aku pernah bertemu kesedihanmu
menyalami dalam percakapan lirih
dukacita memang jelita, tak mudah dilupa
kemilau airmata menggores gambar cahya
lalu kita menjadi dekat
lalu kita menjaga jarak
aku pernah bertemu kecemburuan
bertukar tatap mata dalam tebal kabut
prasangka memang renyah, mudah patah
kecewa menemukan lecutannya
lalu kita menjadi bisu
lalu kita merasa terganggu
aku pernah berkawan lekat dengan patahati
setia berkawan kemana
menyalami dalam percakapan lirih
dukacita memang jelita, tak mudah dilupa
kemilau airmata menggores gambar cahya
lalu kita menjadi dekat
lalu kita menjaga jarak
aku pernah bertemu kecemburuan
bertukar tatap mata dalam tebal kabut
prasangka memang renyah, mudah patah
kecewa menemukan lecutannya
lalu kita menjadi bisu
lalu kita merasa terganggu
aku pernah berkawan lekat dengan patahati
setia berkawan kemana
pergi
kehilangan mengenalkan hampa
senyapnya membebaskan
lalu kita bertemu lagi
lalu kita melupakan jarak
tapi dukacita terlalu jelita
bersahabat dengan kecewa
aku pernah bertemu dengan kesedihanmu
seperti memajang potret kesayangan
setiaphari ingatkan akan kemilau airmata
lalu kita kehilangan tawa
lalu kita terbiasa kecewa
menjumpai dukacita mengikatnya
menjadikannya teman setia !
(SERI PUISI CINTA, batanghari, 10 november 2015, cok sawitri)
kehilangan mengenalkan hampa
senyapnya membebaskan
lalu kita bertemu lagi
lalu kita melupakan jarak
tapi dukacita terlalu jelita
bersahabat dengan kecewa
aku pernah bertemu dengan kesedihanmu
seperti memajang potret kesayangan
setiaphari ingatkan akan kemilau airmata
lalu kita kehilangan tawa
lalu kita terbiasa kecewa
menjumpai dukacita mengikatnya
menjadikannya teman setia !
(SERI PUISI CINTA, batanghari, 10 november 2015, cok sawitri)
No comments:
Post a Comment