Mungkin Tak Seindah Yang Dulu

cuacakah yang membuat angin bergerak liar
mestinya hujan turun, bukan terik matahari
telah menebal debu dalam pandangan
semua tanaman hilang senyum hari ini

ah, cerita-cerita diwaktu ngaso
segelas kopi membuat mata nyalang
memanglah memang aku pernah naksir kamu
jadi gelak tawa, canda ria olok-olok di kala bertemu, kini

cuacakah yang dulu membuat debar dada menjadi liar
mestinya aku tak pantang membujuk hatimu
memaksa pandangan jadi satu arah
membuat tanaman memberi satu bunga indah
sialnya, aku menyerah
percaya tak ada cinta buatku!

ah, kata-kata yang riuhkan waktu
melipur lara bila kau tanyakan
memang memanglah pernah aku kecewa padamu
sebab hatimu lebih memilih yang lain
sekalipun penuh airmata, katamu
sebab tak ada cinta tak berjanji pilu

cuacakah yang kini membuatmu penuh lamunan
hilang tawa, hilang canda ria
sesekali engkau bertanya
siapakah kini penyeduh kopimu
miris aku menyahut jujur
sebab cerita-cerita telah terdengar
kau sesali aku yang menyerah sebelum yakin
tak memahami isyaratmu yang berlapis
mengira diri jatuh dari ayunan
sebelum sakit lebih baik teduhkan diri

sebab cuaca pun kadang enggan berganti
tak terduga apa hujan atau badai yang kan tiba
semua tanaman hilang sabar, jatuh kering dalam penantian
ah, telah lampau kusimpan debar, kulapisi semua rindu
bila kini kau sungguh ingin tahu
semua debar yang dulu lumpuhkan aku
jujur ingin kusampaikan padamu
masih ada dalam sepi-sepiku
memang memanglah tak seindah yang dulu
hilang getar bila kembali kuucapkan

ah, cerita-cerita waktu ngaso
mari timbunn dalam gelak tawa
semogalah cuaca berganti segera
siapa tahu debar itu berganti rupa
memaksa hati berani nyatakan padamu,lagi
hingga gelak tawa lengkapi hari
seduhlah kopi untukku
sekalipun cuaca belum juga berganti
untukmu!

(batu bulan, 2009, cok sawitri)

No comments:

Post a Comment