudah direvisi, dan pemerintahan dengan segala ibukotanya, dengan segala macam strukturnya: kini sudah masa lalu…" Lobu Muda menimpali, suaranya makin jernih.
    "tetapi kaum kota masih punya…."Larenge menimpali dengan cepat, namun dengan cepat Kei memotong, ucapan tajam, "iya, kita hormati, sebagai peninggalan peradaban milineum yang tersisa…"
    "Mereka itu living museum, tak lebih dari itu…"
    "Mereka masih memiliki kekuatan dan pengaruh…" Larenge menyela, menarik nafas, latihan berdebat ini, tak boleh menaikan emosinya.
    "ketika zaman kali mencapai puncaknya, ketika lapar tak menemukan makanannya, para pemangsa pikiran menjadi nyata, saat itulah mari menyambut Kalki…"
    Lobu Muda menyeringai, sejak seminggu ini, nyanyian itu selalu terdengar. Kaum putih selalu mengira dirinya pewarta yang baik. Selalu muncul di pantai dengan sikap bagai fakir yang tak ada yang pernah menyantuni. Larenge menyeringai,"Kita ajak dia berenang ke laut…" ucapan usil itu membuat Kei tiba-tiba tersenyum, lebih menyenangkan menjaili penyanyi yang sok romantic itu.
    Melesat ketiganya, kaki mereka adalah pendayung di darat. Pasir-pasir berterbangan saat ketiga melesat-lesat bergerak dengan kekuatan lari yang tak dapat diikuti mata.
    "eh, kemana dia?"
    "harusnya di sini…"
    Lobu Muda bersiul keras. Memasang telinganya kemudian,"hm…kita pura-pura tak mencari dia, kita lepas sauh…"
    "apa dia akan terus bernyannyi?"
    Ketiganya senyum-senyum berlompatan diatas jarring-jaring dan jejeran kapal-kapal lecil lalu memasuki sebuah kapal dengan dayung-dayung yang kokoh. Tak ada lagi suara mesin dari kendaraan air jika itu dari kaum nelayan, kecuali kaum kota, kaum pemerintahan masih juga menggunakan kapal-kapal besar, dengan mesin yang sangat bergantung kepada solar ataukah minyak, sebab mereka tetap menguasai dermaga-dermaga dan selalu punya seribu satu alasan untuk menembaki kapal kaum nelayan.
    "Kenapa kaum putih sekarang senang bernyanyi? Bukannya mereka dahulu berjualan segala macam barang-barang spiritual?"
    Diantara kecipak air, Larenge sibuk memikirkan sikap kaum putih yang senangnya bernyanyi lagu yang sama, tentang Kalki.
    "Mereka masih jualan, sama seperti abad yang lalu. Aku pernah baca kisah-kisah mereka, kaum mayian sangat suka kepada mereka, mereka ditulis berjuta-juta kali di semua link historian."
    "oh ya? Aaah, aku lupa membawa tabletku…"
    "mereka kaum agamawan?"
    "Bukan, kaum putih itu…entahlah, aku tak paham. Kenapa sulit menjelaskan satu kaum…"
Lobu Muda tertawa, angin menderas, ombak mulai berkecipak. Mereka sekenanya membuang jaring dan melemparkan kail.
    "Apa mereka punya kampung?"
    "Tidaklah…"
    "Mereka menjadi ribuan faksi, jutaan mungkin dan menitipkan diri di semua kaum…"
    "seperti kaum pedagang?"
    "iya…"
    "Nah, mereka bernyanyi lagi…"
    Lobu Muda terkekeh, Kei selalu sensitif setiap mendengar nyanyian kaum putih. Kadang mereka bertemu sepintas di tempat pelelangan ikan tua, di sana mereka biasanya menggunakan kerudung dan membeli beberapa jenis ikan dan kerang.
    "Wajah mereka begitu pucat, dimataku, pucat yang membuat rasa aneh…" ucap Kei dengan dahi berkerut, tangannya terus menggerakan dayung. Larenge menarik satu benang kailnya, ikan besar menggelepar,"ah, lumayan…ibuku ada pesanan dari Borus.."
