IDE TIMANG-TIMANG ITU : BUKAN DARI SAYA!

 

Ini penting mengklarifikasi. Juga buat pengetahuan bagi adik adik di Bhumi Bajra. Menghormati dan mengakui ide siapa dalam proses kreatif bahkan saat kolaborasi. Menimang nimang, ngempu tapel rangda itu sebenarnya ide yang mengetarkan. Menyerikan bahkan. Apalagi yang ada dalam koridor percaya akan mistik plus magic. Bukan nyaluk. Tetapi ngempuang. Iyung-iyungang. Itu ide dari Dayu Arya Dayu Ani sendiri. Tugasnya saya adalah ngabetang. Memahami bagaimana memecah stigma soal menarikan rangda dalam seni pertunjukan di Bali. Belum lagi stigma akan berbagai tulisan dan karya saya yang memang bermuara pada riset calon arang. Wajah rangda itu begitu lekat. Jika hanya semata melihat tarian itu sebagai alur gerak berkisah. Formalisasi dalam ekspresi dalam seni pertunjukan Bali kini lebih percaya pada atribut, busana bahkan akrobatik jika hendak memunculkan kejutan dalam seni pertunjukan. Berkali saya menonton, bahkan tangkil saat ada upacara napak pertiwi misalnya. Saya sudah tidak bisa membedakan lagi mana ida sesuhunan sane tedun, apa itu penghayatan terhadap satu peran (?) Semua membangun intimidasi pemanggungan. Bahkan saat nedunang sesuhunan. Sejak lama saya memang mengajak dayu ani merenung : rangda itu mestinya selembut legong, ayu dan dikembalikan kepada jnana wisesanya : yang paling kuat itu adalah kelembutan, yang paling mengharukan dan membuat hati terenyuh adalah urusan ibu dan anak. Tapi ide menimang nimang itu serius membuat saya tersenyum. Saya sudah berjanji dalam hati. Akan mentaati siapapun yang mensutradarai saya. Maka tugas saya walau kadang daya rekam gerak (pileh) saya itu buruk sekali, harus dipandu oleh Mang Yun, Dayu Gek Han. Itupun dengan cara berbisik, kendala lain untuk memberi arahan itu kadang harus dihadapi dengan gelak tawa. Tapi ide menimang nimang rangda itu : serius menyerikan hati. Itu tidak mudah. Lebih mudah menarikan rangda. Dibandingkan menimangnya. serius. Jadi ini saya maksudkan bahwa Dayu Ani itu mumpuni sekali dalam menetapkan apa yang akan dia tetapkan sebagai elemen dalam karyanya. Jadi ini pesan untuk adik adik di bhumi bajra : selalu hati menyimpan kekaguman agar taksu itu tiba dalam semua hayat hidupmu.

No comments:

Post a Comment