Cerita Serial: Kalki bagian 1

Cerita Serial: Kalki
Bagian 1

Rasanya baru kemarin tahun 2012.
    Seekor tikus melesat, melintas tak akan pernah menoleh. Larung mendengus, menghirup udara; pasukan itu ada di sekitar sini, pikirnya dengan perasaan tak menentu. Model perang tua masih dilakukan sampai kini: gerilya. Dulu, perang dengan strategi tembak-lari ini dilakukan oleh para tetua dan hasilnya memang merepotkan lawan; tapi penyelesaiannya selalu dengan diplomasi!  Oleh kamu politician. Ah, kaum politician sekarang kehilangan daya cengkramnya, tak lagi mampu memikat dengan janji-janji dan ideologi, tetapi mereka mewariskan tradisi politician secara turun temurun, sebab tak tahu lagi mesti kemana lagi jika tak ikut kegiatan partai? Partai sudah menjadi perusahaan besar dan mengelola banyak bisnis jasa dan ketika amukan samudera dimana-mana, gempa silih berganti, cuaca yang tak menentu; tak ada lagi janji yang dipercaya rakyat kecuali keinginan menguasai satu sama lainnya…
    "ketika zaman kali mencapai puncaknya, ketika lapar tak menemukan makanannya, para pemangsa pikiran menjadi nyata, saat itulah mari menyambut Kalki…"
    Larung mendengus, nyanyian itu sungguh menyebalkan, dasar tak berlogika, manalah mungkin Kalki bisa menolong keadaan zaman seperti sekarang? Semua negara menghadapi masalah ini; perang gerilya, entah apa namanya, separatis, teroris; banyak kelompok-kelompok yang mengaku pejuang, semuanya ingin membebaskan diri dari kekuasaan. Kekuasaan! Tentunya, ada yang harus diserang dan bertahan. Lalu Kalki naik kuda dengan pedang di tangan? Menyelamatkan dunia. Larung terkekeh sendiri, itu hanya ada dalam film kartun gaya kuno! Berharap ada keajaiban dan manusia super mengatasi masalah dunia. Berharap ada kendaraan terbang dan bangunan penuh fasilitas teknologi; ah, itu hanya dalam film-film holywood kuno. 

    "kau ragukan kisah ini, kau matikan harapan: hayo mencari Kalki…"