    "Borus?"
    "Iya, putra laksmana barat, dia katanya akan membuat pesta mengenalkan istrinya…"
    Kei meludah,"aku tak suka gaya mereka, mulai mirip penguasa di kota…"
    Lobu Muda terbahak,"Laksmana kita berbeda…"
    Larenge mendengus,"entah mengapa, akhir-akhir ini rumah kapal sepertinya lebih sombong…"
    "eh, nyanyian itu…"
    Nyanyian itu ditengah deru ombak, digemuruh angin sanggup menembus. Lobu Muda mengerutkan dahinya,"apakah mereka juga jago melaut?"
    Kapal kaum nelayan muda melesat membelah ombak, suara berderit terdengar karena mereka terus menerus mengubah layar. Hingga enam putaran, ketiga nelayan muda itu tak melihat siapapun disejauh mata mereka sanggup memandang jelas.
    "Mereka seakan tahu, kita tengah memancing mereka…"
    "baiklah kita ke darat, lorong kaum putih kita datangi….bosan aku dengar nyanyian mereka!" Kei dengan suara tak sabar mengepak dayungnya, berputar bagai baling-baling.
    Pasir-pasir gemeresak, bulir-bulirnya meretas kemana-mana, ketiga nelayan muda itu berlarian dengan gerak cepat, tujuan mereka ke lorong kaum putih, yang letaknya di dekat Tempat pelelangan ikan tua, peninggalan masa lalu, katanya, usia tempat itu hampir dua ratus tahun, dahulu Selamat dari amukan tsunami dan gempa, karena tempat itu dijauhkan dari pantai sebab kaum kota membuat kebijakan membangun hotel-hotel dan cafĂ© untuk pariwisata. Kini, hanya bangunan tua itu sebagai penanda bahwa dahulu kampung kaum nelayan hampir dimusnahkan…
    "lorong mereka sepi…"
    "Kita tinggalkan pesan, bahwa kita tak suka cara mereka menyanyi…"
    Larenge terkekeh,"kau begitu sebal, Kei?"
    "Iya, kalau bernyanyi ya bernyanyi, jangan seperti penyanyi misterius…"
    Pesan telah dikirim. Seluruh link kaum putih akan membaca. Kaum mayian juga akan segera membaca pesan itu. Larenge memasukan tabletnya ke kantong celananya, Bolu Muda mengedarkan pandangan. Kei baru teringat tabletnya masih di pos peristirahat dekat dermaga,"hayo kita balik ke pos…"
    Ketiganya melesat pergi, dan dari balik pintu sepasang mata dengan tajam memperhatikan kepergian mereka. Lalu pintu terbuka, deritnya terdengar. Lorong itu tetap senyap, saat seseorang melangkah cepat dengan kerudung yang menutup seluruh tubuh.
    "mau kemana?"
    "kembali ke gunung…"
    "Tidak usah kau pikirkan, pesan semacam itu sudah biasa, keadaan sang penyanyi masih sangat buruk…"
    "aku harus ke gunung…"
    Kampung nelayan itu mulai riuh. Kapal-kapalnya nampak tengah merapat. Bunyi kecipak ombak dan geseran kapal yang bersender bercampur suara-suara burung. Aroma laut menyengat dihempas angin. Jeritan panggilan terdengar dimana-mana. Truk kecil dengan ban bergerigi bermunculan, bersiap mengumpulkan ikan lalu membawanya ke pabrik pengalengan.
    "Lobu…"
    Lobu Muda ke luar dari pos pengaman pantai, mencari arah panggilan,"dipanggil laksmana…"
    "ah, kau kena masalah, Lobu…"  ejek Kei dan Larenge bersamaan. Lobu Muda menyeringai, melompat tinggi, meniru gerakan lumba-lumba,"ah, kau kena masalah, Lobu…"

(BERSAMBUNG)

Baca juga yang ini: