Dalam seni pertunjukan di Bali. Menarikan Rangda itu telah distigma : menuju tampil angker, menyeramkan, pencapaiannya : bikin takut! Hingga lupa karakteristik yang ditarikan. Sehingga yang dicari adalah bagaimana mendapatkan gerak plus tambahan vokal : pokoknya agar serem! Rangda itu apakah dalam status 'arca' artinya disucikan ataukah sebagai topeng untuk ditarikan dalam seni pertunjukan. Tetap berasal dari kepradnyanan memahami durga tattwa. Dari sisi estetika itu serius surealis menggambarkan ekstraordinary kecantikan Sang Rahim Agung. Mahahrdaya. Apa saja melampui dari yang biasa biasa saja. Pasti menggetarkan. Menciutkan. Dayu Ani dan adiknya Dayu Gek Han : menterjemahkan kejelitaan tiada tara dari Widyutkarali. Durga gangga gori itu! Yang dalam kisah Sutasoma berkepala sejuta cahaya. Dan pemberi anugrah mantra Mahahrdaya Dharani. Menjauhi godaan: menjadikan adegan peanugrahan itu : menyeramkan dengan gerak gerak gertakan. Sebaliknya : dayu ani mendorong koreonya kepada keharusan membawa nafas halus saat menarikan. Karena ekstraordinari Durga itu pada kemahalembutannya. Perhatikan gradasi potret yang dipoto oleh Made Gunarta saya edit sedikit. Untuk memperlihatkan : sisi sublimasinya untuk menampilkan jenial koreo ini. Dan uji cobanya ditarikan di siang hari tanpa dekorasi, tanpa make up. Ah, jadi pingin bertanya: apakah adegan koreo itu masih bikin merinding (?)


No comments:
Post a Comment