    Larung melangkah ke trotoar, jalanan padat seperti biasa. Tetapi dimana-mana Tentara Negara bersiaga dengan senapan yang larasnya tak lagi menyemburkan peluru karet, tetapi cahaya, tujuannya hanya untuk melumpuhkan. Para pembuat onar dilumpuhkan dengan tembakan cahaya; yang terasa bagikan sengatan listrik puluhan ribu watt, membuat seluruh syaraf lumpuh. Katanya, jika pernah dilumpuhkan tembakan cahaya, maka nasib pikiran akan menjadi taruhannya. Sebab saat terlumpuhkan, tubuh akan diangkat menuju sebuah rumah sakit, diterapis selama tiga bulan; dan seluruh isi pikiran dikuras dengan cara hipnotis…semua rahasia akan diamati oleh pengaman negara.
    Larung melangkah, debu terasa mulai menebal. Matahari tak jelas kehadirannya, kadang mendung seharian, kadang hujan berminggu-minggu, kadang salju turun tipis atau es kecil-kecil beberapa menit meretakan semua kaca. Entah sampai kapan cuaca akan seperti ini, tak lagi seperti kisah lama, kapan musim hujan, kapan musim terang, dimana yang punya empat musim, dimana yang punya dua musim…
    "Kau mau kemana, anak muda?"
    Larung terus melangkah, tak menggubris sapaan itu; pengemis manapun akan iseng jika melihat seseorang melangkah tanpa tujuan. Tetapi Larung ingatkan dirinya, ini kota, bukan desa, bukan daerah pegunungan. Ini bukan masa yang seperti kisah tua yang jika dibaca seolah semua manusia dapat dipercaya. Penculikan manusia telah mencapai ‘penerimaan’ sebagai tindakan yang wajar, penculikan yang akhirnya membawa siapa saja pada perbudakan. Tak ada yang tahu apa yang menyebabkan orang-orang yang diculik itu justru tak berani bicara, mereka dikembalikan ke rumah dan keluarga masing-masing lalu bekerja pada sebuah tambang ataukah pabrik, mereka diupah, tetapi tentu saja dengan nilai yang tak sama dengan buruh lainnya. Mereka seolah hidup normal…namun sesungguhnya budak, sebab mereka melakukan perjanjian kematian dengan pemilik modal, jaminannya seluruh keluarga mereka.
    "kau mau kemana…?"
    Suara itu makin keras, sungguh jelas diantara keriuhan jalan, berbagai kendaraan berhiliran, dari yang masih menggunakan premium sampai yang menggunakan tenaga listrik. Larung mempercepat langkah kakinya, tetapi kewaspadaannya mulai membuat pori-porinya menegang. Kibasan angin mendorong deras dari samping kiri, dengan spontan kakinya terangkat, Larung melesat melompat dua tindak ke depan, lalu menghentikan langkahnya dengan halus.
Kini ia menoleh ke arah datangnya angin. Seorang lelaki setengah baya, tersenyum lebar, di belakangnya tiga orang berseragam dengan senjata dipelukan, menatap dengan mata tersenyum, mengandung ejekan. Larung menarik nafas.  Jika lelaki setengah baya itu gagal menyerang dan menculiknya, maka ketiga orang berseragam itu akan menembakan cahaya penyengat. Hasilnya, dia akan masuk dalam terapis penguras pikiran atau menjadi budak…
    "mari mencari Kalki…."
    Larung tersenyum, rupanya penyanyi jalanan itu masih ada di sekitar sini. Dorongan angin kembali terasa dengan ringan Larung mengibas tangannya, lelaki setengah baya itu nampak melenguh dan tiga lelaki berseragam itu bersiap mengokang senjata, Larung tersenyum; memutar tubuhnya dengan cepat dan debu-debu mengkristal menjadi bulatan-bulatan; mirip bola-bola mungil, yang melesat bergerak dalam kecepatan luar biasa menuju ketiga lelaki berseragam itu: tiga senjata itu lepas dari tangan mereka dengan dentangan pendorong, seperti dihempas tongkat besi. Mereka nampak tercengang, tak percaya bahwa senjata mereka begitu cepat lepas dari tangan.
    Lalu seolah tak pernah ada kejadian, keempat orang yang menyerang Larung berbalik pergi, menghilang diantara keramaian, entah memasuki arah yang mana, terlalu banyak jalan, trotoar, koridor, untuk melenyapkan jejak. Larung melangkah kembali. Penyanyi jalanan itu makin asyik menyanyikan keyakinannya. Sungguh aneh, suara itu begitu jelas dan jernih terdengar padahal gemuruh jalan kota begitu meredam suara individu…
    "Benar engkau tak tertarik bergabung?" Tiba-tiba di sebelah dirinya telah berjalan seseorang, pakaiannya mirip pekerja, berkemeja dengan celana jean dan ransel yang memberi kesan seolah orang itu pekerja.
    "Bergabung apa?"
    Larung melirik, merasakan arus energy yang kuat,"kamu kaum pekerja..?" tanyanya dengan mata terus lurus ke depan.
    "Kami pelayan masa depan.."
    "Apa itu?"
    "Apa tujuanmu memasuki kota, kamu berpikir keramaian dan ketidakpedulian kota tidak mencium baumu sebagai orang pegunungan?"
    Cukup dua puluh tahun perpisahan itu. Larung generasi pertama dari kaum pengungsi, yang memilih menjauhi kehidupan kota. Melakukan perang gerilya bertahun-tahun untuk terbebas dari urusan kekuasaan kota! Baru tiga tahun lalu terjadi gencatan senjata, dan Larung tahu kedatangannya tentu saja telah diamati.
    "Aku hanya utusan…"
    "Utusan?"
    "Kenapakah?" Larung dengan senyum menyahut, "kamu ragu kaum Gunung berani mengirim utusan ke kota?"
    "Aku juga bukan orang kota…aku warga dunia.."
    Larung tersenyum lebar.
    "artinya, kamu tak pernah jelas…"
    "Ikutlah aku, kami ada tempat untuk bicara…"
    Larung menghentikan langkahnya, kibasan energy itu begitu kuat. Larung tahu, jika terlalu dekat dan meletik emosi akan terjadi perkelahian, jika ada perkelahian, orang-orang berseragam akan melepas tembakan cahayanya…
    "baiklah…"
    Yang dimaksud dengan warung itu adalah sebuah ruko yang terletak di pinggir jalan kecil, jalan kecil yang mirip gang; kota-kota telah lama sesak, penguasa kota membangun rumah meninggi dengan kamar-kamar kecil; untuk mengamankan warganya; bahasa politik untuk kesejahteraan bersama; rumah model kandang burung dibangun sang penguasa. Hal ini terjadi di seluruh dunia: orang perkotaan membuat jaringan manusia antar kota, membangun persudaraan, tujuan mereka mengembalikan situasi kondisi seperti zaman milineum awal, dimana pusat kekuasan adalah di kota: pusat pembuatan aturan harus : di kota! Kaum politician dan kaum bersenjata ditumpangi kaum pedagang memainkan kekuasaannya; Berjaya di semua kota, tetapi itu cerita lama.
    "Silahkah duduk…" Larung tersenyum, di sekitarnya ciri-ciri kaum warga dunia telah nampak, tablet-tablet ditangan, dengan cahaya kebiruan menerangi wajah. Entah apa kini pencapaian teknologi dunia kumpuiter. Kaum mayian, sebutan kaum warga dunia, bekerja bagi siapa saja; bagi kaum kota, kaum gunung, bagi kawankah, bagi musuh, mereka sulit diduga. Bagi mereka; hanya virus yang harus dipunahkan, yang lain-lain mungkin spam!
    "warung yang menarik…"
    "Kenalkan, namaku Pere…"
    Akhirnya, mereka saling mengenalkan diri. Mereka mulai memperbincangkan suasana setelah perang gerilya,"gencatan senjata ini semoga berumur panjang…" Pere menatap Larung,"apakah kamu diutus ke balai kota, kantor bupati, kantor gubernur, istana presiden?"
    "Istana, tapi blok kementerian…"
    "Meski sudah gencatan senjata, di kota-kota belum aman, di seluruh dunia, semua belum aman…"
    Larung mengangguk, kaum mayian adalah pemilik informasi, jaringan mereka telah mirip seperti kelompok Palang Merah dunia, satu-satunya organisasi dunia yang masih dihormati. Organisasi dunia lain, tinggal kenangan, PBB sudah bubar saat air bah serentak menimpa semua negara di dunia, lalu menyusul gempa; itu mungkin berkisar di tahun 2040, lalu perlawanan kaum miskin mulai berjangkit, perang kota di mulai….Sejarah mencatat pemisahan-pemisahan kelompok manusia bukan lagi karena suku, agama, ras, tetapi karena oleh cara menuju keyakinan akan masa depan. Cukup seabad, kemajuan menjadi senjata pembunuh persaudaraan manusia, kaum agamawan akhirnya bergabung dengan kaum politician; berpuluh-puluh tahun semua masalah diselesaikan dengan kerusuhan. Pengungsian-pengungsian terjadi, dan akhirnya, terjadi demarkasi. Penegasan batas kewarganegaraan oleh pilihan organisasi. Kaum kota berupaya mengembalikan pusat kekuasaan, tetapi berbagai kesalahan di masa lalu terhadap desa-desa, menyebabkan semua sistem lumpuh. Negosiasi kepentingan dilakukan berulangkali dari masalah listrik sampai air; namun perang gerilya terus menjadi unjuk pernyataan bahwa jika ada yang tak puas, maka letupan rusuh akan terjadi.
    Kini, kaum politician suka mengenang kejayaan kota atas pengelolaan negara-negara, senang mengutip keadaan kekuasaan di masa lalu, melalui berbagai televisi menyampaikan bagaimana sistem negara berlaku. Mereka bahagia sekali mengisahkan kisah-kisah pemilu, kisah-kisah kemenangan partai-partai, lalu kebijakan-kebijakan yang baik bagi seluruh warga, yang semua itu tak pernah seperti yang mereka katakan; antara teori dan prakteknya seperti langit dan bumi, sementara kaum pedagang sudah lama tahu, tak ada gunanya mendukung kaum manapun kecuali keuntungan.
    Larung tahu sebagai kaum gunung, dirinya pastilah dijadikan incaran sejak menjejak kaki di batas kota, tetapi sekarang, komunikasi, transportasi diizinkan bebas, kaum pedagang sudah mulai lebih gembira dibandingkan beberapa tahun yang lalu. Pabrik, tambang-tambang mulai ada aktifitasnya, tentu saja dengan hak penguasaan berdasarkan kaum, yang dijaga oleh para tentara masing-masing.
    "hayo mencari Kalki…"
    Larung dan Pere serentak tertawa, disela keheningan tiba-tiba nyanyian jalanan itu terdengar,"sudah dua bulan ini, agaknya kaum putih menjadikan tradisi menyanyi di jalan untuk mengingatkan risalah agama kuno, Kalki…"
    "oh ya?" Larung menganguk tersenyum, di gunung juga ada desas-desus itu, akan hadirnya kalki. Dan tentu saja, kampanye seperti itu dari kaum putih tak semudah dahulu; agama kini bukan lagi urusan penting; yang tersisa dari mereka adalah kaum fanatic yang membangun pemukiman-pemukiman yang tertutup.
    "apa reaksi penguasa kalian atas kampanye kaum putih ini?" Larung bertanya dengan suara datar. Pere tersenyum lepas,"itu hak mereka, perjanjian antar kaum mengizinkan mereka untuk menyampaikan keyakinan akan cara menuju masa depan…Yang menarik, banyak yang mungkin mulai jenuh dengan demarkasi ini…"
    "artinya, mereka bisa adalah bagian konspirasi global…"
    Pere mengedikan kepalanya, jika bicara global, selalu seperti menuduh kaum Mayian yang menjadi penggeraknya.
    "Kaum putih tak seputih namanya," sahut Pere pelan, Larung mengangguk. Lalu memberi isyarat bahwa ada yang tengah mengawasi mereka berdua. Pere mengiyakan, lalu memberi isyarat," pergilah, lanjutkan perjalanan, tapi jangan menggunakan trotoar, ikuti jalan umum…"
    "Kenapa kau lepas dia…"
    Tiba-tiba desau energy panas hampir menghempas tubuh Pere. Dua orang lelaki dengan wajah berkeringat tiba-tiba berkelebat mendekati Pere. Pere mengedikan kepala,"siapa kalian?" tanyanya dengan geraham terkatup,"kamu tahu, meletupkan emosi di depan umum, membahaya dirimu dan juga sekelilingnya.."
    "kami juga warga dunia, tapi dari faksi berbeda.."
    "apa maksud kalian? Apa aku berhak menahan kaum gunung? Dia utusan…"
    "dia incaran, banyak kaum hendak menculiknya, dia sudah diikuti sejak memasuki batas demarkasi…Pastilah, engkau tak membuka tabletmu, sehingga lupa informasi di dunia sekarang tak lagi memakai detik, tetapi denyut…"
Pere melenguh, mengibaskan tangannya,"mari bayangi dia.."

    Udara makin lembab. Entah karena polusi, entah karena langit yang terlalu tebal mendungnya. Kibasan angin deras mulai terasa datang dari mana-mana, tetapi Larung terus melangkah, membuka tangannya dengan santai, mengumpulkan debu-debu, menjadikannya Kristal kecil melempar kemana-mana dengan gerakan yang tak bisa diamati oleh mata biasa.
    Lamat-lamat terdengar nyanyian itu: "ketika zaman kali mencapai puncaknya, ketika lapar tak menemukan makanannya, para pemangsa pikiran menjadi nyata, saat itulah mari menyambut Kalki…"
    Larung menghentakkan kakinya, langkahnya kini menjadi sangat cepat, setengah melayang dia meninggalkan jalanan umum, berbelok ke kiri, lalu berlari diantara gang-gang sempit. Nyanyian itu tetap terdengar jelas, jelas-jelas kini mengikutinya; kibasan angin deras terus mengejarnya, makin lama makin keras, Larung dengan cepat meraih debu-debu, menjadikannya Kristal: lalu terbentuk putaran pelindung, menahan laju angin yang kian menggetarkan kulit tubuhnya, dan nyanyian itu! Sungguh mulai menganggu, jelas kaum putih tengah ingin mengganggu tugasnya.
    Saat matanya melihat gedung tinggi, kompleks istana penguasa kota! Larung makin mempercepat larinya. Nyanyian itu mulai terdengar menjauh, tetapi kibas angin tetap menderas. Lalu Kristal debu-debu luruh satu per satu, "anda memasuki gerbang pemeriksaan…"
    Larung menjejakkan kaki, nyanyian itu tak terdengar lagi, diambilnya tablet kecil dari balik jaketnya, memperlihatkan kepada penjaga," blok kementrian, kaum gunung, utusan kelas A, pengawalan dilakukan hingga anda kembali ke batas demarkasi…"

(Note: cerita serial ini, merupakan latihan menulis yang akan diupload secara bersambung di FB dan Blog)

Baca juga yang ini: